#NAD_30HariMenulis2020
#Hari_ke_5
#NomorAbsen_222
Jumlah kata : 953 kata (hanya isi)
CERITA PENGANTAR TIDUR AYLA
"Pada zaman dahulu kala--"
"Mama, Ayla bosan!" Tiba-tiba saja Ayla menyela kalimatku.
"Eh?" Aku mengernyit heran.
"Pasti mama mau cerita kancil lagi, 'kan?"
"Bagaimana kamu tahu?" Aku mengubah posisiku menghadap ke arah Ayla.
"Itu tadi." Bibir mungi Ayla mengerucut.
"Itu apa?"
"Mama mengawali ceritanya dengan 'pada jaman dahulu kala,' itu pasti cerita kancil. Seperti cerita Mama kemarin-kemarin," protes gadis kecil itu. Aku terbahak.
"Jadi, kamu tidak mau kalau mama cerita kancil?" Kucubit ujung hidungnya dengan gemas.
"Tidak. Ayla bosan!" Ayla mengelak dari cubitanku yang berikutnya.
"Lalu kamu mau Mama cerita apa?"
"Mmm ... sebentar, Ayla pikir dulu." Mata Ayla mengerjap. Ia tampak berpikir keras.
"Apa?" Aku tak sabar.
"Mmm ... Ayla nggak tahu, Mama. Pokoknya Ayla mau Mama cerita yang seru. Jangan kancil melulu.
Lagi-lagi aku tergelak sambil mengacak rambut ikalnya. Bocah enam tahun itu ikut tertawa.
"Oke. Dengar ya, pada suatu hari--"
"Aaah, Mama jangan cerita itu." Lagi-lagi Ayla menyela kalimatku.
"Kenapa? Ini bukan cerita kancil," kataku.
"Iya, tahu, itu cerita kelinci lomba lari dengan kura-kura. Cerita itu juga sudah bosan Mama. Ayo cerita yang lain lagi." Ayla mulai merengek.
Aku menarik napas dalam-dalam sebelum mulai lagi mencoba menceritakan sebuah dongeng pada Ayla.
"Pada suatu hari di sebuah hutan ... "
"Itu cerita keluarga beruang! Ayla nggak mau!" Rengekan Ayla semakin menjadi. Fyuh, baiklah, aku menyerah.
"Mas! Mas Arshaka! Sini! Ini Ayla minta didongengi!"
Itu jurus terakhirku jika kewalahan menghadapi permintaan Ayla. Panggil saja papanya. Hahaha.
Mas Arsaka melongok dari ambang pintu. Ayla melonjak-lonjak senang menyambut kedatangannya. Aku segera saja menyingkir. Jika sudah begini, biarkan saja mereka menghabiskan waktu berdua. Aku? Ooo, aku bisa memanfaatkan waktu yang ada untuk merawat wajah atau apa di kamar sebelah. Me time. Haha.
*** *** ***
Aku baru saja akan membersihkan sisa-sisa masker di wajah saat Mas Arshaka masuk.
"Ayla sudah tidur?" tanyaku. Mas Arshaka mengangguk. "Kok lama?" Aku melirik jam yang menempel di dinding kamar. "Memang tadi cerita apa?"
"Kisah-kisah sahabat nabi."
"Waaah, untung ada kamu, Mas. Ayla sekarang nggak mau lagi diceritai dongeng-dongeng anak."
"Iya. Dia sudah mulai kritis. Tadi waktu aku sedang cerita pun banyak disela oleh Ayla. Bertanya itu ini, ini itu. Cerewetnya persis kamu." Aku tergelak mendengar ucapan Mas Arshaka.
"Makanya aku kewalahan akhir-akhir ini menghadapi Ayla menjelang waktu tidurnya," keluhku.
"Kenapa?" Mas Arshaka membaringkan tubuhnya di atas kasur. "Tinggal baca saja banyak buku--yang sesuai dengan usia Ayla tentu--lalu nanti kamu ceritakan ulang."
"Itu yang agak sulit, Mas. Aku nggak punya waktu untuk bisa membaca banyak buku."
"Nggak punya waktu atau nggak mau menyisihkan waktu?" Ejek Mas Arshaka sambil tersenyum lebar. Kulempar bantal ke arahnya. Dia mengelak sambil tertawa-tawa.
*** *** ***
"Yakin, nih, Ayla mau nginap di rumah Bimby seminggu?" Aku kembali bertanya pada Ayla saat mengantarnya ke teras rumah. Ayla mengangguk kuat.
Di halaman, adikku Kenanga dan anaknya Bimby menyambut Ayla.
"Udah, sih, Kak. Kayak mau melepas Ayla kemana aja. Dia kan cuma ke rumahku. Lagi pula hanya seminggu." katanya.
"Iya, iya, tapi nanti kalau dia rewel atau apa, telpon aku."
"Aman. Tapi kayaknya nggak deh. Lihat itu, malah sepertinya Ayla sudah nggak sabar."
"Yah, pokoknya, aku titip Ayla. Kalau ada apa-apa, kamu telepon aku."
"Siap! Aku pergi dulu, Kak. Eh, Ayla, salam dulu sama Mama ya." Kenanga mengingatkan Alya.
"Mama, Alya pergi ke rumah Bimby dulu ya. Daah, Mama!"
"Daah, Ayla. Baik-baik ya, di rumah Bimby. Nurut sama Tante!" seruku.
Aku masih melambaikan tangan saat mobil yang dikemudikan Kenanga menghilang di tikungan jalan. Setelahnya aku berbalik. Baru saja Ayla pergi, tapi rasa rindu sudah menyergap. Apalagi saat melihat rumah yang lengang, dengan mainan-mainan Ayla yang bertebaran di mana-mana.
Fyuh!
Ini pertama kali aku melepas Ayla jauh dariku. Untung ada Mas Arshaka yang selalu menenangkan.
"Sudahlah, biar. Sesekali Ayla jauh dari kita tidak apa-apa," katanya, "lagi pula, dia hanya di tempat adikmu. Bukan ke mana-mana. Lihat sisi positifnya saja."
"Apa?"
"Kamu jadi tidak perlu bingung-bingung lagi 'kan, mau bercerita apa pada Ayla sebagai pengantar tidurnya. Satu minggu bebas tugas loh." Mas Arshaka terbahak. Aku diam, tetapi dalam hati bersorak senang. Betul juga yang Mas Arshaka katakan.
Ternyata memang benar, aku tidak perlu merisaukan Ayla yang menginap di rumah adikku. Setiap hari Kenanga menelpon, melaporkan bahwa Ayla baik-baik saja. Saat kami melakukan video call, kulihat Ayla juga sangat ceria. Jadi ya, kuakui, kekhawatiranku memang berlebihan.
Satu minggu berlalu tanpa terasa. Mas Arshaka menjemput kembali Ayla. Bocah itu berlari sambil berteriak memanggilku saat ia tiba di rumah. Kami berpelukan erat seperti sudah seabad tak berjumpa.
Selama satu minggu ini, aku sudah membaca banyak kisah. Persediaan jika nanti Ayla memintaku bercerita menjelang dia tidur.
Waktunya tiba. Ayla sudah siap di pembaringannya. Selimut bergambar little pony sudah menyelubungi tubuh mungilnya.
"Mama, cerita dulu!"
Aha! Ini dia. Aku tersenyum lebar penuh percaya diri.
"Oke!" kataku. "Mama punya kisah yang bagus untuk Ayla."
"Oh ya?"
"Iya dong!"
"Mana?"
"Dengarkan ya. Alkisah, di suatu negeri di timur tengah sana--"
"Mama mau cerita tentang Aladin dan lampu wasiat?"
"Hah? Kok Ayla tahu?"
"Papa sudah pernah cerita itu," celetuk Ayla.
"Kalau kisah sahabat nabi?" tanyaku.
"Sahabat yang mana? Bilal sudah, Abbas ibnu firnas, Zaid bin Haritsah, Ham--"
"Semua sudah Ayla dengar?"
"Iya. Papa yang cerita. Mama cerita yang lain aja. Atau cerita-cerita kayak yang diceritakan Tante kemarin. Iya, Ma yang itu aja."
"Cerita apa?"
"Cerita seru, Ma. Ayla suka."
"Memangnya kemarin Tante Kenanga cerita apa?" Aku semakin penasaran.
"Ada banyak, Ma. Perebut Tanah Wakaf Mati Tersengat Listrik, Jenazahnya Hanyut; Penyiksa Anak Yatim Mati dengan Perut Membengkak Disengat Ribuan Tawon, Kerandanya Terkena Badai--"
"Stop, stop Ayla!" kataku. Ayla berhenti bicara. Aku memberi isyarat agar dia tetap di tempat. Kusambar ponsel lalu bergegas ke luar sambil menekan nomor Kenanga.
"Assalamualaikum! Halo, Ka--"
"Kenapa anakku kamu cekokin cerita-cerita azab ala sinetron ikan terbang?"
Tuuut, tuut, tuuut
Apa dimatikan?
"Awas kamu, Kenangaaaa!"
*Tumit*
Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan
Jumat, 05 Juni 2020
Kamis, 04 Juni 2020
RUMAH SEBERANG JALAN
#NAD_30HariMenulis2020
#Hari_ke_4
#NomorAbsen_222
Jumlah kata : 989 kata (hanya isi)
MEREKA TETANGGAKU:
RUMAH SEBERANG JALAN
.
Awal pagi yang selalu sibuk. Sejak pindah ke rumah ini seminggu lalu, kesibukan dan kericuhan di pagi hari memang meningkat di keluargaku. Jarak rumah yang jauh dari mana-mana membuat kami membutuhkan waktu tempuh yang lebih lama ke tempat aktivitas masing-masing, dibandingkan jarak yang kami tempuh saat masih di rumah lama.
Setiap pagi, semua orang akan bergegas ke sana, ke mari, sambil melakukan ini dan itu. Papa misalnya, sepagi ini sudah sibuk menelpon memberi berbagai intruksi pada lawan bicaranya di seberang sana.
Mama terlihat sedang panik saat aku melintasi pintu kamarnya yang terbuka. Satu tangannya mencari entah apa di laci nakas. Sementara tangan satunya memegangi pengering rambut yang berdesing di sisi kepala. Aku menggeleng takjub.
Turun ke lantai bawah, hiruk pikuk lain menyambutku. Kesibukan yang sama sudah berlangsung. Kakakku Shila ribut menanyakan di mana disimpannya entah apa pada Bi Darmi, yang juga sedang sibuk memasak sarapan. Sementara Mang Aep tampak sedang memanaskan mesin mobil yang akan digunakan untuk mengantar Mama ke kantor. Lagi-lagi aku menggeleng. Sepagi ini? Bahkan ayam jantan di kejauhan belum berhenti berkokok.
Sepertinya hanya aku yang agak santai di rumah ini. Tidak sepenuhnya santai sih. Hari ini aku ada kuliah pagi, tapi biar saja, aku tak suka tergesa-gesa. Ketergesaan membuat orang-orang tak bisa menikmati setiap detik waktu yang hadir dalam hidupnya. Itu pandanganku, ya.
"Dean! Kenapa belum bersiap-siap?" Suara Mama terdengar lantang. Kulihat ia sudah berdiri di ujung tangga dengan rambut yang sudah rapi. Bagaimana mungkin? Tadi kan Mama masih berkutat dengan rambutnya di atas?
"Matahari saja belum muncul, Mam. Kenapa harus terburu-buru?"
"Seperti tidak tahu saja bagaimana kemacetan di luar sana." Mama berjalan ke meja makan sambil menggerutu. "Cepat bersiap-siap, atau nanti Mama tinggal!" ancamnya padaku. Aku mendengkus sebal.
Argh!
Lagi-lagi harus mengalami ketergesaan yang kubenci. Lihat itu tetangga kami di seberang jalan, rumah mereka masih tenang. Mungkin penghuninya masih lelap di balik selimut tebal. Eh, tapi mungkin juga tidak. Itu, ada yang sudah bangun dan berdiri di dekat bingkai jendela besar ruang depan. Aku berjalan ke ujung teras agar dapat melihat lebih jelas. Seorang gadis.
Wah!
Kulambaikan tangan. Kulihat gadis di jendela tersenyum dan balas melambai.
Wah!
"Dean! Cepat bersiap-siap!"
"Iya, Mam. Iya."
Ah, Mama. Merusak suasana saja. Padahal gadis itu manis sekali. Kulangkahkan kaki dengan malas, kembali ke dalam. Sebelum masuk, sekali lagi kulepaskan pandang ke arah rumah seberang. Gadis itu sudah tak ada di sana.
*** *** ***
Aku sedang duduk di tepi jendela kamar saat kudengar alunan musik dari rumah seberang jalan. Aku mengintip dari balik gorden. Dari luar, suasana rumah itu terlihat tenang. Semua pintu dan jendelanya tertutup rapat. Lampu penerangan di luar rumahnya pun begitu muram. Mungkin mereka sedang berhemat listrik.
Suara musik masih terdengar. Terkadang diselingi gelak tawa dari dalam rumah. Aku jadi penasaran, sedang apa mereka? Kubayangkan gadis manis itu sedang bercengkrama dengan keluarganya. Menikmati waktu istirahat bersama sambil mendengarkan lagu-lagu yang mereka sukai. Saling melempar joke dan tertawa bersama setelahnya.
Keluarga yang harmonis.
Di rumah ini, mana bisa hal-hal seperti itu kualami. Papaku si workaholic, tentu saja super sibuk. Mama pun demikian. Entah apa yang mereka cari. Shila jangan ditanya, temannya di mana-mana. Sepertinya setiap hari dia dan teman-temannya memiliki segudang rencana untuk dilakukan bersama.
Maka makan malam bersama keluarga adalah mimpi yang selalu melintas dalam angan, bagiku. Tak pernah terealisasi, walau berkali-kali janji kami sepakati. Baik di rumah lama kami dulu, maupun di sini. Selalu hanya aku yang ada di rumah saat makan malam tiba. Akhirnya, makan malamku seringkali hanya ditemani Mang Aep dan Bi Darmi.
Saat sarapan--yang seringnya terlalu pagi--kami memang sering bersama. Akan tetapi, sarapan macam apa itu, jika semua orang makan seperti dikejar hantu. Selalu terburu-buru.
Suara musik masih mengalun dari rumah tetangga kami. Aku jadi penasaran. Kusingkap lagi gorden dan mengintip. Di balkon, kulihat gadis manis itu berdiri. Menatap ke kejauhan. Rambutnya bergerak-gerak dipermainkan angin malam.
Segera aku beranjak dari jendela kamar. Setengah berlari ke luar dari dari sana dan menuju pintu samping yang mengarah ke balkon kami. Masih kulihat gadis itu di sana. Berdiri di sisi dinding pembatas, dengan mata yang masih menerawang menatap ke kejauhan.
"Hei!" Tanpa rencana, tiba-tiba saja sapaan itu terlontar dari mulutku. Si Gadis bergeming. Diam-diam aku menarik napas lega. Untung saja. Kalau tadi dia mendengarku, entah apa yang harus kukatakan. Lebih baik begini, berdiri di sini sambil memandanginya. Diam-diam.
*** *** ***
Kudapati diriku semakin sering mengamati rumah itu. Jika ada waktu, aku sering berlama-lama duduk di teras. Pura-pura menghabiskan waktu sambil memetik gitar tua. Jika malam tiba, aku akan duduk diam-diam di balkon depan kamar, berharap gadis itu muncul lagi. Berdiri anggun di sisi balkon rumahnya.
Berhari-hari itu kulakukan, tetapi yang kutunggu tak juga menampakkan diri. Ke mana dia?
Siang ini, aku sudah duduk di pos pengamatanku: bangku teras. Baru saja akan memetik gitar saat seorang lelaki dengan persenjataan lengkap--untuk membersihkan rumput taman. Haha--turun dari motornya dan berdiri di depan pagar rumah seberang jalan.
Aku masih mengamati ke arah seberang. Lelaki itu masuk setelah membuka gembok pagar. Membuka gembok pagar? Apakah gadis itu dan keluarganya sedang tidak ada di rumah? Kalau begitu pantas saja, akhir-akhir ini dia tak pernah kelihatan.
Kuletakkan gitar, berjalan melintasi halaman. Kemudian kubuka pagar, menyeberangi jalan dan berdiri di depan pagar rumah seberang.
"Ehm! Pak!" Kusapa lelaki yang sedang bersiap-siap dengan alat pemotong rumputnya.
"Eh? Ya, Den?" Lelaki itu mendekat.
"Pemilik rumah ini," kutunjuk rumah besar itu, "sedang pergi ya?"
Si Bapak mengernyitkan alisnya.
"Rumah ini?" tanyanya. Aku mengangguk.
"Iya. Rumahnya sepi. Gadis itu juga nggak pernah terlihat, apa dia--"
"Maksud Aden?"
"Gadis yang tinggal di rumah ini, Pak. Dia, anak pemilik rumah ini 'kan?" Aku tersenyum. Sudah kuniatkan mengorek informasi dari bapak ini.
"Ta-tapi," Si bapak mendadak tercekat. Dia melirik ke arah rumah. Lalu menatapku ragu. "Benar Aden melihat ada gadis di rumah ini? Rumah ini sudah bertahun-tahun ditinggal pemiliknya, Den, sejak Neng Dinda, putri mereka meninggal. Saya yang diberi amanah untuk merawat rumah ini." Si bapak bicara sambil menunjukkan serenceng kunci.
Kurasa aku mendadak blank. Apa katanya tadi? Coba diulangi?
*Tomat*
Cilame, Juni 2020
#Hari_ke_4
#NomorAbsen_222
Jumlah kata : 989 kata (hanya isi)
MEREKA TETANGGAKU:
RUMAH SEBERANG JALAN
.
Awal pagi yang selalu sibuk. Sejak pindah ke rumah ini seminggu lalu, kesibukan dan kericuhan di pagi hari memang meningkat di keluargaku. Jarak rumah yang jauh dari mana-mana membuat kami membutuhkan waktu tempuh yang lebih lama ke tempat aktivitas masing-masing, dibandingkan jarak yang kami tempuh saat masih di rumah lama.
Setiap pagi, semua orang akan bergegas ke sana, ke mari, sambil melakukan ini dan itu. Papa misalnya, sepagi ini sudah sibuk menelpon memberi berbagai intruksi pada lawan bicaranya di seberang sana.
Mama terlihat sedang panik saat aku melintasi pintu kamarnya yang terbuka. Satu tangannya mencari entah apa di laci nakas. Sementara tangan satunya memegangi pengering rambut yang berdesing di sisi kepala. Aku menggeleng takjub.
Turun ke lantai bawah, hiruk pikuk lain menyambutku. Kesibukan yang sama sudah berlangsung. Kakakku Shila ribut menanyakan di mana disimpannya entah apa pada Bi Darmi, yang juga sedang sibuk memasak sarapan. Sementara Mang Aep tampak sedang memanaskan mesin mobil yang akan digunakan untuk mengantar Mama ke kantor. Lagi-lagi aku menggeleng. Sepagi ini? Bahkan ayam jantan di kejauhan belum berhenti berkokok.
Sepertinya hanya aku yang agak santai di rumah ini. Tidak sepenuhnya santai sih. Hari ini aku ada kuliah pagi, tapi biar saja, aku tak suka tergesa-gesa. Ketergesaan membuat orang-orang tak bisa menikmati setiap detik waktu yang hadir dalam hidupnya. Itu pandanganku, ya.
"Dean! Kenapa belum bersiap-siap?" Suara Mama terdengar lantang. Kulihat ia sudah berdiri di ujung tangga dengan rambut yang sudah rapi. Bagaimana mungkin? Tadi kan Mama masih berkutat dengan rambutnya di atas?
"Matahari saja belum muncul, Mam. Kenapa harus terburu-buru?"
"Seperti tidak tahu saja bagaimana kemacetan di luar sana." Mama berjalan ke meja makan sambil menggerutu. "Cepat bersiap-siap, atau nanti Mama tinggal!" ancamnya padaku. Aku mendengkus sebal.
Argh!
Lagi-lagi harus mengalami ketergesaan yang kubenci. Lihat itu tetangga kami di seberang jalan, rumah mereka masih tenang. Mungkin penghuninya masih lelap di balik selimut tebal. Eh, tapi mungkin juga tidak. Itu, ada yang sudah bangun dan berdiri di dekat bingkai jendela besar ruang depan. Aku berjalan ke ujung teras agar dapat melihat lebih jelas. Seorang gadis.
Wah!
Kulambaikan tangan. Kulihat gadis di jendela tersenyum dan balas melambai.
Wah!
"Dean! Cepat bersiap-siap!"
"Iya, Mam. Iya."
Ah, Mama. Merusak suasana saja. Padahal gadis itu manis sekali. Kulangkahkan kaki dengan malas, kembali ke dalam. Sebelum masuk, sekali lagi kulepaskan pandang ke arah rumah seberang. Gadis itu sudah tak ada di sana.
*** *** ***
Aku sedang duduk di tepi jendela kamar saat kudengar alunan musik dari rumah seberang jalan. Aku mengintip dari balik gorden. Dari luar, suasana rumah itu terlihat tenang. Semua pintu dan jendelanya tertutup rapat. Lampu penerangan di luar rumahnya pun begitu muram. Mungkin mereka sedang berhemat listrik.
Suara musik masih terdengar. Terkadang diselingi gelak tawa dari dalam rumah. Aku jadi penasaran, sedang apa mereka? Kubayangkan gadis manis itu sedang bercengkrama dengan keluarganya. Menikmati waktu istirahat bersama sambil mendengarkan lagu-lagu yang mereka sukai. Saling melempar joke dan tertawa bersama setelahnya.
Keluarga yang harmonis.
Di rumah ini, mana bisa hal-hal seperti itu kualami. Papaku si workaholic, tentu saja super sibuk. Mama pun demikian. Entah apa yang mereka cari. Shila jangan ditanya, temannya di mana-mana. Sepertinya setiap hari dia dan teman-temannya memiliki segudang rencana untuk dilakukan bersama.
Maka makan malam bersama keluarga adalah mimpi yang selalu melintas dalam angan, bagiku. Tak pernah terealisasi, walau berkali-kali janji kami sepakati. Baik di rumah lama kami dulu, maupun di sini. Selalu hanya aku yang ada di rumah saat makan malam tiba. Akhirnya, makan malamku seringkali hanya ditemani Mang Aep dan Bi Darmi.
Saat sarapan--yang seringnya terlalu pagi--kami memang sering bersama. Akan tetapi, sarapan macam apa itu, jika semua orang makan seperti dikejar hantu. Selalu terburu-buru.
Suara musik masih mengalun dari rumah tetangga kami. Aku jadi penasaran. Kusingkap lagi gorden dan mengintip. Di balkon, kulihat gadis manis itu berdiri. Menatap ke kejauhan. Rambutnya bergerak-gerak dipermainkan angin malam.
Segera aku beranjak dari jendela kamar. Setengah berlari ke luar dari dari sana dan menuju pintu samping yang mengarah ke balkon kami. Masih kulihat gadis itu di sana. Berdiri di sisi dinding pembatas, dengan mata yang masih menerawang menatap ke kejauhan.
"Hei!" Tanpa rencana, tiba-tiba saja sapaan itu terlontar dari mulutku. Si Gadis bergeming. Diam-diam aku menarik napas lega. Untung saja. Kalau tadi dia mendengarku, entah apa yang harus kukatakan. Lebih baik begini, berdiri di sini sambil memandanginya. Diam-diam.
*** *** ***
Kudapati diriku semakin sering mengamati rumah itu. Jika ada waktu, aku sering berlama-lama duduk di teras. Pura-pura menghabiskan waktu sambil memetik gitar tua. Jika malam tiba, aku akan duduk diam-diam di balkon depan kamar, berharap gadis itu muncul lagi. Berdiri anggun di sisi balkon rumahnya.
Berhari-hari itu kulakukan, tetapi yang kutunggu tak juga menampakkan diri. Ke mana dia?
Siang ini, aku sudah duduk di pos pengamatanku: bangku teras. Baru saja akan memetik gitar saat seorang lelaki dengan persenjataan lengkap--untuk membersihkan rumput taman. Haha--turun dari motornya dan berdiri di depan pagar rumah seberang jalan.
Aku masih mengamati ke arah seberang. Lelaki itu masuk setelah membuka gembok pagar. Membuka gembok pagar? Apakah gadis itu dan keluarganya sedang tidak ada di rumah? Kalau begitu pantas saja, akhir-akhir ini dia tak pernah kelihatan.
Kuletakkan gitar, berjalan melintasi halaman. Kemudian kubuka pagar, menyeberangi jalan dan berdiri di depan pagar rumah seberang.
"Ehm! Pak!" Kusapa lelaki yang sedang bersiap-siap dengan alat pemotong rumputnya.
"Eh? Ya, Den?" Lelaki itu mendekat.
"Pemilik rumah ini," kutunjuk rumah besar itu, "sedang pergi ya?"
Si Bapak mengernyitkan alisnya.
"Rumah ini?" tanyanya. Aku mengangguk.
"Iya. Rumahnya sepi. Gadis itu juga nggak pernah terlihat, apa dia--"
"Maksud Aden?"
"Gadis yang tinggal di rumah ini, Pak. Dia, anak pemilik rumah ini 'kan?" Aku tersenyum. Sudah kuniatkan mengorek informasi dari bapak ini.
"Ta-tapi," Si bapak mendadak tercekat. Dia melirik ke arah rumah. Lalu menatapku ragu. "Benar Aden melihat ada gadis di rumah ini? Rumah ini sudah bertahun-tahun ditinggal pemiliknya, Den, sejak Neng Dinda, putri mereka meninggal. Saya yang diberi amanah untuk merawat rumah ini." Si bapak bicara sambil menunjukkan serenceng kunci.
Kurasa aku mendadak blank. Apa katanya tadi? Coba diulangi?
*Tomat*
Cilame, Juni 2020
ALINA
#NAD_30HariMenulis2020
#Hari_ke_3
#NomorAbsen_222
Jumlah kata : 979 kata (hanya isi)
A L I N A
.
"Andai aku menjadi--"
Gumaman di bibir pucat Alina yang tengah terbaring di atas kasur tipis terputus saat pintu kamarnya terbuka secara kasar. Nyaris saja engsel-engsel pintu itu berlompatan karena dorongan kuat dari arah luar. Di balik daun pintu yang menguak, Emak berdiri sambil bertolak pinggang. Matanya yang selalu terlihat galak memelototi Alina.
"Lagi-lagi melamun! Cepat buatkan Emak sarapan!"
Alina segera bangkit. Ia mengabaikan rasa sakit di kepalanya yang berdenyut hebat. Emak tak pernah mengenal kata menunggu. Ia pun tak ingin tangan kurus Emak mendarat di tubuh ringkihnya hanya karena ia lalai mengerjakan tugas harian.
Tidak seperti emak-emak lainnya yang penuh kasih sayang, Alina merasa emaknya begitu ringan tangan. Entahlah, mungkin ini merupakan pelampiasan rasa frustrasinya menghadapi kehidupan. Mungkin juga karena Emak sudah terlalu muak menjalani hari-hari mereka yang payah.
Bapak pergi entah ke mana saat Alina belum mampu mengingat wajahnya. Meninggalkan Emak dan dirinya dalam lubang kemiskinan. Emak harus berjibaku, berjuang, demi bertahan hidup juga membesarkan Alina yang sakit-sakitan. Kondisi inilah yang membuat Emak selalu terlihat garang. Ia bahkan membenci Alina dan mungkin menganggap kehadirannya hanya sebaga penambah beban.
Alina meletakkan sepiring nasi goreng yang masih mengepul di atas meja. Emak baru saja selesai menyusun barang dagangan ke dalam keranjang di bagian belakang sepedanya. Dia melangkah masuk, lalu duduk di satu-satunya bangku yang ada di depan meja makan kecil. Mulai menghabiskan sarapan dalam diam yang berkepanjangan.
"Bereskan semua pekerjaan rumah. Siangi sabut kelapa dalam karung di samping sana." Emak berkata datar saat sudah selesai. Alina hanya mengangguk. Dia sudah terbiasa seperti itu. Tak pernah membantah, dan tak pernah bersusah payah membuka mulutnya. Emak tidak suka. Katanya ia muak mendengar suara Alina.
Setelah Emak pergi, Alina menarik napas lega. Lebih baik bagi dirinya jika Emak berada di luar sana. Namun, bukan berarti Alina bisa bersantai. Tidak. Ia tetap harus mengerjakan semua tugas-tugasnya meski sekuat tenaga menahan sakit di kepala.
Alina menyiangi sabut-sabut kelapa di samping rumah setelah selesai dengan semua urusan rumah tangga. Ia menguraikan sabut-sabut dari kulit luarnya yang keras. Sabut-sabut itu nanti akan dianyam oleh Emak. Menjadi tambang atau keset-keset yang kemudian di jualnya di pasar kota. Jari-jari Alina mengeras dan kapalan karena pekerjaan ini, tetapi ia tidak pernah peduli.
"Alina!"
Satu suara membuat Alina sontak mendongak. Wajahnya seketika cerah. Senyum tipis tersungging dari bibir keringnya.
"Sukab!"
Alina berseru menyapa pemuda yang tadi memanggilnya. Si pemuda berjalan mendekat. Sebuah tas punggung tersandang di pundaknya. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Tampan.
Sukab adalah teman sepermainan Alina sejak kecil. Mereka juga pernah belajar bersama di sekolah, sebelum Emak memutuskan agar Alina tinggal di rumah saja setamat sekolah menengah pertama. Sukab lain lagi, ia melanjutkan sekolahnya. Dia bahkan mulai kuliah tahun ini.
"Ini! Kubawakan pesananmu." Pemuda itu mengulurkan sebuah buku ke arah Alina. Mata Alina berbinar. Sakit di kepalanya tiba-tiba seperti terlupakan. Bibir Alina mengeja judul buku yang baru saja ia terima.
"Sepotong Senja untuk Pacarku."* Alina bergumam. Kemudian pandangannya beralih pada Sukab yang masih berdiri di depannya. "Apakah ada ...." Alina menunjuk dirinya sendiri. Sukab mengerti. Pemuda itu mengangguk.
"Seperti dalam buku-bukunya yang lain, ada nama kita di sana." Sukab menjelaskan dengan penuh antusias. Ia meminta Alina membuka satu halaman dan menyuruh Alina membacanya.
"Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Lagipula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa pernah mendengar kata-kata orang lain." ** Alina membaca paragraf itu dengan suara cukup kuat. Di akhir bacaannya dia menatap Sukab dengan penuh rasa takjub. "Pengarang buku ini, dia selalu menuliskan apa yang selalu kupikirkan, Sukab. Bagaimana bisa?"
Sukab hanya mengedikkan bahunya. Namun wajahnya menampilkan satu senyuman lebar.
Ini adalah buku yang ke sekian dari pengarang yang sama, yang dipinjamkan Sukab pada Alina. Ia menyukai semua karya pengarang itu. Alasan pertama, karena pengarang itu sering menggunakan nama Alina juga Sukab sebagai tokoh pada cerita-ceritanya. Tidak selalu, tetapi cukup sering. Alasan ke dua, Alina merasa buku karya pengarang itu menakjubkan, karena menuliskan apa yang sering muncul dalam pikirannya. Selain itu, Alina memang menganggap cerita-cerita yang ditulis oleh si pengarang memang selalu menarik.
"Sukab! Bolehkah aku bertemu dengan pengarang buku ini?"
"Hah? Untuk apa?"
"Ingin bertemu saja." Mata Alina terlihat berbinar saat mengucapkannya.
"Dia mungkin orang yang sangat sibuk."
"Jadi, aku tidak bisa menemuinya?"
"Mmm ... aku tidak tahu, tapi, akan kucari informasinya," kata Sukab akhirnya. Ia tak ingin mengecewakan sahabatnya.
*** *** ***
Emak murka saat suatu hari ditemukannya Alina sedang khusyuk dengan bukunya. Direbutnya buku itu, dilemparkan ke luar jendela. Ketika Alina berteriak tertahan menyaksikan buku kesayangannya melayang, Emak malah menjambak rambutnya.
"Kau habiskan waktumu dengan benda itu? Anak tak tahu diuntung, tak berguna! Kau lihat rumah masih berserak, makanan tak ada, pakaian kotor menumpuk dan sabut-sabut itu belum kau sentuh! Kau malah asyik membaca! Siapa yang memberimu benda itu?" Tangan Emak berulang mendarat di tubuh ringkih Alina.
Kini Alina memutuskan untuk diam. Ditahannya rasa sakit yang timbul akibat hantaman tangan Emak ditubuhnya. Ya, dia menyadari, kali ini adalah kesalahannya. Tadi ia lupa waktu saat membaca buku itu.
Alina mengatupkan mulutnya kuat-kuat. Emak semakin geram. Ia teramat kesal. Apalagi melihat Alina yang bungkam. Akhirnya Emak menghentakkan kaki kemudian pergi setelah menyorongkan tubuh Alina.
Esoknya Sukab mendapati banyak memar di tubuh Alina. Ada juga lebam di wajahnya.
"Alina--"
"Sukab, aku betul-betul ingin bertemu dengan si pengarang." Alina menyela kalimat Sukab. "Aku benar-benar ingin menjadi ... tokoh dalam ceritanya." Air mata Alina mengalir deras. Sukab mengernyitkan dahi tak mengerti.
"Alina?"
"Aku benci hidupku, Sukab. Aku benci penyakitku. Aku benci kemiskinan ini. Aku benci kemarahan Emak yang harus kutampung setiap hari." Tubuh Alina berguncang. "Biar kutemui pengarang itu. Biar dia membuatkan cerita baru untuk hidupku. Beri tahu aku, Sukab. Beritahu aku di mana dia." Tangis Alina menghiba. Semakin keras.
Sukab terpana di hadapan Alina yang kini meraung. Belum sempat Sukab menenangkan sahabatnya, raungan Alina telah berganti menjadi tawa yang getir. Alina terbahak-bahak menertawai nasibnya. Sementara Sukab diam-diam menitikkan air mata menyaksikan Alina tertawa.
**Tamat**
*) Judul cerpen dalam buku kumpulan cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku karya Seno Gumira Adjidarma
**) Kutipan dari Sepotong Senja untuk Pacarku, SGA
Cilame, 02 Juni 2020
#Hari_ke_3
#NomorAbsen_222
Jumlah kata : 979 kata (hanya isi)
A L I N A
.
"Andai aku menjadi--"
Gumaman di bibir pucat Alina yang tengah terbaring di atas kasur tipis terputus saat pintu kamarnya terbuka secara kasar. Nyaris saja engsel-engsel pintu itu berlompatan karena dorongan kuat dari arah luar. Di balik daun pintu yang menguak, Emak berdiri sambil bertolak pinggang. Matanya yang selalu terlihat galak memelototi Alina.
"Lagi-lagi melamun! Cepat buatkan Emak sarapan!"
Alina segera bangkit. Ia mengabaikan rasa sakit di kepalanya yang berdenyut hebat. Emak tak pernah mengenal kata menunggu. Ia pun tak ingin tangan kurus Emak mendarat di tubuh ringkihnya hanya karena ia lalai mengerjakan tugas harian.
Tidak seperti emak-emak lainnya yang penuh kasih sayang, Alina merasa emaknya begitu ringan tangan. Entahlah, mungkin ini merupakan pelampiasan rasa frustrasinya menghadapi kehidupan. Mungkin juga karena Emak sudah terlalu muak menjalani hari-hari mereka yang payah.
Bapak pergi entah ke mana saat Alina belum mampu mengingat wajahnya. Meninggalkan Emak dan dirinya dalam lubang kemiskinan. Emak harus berjibaku, berjuang, demi bertahan hidup juga membesarkan Alina yang sakit-sakitan. Kondisi inilah yang membuat Emak selalu terlihat garang. Ia bahkan membenci Alina dan mungkin menganggap kehadirannya hanya sebaga penambah beban.
Alina meletakkan sepiring nasi goreng yang masih mengepul di atas meja. Emak baru saja selesai menyusun barang dagangan ke dalam keranjang di bagian belakang sepedanya. Dia melangkah masuk, lalu duduk di satu-satunya bangku yang ada di depan meja makan kecil. Mulai menghabiskan sarapan dalam diam yang berkepanjangan.
"Bereskan semua pekerjaan rumah. Siangi sabut kelapa dalam karung di samping sana." Emak berkata datar saat sudah selesai. Alina hanya mengangguk. Dia sudah terbiasa seperti itu. Tak pernah membantah, dan tak pernah bersusah payah membuka mulutnya. Emak tidak suka. Katanya ia muak mendengar suara Alina.
Setelah Emak pergi, Alina menarik napas lega. Lebih baik bagi dirinya jika Emak berada di luar sana. Namun, bukan berarti Alina bisa bersantai. Tidak. Ia tetap harus mengerjakan semua tugas-tugasnya meski sekuat tenaga menahan sakit di kepala.
Alina menyiangi sabut-sabut kelapa di samping rumah setelah selesai dengan semua urusan rumah tangga. Ia menguraikan sabut-sabut dari kulit luarnya yang keras. Sabut-sabut itu nanti akan dianyam oleh Emak. Menjadi tambang atau keset-keset yang kemudian di jualnya di pasar kota. Jari-jari Alina mengeras dan kapalan karena pekerjaan ini, tetapi ia tidak pernah peduli.
"Alina!"
Satu suara membuat Alina sontak mendongak. Wajahnya seketika cerah. Senyum tipis tersungging dari bibir keringnya.
"Sukab!"
Alina berseru menyapa pemuda yang tadi memanggilnya. Si pemuda berjalan mendekat. Sebuah tas punggung tersandang di pundaknya. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Tampan.
Sukab adalah teman sepermainan Alina sejak kecil. Mereka juga pernah belajar bersama di sekolah, sebelum Emak memutuskan agar Alina tinggal di rumah saja setamat sekolah menengah pertama. Sukab lain lagi, ia melanjutkan sekolahnya. Dia bahkan mulai kuliah tahun ini.
"Ini! Kubawakan pesananmu." Pemuda itu mengulurkan sebuah buku ke arah Alina. Mata Alina berbinar. Sakit di kepalanya tiba-tiba seperti terlupakan. Bibir Alina mengeja judul buku yang baru saja ia terima.
"Sepotong Senja untuk Pacarku."* Alina bergumam. Kemudian pandangannya beralih pada Sukab yang masih berdiri di depannya. "Apakah ada ...." Alina menunjuk dirinya sendiri. Sukab mengerti. Pemuda itu mengangguk.
"Seperti dalam buku-bukunya yang lain, ada nama kita di sana." Sukab menjelaskan dengan penuh antusias. Ia meminta Alina membuka satu halaman dan menyuruh Alina membacanya.
"Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Lagipula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa pernah mendengar kata-kata orang lain." ** Alina membaca paragraf itu dengan suara cukup kuat. Di akhir bacaannya dia menatap Sukab dengan penuh rasa takjub. "Pengarang buku ini, dia selalu menuliskan apa yang selalu kupikirkan, Sukab. Bagaimana bisa?"
Sukab hanya mengedikkan bahunya. Namun wajahnya menampilkan satu senyuman lebar.
Ini adalah buku yang ke sekian dari pengarang yang sama, yang dipinjamkan Sukab pada Alina. Ia menyukai semua karya pengarang itu. Alasan pertama, karena pengarang itu sering menggunakan nama Alina juga Sukab sebagai tokoh pada cerita-ceritanya. Tidak selalu, tetapi cukup sering. Alasan ke dua, Alina merasa buku karya pengarang itu menakjubkan, karena menuliskan apa yang sering muncul dalam pikirannya. Selain itu, Alina memang menganggap cerita-cerita yang ditulis oleh si pengarang memang selalu menarik.
"Sukab! Bolehkah aku bertemu dengan pengarang buku ini?"
"Hah? Untuk apa?"
"Ingin bertemu saja." Mata Alina terlihat berbinar saat mengucapkannya.
"Dia mungkin orang yang sangat sibuk."
"Jadi, aku tidak bisa menemuinya?"
"Mmm ... aku tidak tahu, tapi, akan kucari informasinya," kata Sukab akhirnya. Ia tak ingin mengecewakan sahabatnya.
*** *** ***
Emak murka saat suatu hari ditemukannya Alina sedang khusyuk dengan bukunya. Direbutnya buku itu, dilemparkan ke luar jendela. Ketika Alina berteriak tertahan menyaksikan buku kesayangannya melayang, Emak malah menjambak rambutnya.
"Kau habiskan waktumu dengan benda itu? Anak tak tahu diuntung, tak berguna! Kau lihat rumah masih berserak, makanan tak ada, pakaian kotor menumpuk dan sabut-sabut itu belum kau sentuh! Kau malah asyik membaca! Siapa yang memberimu benda itu?" Tangan Emak berulang mendarat di tubuh ringkih Alina.
Kini Alina memutuskan untuk diam. Ditahannya rasa sakit yang timbul akibat hantaman tangan Emak ditubuhnya. Ya, dia menyadari, kali ini adalah kesalahannya. Tadi ia lupa waktu saat membaca buku itu.
Alina mengatupkan mulutnya kuat-kuat. Emak semakin geram. Ia teramat kesal. Apalagi melihat Alina yang bungkam. Akhirnya Emak menghentakkan kaki kemudian pergi setelah menyorongkan tubuh Alina.
Esoknya Sukab mendapati banyak memar di tubuh Alina. Ada juga lebam di wajahnya.
"Alina--"
"Sukab, aku betul-betul ingin bertemu dengan si pengarang." Alina menyela kalimat Sukab. "Aku benar-benar ingin menjadi ... tokoh dalam ceritanya." Air mata Alina mengalir deras. Sukab mengernyitkan dahi tak mengerti.
"Alina?"
"Aku benci hidupku, Sukab. Aku benci penyakitku. Aku benci kemiskinan ini. Aku benci kemarahan Emak yang harus kutampung setiap hari." Tubuh Alina berguncang. "Biar kutemui pengarang itu. Biar dia membuatkan cerita baru untuk hidupku. Beri tahu aku, Sukab. Beritahu aku di mana dia." Tangis Alina menghiba. Semakin keras.
Sukab terpana di hadapan Alina yang kini meraung. Belum sempat Sukab menenangkan sahabatnya, raungan Alina telah berganti menjadi tawa yang getir. Alina terbahak-bahak menertawai nasibnya. Sementara Sukab diam-diam menitikkan air mata menyaksikan Alina tertawa.
**Tamat**
*) Judul cerpen dalam buku kumpulan cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku karya Seno Gumira Adjidarma
**) Kutipan dari Sepotong Senja untuk Pacarku, SGA
Cilame, 02 Juni 2020
ZIKIR KUNTUM-KUNTUM BUNGA
#NAD_30HariMenulis2020
#Hari_ke_2
#NomorAbsen_222
Jumlah kata : 477 kata (hanya isi)
.
ZIKIR KUNTUM-KUNTUM BUNGA
.
"Kesunyian adalah karib sejati."
Itu adalah sebuah keyakinan yang kami percayai selama ini. Sebab sebenarnyalah, bagi kuntum-kuntum bunga yang hidup di area pemakaman seperti kami, hanya kesunyian yang selalu menemani keseharian kami di sini. Tak ada hiruk pikuk, tak ada keriuhan, tak ada kegaduhan, tak ada bising yang berkepanjangan. Tak ada. Di sinilah tempat di mana kau bisa menemukan ketenangan hakiki. Sebuah sunyi yang abadi.
Kami kuntum-kuntum bunga sangat menyukai suasana seperti ini. Begitu tenang. Begitu senyap. Begitu sunyi. Terlebih bila malam mulai mengambang. Lalu matahari mengucapkan salam dengan mengecup pipi bumi, hingga rona jingga menyemburat pada batas horizonnya.
Maka semilir angin akan menemani kami menari. Meliuk-liukkan tubuh mungil kami yang sedang berzikir sepuas hati. Lalu sunyi akan mulai berirama, ditingkah kukuk burung hantu juga binatang malam lainnya. Kami pun akan semakin khusyuk dalam puja-puji kami pada Sang Pencipta Semesta.
Di beberapa kesempatan, kami akan menerima kunjungan-kunjungan kalian. Manusia-manusia yang mengiringi karibnya berpulang. Maka pada saat itu, kami rumpun-rumpun bunga akan merasakan sunyi dengan nada yang berbeda. Sunyi yang menyayat hingga ke relung terdalam pada rongga dada.
Kami akan menyaksikan isak tangis tertahan kalian. Lalu dengung gumaman, saat baris-baris doa dipanjatkan. Kemudian kami juga akan tertunduk, turut memberikan penghormatan terakhir bagi mereka yang telah berpulang.
Biasanya, setelah itu kesunyian akan semakin memekat. Saat petakziah terakhir mengayunkan langkah ke empat puluhnya. Saat itu dalam keheningan, akan kami dengar suara-suara yang akan membuat siapapun gemetar.
Pernahkah kalian, para manusia, mendengarnya juga?
Ah, kami rasa kalian tak pernah tahu, bukan? Percakapan yang terjadi antara mereka yang sebelumnya kalian usung dalam keranda, dengan sang utusan pembawa pertanyaan? Saat itu biasanya kami akan semakin larut dalam lantunan kalam-Nya yang bersama-sama kami dengungkan. Kami pun akan terus berzikir sambil menyimak tanya jawab yang berlangsung dalam sunyi yang mengalir.
*** *** ***
Pada beberapa putaran purnama terakhir, kesunyian sepertinya semakin menjadi-jadi di sini, walaupun tak ada lagi usungan keranda dan iring-iringan para petakziah seperti biasa. Tubuh-tubuh tak bernyawa kini hanya diantar oleh tatap-tatap mata segelintir manusia yang memandang dari kejauhan. Juga tangisan-tangisan kini teredam oleh lapisan-lapisan kain penghalang. Kain yang menutupi sebagian wajah-wajah letih bersepuh duka mendalam.
Kotak-kotak beroda telah menggantikan iring-iringan pembawa keranda. Orang-orang berpakaian tak biasa akan memasukkan kotak terkunci berisi jasad si mati ke dalam liang lahat secepat yang mereka mampu.
"Lalu ke mana perginya kalian?" Kami kuntum-kuntum bunga kini bertanya-tanya. Lama pertanyaan kami menggantung di udara. Tak mendapatkan jawaban.
Akhirnya kesiur angin membawa kabar pada kami. Konon semua terjadi karena wabah yang tengah melanda. Ia menyebar di mana-mana. Mengintai diam-diam. Mencuri kesempatan untuk merenggut dengan paksa lagu suka cita, dan menggantinya dengan kidung duka yang membahana. Wabah jugalah yang telah membuat hari-hari menjadi lebih sunyi dari biasanya.
Apakah kami, kuntum-kuntum bunga di area pemakaman yang menyukai kesunyian menjadi berbahagia karenanya?
Ah, ternyata tidak juga. Malahan kini kami merindukan kalian. Namun bukan sebagai si mati yang terbaring kaku dalam peti terkunci.
*Tamat*
#Hari_ke_2
#NomorAbsen_222
Jumlah kata : 477 kata (hanya isi)
.
ZIKIR KUNTUM-KUNTUM BUNGA
.
"Kesunyian adalah karib sejati."
Itu adalah sebuah keyakinan yang kami percayai selama ini. Sebab sebenarnyalah, bagi kuntum-kuntum bunga yang hidup di area pemakaman seperti kami, hanya kesunyian yang selalu menemani keseharian kami di sini. Tak ada hiruk pikuk, tak ada keriuhan, tak ada kegaduhan, tak ada bising yang berkepanjangan. Tak ada. Di sinilah tempat di mana kau bisa menemukan ketenangan hakiki. Sebuah sunyi yang abadi.
Kami kuntum-kuntum bunga sangat menyukai suasana seperti ini. Begitu tenang. Begitu senyap. Begitu sunyi. Terlebih bila malam mulai mengambang. Lalu matahari mengucapkan salam dengan mengecup pipi bumi, hingga rona jingga menyemburat pada batas horizonnya.
Maka semilir angin akan menemani kami menari. Meliuk-liukkan tubuh mungil kami yang sedang berzikir sepuas hati. Lalu sunyi akan mulai berirama, ditingkah kukuk burung hantu juga binatang malam lainnya. Kami pun akan semakin khusyuk dalam puja-puji kami pada Sang Pencipta Semesta.
Di beberapa kesempatan, kami akan menerima kunjungan-kunjungan kalian. Manusia-manusia yang mengiringi karibnya berpulang. Maka pada saat itu, kami rumpun-rumpun bunga akan merasakan sunyi dengan nada yang berbeda. Sunyi yang menyayat hingga ke relung terdalam pada rongga dada.
Kami akan menyaksikan isak tangis tertahan kalian. Lalu dengung gumaman, saat baris-baris doa dipanjatkan. Kemudian kami juga akan tertunduk, turut memberikan penghormatan terakhir bagi mereka yang telah berpulang.
Biasanya, setelah itu kesunyian akan semakin memekat. Saat petakziah terakhir mengayunkan langkah ke empat puluhnya. Saat itu dalam keheningan, akan kami dengar suara-suara yang akan membuat siapapun gemetar.
Pernahkah kalian, para manusia, mendengarnya juga?
Ah, kami rasa kalian tak pernah tahu, bukan? Percakapan yang terjadi antara mereka yang sebelumnya kalian usung dalam keranda, dengan sang utusan pembawa pertanyaan? Saat itu biasanya kami akan semakin larut dalam lantunan kalam-Nya yang bersama-sama kami dengungkan. Kami pun akan terus berzikir sambil menyimak tanya jawab yang berlangsung dalam sunyi yang mengalir.
*** *** ***
Pada beberapa putaran purnama terakhir, kesunyian sepertinya semakin menjadi-jadi di sini, walaupun tak ada lagi usungan keranda dan iring-iringan para petakziah seperti biasa. Tubuh-tubuh tak bernyawa kini hanya diantar oleh tatap-tatap mata segelintir manusia yang memandang dari kejauhan. Juga tangisan-tangisan kini teredam oleh lapisan-lapisan kain penghalang. Kain yang menutupi sebagian wajah-wajah letih bersepuh duka mendalam.
Kotak-kotak beroda telah menggantikan iring-iringan pembawa keranda. Orang-orang berpakaian tak biasa akan memasukkan kotak terkunci berisi jasad si mati ke dalam liang lahat secepat yang mereka mampu.
"Lalu ke mana perginya kalian?" Kami kuntum-kuntum bunga kini bertanya-tanya. Lama pertanyaan kami menggantung di udara. Tak mendapatkan jawaban.
Akhirnya kesiur angin membawa kabar pada kami. Konon semua terjadi karena wabah yang tengah melanda. Ia menyebar di mana-mana. Mengintai diam-diam. Mencuri kesempatan untuk merenggut dengan paksa lagu suka cita, dan menggantinya dengan kidung duka yang membahana. Wabah jugalah yang telah membuat hari-hari menjadi lebih sunyi dari biasanya.
Apakah kami, kuntum-kuntum bunga di area pemakaman yang menyukai kesunyian menjadi berbahagia karenanya?
Ah, ternyata tidak juga. Malahan kini kami merindukan kalian. Namun bukan sebagai si mati yang terbaring kaku dalam peti terkunci.
*Tamat*
SUATU HARI DI BAWAH TIANG LAMPU JALAN
#NAD_30HariMenulis2020
#Hari_ke_1
#NomorAbsen_222
Jumlah kata : 828 kata (hanya isi)
SUATU HARI DI BAWAH TIANG LAMPU JALAN
.
"TIN TIIIN!"
Suara klakson kendaraan bersahutan. Jalan raya di depanku tampak begitu padat, seperti biasanya. Kendaraan roda empat besar dan kecil berjejal-jejal memadati ruas-ruasnya. Macet. Belum lagi roda dua yang menyelip mengisi setiap celah yang tersisa, menambah keruwetan yang sudah tercipta.
Aku selalu saja menjumpai pemandangan seperti ini. Setiap hari. Tidak pagi, siang, sore, bahkan di malam hari. Menyaksikan kesemrawutan dan kekacauan yang biasanya lama sekali baru akan terurai. Ah, mengapa mereka tidak diam saja? Tak tahukah mereka, suara memekakkan dari klakson-klakson itu bisa saja membuat seseorang menjadi gila.
Orang-orang yang berlalu-lalang di trotoar pun sama padatnya dengan kendaraan yang merayap di jalan. Sebagian terlihat cukup santai. Mungkin mereka memang sedang menikmati waktu luang dengan berjalan-jalan. Terkadang ada juga yang kulihat melangkah perlahan sambil bergandengan dengan pasangan. Sebagian yang lain bergegas. Seperti dikejar atau mengejar waktu, atau entah apa yang mengejar atau mereka kejar itu. Aku tak pernah bisa mengerti. Seringkali aku bertanya-tanya sendiri, apa nikmatnya menjalani hidup yang penuh ketergesaan seperti itu?
Sebagian kecil lainnya lagi akan kulihat duduk-duduk di bangku-bangku yang berjajar di sisi jalur pedestrian ini. Seperti yang saat ini kulihat, di salah satu bangku yang berada tak jauh dari tempatku berdiri, seorang lelaki dan perempuan makan es krim stroberi berdua. Mereka duduk menatap jalanan yang sibuk.
“Aku tak bisa begini, terus,” ujar si lelaki, mengeluh.
Ia menoleh pada perempuan di sampingnya yang juga mengalihkan perhatiannya dari arah jalan. Sesaat mereka bertatapan, lalu si perempuan menunduk. Aku tak dapat menangkap suaranya. Hanya saja kulihat, tak lama kemudian bahunya bergetar.
Awalnya kupikir yang ini cukup romantis. Lihat saja, di sela kesemrawutan seperti ini, mereka masih bisa menikmati setitik kelezatan yang manis. Namun, setelah dilihat lebih cermat, malah terasa agak aneh menyaksikan mereka berdua-duaan sambil menikmati es krim di tengah segala keriuhan dan hiruk-pikuk jalan. Mengapa mereka tidak mencari tempat yang lebih tenang? Di taman kota, misalnya. Pun saat melihat raut keduanya yang terlihat sangat muram, orang-orang yang melihat pasti akan mengerutkan kening semakin dalam karena heran.
Ooo ... ternyata ini hanya salah satu fragmen sedih lain yang berurai air mata.
Biarkan aku menduga. Mmm ... bisa jadi mereka sepasang kekasih yang sedang menghadapi ujian cinta yang cukup besar. Mungkin, keduanya sama-sama tidak mendapatkan restu dari orang tua. Mungkin juga, mereka berdua pasangan yang sedang menjalin hubungan terlarang. Atau bahkan mungkin, mereka itu sebenarnya hanya dua bersaudara yang sedang memikirkan masalah dalam keluarga mereka bersama-sama.
Semua kemungkinan itu mungkin saja 'kan? Toh, apa sih yang tidak mungkin terjadi di sisi jalan yang padat dan ramai seperti ini?
Tidak percaya?
Dengar, aku pernah menyaksikan sebuah mobil yang tiba-tiba saja menyeruduk orang-orang yang sedang berjalan di jalur pedestrian. Sopirnya mabuk. Orang-orang tewas seketika. Mayat-mayat mereka bergelimpangan.
Aku juga pernah melihat jambret yang dihajar massa, setelah ia tertangkap karena mengambil dompet ibu-ibu paruh baya yang baru saja keluar dari bank di seberang jalan sana. Satu orang berteriak menyuruh yang lain membakar si jambret. Provokasi yang segera saja disambut teriakan-teriakan bar-bar dari orang-orang lainnya. Seperti api yang menyambar bahan bakar, semua orang larut tersulut amarah. Untung saja petugas segera datang. Nyawa si jambret pun tak jadi melayang.
Suatu waktu, pernah juga kulihat sebuah sedan mewah yang tiba-tiba saja berhenti. Penumpangnya, seorang perempuan muda, ke luar membanting pintu, sambil mulutnya mengeluarkan makian-makian. Seorang lelaki menyusul keluar dari pintu yang bersebrangan. Juga dengan amarah yang sama yang terpancar dari matanya yang menatap nyalang (aduh, mengapa banyak sekali kuucapkan kata 'yang'?). Ah, penampilan yang mewah dan elegan ternyata tak cukup menjamin seseorang dapat bersikap elegan juga rupanya.
Peristiwa-peristiwa lain yang bahkan tak bisa lagi kusebutkan saking banyaknya, juga selalu kusaksikan di sisi jalan padat ini. Sebab memang selalu saja ada peristiwa-peristiwa yang begitu asik untuk kuamati. Peristiwa-peritiwa yang selalu saja melintas di hadapanku. Peristiwa-peristiwa yang terlalu sayang untuk dilewatkan.
Tidak semuanya semenyeramkan yang tadi telah kuceritakan. Tidak. Ada juga peristiwa-peristiwa yang mengharukan, menyedihkan, menyebalkan, menggelikan, menjijikan, menakjubkan, juga peristiwa yang membuatku ingin tertawa sekeras-kerasnya, walau aku tak bisa melakukan itu. Bahkan, ada juga peristiwa yang biasa-biasa saja, sampai-sampai aku bingung harus bagaimana meresponnya.
Kuduga kau pasti akan bertanya-tanya, mengapa aku seperti tak ada pekerjaan saja mengamati semua hiruk pikuk yang terjadi di jalan ini. Iya 'kan?
Yah, bukannya tidak ada pekerjaan atau apa, tetapi semuanya memang selalu terjadi di hadapanku, di sini. Aku pun selalu menyaksikannya dari sini, di sisi jalan padat ini. Semua melintas cepat seperti fragmen-fragmen yang diambil dari sebuah maha karya besar bernama kehidupan. Bagiku jalan ini memang ibarat miniatur kehidupan dunia dengan segala kerumitannya, dengan segala kesibukannya, dengan segala keberagamannya, dengan segala tetek bengek dan ingar bingar di dalamnya.
Aku sendiri, tentu senang diberi kesempatan untuk menyaksikan semua itu. Kuanggap semua semata-mata sebagai hiburan bagiku, yang selamanya harus selalu tegak di sini, di sisi jalan ini. Menjalani kehidupanku sendiri, sekaligus menjalankan tugas mulia yang kuemban.
Hei! Sudah sepanjang ini aku bercerita, tetapi kita belum juga berkenalan, bukan? Kalau begitu perkenalkan, orang-orang yang berlalu lalang itu selalu menyebutku, tiang lampu jalan. Ya, benar. Tiang lampu jalan. Akulah saksi hiruk pikuknya kehidupan.
*Timit*
#Hari_ke_1
#NomorAbsen_222
Jumlah kata : 828 kata (hanya isi)
SUATU HARI DI BAWAH TIANG LAMPU JALAN
.

"TIN TIIIN!"
Suara klakson kendaraan bersahutan. Jalan raya di depanku tampak begitu padat, seperti biasanya. Kendaraan roda empat besar dan kecil berjejal-jejal memadati ruas-ruasnya. Macet. Belum lagi roda dua yang menyelip mengisi setiap celah yang tersisa, menambah keruwetan yang sudah tercipta.
Aku selalu saja menjumpai pemandangan seperti ini. Setiap hari. Tidak pagi, siang, sore, bahkan di malam hari. Menyaksikan kesemrawutan dan kekacauan yang biasanya lama sekali baru akan terurai. Ah, mengapa mereka tidak diam saja? Tak tahukah mereka, suara memekakkan dari klakson-klakson itu bisa saja membuat seseorang menjadi gila.
Orang-orang yang berlalu-lalang di trotoar pun sama padatnya dengan kendaraan yang merayap di jalan. Sebagian terlihat cukup santai. Mungkin mereka memang sedang menikmati waktu luang dengan berjalan-jalan. Terkadang ada juga yang kulihat melangkah perlahan sambil bergandengan dengan pasangan. Sebagian yang lain bergegas. Seperti dikejar atau mengejar waktu, atau entah apa yang mengejar atau mereka kejar itu. Aku tak pernah bisa mengerti. Seringkali aku bertanya-tanya sendiri, apa nikmatnya menjalani hidup yang penuh ketergesaan seperti itu?
Sebagian kecil lainnya lagi akan kulihat duduk-duduk di bangku-bangku yang berjajar di sisi jalur pedestrian ini. Seperti yang saat ini kulihat, di salah satu bangku yang berada tak jauh dari tempatku berdiri, seorang lelaki dan perempuan makan es krim stroberi berdua. Mereka duduk menatap jalanan yang sibuk.
“Aku tak bisa begini, terus,” ujar si lelaki, mengeluh.
Ia menoleh pada perempuan di sampingnya yang juga mengalihkan perhatiannya dari arah jalan. Sesaat mereka bertatapan, lalu si perempuan menunduk. Aku tak dapat menangkap suaranya. Hanya saja kulihat, tak lama kemudian bahunya bergetar.
Awalnya kupikir yang ini cukup romantis. Lihat saja, di sela kesemrawutan seperti ini, mereka masih bisa menikmati setitik kelezatan yang manis. Namun, setelah dilihat lebih cermat, malah terasa agak aneh menyaksikan mereka berdua-duaan sambil menikmati es krim di tengah segala keriuhan dan hiruk-pikuk jalan. Mengapa mereka tidak mencari tempat yang lebih tenang? Di taman kota, misalnya. Pun saat melihat raut keduanya yang terlihat sangat muram, orang-orang yang melihat pasti akan mengerutkan kening semakin dalam karena heran.
Ooo ... ternyata ini hanya salah satu fragmen sedih lain yang berurai air mata.
Biarkan aku menduga. Mmm ... bisa jadi mereka sepasang kekasih yang sedang menghadapi ujian cinta yang cukup besar. Mungkin, keduanya sama-sama tidak mendapatkan restu dari orang tua. Mungkin juga, mereka berdua pasangan yang sedang menjalin hubungan terlarang. Atau bahkan mungkin, mereka itu sebenarnya hanya dua bersaudara yang sedang memikirkan masalah dalam keluarga mereka bersama-sama.
Semua kemungkinan itu mungkin saja 'kan? Toh, apa sih yang tidak mungkin terjadi di sisi jalan yang padat dan ramai seperti ini?
Tidak percaya?
Dengar, aku pernah menyaksikan sebuah mobil yang tiba-tiba saja menyeruduk orang-orang yang sedang berjalan di jalur pedestrian. Sopirnya mabuk. Orang-orang tewas seketika. Mayat-mayat mereka bergelimpangan.
Aku juga pernah melihat jambret yang dihajar massa, setelah ia tertangkap karena mengambil dompet ibu-ibu paruh baya yang baru saja keluar dari bank di seberang jalan sana. Satu orang berteriak menyuruh yang lain membakar si jambret. Provokasi yang segera saja disambut teriakan-teriakan bar-bar dari orang-orang lainnya. Seperti api yang menyambar bahan bakar, semua orang larut tersulut amarah. Untung saja petugas segera datang. Nyawa si jambret pun tak jadi melayang.
Suatu waktu, pernah juga kulihat sebuah sedan mewah yang tiba-tiba saja berhenti. Penumpangnya, seorang perempuan muda, ke luar membanting pintu, sambil mulutnya mengeluarkan makian-makian. Seorang lelaki menyusul keluar dari pintu yang bersebrangan. Juga dengan amarah yang sama yang terpancar dari matanya yang menatap nyalang (aduh, mengapa banyak sekali kuucapkan kata 'yang'?). Ah, penampilan yang mewah dan elegan ternyata tak cukup menjamin seseorang dapat bersikap elegan juga rupanya.
Peristiwa-peristiwa lain yang bahkan tak bisa lagi kusebutkan saking banyaknya, juga selalu kusaksikan di sisi jalan padat ini. Sebab memang selalu saja ada peristiwa-peristiwa yang begitu asik untuk kuamati. Peristiwa-peritiwa yang selalu saja melintas di hadapanku. Peristiwa-peristiwa yang terlalu sayang untuk dilewatkan.
Tidak semuanya semenyeramkan yang tadi telah kuceritakan. Tidak. Ada juga peristiwa-peristiwa yang mengharukan, menyedihkan, menyebalkan, menggelikan, menjijikan, menakjubkan, juga peristiwa yang membuatku ingin tertawa sekeras-kerasnya, walau aku tak bisa melakukan itu. Bahkan, ada juga peristiwa yang biasa-biasa saja, sampai-sampai aku bingung harus bagaimana meresponnya.
Kuduga kau pasti akan bertanya-tanya, mengapa aku seperti tak ada pekerjaan saja mengamati semua hiruk pikuk yang terjadi di jalan ini. Iya 'kan?
Yah, bukannya tidak ada pekerjaan atau apa, tetapi semuanya memang selalu terjadi di hadapanku, di sini. Aku pun selalu menyaksikannya dari sini, di sisi jalan padat ini. Semua melintas cepat seperti fragmen-fragmen yang diambil dari sebuah maha karya besar bernama kehidupan. Bagiku jalan ini memang ibarat miniatur kehidupan dunia dengan segala kerumitannya, dengan segala kesibukannya, dengan segala keberagamannya, dengan segala tetek bengek dan ingar bingar di dalamnya.
Aku sendiri, tentu senang diberi kesempatan untuk menyaksikan semua itu. Kuanggap semua semata-mata sebagai hiburan bagiku, yang selamanya harus selalu tegak di sini, di sisi jalan ini. Menjalani kehidupanku sendiri, sekaligus menjalankan tugas mulia yang kuemban.
Hei! Sudah sepanjang ini aku bercerita, tetapi kita belum juga berkenalan, bukan? Kalau begitu perkenalkan, orang-orang yang berlalu lalang itu selalu menyebutku, tiang lampu jalan. Ya, benar. Tiang lampu jalan. Akulah saksi hiruk pikuknya kehidupan.
*Timit*
Minggu, 22 Desember 2019
EKSEKUSI MATI
EKSEKUSI MATI
Oleh Lily N. D. Madjid
Kejam. Sungguh kejam mereka. Dikurungnya kami berhari-hari, dengan hanya diberi makan seadanya. Itupun hanya sehari sekali. Padahal apa salah kami hingga mereka memperlakukan kami seperti ini?
Lihatlah mereka. Setelah memperlakukan kami seperti ini, mereka masih dapat bernyanyi-nyanyi dengan riangnya.
Potong bebek angsa
Masak dikuali
Nona minta dansa
Dansa empat kali...
Aaaargh! Aku benci lagu itu. Aku benci mereka yang berwajah tanpa dosa setelah berbuat seenaknya pada kami. Di mana hati nurani mereka? Sungguh aku ingin menjerit, memaki, mencaci mereka tanpa henti.
"Sabar, sayang. Mungkin ini semua ujian bagi kita." Suamiku memberikan penghiburan. Ah, lelakiku yang tabah dan penyabar. Untunglah aku masih memilikinya. Setelah satu persatu keluargaku mereka renggut. Jika ia tidak ada di sisiku untuk menenangkan, entah apa jadinya aku. Mungkin aku sudah lama kehilangan kewarasan.
"Aku tak kuat lagi, Bang."
"Sabar, Sayang, sabar... "
"Bagaimana kalau kita mencoba lari dari sini?"
"Sayang. Aku ... Aku tidak yakin. Tidak semudah itu bisa lari dari mereka. Lihatlah, kita berdua berada dalam penjara, lagi pula... "
"Jika kita tetap di sini, itu berarti kita menyerahkan diri pada kematian, Bang! Kau ingat bagaimana mereka membantai ayah, ibuku, ibumu, bahkan anak kita... Anak kita, huhuhuhuhu... Aku tak kuat lagi, Bang. Aku ingin pergiii.... "
"Sayang,"
"Tidak. Aku tak ingin bertahan, jika itu yang akan Abang katakan!" teriakku putus asa. Kudorong sekuat tenaga pintu penjara yang mengurung kami berdua.
"Sayang, penjara ini tak mungkin kita tembus."
"Aku tak peduli jika Abang sudah menyerah. Tapi aku tidak. Aku akan terus berusaha." ketusku.
Suamiku terlihat termenung. Lalu kemudian, dia ikut membantu mendorong pintu jeruji ini sekuat tenaga. Terlihat bodoh memang. Tetapi bukankah kita harus terus berusaha?
"Hei! Kalian berdua! Mau mencoba kabur ya?" Satu suara mengejutkanku. Celaka, kami ketahuan. Dan, oh tidak! Dia memanggil teman-temannya.
"Lihat mereka berdua. Mereka mencoba keluar dari sini. Hahaha... Lucu sekali."
Gerombolan itu mengelilingi kami, menertawai kami seolah kami mahluk bodoh. Padahal kami hanya ingin mempertahankan diri, ingin mencoba bertahan hidup.
"Ambil satu. Kita eksekusi sekarang juga!" kata seseorang. Oh, tidak.
"Kau menjauh sayang, biar aku yang menghadapi mereka." kata suamiku. Airmataku bercucuran.
Kulihat suamiku menghadang mereka. Tapi apalah daya, dia hanya sendiri. Mereka memegangnya bersama-sama. Mengunci tubuhnya dalam sekali renggut.
"Abaaang!" Jeritku histeris. Melihat mereka membuat suamiku tak berdaya.
"Ambil senjataku!" teriak seseorang.
Ya Tuhan. Aku tak kuat lagi. Lihat mereka... Aaargh! Tidaaaak... Mereka, mereka menggorok lehernya. Di depan mataku. Dasar manusia-manusia laknat! Sekarang mereka bahkan menyiramnya dengan air panas. Keji. Aku tak ingin melihat lagi. Aku tak sanggup melihat lagi.
Kututup mataku yang bercucuran air mata. Ah, Abang. Sepertinya sebentar lagi aku kehilangan kewarasanku.
TRAK!
TRAK!
Aku mengintip ke arah datangnya suara. Di sana mereka sedang mencincang tubuh telanjang suamiku. Gila! Mereka membelah perut dan mengeluarkan isinya. Mencincangnya menjadi potongan-potongan kecil dan memercikinya dengan perasan lemon.
Dapatkah kau bayangkan pedihnya? Aku tidak. Sebab aku sudah kehilangan kesadaranku saat seseorang berteriak keras.
"Bebeknya sudah siap, mana bumbu rica-ricanya?" Orang itu membawa potongan-potongan tubuh suamiku sambil bersenandung riang.
Potong bebek angsa
Masak dikuali
Nona minta dansa
Dansa empat kali...
Oleh Lily N. D. Madjid
Kejam. Sungguh kejam mereka. Dikurungnya kami berhari-hari, dengan hanya diberi makan seadanya. Itupun hanya sehari sekali. Padahal apa salah kami hingga mereka memperlakukan kami seperti ini?
Lihatlah mereka. Setelah memperlakukan kami seperti ini, mereka masih dapat bernyanyi-nyanyi dengan riangnya.
Potong bebek angsa
Masak dikuali
Nona minta dansa
Dansa empat kali...
Aaaargh! Aku benci lagu itu. Aku benci mereka yang berwajah tanpa dosa setelah berbuat seenaknya pada kami. Di mana hati nurani mereka? Sungguh aku ingin menjerit, memaki, mencaci mereka tanpa henti.
"Sabar, sayang. Mungkin ini semua ujian bagi kita." Suamiku memberikan penghiburan. Ah, lelakiku yang tabah dan penyabar. Untunglah aku masih memilikinya. Setelah satu persatu keluargaku mereka renggut. Jika ia tidak ada di sisiku untuk menenangkan, entah apa jadinya aku. Mungkin aku sudah lama kehilangan kewarasan.
"Aku tak kuat lagi, Bang."
"Sabar, Sayang, sabar... "
"Bagaimana kalau kita mencoba lari dari sini?"
"Sayang. Aku ... Aku tidak yakin. Tidak semudah itu bisa lari dari mereka. Lihatlah, kita berdua berada dalam penjara, lagi pula... "
"Jika kita tetap di sini, itu berarti kita menyerahkan diri pada kematian, Bang! Kau ingat bagaimana mereka membantai ayah, ibuku, ibumu, bahkan anak kita... Anak kita, huhuhuhuhu... Aku tak kuat lagi, Bang. Aku ingin pergiii.... "
"Sayang,"
"Tidak. Aku tak ingin bertahan, jika itu yang akan Abang katakan!" teriakku putus asa. Kudorong sekuat tenaga pintu penjara yang mengurung kami berdua.
"Sayang, penjara ini tak mungkin kita tembus."
"Aku tak peduli jika Abang sudah menyerah. Tapi aku tidak. Aku akan terus berusaha." ketusku.
Suamiku terlihat termenung. Lalu kemudian, dia ikut membantu mendorong pintu jeruji ini sekuat tenaga. Terlihat bodoh memang. Tetapi bukankah kita harus terus berusaha?
"Hei! Kalian berdua! Mau mencoba kabur ya?" Satu suara mengejutkanku. Celaka, kami ketahuan. Dan, oh tidak! Dia memanggil teman-temannya.
"Lihat mereka berdua. Mereka mencoba keluar dari sini. Hahaha... Lucu sekali."
Gerombolan itu mengelilingi kami, menertawai kami seolah kami mahluk bodoh. Padahal kami hanya ingin mempertahankan diri, ingin mencoba bertahan hidup.
"Ambil satu. Kita eksekusi sekarang juga!" kata seseorang. Oh, tidak.
"Kau menjauh sayang, biar aku yang menghadapi mereka." kata suamiku. Airmataku bercucuran.
Kulihat suamiku menghadang mereka. Tapi apalah daya, dia hanya sendiri. Mereka memegangnya bersama-sama. Mengunci tubuhnya dalam sekali renggut.
"Abaaang!" Jeritku histeris. Melihat mereka membuat suamiku tak berdaya.
"Ambil senjataku!" teriak seseorang.
Ya Tuhan. Aku tak kuat lagi. Lihat mereka... Aaargh! Tidaaaak... Mereka, mereka menggorok lehernya. Di depan mataku. Dasar manusia-manusia laknat! Sekarang mereka bahkan menyiramnya dengan air panas. Keji. Aku tak ingin melihat lagi. Aku tak sanggup melihat lagi.
Kututup mataku yang bercucuran air mata. Ah, Abang. Sepertinya sebentar lagi aku kehilangan kewarasanku.
TRAK!
TRAK!
Aku mengintip ke arah datangnya suara. Di sana mereka sedang mencincang tubuh telanjang suamiku. Gila! Mereka membelah perut dan mengeluarkan isinya. Mencincangnya menjadi potongan-potongan kecil dan memercikinya dengan perasan lemon.
Dapatkah kau bayangkan pedihnya? Aku tidak. Sebab aku sudah kehilangan kesadaranku saat seseorang berteriak keras.
"Bebeknya sudah siap, mana bumbu rica-ricanya?" Orang itu membawa potongan-potongan tubuh suamiku sambil bersenandung riang.
Potong bebek angsa
Masak dikuali
Nona minta dansa
Dansa empat kali...
Jumat, 20 Desember 2019
BINTANG KECIL
BINTANG KECIL
Oleh Lily N. D. Madjid
Malam ini cerah sekali, walau bulan hanya sebentuk sabit. Langit bersih. Bintang-bintang bertaburan di langit. Aku suka suasana seperti ini. Aku suka memandang taburan bintang di langit sana, seperti taburan permata di tiara milik mama. Aku suka membayangkan diriku duduk di lengkungan bulan sabit itu.
Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada
Kusenandungkan lagu kesukaanku. Dulu, mama yang mengajariku lagu itu. Kugumamkan berulang-ulang. Kuayunkan dua kaki seiring larik-larik lagu yang keluar dari bibirku. Ayunan yang kududuki melambung semakin tinggi dan ssemakin tinggi. Biasanya, jika kunyanyikan lagu itu, mama akan ikut bernyanyi bersamaku. Ia bernyanyi sambil memelukku dan kami memandang ke arah langit berdua.
Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada
Tetapi kini tak ada lagi mama. Dia telah tiada. Kutemukan ia dengan belati menancap di dada, suatu hari, sepulangku dari sekolah. Darah membasahi seluruh tubuhnya. Aku menjerit-jerit mamanggilnya. Tetapi dia diam saja. Hanya matanya saja yang terbuka, menatap ke langit sana. Mungkinkah mama menatap bintang kesayangan kami? Tetapi di siang hari tak ada bintang yang bertaburan, bukan?
Lalu nenek dan kakek membawaku ke sini. Ke desa tempat mereka tinggal. Kata mereka aku tak mungkin tinggal sendiri setelah mama pergi, dan papa mendekam di balik jeruji. Aku pun berpikir begitu. Terlalu menyedihkan kenangan yang tertinggal di rumah itu. Sampai sekarang aku bahkan tak tahu, apa yang membuat papa tega menyarangkan belatinya di dada mama. Bukankah selama ini mereka saling mencinta?
Di desa ini aku lebih tenang. Tak ada lagi mimpi buruk tentang kematian mama dalam tidurku. Apalagi di desa kecil ini, langitnya selalu lebih indah di malam hari. Seperti malam ini. Kau lihat? Bintang bertaburan di atas sana. Gemerlap tak terkira. Apakah mama ada di sana? Duduk di antara lengkung bulan sabit, menikmati kilauannya?
Kupejamkan mata. Membayangkan mama dengan senyumnya. Dengan suara merdunya. Kuhapus bayanganku tentang mama di saat terakhir aku melihatnya. Ya. Akan kuhapus saja. Hanya yang terindah saja tentang mama yang boleh tersisa dalam kenangan di kepala. Juga dalam dada.
Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada
Udara terasa dingin menggigit. Kuusap tengkukku yang meremang. Sejenak aku terdiam. Ada yang ikut bersenandung di sana. Entah di mana. Lirih suaranya mengalun lembut. Kutajakan pendengaran, juga mencari dari mana suara itu berasal.
Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada
Ah, di sana. Di bawah rerimbun pohon angsana, kulihat sebuah siluet berdiri tegak menghadap ke arahku. Mataku terpicing. Bayangan itu seperti sosok tak asing. Dan senandungnya yang mengiringi gumam laguku, bukankah suara yang begitu kukenal?
Bukankah itu … Mama?
Oleh Lily N. D. Madjid
Malam ini cerah sekali, walau bulan hanya sebentuk sabit. Langit bersih. Bintang-bintang bertaburan di langit. Aku suka suasana seperti ini. Aku suka memandang taburan bintang di langit sana, seperti taburan permata di tiara milik mama. Aku suka membayangkan diriku duduk di lengkungan bulan sabit itu.
Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada
Kusenandungkan lagu kesukaanku. Dulu, mama yang mengajariku lagu itu. Kugumamkan berulang-ulang. Kuayunkan dua kaki seiring larik-larik lagu yang keluar dari bibirku. Ayunan yang kududuki melambung semakin tinggi dan ssemakin tinggi. Biasanya, jika kunyanyikan lagu itu, mama akan ikut bernyanyi bersamaku. Ia bernyanyi sambil memelukku dan kami memandang ke arah langit berdua.
Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada
Tetapi kini tak ada lagi mama. Dia telah tiada. Kutemukan ia dengan belati menancap di dada, suatu hari, sepulangku dari sekolah. Darah membasahi seluruh tubuhnya. Aku menjerit-jerit mamanggilnya. Tetapi dia diam saja. Hanya matanya saja yang terbuka, menatap ke langit sana. Mungkinkah mama menatap bintang kesayangan kami? Tetapi di siang hari tak ada bintang yang bertaburan, bukan?
Lalu nenek dan kakek membawaku ke sini. Ke desa tempat mereka tinggal. Kata mereka aku tak mungkin tinggal sendiri setelah mama pergi, dan papa mendekam di balik jeruji. Aku pun berpikir begitu. Terlalu menyedihkan kenangan yang tertinggal di rumah itu. Sampai sekarang aku bahkan tak tahu, apa yang membuat papa tega menyarangkan belatinya di dada mama. Bukankah selama ini mereka saling mencinta?
Di desa ini aku lebih tenang. Tak ada lagi mimpi buruk tentang kematian mama dalam tidurku. Apalagi di desa kecil ini, langitnya selalu lebih indah di malam hari. Seperti malam ini. Kau lihat? Bintang bertaburan di atas sana. Gemerlap tak terkira. Apakah mama ada di sana? Duduk di antara lengkung bulan sabit, menikmati kilauannya?
Kupejamkan mata. Membayangkan mama dengan senyumnya. Dengan suara merdunya. Kuhapus bayanganku tentang mama di saat terakhir aku melihatnya. Ya. Akan kuhapus saja. Hanya yang terindah saja tentang mama yang boleh tersisa dalam kenangan di kepala. Juga dalam dada.
Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada
Udara terasa dingin menggigit. Kuusap tengkukku yang meremang. Sejenak aku terdiam. Ada yang ikut bersenandung di sana. Entah di mana. Lirih suaranya mengalun lembut. Kutajakan pendengaran, juga mencari dari mana suara itu berasal.
Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada
Ah, di sana. Di bawah rerimbun pohon angsana, kulihat sebuah siluet berdiri tegak menghadap ke arahku. Mataku terpicing. Bayangan itu seperti sosok tak asing. Dan senandungnya yang mengiringi gumam laguku, bukankah suara yang begitu kukenal?
Bukankah itu … Mama?
P E N U N G G U
PENUNGGU
Oleh Lily N. D. Madjid
Hari ini adalah hari pertamaku tinggal di rumah baru, di kota yang juga baru. Aku baru saja dimutasi ke kota ini. Saat pindah, kuboyong serta keluarga kecilku. Amarylis, istriku, tidak mengeluh. Dia dengan lapang dada menerima kepindahan kami ke kota kecil ini. Begitu juga Sakti, putra semata wayang kami yang masih berusia balita. Dia malah terlihat antusias sekali.
“Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku….”
Aku menggeliat. Suara nyanyian kecil Sakti menyusup ke gendang telingaku. Ah, sudah bangun rupanya bocah itu. Kucoba memicingkan mataku yang masih terasa berat. Bocah kecil itu masih meringkuk di sudut kasur kami. Tetapi matanya sudah terbuka lebar. Mulut kecilnya bersenandung tanpa henti.
“Papa,” sapanya setelah menyadari aku memandangnya. “Papa, aku mau mandi.” Sakti bangkit dan mendekat. Aku kembali menggeliat.
“Sama mama, ya?”
“Mamanya mana?”
“Coba Sakti cari mama di dapur,” kataku sambil kembali memejamkan mata. Sungguh aku masih mengantuk. Kegiatan pindahan kemarin sangat menguras tenaga. Sakti turun dari tempat tidur, lalu menghilang di balik pintu kamar.
“Mamaaa … Mama, aku mau mandi!” teriak bocah kecil itu. Tidak lama kudengar suara siraman air di kamar mandi, ditingkahi senandung Sakti bernyanyi.
“Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku….”
*****
Aku baru saja akan kembali terlelap saat kusadari satu sosok berdiri di ambang pintu kamar. Amarylis. Ia memandangiku sambil tersenyum.
“Sakti mandi sendiri?” Tanyaku. Ia mengangguk lalu melangkah mendekat. Anggun sekali caranya berjalan. Di sisi pembaringan dia berdiri memandangiku lekat. Masih dengan senyum yang mengembang.
“Kenapa?” tanyaku. Tidak biasanya dia bersikap malu-malu seperti itu. Amaryllis hanya menggeleng. “Sini, temani aku di sini.” Istriku mendekat. Memelukku erat sambil mengecup dua pipiku. Matanya yang berbinar menatapku lekat. Aku balas mendekap dan menciumi wajahnya. Tubuhnya.
“Mmm … Kamu pakai parfum baru, ya?” gumamku. Rasanya sebelumnya Amarylis tak pernah memakai parfum beraroma lembut melati seperti ini.” Dia tak menjawab. Hanya tersenyum. Semakin gemas aku dibuatnya. Tapi aktivitasku terganggu oleh suara berkelontang keras dari arah kamar mandi. Aku terlonjak kaget.
“Sakti …” Aku dan istriku saling pandang.
Bergegas aku berlari ke arah kamar mandi. Jangan-jangan anak itu terpeleset. Kamar mandinya memang belum sempat kubersihkan sejak kami datang kemarin. Lantainya masih licin berlumut.
“Mas! Mas Arshaka! Tolong, ini Sakti jatuh…” Aku tertegun. Itu suara teriakan Amarylis. Tapi kenapa suaranya berasal dari dapur?
Diambang pintu kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur, kulihat amarylis sedang memangku Sakti yang menggigil pucat.
“Amy,” desisku. “Bukannya kamu tadi … kita …” aku tergagap.
“Apa sih, Mas? Ini bantu anaknya!”
Walau jantungku berdebar keras, kuabaikan dulu untuk segera menolong Sakti.
“Papa, papa … “
“Sakti kenapa?”
“Sakti takut, Papa …” bisik sakti sambil melirik ke arah kamar mandi. Dia masih gemetar.
“Takut apa?” tanyaku dan istriku bersamaan.
“Nenek itu marah. Dia nggak suka dengar Sakti nyanyi lagu Bangun Tidur …”
“Nenek? Nenek Siapa?” aku dan istriku saling pandang.
“Nenek muka seram yang ada di kamar mandi. Dia galak, nggak seperti tante baik hati di kamar kita.” Katanya.
Kurasa kepalaku pening tiba-tiba.
Oleh Lily N. D. Madjid
Hari ini adalah hari pertamaku tinggal di rumah baru, di kota yang juga baru. Aku baru saja dimutasi ke kota ini. Saat pindah, kuboyong serta keluarga kecilku. Amarylis, istriku, tidak mengeluh. Dia dengan lapang dada menerima kepindahan kami ke kota kecil ini. Begitu juga Sakti, putra semata wayang kami yang masih berusia balita. Dia malah terlihat antusias sekali.
“Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku….”
Aku menggeliat. Suara nyanyian kecil Sakti menyusup ke gendang telingaku. Ah, sudah bangun rupanya bocah itu. Kucoba memicingkan mataku yang masih terasa berat. Bocah kecil itu masih meringkuk di sudut kasur kami. Tetapi matanya sudah terbuka lebar. Mulut kecilnya bersenandung tanpa henti.
“Papa,” sapanya setelah menyadari aku memandangnya. “Papa, aku mau mandi.” Sakti bangkit dan mendekat. Aku kembali menggeliat.
“Sama mama, ya?”
“Mamanya mana?”
“Coba Sakti cari mama di dapur,” kataku sambil kembali memejamkan mata. Sungguh aku masih mengantuk. Kegiatan pindahan kemarin sangat menguras tenaga. Sakti turun dari tempat tidur, lalu menghilang di balik pintu kamar.
“Mamaaa … Mama, aku mau mandi!” teriak bocah kecil itu. Tidak lama kudengar suara siraman air di kamar mandi, ditingkahi senandung Sakti bernyanyi.
“Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku….”
*****
Aku baru saja akan kembali terlelap saat kusadari satu sosok berdiri di ambang pintu kamar. Amarylis. Ia memandangiku sambil tersenyum.
“Sakti mandi sendiri?” Tanyaku. Ia mengangguk lalu melangkah mendekat. Anggun sekali caranya berjalan. Di sisi pembaringan dia berdiri memandangiku lekat. Masih dengan senyum yang mengembang.
“Kenapa?” tanyaku. Tidak biasanya dia bersikap malu-malu seperti itu. Amaryllis hanya menggeleng. “Sini, temani aku di sini.” Istriku mendekat. Memelukku erat sambil mengecup dua pipiku. Matanya yang berbinar menatapku lekat. Aku balas mendekap dan menciumi wajahnya. Tubuhnya.
“Mmm … Kamu pakai parfum baru, ya?” gumamku. Rasanya sebelumnya Amarylis tak pernah memakai parfum beraroma lembut melati seperti ini.” Dia tak menjawab. Hanya tersenyum. Semakin gemas aku dibuatnya. Tapi aktivitasku terganggu oleh suara berkelontang keras dari arah kamar mandi. Aku terlonjak kaget.
“Sakti …” Aku dan istriku saling pandang.
Bergegas aku berlari ke arah kamar mandi. Jangan-jangan anak itu terpeleset. Kamar mandinya memang belum sempat kubersihkan sejak kami datang kemarin. Lantainya masih licin berlumut.
“Mas! Mas Arshaka! Tolong, ini Sakti jatuh…” Aku tertegun. Itu suara teriakan Amarylis. Tapi kenapa suaranya berasal dari dapur?
Diambang pintu kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur, kulihat amarylis sedang memangku Sakti yang menggigil pucat.
“Amy,” desisku. “Bukannya kamu tadi … kita …” aku tergagap.
“Apa sih, Mas? Ini bantu anaknya!”
Walau jantungku berdebar keras, kuabaikan dulu untuk segera menolong Sakti.
“Papa, papa … “
“Sakti kenapa?”
“Sakti takut, Papa …” bisik sakti sambil melirik ke arah kamar mandi. Dia masih gemetar.
“Takut apa?” tanyaku dan istriku bersamaan.
“Nenek itu marah. Dia nggak suka dengar Sakti nyanyi lagu Bangun Tidur …”
“Nenek? Nenek Siapa?” aku dan istriku saling pandang.
“Nenek muka seram yang ada di kamar mandi. Dia galak, nggak seperti tante baik hati di kamar kita.” Katanya.
Kurasa kepalaku pening tiba-tiba.
Kamis, 19 Desember 2019
GIRI DAN JATI
Giri dan Jati
Cerpen Lily N. D. Madjid
Giri melangkah gontai, menyusuri lorong-lorong pasar yang sepi. Toko-toko sudah tutup. Ternyata tidak mudah menjadi pemulung. Setiap pemulung sudah memiliki daerah operasi sendiri. Giri yang baru kali ini turun ke pasar berkali-kali ditegur. Mulai dari teguran pelan hingga bentakan kasar.
Begitupun dengan tempat bermalam. Tidak semua emper toko bisa dijadikan tempat melepas lelah. Empat kali Giri diusir saat merebahkan diri melepaskan penatnya. Ternyata hidup di jalan tidak semudah yang Giri bayangkan.
*****
“Kamu anak baru?”
Giri terlonjak. Dia baru saja merebahkan diri di sudut terdalam pasar. Tempatnya sepi. Giri tidak melihat sesiapa di sana tadi.
“Ya.” Gumam Giri setelah reda dari keterkejutannya. Seorang anak duduk di bagian tergelap.
“Dari mana?”
“Aku lari dari rumah.”
“Lari?”
“Ayah tiriku pengangguran kejam. Aku tak tahan disiksa.”
“Hmmm …”
Giri memicingkan matanya. Tetapi malam mengaburkan pandangan Giri. Hanya siluet anak itu yang terlihat.
“Kamu sudah lama di sini?”
Tak ada jawaban. Samar-samar Giri melihat anggukannya.
“Namamu siapa?”
“Jati.”
“Aku Giri.” Giri mengenalkan diri. “Mudah-mudahan kamu tidak mengusirku. Aku tak kuat lagi jika harus mencari tempat lain untuk bermalam.”
“Kamu mau tidur di sini?”
“Kamu keberatan?”
“Tidak. Aku senang. Tapi tempat ini sepi sekali. Siang hari pun orang tak kemari.”
“Kenapa?”
“Kamu tidak tahu?”
“Apa?”
“Ah, ya. Kamu pendatang baru.”
“Memangnya kenapa?” Giri penasaran. Jati tak langsung menjawab. “Jati? Ayo ceritakan.”
“Nanti kamu takut mendengarnya.”
“Aku pemberani. Makanya kuputuskan meninggalkan rumah.”
“Tidak. Kamu takut pada ayah tirimu, makanya kamu lari dari rumah.” Jati terkekeh. Giri mendengus.
“Ceritakan saja. Kenapa orang-orang tak pernah lagi datang kemari.”
“Orang-orang tak berani datang kemari. Sejak … ditemukan mayat korban mutilasi di lorong ini. Hanya potongan-potongan tubuhnya saja. Kepalanya tak pernah ditemukan.”
“Ka … kapan kejadiannya?” Suara Giri bergetar.
“Sudah lama. Tapi orang-orang tak mau lagi menginjak tempat ini. Toko-tokonya saja sudah lama tutup.” Kata Jati pelan. “Hei, kamu ketakutan, ‘kan?” katanya lagi. Lalu dia terkekeh pelan.
“Tidak. Aku Cuma lelah. Aku mau tidur.” Giri berkelit. Dia rebah di lantai yang dingin. Meringkuk seperti bayi agar tak kedinginan. “Kamu belum mengantuk?” tanyanya. Jati tidak menjawab. Giri malah mendengarnya bersenandung pelan.
Topi saya bundar,
Bundar topi saya
Kalau tidak bundar
Bukan topi saya …
“Kenapa kamu tidak bergeser ke sini? Di situ gelap sekali.” Giri menguap. Dilihatnya Jati mendekat. Kini Giri bisa melihat lebih jelas lagi sosok Jati. Anak itu tinggi sekali. Rambutnya ikal. Kulitnya putih pucat. Atau karena penerangan yang tak memadai, maka ia terlihat pucat? Di kepalanya terlihat bertengger sebuah topi fedora berwarna putih.
“Topimu bagus,” gumam Giri.
“Oya? aku malah tidak menyukainya. Kamu boleh ambil kalau kamu mau.” Jati memutar-mutar topi di kepalanya. “Topi ini milik lelaki itu. Aku ambil.”
“Lelaki itu?”
“Iya. Lelaki penculik yang membunuhku. Aku sempat menariknya sebelum dia menggorok leherku.” Kata Jati pelan. Giri ternganga mendengarnya. Apalagi saat dilihatnya Jati melepas topinya dan mengulurkannya pada Giri. “Ini untukmu saja.” Kepala Jati masih menempel pada topi yang kini menggeletak di lantai dekat Giri berbaring. Mulut di kepala itu bersenandung pelan.
Topi saya bundar,
Bundar topi saya
Kalau tidak bundar
Bukan topi saya …
Cerpen Lily N. D. Madjid
Giri melangkah gontai, menyusuri lorong-lorong pasar yang sepi. Toko-toko sudah tutup. Ternyata tidak mudah menjadi pemulung. Setiap pemulung sudah memiliki daerah operasi sendiri. Giri yang baru kali ini turun ke pasar berkali-kali ditegur. Mulai dari teguran pelan hingga bentakan kasar.
Begitupun dengan tempat bermalam. Tidak semua emper toko bisa dijadikan tempat melepas lelah. Empat kali Giri diusir saat merebahkan diri melepaskan penatnya. Ternyata hidup di jalan tidak semudah yang Giri bayangkan.
*****
“Kamu anak baru?”
Giri terlonjak. Dia baru saja merebahkan diri di sudut terdalam pasar. Tempatnya sepi. Giri tidak melihat sesiapa di sana tadi.
“Ya.” Gumam Giri setelah reda dari keterkejutannya. Seorang anak duduk di bagian tergelap.
“Dari mana?”
“Aku lari dari rumah.”
“Lari?”
“Ayah tiriku pengangguran kejam. Aku tak tahan disiksa.”
“Hmmm …”
Giri memicingkan matanya. Tetapi malam mengaburkan pandangan Giri. Hanya siluet anak itu yang terlihat.
“Kamu sudah lama di sini?”
Tak ada jawaban. Samar-samar Giri melihat anggukannya.
“Namamu siapa?”
“Jati.”
“Aku Giri.” Giri mengenalkan diri. “Mudah-mudahan kamu tidak mengusirku. Aku tak kuat lagi jika harus mencari tempat lain untuk bermalam.”
“Kamu mau tidur di sini?”
“Kamu keberatan?”
“Tidak. Aku senang. Tapi tempat ini sepi sekali. Siang hari pun orang tak kemari.”
“Kenapa?”
“Kamu tidak tahu?”
“Apa?”
“Ah, ya. Kamu pendatang baru.”
“Memangnya kenapa?” Giri penasaran. Jati tak langsung menjawab. “Jati? Ayo ceritakan.”
“Nanti kamu takut mendengarnya.”
“Aku pemberani. Makanya kuputuskan meninggalkan rumah.”
“Tidak. Kamu takut pada ayah tirimu, makanya kamu lari dari rumah.” Jati terkekeh. Giri mendengus.
“Ceritakan saja. Kenapa orang-orang tak pernah lagi datang kemari.”
“Orang-orang tak berani datang kemari. Sejak … ditemukan mayat korban mutilasi di lorong ini. Hanya potongan-potongan tubuhnya saja. Kepalanya tak pernah ditemukan.”
“Ka … kapan kejadiannya?” Suara Giri bergetar.
“Sudah lama. Tapi orang-orang tak mau lagi menginjak tempat ini. Toko-tokonya saja sudah lama tutup.” Kata Jati pelan. “Hei, kamu ketakutan, ‘kan?” katanya lagi. Lalu dia terkekeh pelan.
“Tidak. Aku Cuma lelah. Aku mau tidur.” Giri berkelit. Dia rebah di lantai yang dingin. Meringkuk seperti bayi agar tak kedinginan. “Kamu belum mengantuk?” tanyanya. Jati tidak menjawab. Giri malah mendengarnya bersenandung pelan.
Topi saya bundar,
Bundar topi saya
Kalau tidak bundar
Bukan topi saya …
“Kenapa kamu tidak bergeser ke sini? Di situ gelap sekali.” Giri menguap. Dilihatnya Jati mendekat. Kini Giri bisa melihat lebih jelas lagi sosok Jati. Anak itu tinggi sekali. Rambutnya ikal. Kulitnya putih pucat. Atau karena penerangan yang tak memadai, maka ia terlihat pucat? Di kepalanya terlihat bertengger sebuah topi fedora berwarna putih.
“Topimu bagus,” gumam Giri.
“Oya? aku malah tidak menyukainya. Kamu boleh ambil kalau kamu mau.” Jati memutar-mutar topi di kepalanya. “Topi ini milik lelaki itu. Aku ambil.”
“Lelaki itu?”
“Iya. Lelaki penculik yang membunuhku. Aku sempat menariknya sebelum dia menggorok leherku.” Kata Jati pelan. Giri ternganga mendengarnya. Apalagi saat dilihatnya Jati melepas topinya dan mengulurkannya pada Giri. “Ini untukmu saja.” Kepala Jati masih menempel pada topi yang kini menggeletak di lantai dekat Giri berbaring. Mulut di kepala itu bersenandung pelan.
Topi saya bundar,
Bundar topi saya
Kalau tidak bundar
Bukan topi saya …
Rabu, 11 Desember 2019
TENGAH MALAM
TENGAH MALAM
Oleh Lily N. D. Madjid
Adri terjaga. Suara riuh tawa di ruang sebelah membuyarkan mimpinya.
"Ck! Kebangetan! Tengah malam begini ngakak nggak pakai peredam," gerutu Adri, menyusupkan kepalanya di antara bantal.
Suara tawa itu masih sanggup menembus gendang telinganya. Adri bangkit. Dia melangkah dengan malas ke arah pintu kamar yang tepat berhadapan dengan ruang santai kos-kosan. Dari sanalah suara tawa itu membahana.
CEKLEKK!
Diputarnya kunci kamar. Mereka yang tertawa terbahak semakin ramai. Pintu terbuka.
"Guys! Tolong... "
Adri terpana. Ruangan itu sepi tanpa sesiapa. Diingatnya tadi pagi Bima pamit mudik. Juga Andromeda dan Segara, mereka tak ada di rumah.
Jadi? Siapa yang tadi tertawa?
TERUSIR
TERUSIR
Oleh Lily N. D. Madjid
TRING!
Satu pesan masuk. Dari nomor dengan foto profil perempuan berwajah cerah.
[Kamu saya kick dari kosan]
[Bukos? Apa salahku?]
[Selalu nunggak iuran. Jarang setor tulisan. Tak pernah krisan tulisan penghuni lainnya!]
[Tapi... Saya rajin baca semua tulisan, Bukos.]
[Ini grup nulis! Pokoknya, kamu keluar!]
[Tolong beri kesempatan ke dua. Please!]
Tak ada balasan. Hanya notifikasi dari WAG menulis yang kuikuti, katanya admin telah mengeluarkanku.
***
"Bun, kok tidur?"
Aku tersentak saat anakku menepuk bahuku pelan. Kupandangi layar monitor di hadapanku. Menampilkan lembar kosong MSWord. Kulirik sudut layar, 20.50 WIB. Oh, tidak! Aku belum setor FFF hari ke sembilan!
BANTUAN
B A N T U A N
Oleh Lily N. D. Madjid
Bima tersentak saat Adri mendadak memasuki kamarnya.
“Gawat, Bim!”
“Gawat?”
“Bokap marah-marah. Dia mau gue bawa calon istri di ultahnya ke 60.”
“Begitu? Santailah.”
“Gimana bisa? Ultah bokap lusa. Lu kan tahu, gue jomblo merana …”
“Waduh? Dadakan gitu?”
“Gue terancam dicoret dari daftar ahli waris kalo nggak bisa menuhin permintaannya!
“Tenang. Gue bantu.”
“Lu bisa cariin?”
“Aman, Bro.” Bima mengedipkan matanya, tersenyum lebar.
***
Adri selesai mematut diri saat terdengar ketukan di pintu kamarnya. Seseorang berwajah cantik tersenyum manis saat pintu dibuka.
“Lu udah siap, Bro?” Sapanya. Adri yang tadi sempat terpana, kini ternganga.
“Astaga! Ini elu, Bim?”
Langganan:
Postingan (Atom)
PUISI RAKYAT (PUISI LAMA): PANTUN
KOMPETENSI DASAR 3.9 Mengidentifikasi informasi (pesan, rima, dan pilihan kata) dari puisi rakyat (pantun, syair, dan bentuk puis...
-
KOMPETENSI DASAR 3.9 Mengidentifikasi informasi (pesan, rima, dan pilihan kata) dari puisi rakyat (pantun, syair, dan bentuk puis...
-
Ujian. Gambar ilustrasi diambil dari google Hening. Wajah-wajah tertunduk. Menatap helai demi helai kertas dengan puluhan pertany...










