Tampilkan postingan dengan label cinta pertama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta pertama. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Juni 2020

SEKEPING HATI UNTUK LZYLZY NOURAZ

#NAD_30HariMenulis2020
#Hari_ke_6
#NomorAbsen_222
Jumlah kata :  911 kata (hanya isi)

SEKEPING HATI UNTUK LZYLZY NOURAZ


Bzimza Noorzofz berjalan perlahan. Ia tahu, di belakangnya ada Lzylzy Nouraz yang juga sedang bergegas menuju Bellazar D01, satu-satunya sekolah menengah yang berada di distrik mereka. Distrik 01. Bzimza sengaja berjalan pelan-pelan, agar ia dapat  membersamai Lzylzy, gadis yang diam-diam disukainya. Padahal suara sirine tanda sekolah di mulai sudah terdengar. Meraung keras, membuat semua siswa Bellazar D01 yang masih berada di jalan kalang kabut berlarian.

Bangunan sekolah sudah terlihat di depan sana. Suara tak, tik, tuk di belakang Bzimza terdengar semakin cepat. Bzimza tersenyum. Itu pasti suara sepatu Lzylzy yang beradu dengan batu hitam penyusun jalan yang mereka lalui. Nanti, saat Lzylzy sudah melewatinya, barulah Bzimza berniat berlari juga. Menjajari langkah Lzylzy.

Suara tak, tik, tuk semakin dekat. Bzimza melirik dengan ekor matanya. Satu sosok mulai menjajari langkah kakinya. Senyum Bzimza semakin lebar.

"Bzimza, ayo bergegas. Sirine tanda sekolah dimulai sudah terdengar. Apa kau tidak menyadarinya?"

Bzimza menoleh. Senyumnya memudar seketika. Oh, tidak! Itu bukan Lzylzy, tetapi Dyazz Azryayz tetangganya yang juga bersekolah di Belazzar D01. Lalu di mana Lzylzy? Sepertinya, tadi gadis itu juga ada di belakangnya?

"Bzimza? Kau menunggu siapa?" Dyazz ikut menoleh ke belakang mengikuti arah pandang Bzimza.

"Eh? Tidak. Aku tidak menunggu siapa-siapa." Bzimza menyahut. Menyembunyikan kekecewaannya karena ternyata Lzylzy tidak ada di belakang sana.

Sesampainya di depan bangunan Belazzar D01, Bzimza dan semua anak yang baru tiba serentak mengeluh pelan. Gerbang besar telah ditutup. Menyisakan pintu besi kecil yang setengah terbuka, dan dijaga oleh seorang pengawal gerbang berwajah sangar.

"Berbaris!" perintah pengawal pada sedikitnya dua puluh anak, termasuk Bzimza dan Dyazz  yang terlambat. Mata hijau si pengawal menatap tajam, memperhatikan kedua puluh anak itu berbaris. "Berjalan masuk dalam satu barisan! Langsung menuju Tanah Penghukuman!" Si pengawal berteriak lagi. Suara seraknya terdengar berat dan menakutkan.

Tidak ada yang menunggu perintah diulangi, semua bergegas dalam satu barisan, menuju Tanah Penghukuman. Tempat di mana anak-anak yang melanggar disiplin mendapatkan sanksi. Wajah Bzimza bersemu hijau. Ini pertama kalinya ia berada di Tanah Penghukuman. Tempat di mana ia akan mendapati tatap-tatap mata semua siswa di seluruh Belazzar D01 tertuju pada dirinya sebagai si pelanggar tata tertib.

Bzimza menundukkan kepalanya. Tak berani memandang ke sekeliling. Bagaimana jika di antara ratusan mata yang sedang menatapnya ada Lzylzy Nouraz yang juga sedang melihat ia menerima sanksi karena terlambat datang? Hih! Itu akan sangat memalukan.

"Perhatian, untuk semua siswa Belazzar D01. Berbaris di depan kelas kalian masing-masing. Sebelum masuk, seperti biasa kita akan menyaksikan pemberian sanksi terhadap kawan-kawan kalian yang telah melanggar tata tertib Belazzar D01. Kesalahan mereka adalah tidak berdisiplin, tiba di sekolah sesudah sirine dikumandangkan.

"ketidakdisiplinan adalah awal kehancuran yang tentu saja akan merugikan kalian sendiri, juga kita, seluruh Bangsa Azzura. Sejarah pernah mencatat, bangsa kita nyaris lenyap dari Planet Zarrazanz ini. Namun, berkat kegigihan dan kedisiplinan yang selalu kita bangun, kita dapat melewati masa-masa suram. Kini, di hadapan kalian, dua puluh, oh tidak, dua puluh satu siswa telah melakukan pelanggaran kedisiplinan. Apakah kalian ingin mengulang sejarah kelam untuk Bangsa Azzura?"

Kedua puluh satu anak yamg berbaris di Tanah Penghukuman serentak meneriakkan kata tidak.

"Jika demikian, untuk melatih kembali disiplin pada diri kalian, kami akan memberikan sanksi. Kesalahan kalian adalah terlambat datang, itu menandakan kalian tak mampu bergerak lebih cepat. Untuk itu, sekarang berlarilah mengelilingi Tanah Penghukuman sebanyak dua puluh putaran dalam waktu 2400 kedipan mata. Laksanakan!"

Semua anak yang berdiri di tanah penghukuman mulai berlari. Bzimza mengeluh dalam hati. Dua puluh putaran dalam waktu 2400 kedipan mata? Hmm ini berat. Bzimza mulai mengatur napasnya agar bisa dihemat hingga putaran terakhir. Syukurlah dia mampu.

Tepat di kedipan ke-2400, Bzimza menyelesaikan putaran kedua puluhnya. Bzimza menepi. Napasnya masih tersengal ketika seseorang menabraknya dari belakang kemudian roboh terkulai. Pingsan.

"Lzylzy!" seru Bzimza panik begitu menyadari siapa yang  baru saja ambruk di atas lantai batu hitam.

***     ***     ***

Bzimza tersenyum pahit jika kini mengingat hal itu. Betapa konyolnya dia saat itu. Sebab setelah melihat Lzylzy terbaring pingsan, dengan panik ia langsung membopongnya ke ruang penyembuhan. Semua siswa Belazzar D01 gempar. Bisik-bisik pun mulai terdengar. Menggunjingkan Bzimza dan aksi nekatnya menyentuh anak perempuan.

Setelah pulih, Lzylzy selalu menghindari Bzimza. Ia malu mendengar segala gunjingan itu. Di Planet kecil Zarrazanz, ada sebuah peraturan tak tertulis yang telah mengakar: tidak diperbolehkan menyentuh lawan jenis, jika bukan keluarga. Itu tabu. Dan Bzimza telah melanggarnya di depan banyak orang.

Hingga mereka sama-sama beranjak dewasa, Lzylzy masih saja menghindari Bzimza. Itu membuat Bzimza begitu tersiksa. Bagaimana tidak? Padahal Lzylzy telah mencuri sekeping hati milik Bzimza. Ini membuat Bzimza tak pernah lagi bisa mencintai gadis mana pun.

Orang bilang, cinta masa remaja bukanlah cinta yang sebenarnya. Mereka bilang itu hanyalah cinta monyet belaka. Akan tetapi, Bzimza tak pernah bisa percaya. Adakah cinta monyet sedalam yang ia rasakan pada Lzylzy?

"Lupakan Lzylzy Nouraz, Bzimza."

Itu yang selalu Momma katakan pada Bzimza sejak bertahun-tahun lalu. Ibunya itu tahu bagaimana perasaan Bzimza pada Lzylzy. Namun, sejak hari Momma menerima selembar kartu undangan dari keluarga Nouraz yang mengabarkan hari pernikahan Lzylzy dengan seseorang dari Distrik 13, Momma selalu menyuruh Bzimza untuk realistis.

Bzimza tak pernah bisa.

Sejak dulu, Bzimza telah memberikan sekeping hatinya untuk Lzylzy Nouraz, dan gadis itu tak pernah mengembalikannya.

"Jangan salahkan aku jika tak lagi bisa mencinta gadis mana pun, Momma. Sungguh aku tidak pernah lagi bisa."

Hingga akhirnya Nyonya Noorzofz, Momma Bzimza, menyerah. Ia tak lagi memaksa putranya untuk mencari gadis lain. Meski di dalam hati  Nyonya Noorzofz masih tersimpan pertanyaan: bagaimana mungkin cinta monyet bisa sedemikian lama bertahan? Atau apakah sebenarnya Bzimza hanyalah seorang pemuja cinta platonis yang mendamba dengan sia?

*Temet*

.

Kamis, 07 Mei 2020

AKU INGIN PULANG

AKU INGIN PULANG
#Cerpen_LilyNDMadjid



BRAKKK!

 Gayatri tergugu saat Pramudya, suaminya, membanting pintu di depan wajahnya. Perempuan dua puluh tiga tahun itu tersedu sambil memegangi  kedua pipinya yang memerah. Sakit terasa. Tetapi lebih sakit lagi di sini, di dalam dadanya. Ini bukan pertama kalinya Pramudya mengamuk mencaci-maki dirinya, atau meninggalkan bekas pukulan di tubuh perempuan itu.

 Pramudya memang lelaki yang temperamental. Hal-hal kecil saja mampu menyulut amarahnya. Masakan yang kurang asin, mainan anak yang berserak, dan hal-hal remeh lainnya sanggup membuatnya melontarkan kata-kata kasar. Apalah lagi saat dilihat ada chat dari lelaki lain di ponsel Gayatri.

 Ya. Itulah sumber kemurkaan Pramudya hari ini. Ia mendapati pesan dari seorang lelaki di aplikasi perpesanan ponsel Gayatri. Padahal Gayatri sendiri tak tahu menahu soal itu. Ia belum sempat menyentuh benda pipih itu hari ini. Pekerjaan rumah tangga dan anak sudah cukup menyita waktunya.

 “Siapa lelaki itu?” Begitu tadi Pramudya membentak dengan mata berkilat-kilat saat Gayatri sedang menyapu lantai kamar.

 “Lelaki apa, Mas?”

 “Jangan berpura-pura bodoh! Di belakangku kau asyik chat dengan lelaki lain rupanya!” Amarah Pramudya semakin menjadi. Kali ini jari-jarinya meraih wajah Gayatri dan menekannya kuat-kuat. Gayatri meringis menahan nyeri yang seketika menjalar di wajah. Air matanya mengalir tanpa ia inginkan.

 “Aku, aku tidak--”

 “Cih! Jangan menyangkal! Ini buktinya!” teriak Pramudya sambil menyodorkan ponsel Gayatri ke depan wajah pemiliknya, kemudian membantingnya ke lantai. Benda itu mendarat dengan mengeluarkan suara keras. Air mata Gayatri mengalir semakin deras.

*** *** ***

 Aksana memandangi layar ponselnya lekat-lekat. Mambaca lagi pesan yang dikirimnya pada Gayatri beberapa hari yang lalu. Tanda centang dua berwarna biru sudah terlihat di sana. Tetapi, kenapa Gayatri tidak juga membalasnya? Aksana menatap lagi  pesan itu.

 Delapan pesan. Semuanya ia kirim dengan selang waktu beberapa jam setiap pesannya. Menunggu jawaban. Tetapi pesan-pesan itu tak berbalas. Lupakah Gayatri pada dirinya? Atau marah? Ah, sebenarnya wajar saja jika Gayatri marah atau malah membencinya. Semua ini salahnya.

Aksana mengacak rambut sebahunya. Perasaan lelaki bertubuh tegap itu campur aduk. Kesal, marah, sedih, juga rindu. Rindu pada Gayatri. Pikirannya mendadak melayang ke tahun-tahun yang telah berlalu. Berapa tahunkah? Empat? Atau lima tahun pertemuan terakhirnya dengan perempuan berwajah manis itu?

*** *** ***

 Matahari mulai condong ke arah barat. Panasnya tak lagi membakar seperti saat siang tadi. Angin bertiup semilir memberikan kesejukan. Tetapi di suatu tempat, dua anak muda justru terjerat gundah. Gayatri duduk di lantai bambu sebuah dangau. Terisak-isak. Di hadapannya Aksana menunduk lesu.

 “Tak ada jalan lain, aku harus pergi, Atri,” gumam Aksana serupa keluhan. Gayatri tak menyahut. Tangisnya semakin larut.

Aksana meraih tangan Gayatri. Tetapi gadis belia itu menepisnya. Aksana menarik nafas panjang.

 “Benarkah tak ada jalan lain?” Terbata-bata Gayatri berkata.

 “Apalagi? Aku sudah berusaha. Tapi tetap saja hasilnya tak sesuai dengan keinginan orangtuamu, kan?” gumam Aksana. Ada gurat nyeri di sudut hatinya, juga sekilat rasa terhina mengingat penolakan orangtua Gayatri saat mereka mengetahui hubungan antara dia dan Gayatri.

 Aksana tahu apa yang membuat orangtua Gayatri tak menerimanya. Apalagi? Semua orang di desa itu tahu statusnya, yang hanya seorang pemuda miskin dengan orangtua yang juga miskin, hanya buruh  pekerja tuan-tuan tanah di desa itu. Turun temurun hidup dalam kemiskinan belaka. Bukan pemuda seperti itu yang diharapkan orangtua Gayatri untuk dijadikan calon menantu.

Aksana otomatis tersingkir. Tak peduli sekuat apapun ia dan Gayatri saling mencinta. Kedua orang tua Gayatri benar-benar menutup semua pintu kesempatan untuk Aksana. Tapi Aksana tak mau begitu saja menyerah. Ia bertekad akan memenuhi apa yang diinginkan orang tua Gayatri.

Jika desa ini tak memungkinkan dia untuk mewujudkan semua cita-citanya itu, ibukota ia yakini bisa menjadi jalan untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Terutama mimpi terbesar Aksana. Menyunting Gayatri.

 Tetapi realita tak selalu sejalan dengan harapan, bukan? Itulah keadaan yang kerap terjadi. Dan begitulah yang Aksana alami. Ungkapan ibukota lebih kejam dari ibu tiri bukan sekedar ungkapan semata. Tetapi memang begitulah adanya. Ibukota yang keras dan garang telah menghempaskan mimpi-mimpi Aksana ke jurang terdalam.

 Ibukota memaksanya terbungkuk dan merangkak, menahan beban demi bertahan hidup. Bertahun-tahun ia bertahan, hingga keputusasaan menyergapnya kemudian. Mencabik-cabik dan mengoyak-moyakkan keyakinan juga tekadnya yang semula baja. Keputus-asaan itu jugalah yang akhirnya mengubah Aksana, menjadi bajingan di belantara kota.

*** *** ***

  Gayatri menatap lekat telepon genggam di tangannya. Terpampang pesan dari Aksana beberapa waktu lalu. Pesan yang membuat suaminya murka. Tak pernah ia balas. Untuk apa? Toh semua sudah berakhir. Walau tak dapat dipungkiri, masih ada gelenyar dalam dadanya, bercampur rasa nyeri yang samar.

 “Aksana …” bibirnya mengeja tanpa suara.

 Tangannya bergerak pada keypad  telepon pintarnya. Gayatri ingin menghapus saja pesan itu. Toh tak ada gunanya tetap di sana. Ia tak akan pernah membalasnya. Membalas pesan Aksana sama saja mendatangkan murka Pramudya. Gayatri tak ingin itu terjadi. Ditambah lagi, Gayatri menganggap sudah tak ada lagi cerita antara ia dan Aksana.

 “Semua sudah berakhir, Mas,” Bisiknya. Airmatanya menetes. Air mata yang ia benci karena membuatnya terlihat begitu lemah. Walaupun sebenarnya airmatalah yang selalu hadir menemaninya. Menemani hari-hari kelam dalam hidupnya.

 Dulu, setelah mengucap janji akan segera kembali, Aksana pergi. Membiarkan Gayatri menunggunya dari hari ke hari. Hingga tahun-tahun berganti, Aksana bagai ditelan Bumi. Tak ada kabar, apalah lagi menepati janji. Gayatri hanya bisa pasrah saat orangtuanya menerima pinangan Pramudya, seorang pemuda berada yang orangtuanya keturunan priyayi. Walau kemudian ternyata, pernikahan itu tak pernah berjalan seperti yang diharapkan Gayatri.

*** *** ***

♫♪ Ramadhan tiba, ramadhan tiba, ramadhan tiba
Marhaban yaa Ramadhan, Marhaban yaa Ramadhan ♪♫

Aksana tertegun mendengar alunan lagu yang lamat-lamat sampai di telinganya. Ia ingat, Antasena adik semata wayangnya dulu sering sekali menyanyikan lagu ini setiap kali Ramadhan datang menjelang. Sudah dekatkah Ramadhan ini?

Aksana mendekati kalender yang terpaku di  dinding dekat jendela kamar kontrakannya. Ah, rupanya Ramadhan memang akan segera tiba. Pantas saja. Aksana termenung, sebuah pemikiran tiba-tiba melintas di kepalanya. Apakah kali ini akan ia lewati seperti Ramadhan-Ramadhan sebelumnya? Sendiri tanpa sesiapa?

Entah kenapa tiba-tiba Aksana dilanda rindu. Ia merindukan suasana Ramadhan di kampungnya yang begitu meriah. Semua orang selalu bersuka cita menyambut Ramadhan. Anak-anak hingga orang dewasa selalu antusias pergi ke masjid malam hari. Salat tarawih, tadarus, memakmurkan masjid. Dan yang paling seru, untuk anak-anak dan para pemuda adalah saat  berkeliling desa untuk membangunkan orang sahur. Ah, menyenangkan, dan ia adalah bagian dari semua itu dulu.

Ada yang membuncah di relung hati Aksana. Lima ramadhan telah berlalu. Terbayang dalam benak Aksana wajah emak dan bapaknya. Lima tahun tak berjumpa. Lima tahun tanpa berita. Seperti apa mereka kini? Sehatkah? Lalu Antasena? Tentu dia sudah besar sekarang. Tak pernah berkabar bukan karena tak ingin. Tetapi ia malu. Sebab mimpinya belum lagi tergapai. Bahkan ia malah seperti ini kini. Malu pada keluarganya juga pada … Gayatri. Ah, Gayatri. Seperti apa dia kini? Marni bilang dia sudah menikah. Biarlah. Itu lebih baik untuknya.

 TOK, TOK, TOK!

 Pintu terbuka saat Aksana baru saja akan membuka mulut untuk bertanya siapa di luar.

 “Bro! Ngapain lu?” satu sosok tinggi kurus masuk tanpa melepas sepatunya. Langsung membaringkan diri di atas kasur yang terbentang di sisi ruangan.

 “Nggak ngapa-ngapain. Lagi suntuk aja gue.” Balas Aksana tanpa semangat.

 “Suntuk kenapa?”

 “Aah, nggak sih. Tiba-tiba aja gue keingetan sama ortu. Udah bertahun-tahun kan, gue gak balik kampung.”

 “Ahahahah … ngapa jadi melow banget sih lu? Kayak bukan laki aja.”

 “Auk ah! Emang lu gak pernah apa, ngerasa kangen sama keluarga lu? Pengen pulang. Pengen ngerasain lebaran di rumah lagi,”

 “Hah? Enggak tuh! Hahahah …”

 “Ah, dasar lu, anak durhaka.”

 “Ahahahah …Bodo amat! Eh, Bro! Kita operasi yuk.”

 “Lagi males gue.”

 “Ah, elu. Males lu piara. Ayolah, gua udah bokek berat ini. Kantong kosong kering kerontang. Katanya lu kangen ortu lu juga. Satu dua orang mangsa aja dah kalo lu males. Lumayan bisa buat ongkos lu mudik.

 Aksana termenung. Suasana lebaran di kampungnya terbayang lagi. Senyuman emak. Tawa ceria bapak dan adiknya melintas di pelupuk mata. Akhirnya Aksana mengangguk.

 “Iyalah, yuk!” Katanya kemudian. “Buat ongkos mudik,” katanya lagi dalam gumaman.

*** *** ***

. “Atri! Atri!”

 “Ya, Mas.” Tergopoh-gopoh Gayatri meninggalkan dapur.

 “Hih! Lama betul kalau dipanggil.” Pramudya menggerutu sambil menatap Gayatri masam. “Atri, dengar! Orangtuaku mau datang, mereka mau menginap agak lama. Mungkin berlebaran di sini.”

 “Oh? Tapi Mas bilang kemarin, kita yang akan pulang.”

 “Memangnya kenapa kalau orangtuaku yang datang berkunjung dan ikut berlebaran di sini? Hah? Kau nggak suka?”

 “Bukan, bukan begitu, Mas. Tapi …”

 “Sudah jangan banyak omong! Pergi ke pasar sana, beli semua persiapan untuk menyambut ibu bapakku. Masak makanan kesukaan mereka!”

*** *** ***

 Gayatri melajukan sepeda motornya perlahan. Di balik kaca helmnya, matanya berkaca-kaca. Bukan dia tak suka mertuanya datang berkunjung. Tetapi, beberapa hari lalu Pramudya sudah sepakat bahwa tahun ini mereka yang akan pulang kampung.

 Sudah empat tahun mereka tak pulang. Gayatri rindu orangtuanya di kampung sana. Beberapa waktu lalu ibunya menelpon agar Gayatri pulang menjelang Ramadhan, dan munggahan bersama mereka. Tapi kini, sepertinya niatan itu harus dikuburnya dalam-dalam.

 Tiba-tiba Gayatri dikejutkan dengan munculnya satu sepeda motor yang menjajari laju motor maticnya. Lama kelamaan motor yang ditumpangi dua lelaki berpakaian hitam dengan helm fullface itu memepetnya. Jantung Gayatri berdegup kencang. Begal?

 Konsentrasi Gayatri buyar. Motornya oleng lalu ia terjatuh. Satu lelaki berbadan kurus kerempeng turun menghampiri Gayatri yang masih terhimpit sepeda motornya sendiri. lelaki itu menarik tas yang masih terselempang di bahu Gayatri. Refleks Gayatri mempertahankan harta miliknya itu. Ia bahkan nekat berteriak-teriak minta tolong.

 Sejenak lelaki itu panik, ia mengayunkan tinjunya ke arah wajah Gayatri. Kaca depan helm lepas dan terpental. Bibir Gayatri pecah terkena bogem mentah. Gayatri masih juga menjerit-jerit. Lelaki ceking itu semakin panik dan emosi, ia mencabut sesuatu yang berkilat dari pinggangnya, mengayunkannya ke arah Gayatri. Belati. Benda itu menancap tepat di dada perempuan yang masih sempat menjerit sebelum rebah ke bumi.

 Darah bersimbah. Secepat kilat si ceking menarik lepas tas dari tangan Gayatri. Ia bergegas ke arah temannya yang pucat menyaksikan.

“Cabut, Bro!” kata si ceking, membuang tas Gayatri setelah mengambil isinya. Sebuah dompet dan ponsel.

“Dia, dia … mati?” tanya temannya. Suara lelaki itu bergetar.

“Gak tau. Cepetan cabut sebelum ada yang datang,”

  “Kenapa sampai lu abisin cewek itu?”

 “Cerewet lu, Bro! Buruan kabur!”

 Gemetar pria di atas motor itu melajukan kendaraannya meninggalkan Gayatri yang tergeletak entah hidup ataukah mati. Entah kenapa, perasaan lelaki itu jadi kacau. Sebelumnya, ia tak pernah benar-benar melukai korban-korbannya selama ini. Namun kini, melihat belati itu menancap di dada perempuan itu, hatinya  menjadi ngeri, juga cemas. Lalu wajah itu, dia seperti … pernah mengenalnya.

*** *** ***

 Suara adzan berkumandang, terdengar sayup-sayup di kejauhan. Mata Aksana terpejam. setetes air jatuh di sela-selanya. Bahunya bergetar. Ia tak pulang lagi Ramadhan ini. Namun bukan itu yang membuatnya menangis. Bayangan wajah seorang perempuan dengan ekspresi kesakitan itulah yang membuatnya terguncang. Ya, ia mengenali wajah itu sekarang. Wajah Gayatri.

 “Cepat menuju masjid! Tarawih berjamaah dan ada bimbingan rohani malam ini!” Suara teriakan sipir bergema di lorong-lorong bangsal tahanan. Sementara Aksana tenggelam dalam penyesalan.

****TAMAT****

Jumat, 11 Oktober 2019

TAK LEKANG OLEH WAKTU

TAK LEKANG OLEH WAKTU
Cerpen Lily N. D. Madjid




Mata tua itu berbinar. Senyum simpul tak lepas dari bibirnya yang sedang mengalirkan kisah dari masa lalu. Bersamaan dengan itu, tangannya tetap lincah menyiangi sayuran di atas tampah.

Aku yang saat itu mendengarkan ceritanya ikut tersenyum. Memandang lekat wajahnya yang jelas sekali memancarkan rona bahagia.

Sebenarnya aku tidak terlalu memperhatikan lagi alur kisah yang sedang ia ceritakan. Karena ini bukan kali pertama aku mendengarnya. Aku lebih tertarik untuk mengamati raut wajahnya saat bercerita.

Dia induk semangku. Pemilik rumah kost tempat aku tinggal. Kami biasa memanggilnya Uti, karena begitulah ia ingin kami memanggilnya. Panggilan singkat dari eyang uti atau eyang putri.

Usia Uti tidak muda lagi, tentu saja. Pertengahan enam puluh, kukira. Bisa jadi lebih. Ia berpostur sedang, cenderung gemuk. Rambut beruban di kepalanya mulai menipis. Selalu digelungkan di puncak kepala.

Ia juga selalu rapi. Selalu mengenakan mantel harian berwarna merah bata yang mulai kusam melengkapi daster batiknya.

Uti sangat senang bercerita. Terutama tentang kisah hidupnya. Setiap kali ada kesempatan ia selalu bersemangat menceritakan kembali kisah-kisahnya. Tak peduli kami--anak-anak kostnya--sudah bosan mendengar cerita yang sama, ia tetap semangat berkisah. Mengingat faktor usia, bisa saja sih, ia sudah lupa kalau ia pernah menceritakan hal itu pada kami.

Kisah yang cukup sering kudengar adalah kisahnya dengan Mbah Parto, suaminya saat ini, alias bapak kost kami.

Konon menurut Uti, ia dan Mbah Parto telah menjalin kisah kasih sejak mereka masih sangat belia.

"Dulu kalau kami pacaran tidak seperti kalian sekarang." katanya sambil tertawa. Dulu sekali, saat pertama kali menceritakan kisah ini pada kami.

"Memangnya gimana, Ti?"

"Jaman Uti dulu, kalau mau ketemu itu, diam-diam. Ndak terang-terangan macam kalian. Sembunyi-sembunyi. Malu kalau dilihat orang."

"Wah, nggak asyik dong, Ti, kalau begitu."

"Ya, begitu itu." Uti terkekeh. "Pernah aku sama bapak itu janji mau ke pantai. Kami ketemu di suatu tempat. Aku datang duluan, sudah cantik. Pakai baju putih, rambutku kujalin. Kepang dua. Ndak lama trus bapak datang, pakai sepeda. Aku diboncengnya." kata Uti.

Kuamati wajah Uti yang menunduk, ia tersipu-sipu malu. Teman-temanku riuh menggoda.

"Senang dong, Ti?"

"Yo seneng. Ada takutnya juga, takut dilihat orang. Aku kan malu kalau ketahuan berdua-duaan begitu."

"Aciee, cieeee... Uti. Trus, trus, Ti?"

"Terus ya kami ke pantai. Jalan-jalan, duduk-duduk, sudah itu pulang."

Kisah selanjutnya berdasarkan cerita Uti, tidak selalu menyenangkan. Konon orang tua Mbah Parto malah menjodohkan si Mbah dengan wanita lain. Mereka pun putus hubungan.

Mbah Parto menikah dengan wanita pilihan orangtuanya. Tidak lama Uti pun menikah dengan laki-laki lain. Aku kurang jelas juga, apakah Uti menikah karena dijodohkan atau bagaimana.

Satu hal yang jelas, mereka, Uti dan Mbah Parto berpisah, membangun keluarga masing-masing. Jarak pun ikut memisahkan mereka, sebab setelah menikah, Uti dan suaminya merantau ke pulau seberang.

Berat sepertinya. Itu dapat kulihat dari gurat wajah Uti saat kisahnya sampai di bagian tersebut. Tetapi walaupun berat, keduanya tetap mampu bertahan. Bahkan melangkah ke depan menapaki garis takdir perjalanan hidup masing-masing, meski tak sesuai keinginan.

Hidup toh harus terus berjalan, bukan? Tak bisa mereka terus berdiam, menyalahkan takdir, apalagi menyalahkan Tuhan.

Berpuluh tahun mereka berpisah. Tak pernah saling berkabar. Menjalani kehidupan mereka sendiri-sendiri. Beranak pinak. Bahkan hingga mereka masing-masing memiliki cucu.

"Sewaktu istri bapak meninggal, dia lalu mulai cari tahu keberadaanku. Dapat nomor teleponku, dan menghubungi." mata Uti kulihat menerawang.

"Lalu, Ti?"

"Waktu itu, suamiku sudah lebih dulu meninggal dibanding istri bapak. Begitu tahu aku sudah single, bapak nyusul aku ke pulau seberang."

"Ce el be ka dong, Ti." riuh teman-temanku menimpali.

"Heheheh... Apa itu celebeka?" Uti terkekeh.

"Ya elaaah, Uti. Ce el be ka, Ti, bukan celebeka."

"Trus, trus, Ti?"

"Terus opo?" Uti masih terkekeh. "Terus ya aku nikah sama bapak. Terus aku di bawa bapak ke sini. Terus ketemu kalian-kalian ini." Uti terkekeh-kekeh lalu melanjutkan aktivitasnya memasak.

Walaupun sudah sepuh, untuk urusan dapur Uti masih sangat gesit. Bahkan di rumah ini ia menawarkan diri mengurus makan harian kami para penghuni kost. Pembayarannya boleh dilakukan saat transferan tiba. Tak jarang Uti juga memberi diskon saat akhir bulan.

"Nggak usah terlalu dipikirkan." katanya suatu waktu, saat aku bertanya apa dengan begitu dia tidak rugi jadinya.

"Aku biasa mengurus cucu-cucuku di pulau seberang. Bertemu kalian mengobati rinduku pada mereka."

Aku terdiam. Segurat sendu sekejap kutemukan di matanya yang biasa bersinar.

"Sebenarnya anak-anakku ndak suka aku ke sini. Mereka bilang, untuk apa aku menikahi bapak yang sudah tua dan sakit-sakitan. Hanya menambah beban. Kata mereka, seharusnya aku di seberang saja bersama mereka. Menghabiskan masa tuaku di tengah anak dan cucu-cucuku sendiri. Bukannya mengurus orang lain di sini..."

Sejenak Uti terdiam. Kemudian ia menoleh ke arahku, menatapku dalam.

"Tapi kalau kau benar-benar mencintai seseorang, apapun akan kau lakukan, bukan?"

~Tamat~

Jumlah kata: Tidak dihitung 🤭🤭🤭

PUISI RAKYAT (PUISI LAMA): PANTUN

      KOMPETENSI DASAR 3.9 Mengidentifikasi informasi (pesan, rima, dan pilihan kata) dari puisi rakyat (pantun, syair, dan bentuk puis...