Tampilkan postingan dengan label catatan harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan harian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juni 2020

INTO THE WILD: MEMAKNAI HIDUP DARI SUDUT PANDANG BERBEDA



INTO THE WILD: MEMAKNAI HIDUP DARI SUDUT PANDANG BERBEDA
#SebuahReviuFilm
#SpoilerAlert




Judul Film: Into the Wild
Tahun rilis: 2007
Sutradara: Sean Penn
Pemain: Emile Hirsch, Marcia Gay Harden, William Hurt, Jena Malone, Catherine Keener, Brian Dierker, Vince Vaughn, Zach Galifianakis, Kristen Stewart, Hal Holbrook.


Pertama kali saya menonton film Into the Wild sekitar tahun 2009 atau 2010 di chanel HBO. Kemudian kembali menontonnya beberapa waktu lalu saat link film ini tanpa sengaja melintas kembali di linimasa media sosial saya. Film yang dibuat berdasarkan kisah nyata Christopher Johnson McCandless (diperankan dengan baik oleh Emile Hirsch) ini bercerita tentang seorang mahasiswa cerdas yang berasal dari keluarga kaya di Washington DC, yang meninggalkan rumah, karena ingin bertualang menuju Alaska.

Ketidakharmonisan hubungan kedua orangtua membuatnya menyimpan kemarahan dan memiliki keinginan untuk memberontak. Ditambah lagi dengan pemikiran idealisnya dalam memandang kehidupan membuat ia cenderung menjauhkan diri dari kehidupan modern. Memiliki impian untuk hidup di alam bebas, tanpa orang lain.

McCandless kemudian diceritakan betul-betul pergi setelah mendonasikan seluruh uang tabungannya, membakar uang tunai yang dimilikinya dan bergantung pada alam sepenuhnya. Sekuat tenaga bertahan di tengah kebekuan dan kesunyian pegunungan, di kawasan dengan cuaca dan kondisi yang berat untuk tinggal. Lalu hidup di sebuah bus, Fairbanks 142 peninggalan International Harvester tahun 1940-an.

Walau pada awalnya perjalanan itu bertujuan untuk menggapai kebebasan dan menghindari orang lain, tapi pada kenyataannya justru membawanya bertemu dengan orang-orang yang pada akhirnya membuat ia menyadari, bahwa kebahagiaan hanya dapat dirasakan saat kita membaginya dengan orang lain.

Adegan pembuka film ini dimulai dengan menampilkan petikan puisi dari Lord Byron yang menggambarkan pemikiran McCandles. Kemudian mata kita dimanjakan dengan suguhan keindahan alam yang luar biasa saat McCandle memulai perjalanannya menuju alam bebas. Ini menjadi salah satu kelebihan dari film Into the Wild. Sejak awal hingga akhir, tak putus-putusnya menampilkan pemandangan indah yang mengesankan.

Tidak hanya itu, selain pemandangan indah, theme song pengiring film ini juga memperkuat penggambaran cerita. Deretan lagu-lagu yang dibawakan oleh Eddie Vedder, begitu memanjakan telinga dan membuat kita ingin ikut bersenandung. Sebut saja Long Night yang menjadi lagu latar pada opening scene, Hard Sun, Society, No Ceiling, Guaranteed, Far Behind, Rise, Tuolumne, dan End of The Road. Semuanya hadir untuk memperkuat jalan cerita yang disuguhkan.

Selain itu, film ini juga begitu banyak menyuguhkan pemikiran-pemikiran  McCandless yang membawa kita untuk turut berpikir, dan merenungi hakikat kehidupan yang sesungguhnya. Misalnya saja, pada adegan-adegan awal saat McCandless menjalani acara wisuda di kampusnya. McCandless mengajak kita merenung dengan pandangannnya yang mengatakan bahwa orang-orang yang dilihatnya itu adalah orang-orang belum dewasa yang bodoh, dan akan segera tamat.

Ada juga pemikirannya yang menyatakan bahwa 'kebebasan yang hakiki adalah ketika kita bebas pergi ke mana saja yang kita inginkan, menjauhkan diri bahkan dari sejarah, tekanan hukum dan kewajiban yang menjengkelkan' dan 'bahwa benda-benda hanyalah benda, yang tidak dapat mengikat kita'.

Pemikiran-pemikiran tersebut pada akhirnya juga membuat kita dapat memahami, mengapa seorang McCandless melakukan perjalanan itu. Ia ingin melepaskan semua yang bersifat materiil dari dirinya, bahkan ia juga melepaskan namanya dan menggantinya menjadi Alexander Supertramp.

Dari segi jalan cerita, Into the Wild memang agak sedikit membuat kita mengerutkan kening karena menggunakan alur flashback berkali-kali yang memaksa kita untuk tetap fokus agar dapat mengikuti jalan cerita. Disuguhkan dalam dua sudut pandang yaitu sudut pandang Carine McCandless (Jane Malone) sang adik, dan sudut pandang Christopher sendiri berdasarkan catatan hariannya. Namun, film ini tetap berhasil meraih sukses besar. Meraih 2 kategori Oscar, 7 penghargaan lainnya, dan masuk dalam 24 nominasi lain.

Ada banyak pesan moral yang dapat kita petik dari film ini. Misalnya saja, tentang peranan penting orang tua dalam kehidupan anak. Bahwa setiap laku orang tua (baik positif atau negatif) secara signifikan akan mempengaruhi langkah anak-anaknya dalam menjalani hidup mereka ke depan.

Juga tentang betapa berartinya keluarga bagi setiap orang. Walaupun seringkali hal itu baru disadari saat orang tersebut sudah tidak ada lagi di dekat kita. Ini digambarkan saat orang tua Christoper McCandless yang selama ini begitu mementingkan karier mereka, menyadari dan merasakan kehilangan yang memdalam setelah Chris memutuskan pergi meninggalkan rumah. Atau, ketika Jan Burres (Catherine Keener) yang ditemui Chris dalam perjalanan, berkisah tentang Reno, anaknya yang menghilang sejak lama. Atau cerita Ron Franz (Hal Holbrook) yang kehilangan anak dan istrinya di masa lalu, dan berniat mengadopsi Christopher McCandless.

Secara keseluruhan, Into the Wild adalah film yang sangat menarik. Walau selalu mengajak kita untuk berpikir dan merenung, namun dapat memberikan kita pencerahan. Film ini juga mengajak kita untuk sesekali memandang hidup dari sudut pandang yang berbeda.

BandungBarat, 14 Juni 2020

MENUMBUHKAN KEBIASAAN MEMBACA PADA ANAK



MENUMBUHKAN KEBIASAAN MEMBACA PADA ANAK




Sering kita menemukan informasi, baik di media cetak maupun elektronik, yang menyatakan bahwa kemampuan membaca dan menulis masyarakat Indonesia jauh tertinggal. Salah satu informasi tersebut dapat ditemukan pada situs resmi Kantor Bahasa Bengkulu (kantorbahasabengkulu.kemdikbud.go[.]id), yang menyatakan bahwa kemampuan membaca dan menulis masyarakat Indonesia berada pada urutan 60 dari 61 negara.

Informasi itu bukanlah sekedar informasi tanpa data, sebab diperoleh berdasarkan penelitian pemeringkatan literasi internasional Most Literate Nations in the World, yang diterbitkan Central Connecticut State University, Maret 2016 dan dilansir oleh jpnn[.]com pada 13 April 2016.

Setelah mengetahui data tersebut tentu kita merasa miris, bukan? Bagaimana tidak, karena berdasarkan hasil penelitian itu, kemampuan membaca dan menulis negara kita dinilai nyaris berada pada posisi juru kunci. Dalam tulisan ini, saya tidak akan menyoroti keduanya melainkan salah satunya saja, yaitu kemampuan membaca.

Kemampuan membaca di sini tentu saja bukan sekedar mengenali simbol-simbol huruf yang terdapat dalam sebuah teks. Melainkan juga sebagai suatu proses mental atau proses kognitif, yang dalam proses tersebut seorang pembaca diharapkan bisa mengikuti dan merespon pesan penulis (Davies, 1997 dalam Nurlaela, 2013).

Bagaimana seorang anak dapat memiliki kemampuan membaca yang baik? Jawabannya tidak lain adalah dengan melakukan pembiasaan-pembiasaan sedari kecil. Repetition is mother of knowledge, demikian ungkapan Barat yang dikutip oleh situs m.hidayatullah[.]com, yang memiliki arti, pengulangan atau pembiasaan adalah induk dari ilmu atau pun pengetahuan dan ketrampilan.

Dari sana, dapat kita jadikan pijakan bahwa jika menginginkan anak-anak kita memiliki kemampuan atau keterampilan membaca yang baik, maka biasakanlah sejak dini. Apakah sulit membiasakan anak-anak untuk membaca? Berdasarkan pengalaman pribadi dan pengamatan-pengamatan, ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk memudahkan pembiasaan membaca pada anak.

1. Pemberian contoh atau teladan

   Segala sesuatu dimulai dari orang tua. Jika menginginkan anak yang biasa membaca, maka berilah teladan. Sangat tidak masuk akal jika kita mengharapkan anak memiliki hobi membaca, sementara mereka tidak pernah melihat kita, orang tuanya, membaca. Jika di lingkup sekolah, tentu bapak dan ibu guru yang berperan sebagai pemberi teladan.

2. Sediakan fasilitas membaca yang memadai

   Sediakanlah buku-buku di rumah, tentu yang sesuai dengan usia anak kita. Setelahnya, letakkan buku di tempat-tempat yang mudah dilihat dan dijangkau oleh mereka. Percayalah, dengan melihat contoh dari orang tua yang gemar membaca, lalu tersedianya buku-buku di dekat mereka, niscaya minat mereka untuk mengetahui isi buku akan muncul.

  Jika kondisi tidak memungkinkan untuk membeli buku, mengajak mereka secara berkala ke perpustakaan atau taman bacaan adalah pilihan pengganti yang baik. Apalagi perpustakaan biasanya memiliki koleksi buku yang lebih beragam, sehingga lebih banyak jenis yang bisa dipilih oleh anak bergantung pada minat mereka.

3. Ceritakan bagian menarik buku yang kita baca

   Trik lain yang bisa dilakukan untuk memancing minat anak untuk membaca adalah dengan menceritakan bagian menarik dari isi buku. Tentu tidak semua kita ceritakan pada mereka. Sebagian saja, sekedar membangkitkan rasa ingin tahu dalam diri mereka.

4. Jauhkan gawai dari anak

   Terakhir, mungkin yang paling signifikan untuk membantu menumbuhkan minat baca pada anak adalah dengan menjauhkan gawai dari mereka. Paling tidak membatasi penggunaannya. Gawai di sini beragam jenisnya, mulai dari televisi, komputer, tablet hingga ponsel. Semakin sedikit mereka beraktivitas dengan gawai, semakin besar kemungkinan mereka untuk beralih pada buku, sebagai alternatif mengisi waktu mereka.

Keempat hal di atas mungkin hanya sebagian kecil cara yang dapat dicoba oleh para orang tua atau guru, yang menginginkan anak-anak atau anak didiknya lebih banyak menghabiskan waktu mereka dengan membaca buku.

Sumber referensi:
https://kantorbahasabengkulu.kemdikbud.go.id/2018/01/23/menyoal-geliat-literasi-di-indonesia/

https://m.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2017/12/05/129681/pembiasaan-bagian-penting-pendidikan-anak.html

https://www.paud.id/2015/11/contoh-penanaman-sikap-anak-paud.html

http://www.luthfiyah.com/2013/04/tentang-kemampuan-membaca.html?m=1

BandungBarat, 13 Juni 2020
.

SISI LAIN PANDEMI

SISI LAIN PANDEMI
~Sebuah Opini Lilynd Madjid~




Hari ini, tema 30HM adalah membuat opini terhadap berita yang sedang aktual. Setelah selesai mengecek tema harian, segera saja saya membuka aplikasi pencari yang ada di ponsel dan mulai meramban di sana.

Tema yang sedang aktual tentu saja tema seputar pandemi covid 19 dan segala permasalahannya. Sebagian besar laman media daring yang saya buka membahas tentang hal tersebut. Dari mulai informasi mengenai naik atau turunnya kasus corona, klaim penemuan vaksin corona, informasi tentang orang yang melakukan hal-hal yang kurang masuk akal karena menghindari rapid tes, dan banyak lagi informasi lain terkait topik pandemi tersebut.

Ketika sedang memindai halaman pencarian itulah mata saya berhenti di salah satu judul yang terdapat di halaman berita sepakbola Republika. Berita tersebut bertajuk 'Rashford Targetkan Tak Ada Lagi Anak Kelaparan di Inggris'.

Wow! Itulah kata yang pertama terlintas dalam benak saya saat membaca judul tersebut. Mulia sekali hati si Rashford ini, pikir saya. Sambil bertanya-tanya, siapakah dia.

Sejujurnya, saya bukan penyuka sepak bola. Hingga tidak pernah mengamati, apalagi mengikuti hingga mendetil, informasi-informasi di sekitar dunia persepakbolaan. Jadi, semoga saja bisa dimaafkan jika saya benar-benar tidak tahu siapa Rashford sebelumnya.

Setelah membaca isi berita, barulah saya tahu jika yang dimaksud adalah striker Manchester United, Marcus Rashford. Dalam berita tersebut dikatakan bahwa selama terjadi lockdown, Rashford telah membantu mengumpulkan dana amal sebesar 358 miliar rupiah, atau setara 20 juta poundsterling

Jumlah yang cukup fantastis bukan? Masih dalam halaman berita sepak bola Republika itu, disebutkan juga jika Rashford bahkan berniat untuk terus melakukan aksi pengumpulan dana tersebut, dan bekerja sama dengan sebuah organisasi pendistribusian bahan makanan FareShare untuk memasok makanan kepada orang-orang yang rentan terkena dampak pandemi.

Pikiran saya segera saja mengingat beberapa pemberitaan tentang pengumpulan dana yang dilakukan oleh sederet selebritas negeri ini. Sebut saja beberapa nama seperti Chicco Jerikho, Dian Sastro, Atta Halilintar, Maia Estianty, Afgan dan beberapa influencer lain. Mereka semua, seperti halnya Marcus Rashford--bekerja sama dengan platform atau situs pengumpulan dana--telah berupaya membantu orang-orang yang terdampak secara langsung adanya pandemi ini.

Di tengah segala macam permasalahan yang muncul akibat covid19, berita-berita penggalangan dana yang dilakukan oleh para pesohor baik dalam negeri maupun manca negara, sedikitnya telah menunjukkan, bahwa ada sisi baik juga yang bisa muncul dan dapat dijadikan contoh, dari keberadaan pandemi, yaitu adanya rasa empati terhadap sesama manusia.

Ya, selain pemberitaan tentang munculnya stigma negatif terhadap orang-orang yang terpapar virus corona--yang menyebabkan mereka mengalami pengucilan dan perlakuan diskriminatif lainnya--ternyata masih ada hal positif yang bisa tumbuh dari keadaan ini.

Seharusnyalah jika sikap-sikap positif seperti ini yang terus dikembangkan sebagai langkah menyikapi berlangsungnya pandemi, dan bukan hal-hal buruk seperti melekatnya stigma negatif, yang harus ditumbuhkan dalam pola pikir masyarakat.

.
Link berita:
https://m.republika.co.id/berita/qbtc6a438/rashford-targetkan-tak-ada-lagi-anak-kelaparan-di-inggris

.
Referensi:
https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/hype/read/2020/04/08/075511766/sederet-artis-yang-galang-dana-untuk-pekerja-informal-terdampak-covid-19?espv=1

https://m.detik.com/wolipop/foto-entertainment/d-4945804/7-artis--selebgram-indonesia-yang-galang-dana-untuk-lawan-virus-corona/2

https://www.google.com/amp/s/m.liputan6.com/amp/4275210/nasib-tenaga-kesehatan-berjuang-lawan-covid-19-malah-dapat-stigma-negatif?espv=1

https://m.liputan6.com/surabaya/read/4246366/awas-stigma-negatif-pada-pasien-corona-covid-19-bisa-bikin-depresi

https://amp.kompas.com/tren/read/2020/04/13/164454765/salah-kaprah-stigmatisasi-dan-diskriminasi-terhadap-pasien-covid-19

BandungBarat, 12 Juni 2020

PAHLAWAN DI SEKITAR KITA

PAHLAWAN DI SEKITAR KITA
~Lilynd Madjid~




Awal pagi, matahari mulai merangkak naik. Cahayanya memancar tanpa penghalang. Langit pun biru cerah, dihiasi awan putih yang menggantung di angkasa. Sesekali kokok ayam jantan terdengar dari kejauhan ditingkahi suara-suara lainnya. Menandakan aktivitas manusia telah dimulai pagi itu.

Di sudut salah satu jalan yang berada di sebuah perumahan di Desa Cilame kecamatan Ngamprah, Mang Nana (40), penjaja sayur yang biasa berjualan di sana sedang merapikan dagangannya. Biasanya, dia sudah tiba di sudut jalan itu sejak pukul lima. Menggelar dagangannya di emperan fasum komplek dalam keremangan suasana dini hari. Kadang ia melakukannya sendiri, kadang sang istri turut menemani. "Kalau ada yang diperlukan, saya sudah ada di ujung jalan ini sejak subuh," katanya saat ditanya.

Selesai mengemas dan merapikan dagangan, biasanya istrinya akan kembali ke rumah. Mang Nanalah yang akan menunggui dagangan mereka menanti pembeli hingga kurang lebih pukul delapan atau sembilan pagi. Setelahnya, sayur mayur dan barang dagangan lain akan kembali dikemas, lalu disusun dalam keranjang-keranjang sayur yang ada di bagian belakang motornya. Mang Nana akan berkeliling menjajakan dagangannya dengan teriakan khasnya.

Warga komplek sudah hafal ritme berjualan sang penjaja sayur itu. Jika ingin memperoleh sayuran dalam kondisi segar, biasanya pelanggan akan segera mendatangi lapak Mang Nana di sudut jalan.  Sementara untuk mereka yang memiliki kesibukan lebih padat di pagi hari, tentu akan memilih menunggu kedatangan Mang Nana di depan rumah mereka.

Kehadiran Mang Nana, sebagai satu-satunya penjaja sayur di komplek tersebut tentu saja ditunggu-tunggu oleh warga. Terutama oleh para ibu yang tinggal di perumahan itu. Lokasi perumahan yang cukup jauh dari pasar, semakin menambah arti penting kehadiran penjaja sayur tersebut.

Hampir sebagian besar dari warga perumahan menyadari hal tersebut. Dibuktikan ketika beberapa waktu lalu sang penjaja bahan pangan tersebut tidak hadir selama beberapa hari karena sakit, banyak ibu di sana yang mengeluh dan bingung. Hingga ketika ia kembali berjualan, pelanggannya menyambut dengan penuh suka cita.

Ibarat kata, Mang Nana adalah salah satu pahlawan--dari sekian banyak pahlawan yang ada di sekitar kita--bagi sebagian besar ibu rumah tangga di perumahan ini. Orang yang secara tidak langsung telah menjaga stabilitas dan keamanan perut setiap warga dengan bahan-bahan makanan yang dijajakannya. Apalagi saat diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) oleh pemerintah daerah seperti sekarang ini, keberadaan para penjaja sayuran seperti Mang Nana tentu sangat ditunggu-tunggu.

"Tetap jualan, Bu," katanya ketika saat awal masa PSBB lalu ia ditanya, apakah akan tetap berjualan atau tidak. "Takut mah takut juga, lihat berita banyak yang meninggal. Makanya harus pakai masker," katanya seraya menunjuk masker yang dikenakannnya.

Mengenai harga jual tentu saja ada beberapa item yang memiliki harga berbeda dari harga yang bisa kita dapat jika membeli langsung di pasar. Misalnya saja harga ikan--apalagi ikan laut juga hasil laut lain--atau sumber protein hewani lainnya, harganya akan lebih tinggi dibanding dengan harga yang dapat kita peroleh jika berbelanja di pasar. Sementara untuk harga sayur mayur dan produk sejenisnya bisa dikatakan sama dengan harga jual di pasar.

Namun, dibandingkan dengan resiko yang bisa kita dapat saat berada di kerumunan (di pasar), tentu selisih harga yang tidak banyak itu tidak perlu dipermasalahkan. Justru seharusnya kita berterima kasih kepada orang-orang seperti Mang Nana, yang telah memudahkan kita di masa social/ phisycal distancing seperti sekarang ini.

Sumber: Pengamatan dan wawancara nonformal dengan penjaja sayur langganan.

BandungBarat, 11 Juni 2020

Kamis, 04 Juni 2020

ZIKIR KUNTUM-KUNTUM BUNGA

#NAD_30HariMenulis2020
#Hari_ke_2
#NomorAbsen_222
Jumlah kata :  477 kata (hanya isi)

.
ZIKIR KUNTUM-KUNTUM BUNGA

.

"Kesunyian adalah karib sejati."

Itu adalah sebuah keyakinan yang kami percayai selama ini. Sebab sebenarnyalah, bagi kuntum-kuntum bunga yang hidup di area pemakaman seperti kami, hanya kesunyian yang selalu menemani keseharian kami di sini. Tak ada hiruk pikuk, tak ada keriuhan, tak ada kegaduhan, tak ada bising yang berkepanjangan. Tak ada. Di sinilah tempat di mana kau bisa menemukan ketenangan hakiki. Sebuah sunyi yang abadi.

Kami kuntum-kuntum bunga sangat menyukai suasana seperti ini. Begitu tenang. Begitu senyap. Begitu sunyi. Terlebih bila malam mulai mengambang. Lalu matahari mengucapkan salam dengan mengecup pipi bumi, hingga rona jingga menyemburat pada batas horizonnya.

Maka semilir angin akan menemani kami menari. Meliuk-liukkan tubuh mungil kami yang sedang berzikir sepuas hati. Lalu sunyi akan mulai berirama, ditingkah  kukuk burung hantu juga binatang malam lainnya. Kami pun akan semakin khusyuk dalam puja-puji kami pada Sang Pencipta Semesta.

Di beberapa kesempatan, kami akan menerima kunjungan-kunjungan kalian. Manusia-manusia yang mengiringi karibnya berpulang. Maka pada saat itu, kami rumpun-rumpun bunga akan merasakan sunyi dengan nada yang berbeda. Sunyi yang menyayat hingga ke relung terdalam pada rongga dada.

Kami akan menyaksikan isak tangis tertahan kalian. Lalu dengung gumaman, saat baris-baris doa dipanjatkan.  Kemudian kami juga akan tertunduk, turut memberikan penghormatan terakhir bagi mereka yang telah berpulang.

Biasanya, setelah itu kesunyian akan semakin memekat. Saat petakziah terakhir mengayunkan langkah ke empat puluhnya. Saat itu dalam keheningan, akan kami dengar suara-suara yang akan membuat siapapun gemetar.

Pernahkah kalian, para manusia, mendengarnya juga?

Ah, kami rasa kalian tak pernah tahu, bukan? Percakapan yang terjadi antara mereka yang sebelumnya kalian usung dalam keranda, dengan sang utusan pembawa pertanyaan? Saat itu biasanya kami akan semakin larut dalam lantunan kalam-Nya yang bersama-sama kami dengungkan. Kami pun akan terus berzikir sambil menyimak tanya jawab yang berlangsung dalam sunyi yang mengalir.

***     ***     ***

Pada beberapa putaran purnama terakhir, kesunyian sepertinya semakin menjadi-jadi di sini, walaupun tak ada lagi usungan keranda dan iring-iringan para petakziah seperti biasa. Tubuh-tubuh tak bernyawa kini hanya diantar oleh tatap-tatap mata segelintir manusia yang memandang dari kejauhan. Juga tangisan-tangisan kini teredam oleh lapisan-lapisan kain penghalang. Kain yang menutupi sebagian wajah-wajah letih bersepuh duka mendalam.

Kotak-kotak beroda telah menggantikan iring-iringan pembawa keranda. Orang-orang berpakaian tak biasa akan memasukkan kotak terkunci berisi jasad si mati ke dalam liang lahat secepat yang mereka mampu.

"Lalu ke mana perginya kalian?" Kami kuntum-kuntum bunga kini bertanya-tanya. Lama pertanyaan kami menggantung di udara. Tak mendapatkan jawaban.

Akhirnya kesiur angin membawa kabar pada kami. Konon semua terjadi karena wabah yang tengah melanda. Ia menyebar di mana-mana. Mengintai diam-diam. Mencuri kesempatan untuk merenggut dengan paksa lagu suka cita, dan menggantinya dengan kidung duka yang membahana. Wabah jugalah yang telah membuat hari-hari menjadi lebih sunyi dari biasanya.

Apakah kami, kuntum-kuntum bunga di area pemakaman yang menyukai kesunyian menjadi berbahagia karenanya?

Ah, ternyata tidak juga. Malahan kini kami merindukan kalian. Namun bukan sebagai si mati yang terbaring kaku dalam peti  terkunci.

*Tamat*

Selasa, 05 November 2019

RENCANA KE DUA




Hidup selalu dipenuhi kejutan-kejutan. Hal-hal yang tidak terduga seringkali menghampiri. Jika sudah begini, kadang apa yang sudah kita rencanakan bisa saja buyar. Gagal total. Tak sesuai kenyataan.

Kita mungkin saja sudah menyusun rencana-rencana hidup ke depan dengan penuh kecermatan. Membuat daftar ‘hal yang akan kita lakukan’ dari A hingga Z, dengan tekad akan menuntaskannya. Kita juga mungkin sering membuat ‘daftar mimpi’ yang ingin kita capai. Lalu dengan semangat, juga tekad yang tak terpatahkan, kita berusaha keras untuk mewujudkan semua ‘mimpi’ yang telah kita tuliskan.

Tetapi, seperti yang tadi telah kukemukakan, hidup seringkali penuh dengan kejutan. Tidak semua yang sudah kita rencanakan akan berjalan seperti yang kita harapkan. Jika itu yang terjadi, apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan terpuruk menyesali keadaan? Atau kau akan memaki dirimu sendiri? Atau yang lebih serius lagi, menyalahkan Tuhan?

Seorang kawan dalam sebuah obrolan ringan berkata bahwa kita perlu memiliki rencana cadangan. Rencana ke dua dalam menjalani kehidupan. Kau boleh saja menyebutnya plan B, plan C atau apapun.

Setelah kupikir-pikir, sepertinya aku setuju. Rencana ke dua akan sedikit membantumu keluar dari kebuntuan. Mengobati  sedikit kekecewaan atas suatu kegagalan. Atau yang lebih penting, rencana ke dua akan menahanmu untuk tetap bertahan mencapai tujuan, walau dengan jalan yang berbeda.

Katanya, dia, temanku itu, selalu memiliki rencana ke dua dalam setiap langkah hidupnya. Misalnya, saat ini dia sedang menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yang katanya itu dilakukannya sebagai ancang-ancang jika kelak dia merasa jenuh dengan pekerjaannya yang sekarang. Pendidikan yang dia jalani saat ini, akan memungkinkannya beralih ke jenis profesi lain, jika suatu saat diperlukan.

“Mungkin kita merasa nyaman dengan profesi kita saat ini,” Katanya padaku saat itu, “Tetapi apakah itu akan berlangsung selamanya? Bisa saja kan, suatu saat kita merasa bosan. Atau bahkan, keadaan memaksa kita meninggalkan pekerjaan ini.”

Aku termenung sejenak saat itu. Bahwa masa depan tak sepenuhnya bisa kita pastikan, itu sudah kupahami sebelumnya. Juga, bahwa kehidupan kadang tak selalu seperti yang kita inginkan, juga sudah kuyakini bahwa itu benar. Tetapi memikirkan bahwa suatu saat, aku akan meninggalkan profesiku yang sekarang, dan beralih pada profesi lain, sepertinya hanya samar-samar pernah melintas dalam pikiran. Tak pernah kupikirkan dengan serius. Malah, hal yang sering kubayangkan adalah aku yang akan terus menjalani profesiku ini hingga kelak masa baktiku selesai.

Tetapi melihat kesungguhannya saat mengatakan hal itu, mau tak mau aku pun jadi ikut memikirkan rencana ke duaku jika tidak lagi menjalani profesi ini. Coba tebak, apa yang kemudian aku pikir akan kulakukan? Percaya atau tidak, kalau aku berpikir untuk memilih jalan pedang dengan menulis? Errr... Jalan pedang atau jalan pena, ini ya?

Tolong jangan tertawa seperti itu. Aku tahu kemampuan menulisku masih receh sekali. Tetapi itu bukan halangan, bukan? Aku akan mulai mempersiapkan rencana ini dengan lebih serius. Jika kawanku itu sampai menempuh pendidikan yang lebih tinggi sebagai bentuk persiapan untuk rencana ke duanya. Maka aku akan serius mengasah kemampuan menulisku sebagai persiapan rencana ke duaku itu.

Hei! Sudah kubilang jangan mentertawaiku seperti itu. Hmmm… daripada kau tertawa saja, bagaimana kalau kau katakan padaku, apa rencana ke dua yang pernah terpikir di kepalamu?
Ngamprah, 5 November 2019

Rabu, 21 Agustus 2019

Gapura Makam Taman Pahlawan


GAPURA TAMAN MAKAM PAHLAWAN
Lily N. D. Madjid


            “Papa, itu tempat apa?” tanyaku sambil menunjuk sebuah gapura yang nyaris tersembunyi oleh kelebatan rumpun-rumpun bambu di sekitarnya. Papa menoleh ke arah yang kutunjuk. Tak lama ia menghentikan kayuhan pedal sepedanya.
“Itu Taman Makam Pahlawan, De.” Katanya.
“Ooo…” bibirku membulat. Tanpa sadar aku bergidig.
“Kenapa?”
“Seram. Tempatnya gelap. Itu pohon bambunya juga banyak.” Kataku. Lagi-lagi aku bergidig.
“Dede takut?” Papa bertanya sambil tersenyum padaku. Aku mengangguk. Sejujurnya sejak melintas di depan gapura itu aku sudah merinding. Tempatnya sepi sekali. Juga gerumbul pohon bambu yang merimbun di sekitarnya, menambah kesan menakutkan tempat itu.
“ Lho? Itu, mereka sedang apa?” tiba-tiba kulihat serombongan ibu keluar dari dalam gapura.
“Mungkin mereka baru selesai berziarah.” Jawab Papa.
Aku diam sambil masih menatap para ibu  berpakaian putih-putih yang  satu persatu muncul dan berjalan ke arah aku dan Papa berada. Papa kembali mengayuh. Dua roda sepedanya kembali melaju seiring ayunan kaki Papa. Aku yang duduk di boncengan belakang mempererat peganganku. Sementara pandanganku masih saja tertuju ke arah para ibu di dekat gapura makam tadi.
***      ***      ***
            Kenangan akan perjalanan melewati gapura makam pahlawan itu masih sering muncul di kepalaku. Bahkan hingga kini. Apalagi sampai saat ini, aku masih sering melewati gapura itu.  Meskipun tidak lagi dengan Papa. Karena papaku telah pergi.
            Ya. Selang beberapa tahun sejak aku duduk dibonceng oleh Papa melewati gapura makam pahlawan itu, papaku berpulang setelah hampir satu bulan terbaring di rumah sakit. Aku masih dapat mengingat dengan jelas saat-saat itu.
Suatu pagi di awal Bulan Ramadhan saat usiaku belum genap 13 tahun, Papa yang selama ini kulihat selalu bugar tiba-tiba jatuh di teras rumah. Ia sudah berpakaian dinas lengkap karena akan pergi bekerja. Sementara, aku hanya bisa termangu melihat kepanikan yang terjadi setelahnya. Mama menangis. Begitu juga nenekku—ibu dari Papa—yang saat itu sedang dalam masa pemulihan dari stroke. Tetangga kiri dan kanan berdatangan, mencoba menyadarkan Papa dengan berbagai cara. Akhirnya Papa di bawa ke rumah sakit tempatnya bekerja.
Bukan, papaku bukan dokter. Beliau tentara. Hanya saja, kemudian mendapat tugas belajar di bidang medis, hingga akhirnya beliau ditugaskan di sebuah rumah sakit tentara di bilangan Jakarta Pusat. Ke sanalah ia dibawa saat itu.
Aku tidak ikut mengantar Papa. Hanya Mama dan beberapa tetangga dekat kami saja yang menemani. Sementara aku dan satu-satunya kakakku tetap tinggal di rumah menemani nenek yang terus menerus bersedih.
Aku masih ingat bagaimana nenek selalu saja menanyakan keadaan Papa dari hari ke hari. Bisa kulihat betapa sedihnya ia karena tidak dapat menemani, atau bahkan sekedar menjenguk putra sulungnya di rumah sakit. Keadaan beliau memang tidak memungkinkan saat itu. Untuk berjalan saja nenekku masih tertatih-tatih dan harus berpegangan pada dinding.
Hari demi hari berlalu. Awalnya aku sangat optimis, Papa akan segera pulang dari rumah sakit. Sebab seingatku, Papa memang tidak pernah sakit parah. Pernah memang beberapa kali beliau dirawat di rumah sakit karena penyakit malarianya kambuh—yang beliau dapat saat bertugas di wilayah yang berhutan-hutan. Tetapi biasanya tidak lama sudah bisa kembali pulang. Maka saat itu, aku pun berharap demikian. Berharap Papa segera pulang dan kembali bersama kami lagi.
Di antara dua orang anaknya, sepertinya aku yang lebih dekat dengan Papa. Biasanya sepulang bekerja, Papa akan ada di rumah. Dan aku—si Bungsu—akan menempel ke mana pun beliau melangkah. Kakakku, mungkin karena dia lelaki, lebih banyak menghabiskan wakktu bermain dengan teman-temannya di luar. Dengan kedekatanku dengan Papa yang seperti itu, terasa sekali kehilanganku akan Papa saat beliau di rumah sakit.
Sesekali aku dan kakak mendapat kesempatan menjenguk Papa. Saat itu dapat kulihat, Papa begitu pucat. Tubuhnya yang tegap berisi juga menyusut. Aku seperti tidak mengenali Papa. Apalagi, Papa juga terlihat tidak seceria sebelumnya. Sebelum Papa sakit, aku tidak pernah melihat beliau berwajah sedih.  Bahkan beliau pun nyaris tidak pernah kulihat marah. Pada kami anak-anaknya, hanya wajah jenaka dan penuh senyumlah yang ia berikan. Tapi saat di rumah sakit itu, aku melihat bayang-bayang muram tergambar di wajah Papa.
Dari mama kami akhirnya tahu, seberapa parah penyakit Papa.
“De, biar Papa istirahat dulu.” Bisik Mama suatu hari saat aku menjenguk Papa. Saat itu aku membawa buku tugas bahasa Inggrisku, berniat ingin diajari oleh Papa.
“Papa baru diambil lagi sumsum tulangnya.”Kata Mama lagi. Wajah kuyunya tak bisa disembunyikan dari kami.
“Sumsum tulang?”
“Iya. Ini sudah yang ke sekian kali. Tempo hari dari tulang dada. Tadi dari tulang panggulnya.”
“Untuk apa, Ma?”
“Untuk dites.”
“Memang Papa sakit apa?”
“Kelainan sel darah. Dokter curiga kanker darah. Leukemia.” Kata mama. Wajahnya seperti akan menangis.
Entah apa yang kupikirkan saat itu. Namun yang masih kuingat, saat itu aku tetap memiliki harapan besar bahwa Papa akan dapat pulang ke rumah kami dalam keadaan kembali sehat. Papaku yang baik, yang selalu sayang padaku. Papaku yang penyabar, tentu Allah akan memberikan kesembuhan pada beliau, bukan?
***      ***      ***
Hari itu Mama pulang. Aku menguping pembicaraan beliau dengan seorang kerabatku. Kondisi Papa semakin menurun. Papa dipindahkan ke ruang steril. Kawan-kawan beliau dan kerabat kami yang menjenguk pun tidak bisa lagi masuk ruangan. Hanya melihat dari kaca jendela saja. Papa semakin sering menjalani tranfusi, namun agak kesulitan mendapatkan donor. Di bank darah jarang sekali dapat persediaan yang cocok.
“Kenapa bisa?” aku menyela pembicaraan mama dan kerabatku.
“Rhesus darah Papa negatif, De. Sulit mencarinya.”
Saat itu aku belum terlalu mengerti. Tetapi, dari informasi yang kemudian kugali, baru aku ketahui bahwa rhesus negatif memang paling banyak ditemukan pada ras Kaukasia. Diperkirakan sekitar 15% orang dari ras tersebut memiliki rhesus negatif. Rhesus negatif paling jarang ditemukan pada ras Asia yaitu hanya sekitar 1% dari populasi ras Asia.
“Apa Paman Abby tidak bisa mendonor?” tanyaku. Paman Abby adalah satu-satunya saudara kandung Papa yang masih ada. Mereka sesungguhnya tiga bersaudara. Papa si Sulung, Paman Abby si Tengah dan satu adik perempuan mereka yang meninggal saat masih bayi.
“Paman Abby sudah mencoba. Sudah dicek, golongan darahnya AB, tetapi Rhesusnya positif. Tidak cocok untuk papamu. Tapi tadi kawan-kawan Papa sedang berusaha mencari.”
“Apa aku bisa membantu Papa, Ma? Dengan darahku?” kataku. Mama menatapku lalu menggeleng.
“Tidak bisa. Kamu masih terlalu kecil.” Kata Mama. “Kamu doakan saja Papa.” Kata mama akhirnya.
***      ***      ***
Hampir genap satu bulan sejak Papa jatuh di teras rumah dulu. Tidak terasa malam takbir tiba. Suara bedug bertalu-talu. Gemanya terdengar di seluruh penjuru tempat tinggal kami. Malam menjelang hari kemenangan, mestinya menjadi malam yang membahagiakan, bukan? Tetapi bagi kami masih ada yang menganjal; Papa yang masih terbaring di rumah sakit.
Mama menitip pesan pada kerabatku yang baru saja pulang membezuk, agar esok aku dan kakak berhari raya di rumah sakit bersama Papa. Nenekku—yang tidak memungkinkan untuk ikut—sudah dipindahkan ke rumah paman papaku yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumah kami.
Pagi harinya, sesudah shalat Eid dan bersilaturrahmi dengan tetangga-tetangga kami, aku sudah siap menuju rumah sakit diantar oleh tetangga dekat kami. Kakakku bahkan sudah pergi lebih dulu beberapa jam yang lalu bersama kerabat kami yang lain. Aku menuju terminal untuk mencari bus ke arah rumah sakit.
Tetapi apa mau dikata. Suasana terminal yang biasanya selalu ramai, pagi itu begitu lengang. Bus-bus yang berlalu lalang dapat dihitung dengan jari. Beberapa jam menunggu, bus yang akan membawaku ke jurusan yang kutuju tidak juga muncul. Di masa itu  daerahku belum seperti saat ini, yang dengan mudahnya bisa mendapatkan transportasi umum dengan menggunakan aplikasi.  Apalagi hari itu hari pertama Iedul Fitri. Akhirnya dengan berat hati, tetangga dekatku itu mengajakku kembali ke rumah. Dan akan kembali lagi esok hari.
Esoknya, hari raya ke dua. Pagi-pagi sekali kami sudah siap di dekat terminal. Dan syukurlah, bus yang kami tunggu segera muncul dan masih kosong. Aku memilih duduk di bagian depan di dekat jendela, tepat di belakang pak sopir.
Jalan lengang. Sangat berbeda dengan kondisi sekarang yang  selalu macet walaupun masih dalam suasana hari raya. Bus melaju dengan lancar. Saat itu hanya membutuhkan waktu kurang lebih tiga puluh menit dari terminal bus di daerahku menuju daerah tujuan.
Tiba di rumah sakit, aku bergegas menuju gedung bagian belakang tempat Papa di rawat. Di ruangan Papa di lantai tiga, kulihat Mama sedang menyuapi Papa. Kakakku sedang berbaring di kursi tunggu di luar ruangan. Aku ikut duduk di sana. Tak lama Mama ke luar.
“Kenapa baru datang, De?” tanyanya. Belum sempat kujawab, tetangga dekat yang mengantarku buru-buru menjelaskan kenapa kami baru datang sekarang. Mama mengangguk. “Papa terus menanyakan kamu tadi malam.” Kata Mama sambil menatapku.
“Boleh aku masuk sekarang, Ma?” tanyaku. Mama menggeleng.
“Papa baru tidur. Biar Papa istirahat dulu.” Aku menganggk lalu memandangi Papa dari balik jernihnya kaca jendela.
Cukup lama aku menunggu. Beberapa tetangga lain datang membezuk. Beberapa saudara dan kerabat kami pun berdatangan. Tetapi seperti aku, mereka juga hanya bisa menatap Papa yang tertidur di dalam ruangannya yang steril. Akhirnya setelah zuhur aku dibolehkan masuk. Papa terjaga. Tetapi beliau seperti tidak mengenali aku.
Aku menyapa Papa. Mencoba mengajaknya berbicara. Tapi Papa hanya menatapku. Aku bingung sekali saat itu. Tiba-tiba saja nafas Papa mulai telihat terengah-engah. Mama dan kakakku mendekat. Dua orang saudara kami juga masuk. Mereka mengajak kami berdoa. Mama kulihat mulai menangis. kakakku menunduk. Sepertinya ia juga berdoa. Aku menatap Papa. Antara bingung dan sedih. Tapi aku tidak bisa menangis. Di sudut hatiku saat itu masih meyakini bahwa Papa akan kembali pulih. Papa akan pulang bersama kami.
“Laa ilaaha Illallah…” Saudaraku, Paman jauh Papa membisikkan talqin di telinga Papa. Mama ikut membisikkan kalimat suci tersebut di sisi yang lain. Suaranya bergetar dan matanya  basah. Aku tertunduk, memandangi Papa yang terpatah-patah bersuara.
“Allah… allah…” bisik Papa. Nafasnya semakin terlihat satu-satu. Aku terpaku di sisi dekat lutut Papa. Mencoba meraih tangannya. Tak berani bersuara. Hanya saja dalam hati, aku masih meneriakkan kata-kata, bahwa Papa akan sembuh. Papa tidak akan apa-apa.
“Ikhlaskan, ikhlaskan…” kudengar saudara kami berkata. Mama menangis. membisikkan kata-kata di telinga Papa. Setelah itu, tarikan nafas Papa semakin melemah. Bibirnya masih menggumamkan kata-kata itu dengan lirih.
“Allah… Allah…”
***      ***      ***
            Hingga jenazah Papa di baringkan di ruang tamu kami, aku masih belum percaya kalau Papaku telah pergi. Saat beliau dimandikan baru air mataku mengalir deras.  Ketika   beliau akan dishalatkan, kulihat shaf demi shaf rapat diisi oleh mereka yang akan ikut shalat jenazah.
Begitu juga saat akan mengantar Papa ke peristirahatan terakhir. Begitu ramai orang yang ikut mengantarnya. Truk-truk militer dan bus-bus milik kesatuan Papa berbaris di sepanjang jalan di dekat masjid. Truk-truk dan bus itu melaju beriring-iringan di belakang mobil jenazah yang membawa Papa. Dan aku masih bisa mengingat ratusan orang yang memenuhi kendaraan-kendaraan tersebut, kemudian berkumpul di area pemakaman. Wajah-wajah yang kukenal, wajah-wajah yang tak kukenal, semua khusyuk mengikuti prosesi pemakaman Papa.
Tembakan salvo terakhir mengantarkan Papa ke tempat peristirahatannya. Aku, kakak, Mama, saudara dan kerabat jauh juga dekat kami berdiri mengelilingi liang lahat yang akan segera ditutup. Gerimis kecil turun. Tetesan halusnya menyentuh wajahku. Sesak rasanya di dadaku, tetapi tangis tak bisa tertumpah. Aku hanya bisa memandangi saat sedikit demi sedikit tanah merah ditimbun kembali. Menutupi jasad Papaku.
Dan yang masih kuingat, saat iring-iringan kami kembali pulang, aku menatap lekat gapura makam dan rerimbun rumpun-rumpun bambu di dekatnya. Gapura yang sama dengan yang kulihat beberapa tahun lalu saat bersepeda bersama Papa. Juga rumpun-rumpun bambu yang sama, yang daunnya dulu melambai menyapa aku dan Papa.
Hingga kini, gapura itu masih ada. Semakin terlihat bersih dan kokoh. Mungkin karena rerimbun rumpun-rumpun bambu itu kini tak ada lagi. Di sekeliling makam pun sudah tidak lagi sunyi dan gelap seperti dulu. Deretan ruko berjajar sebelum gapura. Beberapa sekolah internasional berdiri tidak jauh dari areal makam. Perumahan elite pun melingkupi area sekitarnya.  Tetapi walau daerah itu terus berubah digempur kemajuan zaman, kenangan tentang gapura itu masih sering melintas dalam kepalaku. Seiring abadinya kenanganku akan sosok Papa.
***      ***      ***

Kamis, 04 Juni 2015

Saat Ujian #NulisRandom2015 Day#4

Ujian. Gambar ilustrasi diambil dari google




Hening. Wajah-wajah tertunduk. Menatap helai demi helai kertas dengan puluhan pertanyaan. Sesekali terdengar hela nafas panjang, ketuk pinsil pada meja, decit sepatu bergesek dengan lantai kayu, suara batuk yang berat juga dengus keras seseorang menyedot ingus di hidungnya. Ah, cuaca, cuaca. Konon perubahannya membuat banyak orang terserang influenza.

Wajah-wajah ini, wajah-wajah yang sedang tertunduk khusyuk di depanku, adalah wajah-wajah yang sama dengan yang kuhadapi tahun lalu. Hanya saja, waktu telah sedikit mengubah mereka. Hmm, waktu. Ia memang pesulap lihai yang pandai mengubah apa saja. Termasuk mengubah garis wajah mereka yang kini terpekur di hadapanku.

Aku masih dapat mengingat bagaimana wajah-wajah ini setahun yang lalu. Wajah kekanakan yang tampak polos dan lugu. Beberapa memang ada yang terlihat usil, jahil, bengal. Tetapi keusilan, kejahilan juga kebengalan yang khas bocah.

Saat ini, lihatlah mereka. Mereka yang sedang serius dengan soal-soal  tentang demokrasi, kedaulatan, undang-undang, lembaga negara dan perilaku warga negara yang baik itu—beberapa tampak gelisah dan kulihat menatap dengan penuh pengharapan pada kawan di dekatnya—betapa berbeda mereka dengan tahun lalu. Mereka semakin bertumbuh.

Nah, bukankah waktu memang pesulap yang andal? Ia dapat memuaikan tubuh-tubuh kanak-kanak itu.  Garis-garis wajah mereka pun mulai berubah. Memang masih tersisa gurat wajah bocah mereka, tetapi selebihnya, mereka menjelma menjadi perempuan dan lelaki muda, hanya dalam hitungan belasan bulan saja.

Ya, ya. Mereka telah tumbuh menjadi pemuda-pemuda penerus masa depan bangsa. Kelak merekalah yang akan membesarkan, memajukan dan mengharumkan negeri ini. Mungkin dengan menjadi pengusaha, seniman, akademisi, ilmuwan, olahragawan, petani, nelayan atau bahkan pejabat pemerintahan.

Mungkin mereka akan berpikir bahwa semua itu masih jauh. Tetapi ingatlah. Selain pesulap yang andal, waktu juga kadang bisa menjelma menjadi apa saja. Temasuk pelari yang bergerak cepat tanpa suara. Tiba-tiba saja, tanpa kita sadari ia membawa kita melesat cepat ke masa yang berbeda. Ke masa di mana mereka—anak-anak muda itu—disebut manusia dewasa.

Dalam perjalanan menuju saat itu mungkin mereka akan menemukan hal-hal yang bisa saja melemahkan. Aral, rintangan, batu sandungan di beberapa helaan nafas waktu yang sendat. Membuat mereka terjatuh. Tetapi tidak selamanya. Mereka akan kembali pulih. Kembali berdiri. Bahkan dengan lebih kuat lagi. Banyak orang menyebut hal-hal seperti itu adalah ujian.

Saat ini mereka juga sedang menjalani ujian. Kertas yang sedang mereka hadapi itu, juga ujian. Salah satu cara untuk mengukur seberapa jauh mereka memahami apa yang telah mereka pelajari selama ini.

Tetapi ujian yang disuguhkan Sang Pencipta dalam lajunya detik demi detik waktu tentu saja tidak seperti ujian yang tengah mereka hadapi saat ini. Sebab ujian yang sesungguhnya tidak berupa kertas dengan pertanyan-pertanyaan semata. Ia bisa berupa apa saja. Hal-hal yang tidak kita duga. Hal-hal baik, hal-hal buruk yang kita alami selama ini. Itulah ujian yang sesungguhnya.

Ruang kelas masih hening. Mereka masih tenang menekuri soal-soal ujian. Aku masih memandangi mereka dari sini sambil terus saja mengguratkan kata-kata. Ah, apa ini yang kubicarakan? Baiklah, sebelum ada yang merasa bosan, kusudahi saja. Tetapi sebelumnya kuucapkan selamat melaksanakan ujian untuk kalian, kanak-kanak yang telah disulap menjadi remaja oleh sang waktu, di mana saja kalian berada. Oh,ya. Juga selamat menanti datangnya liburan. J

(Tembilahan, 4 Juni 2015—Hari pertama UKK kelas 7 dan 8)
#NulisRandom2015 Day #4

PUISI RAKYAT (PUISI LAMA): PANTUN

      KOMPETENSI DASAR 3.9 Mengidentifikasi informasi (pesan, rima, dan pilihan kata) dari puisi rakyat (pantun, syair, dan bentuk puis...