SECRET PROJECT
#cerpen Lily N. D. Madjid
BRAKKK!
Pintu ruang penghubung itu terbanting dengan keras. Dengan penuh rasa marah aku bergegas. Apa-apaan itu tadi? Jared bodoh! S*alan! Bisa-bisanya dia berbuat seperti itu? Mengabaikanku seolah-olah aku manusia tak kasat mata. Alih-alih menyapa dia malah asyik bercengkrama dengan yang lainnya. Dasar bodoh! Aku benci Jared.
Oke, oke! Itu memang hak dia untuk bergaul dengan siapa saja dalam pesta itu. Itu memang hak dia untuk melakukan apa pun yang dia suka. Terserah! Aku toh bukan siapa-siapanya. Dan aku memang tidak pernah berarti apa-apa bagi dirinya, 'kan?
Ya Tuhan, kenapa kenyataan itu bisa terasa begitu pahit?
Kuhempaskan tubuhku di bangku taman. Menarik napas dalam-dalam mencoba mengusir sesak yang menyeruak di dada. Ingar bingar suara musik dan canda tawa dari ruangan yang kutinggalkan menembus masuk hingga ambang pendengaranku. Samar, tetapi tetap terdengar.
Demi apa aku ada di sini?
Teringat percakapanku dengan Jared lewat telpon beberapa hari lalu.
"Kamu hadir ke acara launching lusa?" tanyanya waktu itu.
"Well, Bos Besar mengharapkan kita semua hadir bukan?" Aku menjawab sambil sibuk meredakan gemuruh di dada.
Begitulah bodohnya aku. Selalu seperti itu setiap kali berbicara dengan Jared. Padahal hanya bicara lewat telepon. Jangankan telepon, saat kami mengobrol lewat teks melalui aplikasi perpesanan pun hatiku seringkali bergetar dan seolah berdenyar. Ya, aku rasa aku memang gila, untuk semua yang berhubungan dengan Jared.
"Jadi, kau datang?"
"Ya. Kau?"
"Seperti yang tadi kau katakan, Bos Besar mengharapkan kita semua hadir di sana. Ini acara besar Laiyla. Dengan pesta yang juga besar. Kudengar media-media akan meliputnya."
"Ya. Project ini sudah lama digembar-gemborkan pada khalayak. Siapa yang tak ingin menyaksikan peluncurannya? Mereka pasti tak sabar ingin melihat bagaimana sebuah mobil terbang berbahan bakar air bekerja."
"Aku pun tak sabar."
"Tentu saja. Kau tim perancangnya, Jared. Tentu ingin menyaksikan bagaimana karyamu mendapat sambutan semua orang."
"No, Laiyl. Bukan itu."
"Lalu apa?"
"Aku tak sabar ... melihatmu berdiri anggun di pesta itu nanti."
Ya Tuhan! Bagaimana mungkin dia bisa berkata seperti itu tempo hari. Membuatku tak bisa tidur, dan gelisah menunggu datangnya malam ini, hanya untuk membuktikan ucapannya. Lalu menyaksikan kenyataan yang ada berbeda 180° dari bayanganku.
Jared pembohong!
Jangankan melihatku. Melirik saja tidak. Padahal beberapa kali aku berdiri di dekatnya. Beberapa kali ia berjalan melewatiku dengan senyum cerahnya. Namun, matanya terus menghindariku dengan menatap entah ke mana. Senyum yang yang nyaris terkembang di bibirku otomatis menguap, dan kubatalkan niat untuk menyapanya.
Aku benci Jared!
*** *** ***
"Laiyla?"
Satu suara mengejutkanku yang sedang berjalan melintasi koridor panjang menuju ruanganku. Aku berhenti. Di depan laboratorium workshop M031 terlihat siluet seseorang berdiri di bawah bayangan tiang penyangga bangunan.
Aku mendekat, siluet itu semakin jelas.
"Dr. Raymond?" tanyaku.
"Ck! Sudah kubilang panggil aku Zach." sosok itu berdecak sebal. Aku tersenyum.
"Sorry, Dr. Ray, eum ... Zach. Sedang apa di sini? Kenapa tidak bergabung di aula?"
"Kamu sendiri sedang apa di sini? Mengendap-endap sendiri dalam gelap?"
"No, Sir! Saya tidak mengendap-endap. Saya sedang menuju ruangan saya ta--"
"Ah, menghindari seseorang, kurasa. No, jangan menyangkal. Dengar, tak ada seorang gadis muda yang akan menyelinap keluar dari meriahnya pesta jika tidak sedang menghindar dari seseorang yang membuatnya patah hati. Hahaha ....!"
S*al! Kenapa Dr. zach Raymond bisa menebak dengan jitu?
"Anda sendiri sedang apa di sini? Mengapa tidak bergabung dalam pesta itu? Dan, hei--" aku terbelalak ketika menyadari kami ada di mana. "Laboratorium Workshop M031 tempat terlarang, bukan?" kataku sambil memelankan suara.
"Memang, tetapi tidak untukku. Aku sedang menyelesaikan sebuah projek. Mmm ... kebetulan sekali kita bertemu. Aku ... ah, masuklah dulu. Kita bicara di dalam." katanya.
Ia menggesekkan kartu pass di tangannya. Seketika pintu lab membuka. Dr. Raymond berbalik dan mengangguk padaku yang masih berdiri ragu.
"Jangan takut. Aku tak akan mencelakakanmu," katanya lalu melangkah masuk. Dengan antusias aku mengikutinya. Padahal tadinya aku hanya ingin menuju ruanganku dan menenangkan diri dari rasa marahku pada Jared. Tapi, ah, masa bodoh dengan Jared Witheart itu. LW M031 lebih menarik untukku. Sudah sejak lama aku penasaran, projek-projek besar apa lagi yang sedang disiapkan di dalamnya.
Jangan bayangkan LW M031 seperti Laboratorium workshop di kampus-kampus teknik atau apa. Tidak, ini jauh lebih hebat. Di dalamnya terdapat beberapa blok dan setiap blok berisi projek-projek berbeda. Projek-projek rahasia.
Zach membawaku ke salah satu blok. Di sana kami melewati satu pintu berpengaman ganda. Zach mendekati alat pemindai mata sebelum kembali menempelkan kartu passnya.
"Akses diterima."
Suara komputer bergema tepat sebelum pintu berdengung membuka. Aku memasuki ruangan luas di depanku dengan penuh rasa takjub. Berbagai perkakas modern dan mutakhir kulihat tersedia dalam ruangan ini. Aku menyentuhnya satu persatu. Norak sekali. Itu kusadari setelah melihat tatapan Zach yang setengah tersenyum melihat tingkahku.
"Hei, Zach! Ini hebat!"
"Memang. Tidak ada yang tidak hebat di LW M031, Laiyla. Ini laboratorium workshop tercanggih yang pernah ada di negeri ini. Tepatnya sih, tidak ada yang tidak hebat di SkyTech Enterprise." Zach berkata dengan bangga.
Ada. Jared Whitheart. Dia tidak hebat.
"Wah! Benarkah? Lalu ... mengapa kau membawaku ke sini?"
"Ah, ya. Itu hal penting yang akan kubicarakan denganmu."
Zach membuka sebuah kotak besi yang juga berpengaman ganda. Mengeluarkan sebuah berkas dari sana dan meletakannya di atas meja di hadapanku. Lagi-lagi aku terbelalak saat mengenali berkas itu.
"Zach! Ini cetak biru mesin teleportasi yang kubuat beberapa tahun lalu!" seruku heran.
Ya, jadi begini, aku merancang sebuah mesin teleportasi beberapa tahun lalu. Saat itu setiap pegawai baru di Skytech Enterprise diminta mengajukan sebuah rancangan inovatif. Aku sudah meneliti tentang kemungkinan-kemungkinan pembuatan mesin teleportasi sejak masih menjadi mahasiswa di kampusku dulu.
Rancanganku dinilai baik oleh Bos Besar. Aku ingat, ia memujiku sebagai seorang yang cerdas. Tetapi itu saja tidak cukup. Katanya masih jauh hingga kita dapat mewujudkan sebuah mesin teleportasi menjadi nyata.
Ah, aku benci dengan segala basa-basi itu. Dengan kata lain ia menganggap karyaku sebagai khayalan semata 'kan? Padahal aku sudah menjelaskannya dengan rinci, menyertakan perhitungan-perhitungan fisikanya dengan lengkap dan gamblang. Tidak mustahil untuk merealisasikannya.
Ia tetap tidak menerima saat kukemukakan semua pemaparan tentang projek itu. Alih-alih menerima, ia malah menyanggahnya dan mematahkan semua argumenku.
"Kita hidup dalam realita, Miss Soeninta. Bukan sains fiksi semata. Dan realita bagi kita adalah bisnis. Nah, cobalah rancang sesuatu yang inovatif dan layak jual."
Layak jual katanya? Apa dia tidak tahu jika mesin teleportasi bisa menjadi tambang emas jika kami merealisasikannya. Dan INI bukan hanya sekedar sains fiksi semata seperti yang ia katakan.
"Sedang mengenang masa lalu, Laiyl?" Suara Zach Raymond membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum pahit.
"Semacam itulah," kataku. Apakah lelaki paruh baya di depanku ini seorang pembaca pikiran atau apa? Sudah dua kali dia menebak isi kepalaku dengan jitu.
"Fokuslah. Karena aku membawa kabar gembira untukmu." Zach tersenyum lebar.
Lelaki bertubuh tinggi tegap itu menarik sebuah kursi di seberangku. Ia duduk, lalu mulai membentangkan berkas-berkas itu di hadapanku. Aku rasa dia akan memberi kabar yang benar-benar hebat. Jadi, aku berdiam diri, siap-siap menerima kabar besar itu.
"Dengar," katanya dengan suara yang sengaja dibuat sedramatis mungkin. Aku sudah mempelajari cetak biru yang kau buat. Bahkan sudah melakukan riset ulang sebenarnya. Kupikir ...." Zach sengaja memenggal kalimatnya. Menatapku sambil tersenyum.
"Apa? Cepat katakan!" kataku. Zach masih tersenyum. "Dr. Raymond, please, jangan membuatku penasaran."
"Hahaha! Tidak sabaran.” Ia terkekeh. Tawanya bahkan semakin keras saat melihatku memutar mata. “Sabar, Nak. Jadi, kupikir tidak mustahil untuk merealisasikan projek ini,” katanya. Aku nyaris melompat kegiranagan. Untung saja aku bisa menahan diri. Namun, tak urung Zach terbahak menertawakanku.
“Zach? Benarkah? Jadi kau akan membuat sebuah mesin teleportasi?”
“Aku? Tentu tidak.”
“Ah! Tapi kau bilang—“
“Kau, Miss. Kau yang akan membuatnya. Aku sudah membicarakan ini dengan Salvatore.”
“Apa? Benarkah?”
"Kenapa? Kau tidak mau? Kalau begitu biar kuserahkan projek ini pada Jared Witheart. Dia ppemuda yang sangat berbakat.”
“Tidak.” Aku menggeram. “Aku mau, tentu saja, tapi, benarkah kau sudah membicarakannya dengan Bos Besar? Maksudku, Mr. Borsellino?”
“Tentu saja.”
“Apa katanya? Bukankah dulu dia menolak gagasan ini mentah-memntah?”
"Tentu saja Salvatore setuju. Aku sudah membujuknya. Aku tahu Laiyla, projek ini projek besar. Pasti akan sukses besar. Dan kamu, Laiyl, kamu yang akan membawakan kesuksesan itu untuk SkyTech Enterprise.”
(bersambung hingga part 2 saja)
BandungBarat, 16 Juni 2020
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Rabu, 17 Juni 2020
Senin, 08 Juni 2020
SHURA DAN DIMA
SHURA dan DIMA
~cerpen Lilynd Madjid~
"Shura!"
Suara seruan di kejauhan menyentakkanku dari keasyikan mengintai ikan di tepian anak Sungai Kolyma yang nyaris membeku. Aku melompati batu-batu besar yang menyembul dari permukaan sungai. Mendaki batu terbesar dengan hati-hati.
Dari puncak batu aku berteriak membalas seruan Oтец yang tadi ditujukan kepadaku.
"Sebentar, Oтец! Aku akan segera kembali!" teriakku sekuat tenaga.
Kemudian dengan kehati-hatian yang sama seperti saat memanjatnya, kuturuni batu besar itu. Kurapikan peralatan berburuku, harpun kecil dan sebuah beliung pemberian kakek, juga ikan-ikan hasil tangkapan yang sudah kuikat. Aku bergegas menuju gua kami.
Di mulut gua kulihat Oтец dan beberapa laki-laki--ada sekitar 25 hingga 30 orang--tengah menyiapkan perlengkapan seperti obor, batu api, tombak, beliung, dan harpun besar. Oтецmemberi isyarat agar aku bergegas.
"Sebentar Oтец, aku akan memberikan dulu ikan-ikan ini pada Мать."
"Segera! Kau tahu hari ini kita mulai berburu." Oтец berkata galak. Ya, ayahku itu memang orang yang sangat tegas. Tidak heran jika kelompok kami mengangkatnya menjadi pemimpin.
Aku mengangguk, lalu setengah berlari memasuki mulut gua. Udara hangat menyambutku saat berada di dalam gua. Gua kami berada di kaki sebuah gunung berapi. Jika ditelusuri, akan ada lorong yang mengarah ke perut bumi. Dari lorong-lorong semacam itulah, mengalir uap-uap hangat ke lorong-lorong gua lainnya. Membuat kami terhindar dari udara dingin Siberia yang membekukan. Perlu beberapa lama menyusuri lorong-lorong gua yang berliku sebelum tiba di lorong tempat keluargaku tinggal.
"Shura! Tadi ayahmu mencari." Мать, ibuku menyambut saat aku tiba.
"Ya, Мать. Ia menungguku berburu." Kuserahkan ikan-ikan itu ke tangannya lalu bersiap-siap pergi.
"Shura!" Мать menahan tanganku. "Berhati-hatilah. Perhatikan saja dari jauh bagaimana orang-orang dewasa menangkap mammoth itu." Aku mengangguk kemudian bergegas keluar.
Di luar gua, persiapan sudah selesai dilakukan. Rombongan kami mulai berangkat. Aku berjalan di samping Oтец. Ada pemuda-pemuda lain seusiaku yang juga ikut dalam perburuan kali ini. Seperti aku, mereka juga sedang disiapkan untuk bisa berburu. Perburuan kali adalah cara kami belajar, dengan melihat secara langsung bagaimana orang dewasa berburu.
Kami tiba di sebuah padang luas di tepi sebuah danau pada siang hari. Udaranya cukup hangat. Oтец bilang itu karena adanya semburan uap dan air panas secara periodik di suatu tempat di sekitar sini. Kami memilih satu area yang cukup tersembunyi sebagai tempat berkemah. Di kejauhan, di tepi danau yang berseberangan dengan tepian tempat kami berada, samar kulihat kawanan mammoth bergerombol.
Setelah menyiapkan perlengkapan, rombongan kami mulai bekerja. Membuat lubang perangkap beberapa ratus meter dari tepi danau. Kamu semua, termasuk aku dan kawan-kawanku menggali lubang besar dengan beliung. Menjelang malam, lubang galian siap.
Setelah itu orang dewasa mengendap-endap dalam gelap menuju kawanan mammoth di seberang danau. Mereka memilih satu mammoth sebagai sasaran dan mulai bergerak mendekat. Obor-obor dinyalakan dengan batu api. Para mammoth mulai menyadari kehadiran kami, mereka kalang kabut menghindar.
Oтец dan teman-temannya menggiring mammoth sasaran menggunakan obor. Mengarahkan binatang besar itu ke lubang perangkap yang sudah kami siapkan. Tidak mudah. Binatang itu selalu mencoba melarikan diri dan mengamuk brutal. Akan tetapi Oтец dan teman-temannya adalah para pemburu andal. Beberapa waktu kemudian mammoth itu sudah dapat dilumpuhkan di dalam lubang perangkap. Aku bergidig ngeri saat satu harpun besar dihantamkan menembus tengkorak kepalanya.
Setelah si Mammoth roboh, kami mulai menguliti mahluk raksasa malang itu. Perutku mendadak mual mencium amis darah yang menguar. Diam-diam aku menyingkir, berjalan menjauhi lubang. Aku butuh udara segar.
Satu suara dengusan mengagetkanku saat sedang berdiri menatap tepian danau di kejauhan. Aku mengendap-endap mencari sumber suara. Di balik sebatang pohon tidak jauh dari lubang perangkap, sebuah bayangan gelap terlihat. Saat aku mendekat, bayangan itu mendengus.
Aku segera menyadari mahluk apa itu. Masih mengendap-endap, kudekati Oтец. Aku memberitahukan keberadaan tamu kami. Oтец dan beberapa orang perlahan mengepung, lalu menyergap bayangan itu dengan tali serat kayu yang kami punya. Mahluk itu meronta. Mendengus-dengus dan sesekali mengeluarkan suara menguik yang menurutku sangat menyedihkan. Seseorang kulihat mengacungkan harpun ke arah kepalanya.
"Jangan!" Tanpa sadar aku berteriak. Semua menoleh ke arahku. "Ja-jangan bunuh dia, kumohon. Oтец, tolong biarkan bayi mammoth itu hidup," kataku mengiba.
***
Aku memberi nama bayi mammoth itu Dima.
Jadi, malam itu Oтец mengabulkan permohonanku. Kami membawa pulang Dima dan berton-ton daging mammoth yang menurutku adalah induk Dima. Agak menyedihkan memang.
Awalnya Oтец melarangku memelihara Dima. Namun, aku berkeras. Kasihan dia, ibunya sudah mati, sementara kawanannya telah meninggalkan tepian danau entah kemana. Jika ditinggalkan, bisa saja dia menjadi mangsa empuk binatang buas.
Maka di sinilah Dima sekarang. Tinggal di dalam satu lorong gua yang tak dihuni. Kupelihara dan kurawat dia dengan kasih sayang. Ternyata mammoth kecil ini binatang yang cerdas. Dia bisa mengenali aku, yang setiap hari datang memberinya makan. Kini dia tidak takut lagi padaku. Ia juga membiarkan, saat aku membelai bulu lebatnya, atau mengusap puncak kepalanya.
Kadang-kadang aku mengajaknya berjalan-jalan ke luar dari dalam gua. Jika sudah begitu ia akan berjalan di sampingku atau mengikutiku di belakang. Akhir-akhir ini Dima bahkan mengikutiku saat aku pergi menombak ikan.
***
Aku sedang menuju anak Sungai Kolyma pagi ini. Sebenarnya, Oтец dan Мать melarangku untuk menombak ikan. Cuaca agak tidak bagus. Kemungkinan badai salju akan datang. Namun, persediaan ikan kami sudah habis. Adik bungsuku, Makari, tak bisa makan jika tak ada ikan. Maka aku memaksa Oтец untuk mengizinkanku menangkap satu dua ekor ikan. Oтец akhirnya mengijinkan, dengan syarat, aku pulang sebelum tengah hari.
Ternyata cuaca memburuk begitu cepat. Badai datang menggulung saat aku masih mengemasi ikan yang kuperoleh. Segera kucari perlindungan di balik bebatuan. Namun, badai begitu dahsyat. Salju berhamburan menyerbu tubuhku.
Badai belum juga mereda saat aku mulai menggigil hebat. Mantel kulit mammoth yang kukenakan tak mampu menahan dingin yang menggigit. Gigiku gemeletuk. Tanganku tremor dan sudah mati rasa. Sedikit penyesalan menyusup dalam hati. Mengapa tak kuhiraukan larangan Oтец dan Мать tadi?
Kurasa kesadaranku mulai menghilang, saat kudengar suara dengusan. Lapisan salju yang kupijak terasa bergetar. Lalu seonggok bulu tebal menyentuhku. Bukan, bukan menyentuh, tetapi melilit dan menarikku. Menyurukkanku pada gumpalan bulu yang lebih tebal. Hangat mengalir melingkupiku. Sempat kubuka mata sejenak sebelum kembali menutupnya. Aku mengenali sosok besar itu.
"Dima ... kamu datang?"
*Tamat*
Catatan:
отец = ayah
Мать = ibu
"Shura!"
Suara seruan di kejauhan menyentakkanku dari keasyikan mengintai ikan di tepian anak Sungai Kolyma yang nyaris membeku. Aku melompati batu-batu besar yang menyembul dari permukaan sungai. Mendaki batu terbesar dengan hati-hati.
Dari puncak batu aku berteriak membalas seruan Oтец yang tadi ditujukan kepadaku.
"Sebentar, Oтец! Aku akan segera kembali!" teriakku sekuat tenaga.
Kemudian dengan kehati-hatian yang sama seperti saat memanjatnya, kuturuni batu besar itu. Kurapikan peralatan berburuku, harpun kecil dan sebuah beliung pemberian kakek, juga ikan-ikan hasil tangkapan yang sudah kuikat. Aku bergegas menuju gua kami.
Di mulut gua kulihat Oтец dan beberapa laki-laki--ada sekitar 25 hingga 30 orang--tengah menyiapkan perlengkapan seperti obor, batu api, tombak, beliung, dan harpun besar. Oтецmemberi isyarat agar aku bergegas.
"Sebentar Oтец, aku akan memberikan dulu ikan-ikan ini pada Мать."
"Segera! Kau tahu hari ini kita mulai berburu." Oтец berkata galak. Ya, ayahku itu memang orang yang sangat tegas. Tidak heran jika kelompok kami mengangkatnya menjadi pemimpin.
Aku mengangguk, lalu setengah berlari memasuki mulut gua. Udara hangat menyambutku saat berada di dalam gua. Gua kami berada di kaki sebuah gunung berapi. Jika ditelusuri, akan ada lorong yang mengarah ke perut bumi. Dari lorong-lorong semacam itulah, mengalir uap-uap hangat ke lorong-lorong gua lainnya. Membuat kami terhindar dari udara dingin Siberia yang membekukan. Perlu beberapa lama menyusuri lorong-lorong gua yang berliku sebelum tiba di lorong tempat keluargaku tinggal.
"Shura! Tadi ayahmu mencari." Мать, ibuku menyambut saat aku tiba.
"Ya, Мать. Ia menungguku berburu." Kuserahkan ikan-ikan itu ke tangannya lalu bersiap-siap pergi.
"Shura!" Мать menahan tanganku. "Berhati-hatilah. Perhatikan saja dari jauh bagaimana orang-orang dewasa menangkap mammoth itu." Aku mengangguk kemudian bergegas keluar.
Di luar gua, persiapan sudah selesai dilakukan. Rombongan kami mulai berangkat. Aku berjalan di samping Oтец. Ada pemuda-pemuda lain seusiaku yang juga ikut dalam perburuan kali ini. Seperti aku, mereka juga sedang disiapkan untuk bisa berburu. Perburuan kali adalah cara kami belajar, dengan melihat secara langsung bagaimana orang dewasa berburu.
Kami tiba di sebuah padang luas di tepi sebuah danau pada siang hari. Udaranya cukup hangat. Oтец bilang itu karena adanya semburan uap dan air panas secara periodik di suatu tempat di sekitar sini. Kami memilih satu area yang cukup tersembunyi sebagai tempat berkemah. Di kejauhan, di tepi danau yang berseberangan dengan tepian tempat kami berada, samar kulihat kawanan mammoth bergerombol.
Setelah menyiapkan perlengkapan, rombongan kami mulai bekerja. Membuat lubang perangkap beberapa ratus meter dari tepi danau. Kamu semua, termasuk aku dan kawan-kawanku menggali lubang besar dengan beliung. Menjelang malam, lubang galian siap.
Setelah itu orang dewasa mengendap-endap dalam gelap menuju kawanan mammoth di seberang danau. Mereka memilih satu mammoth sebagai sasaran dan mulai bergerak mendekat. Obor-obor dinyalakan dengan batu api. Para mammoth mulai menyadari kehadiran kami, mereka kalang kabut menghindar.
Oтец dan teman-temannya menggiring mammoth sasaran menggunakan obor. Mengarahkan binatang besar itu ke lubang perangkap yang sudah kami siapkan. Tidak mudah. Binatang itu selalu mencoba melarikan diri dan mengamuk brutal. Akan tetapi Oтец dan teman-temannya adalah para pemburu andal. Beberapa waktu kemudian mammoth itu sudah dapat dilumpuhkan di dalam lubang perangkap. Aku bergidig ngeri saat satu harpun besar dihantamkan menembus tengkorak kepalanya.
Setelah si Mammoth roboh, kami mulai menguliti mahluk raksasa malang itu. Perutku mendadak mual mencium amis darah yang menguar. Diam-diam aku menyingkir, berjalan menjauhi lubang. Aku butuh udara segar.
Satu suara dengusan mengagetkanku saat sedang berdiri menatap tepian danau di kejauhan. Aku mengendap-endap mencari sumber suara. Di balik sebatang pohon tidak jauh dari lubang perangkap, sebuah bayangan gelap terlihat. Saat aku mendekat, bayangan itu mendengus.
Aku segera menyadari mahluk apa itu. Masih mengendap-endap, kudekati Oтец. Aku memberitahukan keberadaan tamu kami. Oтец dan beberapa orang perlahan mengepung, lalu menyergap bayangan itu dengan tali serat kayu yang kami punya. Mahluk itu meronta. Mendengus-dengus dan sesekali mengeluarkan suara menguik yang menurutku sangat menyedihkan. Seseorang kulihat mengacungkan harpun ke arah kepalanya.
"Jangan!" Tanpa sadar aku berteriak. Semua menoleh ke arahku. "Ja-jangan bunuh dia, kumohon. Oтец, tolong biarkan bayi mammoth itu hidup," kataku mengiba.
***
Aku memberi nama bayi mammoth itu Dima.
Jadi, malam itu Oтец mengabulkan permohonanku. Kami membawa pulang Dima dan berton-ton daging mammoth yang menurutku adalah induk Dima. Agak menyedihkan memang.
Awalnya Oтец melarangku memelihara Dima. Namun, aku berkeras. Kasihan dia, ibunya sudah mati, sementara kawanannya telah meninggalkan tepian danau entah kemana. Jika ditinggalkan, bisa saja dia menjadi mangsa empuk binatang buas.
Maka di sinilah Dima sekarang. Tinggal di dalam satu lorong gua yang tak dihuni. Kupelihara dan kurawat dia dengan kasih sayang. Ternyata mammoth kecil ini binatang yang cerdas. Dia bisa mengenali aku, yang setiap hari datang memberinya makan. Kini dia tidak takut lagi padaku. Ia juga membiarkan, saat aku membelai bulu lebatnya, atau mengusap puncak kepalanya.
Kadang-kadang aku mengajaknya berjalan-jalan ke luar dari dalam gua. Jika sudah begitu ia akan berjalan di sampingku atau mengikutiku di belakang. Akhir-akhir ini Dima bahkan mengikutiku saat aku pergi menombak ikan.
***
Aku sedang menuju anak Sungai Kolyma pagi ini. Sebenarnya, Oтец dan Мать melarangku untuk menombak ikan. Cuaca agak tidak bagus. Kemungkinan badai salju akan datang. Namun, persediaan ikan kami sudah habis. Adik bungsuku, Makari, tak bisa makan jika tak ada ikan. Maka aku memaksa Oтец untuk mengizinkanku menangkap satu dua ekor ikan. Oтец akhirnya mengijinkan, dengan syarat, aku pulang sebelum tengah hari.
Ternyata cuaca memburuk begitu cepat. Badai datang menggulung saat aku masih mengemasi ikan yang kuperoleh. Segera kucari perlindungan di balik bebatuan. Namun, badai begitu dahsyat. Salju berhamburan menyerbu tubuhku.
Badai belum juga mereda saat aku mulai menggigil hebat. Mantel kulit mammoth yang kukenakan tak mampu menahan dingin yang menggigit. Gigiku gemeletuk. Tanganku tremor dan sudah mati rasa. Sedikit penyesalan menyusup dalam hati. Mengapa tak kuhiraukan larangan Oтец dan Мать tadi?
Kurasa kesadaranku mulai menghilang, saat kudengar suara dengusan. Lapisan salju yang kupijak terasa bergetar. Lalu seonggok bulu tebal menyentuhku. Bukan, bukan menyentuh, tetapi melilit dan menarikku. Menyurukkanku pada gumpalan bulu yang lebih tebal. Hangat mengalir melingkupiku. Sempat kubuka mata sejenak sebelum kembali menutupnya. Aku mengenali sosok besar itu.
"Dima ... kamu datang?"
*Tamat*
Catatan:
отец = ayah
Мать = ibu
Minggu, 07 Juni 2020
GADIS DALAM GELEMBUNG
#NAD_30HariMenulis2020
#Hari_ke_7
#NomorAbsen_222
Jumlah kata : 992 kata (hanya isi)
GADIS DALAM GELEMBUNG
"Bagaimana perasaanmu saat ini?"
Dokter Laiyla memandang sosok di depannya lekat. Gadis remaja itu masih terdiam dengan pandangan yang nyaris kosong.
"Anna? Kamu mendengarku?"
Mata Anna mengerjap. Sesaat ia melirik ke arah Dokter Laiyla, psikiaternya. Namun, tak ada suara yang keluar. Ia malah menunduk. Jari-jari tangan kanan menyentuh perlahan perban yang melintang di pergelangan tangan kirinya.
Anna dilarikan ke rumah sakit oleh ibunya setelah ditemukan terkapar dalam kubangan darahnya sendiri di kamar mandi rumahnya. Dokter Laiyla, psikiater rumah sakit yang menangani Anna masih harus terus menggali, motif gadis itu sampai menyayat urat nadi lengan kirinya sendiri.
"Anna?"
"Aku lelah, Dok. Boleh beristirahat?" kata gadis itu. Pelan, nyaris serupa bisikan.
Dokter Laiyla menarik napas. Ia mengangguk. Percuma memaksa Anna bicara. Sudah beberapa sesi ia jalani setelah Anna cukup pulih dari lukanya, tetapi ia belum berhasil mengorek informasi terkait penyebab utama depresi berat yang dialami gadis itu.
Informasi yang didapat dari orang tua pada sesi sebelumnya, hanya dapat menyimpulkan bahwa selama ini Anna adalah seorang anak yang introvert. Hal yang sudah ia duga berdasarkan pengamatannya selama menangani Anna. Sementara informasi lain terkait percobaan bunuh diri itu belum berhasil ia peroleh. Bahkan orang tua Anna pun masih bertanya-tanya mengapa. Dokter Laiyla mulai berpikir untuk mencari cara lain mengorek informasi pada sesi-sesi Anna berikutnya.
***
Anna menjerit histeris pada pertemuan di sesi berikutnya. Ia mengamuk dan mengancam menyakiti diri sendiri jika dokter Laiyla mendekat. Hingga dengan terpaksa, dokter meminta dua perawat yang mendampinginya untuk menyuntikkan obat penenang.
Di ruangannya Dokter Laiyla termenung. Anna seperti sedang membangun benteng perlindungan tak kasat mata bagi dirinya. Ia tak ingin orang lain memasuki zona pribadinya. Mungkinkah ada trauma yang menyebabkan gadis itu berperilaku demikian? Dokter Laiyla membuka buku catatannya, menuliskan sesuatu di sana sambil sesekali membolak-balik catatannya tentang Anna.
Tak lama ia terlihat mengambil gagang pesawat telepon di sisi mejanya. Melakukan panggilan dan berbicara sangat serius dengan lawan bicaranya di seberang sana. Berkali-kali ia membuka bukunya, mencatat, membolak-balik lagi catatannya seperti mengkonfirmasikan sesuatu. Ada sebuah dugaan yang harus ia buktikan.
***
"Anna! Aku harus melakukan sesuatu selama beberapa waktu. Bisakah kamu menungguku?" Dokter Laiyla menatap Anna yang duduk di depannya. Anna hanya mengangguk.
Itu adalah sesi yang ke sekian Dokter Laiyla bersama Anna. Anna sendiri sudah lama keluar dari rumah sakit. Hanya saja, secara kejiwaan, gadis itu masih harus berada dalam pengawasan. Ia melanjutkan sesi terapi bersama Dokter Laiyla dua minggu sekali di klinik pribadi milik sang dokter.
Berbagai pendekatan dilakukan Dokter Laiyla untuk dapat sekedar 'menjangkau' Anna dan masuk ke dalam zona pribadi gadis itu. Sulit pada awalnya, sebab di mata Anna, semua orang adalah musuh yang perlu diwaspadai. Namun kerja keras Dokter Laiyla membuahkan hasil. Kini Anna sudah cukup membuka diri padanya. Hanya sedikit. Namun celah kecil itu tak ingin disia-siakan oleh Dokter Laiyla.
Dokter paruh baya itu akhirnya menemukan adanya riwayat perundungan yang dialami oleh Anna. Tidak hanya sekali. Puncaknya perundungan yang dilakukan teman-temannya secara verbal di sekolah maupun di dunia maya. Dokter Laiyla berhasil menemukan jejak digital perundungan itu.
"Baik. Kalau begitu, kamu tunggu di sini. Sambil menunggu, kamu boleh menggambar. Aku punya setumpuk kertas gambar dan krayon di sini. Boleh kamu gunakan."
Dokter Laiyla berdiri, kemudian berjalan meninggalkan Anna. Ia menoleh sebentar sebelum membuka pintu. Mendapati Anna sedang memperhatikannya. Dokter Laiyla tersenyum lalu bergegas ke luar.
Dokter Laiyla masuk ke ruang lain di kliniknya. Beberapa orang menunggu di depan layar monitor. Ia segera menghampiri mereka.
"Sudah siap?" tanyanya.
"Pengamatan sudah dimulai," jawab salah seorang dari mereka sambil menunjuk layar monitor. Dokter Laiyla mendekat. Ia menatap layar sambil tersenyum lebar. Di sana terlihat Anna yang sedang menunduk di atas kertas gambar di meja kerja Dokter Laiyla. Tangannya bergerak mengguratkan crayon dengan lincah di atas permukaan kertas.
***
"Jadi, siapa dia?"
Dokter Laiyla menunjuk ke arah kertas gambar di tangannya. Itu gambar yang tadi dibuat Anna saat ia tinggalkan. Menggambar adalah hobby Anna yang berhasil diketahui Dokter Laiyla pada akhirnya. Boleh dibilang, itulah keahlian gadis itu. Dokter Laiyla mengagumi kehalusan gambar yang kini ada di tangannya.
Anna terlihat gelisah. Bibirnya terbuka, sepertinya dia masih ragu untuk menjawab. Dokter Laiyla mengalihkan pandangannya dari gambar. Ia menatap Anna lembut.
"Apakah itu kamu?" tanya Dokter Laiyla. Mata Anna mengerjap. Ia menatap Dokter Laiyla dengan pandangan penuh tanya.
"Bagaimana Dokter tahu?"
"Jadi benar itu kamu?" Dokter Laiyla kembali tersenyum. Ia melihat lagi gambar di tangannya. Seorang gadis sedang duduk dalam sebuah gelembung besar sambil menopangkan dagu pada lututnya. Gelembung itu melayang rendah, sementara di luar gelembung, banyak sekali orang mengelilinginya. Anna mengangguk.
"Itu aku," katanya lirih.
"Mengapa dalam gelembung? Apa kamu membayangkan berkeliling dunia dengan gelembung ini?" Pancing Dokter Laiyla. Anna menggeleng.
"Itu aku, Dok. Aku yang hidup dalam gelembung."
"Kamu apa?"
"Sejak dulu--" Anna terlihat ragu. Lama ia menatap Dokter Laiyla. Sang dokter memberi isyarat agar gadis itu tidak ragu-ragu untuk melanjutkan ceritanya. "Sejak dulu aku selalu merasa hidup dalam gelembung. Aku hidup bersama orang-orang, banyak orang, tetapi tak pernah benar-benar bersama. Aku ... ada gelembung transparan yang memisahkanku dengan mereka. Sekuat apa pun aku berusaha keluar, gelembung itu kembali memerangkapku." Anna terdiam sesaat. Sedikit terengah-engah. Berbicara cukup banyak rupa-rupanya menguras energi Anna.
"Aku tahu, sebagian orang menganggapku aneh. Pada akhirnya mereka membullyku karena itu. Mereka tidak tahu sekuat apa aku berusaha. Mereka tidak pernah mengerti. Akhirnya, aku merasa lebih nyaman berada dalam gelembungku. Aku membangun gelembung yang lebih kuat. Duduk memandang ke luar dari dalamnya. Tetapi mereka terus saja mengusikku. Menggangguku. Bahkan di dunia maya, tempat aku bisa sejenak keluar dari dalam gelembungku. Rasanya aku mau mati saja. Itulah yang sedang kulakukan sebelum mama menemukanku malam itu. Membawaku ke rumah sakit, dan akhirnya bertemu denganmu." Air mata Anna berderai.
Dokter Laiyla termenung. Jadi, itulah penyebabnya. Kalau begitu dugaannya tidak meleset. Perundungan selalu berdampak buruk bagi yang mengalaminya. Amat buruk. Sesaat ingatannya melayang ke waktu-waktu yang lampau. Kenangan pahit yang pernah ia alami sendiri. Dipandanginya wajah penuh air mata Anna. Kini ia dapat mengerti perasaan gadis yang ada di hadapannya.
"Anna. Tenanglah, kita akan menghadapi ini bersama-sama. Aku akan membantumu."
*Tamat*
#Hari_ke_7
#NomorAbsen_222
Jumlah kata : 992 kata (hanya isi)
GADIS DALAM GELEMBUNG
"Bagaimana perasaanmu saat ini?"
Dokter Laiyla memandang sosok di depannya lekat. Gadis remaja itu masih terdiam dengan pandangan yang nyaris kosong.
"Anna? Kamu mendengarku?"
Mata Anna mengerjap. Sesaat ia melirik ke arah Dokter Laiyla, psikiaternya. Namun, tak ada suara yang keluar. Ia malah menunduk. Jari-jari tangan kanan menyentuh perlahan perban yang melintang di pergelangan tangan kirinya.
Anna dilarikan ke rumah sakit oleh ibunya setelah ditemukan terkapar dalam kubangan darahnya sendiri di kamar mandi rumahnya. Dokter Laiyla, psikiater rumah sakit yang menangani Anna masih harus terus menggali, motif gadis itu sampai menyayat urat nadi lengan kirinya sendiri.
"Anna?"
"Aku lelah, Dok. Boleh beristirahat?" kata gadis itu. Pelan, nyaris serupa bisikan.
Dokter Laiyla menarik napas. Ia mengangguk. Percuma memaksa Anna bicara. Sudah beberapa sesi ia jalani setelah Anna cukup pulih dari lukanya, tetapi ia belum berhasil mengorek informasi terkait penyebab utama depresi berat yang dialami gadis itu.
Informasi yang didapat dari orang tua pada sesi sebelumnya, hanya dapat menyimpulkan bahwa selama ini Anna adalah seorang anak yang introvert. Hal yang sudah ia duga berdasarkan pengamatannya selama menangani Anna. Sementara informasi lain terkait percobaan bunuh diri itu belum berhasil ia peroleh. Bahkan orang tua Anna pun masih bertanya-tanya mengapa. Dokter Laiyla mulai berpikir untuk mencari cara lain mengorek informasi pada sesi-sesi Anna berikutnya.
***
Anna menjerit histeris pada pertemuan di sesi berikutnya. Ia mengamuk dan mengancam menyakiti diri sendiri jika dokter Laiyla mendekat. Hingga dengan terpaksa, dokter meminta dua perawat yang mendampinginya untuk menyuntikkan obat penenang.
Di ruangannya Dokter Laiyla termenung. Anna seperti sedang membangun benteng perlindungan tak kasat mata bagi dirinya. Ia tak ingin orang lain memasuki zona pribadinya. Mungkinkah ada trauma yang menyebabkan gadis itu berperilaku demikian? Dokter Laiyla membuka buku catatannya, menuliskan sesuatu di sana sambil sesekali membolak-balik catatannya tentang Anna.
Tak lama ia terlihat mengambil gagang pesawat telepon di sisi mejanya. Melakukan panggilan dan berbicara sangat serius dengan lawan bicaranya di seberang sana. Berkali-kali ia membuka bukunya, mencatat, membolak-balik lagi catatannya seperti mengkonfirmasikan sesuatu. Ada sebuah dugaan yang harus ia buktikan.
***
"Anna! Aku harus melakukan sesuatu selama beberapa waktu. Bisakah kamu menungguku?" Dokter Laiyla menatap Anna yang duduk di depannya. Anna hanya mengangguk.
Itu adalah sesi yang ke sekian Dokter Laiyla bersama Anna. Anna sendiri sudah lama keluar dari rumah sakit. Hanya saja, secara kejiwaan, gadis itu masih harus berada dalam pengawasan. Ia melanjutkan sesi terapi bersama Dokter Laiyla dua minggu sekali di klinik pribadi milik sang dokter.
Berbagai pendekatan dilakukan Dokter Laiyla untuk dapat sekedar 'menjangkau' Anna dan masuk ke dalam zona pribadi gadis itu. Sulit pada awalnya, sebab di mata Anna, semua orang adalah musuh yang perlu diwaspadai. Namun kerja keras Dokter Laiyla membuahkan hasil. Kini Anna sudah cukup membuka diri padanya. Hanya sedikit. Namun celah kecil itu tak ingin disia-siakan oleh Dokter Laiyla.
Dokter paruh baya itu akhirnya menemukan adanya riwayat perundungan yang dialami oleh Anna. Tidak hanya sekali. Puncaknya perundungan yang dilakukan teman-temannya secara verbal di sekolah maupun di dunia maya. Dokter Laiyla berhasil menemukan jejak digital perundungan itu.
"Baik. Kalau begitu, kamu tunggu di sini. Sambil menunggu, kamu boleh menggambar. Aku punya setumpuk kertas gambar dan krayon di sini. Boleh kamu gunakan."
Dokter Laiyla berdiri, kemudian berjalan meninggalkan Anna. Ia menoleh sebentar sebelum membuka pintu. Mendapati Anna sedang memperhatikannya. Dokter Laiyla tersenyum lalu bergegas ke luar.
Dokter Laiyla masuk ke ruang lain di kliniknya. Beberapa orang menunggu di depan layar monitor. Ia segera menghampiri mereka.
"Sudah siap?" tanyanya.
"Pengamatan sudah dimulai," jawab salah seorang dari mereka sambil menunjuk layar monitor. Dokter Laiyla mendekat. Ia menatap layar sambil tersenyum lebar. Di sana terlihat Anna yang sedang menunduk di atas kertas gambar di meja kerja Dokter Laiyla. Tangannya bergerak mengguratkan crayon dengan lincah di atas permukaan kertas.
***
"Jadi, siapa dia?"
Dokter Laiyla menunjuk ke arah kertas gambar di tangannya. Itu gambar yang tadi dibuat Anna saat ia tinggalkan. Menggambar adalah hobby Anna yang berhasil diketahui Dokter Laiyla pada akhirnya. Boleh dibilang, itulah keahlian gadis itu. Dokter Laiyla mengagumi kehalusan gambar yang kini ada di tangannya.
Anna terlihat gelisah. Bibirnya terbuka, sepertinya dia masih ragu untuk menjawab. Dokter Laiyla mengalihkan pandangannya dari gambar. Ia menatap Anna lembut.
"Apakah itu kamu?" tanya Dokter Laiyla. Mata Anna mengerjap. Ia menatap Dokter Laiyla dengan pandangan penuh tanya.
"Bagaimana Dokter tahu?"
"Jadi benar itu kamu?" Dokter Laiyla kembali tersenyum. Ia melihat lagi gambar di tangannya. Seorang gadis sedang duduk dalam sebuah gelembung besar sambil menopangkan dagu pada lututnya. Gelembung itu melayang rendah, sementara di luar gelembung, banyak sekali orang mengelilinginya. Anna mengangguk.
"Itu aku," katanya lirih.
"Mengapa dalam gelembung? Apa kamu membayangkan berkeliling dunia dengan gelembung ini?" Pancing Dokter Laiyla. Anna menggeleng.
"Itu aku, Dok. Aku yang hidup dalam gelembung."
"Kamu apa?"
"Sejak dulu--" Anna terlihat ragu. Lama ia menatap Dokter Laiyla. Sang dokter memberi isyarat agar gadis itu tidak ragu-ragu untuk melanjutkan ceritanya. "Sejak dulu aku selalu merasa hidup dalam gelembung. Aku hidup bersama orang-orang, banyak orang, tetapi tak pernah benar-benar bersama. Aku ... ada gelembung transparan yang memisahkanku dengan mereka. Sekuat apa pun aku berusaha keluar, gelembung itu kembali memerangkapku." Anna terdiam sesaat. Sedikit terengah-engah. Berbicara cukup banyak rupa-rupanya menguras energi Anna.
"Aku tahu, sebagian orang menganggapku aneh. Pada akhirnya mereka membullyku karena itu. Mereka tidak tahu sekuat apa aku berusaha. Mereka tidak pernah mengerti. Akhirnya, aku merasa lebih nyaman berada dalam gelembungku. Aku membangun gelembung yang lebih kuat. Duduk memandang ke luar dari dalamnya. Tetapi mereka terus saja mengusikku. Menggangguku. Bahkan di dunia maya, tempat aku bisa sejenak keluar dari dalam gelembungku. Rasanya aku mau mati saja. Itulah yang sedang kulakukan sebelum mama menemukanku malam itu. Membawaku ke rumah sakit, dan akhirnya bertemu denganmu." Air mata Anna berderai.
Dokter Laiyla termenung. Jadi, itulah penyebabnya. Kalau begitu dugaannya tidak meleset. Perundungan selalu berdampak buruk bagi yang mengalaminya. Amat buruk. Sesaat ingatannya melayang ke waktu-waktu yang lampau. Kenangan pahit yang pernah ia alami sendiri. Dipandanginya wajah penuh air mata Anna. Kini ia dapat mengerti perasaan gadis yang ada di hadapannya.
"Anna. Tenanglah, kita akan menghadapi ini bersama-sama. Aku akan membantumu."
*Tamat*
Jumat, 05 Juni 2020
CERITA PENGANTAR TIDUR AYLA
#NAD_30HariMenulis2020
#Hari_ke_5
#NomorAbsen_222
Jumlah kata : 953 kata (hanya isi)
CERITA PENGANTAR TIDUR AYLA
"Pada zaman dahulu kala--"
"Mama, Ayla bosan!" Tiba-tiba saja Ayla menyela kalimatku.
"Eh?" Aku mengernyit heran.
"Pasti mama mau cerita kancil lagi, 'kan?"
"Bagaimana kamu tahu?" Aku mengubah posisiku menghadap ke arah Ayla.
"Itu tadi." Bibir mungi Ayla mengerucut.
"Itu apa?"
"Mama mengawali ceritanya dengan 'pada jaman dahulu kala,' itu pasti cerita kancil. Seperti cerita Mama kemarin-kemarin," protes gadis kecil itu. Aku terbahak.
"Jadi, kamu tidak mau kalau mama cerita kancil?" Kucubit ujung hidungnya dengan gemas.
"Tidak. Ayla bosan!" Ayla mengelak dari cubitanku yang berikutnya.
"Lalu kamu mau Mama cerita apa?"
"Mmm ... sebentar, Ayla pikir dulu." Mata Ayla mengerjap. Ia tampak berpikir keras.
"Apa?" Aku tak sabar.
"Mmm ... Ayla nggak tahu, Mama. Pokoknya Ayla mau Mama cerita yang seru. Jangan kancil melulu.
Lagi-lagi aku tergelak sambil mengacak rambut ikalnya. Bocah enam tahun itu ikut tertawa.
"Oke. Dengar ya, pada suatu hari--"
"Aaah, Mama jangan cerita itu." Lagi-lagi Ayla menyela kalimatku.
"Kenapa? Ini bukan cerita kancil," kataku.
"Iya, tahu, itu cerita kelinci lomba lari dengan kura-kura. Cerita itu juga sudah bosan Mama. Ayo cerita yang lain lagi." Ayla mulai merengek.
Aku menarik napas dalam-dalam sebelum mulai lagi mencoba menceritakan sebuah dongeng pada Ayla.
"Pada suatu hari di sebuah hutan ... "
"Itu cerita keluarga beruang! Ayla nggak mau!" Rengekan Ayla semakin menjadi. Fyuh, baiklah, aku menyerah.
"Mas! Mas Arshaka! Sini! Ini Ayla minta didongengi!"
Itu jurus terakhirku jika kewalahan menghadapi permintaan Ayla. Panggil saja papanya. Hahaha.
Mas Arsaka melongok dari ambang pintu. Ayla melonjak-lonjak senang menyambut kedatangannya. Aku segera saja menyingkir. Jika sudah begini, biarkan saja mereka menghabiskan waktu berdua. Aku? Ooo, aku bisa memanfaatkan waktu yang ada untuk merawat wajah atau apa di kamar sebelah. Me time. Haha.
*** *** ***
Aku baru saja akan membersihkan sisa-sisa masker di wajah saat Mas Arshaka masuk.
"Ayla sudah tidur?" tanyaku. Mas Arshaka mengangguk. "Kok lama?" Aku melirik jam yang menempel di dinding kamar. "Memang tadi cerita apa?"
"Kisah-kisah sahabat nabi."
"Waaah, untung ada kamu, Mas. Ayla sekarang nggak mau lagi diceritai dongeng-dongeng anak."
"Iya. Dia sudah mulai kritis. Tadi waktu aku sedang cerita pun banyak disela oleh Ayla. Bertanya itu ini, ini itu. Cerewetnya persis kamu." Aku tergelak mendengar ucapan Mas Arshaka.
"Makanya aku kewalahan akhir-akhir ini menghadapi Ayla menjelang waktu tidurnya," keluhku.
"Kenapa?" Mas Arshaka membaringkan tubuhnya di atas kasur. "Tinggal baca saja banyak buku--yang sesuai dengan usia Ayla tentu--lalu nanti kamu ceritakan ulang."
"Itu yang agak sulit, Mas. Aku nggak punya waktu untuk bisa membaca banyak buku."
"Nggak punya waktu atau nggak mau menyisihkan waktu?" Ejek Mas Arshaka sambil tersenyum lebar. Kulempar bantal ke arahnya. Dia mengelak sambil tertawa-tawa.
*** *** ***
"Yakin, nih, Ayla mau nginap di rumah Bimby seminggu?" Aku kembali bertanya pada Ayla saat mengantarnya ke teras rumah. Ayla mengangguk kuat.
Di halaman, adikku Kenanga dan anaknya Bimby menyambut Ayla.
"Udah, sih, Kak. Kayak mau melepas Ayla kemana aja. Dia kan cuma ke rumahku. Lagi pula hanya seminggu." katanya.
"Iya, iya, tapi nanti kalau dia rewel atau apa, telpon aku."
"Aman. Tapi kayaknya nggak deh. Lihat itu, malah sepertinya Ayla sudah nggak sabar."
"Yah, pokoknya, aku titip Ayla. Kalau ada apa-apa, kamu telepon aku."
"Siap! Aku pergi dulu, Kak. Eh, Ayla, salam dulu sama Mama ya." Kenanga mengingatkan Alya.
"Mama, Alya pergi ke rumah Bimby dulu ya. Daah, Mama!"
"Daah, Ayla. Baik-baik ya, di rumah Bimby. Nurut sama Tante!" seruku.
Aku masih melambaikan tangan saat mobil yang dikemudikan Kenanga menghilang di tikungan jalan. Setelahnya aku berbalik. Baru saja Ayla pergi, tapi rasa rindu sudah menyergap. Apalagi saat melihat rumah yang lengang, dengan mainan-mainan Ayla yang bertebaran di mana-mana.
Fyuh!
Ini pertama kali aku melepas Ayla jauh dariku. Untung ada Mas Arshaka yang selalu menenangkan.
"Sudahlah, biar. Sesekali Ayla jauh dari kita tidak apa-apa," katanya, "lagi pula, dia hanya di tempat adikmu. Bukan ke mana-mana. Lihat sisi positifnya saja."
"Apa?"
"Kamu jadi tidak perlu bingung-bingung lagi 'kan, mau bercerita apa pada Ayla sebagai pengantar tidurnya. Satu minggu bebas tugas loh." Mas Arshaka terbahak. Aku diam, tetapi dalam hati bersorak senang. Betul juga yang Mas Arshaka katakan.
Ternyata memang benar, aku tidak perlu merisaukan Ayla yang menginap di rumah adikku. Setiap hari Kenanga menelpon, melaporkan bahwa Ayla baik-baik saja. Saat kami melakukan video call, kulihat Ayla juga sangat ceria. Jadi ya, kuakui, kekhawatiranku memang berlebihan.
Satu minggu berlalu tanpa terasa. Mas Arshaka menjemput kembali Ayla. Bocah itu berlari sambil berteriak memanggilku saat ia tiba di rumah. Kami berpelukan erat seperti sudah seabad tak berjumpa.
Selama satu minggu ini, aku sudah membaca banyak kisah. Persediaan jika nanti Ayla memintaku bercerita menjelang dia tidur.
Waktunya tiba. Ayla sudah siap di pembaringannya. Selimut bergambar little pony sudah menyelubungi tubuh mungilnya.
"Mama, cerita dulu!"
Aha! Ini dia. Aku tersenyum lebar penuh percaya diri.
"Oke!" kataku. "Mama punya kisah yang bagus untuk Ayla."
"Oh ya?"
"Iya dong!"
"Mana?"
"Dengarkan ya. Alkisah, di suatu negeri di timur tengah sana--"
"Mama mau cerita tentang Aladin dan lampu wasiat?"
"Hah? Kok Ayla tahu?"
"Papa sudah pernah cerita itu," celetuk Ayla.
"Kalau kisah sahabat nabi?" tanyaku.
"Sahabat yang mana? Bilal sudah, Abbas ibnu firnas, Zaid bin Haritsah, Ham--"
"Semua sudah Ayla dengar?"
"Iya. Papa yang cerita. Mama cerita yang lain aja. Atau cerita-cerita kayak yang diceritakan Tante kemarin. Iya, Ma yang itu aja."
"Cerita apa?"
"Cerita seru, Ma. Ayla suka."
"Memangnya kemarin Tante Kenanga cerita apa?" Aku semakin penasaran.
"Ada banyak, Ma. Perebut Tanah Wakaf Mati Tersengat Listrik, Jenazahnya Hanyut; Penyiksa Anak Yatim Mati dengan Perut Membengkak Disengat Ribuan Tawon, Kerandanya Terkena Badai--"
"Stop, stop Ayla!" kataku. Ayla berhenti bicara. Aku memberi isyarat agar dia tetap di tempat. Kusambar ponsel lalu bergegas ke luar sambil menekan nomor Kenanga.
"Assalamualaikum! Halo, Ka--"
"Kenapa anakku kamu cekokin cerita-cerita azab ala sinetron ikan terbang?"
Tuuut, tuut, tuuut
Apa dimatikan?
"Awas kamu, Kenangaaaa!"
*Tumit*
#Hari_ke_5
#NomorAbsen_222
Jumlah kata : 953 kata (hanya isi)
CERITA PENGANTAR TIDUR AYLA
"Pada zaman dahulu kala--"
"Mama, Ayla bosan!" Tiba-tiba saja Ayla menyela kalimatku.
"Eh?" Aku mengernyit heran.
"Pasti mama mau cerita kancil lagi, 'kan?"
"Bagaimana kamu tahu?" Aku mengubah posisiku menghadap ke arah Ayla.
"Itu tadi." Bibir mungi Ayla mengerucut.
"Itu apa?"
"Mama mengawali ceritanya dengan 'pada jaman dahulu kala,' itu pasti cerita kancil. Seperti cerita Mama kemarin-kemarin," protes gadis kecil itu. Aku terbahak.
"Jadi, kamu tidak mau kalau mama cerita kancil?" Kucubit ujung hidungnya dengan gemas.
"Tidak. Ayla bosan!" Ayla mengelak dari cubitanku yang berikutnya.
"Lalu kamu mau Mama cerita apa?"
"Mmm ... sebentar, Ayla pikir dulu." Mata Ayla mengerjap. Ia tampak berpikir keras.
"Apa?" Aku tak sabar.
"Mmm ... Ayla nggak tahu, Mama. Pokoknya Ayla mau Mama cerita yang seru. Jangan kancil melulu.
Lagi-lagi aku tergelak sambil mengacak rambut ikalnya. Bocah enam tahun itu ikut tertawa.
"Oke. Dengar ya, pada suatu hari--"
"Aaah, Mama jangan cerita itu." Lagi-lagi Ayla menyela kalimatku.
"Kenapa? Ini bukan cerita kancil," kataku.
"Iya, tahu, itu cerita kelinci lomba lari dengan kura-kura. Cerita itu juga sudah bosan Mama. Ayo cerita yang lain lagi." Ayla mulai merengek.
Aku menarik napas dalam-dalam sebelum mulai lagi mencoba menceritakan sebuah dongeng pada Ayla.
"Pada suatu hari di sebuah hutan ... "
"Itu cerita keluarga beruang! Ayla nggak mau!" Rengekan Ayla semakin menjadi. Fyuh, baiklah, aku menyerah.
"Mas! Mas Arshaka! Sini! Ini Ayla minta didongengi!"
Itu jurus terakhirku jika kewalahan menghadapi permintaan Ayla. Panggil saja papanya. Hahaha.
Mas Arsaka melongok dari ambang pintu. Ayla melonjak-lonjak senang menyambut kedatangannya. Aku segera saja menyingkir. Jika sudah begini, biarkan saja mereka menghabiskan waktu berdua. Aku? Ooo, aku bisa memanfaatkan waktu yang ada untuk merawat wajah atau apa di kamar sebelah. Me time. Haha.
*** *** ***
Aku baru saja akan membersihkan sisa-sisa masker di wajah saat Mas Arshaka masuk.
"Ayla sudah tidur?" tanyaku. Mas Arshaka mengangguk. "Kok lama?" Aku melirik jam yang menempel di dinding kamar. "Memang tadi cerita apa?"
"Kisah-kisah sahabat nabi."
"Waaah, untung ada kamu, Mas. Ayla sekarang nggak mau lagi diceritai dongeng-dongeng anak."
"Iya. Dia sudah mulai kritis. Tadi waktu aku sedang cerita pun banyak disela oleh Ayla. Bertanya itu ini, ini itu. Cerewetnya persis kamu." Aku tergelak mendengar ucapan Mas Arshaka.
"Makanya aku kewalahan akhir-akhir ini menghadapi Ayla menjelang waktu tidurnya," keluhku.
"Kenapa?" Mas Arshaka membaringkan tubuhnya di atas kasur. "Tinggal baca saja banyak buku--yang sesuai dengan usia Ayla tentu--lalu nanti kamu ceritakan ulang."
"Itu yang agak sulit, Mas. Aku nggak punya waktu untuk bisa membaca banyak buku."
"Nggak punya waktu atau nggak mau menyisihkan waktu?" Ejek Mas Arshaka sambil tersenyum lebar. Kulempar bantal ke arahnya. Dia mengelak sambil tertawa-tawa.
*** *** ***
"Yakin, nih, Ayla mau nginap di rumah Bimby seminggu?" Aku kembali bertanya pada Ayla saat mengantarnya ke teras rumah. Ayla mengangguk kuat.
Di halaman, adikku Kenanga dan anaknya Bimby menyambut Ayla.
"Udah, sih, Kak. Kayak mau melepas Ayla kemana aja. Dia kan cuma ke rumahku. Lagi pula hanya seminggu." katanya.
"Iya, iya, tapi nanti kalau dia rewel atau apa, telpon aku."
"Aman. Tapi kayaknya nggak deh. Lihat itu, malah sepertinya Ayla sudah nggak sabar."
"Yah, pokoknya, aku titip Ayla. Kalau ada apa-apa, kamu telepon aku."
"Siap! Aku pergi dulu, Kak. Eh, Ayla, salam dulu sama Mama ya." Kenanga mengingatkan Alya.
"Mama, Alya pergi ke rumah Bimby dulu ya. Daah, Mama!"
"Daah, Ayla. Baik-baik ya, di rumah Bimby. Nurut sama Tante!" seruku.
Aku masih melambaikan tangan saat mobil yang dikemudikan Kenanga menghilang di tikungan jalan. Setelahnya aku berbalik. Baru saja Ayla pergi, tapi rasa rindu sudah menyergap. Apalagi saat melihat rumah yang lengang, dengan mainan-mainan Ayla yang bertebaran di mana-mana.
Fyuh!
Ini pertama kali aku melepas Ayla jauh dariku. Untung ada Mas Arshaka yang selalu menenangkan.
"Sudahlah, biar. Sesekali Ayla jauh dari kita tidak apa-apa," katanya, "lagi pula, dia hanya di tempat adikmu. Bukan ke mana-mana. Lihat sisi positifnya saja."
"Apa?"
"Kamu jadi tidak perlu bingung-bingung lagi 'kan, mau bercerita apa pada Ayla sebagai pengantar tidurnya. Satu minggu bebas tugas loh." Mas Arshaka terbahak. Aku diam, tetapi dalam hati bersorak senang. Betul juga yang Mas Arshaka katakan.
Ternyata memang benar, aku tidak perlu merisaukan Ayla yang menginap di rumah adikku. Setiap hari Kenanga menelpon, melaporkan bahwa Ayla baik-baik saja. Saat kami melakukan video call, kulihat Ayla juga sangat ceria. Jadi ya, kuakui, kekhawatiranku memang berlebihan.
Satu minggu berlalu tanpa terasa. Mas Arshaka menjemput kembali Ayla. Bocah itu berlari sambil berteriak memanggilku saat ia tiba di rumah. Kami berpelukan erat seperti sudah seabad tak berjumpa.
Selama satu minggu ini, aku sudah membaca banyak kisah. Persediaan jika nanti Ayla memintaku bercerita menjelang dia tidur.
Waktunya tiba. Ayla sudah siap di pembaringannya. Selimut bergambar little pony sudah menyelubungi tubuh mungilnya.
"Mama, cerita dulu!"
Aha! Ini dia. Aku tersenyum lebar penuh percaya diri.
"Oke!" kataku. "Mama punya kisah yang bagus untuk Ayla."
"Oh ya?"
"Iya dong!"
"Mana?"
"Dengarkan ya. Alkisah, di suatu negeri di timur tengah sana--"
"Mama mau cerita tentang Aladin dan lampu wasiat?"
"Hah? Kok Ayla tahu?"
"Papa sudah pernah cerita itu," celetuk Ayla.
"Kalau kisah sahabat nabi?" tanyaku.
"Sahabat yang mana? Bilal sudah, Abbas ibnu firnas, Zaid bin Haritsah, Ham--"
"Semua sudah Ayla dengar?"
"Iya. Papa yang cerita. Mama cerita yang lain aja. Atau cerita-cerita kayak yang diceritakan Tante kemarin. Iya, Ma yang itu aja."
"Cerita apa?"
"Cerita seru, Ma. Ayla suka."
"Memangnya kemarin Tante Kenanga cerita apa?" Aku semakin penasaran.
"Ada banyak, Ma. Perebut Tanah Wakaf Mati Tersengat Listrik, Jenazahnya Hanyut; Penyiksa Anak Yatim Mati dengan Perut Membengkak Disengat Ribuan Tawon, Kerandanya Terkena Badai--"
"Stop, stop Ayla!" kataku. Ayla berhenti bicara. Aku memberi isyarat agar dia tetap di tempat. Kusambar ponsel lalu bergegas ke luar sambil menekan nomor Kenanga.
"Assalamualaikum! Halo, Ka--"
"Kenapa anakku kamu cekokin cerita-cerita azab ala sinetron ikan terbang?"
Tuuut, tuut, tuuut
Apa dimatikan?
"Awas kamu, Kenangaaaa!"
*Tumit*
Kamis, 07 Mei 2020
AKU INGIN PULANG
AKU INGIN PULANG
#Cerpen_LilyNDMadjid
BRAKKK!
Gayatri tergugu saat Pramudya, suaminya, membanting pintu di depan wajahnya. Perempuan dua puluh tiga tahun itu tersedu sambil memegangi kedua pipinya yang memerah. Sakit terasa. Tetapi lebih sakit lagi di sini, di dalam dadanya. Ini bukan pertama kalinya Pramudya mengamuk mencaci-maki dirinya, atau meninggalkan bekas pukulan di tubuh perempuan itu.
Pramudya memang lelaki yang temperamental. Hal-hal kecil saja mampu menyulut amarahnya. Masakan yang kurang asin, mainan anak yang berserak, dan hal-hal remeh lainnya sanggup membuatnya melontarkan kata-kata kasar. Apalah lagi saat dilihat ada chat dari lelaki lain di ponsel Gayatri.
Ya. Itulah sumber kemurkaan Pramudya hari ini. Ia mendapati pesan dari seorang lelaki di aplikasi perpesanan ponsel Gayatri. Padahal Gayatri sendiri tak tahu menahu soal itu. Ia belum sempat menyentuh benda pipih itu hari ini. Pekerjaan rumah tangga dan anak sudah cukup menyita waktunya.
“Siapa lelaki itu?” Begitu tadi Pramudya membentak dengan mata berkilat-kilat saat Gayatri sedang menyapu lantai kamar.
“Lelaki apa, Mas?”
“Jangan berpura-pura bodoh! Di belakangku kau asyik chat dengan lelaki lain rupanya!” Amarah Pramudya semakin menjadi. Kali ini jari-jarinya meraih wajah Gayatri dan menekannya kuat-kuat. Gayatri meringis menahan nyeri yang seketika menjalar di wajah. Air matanya mengalir tanpa ia inginkan.
“Aku, aku tidak--”
“Cih! Jangan menyangkal! Ini buktinya!” teriak Pramudya sambil menyodorkan ponsel Gayatri ke depan wajah pemiliknya, kemudian membantingnya ke lantai. Benda itu mendarat dengan mengeluarkan suara keras. Air mata Gayatri mengalir semakin deras.
*** *** ***
Aksana memandangi layar ponselnya lekat-lekat. Mambaca lagi pesan yang dikirimnya pada Gayatri beberapa hari yang lalu. Tanda centang dua berwarna biru sudah terlihat di sana. Tetapi, kenapa Gayatri tidak juga membalasnya? Aksana menatap lagi pesan itu.
Delapan pesan. Semuanya ia kirim dengan selang waktu beberapa jam setiap pesannya. Menunggu jawaban. Tetapi pesan-pesan itu tak berbalas. Lupakah Gayatri pada dirinya? Atau marah? Ah, sebenarnya wajar saja jika Gayatri marah atau malah membencinya. Semua ini salahnya.
Aksana mengacak rambut sebahunya. Perasaan lelaki bertubuh tegap itu campur aduk. Kesal, marah, sedih, juga rindu. Rindu pada Gayatri. Pikirannya mendadak melayang ke tahun-tahun yang telah berlalu. Berapa tahunkah? Empat? Atau lima tahun pertemuan terakhirnya dengan perempuan berwajah manis itu?
*** *** ***
Matahari mulai condong ke arah barat. Panasnya tak lagi membakar seperti saat siang tadi. Angin bertiup semilir memberikan kesejukan. Tetapi di suatu tempat, dua anak muda justru terjerat gundah. Gayatri duduk di lantai bambu sebuah dangau. Terisak-isak. Di hadapannya Aksana menunduk lesu.
“Tak ada jalan lain, aku harus pergi, Atri,” gumam Aksana serupa keluhan. Gayatri tak menyahut. Tangisnya semakin larut.
Aksana meraih tangan Gayatri. Tetapi gadis belia itu menepisnya. Aksana menarik nafas panjang.
“Benarkah tak ada jalan lain?” Terbata-bata Gayatri berkata.
“Apalagi? Aku sudah berusaha. Tapi tetap saja hasilnya tak sesuai dengan keinginan orangtuamu, kan?” gumam Aksana. Ada gurat nyeri di sudut hatinya, juga sekilat rasa terhina mengingat penolakan orangtua Gayatri saat mereka mengetahui hubungan antara dia dan Gayatri.
Aksana tahu apa yang membuat orangtua Gayatri tak menerimanya. Apalagi? Semua orang di desa itu tahu statusnya, yang hanya seorang pemuda miskin dengan orangtua yang juga miskin, hanya buruh pekerja tuan-tuan tanah di desa itu. Turun temurun hidup dalam kemiskinan belaka. Bukan pemuda seperti itu yang diharapkan orangtua Gayatri untuk dijadikan calon menantu.
Aksana otomatis tersingkir. Tak peduli sekuat apapun ia dan Gayatri saling mencinta. Kedua orang tua Gayatri benar-benar menutup semua pintu kesempatan untuk Aksana. Tapi Aksana tak mau begitu saja menyerah. Ia bertekad akan memenuhi apa yang diinginkan orang tua Gayatri.
Jika desa ini tak memungkinkan dia untuk mewujudkan semua cita-citanya itu, ibukota ia yakini bisa menjadi jalan untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Terutama mimpi terbesar Aksana. Menyunting Gayatri.
Tetapi realita tak selalu sejalan dengan harapan, bukan? Itulah keadaan yang kerap terjadi. Dan begitulah yang Aksana alami. Ungkapan ibukota lebih kejam dari ibu tiri bukan sekedar ungkapan semata. Tetapi memang begitulah adanya. Ibukota yang keras dan garang telah menghempaskan mimpi-mimpi Aksana ke jurang terdalam.
Ibukota memaksanya terbungkuk dan merangkak, menahan beban demi bertahan hidup. Bertahun-tahun ia bertahan, hingga keputusasaan menyergapnya kemudian. Mencabik-cabik dan mengoyak-moyakkan keyakinan juga tekadnya yang semula baja. Keputus-asaan itu jugalah yang akhirnya mengubah Aksana, menjadi bajingan di belantara kota.
*** *** ***
Gayatri menatap lekat telepon genggam di tangannya. Terpampang pesan dari Aksana beberapa waktu lalu. Pesan yang membuat suaminya murka. Tak pernah ia balas. Untuk apa? Toh semua sudah berakhir. Walau tak dapat dipungkiri, masih ada gelenyar dalam dadanya, bercampur rasa nyeri yang samar.
“Aksana …” bibirnya mengeja tanpa suara.
Tangannya bergerak pada keypad telepon pintarnya. Gayatri ingin menghapus saja pesan itu. Toh tak ada gunanya tetap di sana. Ia tak akan pernah membalasnya. Membalas pesan Aksana sama saja mendatangkan murka Pramudya. Gayatri tak ingin itu terjadi. Ditambah lagi, Gayatri menganggap sudah tak ada lagi cerita antara ia dan Aksana.
“Semua sudah berakhir, Mas,” Bisiknya. Airmatanya menetes. Air mata yang ia benci karena membuatnya terlihat begitu lemah. Walaupun sebenarnya airmatalah yang selalu hadir menemaninya. Menemani hari-hari kelam dalam hidupnya.
Dulu, setelah mengucap janji akan segera kembali, Aksana pergi. Membiarkan Gayatri menunggunya dari hari ke hari. Hingga tahun-tahun berganti, Aksana bagai ditelan Bumi. Tak ada kabar, apalah lagi menepati janji. Gayatri hanya bisa pasrah saat orangtuanya menerima pinangan Pramudya, seorang pemuda berada yang orangtuanya keturunan priyayi. Walau kemudian ternyata, pernikahan itu tak pernah berjalan seperti yang diharapkan Gayatri.
*** *** ***
♫♪ Ramadhan tiba, ramadhan tiba, ramadhan tiba
Marhaban yaa Ramadhan, Marhaban yaa Ramadhan ♪♫
Aksana tertegun mendengar alunan lagu yang lamat-lamat sampai di telinganya. Ia ingat, Antasena adik semata wayangnya dulu sering sekali menyanyikan lagu ini setiap kali Ramadhan datang menjelang. Sudah dekatkah Ramadhan ini?
Aksana mendekati kalender yang terpaku di dinding dekat jendela kamar kontrakannya. Ah, rupanya Ramadhan memang akan segera tiba. Pantas saja. Aksana termenung, sebuah pemikiran tiba-tiba melintas di kepalanya. Apakah kali ini akan ia lewati seperti Ramadhan-Ramadhan sebelumnya? Sendiri tanpa sesiapa?
Entah kenapa tiba-tiba Aksana dilanda rindu. Ia merindukan suasana Ramadhan di kampungnya yang begitu meriah. Semua orang selalu bersuka cita menyambut Ramadhan. Anak-anak hingga orang dewasa selalu antusias pergi ke masjid malam hari. Salat tarawih, tadarus, memakmurkan masjid. Dan yang paling seru, untuk anak-anak dan para pemuda adalah saat berkeliling desa untuk membangunkan orang sahur. Ah, menyenangkan, dan ia adalah bagian dari semua itu dulu.
Ada yang membuncah di relung hati Aksana. Lima ramadhan telah berlalu. Terbayang dalam benak Aksana wajah emak dan bapaknya. Lima tahun tak berjumpa. Lima tahun tanpa berita. Seperti apa mereka kini? Sehatkah? Lalu Antasena? Tentu dia sudah besar sekarang. Tak pernah berkabar bukan karena tak ingin. Tetapi ia malu. Sebab mimpinya belum lagi tergapai. Bahkan ia malah seperti ini kini. Malu pada keluarganya juga pada … Gayatri. Ah, Gayatri. Seperti apa dia kini? Marni bilang dia sudah menikah. Biarlah. Itu lebih baik untuknya.
TOK, TOK, TOK!
Pintu terbuka saat Aksana baru saja akan membuka mulut untuk bertanya siapa di luar.
“Bro! Ngapain lu?” satu sosok tinggi kurus masuk tanpa melepas sepatunya. Langsung membaringkan diri di atas kasur yang terbentang di sisi ruangan.
“Nggak ngapa-ngapain. Lagi suntuk aja gue.” Balas Aksana tanpa semangat.
“Suntuk kenapa?”
“Aah, nggak sih. Tiba-tiba aja gue keingetan sama ortu. Udah bertahun-tahun kan, gue gak balik kampung.”
“Ahahahah … ngapa jadi melow banget sih lu? Kayak bukan laki aja.”
“Auk ah! Emang lu gak pernah apa, ngerasa kangen sama keluarga lu? Pengen pulang. Pengen ngerasain lebaran di rumah lagi,”
“Hah? Enggak tuh! Hahahah …”
“Ah, dasar lu, anak durhaka.”
“Ahahahah …Bodo amat! Eh, Bro! Kita operasi yuk.”
“Lagi males gue.”
“Ah, elu. Males lu piara. Ayolah, gua udah bokek berat ini. Kantong kosong kering kerontang. Katanya lu kangen ortu lu juga. Satu dua orang mangsa aja dah kalo lu males. Lumayan bisa buat ongkos lu mudik.
Aksana termenung. Suasana lebaran di kampungnya terbayang lagi. Senyuman emak. Tawa ceria bapak dan adiknya melintas di pelupuk mata. Akhirnya Aksana mengangguk.
“Iyalah, yuk!” Katanya kemudian. “Buat ongkos mudik,” katanya lagi dalam gumaman.
*** *** ***
. “Atri! Atri!”
“Ya, Mas.” Tergopoh-gopoh Gayatri meninggalkan dapur.
“Hih! Lama betul kalau dipanggil.” Pramudya menggerutu sambil menatap Gayatri masam. “Atri, dengar! Orangtuaku mau datang, mereka mau menginap agak lama. Mungkin berlebaran di sini.”
“Oh? Tapi Mas bilang kemarin, kita yang akan pulang.”
“Memangnya kenapa kalau orangtuaku yang datang berkunjung dan ikut berlebaran di sini? Hah? Kau nggak suka?”
“Bukan, bukan begitu, Mas. Tapi …”
“Sudah jangan banyak omong! Pergi ke pasar sana, beli semua persiapan untuk menyambut ibu bapakku. Masak makanan kesukaan mereka!”
*** *** ***
Gayatri melajukan sepeda motornya perlahan. Di balik kaca helmnya, matanya berkaca-kaca. Bukan dia tak suka mertuanya datang berkunjung. Tetapi, beberapa hari lalu Pramudya sudah sepakat bahwa tahun ini mereka yang akan pulang kampung.
Sudah empat tahun mereka tak pulang. Gayatri rindu orangtuanya di kampung sana. Beberapa waktu lalu ibunya menelpon agar Gayatri pulang menjelang Ramadhan, dan munggahan bersama mereka. Tapi kini, sepertinya niatan itu harus dikuburnya dalam-dalam.
Tiba-tiba Gayatri dikejutkan dengan munculnya satu sepeda motor yang menjajari laju motor maticnya. Lama kelamaan motor yang ditumpangi dua lelaki berpakaian hitam dengan helm fullface itu memepetnya. Jantung Gayatri berdegup kencang. Begal?
Konsentrasi Gayatri buyar. Motornya oleng lalu ia terjatuh. Satu lelaki berbadan kurus kerempeng turun menghampiri Gayatri yang masih terhimpit sepeda motornya sendiri. lelaki itu menarik tas yang masih terselempang di bahu Gayatri. Refleks Gayatri mempertahankan harta miliknya itu. Ia bahkan nekat berteriak-teriak minta tolong.
Sejenak lelaki itu panik, ia mengayunkan tinjunya ke arah wajah Gayatri. Kaca depan helm lepas dan terpental. Bibir Gayatri pecah terkena bogem mentah. Gayatri masih juga menjerit-jerit. Lelaki ceking itu semakin panik dan emosi, ia mencabut sesuatu yang berkilat dari pinggangnya, mengayunkannya ke arah Gayatri. Belati. Benda itu menancap tepat di dada perempuan yang masih sempat menjerit sebelum rebah ke bumi.
Darah bersimbah. Secepat kilat si ceking menarik lepas tas dari tangan Gayatri. Ia bergegas ke arah temannya yang pucat menyaksikan.
“Cabut, Bro!” kata si ceking, membuang tas Gayatri setelah mengambil isinya. Sebuah dompet dan ponsel.
“Dia, dia … mati?” tanya temannya. Suara lelaki itu bergetar.
“Gak tau. Cepetan cabut sebelum ada yang datang,”
“Kenapa sampai lu abisin cewek itu?”
“Cerewet lu, Bro! Buruan kabur!”
Gemetar pria di atas motor itu melajukan kendaraannya meninggalkan Gayatri yang tergeletak entah hidup ataukah mati. Entah kenapa, perasaan lelaki itu jadi kacau. Sebelumnya, ia tak pernah benar-benar melukai korban-korbannya selama ini. Namun kini, melihat belati itu menancap di dada perempuan itu, hatinya menjadi ngeri, juga cemas. Lalu wajah itu, dia seperti … pernah mengenalnya.
*** *** ***
Suara adzan berkumandang, terdengar sayup-sayup di kejauhan. Mata Aksana terpejam. setetes air jatuh di sela-selanya. Bahunya bergetar. Ia tak pulang lagi Ramadhan ini. Namun bukan itu yang membuatnya menangis. Bayangan wajah seorang perempuan dengan ekspresi kesakitan itulah yang membuatnya terguncang. Ya, ia mengenali wajah itu sekarang. Wajah Gayatri.
“Cepat menuju masjid! Tarawih berjamaah dan ada bimbingan rohani malam ini!” Suara teriakan sipir bergema di lorong-lorong bangsal tahanan. Sementara Aksana tenggelam dalam penyesalan.
****TAMAT****
#Cerpen_LilyNDMadjid
BRAKKK!
Gayatri tergugu saat Pramudya, suaminya, membanting pintu di depan wajahnya. Perempuan dua puluh tiga tahun itu tersedu sambil memegangi kedua pipinya yang memerah. Sakit terasa. Tetapi lebih sakit lagi di sini, di dalam dadanya. Ini bukan pertama kalinya Pramudya mengamuk mencaci-maki dirinya, atau meninggalkan bekas pukulan di tubuh perempuan itu.
Pramudya memang lelaki yang temperamental. Hal-hal kecil saja mampu menyulut amarahnya. Masakan yang kurang asin, mainan anak yang berserak, dan hal-hal remeh lainnya sanggup membuatnya melontarkan kata-kata kasar. Apalah lagi saat dilihat ada chat dari lelaki lain di ponsel Gayatri.
Ya. Itulah sumber kemurkaan Pramudya hari ini. Ia mendapati pesan dari seorang lelaki di aplikasi perpesanan ponsel Gayatri. Padahal Gayatri sendiri tak tahu menahu soal itu. Ia belum sempat menyentuh benda pipih itu hari ini. Pekerjaan rumah tangga dan anak sudah cukup menyita waktunya.
“Siapa lelaki itu?” Begitu tadi Pramudya membentak dengan mata berkilat-kilat saat Gayatri sedang menyapu lantai kamar.
“Lelaki apa, Mas?”
“Jangan berpura-pura bodoh! Di belakangku kau asyik chat dengan lelaki lain rupanya!” Amarah Pramudya semakin menjadi. Kali ini jari-jarinya meraih wajah Gayatri dan menekannya kuat-kuat. Gayatri meringis menahan nyeri yang seketika menjalar di wajah. Air matanya mengalir tanpa ia inginkan.
“Aku, aku tidak--”
“Cih! Jangan menyangkal! Ini buktinya!” teriak Pramudya sambil menyodorkan ponsel Gayatri ke depan wajah pemiliknya, kemudian membantingnya ke lantai. Benda itu mendarat dengan mengeluarkan suara keras. Air mata Gayatri mengalir semakin deras.
*** *** ***
Aksana memandangi layar ponselnya lekat-lekat. Mambaca lagi pesan yang dikirimnya pada Gayatri beberapa hari yang lalu. Tanda centang dua berwarna biru sudah terlihat di sana. Tetapi, kenapa Gayatri tidak juga membalasnya? Aksana menatap lagi pesan itu.
Delapan pesan. Semuanya ia kirim dengan selang waktu beberapa jam setiap pesannya. Menunggu jawaban. Tetapi pesan-pesan itu tak berbalas. Lupakah Gayatri pada dirinya? Atau marah? Ah, sebenarnya wajar saja jika Gayatri marah atau malah membencinya. Semua ini salahnya.
Aksana mengacak rambut sebahunya. Perasaan lelaki bertubuh tegap itu campur aduk. Kesal, marah, sedih, juga rindu. Rindu pada Gayatri. Pikirannya mendadak melayang ke tahun-tahun yang telah berlalu. Berapa tahunkah? Empat? Atau lima tahun pertemuan terakhirnya dengan perempuan berwajah manis itu?
*** *** ***
Matahari mulai condong ke arah barat. Panasnya tak lagi membakar seperti saat siang tadi. Angin bertiup semilir memberikan kesejukan. Tetapi di suatu tempat, dua anak muda justru terjerat gundah. Gayatri duduk di lantai bambu sebuah dangau. Terisak-isak. Di hadapannya Aksana menunduk lesu.
“Tak ada jalan lain, aku harus pergi, Atri,” gumam Aksana serupa keluhan. Gayatri tak menyahut. Tangisnya semakin larut.
Aksana meraih tangan Gayatri. Tetapi gadis belia itu menepisnya. Aksana menarik nafas panjang.
“Benarkah tak ada jalan lain?” Terbata-bata Gayatri berkata.
“Apalagi? Aku sudah berusaha. Tapi tetap saja hasilnya tak sesuai dengan keinginan orangtuamu, kan?” gumam Aksana. Ada gurat nyeri di sudut hatinya, juga sekilat rasa terhina mengingat penolakan orangtua Gayatri saat mereka mengetahui hubungan antara dia dan Gayatri.
Aksana tahu apa yang membuat orangtua Gayatri tak menerimanya. Apalagi? Semua orang di desa itu tahu statusnya, yang hanya seorang pemuda miskin dengan orangtua yang juga miskin, hanya buruh pekerja tuan-tuan tanah di desa itu. Turun temurun hidup dalam kemiskinan belaka. Bukan pemuda seperti itu yang diharapkan orangtua Gayatri untuk dijadikan calon menantu.
Aksana otomatis tersingkir. Tak peduli sekuat apapun ia dan Gayatri saling mencinta. Kedua orang tua Gayatri benar-benar menutup semua pintu kesempatan untuk Aksana. Tapi Aksana tak mau begitu saja menyerah. Ia bertekad akan memenuhi apa yang diinginkan orang tua Gayatri.
Jika desa ini tak memungkinkan dia untuk mewujudkan semua cita-citanya itu, ibukota ia yakini bisa menjadi jalan untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Terutama mimpi terbesar Aksana. Menyunting Gayatri.
Tetapi realita tak selalu sejalan dengan harapan, bukan? Itulah keadaan yang kerap terjadi. Dan begitulah yang Aksana alami. Ungkapan ibukota lebih kejam dari ibu tiri bukan sekedar ungkapan semata. Tetapi memang begitulah adanya. Ibukota yang keras dan garang telah menghempaskan mimpi-mimpi Aksana ke jurang terdalam.
Ibukota memaksanya terbungkuk dan merangkak, menahan beban demi bertahan hidup. Bertahun-tahun ia bertahan, hingga keputusasaan menyergapnya kemudian. Mencabik-cabik dan mengoyak-moyakkan keyakinan juga tekadnya yang semula baja. Keputus-asaan itu jugalah yang akhirnya mengubah Aksana, menjadi bajingan di belantara kota.
*** *** ***
Gayatri menatap lekat telepon genggam di tangannya. Terpampang pesan dari Aksana beberapa waktu lalu. Pesan yang membuat suaminya murka. Tak pernah ia balas. Untuk apa? Toh semua sudah berakhir. Walau tak dapat dipungkiri, masih ada gelenyar dalam dadanya, bercampur rasa nyeri yang samar.
“Aksana …” bibirnya mengeja tanpa suara.
Tangannya bergerak pada keypad telepon pintarnya. Gayatri ingin menghapus saja pesan itu. Toh tak ada gunanya tetap di sana. Ia tak akan pernah membalasnya. Membalas pesan Aksana sama saja mendatangkan murka Pramudya. Gayatri tak ingin itu terjadi. Ditambah lagi, Gayatri menganggap sudah tak ada lagi cerita antara ia dan Aksana.
“Semua sudah berakhir, Mas,” Bisiknya. Airmatanya menetes. Air mata yang ia benci karena membuatnya terlihat begitu lemah. Walaupun sebenarnya airmatalah yang selalu hadir menemaninya. Menemani hari-hari kelam dalam hidupnya.
Dulu, setelah mengucap janji akan segera kembali, Aksana pergi. Membiarkan Gayatri menunggunya dari hari ke hari. Hingga tahun-tahun berganti, Aksana bagai ditelan Bumi. Tak ada kabar, apalah lagi menepati janji. Gayatri hanya bisa pasrah saat orangtuanya menerima pinangan Pramudya, seorang pemuda berada yang orangtuanya keturunan priyayi. Walau kemudian ternyata, pernikahan itu tak pernah berjalan seperti yang diharapkan Gayatri.
*** *** ***
♫♪ Ramadhan tiba, ramadhan tiba, ramadhan tiba
Marhaban yaa Ramadhan, Marhaban yaa Ramadhan ♪♫
Aksana tertegun mendengar alunan lagu yang lamat-lamat sampai di telinganya. Ia ingat, Antasena adik semata wayangnya dulu sering sekali menyanyikan lagu ini setiap kali Ramadhan datang menjelang. Sudah dekatkah Ramadhan ini?
Aksana mendekati kalender yang terpaku di dinding dekat jendela kamar kontrakannya. Ah, rupanya Ramadhan memang akan segera tiba. Pantas saja. Aksana termenung, sebuah pemikiran tiba-tiba melintas di kepalanya. Apakah kali ini akan ia lewati seperti Ramadhan-Ramadhan sebelumnya? Sendiri tanpa sesiapa?
Entah kenapa tiba-tiba Aksana dilanda rindu. Ia merindukan suasana Ramadhan di kampungnya yang begitu meriah. Semua orang selalu bersuka cita menyambut Ramadhan. Anak-anak hingga orang dewasa selalu antusias pergi ke masjid malam hari. Salat tarawih, tadarus, memakmurkan masjid. Dan yang paling seru, untuk anak-anak dan para pemuda adalah saat berkeliling desa untuk membangunkan orang sahur. Ah, menyenangkan, dan ia adalah bagian dari semua itu dulu.
Ada yang membuncah di relung hati Aksana. Lima ramadhan telah berlalu. Terbayang dalam benak Aksana wajah emak dan bapaknya. Lima tahun tak berjumpa. Lima tahun tanpa berita. Seperti apa mereka kini? Sehatkah? Lalu Antasena? Tentu dia sudah besar sekarang. Tak pernah berkabar bukan karena tak ingin. Tetapi ia malu. Sebab mimpinya belum lagi tergapai. Bahkan ia malah seperti ini kini. Malu pada keluarganya juga pada … Gayatri. Ah, Gayatri. Seperti apa dia kini? Marni bilang dia sudah menikah. Biarlah. Itu lebih baik untuknya.
TOK, TOK, TOK!
Pintu terbuka saat Aksana baru saja akan membuka mulut untuk bertanya siapa di luar.
“Bro! Ngapain lu?” satu sosok tinggi kurus masuk tanpa melepas sepatunya. Langsung membaringkan diri di atas kasur yang terbentang di sisi ruangan.
“Nggak ngapa-ngapain. Lagi suntuk aja gue.” Balas Aksana tanpa semangat.
“Suntuk kenapa?”
“Aah, nggak sih. Tiba-tiba aja gue keingetan sama ortu. Udah bertahun-tahun kan, gue gak balik kampung.”
“Ahahahah … ngapa jadi melow banget sih lu? Kayak bukan laki aja.”
“Auk ah! Emang lu gak pernah apa, ngerasa kangen sama keluarga lu? Pengen pulang. Pengen ngerasain lebaran di rumah lagi,”
“Hah? Enggak tuh! Hahahah …”
“Ah, dasar lu, anak durhaka.”
“Ahahahah …Bodo amat! Eh, Bro! Kita operasi yuk.”
“Lagi males gue.”
“Ah, elu. Males lu piara. Ayolah, gua udah bokek berat ini. Kantong kosong kering kerontang. Katanya lu kangen ortu lu juga. Satu dua orang mangsa aja dah kalo lu males. Lumayan bisa buat ongkos lu mudik.
Aksana termenung. Suasana lebaran di kampungnya terbayang lagi. Senyuman emak. Tawa ceria bapak dan adiknya melintas di pelupuk mata. Akhirnya Aksana mengangguk.
“Iyalah, yuk!” Katanya kemudian. “Buat ongkos mudik,” katanya lagi dalam gumaman.
*** *** ***
. “Atri! Atri!”
“Ya, Mas.” Tergopoh-gopoh Gayatri meninggalkan dapur.
“Hih! Lama betul kalau dipanggil.” Pramudya menggerutu sambil menatap Gayatri masam. “Atri, dengar! Orangtuaku mau datang, mereka mau menginap agak lama. Mungkin berlebaran di sini.”
“Oh? Tapi Mas bilang kemarin, kita yang akan pulang.”
“Memangnya kenapa kalau orangtuaku yang datang berkunjung dan ikut berlebaran di sini? Hah? Kau nggak suka?”
“Bukan, bukan begitu, Mas. Tapi …”
“Sudah jangan banyak omong! Pergi ke pasar sana, beli semua persiapan untuk menyambut ibu bapakku. Masak makanan kesukaan mereka!”
*** *** ***
Gayatri melajukan sepeda motornya perlahan. Di balik kaca helmnya, matanya berkaca-kaca. Bukan dia tak suka mertuanya datang berkunjung. Tetapi, beberapa hari lalu Pramudya sudah sepakat bahwa tahun ini mereka yang akan pulang kampung.
Sudah empat tahun mereka tak pulang. Gayatri rindu orangtuanya di kampung sana. Beberapa waktu lalu ibunya menelpon agar Gayatri pulang menjelang Ramadhan, dan munggahan bersama mereka. Tapi kini, sepertinya niatan itu harus dikuburnya dalam-dalam.
Tiba-tiba Gayatri dikejutkan dengan munculnya satu sepeda motor yang menjajari laju motor maticnya. Lama kelamaan motor yang ditumpangi dua lelaki berpakaian hitam dengan helm fullface itu memepetnya. Jantung Gayatri berdegup kencang. Begal?
Konsentrasi Gayatri buyar. Motornya oleng lalu ia terjatuh. Satu lelaki berbadan kurus kerempeng turun menghampiri Gayatri yang masih terhimpit sepeda motornya sendiri. lelaki itu menarik tas yang masih terselempang di bahu Gayatri. Refleks Gayatri mempertahankan harta miliknya itu. Ia bahkan nekat berteriak-teriak minta tolong.
Sejenak lelaki itu panik, ia mengayunkan tinjunya ke arah wajah Gayatri. Kaca depan helm lepas dan terpental. Bibir Gayatri pecah terkena bogem mentah. Gayatri masih juga menjerit-jerit. Lelaki ceking itu semakin panik dan emosi, ia mencabut sesuatu yang berkilat dari pinggangnya, mengayunkannya ke arah Gayatri. Belati. Benda itu menancap tepat di dada perempuan yang masih sempat menjerit sebelum rebah ke bumi.
Darah bersimbah. Secepat kilat si ceking menarik lepas tas dari tangan Gayatri. Ia bergegas ke arah temannya yang pucat menyaksikan.
“Cabut, Bro!” kata si ceking, membuang tas Gayatri setelah mengambil isinya. Sebuah dompet dan ponsel.
“Dia, dia … mati?” tanya temannya. Suara lelaki itu bergetar.
“Gak tau. Cepetan cabut sebelum ada yang datang,”
“Kenapa sampai lu abisin cewek itu?”
“Cerewet lu, Bro! Buruan kabur!”
Gemetar pria di atas motor itu melajukan kendaraannya meninggalkan Gayatri yang tergeletak entah hidup ataukah mati. Entah kenapa, perasaan lelaki itu jadi kacau. Sebelumnya, ia tak pernah benar-benar melukai korban-korbannya selama ini. Namun kini, melihat belati itu menancap di dada perempuan itu, hatinya menjadi ngeri, juga cemas. Lalu wajah itu, dia seperti … pernah mengenalnya.
*** *** ***
Suara adzan berkumandang, terdengar sayup-sayup di kejauhan. Mata Aksana terpejam. setetes air jatuh di sela-selanya. Bahunya bergetar. Ia tak pulang lagi Ramadhan ini. Namun bukan itu yang membuatnya menangis. Bayangan wajah seorang perempuan dengan ekspresi kesakitan itulah yang membuatnya terguncang. Ya, ia mengenali wajah itu sekarang. Wajah Gayatri.
“Cepat menuju masjid! Tarawih berjamaah dan ada bimbingan rohani malam ini!” Suara teriakan sipir bergema di lorong-lorong bangsal tahanan. Sementara Aksana tenggelam dalam penyesalan.
****TAMAT****
Senin, 20 April 2020
S E S A L
S E S A L
Cerpen Lily N. D. Madjid
"Lepaskan aku! Biar kuhajar anak itu! Biar kuhajar dia!"
Bapak merangsek maju ke arahku. Wajahnya merah padam. Giginya gemeletuk menahan amarah. Jika tak dipegangi oleh Lek Marwoto dan Pakde Dibyo mungkin sudah habis aku dihajar Bapak.
"Sabar, Dik, sabar... mari kita selesaikan dengan kepala dingin," Pakde Dibyo melerai.
Aku sendiri bergeming. Tetap ditempatku tanpa gentar. Sudah biasa aku menerima amarah Bapak, juga sikap tak acuhnya. Yah, walau pun untuk saat ini bisa dipahami jika ia murka padaku. Sebab kuakui, aku memang telah melakukan kesalahan.
"Lepaskan aku! Biar kuberi pelajaran anak itu!"
*** *** ***
Namaku Ari. Aku anak ke dua dari tiga bersaudara. Kakakku perempuan, sedang adikku laki-laki, dengan selisih umurnya cukup jauh dariku.
Bapakku seorang pedagang. Pemilik toko yang cukup ramai di pasar kota yang tak begitu jauh dari desa tempat kami tinggal. Kira-kira bisa ditempuh dalam satu atau dua jam perjalanan dari kampung kami. Bapak mencurahkan segala perhatiannya untuk kemajuan tokonya. Seringkali ia bahkan jarang pulang.
Dulu sekali, saat aku masih kecil, masih bisa bertemu Bapak setiap hari. Lalu seiring berkembangnya usaha Bapak, intensitasnya menjadi seminggu sekali, kemudian dua minggu sekali.
Di kota, Bapak menyewa rumah tak jauh dari lokasi toko. Sementara kami; Ibu, aku serta kakak dan adikku tinggal di rumah kami di luar kota. Kadang Ibu menemani Bapak, tetapi seringnya dilarang, karena kami anak-anaknya masih terlalu kecil untuk ditinggal.
Bapak pun tidak menginginkan kami pindah ke kota, dengan alasan tak boleh meninggalkan rumah kami di desa. Itu rumah pusaka orang tua Bapak. Jika ditinggal, Bapak khawatir rumah tersebut tak terawat dan mudah rusak.
Ibu selalu memaklumi ketidakhadiran Bapak di rumah. Kata Ibu, semua yang Bapak lakukan itu demi kebaikan kami semua. Demi masa depan keluarga kami. Demi kesejahteraan kami sekeluarga. Semua itu bisa dibuktikan dengan keadaan perekonomian keluarga kami yang bisa dibilang melebihi rata-rata tetangga-tetangga kami.
Tetapi kebahagiaan hidup tak melulu persoalan materi, bukan? Itu kusadari sejak aku menginjak masa akhir sekolah dasar. Jika sebelumnya aku merasa cukup dengan adanya ibu, kemudian aku mulai merasa ada yang kurang. Bapak. Ya, absennya Bapak dalam sebagian besar kehidupanku, membuatku merasa timpang.
*** *** ***
Saat aku memasuki masa sekolah menengah atas, aku memutuskan untuk tinggal bersama Bapak. Ibu tidak melarang. Beliau malah senang.
"Baguslah, jadi ada yang menemani bapakmu di sana, Le," katanya saat aku pertama kali mengutarakan keinginanku. "Lagipula, kamu juga bisa mulai belajar mengurus toko jika kamu tinggal di sana," imbuh ibu lagi.
Lalu ibu menyampaikan hal itu pada Bapak, saat ia pulang. Awalnya Bapak terlihat agak kurang setuju.
"Siapa yang akan membantu ibumu mengurus rumah, dan kebun nanti," katanya waktu itu. Tetapi Ibu berhasil meyakinkan Bapak.
"Damai bisa membantuku untuk urusan rumah," katanya, "untuk urusan ladang dan kebun 'kan sejak dulu selalu diurus oleh Marwoto," lanjut ibu menyebut nama kakak dan pamanku.
Akhirnya, Bapak pun setuju setelah diyakinkan oleh Ibu. Malam itu aku langsung mengemasi pakaianku dengan hati senang. Aku akan tinggal di kota bersama Bapak. Hal yang diam-diam sangat kuinginkan selama ini.
Jujur saja, seringkali aku iri bila melihat Ardhi sepupuku membantu Lek Marwoto, bapaknya, saat bekerja di ladang kami. Mereka akan bekerja dengan gembira, diselingi gurau berdua. Lalu di sore hari mereka akan pulang, bersepeda bersama sambil bercerita di sepanjang jalannya.
Aku juga seringkali memandangi ustadz Ali yang datang ke masjid kampung kami bersama anak-anaknya. Senang sekali rasanya jika bisa seperti itu. Sementara aku, kenangan apa yang pernah ada antara aku dengan Bapak selama ini? Tak ada. Jika di rumah, Bapak hanya akan menghabiskan waktu untuk tidur, atau berada di kamar bersama ibu. Selebihnya? Tak ada. Sepertinya Aku lebih banyak menghabiskan kenangan masa kecilku tanpa bayangan Bapak.
*** *** ***
Tetapi harapan seringnya tak seindah kenyataan. Hidup dengan Bapak tak semanis yang aku bayangkan. Nyatanya, di desa atau di kota ini sikap Bapak sama saja. Bapak adalah Bapak, lelaki yang kaku dan tak banyak bicara. Percakapan kecil saja jarang bisa tercipta di antara kami. Bukan, bukan karena aku tak mau. Tetapi Bapak yang sepertinya tak punya waktu.
Angan-angan dapat melakukan aktifitas bersama Bapak buyar sudah. Bapak tetap lebih mengutamakan urusan toko daripada aku. Apalagi toko saat itu tak hanya satu, sudah berdiri satu toko lagi di pasar yang sama, dan sedang dirintis satu lagi di pasar lainnya.
Ia juga belum mau melibatkan aku dalam urusan toko. Aku masih bocah dalam pandangannya. Menurutnya, belum waktunya ikut mengurusi toko.
"Kamu anak bau kencur tahu apa? Urus saja urusanmu." Begitu katanya saat itu, waktu aku memintanya untuk membiarkanku belajar mengurus toko.
Agak kecewa sebenarnya. Seolah-olah Bapak menganggapku tak mampu. Padahal aku hanya ingin belajar. Ingin ikut dilibatkan dalam aktifitas bersamanya. Tapi mau bilang apa jika ia menolaknya?
Waktu berlalu. Hari, minggu, bulan, tahun semua berganti. Tapi hubunganku dengan Bapak seperti masih saja berjarak. Akhirnya aku menyerah. Mungkin memang begitulah dia. Maka kualihkan perhatianku pada hal-hal lain. Kesepian di rumah membuatku meluaskan pergaulan.
Teman-temanku semakin banyak. Aku bergaul dengan siapa saja tanpa batasan. Sepulang sekolah kini lebih sering kuhabiskan waktu dengan teman-teman. Untuk apa pulang ke rumah yang tak ada sesiapa di dalamnya selain Mbak Asih, asisten rumah tangga yang sejak lama bekerja di rumah Bapak.
Banyak hal-hal baru yang kemudian aku tahu melalui teman-teman. Termasuk hal-hal yang dulu tak terpikirkan akan kulakukan. Hal-hal yang disebut teman-teman 'keren dan kekinian'. Hal-hal yang menurut mereka 'jantan'. Ya, aku mengenal semua itu pada akhirnya. Melakukan hal-hal yang jika ibuku tahu, tentu ia akan sangat kecewa.
Tapi ibu tak tahu, bukan? Dan aku tahu, jika aku membatasi diri di rumah saja aku bisa lumutan. Maka kunikmati waktuku bersama teman-teman. Sampai tak terasa, aku terjerumus terlalu dalam. Kini aku pecandu obat-obatan. Padahal dulu hanya ikut-ikutan. Aku juga menjelma setan jalanan. Setiap malam kebut-kebutan. Balapan liar tentu saja.
Uang bukan masalah bagiku. Tak pernah jadi masalah sebab Bapak selalu memberiku uang berapa saja kuminta. Asal aku tak merecoki urusannya. Keleluasaan keuangan semakin membuatku menggila. Sekolah bukan lagi menjadi hal utama.
Sesekali aku pulang ke rumah ibu. Menginap di sana saat liburan. Bertemu teman-teman lama. Beberapa kukenalkan dengan gaya pergaulanku yamg sekarang. Dan yang paling menantang, mendekati anak gadis Wak Umar untuk kujadikan pacar.
*** *** ***
Malam itu aku pulang cukup larut dengan pikiran yang kusut. Aku kalah taruhan. Gila! Padahal aku yakin sekali timku bakalan menang. Biasanya timku memang selalu menang dalam setiap kesempatan adu balap di jalanan.
Kami bertaruh dengan tim Renold, rivalku di arena balapan liar selama ini. Dia yang menantang kami. Siapa yang memenangi balapan malam ini, berhak memperoleh seluruh uang taruhan. Tak tanggung-tanggung, nominal taruhannya sepuluh kali lipat uang saku bulananku dari Bapak. Di luar dugaan, kami ternyata kalah. Ck!
Kumasukkan sepeda motorku ke dalam garasi. Mencoba meminimalkan suara yang ditimbulkan. Aku takut Bapak bangun dan memergoki aku yang baru pulang. Aku masuk ke rumah menggunakan kunci cadangan yang selalu kubawa. Di depan kamar Bapak aku mengendap-endap.
Niatku ingin langsung menuju ke kamar, tetapi rasa haus memaksaku melangkah ke arah lemari pendingin di ruang makan. Aku baru saja meneguk air dingin yang segar saat suara-suara mencurigakan terdengar. Suara apa itu?
Kuedarkan pandangan. Tak ada tanda apa-apa. Suara itu seperti berasal dari... Tiba-tiba saja saja kepalaku dipenuhi kecurigaan. Aku menatap pintu kamar Mbak Asih yang hanya beberapa langkah dari tempatku berdiri. Kutajamkan pendengaran. Emosiku tiba-tiba memuncak. Kuterobos pintu kamar yang ternyata tak terkunci itu. Bapak dan asisten rumah tangganya itu tersentak oleh kehadiranku yang sepertinya tak mereka duga.
*** *** ***
Aku masih terpekur di depan pusara yang masih memerah basah. Pada nisan kayunya tertulis nama ibuku. Ya. Ibu baru saja pergi. Ia terkena serangan jantung saat menyaksikan pertengkaranku dengan Bapak.
Sejak kupergoki Bapak berselingkuh dengan Mbak Asih, Bapak selalu berbaik-baik padaku. Aku tahu, ia pasti berharap aku tutup mulut dan tak mengadukan kelakuan bejadnya pada ibu.
Cuih!
Aku memang tak mengadukan semuanya. Tetapi bukan berarti aku menyetujui perbuatannya. Tidak. Apa yang dia lakukan itu menjijikan. Pengkhianatannya pada Ibu itu tak layak dimaafkan.
Yeah, tetapi aku malah memanfaatkan kesempatan itu untuk mendapatkan uang lebih banyak dari Bapak. Benar, aku memeras Bapak. Uangnya kugunakan untuk bersenang-senang dan lagi-lagi bertaruh di jalanan.
Aku bahkan nekad mencuri isi brankas Bapak saat aku kembali kalah taruhan dalam jumlah nominal yang besar. Tak kuduga, Bapak murka. Ia bahkan tak peduli saat kuancam akan melaporkan pengkhianatannya pada ibu.
Aku kabur ke rumah di desa. Ternyata Bapak menyusulku. Kami bertengkar hebat di sana. Egois memang. Kami berdua sama-sama saling menyudutkan satu sama lain. Tak memikirkan bagaimana perasaan ibu yang begitu syok mengetahui semuanya. Hingga akhirnya ibu sakit lalu meninggalkan kami.
Tetapi nasi telah menjadi bubur, bukan? Semua tak bisa lagi kembali. Itulah yang terjadi. Kini aku hanya bisa menyesali diri sendiri.
Bandung Barat, 19 April 2020
Bionarasi:
Lily N. D. Madjid,
seorang yang mencoba merangkai kata demi kata, merajutnya menjadi sebuah kisah yang (semoga saja) bermakna.
Minggu, 22 Desember 2019
EKSEKUSI MATI
EKSEKUSI MATI
Oleh Lily N. D. Madjid
Kejam. Sungguh kejam mereka. Dikurungnya kami berhari-hari, dengan hanya diberi makan seadanya. Itupun hanya sehari sekali. Padahal apa salah kami hingga mereka memperlakukan kami seperti ini?
Lihatlah mereka. Setelah memperlakukan kami seperti ini, mereka masih dapat bernyanyi-nyanyi dengan riangnya.
Potong bebek angsa
Masak dikuali
Nona minta dansa
Dansa empat kali...
Aaaargh! Aku benci lagu itu. Aku benci mereka yang berwajah tanpa dosa setelah berbuat seenaknya pada kami. Di mana hati nurani mereka? Sungguh aku ingin menjerit, memaki, mencaci mereka tanpa henti.
"Sabar, sayang. Mungkin ini semua ujian bagi kita." Suamiku memberikan penghiburan. Ah, lelakiku yang tabah dan penyabar. Untunglah aku masih memilikinya. Setelah satu persatu keluargaku mereka renggut. Jika ia tidak ada di sisiku untuk menenangkan, entah apa jadinya aku. Mungkin aku sudah lama kehilangan kewarasan.
"Aku tak kuat lagi, Bang."
"Sabar, Sayang, sabar... "
"Bagaimana kalau kita mencoba lari dari sini?"
"Sayang. Aku ... Aku tidak yakin. Tidak semudah itu bisa lari dari mereka. Lihatlah, kita berdua berada dalam penjara, lagi pula... "
"Jika kita tetap di sini, itu berarti kita menyerahkan diri pada kematian, Bang! Kau ingat bagaimana mereka membantai ayah, ibuku, ibumu, bahkan anak kita... Anak kita, huhuhuhuhu... Aku tak kuat lagi, Bang. Aku ingin pergiii.... "
"Sayang,"
"Tidak. Aku tak ingin bertahan, jika itu yang akan Abang katakan!" teriakku putus asa. Kudorong sekuat tenaga pintu penjara yang mengurung kami berdua.
"Sayang, penjara ini tak mungkin kita tembus."
"Aku tak peduli jika Abang sudah menyerah. Tapi aku tidak. Aku akan terus berusaha." ketusku.
Suamiku terlihat termenung. Lalu kemudian, dia ikut membantu mendorong pintu jeruji ini sekuat tenaga. Terlihat bodoh memang. Tetapi bukankah kita harus terus berusaha?
"Hei! Kalian berdua! Mau mencoba kabur ya?" Satu suara mengejutkanku. Celaka, kami ketahuan. Dan, oh tidak! Dia memanggil teman-temannya.
"Lihat mereka berdua. Mereka mencoba keluar dari sini. Hahaha... Lucu sekali."
Gerombolan itu mengelilingi kami, menertawai kami seolah kami mahluk bodoh. Padahal kami hanya ingin mempertahankan diri, ingin mencoba bertahan hidup.
"Ambil satu. Kita eksekusi sekarang juga!" kata seseorang. Oh, tidak.
"Kau menjauh sayang, biar aku yang menghadapi mereka." kata suamiku. Airmataku bercucuran.
Kulihat suamiku menghadang mereka. Tapi apalah daya, dia hanya sendiri. Mereka memegangnya bersama-sama. Mengunci tubuhnya dalam sekali renggut.
"Abaaang!" Jeritku histeris. Melihat mereka membuat suamiku tak berdaya.
"Ambil senjataku!" teriak seseorang.
Ya Tuhan. Aku tak kuat lagi. Lihat mereka... Aaargh! Tidaaaak... Mereka, mereka menggorok lehernya. Di depan mataku. Dasar manusia-manusia laknat! Sekarang mereka bahkan menyiramnya dengan air panas. Keji. Aku tak ingin melihat lagi. Aku tak sanggup melihat lagi.
Kututup mataku yang bercucuran air mata. Ah, Abang. Sepertinya sebentar lagi aku kehilangan kewarasanku.
TRAK!
TRAK!
Aku mengintip ke arah datangnya suara. Di sana mereka sedang mencincang tubuh telanjang suamiku. Gila! Mereka membelah perut dan mengeluarkan isinya. Mencincangnya menjadi potongan-potongan kecil dan memercikinya dengan perasan lemon.
Dapatkah kau bayangkan pedihnya? Aku tidak. Sebab aku sudah kehilangan kesadaranku saat seseorang berteriak keras.
"Bebeknya sudah siap, mana bumbu rica-ricanya?" Orang itu membawa potongan-potongan tubuh suamiku sambil bersenandung riang.
Potong bebek angsa
Masak dikuali
Nona minta dansa
Dansa empat kali...
Oleh Lily N. D. Madjid
Kejam. Sungguh kejam mereka. Dikurungnya kami berhari-hari, dengan hanya diberi makan seadanya. Itupun hanya sehari sekali. Padahal apa salah kami hingga mereka memperlakukan kami seperti ini?
Lihatlah mereka. Setelah memperlakukan kami seperti ini, mereka masih dapat bernyanyi-nyanyi dengan riangnya.
Potong bebek angsa
Masak dikuali
Nona minta dansa
Dansa empat kali...
Aaaargh! Aku benci lagu itu. Aku benci mereka yang berwajah tanpa dosa setelah berbuat seenaknya pada kami. Di mana hati nurani mereka? Sungguh aku ingin menjerit, memaki, mencaci mereka tanpa henti.
"Sabar, sayang. Mungkin ini semua ujian bagi kita." Suamiku memberikan penghiburan. Ah, lelakiku yang tabah dan penyabar. Untunglah aku masih memilikinya. Setelah satu persatu keluargaku mereka renggut. Jika ia tidak ada di sisiku untuk menenangkan, entah apa jadinya aku. Mungkin aku sudah lama kehilangan kewarasan.
"Aku tak kuat lagi, Bang."
"Sabar, Sayang, sabar... "
"Bagaimana kalau kita mencoba lari dari sini?"
"Sayang. Aku ... Aku tidak yakin. Tidak semudah itu bisa lari dari mereka. Lihatlah, kita berdua berada dalam penjara, lagi pula... "
"Jika kita tetap di sini, itu berarti kita menyerahkan diri pada kematian, Bang! Kau ingat bagaimana mereka membantai ayah, ibuku, ibumu, bahkan anak kita... Anak kita, huhuhuhuhu... Aku tak kuat lagi, Bang. Aku ingin pergiii.... "
"Sayang,"
"Tidak. Aku tak ingin bertahan, jika itu yang akan Abang katakan!" teriakku putus asa. Kudorong sekuat tenaga pintu penjara yang mengurung kami berdua.
"Sayang, penjara ini tak mungkin kita tembus."
"Aku tak peduli jika Abang sudah menyerah. Tapi aku tidak. Aku akan terus berusaha." ketusku.
Suamiku terlihat termenung. Lalu kemudian, dia ikut membantu mendorong pintu jeruji ini sekuat tenaga. Terlihat bodoh memang. Tetapi bukankah kita harus terus berusaha?
"Hei! Kalian berdua! Mau mencoba kabur ya?" Satu suara mengejutkanku. Celaka, kami ketahuan. Dan, oh tidak! Dia memanggil teman-temannya.
"Lihat mereka berdua. Mereka mencoba keluar dari sini. Hahaha... Lucu sekali."
Gerombolan itu mengelilingi kami, menertawai kami seolah kami mahluk bodoh. Padahal kami hanya ingin mempertahankan diri, ingin mencoba bertahan hidup.
"Ambil satu. Kita eksekusi sekarang juga!" kata seseorang. Oh, tidak.
"Kau menjauh sayang, biar aku yang menghadapi mereka." kata suamiku. Airmataku bercucuran.
Kulihat suamiku menghadang mereka. Tapi apalah daya, dia hanya sendiri. Mereka memegangnya bersama-sama. Mengunci tubuhnya dalam sekali renggut.
"Abaaang!" Jeritku histeris. Melihat mereka membuat suamiku tak berdaya.
"Ambil senjataku!" teriak seseorang.
Ya Tuhan. Aku tak kuat lagi. Lihat mereka... Aaargh! Tidaaaak... Mereka, mereka menggorok lehernya. Di depan mataku. Dasar manusia-manusia laknat! Sekarang mereka bahkan menyiramnya dengan air panas. Keji. Aku tak ingin melihat lagi. Aku tak sanggup melihat lagi.
Kututup mataku yang bercucuran air mata. Ah, Abang. Sepertinya sebentar lagi aku kehilangan kewarasanku.
TRAK!
TRAK!
Aku mengintip ke arah datangnya suara. Di sana mereka sedang mencincang tubuh telanjang suamiku. Gila! Mereka membelah perut dan mengeluarkan isinya. Mencincangnya menjadi potongan-potongan kecil dan memercikinya dengan perasan lemon.
Dapatkah kau bayangkan pedihnya? Aku tidak. Sebab aku sudah kehilangan kesadaranku saat seseorang berteriak keras.
"Bebeknya sudah siap, mana bumbu rica-ricanya?" Orang itu membawa potongan-potongan tubuh suamiku sambil bersenandung riang.
Potong bebek angsa
Masak dikuali
Nona minta dansa
Dansa empat kali...
Jumat, 20 Desember 2019
BINTANG KECIL
BINTANG KECIL
Oleh Lily N. D. Madjid
Malam ini cerah sekali, walau bulan hanya sebentuk sabit. Langit bersih. Bintang-bintang bertaburan di langit. Aku suka suasana seperti ini. Aku suka memandang taburan bintang di langit sana, seperti taburan permata di tiara milik mama. Aku suka membayangkan diriku duduk di lengkungan bulan sabit itu.
Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada
Kusenandungkan lagu kesukaanku. Dulu, mama yang mengajariku lagu itu. Kugumamkan berulang-ulang. Kuayunkan dua kaki seiring larik-larik lagu yang keluar dari bibirku. Ayunan yang kududuki melambung semakin tinggi dan ssemakin tinggi. Biasanya, jika kunyanyikan lagu itu, mama akan ikut bernyanyi bersamaku. Ia bernyanyi sambil memelukku dan kami memandang ke arah langit berdua.
Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada
Tetapi kini tak ada lagi mama. Dia telah tiada. Kutemukan ia dengan belati menancap di dada, suatu hari, sepulangku dari sekolah. Darah membasahi seluruh tubuhnya. Aku menjerit-jerit mamanggilnya. Tetapi dia diam saja. Hanya matanya saja yang terbuka, menatap ke langit sana. Mungkinkah mama menatap bintang kesayangan kami? Tetapi di siang hari tak ada bintang yang bertaburan, bukan?
Lalu nenek dan kakek membawaku ke sini. Ke desa tempat mereka tinggal. Kata mereka aku tak mungkin tinggal sendiri setelah mama pergi, dan papa mendekam di balik jeruji. Aku pun berpikir begitu. Terlalu menyedihkan kenangan yang tertinggal di rumah itu. Sampai sekarang aku bahkan tak tahu, apa yang membuat papa tega menyarangkan belatinya di dada mama. Bukankah selama ini mereka saling mencinta?
Di desa ini aku lebih tenang. Tak ada lagi mimpi buruk tentang kematian mama dalam tidurku. Apalagi di desa kecil ini, langitnya selalu lebih indah di malam hari. Seperti malam ini. Kau lihat? Bintang bertaburan di atas sana. Gemerlap tak terkira. Apakah mama ada di sana? Duduk di antara lengkung bulan sabit, menikmati kilauannya?
Kupejamkan mata. Membayangkan mama dengan senyumnya. Dengan suara merdunya. Kuhapus bayanganku tentang mama di saat terakhir aku melihatnya. Ya. Akan kuhapus saja. Hanya yang terindah saja tentang mama yang boleh tersisa dalam kenangan di kepala. Juga dalam dada.
Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada
Udara terasa dingin menggigit. Kuusap tengkukku yang meremang. Sejenak aku terdiam. Ada yang ikut bersenandung di sana. Entah di mana. Lirih suaranya mengalun lembut. Kutajakan pendengaran, juga mencari dari mana suara itu berasal.
Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada
Ah, di sana. Di bawah rerimbun pohon angsana, kulihat sebuah siluet berdiri tegak menghadap ke arahku. Mataku terpicing. Bayangan itu seperti sosok tak asing. Dan senandungnya yang mengiringi gumam laguku, bukankah suara yang begitu kukenal?
Bukankah itu … Mama?
Oleh Lily N. D. Madjid
Malam ini cerah sekali, walau bulan hanya sebentuk sabit. Langit bersih. Bintang-bintang bertaburan di langit. Aku suka suasana seperti ini. Aku suka memandang taburan bintang di langit sana, seperti taburan permata di tiara milik mama. Aku suka membayangkan diriku duduk di lengkungan bulan sabit itu.
Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada
Kusenandungkan lagu kesukaanku. Dulu, mama yang mengajariku lagu itu. Kugumamkan berulang-ulang. Kuayunkan dua kaki seiring larik-larik lagu yang keluar dari bibirku. Ayunan yang kududuki melambung semakin tinggi dan ssemakin tinggi. Biasanya, jika kunyanyikan lagu itu, mama akan ikut bernyanyi bersamaku. Ia bernyanyi sambil memelukku dan kami memandang ke arah langit berdua.
Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada
Tetapi kini tak ada lagi mama. Dia telah tiada. Kutemukan ia dengan belati menancap di dada, suatu hari, sepulangku dari sekolah. Darah membasahi seluruh tubuhnya. Aku menjerit-jerit mamanggilnya. Tetapi dia diam saja. Hanya matanya saja yang terbuka, menatap ke langit sana. Mungkinkah mama menatap bintang kesayangan kami? Tetapi di siang hari tak ada bintang yang bertaburan, bukan?
Lalu nenek dan kakek membawaku ke sini. Ke desa tempat mereka tinggal. Kata mereka aku tak mungkin tinggal sendiri setelah mama pergi, dan papa mendekam di balik jeruji. Aku pun berpikir begitu. Terlalu menyedihkan kenangan yang tertinggal di rumah itu. Sampai sekarang aku bahkan tak tahu, apa yang membuat papa tega menyarangkan belatinya di dada mama. Bukankah selama ini mereka saling mencinta?
Di desa ini aku lebih tenang. Tak ada lagi mimpi buruk tentang kematian mama dalam tidurku. Apalagi di desa kecil ini, langitnya selalu lebih indah di malam hari. Seperti malam ini. Kau lihat? Bintang bertaburan di atas sana. Gemerlap tak terkira. Apakah mama ada di sana? Duduk di antara lengkung bulan sabit, menikmati kilauannya?
Kupejamkan mata. Membayangkan mama dengan senyumnya. Dengan suara merdunya. Kuhapus bayanganku tentang mama di saat terakhir aku melihatnya. Ya. Akan kuhapus saja. Hanya yang terindah saja tentang mama yang boleh tersisa dalam kenangan di kepala. Juga dalam dada.
Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada
Udara terasa dingin menggigit. Kuusap tengkukku yang meremang. Sejenak aku terdiam. Ada yang ikut bersenandung di sana. Entah di mana. Lirih suaranya mengalun lembut. Kutajakan pendengaran, juga mencari dari mana suara itu berasal.
Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada
Ah, di sana. Di bawah rerimbun pohon angsana, kulihat sebuah siluet berdiri tegak menghadap ke arahku. Mataku terpicing. Bayangan itu seperti sosok tak asing. Dan senandungnya yang mengiringi gumam laguku, bukankah suara yang begitu kukenal?
Bukankah itu … Mama?
P E N U N G G U
PENUNGGU
Oleh Lily N. D. Madjid
Hari ini adalah hari pertamaku tinggal di rumah baru, di kota yang juga baru. Aku baru saja dimutasi ke kota ini. Saat pindah, kuboyong serta keluarga kecilku. Amarylis, istriku, tidak mengeluh. Dia dengan lapang dada menerima kepindahan kami ke kota kecil ini. Begitu juga Sakti, putra semata wayang kami yang masih berusia balita. Dia malah terlihat antusias sekali.
“Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku….”
Aku menggeliat. Suara nyanyian kecil Sakti menyusup ke gendang telingaku. Ah, sudah bangun rupanya bocah itu. Kucoba memicingkan mataku yang masih terasa berat. Bocah kecil itu masih meringkuk di sudut kasur kami. Tetapi matanya sudah terbuka lebar. Mulut kecilnya bersenandung tanpa henti.
“Papa,” sapanya setelah menyadari aku memandangnya. “Papa, aku mau mandi.” Sakti bangkit dan mendekat. Aku kembali menggeliat.
“Sama mama, ya?”
“Mamanya mana?”
“Coba Sakti cari mama di dapur,” kataku sambil kembali memejamkan mata. Sungguh aku masih mengantuk. Kegiatan pindahan kemarin sangat menguras tenaga. Sakti turun dari tempat tidur, lalu menghilang di balik pintu kamar.
“Mamaaa … Mama, aku mau mandi!” teriak bocah kecil itu. Tidak lama kudengar suara siraman air di kamar mandi, ditingkahi senandung Sakti bernyanyi.
“Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku….”
*****
Aku baru saja akan kembali terlelap saat kusadari satu sosok berdiri di ambang pintu kamar. Amarylis. Ia memandangiku sambil tersenyum.
“Sakti mandi sendiri?” Tanyaku. Ia mengangguk lalu melangkah mendekat. Anggun sekali caranya berjalan. Di sisi pembaringan dia berdiri memandangiku lekat. Masih dengan senyum yang mengembang.
“Kenapa?” tanyaku. Tidak biasanya dia bersikap malu-malu seperti itu. Amaryllis hanya menggeleng. “Sini, temani aku di sini.” Istriku mendekat. Memelukku erat sambil mengecup dua pipiku. Matanya yang berbinar menatapku lekat. Aku balas mendekap dan menciumi wajahnya. Tubuhnya.
“Mmm … Kamu pakai parfum baru, ya?” gumamku. Rasanya sebelumnya Amarylis tak pernah memakai parfum beraroma lembut melati seperti ini.” Dia tak menjawab. Hanya tersenyum. Semakin gemas aku dibuatnya. Tapi aktivitasku terganggu oleh suara berkelontang keras dari arah kamar mandi. Aku terlonjak kaget.
“Sakti …” Aku dan istriku saling pandang.
Bergegas aku berlari ke arah kamar mandi. Jangan-jangan anak itu terpeleset. Kamar mandinya memang belum sempat kubersihkan sejak kami datang kemarin. Lantainya masih licin berlumut.
“Mas! Mas Arshaka! Tolong, ini Sakti jatuh…” Aku tertegun. Itu suara teriakan Amarylis. Tapi kenapa suaranya berasal dari dapur?
Diambang pintu kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur, kulihat amarylis sedang memangku Sakti yang menggigil pucat.
“Amy,” desisku. “Bukannya kamu tadi … kita …” aku tergagap.
“Apa sih, Mas? Ini bantu anaknya!”
Walau jantungku berdebar keras, kuabaikan dulu untuk segera menolong Sakti.
“Papa, papa … “
“Sakti kenapa?”
“Sakti takut, Papa …” bisik sakti sambil melirik ke arah kamar mandi. Dia masih gemetar.
“Takut apa?” tanyaku dan istriku bersamaan.
“Nenek itu marah. Dia nggak suka dengar Sakti nyanyi lagu Bangun Tidur …”
“Nenek? Nenek Siapa?” aku dan istriku saling pandang.
“Nenek muka seram yang ada di kamar mandi. Dia galak, nggak seperti tante baik hati di kamar kita.” Katanya.
Kurasa kepalaku pening tiba-tiba.
Oleh Lily N. D. Madjid
Hari ini adalah hari pertamaku tinggal di rumah baru, di kota yang juga baru. Aku baru saja dimutasi ke kota ini. Saat pindah, kuboyong serta keluarga kecilku. Amarylis, istriku, tidak mengeluh. Dia dengan lapang dada menerima kepindahan kami ke kota kecil ini. Begitu juga Sakti, putra semata wayang kami yang masih berusia balita. Dia malah terlihat antusias sekali.
“Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku….”
Aku menggeliat. Suara nyanyian kecil Sakti menyusup ke gendang telingaku. Ah, sudah bangun rupanya bocah itu. Kucoba memicingkan mataku yang masih terasa berat. Bocah kecil itu masih meringkuk di sudut kasur kami. Tetapi matanya sudah terbuka lebar. Mulut kecilnya bersenandung tanpa henti.
“Papa,” sapanya setelah menyadari aku memandangnya. “Papa, aku mau mandi.” Sakti bangkit dan mendekat. Aku kembali menggeliat.
“Sama mama, ya?”
“Mamanya mana?”
“Coba Sakti cari mama di dapur,” kataku sambil kembali memejamkan mata. Sungguh aku masih mengantuk. Kegiatan pindahan kemarin sangat menguras tenaga. Sakti turun dari tempat tidur, lalu menghilang di balik pintu kamar.
“Mamaaa … Mama, aku mau mandi!” teriak bocah kecil itu. Tidak lama kudengar suara siraman air di kamar mandi, ditingkahi senandung Sakti bernyanyi.
“Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku….”
*****
Aku baru saja akan kembali terlelap saat kusadari satu sosok berdiri di ambang pintu kamar. Amarylis. Ia memandangiku sambil tersenyum.
“Sakti mandi sendiri?” Tanyaku. Ia mengangguk lalu melangkah mendekat. Anggun sekali caranya berjalan. Di sisi pembaringan dia berdiri memandangiku lekat. Masih dengan senyum yang mengembang.
“Kenapa?” tanyaku. Tidak biasanya dia bersikap malu-malu seperti itu. Amaryllis hanya menggeleng. “Sini, temani aku di sini.” Istriku mendekat. Memelukku erat sambil mengecup dua pipiku. Matanya yang berbinar menatapku lekat. Aku balas mendekap dan menciumi wajahnya. Tubuhnya.
“Mmm … Kamu pakai parfum baru, ya?” gumamku. Rasanya sebelumnya Amarylis tak pernah memakai parfum beraroma lembut melati seperti ini.” Dia tak menjawab. Hanya tersenyum. Semakin gemas aku dibuatnya. Tapi aktivitasku terganggu oleh suara berkelontang keras dari arah kamar mandi. Aku terlonjak kaget.
“Sakti …” Aku dan istriku saling pandang.
Bergegas aku berlari ke arah kamar mandi. Jangan-jangan anak itu terpeleset. Kamar mandinya memang belum sempat kubersihkan sejak kami datang kemarin. Lantainya masih licin berlumut.
“Mas! Mas Arshaka! Tolong, ini Sakti jatuh…” Aku tertegun. Itu suara teriakan Amarylis. Tapi kenapa suaranya berasal dari dapur?
Diambang pintu kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur, kulihat amarylis sedang memangku Sakti yang menggigil pucat.
“Amy,” desisku. “Bukannya kamu tadi … kita …” aku tergagap.
“Apa sih, Mas? Ini bantu anaknya!”
Walau jantungku berdebar keras, kuabaikan dulu untuk segera menolong Sakti.
“Papa, papa … “
“Sakti kenapa?”
“Sakti takut, Papa …” bisik sakti sambil melirik ke arah kamar mandi. Dia masih gemetar.
“Takut apa?” tanyaku dan istriku bersamaan.
“Nenek itu marah. Dia nggak suka dengar Sakti nyanyi lagu Bangun Tidur …”
“Nenek? Nenek Siapa?” aku dan istriku saling pandang.
“Nenek muka seram yang ada di kamar mandi. Dia galak, nggak seperti tante baik hati di kamar kita.” Katanya.
Kurasa kepalaku pening tiba-tiba.
Kamis, 19 Desember 2019
GIRI DAN JATI
Giri dan Jati
Cerpen Lily N. D. Madjid
Giri melangkah gontai, menyusuri lorong-lorong pasar yang sepi. Toko-toko sudah tutup. Ternyata tidak mudah menjadi pemulung. Setiap pemulung sudah memiliki daerah operasi sendiri. Giri yang baru kali ini turun ke pasar berkali-kali ditegur. Mulai dari teguran pelan hingga bentakan kasar.
Begitupun dengan tempat bermalam. Tidak semua emper toko bisa dijadikan tempat melepas lelah. Empat kali Giri diusir saat merebahkan diri melepaskan penatnya. Ternyata hidup di jalan tidak semudah yang Giri bayangkan.
*****
“Kamu anak baru?”
Giri terlonjak. Dia baru saja merebahkan diri di sudut terdalam pasar. Tempatnya sepi. Giri tidak melihat sesiapa di sana tadi.
“Ya.” Gumam Giri setelah reda dari keterkejutannya. Seorang anak duduk di bagian tergelap.
“Dari mana?”
“Aku lari dari rumah.”
“Lari?”
“Ayah tiriku pengangguran kejam. Aku tak tahan disiksa.”
“Hmmm …”
Giri memicingkan matanya. Tetapi malam mengaburkan pandangan Giri. Hanya siluet anak itu yang terlihat.
“Kamu sudah lama di sini?”
Tak ada jawaban. Samar-samar Giri melihat anggukannya.
“Namamu siapa?”
“Jati.”
“Aku Giri.” Giri mengenalkan diri. “Mudah-mudahan kamu tidak mengusirku. Aku tak kuat lagi jika harus mencari tempat lain untuk bermalam.”
“Kamu mau tidur di sini?”
“Kamu keberatan?”
“Tidak. Aku senang. Tapi tempat ini sepi sekali. Siang hari pun orang tak kemari.”
“Kenapa?”
“Kamu tidak tahu?”
“Apa?”
“Ah, ya. Kamu pendatang baru.”
“Memangnya kenapa?” Giri penasaran. Jati tak langsung menjawab. “Jati? Ayo ceritakan.”
“Nanti kamu takut mendengarnya.”
“Aku pemberani. Makanya kuputuskan meninggalkan rumah.”
“Tidak. Kamu takut pada ayah tirimu, makanya kamu lari dari rumah.” Jati terkekeh. Giri mendengus.
“Ceritakan saja. Kenapa orang-orang tak pernah lagi datang kemari.”
“Orang-orang tak berani datang kemari. Sejak … ditemukan mayat korban mutilasi di lorong ini. Hanya potongan-potongan tubuhnya saja. Kepalanya tak pernah ditemukan.”
“Ka … kapan kejadiannya?” Suara Giri bergetar.
“Sudah lama. Tapi orang-orang tak mau lagi menginjak tempat ini. Toko-tokonya saja sudah lama tutup.” Kata Jati pelan. “Hei, kamu ketakutan, ‘kan?” katanya lagi. Lalu dia terkekeh pelan.
“Tidak. Aku Cuma lelah. Aku mau tidur.” Giri berkelit. Dia rebah di lantai yang dingin. Meringkuk seperti bayi agar tak kedinginan. “Kamu belum mengantuk?” tanyanya. Jati tidak menjawab. Giri malah mendengarnya bersenandung pelan.
Topi saya bundar,
Bundar topi saya
Kalau tidak bundar
Bukan topi saya …
“Kenapa kamu tidak bergeser ke sini? Di situ gelap sekali.” Giri menguap. Dilihatnya Jati mendekat. Kini Giri bisa melihat lebih jelas lagi sosok Jati. Anak itu tinggi sekali. Rambutnya ikal. Kulitnya putih pucat. Atau karena penerangan yang tak memadai, maka ia terlihat pucat? Di kepalanya terlihat bertengger sebuah topi fedora berwarna putih.
“Topimu bagus,” gumam Giri.
“Oya? aku malah tidak menyukainya. Kamu boleh ambil kalau kamu mau.” Jati memutar-mutar topi di kepalanya. “Topi ini milik lelaki itu. Aku ambil.”
“Lelaki itu?”
“Iya. Lelaki penculik yang membunuhku. Aku sempat menariknya sebelum dia menggorok leherku.” Kata Jati pelan. Giri ternganga mendengarnya. Apalagi saat dilihatnya Jati melepas topinya dan mengulurkannya pada Giri. “Ini untukmu saja.” Kepala Jati masih menempel pada topi yang kini menggeletak di lantai dekat Giri berbaring. Mulut di kepala itu bersenandung pelan.
Topi saya bundar,
Bundar topi saya
Kalau tidak bundar
Bukan topi saya …
Cerpen Lily N. D. Madjid
Giri melangkah gontai, menyusuri lorong-lorong pasar yang sepi. Toko-toko sudah tutup. Ternyata tidak mudah menjadi pemulung. Setiap pemulung sudah memiliki daerah operasi sendiri. Giri yang baru kali ini turun ke pasar berkali-kali ditegur. Mulai dari teguran pelan hingga bentakan kasar.
Begitupun dengan tempat bermalam. Tidak semua emper toko bisa dijadikan tempat melepas lelah. Empat kali Giri diusir saat merebahkan diri melepaskan penatnya. Ternyata hidup di jalan tidak semudah yang Giri bayangkan.
*****
“Kamu anak baru?”
Giri terlonjak. Dia baru saja merebahkan diri di sudut terdalam pasar. Tempatnya sepi. Giri tidak melihat sesiapa di sana tadi.
“Ya.” Gumam Giri setelah reda dari keterkejutannya. Seorang anak duduk di bagian tergelap.
“Dari mana?”
“Aku lari dari rumah.”
“Lari?”
“Ayah tiriku pengangguran kejam. Aku tak tahan disiksa.”
“Hmmm …”
Giri memicingkan matanya. Tetapi malam mengaburkan pandangan Giri. Hanya siluet anak itu yang terlihat.
“Kamu sudah lama di sini?”
Tak ada jawaban. Samar-samar Giri melihat anggukannya.
“Namamu siapa?”
“Jati.”
“Aku Giri.” Giri mengenalkan diri. “Mudah-mudahan kamu tidak mengusirku. Aku tak kuat lagi jika harus mencari tempat lain untuk bermalam.”
“Kamu mau tidur di sini?”
“Kamu keberatan?”
“Tidak. Aku senang. Tapi tempat ini sepi sekali. Siang hari pun orang tak kemari.”
“Kenapa?”
“Kamu tidak tahu?”
“Apa?”
“Ah, ya. Kamu pendatang baru.”
“Memangnya kenapa?” Giri penasaran. Jati tak langsung menjawab. “Jati? Ayo ceritakan.”
“Nanti kamu takut mendengarnya.”
“Aku pemberani. Makanya kuputuskan meninggalkan rumah.”
“Tidak. Kamu takut pada ayah tirimu, makanya kamu lari dari rumah.” Jati terkekeh. Giri mendengus.
“Ceritakan saja. Kenapa orang-orang tak pernah lagi datang kemari.”
“Orang-orang tak berani datang kemari. Sejak … ditemukan mayat korban mutilasi di lorong ini. Hanya potongan-potongan tubuhnya saja. Kepalanya tak pernah ditemukan.”
“Ka … kapan kejadiannya?” Suara Giri bergetar.
“Sudah lama. Tapi orang-orang tak mau lagi menginjak tempat ini. Toko-tokonya saja sudah lama tutup.” Kata Jati pelan. “Hei, kamu ketakutan, ‘kan?” katanya lagi. Lalu dia terkekeh pelan.
“Tidak. Aku Cuma lelah. Aku mau tidur.” Giri berkelit. Dia rebah di lantai yang dingin. Meringkuk seperti bayi agar tak kedinginan. “Kamu belum mengantuk?” tanyanya. Jati tidak menjawab. Giri malah mendengarnya bersenandung pelan.
Topi saya bundar,
Bundar topi saya
Kalau tidak bundar
Bukan topi saya …
“Kenapa kamu tidak bergeser ke sini? Di situ gelap sekali.” Giri menguap. Dilihatnya Jati mendekat. Kini Giri bisa melihat lebih jelas lagi sosok Jati. Anak itu tinggi sekali. Rambutnya ikal. Kulitnya putih pucat. Atau karena penerangan yang tak memadai, maka ia terlihat pucat? Di kepalanya terlihat bertengger sebuah topi fedora berwarna putih.
“Topimu bagus,” gumam Giri.
“Oya? aku malah tidak menyukainya. Kamu boleh ambil kalau kamu mau.” Jati memutar-mutar topi di kepalanya. “Topi ini milik lelaki itu. Aku ambil.”
“Lelaki itu?”
“Iya. Lelaki penculik yang membunuhku. Aku sempat menariknya sebelum dia menggorok leherku.” Kata Jati pelan. Giri ternganga mendengarnya. Apalagi saat dilihatnya Jati melepas topinya dan mengulurkannya pada Giri. “Ini untukmu saja.” Kepala Jati masih menempel pada topi yang kini menggeletak di lantai dekat Giri berbaring. Mulut di kepala itu bersenandung pelan.
Topi saya bundar,
Bundar topi saya
Kalau tidak bundar
Bukan topi saya …
Rabu, 11 Desember 2019
TENGAH MALAM
TENGAH MALAM
Oleh Lily N. D. Madjid
Adri terjaga. Suara riuh tawa di ruang sebelah membuyarkan mimpinya.
"Ck! Kebangetan! Tengah malam begini ngakak nggak pakai peredam," gerutu Adri, menyusupkan kepalanya di antara bantal.
Suara tawa itu masih sanggup menembus gendang telinganya. Adri bangkit. Dia melangkah dengan malas ke arah pintu kamar yang tepat berhadapan dengan ruang santai kos-kosan. Dari sanalah suara tawa itu membahana.
CEKLEKK!
Diputarnya kunci kamar. Mereka yang tertawa terbahak semakin ramai. Pintu terbuka.
"Guys! Tolong... "
Adri terpana. Ruangan itu sepi tanpa sesiapa. Diingatnya tadi pagi Bima pamit mudik. Juga Andromeda dan Segara, mereka tak ada di rumah.
Jadi? Siapa yang tadi tertawa?
Minggu, 08 Desember 2019
J A N I
J A N I
Cerpen Lily N. D. Madjid
Jumlah kata: 1521
“Jani mau pergi aja!”
BRAKKK!
Jani meninggalkan rumahnya setelah dia membanting pintu. Wajahnya ditekuk. Ya, Jani sedang sangat kesal. Ia kesal pada mama.
“Mama menyebalkan! Pilih kasih!” Gerutunya. Dihentakkan kakinya ke lantai sambil terus berjalan. Dia biarkan saja kaki itu membawanya tanpa tahu akan ke mana.
Akhirnya Jani tiba di tanah lapang. Sepi. Biasanya di sana ramai dengan anak-anak yang bermain. Tapi siang ini sepertinya mereka lebih memilih berada di rumah masing-masing. Wajar saja, cuaca sangat panas. Matahari pun bersinar sangat terik.
Tapi Jani sedang tidak ingin di rumah. Di sana Mama selalu menyuruhnya ini dan itu. Menyuruh mengambilkan popok Juna, mengambilkan botol susu Juna, menyuruhnya agar jangan mengganggu Juna, jangan berisik, Juna sedang tidur, jangan mengganggu mama, dan lain-lain. Pokoknya di rumah menyebalkan.
Sekarang, Jani duduk sambil menggoyang-goyangkan kakinya di bangku taman di tepi tanah lapang. Sebenarnya Jani bingung akan ke mana setelah ini. Teman-teman tak satu pun yang terlihat. Kembali ke rumah? Ih! Jani kan tadi sudah bilang mau pergi saja. Mau minggat, biar saja Mama tahu rasa. Coba, apa Mama bakal sedih kalau kehilangan Jani?
“Jani!”
Satu suara yang sangat Jani kenal memanggil. Jani menoleh. Di tepi jalan, seseorang duduk di atas jok motor sambil melambai. Jani tersenyum lebar. Kekesalannya pada mama sejenak terlupakan.
“Paman!” Serunya sambil berlari ke arah orang itu. Rupanya itu Paman Aril, adik bungsu mama. Paman Aril tersenyum, membantangkan tangannya lebar-lebar menyambut Jani.
“Wah, kesayangan paman kok di sini sendirian? Sedang apa? Pulang yuk.”
“Gak mau! Jani lagi sebal sama mama. Jani gak mau pulang!”
“Lho, kok bisa sebal sama mama?”
Jani pun menceritakan penyebab kekesalannya. Paman Aril tertawa kecil. Ia mengacak-acak rambut Jani dengan gemas.
“Kalau begitu, kita jalan-jalan, yuk,” ajak Paman. Ia membantu Jani naik ke motor. “Pegangan kuat-kuat. Peluk paman.”
Motor yang dikemudikan Paman Aril melaju. Mula-mula menyusuri jalan di tepi tanah lapang, kemudian ke luar gerbang perumahan, menyusuri jalan raya. Jani senang sekali, sudah lama Paman tidak mengajaknya jalan-jalan seperti ini.
Paman Aril adalah paman kesayangan Jani. Dia tinggal dengan nenek, di desa sebelah. Kata Mama, saat ini Paman Aril sedang kuliah. Sebentar lagi akan jadi sarjana. Jani juga ingin jadi sarjana seperti Paman Aril. Pasti keren sekali, 'kan? Lihat saja, Paman Aril juga sangat keren. Dia tidak pernah marah-marah seperti Mama. Paman Aril malah sering membelikan Jani es krim, cokelat, dan kue-kue kesukaan Jani. Paman Aril juga sering mengajak Jani jalan-jalan. Seperti sekarang ini. Ah, pokoknya Jani sayang Paman Aril.
“Kita mau ke mana, Paman?” Seru Jani, mengatasi bisingnya deru kendaraan di jalan. Diketatkannya pelukan di pinggang Paman Aril.
“Putar-putar saja.”
Cukup lama mereka menyusuri jalan raya. Jani senang melihat-lihat segala keramaian di jalan itu. Di dekat sebuah jalan layang, Paman Aril melambatkan laju motornya. Ia menuju ke kolong jembatan layang itu. Ternyata di kolong jalan layang ada sebuah taman. Di dekatnya ada satu area penjual makanan. Paman Aril mengajak Jani ke sana.
Walau berlokasi di kolong jalan layang, tetapi tempat ini nyaman sekali. Sejuk dan bersih. Banyak orang duduk-duduk di sana sambil menikmati makanan yang mereka beli. Paman Aril dan Jani juga memesan makanan. Semangkuk mie ayam ceker pedas untuk Paman Aril, dan bakso telur jumbo tanpa mie kesukaan Jani. Tidak lupa dua gelas air jeruk peras panas untuk mereka berdua.
Saat sedang asyik menghabiskan makanannya, seorang anak lelaki seusia Jani mendekat. Dia memanggul karung besar di punggungnya. Pedagang makanan menunjuk seonggok sampah plastik di sebuah tong besar. Anak lelaki itu mengumpulkan dan memasukkannya ke dalam karung yang ia bawa.
Jani terus makan sambil matanya memperhatikan aktivitas anak lelaki itu. Setelah makanannya habis, Jani mendekatinya. Paman Aril hanya mengawasi saja sambil menyesap air jeruknya pelan-pelan.
“Kamu sedang apa?” Tanya Jani. Bocah lelaki itu tersentak kaget. Menoleh lalu nyengir lebar pada Jani.
“Seperti yang kamu lihat. Mengumpulkan ini.” Anak itu menunjuk ke gundukan sampah plastik yang sebagian besar terdiri dari wadah-wadah bekas air kemasan.
“Memangnya itu untuk apa?”
“Aku jual. Nanti dapat uang.”
“Untuk apa uangnya?”
“Ya untuk apa saja. Bisa untuk beli beras, untuk beli makan. Kadang bapakku juga minta uang dari aku untuk beli rokok.”
“Hah?” Mata Jani terbelalak.
“Iya. Kenapa?”
“Kenapa bapakmu minta uang dari kamu? Kalau aku, papaku yang beri aku dan mama uang.”
“Bapakku 'kan nggak kerja.”
“Kan dia bisa minta sama ibumu. Kenapa minta sama kamu?”
“Emakku sudah meninggal. Kata bapak, emak meninggal gara-gara aku. Dia meninggal sesudah melahirkan aku.” Suara bocah itu terdengar serak. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya yang tiba-tiba saja basah.
Jani termangu. Hatinya jadi ikut sedih melihat air yang menggenang di mata bocah lelaki itu. Dalam hati dia heran dan bertanya-tanya. Apakah benar anak lelaki itu yang menyebabkan kematian emaknya sendiri? Tapi tampang anak itu tidak seperti anak yang jahat.
“Kata mamaku, merokok bisa bikin sakit paru-paru, lho. Kamu jangan mau kalau bapakmu minta uang untuk beli rokok.” Jani berusaha mengalihkan pembicaraan, berharap teman barunya itu tak lagi bersedih.
“Bapakku galak. Kalau aku nggak kasih uang, dia bisa pukul aku.” Bisik anak itu takut-takut.
“Oh?” Mata Jani membelalak. Di rumah, mama memang cukup galak. Tapi mama tidak pernah memukul. Apalagi papa. Malah semua yang Jani inginkan selalu saja dituruti oleh papa, yeah, walau kadang-kadang itu membuat mama marah juga.
“Kadang-kadang aku berpikir ingin ikut emak saja ke surga. Katanya di surga itu enak, nggak ada kesusahan, nggak ada kesedihan, nggak akan ada yang marahin kita. Tapi, setiap aku bangun tidur, masih juga aku ada di sini, di sebelah bapakku yang galak seperti macan.” Kata anak itu. Wajah kumalnya terlihat sayu. Jani memandangnya dengan iba.
Tiba-tiba, seorang lelaki, yang mungkin seusia Paman Aril, datang menghampiri. Badan tegapnya yang berkulit hitam nyaris tertutup tatto. Dia memandang galak ke arah bocah lelaki itu. Jani ketakutan. Bocah lelaki itu juga. Dia gemetaran.
"Bagus!" Sentak lelaki bertatto itu. Suaranya menggelegar. Orang-orang yang sedang makan di sana serentak menoleh. Paman Aril berdiri sambil memandang ke arah Jani. Dia terlihat siaga. "Jadi begini kerjaan Lu? Hah? Ngobrol santai saat Lu seharusnya kerja?"
Lelaki itu menarik tangan si bocah lelaki dengan kasar. Bocah itu tersungkur. Hampir saja dia menabrak gerobak mie ayam. Orang-orang menjerit tertahan. Sebagian hanya dapat memandang dengan tatapan kasihan. Paman Aril mendekat perlahan.
"Elu? Kenapa ganggu dia kerja?" Kali ini dia menuding Jani. Jani gemetar dibentak seperti itu. Dia menoleh ke arah Paman Aril yang sudah mendekat. Mengharap pertolongan.
"Pamaaan ..." rengek Jani. Paman Aril meraih tangan Jani dan berdiri di antara Jani dan lelaki bertatto itu.
"Ada apa ya, Bang?"
"Ooo... Jadi lu bapaknya bocah itu, hah? Tolong lu ajar anak lu ya, gak usah ganggu anak gua. Dia lagi kerja! Ngarti lu?" Maki lelaki itu sambil menunjuk-nunjuk wajah Paman Aril. Jani khawatir setengah mati, takut orang itu memukul Paman.
"Dia cuma mau berteman dengan anak, Abang. Bukan mau ganggu."
"Kagak perlu! Anak gua kagak pernah gua bolehin main. Dia kudu kerja. Ngarti lu? Sekali lagi gua lihat anak lu deketin anak gua, tahu sendiri akibatnya!"
Paman Aril terlihat akan menimpali ucapan laki-laki itu lagi, tapi dilihatnya Jani begitu ketakutan. Akhirnya paman memilih mengajak Jani menyingkir dari hadapan laki-laki menakutkan itu. Si lelaki menyeringai mengejek, lalu menatap galak ke sekeliling. Kemudian dia mendekati anaknya yang masih ketakutan di dekat gerobak mie ayam.
"Heh! Elu, awas kalo nanti-nanti gua liat lu asyik ngobrol lagi. Bukannya kerja yang bener. Pantes aja makin hari duit yang lu bawa makin sedikit. Rupanya gini kerjaan lu, hah?" Ditempelengnya kepala si bocah. Beberapa perempuan yang ada di sana setengah menjerit.
Air mata Jani sudah bercucuran sejak tadi. Dia sedih dan takut melihat semuanya. Dipeluknya lengan Paman Aril kuat-kuat.
"Paman ... Ayo pergi dari sini." Jani merengek pada pamannya.
Paman Aril menarik nafas dalam. Sebenarnya dia masih berjaga-jaga, ingin menolong bocah lelaki itu jika bapaknya berbuat lebih jauh lagi. Begitu dilihatnya si bocah lelaki kecil pergi mengikuti langkah bapaknya, sambil menyeret-nyeret karung yang sarat berisi, Paman Aril menggandeng lengan Jani meninggalkan tempat itu setelah membayar makanan mereka.
Motor Paman Aril kembali melaju di tengah keramaian jalan. Memasuki gerbang komplek, dan kembali ke bangku taman di tepi tanah lapang. Jani dan Paman Aril turun. Mereka duduk di bangku itu. Jani menyeka sisa basah di matanya.
"Paman," katanya.
"Ya?"
"Menurut Paman, apa yang akan terjadi pada anak lelaki tadi?"
"Paman tidak tahu, Jani. Tapi semoga Allah selalu melindunginya. Semoga bapaknya dilembutkan hatinya," kata Paman Aril, lalu menarik nafas dalam-dalam. Mata Jani basah lagi.
"Aamiin." Jani memejamkan matanya. Benar-benar berharap anak laki-laki tadi tidak diapa-apakan oleh bapaknya yang galak. Berharap bapak anak itu benar-benar bisa berubah menjadi lembut seperti harapan Paman Aril tadi.
Setelah itu, Jani jadi memikirkan mamanya. Tiba-tiba saja Jani menyesal sudah marah-marah pada mama., sudah kesal, sudah merajuk dan berpikiran buruk tentang mama. Padahal, yang Mama minta untuk Jani lakukan tidak seberat yang harus dilakukan anak lelaki tadi, yang entah siapa namanya. Mama hanya meminta Jani menolong mama melakukan hal-hal kecil saja. Ah, Jani sungguh-sungguh menyesal telah bersikap seperti buruk pada Mama. Jani berjanji di dalam hatinya, nanti dia akan meminta maaf pada Mama. Ya, Jani berjanji.
“Paman, kita pulang, yuk.”
“Eh? Katanya lagi sebal sama mama?”
“Sudah, Paman. Jani sudah nggak marah lagi sama mama.” Sahut Jani.
Paman Aril tersenyum. Tidak lama kemudian, Jani sudah duduk di atas motor Paman Aril yang melaju santai menuju arah pulang.
***Tamat***
*cerpen 'Jani' pernah diikutkan dalam sebuah event, tapi tidak lolos karena kelebihan jumlah kata.
** untuk event NAD anak, 'Jani'telah mengalami revisi, dari 713 kata menjadi 1521 kata.
*** Direvisi dan diselesaikan pada dini hari, 8 Desember 2019
Cerpen Lily N. D. Madjid
Jumlah kata: 1521
“Jani mau pergi aja!”
BRAKKK!
Jani meninggalkan rumahnya setelah dia membanting pintu. Wajahnya ditekuk. Ya, Jani sedang sangat kesal. Ia kesal pada mama.
“Mama menyebalkan! Pilih kasih!” Gerutunya. Dihentakkan kakinya ke lantai sambil terus berjalan. Dia biarkan saja kaki itu membawanya tanpa tahu akan ke mana.
Akhirnya Jani tiba di tanah lapang. Sepi. Biasanya di sana ramai dengan anak-anak yang bermain. Tapi siang ini sepertinya mereka lebih memilih berada di rumah masing-masing. Wajar saja, cuaca sangat panas. Matahari pun bersinar sangat terik.
Tapi Jani sedang tidak ingin di rumah. Di sana Mama selalu menyuruhnya ini dan itu. Menyuruh mengambilkan popok Juna, mengambilkan botol susu Juna, menyuruhnya agar jangan mengganggu Juna, jangan berisik, Juna sedang tidur, jangan mengganggu mama, dan lain-lain. Pokoknya di rumah menyebalkan.
Sekarang, Jani duduk sambil menggoyang-goyangkan kakinya di bangku taman di tepi tanah lapang. Sebenarnya Jani bingung akan ke mana setelah ini. Teman-teman tak satu pun yang terlihat. Kembali ke rumah? Ih! Jani kan tadi sudah bilang mau pergi saja. Mau minggat, biar saja Mama tahu rasa. Coba, apa Mama bakal sedih kalau kehilangan Jani?
“Jani!”
Satu suara yang sangat Jani kenal memanggil. Jani menoleh. Di tepi jalan, seseorang duduk di atas jok motor sambil melambai. Jani tersenyum lebar. Kekesalannya pada mama sejenak terlupakan.
“Paman!” Serunya sambil berlari ke arah orang itu. Rupanya itu Paman Aril, adik bungsu mama. Paman Aril tersenyum, membantangkan tangannya lebar-lebar menyambut Jani.
“Wah, kesayangan paman kok di sini sendirian? Sedang apa? Pulang yuk.”
“Gak mau! Jani lagi sebal sama mama. Jani gak mau pulang!”
“Lho, kok bisa sebal sama mama?”
Jani pun menceritakan penyebab kekesalannya. Paman Aril tertawa kecil. Ia mengacak-acak rambut Jani dengan gemas.
“Kalau begitu, kita jalan-jalan, yuk,” ajak Paman. Ia membantu Jani naik ke motor. “Pegangan kuat-kuat. Peluk paman.”
Motor yang dikemudikan Paman Aril melaju. Mula-mula menyusuri jalan di tepi tanah lapang, kemudian ke luar gerbang perumahan, menyusuri jalan raya. Jani senang sekali, sudah lama Paman tidak mengajaknya jalan-jalan seperti ini.
Paman Aril adalah paman kesayangan Jani. Dia tinggal dengan nenek, di desa sebelah. Kata Mama, saat ini Paman Aril sedang kuliah. Sebentar lagi akan jadi sarjana. Jani juga ingin jadi sarjana seperti Paman Aril. Pasti keren sekali, 'kan? Lihat saja, Paman Aril juga sangat keren. Dia tidak pernah marah-marah seperti Mama. Paman Aril malah sering membelikan Jani es krim, cokelat, dan kue-kue kesukaan Jani. Paman Aril juga sering mengajak Jani jalan-jalan. Seperti sekarang ini. Ah, pokoknya Jani sayang Paman Aril.
“Kita mau ke mana, Paman?” Seru Jani, mengatasi bisingnya deru kendaraan di jalan. Diketatkannya pelukan di pinggang Paman Aril.
“Putar-putar saja.”
Cukup lama mereka menyusuri jalan raya. Jani senang melihat-lihat segala keramaian di jalan itu. Di dekat sebuah jalan layang, Paman Aril melambatkan laju motornya. Ia menuju ke kolong jembatan layang itu. Ternyata di kolong jalan layang ada sebuah taman. Di dekatnya ada satu area penjual makanan. Paman Aril mengajak Jani ke sana.
Walau berlokasi di kolong jalan layang, tetapi tempat ini nyaman sekali. Sejuk dan bersih. Banyak orang duduk-duduk di sana sambil menikmati makanan yang mereka beli. Paman Aril dan Jani juga memesan makanan. Semangkuk mie ayam ceker pedas untuk Paman Aril, dan bakso telur jumbo tanpa mie kesukaan Jani. Tidak lupa dua gelas air jeruk peras panas untuk mereka berdua.
Saat sedang asyik menghabiskan makanannya, seorang anak lelaki seusia Jani mendekat. Dia memanggul karung besar di punggungnya. Pedagang makanan menunjuk seonggok sampah plastik di sebuah tong besar. Anak lelaki itu mengumpulkan dan memasukkannya ke dalam karung yang ia bawa.
Jani terus makan sambil matanya memperhatikan aktivitas anak lelaki itu. Setelah makanannya habis, Jani mendekatinya. Paman Aril hanya mengawasi saja sambil menyesap air jeruknya pelan-pelan.
“Kamu sedang apa?” Tanya Jani. Bocah lelaki itu tersentak kaget. Menoleh lalu nyengir lebar pada Jani.
“Seperti yang kamu lihat. Mengumpulkan ini.” Anak itu menunjuk ke gundukan sampah plastik yang sebagian besar terdiri dari wadah-wadah bekas air kemasan.
“Memangnya itu untuk apa?”
“Aku jual. Nanti dapat uang.”
“Untuk apa uangnya?”
“Ya untuk apa saja. Bisa untuk beli beras, untuk beli makan. Kadang bapakku juga minta uang dari aku untuk beli rokok.”
“Hah?” Mata Jani terbelalak.
“Iya. Kenapa?”
“Kenapa bapakmu minta uang dari kamu? Kalau aku, papaku yang beri aku dan mama uang.”
“Bapakku 'kan nggak kerja.”
“Kan dia bisa minta sama ibumu. Kenapa minta sama kamu?”
“Emakku sudah meninggal. Kata bapak, emak meninggal gara-gara aku. Dia meninggal sesudah melahirkan aku.” Suara bocah itu terdengar serak. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya yang tiba-tiba saja basah.
Jani termangu. Hatinya jadi ikut sedih melihat air yang menggenang di mata bocah lelaki itu. Dalam hati dia heran dan bertanya-tanya. Apakah benar anak lelaki itu yang menyebabkan kematian emaknya sendiri? Tapi tampang anak itu tidak seperti anak yang jahat.
“Kata mamaku, merokok bisa bikin sakit paru-paru, lho. Kamu jangan mau kalau bapakmu minta uang untuk beli rokok.” Jani berusaha mengalihkan pembicaraan, berharap teman barunya itu tak lagi bersedih.
“Bapakku galak. Kalau aku nggak kasih uang, dia bisa pukul aku.” Bisik anak itu takut-takut.
“Oh?” Mata Jani membelalak. Di rumah, mama memang cukup galak. Tapi mama tidak pernah memukul. Apalagi papa. Malah semua yang Jani inginkan selalu saja dituruti oleh papa, yeah, walau kadang-kadang itu membuat mama marah juga.
“Kadang-kadang aku berpikir ingin ikut emak saja ke surga. Katanya di surga itu enak, nggak ada kesusahan, nggak ada kesedihan, nggak akan ada yang marahin kita. Tapi, setiap aku bangun tidur, masih juga aku ada di sini, di sebelah bapakku yang galak seperti macan.” Kata anak itu. Wajah kumalnya terlihat sayu. Jani memandangnya dengan iba.
Tiba-tiba, seorang lelaki, yang mungkin seusia Paman Aril, datang menghampiri. Badan tegapnya yang berkulit hitam nyaris tertutup tatto. Dia memandang galak ke arah bocah lelaki itu. Jani ketakutan. Bocah lelaki itu juga. Dia gemetaran.
"Bagus!" Sentak lelaki bertatto itu. Suaranya menggelegar. Orang-orang yang sedang makan di sana serentak menoleh. Paman Aril berdiri sambil memandang ke arah Jani. Dia terlihat siaga. "Jadi begini kerjaan Lu? Hah? Ngobrol santai saat Lu seharusnya kerja?"
Lelaki itu menarik tangan si bocah lelaki dengan kasar. Bocah itu tersungkur. Hampir saja dia menabrak gerobak mie ayam. Orang-orang menjerit tertahan. Sebagian hanya dapat memandang dengan tatapan kasihan. Paman Aril mendekat perlahan.
"Elu? Kenapa ganggu dia kerja?" Kali ini dia menuding Jani. Jani gemetar dibentak seperti itu. Dia menoleh ke arah Paman Aril yang sudah mendekat. Mengharap pertolongan.
"Pamaaan ..." rengek Jani. Paman Aril meraih tangan Jani dan berdiri di antara Jani dan lelaki bertatto itu.
"Ada apa ya, Bang?"
"Ooo... Jadi lu bapaknya bocah itu, hah? Tolong lu ajar anak lu ya, gak usah ganggu anak gua. Dia lagi kerja! Ngarti lu?" Maki lelaki itu sambil menunjuk-nunjuk wajah Paman Aril. Jani khawatir setengah mati, takut orang itu memukul Paman.
"Dia cuma mau berteman dengan anak, Abang. Bukan mau ganggu."
"Kagak perlu! Anak gua kagak pernah gua bolehin main. Dia kudu kerja. Ngarti lu? Sekali lagi gua lihat anak lu deketin anak gua, tahu sendiri akibatnya!"
Paman Aril terlihat akan menimpali ucapan laki-laki itu lagi, tapi dilihatnya Jani begitu ketakutan. Akhirnya paman memilih mengajak Jani menyingkir dari hadapan laki-laki menakutkan itu. Si lelaki menyeringai mengejek, lalu menatap galak ke sekeliling. Kemudian dia mendekati anaknya yang masih ketakutan di dekat gerobak mie ayam.
"Heh! Elu, awas kalo nanti-nanti gua liat lu asyik ngobrol lagi. Bukannya kerja yang bener. Pantes aja makin hari duit yang lu bawa makin sedikit. Rupanya gini kerjaan lu, hah?" Ditempelengnya kepala si bocah. Beberapa perempuan yang ada di sana setengah menjerit.
Air mata Jani sudah bercucuran sejak tadi. Dia sedih dan takut melihat semuanya. Dipeluknya lengan Paman Aril kuat-kuat.
"Paman ... Ayo pergi dari sini." Jani merengek pada pamannya.
Paman Aril menarik nafas dalam. Sebenarnya dia masih berjaga-jaga, ingin menolong bocah lelaki itu jika bapaknya berbuat lebih jauh lagi. Begitu dilihatnya si bocah lelaki kecil pergi mengikuti langkah bapaknya, sambil menyeret-nyeret karung yang sarat berisi, Paman Aril menggandeng lengan Jani meninggalkan tempat itu setelah membayar makanan mereka.
Motor Paman Aril kembali melaju di tengah keramaian jalan. Memasuki gerbang komplek, dan kembali ke bangku taman di tepi tanah lapang. Jani dan Paman Aril turun. Mereka duduk di bangku itu. Jani menyeka sisa basah di matanya.
"Paman," katanya.
"Ya?"
"Menurut Paman, apa yang akan terjadi pada anak lelaki tadi?"
"Paman tidak tahu, Jani. Tapi semoga Allah selalu melindunginya. Semoga bapaknya dilembutkan hatinya," kata Paman Aril, lalu menarik nafas dalam-dalam. Mata Jani basah lagi.
"Aamiin." Jani memejamkan matanya. Benar-benar berharap anak laki-laki tadi tidak diapa-apakan oleh bapaknya yang galak. Berharap bapak anak itu benar-benar bisa berubah menjadi lembut seperti harapan Paman Aril tadi.
Setelah itu, Jani jadi memikirkan mamanya. Tiba-tiba saja Jani menyesal sudah marah-marah pada mama., sudah kesal, sudah merajuk dan berpikiran buruk tentang mama. Padahal, yang Mama minta untuk Jani lakukan tidak seberat yang harus dilakukan anak lelaki tadi, yang entah siapa namanya. Mama hanya meminta Jani menolong mama melakukan hal-hal kecil saja. Ah, Jani sungguh-sungguh menyesal telah bersikap seperti buruk pada Mama. Jani berjanji di dalam hatinya, nanti dia akan meminta maaf pada Mama. Ya, Jani berjanji.
“Paman, kita pulang, yuk.”
“Eh? Katanya lagi sebal sama mama?”
“Sudah, Paman. Jani sudah nggak marah lagi sama mama.” Sahut Jani.
Paman Aril tersenyum. Tidak lama kemudian, Jani sudah duduk di atas motor Paman Aril yang melaju santai menuju arah pulang.
***Tamat***
*cerpen 'Jani' pernah diikutkan dalam sebuah event, tapi tidak lolos karena kelebihan jumlah kata.
** untuk event NAD anak, 'Jani'telah mengalami revisi, dari 713 kata menjadi 1521 kata.
*** Direvisi dan diselesaikan pada dini hari, 8 Desember 2019
Langganan:
Postingan (Atom)
PUISI RAKYAT (PUISI LAMA): PANTUN
KOMPETENSI DASAR 3.9 Mengidentifikasi informasi (pesan, rima, dan pilihan kata) dari puisi rakyat (pantun, syair, dan bentuk puis...
-
KOMPETENSI DASAR 3.9 Mengidentifikasi informasi (pesan, rima, dan pilihan kata) dari puisi rakyat (pantun, syair, dan bentuk puis...
-
Ujian. Gambar ilustrasi diambil dari google Hening. Wajah-wajah tertunduk. Menatap helai demi helai kertas dengan puluhan pertany...










