Tampilkan postingan dengan label Petualangan.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Petualangan.. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juni 2020

SECRET PROJECT

SECRET PROJECT
#cerpen Lily N. D. Madjid



BRAKKK!

Pintu ruang penghubung itu terbanting dengan keras. Dengan penuh rasa marah aku bergegas. Apa-apaan itu tadi? Jared bodoh! S*alan! Bisa-bisanya dia berbuat seperti itu? Mengabaikanku seolah-olah aku manusia tak kasat mata. Alih-alih menyapa dia malah asyik bercengkrama dengan yang lainnya. Dasar bodoh! Aku benci Jared.

Oke, oke! Itu memang hak dia untuk bergaul dengan siapa saja dalam pesta itu. Itu memang hak dia untuk melakukan apa pun yang dia suka. Terserah! Aku toh bukan siapa-siapanya. Dan aku memang tidak pernah berarti apa-apa bagi dirinya, 'kan?

Ya Tuhan, kenapa kenyataan itu bisa terasa begitu pahit?

Kuhempaskan tubuhku di bangku taman. Menarik napas dalam-dalam mencoba mengusir sesak yang menyeruak di dada. Ingar bingar suara musik dan canda tawa dari ruangan yang kutinggalkan menembus masuk hingga ambang pendengaranku. Samar, tetapi tetap terdengar.

Demi apa aku ada di sini?

Teringat percakapanku dengan Jared lewat telpon beberapa hari lalu.

"Kamu hadir ke acara launching lusa?" tanyanya waktu itu.

"Well, Bos Besar mengharapkan kita semua hadir bukan?" Aku menjawab sambil sibuk meredakan gemuruh di dada.

Begitulah bodohnya aku. Selalu seperti itu setiap kali berbicara dengan Jared. Padahal hanya bicara lewat telepon. Jangankan telepon, saat kami mengobrol lewat teks melalui aplikasi perpesanan pun hatiku seringkali bergetar dan seolah berdenyar. Ya, aku rasa aku memang gila, untuk semua yang berhubungan dengan Jared.

"Jadi, kau datang?"

"Ya. Kau?"

"Seperti yang tadi kau katakan, Bos Besar mengharapkan kita semua hadir di sana. Ini acara besar Laiyla. Dengan pesta yang juga besar. Kudengar media-media akan meliputnya."

"Ya. Project ini sudah lama digembar-gemborkan pada khalayak. Siapa yang tak ingin menyaksikan peluncurannya? Mereka pasti tak sabar ingin melihat bagaimana sebuah mobil terbang berbahan bakar air bekerja."

"Aku pun tak sabar."

"Tentu saja. Kau tim perancangnya, Jared. Tentu ingin menyaksikan bagaimana karyamu mendapat sambutan semua orang."

"No, Laiyl. Bukan itu."

"Lalu apa?"

"Aku tak sabar ... melihatmu berdiri anggun di pesta itu nanti."

Ya Tuhan! Bagaimana mungkin dia bisa berkata seperti itu tempo hari. Membuatku tak bisa tidur, dan gelisah menunggu datangnya malam ini, hanya untuk membuktikan ucapannya. Lalu menyaksikan kenyataan yang ada berbeda 180° dari bayanganku.

 Jared pembohong!

Jangankan melihatku. Melirik saja tidak. Padahal beberapa kali aku berdiri di dekatnya. Beberapa kali ia berjalan melewatiku dengan senyum cerahnya. Namun, matanya terus menghindariku dengan menatap entah ke mana. Senyum yang yang nyaris terkembang di bibirku otomatis menguap, dan kubatalkan niat untuk menyapanya.

Aku benci Jared!

*** *** ***

"Laiyla?"

Satu suara mengejutkanku yang sedang berjalan melintasi koridor panjang menuju ruanganku. Aku berhenti. Di depan laboratorium workshop M031 terlihat siluet seseorang berdiri di bawah bayangan tiang penyangga bangunan.

Aku mendekat, siluet itu semakin jelas.

"Dr. Raymond?" tanyaku.

"Ck! Sudah kubilang panggil aku Zach." sosok itu berdecak sebal. Aku tersenyum.

"Sorry, Dr. Ray, eum ... Zach. Sedang apa di sini? Kenapa tidak bergabung di aula?"

"Kamu sendiri sedang apa di sini? Mengendap-endap sendiri dalam gelap?"

"No, Sir! Saya tidak mengendap-endap. Saya sedang menuju ruangan saya ta--"

"Ah, menghindari seseorang, kurasa. No, jangan menyangkal. Dengar, tak ada seorang gadis muda yang akan menyelinap keluar dari meriahnya pesta jika tidak sedang menghindar dari seseorang yang membuatnya patah hati. Hahaha ....!"

S*al! Kenapa Dr. zach Raymond bisa menebak dengan jitu?

"Anda sendiri sedang apa di sini? Mengapa tidak bergabung dalam pesta itu? Dan, hei--" aku terbelalak ketika menyadari kami ada di mana. "Laboratorium Workshop M031 tempat terlarang, bukan?" kataku sambil memelankan suara.

"Memang, tetapi tidak untukku. Aku sedang menyelesaikan sebuah projek. Mmm ... kebetulan sekali kita bertemu. Aku ... ah, masuklah dulu. Kita bicara di dalam." katanya.

Ia menggesekkan kartu pass di tangannya. Seketika pintu lab membuka. Dr. Raymond berbalik dan mengangguk padaku yang masih berdiri ragu.

"Jangan takut. Aku tak akan mencelakakanmu," katanya lalu melangkah masuk. Dengan antusias aku mengikutinya. Padahal tadinya aku hanya ingin menuju ruanganku dan menenangkan diri dari rasa marahku pada Jared. Tapi, ah, masa bodoh dengan Jared Witheart itu. LW M031 lebih menarik untukku. Sudah sejak lama aku penasaran, projek-projek besar apa lagi yang sedang disiapkan di dalamnya.

Jangan bayangkan LW M031 seperti Laboratorium workshop di kampus-kampus teknik atau apa. Tidak, ini jauh lebih hebat. Di dalamnya terdapat beberapa blok dan setiap blok berisi projek-projek berbeda. Projek-projek rahasia.

Zach membawaku ke salah satu blok. Di sana kami melewati satu pintu berpengaman ganda. Zach mendekati alat pemindai mata sebelum kembali menempelkan kartu passnya.

"Akses diterima."

Suara komputer bergema tepat sebelum pintu berdengung membuka. Aku memasuki ruangan luas di depanku dengan penuh rasa takjub. Berbagai perkakas modern dan mutakhir kulihat tersedia dalam ruangan ini. Aku menyentuhnya satu persatu. Norak sekali. Itu kusadari setelah melihat tatapan Zach yang setengah tersenyum melihat tingkahku.

"Hei, Zach! Ini hebat!"

"Memang. Tidak ada yang tidak hebat di LW M031, Laiyla. Ini laboratorium workshop tercanggih yang pernah ada di negeri ini. Tepatnya sih, tidak ada yang tidak hebat di SkyTech Enterprise." Zach berkata dengan bangga.

Ada. Jared Whitheart. Dia tidak hebat.

"Wah! Benarkah? Lalu ... mengapa kau membawaku ke sini?"

"Ah, ya. Itu hal penting yang akan kubicarakan denganmu."

Zach membuka sebuah kotak besi yang juga berpengaman ganda. Mengeluarkan sebuah berkas dari sana dan meletakannya di atas meja di hadapanku. Lagi-lagi aku terbelalak saat mengenali berkas itu.

"Zach! Ini cetak biru mesin teleportasi yang kubuat beberapa tahun lalu!" seruku heran.

Ya, jadi begini, aku merancang sebuah mesin teleportasi beberapa tahun lalu. Saat itu setiap pegawai baru di Skytech Enterprise diminta mengajukan sebuah rancangan inovatif. Aku sudah meneliti tentang kemungkinan-kemungkinan pembuatan mesin teleportasi sejak masih menjadi mahasiswa di kampusku dulu.

Rancanganku dinilai baik oleh Bos Besar. Aku ingat, ia memujiku sebagai seorang yang cerdas. Tetapi itu saja tidak cukup. Katanya masih jauh hingga kita dapat mewujudkan sebuah mesin teleportasi menjadi nyata.

Ah, aku benci dengan segala basa-basi itu. Dengan kata lain ia menganggap karyaku sebagai khayalan semata 'kan? Padahal aku sudah menjelaskannya dengan rinci, menyertakan perhitungan-perhitungan fisikanya dengan lengkap dan gamblang. Tidak mustahil untuk merealisasikannya.

Ia tetap tidak menerima saat kukemukakan semua pemaparan tentang projek itu. Alih-alih menerima, ia malah menyanggahnya dan mematahkan semua argumenku.

"Kita hidup dalam realita, Miss Soeninta. Bukan sains fiksi semata. Dan realita bagi kita adalah bisnis. Nah, cobalah rancang sesuatu yang inovatif dan layak jual."

Layak jual katanya? Apa dia tidak tahu jika mesin teleportasi bisa menjadi tambang emas jika kami merealisasikannya. Dan INI bukan hanya sekedar sains fiksi semata seperti yang ia katakan.

"Sedang mengenang masa lalu, Laiyl?" Suara Zach Raymond membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum pahit.

"Semacam itulah," kataku. Apakah lelaki paruh baya di depanku ini seorang pembaca pikiran atau apa? Sudah dua kali dia menebak isi kepalaku dengan jitu.

"Fokuslah. Karena aku membawa kabar gembira untukmu." Zach tersenyum lebar.

Lelaki bertubuh tinggi tegap itu menarik sebuah kursi di seberangku. Ia duduk, lalu mulai membentangkan berkas-berkas itu di hadapanku. Aku rasa dia akan memberi kabar yang benar-benar hebat. Jadi, aku berdiam diri, siap-siap menerima kabar besar itu.

"Dengar," katanya dengan suara yang sengaja dibuat sedramatis mungkin. Aku sudah mempelajari cetak biru yang kau buat. Bahkan sudah melakukan riset ulang sebenarnya. Kupikir ...." Zach sengaja memenggal kalimatnya. Menatapku sambil tersenyum.

"Apa? Cepat katakan!" kataku. Zach masih tersenyum. "Dr. Raymond, please, jangan membuatku penasaran."

"Hahaha! Tidak sabaran.” Ia terkekeh. Tawanya bahkan semakin keras saat melihatku memutar mata. “Sabar, Nak. Jadi,  kupikir tidak mustahil untuk merealisasikan projek ini,” katanya. Aku nyaris melompat kegiranagan. Untung saja aku bisa menahan diri. Namun, tak urung Zach terbahak menertawakanku.

“Zach? Benarkah? Jadi kau akan membuat sebuah mesin teleportasi?”

“Aku? Tentu tidak.”

“Ah! Tapi kau bilang—“

“Kau, Miss. Kau yang akan membuatnya. Aku sudah membicarakan ini dengan Salvatore.”

“Apa? Benarkah?”

"Kenapa? Kau tidak mau? Kalau begitu biar kuserahkan projek ini pada Jared Witheart. Dia ppemuda yang sangat berbakat.”

“Tidak.” Aku menggeram. “Aku mau, tentu saja, tapi, benarkah kau sudah membicarakannya dengan Bos Besar? Maksudku, Mr. Borsellino?”

“Tentu saja.”

“Apa katanya? Bukankah dulu dia menolak gagasan ini mentah-memntah?”

"Tentu saja Salvatore setuju. Aku sudah membujuknya. Aku tahu Laiyla, projek ini projek besar. Pasti akan sukses besar. Dan kamu, Laiyl, kamu yang akan membawakan kesuksesan itu untuk SkyTech Enterprise.”

(bersambung hingga part 2 saja)

BandungBarat, 16 Juni 2020


Senin, 08 Juni 2020

SHURA DAN DIMA

SHURA dan DIMA
~cerpen Lilynd Madjid~




"Shura!"

Suara seruan di kejauhan menyentakkanku dari keasyikan mengintai ikan di tepian anak Sungai Kolyma yang nyaris membeku. Aku melompati batu-batu besar yang menyembul dari permukaan sungai. Mendaki batu terbesar dengan hati-hati.

Dari puncak batu aku berteriak membalas seruan Oтец yang tadi ditujukan kepadaku.

"Sebentar, Oтец! Aku akan segera kembali!" teriakku sekuat tenaga.

Kemudian dengan kehati-hatian yang sama seperti saat memanjatnya, kuturuni batu besar itu. Kurapikan peralatan berburuku, harpun kecil dan sebuah beliung pemberian kakek, juga ikan-ikan hasil tangkapan yang sudah kuikat. Aku bergegas menuju gua kami.

Di mulut gua kulihat Oтец dan beberapa laki-laki--ada sekitar 25 hingga 30 orang--tengah menyiapkan perlengkapan seperti obor, batu api, tombak, beliung, dan harpun besar. Oтецmemberi isyarat agar aku bergegas.

"Sebentar Oтец, aku akan memberikan dulu ikan-ikan ini pada Мать."

"Segera! Kau tahu hari ini kita mulai berburu." Oтец berkata galak. Ya, ayahku itu memang orang yang sangat tegas. Tidak heran jika kelompok kami mengangkatnya menjadi pemimpin.

Aku mengangguk, lalu setengah berlari memasuki mulut gua. Udara hangat menyambutku saat berada di dalam gua. Gua kami berada di kaki sebuah gunung berapi. Jika ditelusuri, akan ada lorong yang mengarah ke perut bumi. Dari lorong-lorong semacam itulah, mengalir uap-uap hangat ke lorong-lorong gua lainnya. Membuat kami terhindar dari udara dingin Siberia yang membekukan. Perlu beberapa lama menyusuri lorong-lorong gua yang berliku sebelum tiba di lorong tempat keluargaku tinggal.

"Shura! Tadi ayahmu mencari." Мать, ibuku menyambut saat aku tiba.

"Ya, Мать. Ia menungguku berburu." Kuserahkan ikan-ikan itu ke tangannya lalu bersiap-siap pergi.

"Shura!" Мать menahan tanganku. "Berhati-hatilah. Perhatikan saja dari jauh bagaimana orang-orang dewasa menangkap mammoth itu." Aku mengangguk kemudian bergegas keluar.

Di luar gua, persiapan sudah selesai dilakukan. Rombongan kami mulai berangkat. Aku berjalan di samping Oтец. Ada pemuda-pemuda lain seusiaku yang juga ikut dalam perburuan kali ini. Seperti aku, mereka juga sedang disiapkan untuk bisa berburu. Perburuan kali adalah cara kami belajar, dengan melihat secara langsung bagaimana orang dewasa berburu.

Kami tiba di sebuah padang luas di tepi sebuah danau pada siang hari. Udaranya cukup hangat. Oтец bilang itu karena adanya semburan uap dan air panas secara periodik di suatu tempat di sekitar sini. Kami memilih satu area yang cukup tersembunyi sebagai tempat berkemah. Di kejauhan, di tepi danau yang berseberangan dengan tepian tempat kami berada, samar kulihat kawanan mammoth bergerombol.

Setelah menyiapkan perlengkapan, rombongan kami mulai bekerja. Membuat lubang perangkap beberapa ratus meter dari tepi danau. Kamu semua, termasuk aku dan kawan-kawanku menggali lubang besar dengan beliung. Menjelang malam, lubang galian siap.

Setelah itu orang dewasa mengendap-endap dalam gelap menuju kawanan mammoth di seberang danau. Mereka memilih satu mammoth sebagai sasaran dan mulai bergerak mendekat. Obor-obor dinyalakan dengan batu api. Para mammoth mulai menyadari kehadiran kami, mereka kalang kabut menghindar.

Oтец dan teman-temannya menggiring mammoth sasaran menggunakan obor. Mengarahkan binatang besar itu ke lubang perangkap yang sudah kami siapkan. Tidak mudah. Binatang itu selalu mencoba melarikan diri dan mengamuk brutal. Akan tetapi Oтец dan teman-temannya adalah para pemburu andal.  Beberapa waktu kemudian mammoth itu sudah dapat dilumpuhkan di dalam lubang perangkap. Aku bergidig ngeri saat satu harpun besar dihantamkan menembus tengkorak kepalanya.

Setelah si Mammoth roboh, kami mulai menguliti mahluk raksasa malang itu. Perutku mendadak mual mencium amis darah yang menguar. Diam-diam aku menyingkir, berjalan menjauhi lubang. Aku butuh udara segar.

Satu suara dengusan mengagetkanku saat sedang berdiri menatap tepian danau di kejauhan. Aku mengendap-endap mencari sumber suara. Di balik sebatang pohon tidak jauh dari lubang perangkap, sebuah bayangan gelap terlihat. Saat aku mendekat, bayangan itu mendengus.

Aku segera menyadari mahluk apa itu. Masih mengendap-endap, kudekati Oтец. Aku memberitahukan keberadaan tamu kami. Oтец dan beberapa orang perlahan mengepung, lalu menyergap bayangan itu dengan tali serat kayu yang kami punya. Mahluk itu meronta. Mendengus-dengus dan sesekali mengeluarkan suara menguik yang menurutku sangat menyedihkan. Seseorang kulihat mengacungkan harpun ke arah kepalanya.

"Jangan!" Tanpa sadar aku berteriak. Semua menoleh ke arahku. "Ja-jangan bunuh dia, kumohon. Oтец, tolong biarkan bayi mammoth itu hidup," kataku mengiba.

***

Aku memberi nama bayi mammoth itu Dima.

Jadi, malam itu Oтец mengabulkan permohonanku. Kami membawa pulang Dima dan berton-ton daging mammoth yang menurutku adalah induk Dima. Agak menyedihkan memang.

Awalnya Oтец melarangku memelihara Dima. Namun, aku berkeras. Kasihan dia, ibunya sudah mati, sementara kawanannya telah meninggalkan tepian danau entah kemana. Jika ditinggalkan, bisa saja dia menjadi mangsa empuk binatang buas.

Maka di sinilah Dima sekarang. Tinggal di dalam satu lorong gua yang tak dihuni. Kupelihara dan kurawat dia dengan kasih sayang. Ternyata mammoth kecil ini binatang yang cerdas. Dia bisa mengenali aku, yang setiap hari datang memberinya makan. Kini dia tidak takut lagi padaku. Ia juga membiarkan, saat aku membelai bulu lebatnya, atau mengusap puncak kepalanya.

Kadang-kadang aku mengajaknya berjalan-jalan ke luar dari dalam gua. Jika sudah begitu ia akan berjalan di sampingku atau mengikutiku di belakang. Akhir-akhir ini Dima bahkan mengikutiku saat aku pergi menombak ikan.

***

Aku sedang menuju anak Sungai Kolyma pagi ini. Sebenarnya, Oтец dan Мать melarangku untuk menombak ikan. Cuaca agak tidak bagus. Kemungkinan badai salju akan datang. Namun, persediaan ikan kami sudah habis. Adik bungsuku, Makari, tak bisa makan jika tak ada ikan. Maka aku memaksa Oтец untuk mengizinkanku menangkap satu dua ekor ikan. Oтец akhirnya mengijinkan, dengan syarat, aku pulang sebelum tengah hari.

Ternyata cuaca memburuk begitu cepat. Badai datang menggulung saat aku masih mengemasi ikan yang kuperoleh. Segera kucari perlindungan di balik bebatuan. Namun, badai begitu dahsyat. Salju berhamburan menyerbu tubuhku.

Badai belum juga mereda saat aku mulai menggigil hebat. Mantel kulit mammoth yang kukenakan tak mampu menahan dingin yang menggigit. Gigiku gemeletuk. Tanganku tremor dan sudah mati rasa. Sedikit penyesalan menyusup dalam hati. Mengapa tak kuhiraukan larangan Oтец dan Мать tadi?

Kurasa kesadaranku mulai menghilang, saat kudengar suara dengusan. Lapisan salju yang kupijak terasa bergetar. Lalu seonggok bulu tebal menyentuhku. Bukan, bukan menyentuh, tetapi melilit dan menarikku. Menyurukkanku pada gumpalan bulu yang lebih tebal. Hangat mengalir melingkupiku. Sempat kubuka mata sejenak sebelum kembali menutupnya. Aku mengenali sosok besar itu.

"Dima ... kamu datang?"

*Tamat*

Catatan:
отец = ayah
Мать = ibu

Jumat, 20 Desember 2019

P E N U N G G U

PENUNGGU
Oleh Lily N. D. Madjid


Hari ini adalah hari pertamaku tinggal di rumah baru, di kota yang juga baru. Aku baru saja dimutasi ke kota  ini. Saat pindah, kuboyong serta keluarga kecilku. Amarylis, istriku, tidak mengeluh. Dia dengan lapang dada menerima kepindahan kami ke kota kecil ini. Begitu juga Sakti, putra semata wayang kami yang masih berusia balita. Dia malah terlihat antusias sekali.

“Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku….”

Aku menggeliat. Suara nyanyian kecil Sakti menyusup ke gendang telingaku. Ah, sudah bangun rupanya bocah itu. Kucoba memicingkan mataku yang masih terasa berat. Bocah kecil itu masih meringkuk di sudut kasur kami. Tetapi matanya sudah terbuka lebar. Mulut kecilnya bersenandung tanpa henti.

“Papa,” sapanya setelah menyadari aku memandangnya. “Papa, aku mau mandi.” Sakti bangkit dan mendekat. Aku kembali menggeliat.

“Sama mama, ya?”

“Mamanya mana?”

“Coba Sakti cari mama di dapur,” kataku sambil kembali memejamkan mata. Sungguh aku masih mengantuk. Kegiatan pindahan kemarin sangat menguras tenaga. Sakti turun dari tempat tidur, lalu menghilang di balik pintu kamar.

“Mamaaa … Mama, aku mau mandi!” teriak bocah kecil itu. Tidak lama kudengar suara siraman air di kamar mandi, ditingkahi senandung Sakti bernyanyi.

Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku….”

*****

Aku baru saja akan kembali terlelap saat kusadari satu sosok berdiri di ambang pintu kamar. Amarylis. Ia memandangiku sambil tersenyum.

“Sakti mandi sendiri?” Tanyaku. Ia mengangguk lalu melangkah mendekat. Anggun sekali caranya berjalan. Di sisi pembaringan dia berdiri memandangiku lekat. Masih dengan senyum yang mengembang.

“Kenapa?” tanyaku. Tidak biasanya dia bersikap malu-malu seperti itu. Amaryllis hanya menggeleng. “Sini, temani aku di sini.” Istriku mendekat. Memelukku erat sambil mengecup dua pipiku. Matanya yang berbinar menatapku lekat. Aku balas mendekap dan menciumi wajahnya. Tubuhnya.

“Mmm … Kamu pakai parfum baru, ya?” gumamku. Rasanya sebelumnya Amarylis tak pernah memakai parfum beraroma lembut melati seperti ini.” Dia tak menjawab. Hanya tersenyum. Semakin gemas aku dibuatnya. Tapi aktivitasku terganggu oleh suara berkelontang keras dari arah kamar mandi. Aku terlonjak kaget.

“Sakti …” Aku dan istriku saling pandang.

Bergegas aku berlari ke arah kamar mandi. Jangan-jangan anak itu terpeleset. Kamar mandinya memang belum sempat kubersihkan sejak kami datang kemarin. Lantainya masih licin berlumut.

“Mas! Mas Arshaka! Tolong, ini Sakti jatuh…” Aku tertegun. Itu suara teriakan Amarylis. Tapi kenapa suaranya berasal dari dapur?

Diambang pintu kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur, kulihat amarylis sedang memangku Sakti yang menggigil pucat.

“Amy,” desisku. “Bukannya kamu tadi … kita …” aku tergagap.

“Apa sih, Mas? Ini bantu anaknya!”

Walau jantungku berdebar keras, kuabaikan dulu untuk segera menolong Sakti.

“Papa, papa … “

“Sakti kenapa?”

“Sakti takut, Papa …” bisik sakti sambil melirik ke arah kamar mandi. Dia masih gemetar.

“Takut apa?” tanyaku dan istriku bersamaan.

“Nenek itu marah. Dia nggak suka dengar Sakti nyanyi lagu Bangun Tidur …”

“Nenek? Nenek Siapa?” aku dan istriku saling pandang.

“Nenek muka seram yang ada di kamar mandi. Dia galak, nggak seperti tante baik hati di kamar kita.” Katanya.

Kurasa kepalaku pening tiba-tiba.

Jumat, 29 November 2019

TERROR DI HOOGE BURGERE SCHOOL

TERROR DI HOOGE BURGERE SCHOOL
Cerpen Lily N. D. Madjid
#urban_legend



"Bim, pssstt ... Bim!"
Adri berbisik. Tetapi sosok yang berjalan di depannya terus saja melangkah.

"Bima! Woi! Tungguin gue!"

Sosok di depan berbalik sambil menaruh jari telunjuknya di depan bibir.

"Ck! Ngapain sih Lu berisik gitu?" Desis Bima kesal.

"Lu cepet banget jalannya. Tungguin gue ngapa?"

"Ya, elaaah, Bro. Makin cepat makin baik kali."

Tak urung Bima menghentikan langkahnya menunggu Adri yang nyengir lebar melihat tampang Bima.

"Lu takut ya? Ngaku aja deh, Bim. Jadi kita tinggal balik, trus lu traktir gue di Jiganasuki sesuai kesepakatan."

"Ish! Takut apaan? Lu kali yang takut." Bima menyangkal. Walau wajahnya menunjukkan hal sebaliknya.

Ya. Saat ini mereka berdua sedang melakukan uji nyali di sebuah sekolah pavorit di kota Bandung yang dulunya bernama Hooge Burgere School.

Konon, kalau kita berjalan memutari sekolah itu sebanyak tiga kali di malam hari, hantu wanita Belanda bernama Nancy akan muncul.

"Buruan, Dri."

"Ahaha ... Tuh kan, Lu sebenarnya mau cepat pergi dari sini kan? Udahlah nyerah aja," ejek Adri sambil tertawa kecil.

"Sialan, Lu! Gue nggak takut, cuma kebelet pipis doang. Hayu ah, buru!"

"Sabar, Bim, sabar. Hahaha ... Eh, omong-omong, kita ini putaran ke dua atau ke tiga sih?" Adri berhenti lagi. Mengingat-ingat.

"Lha, kan tugas Lu buat ngitung." Bima kesal. Matanya memandang sekeliling.

Di sekitarnya sunyi senyap. Sangat mencekam. Bahkan angin pun seperti berhenti berhembus. Bulu kuduk Bima meremang. Dia bergidig ngeri.

"Ya ampun. Gue kok merinding, Dri. Jangan-jangan kita emang udah tiga putaran. Trus, Mevrouw Nancy sebentar lagi muncul." Suara Bima bergetar.

"Seingat gue sih belum deh, masih satu putaran lagi,  terus baru ...."

Adri tak menyelesaikan kalimatnya, sebab sesuatu terasa menyentuh bahunya. Begitu juga dengan Bima. Keduanya menahan nafas beberapa waktu.

Bima melirik ke arah bahunya. Satu tangan hitam besar berbulu lebat bertengger di sana. O, tidak. Ini jelas bukan tangan Mevrouw Nancy. Ini mungkin Genderu ....

"Aaaaaa ...." Teriak Bima histeris sebelum menggelosor lemas dan membuat Adri panik.

"Jang, kunaon eta babaturanna?" (1) Satu suara bertanya. Adri menoleh. Rupanya si pemilik tangan tadi.

"Eh, Pak Satpam? Euuu ... Teu terang, Pak. Ngadadak weh sapertos kieu." (2)

"Euleuh? Hayu atuh urang bawa ka Pos," (3)ajak Pak Satpam sambil mencoba membopong Bima. Adri segera membantu.

"Naaa ... Atuh si ujang mah, nanaonan atuh tengah peuting kieu ngadon ngurilingan sakola? Siga teu aya gawe wae ...."(4) Gerutu pak satpam sambil bersusah payah memapah Bima yang belum juga sadar.

Tamat.

Terjemahan:

1) Nak, kenapa itu temannya?
2) Eh, Pak Satpam. Nggak tahu, Pak. Tiba-tiba aja begini.
3) wah? Kalau begitu ayo kita bawa ke pos.
4) lagian si ujang mah, ngapain juga keluyuran di sekolah tengah malam begini. Kaya yang nggak ada kerjaan aja.

Kamis, 08 Agustus 2019

Kita Berteman 'kan, Alien?


Kita Berteman ‘kan, Alien?
Cerpen Lily N.D. Madjid



BUMMMMM!

Suara dentuman hebat terdengar. Terasa getaran yang begitu kuat di dalam kabin pesawat kecil itu. Satu sosok kecil berteriak tertahan sambil berpegangan erat pada apapun yang mampu dijangkaunya. Sebenarnya dia tak perlu khawatir, sabuk pengaman yang kokoh masih mengikatnya erat. Ia aman di kursinya.

Tetapi tetap saja aura kepanikan terasa begitu kental. Sosok kecil itu menatap dari balik punggung ayah dan ibunya. yang terlihat sedang berkonsentrasi menghadapi panel yang ada di meja kokpit pesawat mereka.

“Kurasa kita tidak akan dapat bertahan.” Desis ibunya.

“Omong kosong! Aku yang merancang pesawat ini. Aku mendisainnya untuk perjalanan panjang dan jauh. Sistem pertahanannya sangat kuat. Benturan asteroid tidak akan menghancurkannya.” Gerutu ayahnya. Keempat tangan hijaunya menekan berbagai tombol di panel yang menyala.

“Hmmm…” si ibu mendengus, “Benturan asteroid memang tidak akan merusak pesawat ini. Tetapi ini bukan sekedar benturan. Ini badai asteroid, Bjyrozx.” Terasa ada getaran dalam suara si ibu. Membuat Bjyrox, si ayah sesaat mengalihkan pandangannya dari panel.

“Axcytrach, tolong jangan berputus asa. Jangan membuat Bjyrorazx takut.” Bisiknya sambil melirik Bjyrorazx, sosok kecil di kursi belakang. “Aku sedang berusaha. Aku sudah melakukan pengecekan. Memang keempat mesin penunjang kita nyaris mati. Tapi kita masih bisa bertahan. Aku juga sudah mengaktifkan mesin cadangan. Lagi pula, tujuan kita sudah cukup dekat. Kurasa kita….”

“Ayah, apa itu?” Suara bergetar Bjyrorazx menyela percakapan ayah dan ibunya. Raut wajahnya tampak ketakutan. Satu dari empat tangannya menunjuk ke depan. Bjyrozx dan Axcytrach menoleh sesaat ke arah anak mereka sebelum berbalik dan berteriak ngeri. Satu gugus asteroid raksasa yang besarnya hampir lima kali besar pesawat mereka tampak meluncur dengan kecepatan tinggi. Tepat pada jalur pesawat mereka.

“Ya Tuhan! BERTAHAN!” Teriak Bjyrozx. Tangan-tangannya bergerak sangat cepat di atas panel pengendali pesawat. Tetapi suaranya segera tertelan oleh suara benturan keras yang disusul oleh suara dentuman lain. Kapal kecil itu berputar-putar  cepat lalu meluncur tanpa kendali. Sebagian besar tubuh pesawat hancur dan terbakar.

*****  *****  *****


            Afif berguling bosan di atas tempat tidurnya. Dia belum mengantuk. Padahal jam dinding sudah menunjuk ke angka sembilan lewat tiga puluh menit. Di malam-malam yang lain, biasanya dia sudah tidur. Tetapi malam ini, bagaimana dia bisa tidur? Abang dan dua kakaknya baru pulang dari lain kota tempat mereka menuntut ilmu. Dan Afif ingin tetap di bawah bersama mereka. Mendengarkan cerita-cerita mereka. Tapi tentu saja bunda tidak mengizinkan. Bunda tidak pernah membiarkan Afif tidur lewat dari pukul sembilan malam.

            “Bunda nyebelin!” gerutu Afif. “Aaaa... ah! Aku kan masih masih mau dengar abang cerita.” Katanya. Lalu menutup rapat wajahnya dengan bantal dan berteriak sekuat tenaga. Tentu saja tidak ada yang mendengar.

            Setelah itu dia mematung. Benar-benar membosankan diam seperti itu sambil tidak melakukan apa-apa. Sekali lagi dia berteriak. Lalu tak lama bantal yang menutup wajahnya melayang cepat dan berhenti saat menabrak daun pintu yang menutup rapat. Bocah sebelas tahun itu bangkit, lalu bergeser ke arah jendela yang berada di sisi lain tempat tidurnya. Dibukanya daun jendela lebar-lebar. Udara dingin membelai wajahnya.

            Dia memandang ke sekeliling. Belum terlalu sepi. Ini belum pukul sepuluh, ‘kan? Kamarnya ada di lantai dua. Dari sana dia bisa melihat rumah teman-temannya. Di rumah Kean, temannya, masih terlihat terang benderang. Di rumah Key juga masih terlihat ramai. Kakak Key masih terlihat duduk-duduk di teras rumah. Sesekali Afif juga masih mendengar suara Key tertawa terbahak-bahak. Afif mendengus sebal. Kenapa hanya dia yang punya ibu seperti bunda?

            Mmmm… bukannya Afif benci bunda. Tidak. Sebaliknyanya,  Afif sangat sayang pada bunda. Tetapi… bunda punya aturan-aturan yang sangat ketat di rumah. Tidak boleh tidur lewat dari pukul sembilan malam. Tidak boleh pinjam HP lebih dari satu jam. Tidak boleh nonton TV lama-lama. Tidak boleh bernyanyi di kamar mandi. Harus ngaji. Harus belajar. Harus… harus… harus…

            Dan malam ini, saat Bang Adri dan Kakak Aqila datang dari Jakarta—mereka kuliah di sana—dan  Kakak Azkiya baru pulang dari pesantren, karena jatahnya untuk pulang, Afif tetap tidak boleh tidur melewati pukul sembilan. Padahal di bawah sana, bunda masih ngobrol seru dengan mereka. Itu kan tidak adil!

            Afif mengalihkan pandangannya ke langit. Cerah sekali langit malam ini. Walau pun bulan hanya separuh bersinar, tetapi bintang-bintang bertaburan. Berkelap-kelip seperti intan yang bersinar. Kekesalan Afif berangsur mereda. Dia takjub melihat langit dengan gugusan bintangnya.

            Tiba-tiba matanya menangkap selarik sinar di langit. Seperti api berekor yang menukik jatuh. Meluncur dengan sangat cepat.

            “Bintang jatuh…” bisik Afif. Dia terus memandangi cahaya yang meluncur itu. Matanya tak berkedip. “Kok… sepertinya makin dekat, ya?”

Cahaya itu memang semakin menukik di kejauhan. Terus meluncur dengan kecepatan tinggi. Lalu menghilang dari pandangan Afif karena terhalang bukit. Belum sempat Afif menghembuskan nafas yang sejak tadi tertahan, seberkas cahaya hijau berpendar beberapa saat dari balik bukit tempat bintang jatuh tadi menghilang. Afif memandang lekat-lekat ke arah bukit. Tetapi cahaya itu sudah menghilang. Hanya menyisakan kegelapan di sekelilingnya.

*****  *****  *****


Hari ini hari Sabtu dan sekolah libur, karena kegiatan belajar di sekolah Afif hanya berlangsung lima hari dalam seminggu. Ia sedang asyik membaca buku tua milik bunda. Seri petualangan Tom Swift dengan kapal ruang angkasanya. Bunda punya banyak koleksi seperti ini di lemari bukunya. Dan Afif suka sekali membacanya. Walaupun buku tua, tetapi ceritanya tidak kalah menarik dengan buku-buku baru Afif yang lain.

Tiba-tiba Afif mendengar suara-suara. Seperti suara langkah kaki dan kelotak barang-barang berjatuhan. Dia menyingkirkan bacaannya, kemudian memasang telinga baik-baik.

“Sepertinya dari gudang di samping…” gumam Afif. Dia kembali memandang berkeliling. Di ruang tengah ini sepi. Televisi tidak menyala. Hanya dengung pompa aquarium milik ayah saja yang terdengar. Abang dan kakak-kakaknya pergi sejak tadi. Jalan-jalan, katanya. Afif memilih tidak ikut. Ia lebih suka menghabiskan waktu di rumah untuk membaca. Ayah juga pergi pagi-pagi sekali. Sementara bunda sedang khusyuk di depan laptopnya di kamar.

Lalu suara apa di samping rumah itu?

“Buun.” Panggil Afif. Tak ada sahutan. Afif turun dari sofa. Ia menuju kamar bunda. Dilihatnya bunda sedang sibuk dengan kertas-kertas dan laptopnya. Bunda menoleh saat Afif menjulurkan kepala di ambang pintu kamar.

“Ya, Fif?”

“Bunda belum selesai? Tanya Afif. Bunda menggeleng dan melanjutkan kembali pekerjaannya. “Kayaknya ada orang deh, Bun, di gudang. Aku dengar suara-suara.”

“Gudang kan dikunci, Fif. Apa mungkin ayah?” bunda balik bertanya tanpa melepaskan pandangan dari laptopnya.

“Coba Afif periksa dulu sebentar, Bun.” Kata Afif sambil bergegas meninggalkan kamar bunda menuju gudang di samping rumah.

Di luar lengang. Afif berjalan perlahan ke arah gudang sambil memeriksa sekelilingnya. Tidak ada yang aneh. Hanya saja… pot-pot tanaman bunda terlihat agak berantakan. Seperti ada yang sudah mengaduk-aduk tanahnya. Apa tadi bunda habis berkebun lagi? Tapi rasanya sejak tadi bunda sibuk dengan laptopnya di kamar?

Afif menggeleng-geleng sendiri. Ditinggalkannya pot-pot tanaman bunda. Dia kembali menuju ke gudang samping. Sesampainya di sana, dia sangat terkejut. Pintu gudang terbuka setengahnya. Bukankah tadi bunda bilang kalau pintu gudang dikunci? Atau bunda lupa?

Perlahan Afif mendekati pintu gudang. Dia mengintip diam-diam. Kotak-kotak tempat menyimpan kompos dan pupuk kandang yang sudah kosong berserak di lantai. Pencuri? Afif bertanya-tanya dalam hati. Tidak lama matanya menangkap sesosok tubuh yang  menggeletak di lantai gudang. Afif mendekat dengan mengendap-endap, takut mengejutkan sosok itu. Ini pasti pencuri. Pikirnya dalam hati. Dia sudah bersiap-siap akan meraih apa saja jika pencuri itu menyadari kehadirannya. Ketika sudah berada cukup dekat dengan sosok tersebut Afif malah terbelalak dan secara refleks dia menjerit sekuat-kuatnya.

*****  *****  *****


Sudah beberapa hari ini banyak orang berkunjung ke rumah Afif. Ada Pak RT, Pak RW orang-orang dari kantor desa dan entah dari mana lagi mendatangi rumah Afif. Tidak ketinggalan ibu-ibu dari dinas sosial dan dinas entah apa namanya itu—Afif kurang jelas mendengarnya—juga datang ke sini.

Semua tentu saja karena kehadiran si Pucat itu. Si Pucat? Yeah, sebenarnya anak itu mengaku bernama Roraz. (Huh! Nama macam apa itu?). Itu lho, anak yang ditemukan Afif tergeletak pingsan di dalam gudangnya minggu lalu. Nah, sejak ditemukan tempo hari, ayah dan bunda memutuskan untuk menampung si Pucat—maksudnya Roraz—di rumah, sampai dia mampu menceritakan lebih banyak lagi tentang siapa dirinya.

Itulah sebabnya kenapa banyak orang-orang berdatangan ke rumah Afif. Setelah ayah melaporkan keberadaan Roraz ke Pak RT, pak RT melaporkan ke Pak RW, lalu ke kantor desa, dan seterusnya, orang-orang pun berdatangan. Ingin tahu tentang—ayah bilang ingin membantu—si anak pucat itu. Tetapi sampai hari ini, tidak banyak yang bisa diketahui dari Roraz.

Di rumah dia tidak banyak bicara. Jika diajak bicara dia lebih sering hanya memandangi saja orang yang mengajaknya bicara. Dia seperti sedang berpikir keras mencerna setiap kata. Kalau ditanya tentang asal-usulnya pun dia seringkali malah melamun. Kadang Afif sering memergokinya menangis atau menggigil ketakutan. Dia juga jarang menyentuh makanannya.  Makanya bunda sangat cemas di buatnya. Si Pucat itu jadi bertambah pucat dari hari ke hari.

Sering bunda menyuruh Afif untuk mengajak Roraz mengobrol. Kata bunda, mungkin Roraz mau lebih banyak bicara jika dengan Afif, karena mereka sebaya. Tapi Afif enggan kalau harus berdua saja dengan Roraz. Bukan karena Afif sombong atau apa kalau harus berteman dengan Roraz. Tidak. Tapi Afif agak takut. Ada satu hal yang hanya dia yang mengetahuinya. Tidak ada orang lain yang tahu, tidak juga bunda atau pun ayah. Fakta bahwa saat pertama kali ditemukan di gudang samping rumah dalam keadaan pingsan, kulit Roraz berwarna sangat hijau, dan tangan Roraz… ada dua pasang.

*****  *****  *****

Hari berganti hari. Sudah dua minggu Roraz tinggal di rumah Afif. Ayah dan bunda tidak tega jika Roraz harus tinggal di panti sosial. Lebih baik Roraz di sini, kata mereka. Lagi pula, Roraz bisa menemani Afif yang sudah ditinggal lagi oleh abang dan kakak-kakaknya ke luar kota. Pak RT dan Pak RW menyetujui keputusan ayah dan bunda. Jadilah Roraz tinggal bersama keluarga Afif.

Tetapi sejauh ini belum ada informasi yang lebih banyak diketahui tentang Roraz. Anak itu masih saja tidak banyak bicara. Hanya saja sekarang sudah mulai mau makan. walaupun dari ekspresinya, Roraz seperti kurang suka dengan makanan yang ada di rumah Afif. Karena sudah mau makan, tubuh Roraz sudah terlihat lebih segar walau pun masih tetap pucat.

Afif juga sudah tidak terlalu takut lagi. Selama dua minggu ini, Afif benar-benar mengawasi Roraz walau hanya dari kejauhan. Tidak ada yang mencurigakan. Afif mulai berpikir bahwa saat pertama kali menemukan Roraz, mungkin ia hanya berhalusinasi saja saat melihat tangan Roraz  berjumlah empat.

“Hmmm… tapi asyik juga ya, kalau kita punya empat tangan.” Gumam Afif sambil senyum-senyum sendiri. Saat itu dia sedang berjalan sendirian pulang dari sekolah. Teman-temannya yang searah sudah tiba lebih dulu di rumah mereka. Rumah Afif memang yang paling jauh di antara temannya yang lain. “Aku bisa begini, begini… chiaaattt!” Afif bergerak menirukan orang bersilat seperti yang pernah dia lihat di televisi, “Sambil tangan aku yang dua lagi begini… hap, hap, hap!” Afif memungut batu di dekatnya dan dengan cepat melempar batu tersebut!

BLETAKKKK!

GRRRRRRR…

GUK! GUK! GUK!

Seekor anjing menggeram marah dan melesat ke arah Afif setelah batu yang Afif lempar tadi mengenai punggungnya dengan keras. Afif tersentak kaget. Wajahnya berubah pucat melihat anjing bertampang galak itu berlari cepat ke arahnya.

“Bundaaaaaaa…. Toloooooooooooonggg!”

Afif berlari sekuat tenaga. Mulutnya terus berteriak meminta tolong. Tetapi jalanan begitu lengang. Tidak ada seorang pun terlihat di sana.

“Hooooiiii…. Orang-oraaaaaang! Tolooooooonggg!” teriak Afif kalang kabut. Anjing itu semakin mendekat. “Ayaaaahhhhh! Bundaaaaaa! Roraaaaazzzz!” Entah mengapa tiba-tiba saja Afif teringat pada Roraz yang dalam bayangan di kepalanya sedang duduk dengan nyaman di rumahnya yang tenang. Tidak seperti dirinya yang bagaikan telur di ujung tanduk dalam kejaran anjing galak.

Tiba-tiba secercah sinar biru menyilaukan melesat entah dari mana. Suara anjing yang tadi menggonggong dengan ributnya seketika hilang. Sekelilingnya menjadi sepi. Langkah Afif terhenti perlahan. Selain karena dia sudah tidak mampu lagi berlari, Afif juga ingin tahu apa yang terjadi dengan si anjing yang tadi ada di belakangnya.

Bukan main terkejutnya Afif melihat apa yang terjadi. Saking kagetnya dia sampai terjengkang ke belakang.

“Alamak! Kenapa itu si anjing galak?” katanya nyaris berteriak. Matanya memandang kaget ke arah anjing yang sekarang diam membeku di depannya. Ya, membeku. Benar-benar membeku tidak bergerak lagi.

“Kamu sudah aman sekarang.” Kata satu suara dari belakang. Afif yang baru saja mulai berdiri, kembali terduduk ke tanah saking kagetnya. Dia lebih terkejut lagi saat menoleh dan mendapatkan Roraz sudah berdiri di dekatnya.

“Kok kamu ada di sini?” Afif melotot, nafasnya masih tersengal-sengal karena berlari tadi. Ditambah lagi dengan kemunculan Roraz yang tiba-tiba.

“Aku? Errr… aku mendengar kamu minta tolong tadi.” Kata Roraz ragu.

“Memangnya tadi kamu ada di mana?” Afif mendelik memandang Roraz. Seingatnya tadi dia tidak melihat Roraz di sekitar sini.

“Di rumahmu. Memangnya di mana lagi?” sahut Roraz cepat. Tetapi wajahnya segera memucat saat dia melihat Afif menyipitkan mata sambil memandangnya dengan pandangan aneh.

“Kamu di rumah?” bisik Afif sambil mendekat. “Mana mungkin kamu bisa mendengar teriakanku dari sana?” Mata Afif  tidak lepas dari mata Roraz yang terlihat salah tingkah. “Kamu…” Afif tidak meneruskan kalimatnya. Dia tertegun saat menatap pupil mata Roraz. Afif melihat ada yang aneh dengan pupil mata itu. Pupil mata Roraz tidak berbentuk lingkaran seperti pupil mata pada umumnya. Pupil mata Roraz menyerupai garis vertical seperti… pupil mata kucing.

Afif yang tadi maju mendekat segera menghentikan langkahnya. Teringat lagi pemandangan saat pertama kali dia menemukan Roraz di gudang rumahnya. Tubuh hijau Roraz dan tangannya yang berjumlah dua pasang. Afif bergidig.

“Kamu itu apa?” bisik Afif menatap tak berkedip ke arah Roraz. Roraz menatap tajam mata Afif. Dia maju selangkah, kemudian memejamkan matanya. Afif mundur dua langkah. Dilihatnya pelipis Roraz berdenyut-denyut. Kulitnya semakin memucat nyaris kehijauan. Beberapa titik keringat keluar di pori-pori kulitnya.

Tidak lama mata Roraz membuka. Dia menatap Afif tidak setajam tadi. Ada senyum di sudut bibirnya. Senyum samar yang baru kali ini Afif lihat.

“Memangnya menurutmu aku ini apa?” tanyanya.

“Kamu…, eh, bukan manusia ‘kan?”

“Kalau aku bukan manusia lalu apa?” senyum Roraz semakin lebar. Dia berjalan ke arah sebatang pohon besar yang berada tidak jauh dari sana lalu duduk di bawahnya.

Afif mengikuti Roraz. Rasa takutnya sudah hilang, berganti keingintahuan yang sangat besar. Ragu-ragu Afif duduk di sebelah Roraz. Masih ditatapnya Roraz. Diperhatikannya setiap inci tubuh Roraz.
“Mungkin…” kata Afif sambil menatap mata Roraz. “Kamu mahluk dari luar bumi… Alien?” Bisik Afif. Pupil mata Roraz membentuk satu garis lurus. Menatap Afif sejenak lalu membuang pandangannya ke hamparan sawah di depan mereka. Roraz menarik nafas dalam.

“Aku memang tidak dari sini…” gumamnya setelah lama berdiam diri. Suaranya serupa bisikan. Afif menahan nafas, menunggu kata-kata kembali keluar dari mulut Roraz.

Tetapi Roraz kembali terdiam. Wajahnya bersemu kehijauan. Air mata menetes dari sudut matanya. Dia menggumamkan kata-kata yang tidak Afif mengerti. Bunyinya serupa keluhan. Lalu lagi-lagi Roraz memejamkan matanya. “Aku sendirian di sini…” katanya bergetar. Begitu menyedihkan. Sampai-sampai Afif merasa ingin menangis juga.

“Kamu kan dengan kami sekarang.” Kata Afif. Dia sendiri bingung kenapa dia berbicara seperti itu. Tapi mulutnya terus berkata, “Ada aku, ayah, bunda, abang Ad…”

“Kamu?” Roraz menoleh cepat. “Bukannya kamu takut padaku?” katanya. Afif kehilangan kata-kata. Dia tergagap.

“Aku…”

“Selama ini kamu selalu menghindar dariku, Afif.” Roraz tersenyum pahit. “Aku tahu, sejak awal kamu sudah tahu siapa aku.” Roraz menatap Afif.

“Aku…”

“Tapi aku berterimakasih padamu,” Roraz memotong kalimat Afif. “Aku berterimakasih karena kamu tidak menceritakan pada orang-orang. Pada saudara-saudaramu, pada ayahmu, bahkan tidak juga pada ibumu…”

“Eeuuu… aku…”

“Kamu ingin tahu siapa aku sebenarnya ‘kan, Afif?” lagi-lagi Roraz memotong kalimat Afif.

Afif mengangguk cepat. Dia memang penasaran sekali dengan Roraz. Roraz tersenyum. Dia mengulurkan tangannya ke arah Afif. memberi isyarat agar Afif memegang tangannya. Afif menatap tangan itu. Beberapa kali tatapannya beralih ke wajah Roraz. Menatap mata Roraz yang kehijauan. Kemudian setelah menguatkan hati, Afif menggenggam tangan Roraz yang panas.

Afif berteriak kaget. Ia seperti tersengat listrik. Belum lagi habis kekagetannya, Afif kembali menjerit ngeri saat dia merasa seperti dihempaskan ke dalam sebuah pusaran yang berputar sangat cepat. Belum habis teriakannya, pusaran yang berputar itu berhenti secepat munculnya. Afif terhuyung ke depan. Dia merasa sangat mual.

“Roraz! Apa itu tad…” Afif tidak meneruskan kalimatnya. Mulutnya menganga. Matanya memandang ke depan, lalu ke kiri dan kanan. Kemudian Afif berputar sambil ribut berteriak. “Roraz, di mana ini?” Afif masih memandang ke sekelilingnya dengan ngeri. Ini bukan di tepi jalan tempatnya tadi duduk dengan Roraz. Ini di… hutan.

*****  *****  *****

Afif masih termangu-mangu memandangi puing-puing suatu objek yang hangus terbakar. Akar gantung pohon dan sulur-sulur panjang menutupi sebagian besar objek tersebut. Afif memandang Roraz. Tatapannya penuh pertanyaan.

“Ini pesawat kami.” Kata Roraz menjelaskan. Afif mengernyit.

“Tapi sulur-sulur dan dan akar ini? Kau bilang dua minggu lalu kau tiba di sini. Tidak mungkin akar dan sulur-sulur ini sudah begitu rimbun menutupi puing… euuu.. pesawatmu.” Afif terlihat bingung. Roraz tersenyum. Ini mekanisme kamuflase kami, Afif. aku sengaja membuat akar dan sulur-sulur ini menutupi puing-puing pesawat kami. Aku tidak mau ada manusia bumi yang menemukannya.”

Afif memandang ke sekeliling puing. Memang kerapatan akar dan rimbun sulur-sulur itu telah menyembunyikan pesawat Roraz dengan sempurna. Tidak akan ada yang menyangka, di balik gerumbul daun yang lebat di sulur-sulur itu, ada pesawat luar angkasa yang sudah hangus.

            “Hebat.  Apalagi yang kamu bisa?”

“Aku tidak hebat. Memang begitulah kami diciptakan. Seperti system imun yang ada dalam tubuh kalian saat melawan kuman penyakit. Kami juga memiliki mekanisme kamuflase dan kemampuan beradaptasi secara cepat. Semua itu untuk bertahan hidup.”

“Sejak diciptakan? Memangnya siapa yang menciptakan kalian?” Tanya Afif. Dahi Roraz mengernyit. Menatap Afif dengan heran.

“Kenapa kau bertanya? Bukankah kalian juga mahluk yang diciptakan?” Roraz balik bertanya. Afif menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal.

“Tentu saja manusia juga mahluk ciptaan. Allah yang menciptakan kami. Dialah Tuhan yang kami sembah.” Kata Afif. “Mmmm… kupikir ada teknologi tertentu yang menciptakan kalian, para alien…” gumam Afif. Roraz terbahak. Baru kali ini Afif mendengarnya tertawa.

“Kami bukan robot, Afif. kami makhluk hidup. Sebagai makhluk, kami juga diciptakan oleh Tuhan. Tuhan yang juga kami sembah. Yeah.. walau pun, di antara kami ada yang mengingkariNya, tetapi keluargaku bukan bagian dari orang-orang yang seperti itu. Ayah dan ibuku bahkan selalu mengingatkan aku untuk selalu mengingatNya dalam situasi apapun…” kata Roraz. Pandangannya menjadi sayu saat berbicara tentang orangtuanya. Afif termenung. Tiba-tiba Roraz kembali mengulurkan tangannya.

“Berikan tanganmu, Afif.” katanya. Ragu-ragu Afif mengulurkan ke dua tangannya. Dia masih ingat saat tiba-tiba saja tersedot ke dalam pusaran yang memusingkan setelah memegang tangan Roraz di tepi jalan tadi. “Jangan takut.” Bisik Roraz. Afif pun menyentuh tangan Roraz dan menggenggamnya.

Sekejap sengatan listrik itu kembali dirasakan oleh Afif. Gambar-gambar melintas dalam pandangan Afif. seperti slide yang diputar cepat. Gambaran sebuah planet kecil dengan penduduknya yang padat. Peperangan yang mengerikan. Orang-orang yang membantai orang-orang yang lainnya. Pesawat kecil yang melesat di kelamnya angkasa. Badai meteor. Ledakan keras. Berputar-putar. Berputar-putar. Gelap. Guncangan. Gelap. Lalu ada dua sosok hijau bertangan empat yang berbicara kepadanya sampai kemudian mereka terkulai tak bergerak lagi. Setelah itu gambar-gambar tersebut lenyap. Afif kembali pada keadaan sebelumnya. Di depannya, Roraz dibanjiri peluh di sekujur tubuhnya. Terkulai pingsan.

*****  *****  *****


“Roraz! Syukurlah kau sudah sadar.”

“Aku tidak apa-apa, Afif.”

“Tapi kamu pingsan.”

“Tidak. Memang begitulah mekanisme tubuh kami setelah melakukan transfer memory.”

“Jadi, gambaran-gambaran yang aku lihat tadi sebenarnya ingatan dalam kepalamu?”

“Ya. Apa kau mengerti?”

Afif mengangguk. Menatap sedih ke arah Roraz. Berat sekali hal yang sudah Roraz alami.
“Aku… ikut beduka untuk ayah dan ibumu.” Kata Afif. Air matanya menetes tanpa diminta. Dia teringat pada ayah dan bundanya sendiri. Apa jadinya jika dia yang kehilangan orangtua seperti Roraz? Terdampar di planet asing yang tidak di kenalnya pula.

Roraz lagi-lagi mengeluarkan suara keluhan dengan bahasa yang tidak dimengerti Afif. Mungkin itu cara Roraz menangis. Sebutir air mata memang menetes di pipinya yang agak menghijau. Setelah itu Roraz menggeleng keras.

“Terimakasih. Aku… aku tidak tahu apakah setelah ini aku masih akan mampu bertahan.” Katanya. Afif memegang tangan Roraz. Tidak memedulikan sengatan listrik yang sekejap dirasakan mengalir dari tangan Roraz.

“Sejauh ini kau bisa bertahan, ‘kan?” kata Afif.

“Aku… Sebenarnya aku sangat takut.”

“Jangan takut.”

“Aku sendirian sekarang,”

“Kan sudah kubilang, ada aku.” Afif ngotot meyakinkan. “Bagaimana kalau…” Afif berpikir sebentar, “Bagaimana kalau aku bilang ke bunda untuk mengadopsi kamu?” Afif tersenyum lebar. Mata Roraz membuka lebar. Afif bisa melihat pupil matanya melebar, sebelum kembali membentuk garis vertical. “Itu ide bagus ‘kan?” Senyum Afif semakin lebar.

“Apa… apa orangtuamu mau?” Roraz ragu. Afif terlihat berpikir keras.

“Mmmm… kupikir, kalau kamu menceritakan yang sebenarnya… bunda bisa mengerti.”

“Kamu gila! Bagaimana kalau bundamu malah ketakutan dan menyuruh manusia bumi lain menangkapku?” Roraz bergeser menjauhi Afif. Matanya menerawang. Ia ingat pesan ayahnya sebelum meninggal. Ia harus berhati-hati terhadap penduduk planet yang belum dikenalnya ini. Ibunya juga berpesan agar mekanisme kamuflase dan adaptasinya selalu diaktifkan agar penduduk planet ini tidak melihat bahwa dia berbeda. Tetapi di depannya Afif malah memintanya untuk membongkar jati dirinya. Roraz menggeleng.

“Roraz, dengar. Kalau kau tidak menceritakan siapa dirimu yang sebenarnya, mungkin ayah dan bundaku akan terus mencari keberadaan orangtuamu. Bagaimana jika ibu-ibu dari dinas social itu akhirnya memaksamu untuk tinggal di panti sosial?” kata Afif mencoba meyakinkan. “Kalau kau menceritakan yang sebenarnya, bundaku pasti bisa mengerti…”

“Atau dia akan berbalik membenci…” potong Roraz.

“Tidak akan.” Tegas Afif. “Aku tahu seperti apa bunda. Yeah.. walau pun dia punya banyak aturan di rumah, tapi sebenarnya bunda itu penyayang. Dia pasti mau menerima kamu di rumah kami.”
“Bagaimana kalau…”

“Aku akan membujuknya sampai berhasil, Roraz.” Afif seperti ingin berteriak demi meyainkan Roraz. Roraz memandang Afif lama. Akhirnya dia mengangguk.

“Baiklah. Aku setuju. Tapi kalau…”

“Bunda akan setuju. Tenang saja.” Afif tersenyum. Dia teringat koleksi buku-buku tua milik bunda. Hampir sebagian besar bercerita tentang petualangan ruang angkasa. Bagaimana mungkin jika ada entitas ruang angkasa ada di depan matanya, bunda akan menolak dan mengusirnya? Itu tidak akan terjadi. Tidak. Afif yakin sekali.

*****  *****  *****


Ayah dan Bunda terbelalak menatap ke arah Roraz. Dia sedang menunjukkan wujud aslinya yang tanpa kamuflase. Sesosok tubuh kecil berkulit hijau dengan empat buah tangan di sisi tubuhnya. Telinga runcingnya menempel di sisi kepala yang berdahi lebar. Wajahnya tidak terlalu asing. Hampir mirip seperti manusia, hanya saja berwarna hijau seluruhnya. Membuat Roraz terlihat seperti… alien.

“MaasyaaAllah… Subhanallah… Allahu Akbar…” bunda tidak berhenti bertasbih sejak tadi. Ayah terbengong-bengong tidak percaya. Sementara Afif cekikikan melihat ekspresi kedua orangtuanya. Roraz sendiri segera mengubah wujud ke dalam bentuk kamuflasenya. Dia tersipu-sipu.

“Jadi, boleh ‘kan Roraz tetap di sini bersama kita?” Tanya Afif. Ayah dan bunda saling pandang. Kemudian bunda tersenyum.

“Tentu saja. Tapi… apakah Roraz memang benar ingin tinggal di sini bersama kita?” Tanya Bunda.

“Aku sudah tidak punya siap-siapa lagi.” Jawab Roraz.

“Kalau begitu… Mulai sekarang Roraz adalah bagian keluarga kita.” Kata ayah. Afif berteriak kegirangan. Mata Roraz berbinar senang.

*****  *****  *****


“Ayo cepat isi formulirnya.”

“Untuk apa?”

“Kan kamu mau sekolah sepertiku. Ini formulir yang harus kau isi, Roraz. Ayo tulis namamu.” Afif tidak sabaran menyodorkan selembar kertas dan sebatang pena ke arah Roraz. Roraz mengangguk-angguk mengerti. Lalu mengisi formulir tersebut. Setelah selesai, Roraz menyerahkannya pada Afif. Senyum lebar Afif seketika menghilang saat membaca tulisan Roraz.

“Apa ini? Kenapa namamu jadi Bjyrorazx Bjyroxz?” susah payah Afif mengeja.

“Itu memang namaku, Bjyrorazx. Sementara Bjyrozx, itu nama ayahku.” Jawab Roraz. Afif menggeleng-geleng.

Hah? Kau lahir tahun Bintang Merah? Usia seribu dua ratus tahun? Apa-apaan itu? Kau ini apa sih?” Afif terus saja menggerutu. Roraz sendiri tertawa-tawa melihat tampang Afif. “Dasar Alien!” maki Afif. Roraz makin keras terbahak.

“Memang aku alien, ‘kan? Seperti yang selalu kau bilang.”

“Iya. Tapi ini…” Afif melambai-lambaikan kertas formulir itu sambil cemberut sebal. “Percuma saja kau gunakan mekanisme kamuflasemu yang camggih itu, kalau kau malah membeberkannya di formulir ini.”

“Jadi, apa yang harus kutulis di sana?”

“Sini. Biar aku yang urus.” Afif merebut ballpoint dari tangan Roraz. Dia menghapus tulisan Roraz yang berantakan dengan tipe-ex. Lalu menulis ulang di atas formulir itu.

“Nah, ini baru beres.” Kata Afif tak lama kemudian. Sesaat dia memeriksa kembali formulir itu. Lalu tiba-tiba dahinya berkerut. “Ada poin yang belum terisi. Ini pertanyaan tentang makanan kesukaanmu.” Afif menggaruk-garuk kepala. Kenapa formulir pendaftaran  menanyakan makanan kesukaan juga?

“Spjryksozixs.” Kata Roraz.

“Hah? Apa?”

“Spjrysozixs. Eeeu… itu sejenis makanan di tempat asalku. Lezat sekali, juga sangat bernutrisi. Semua orang di tempat asalku sangat menyukainya.”

“Oh ya? Sulit sekali namanya. Apa rasanya benar-benar lezat? Seperti apa kira-kira?”

“O, tentu saja. Mmmm… rasanya seperti….” Roraz berpikir sejenak. “Oh ya! Aku pernah menemukan yang aroma dan rasanya mirip dengan spjrysozixs. Kau ingat saat pertama kali menemukanku di gudangmu? Waktu itu aku sangat lapar dan lemah. Lalu tiba-tiba aku mencium aroma lezatnya. Aku heran kenapa ada Spjrysozixs dihambur-hamburkan dalam pot tanaman. Di dalam gudang juga aku menemukannya dalam kotak-kotak karton. Tapi sayang isinya tinggal sedikit. Tidak cukup mengenyangkan dan mengembalikan energiku saat itu…
“Tunggu dulu! Apa kotak itu bertuliskan ‘PUPUK’?”

“Ya. Ada gambar binatang berkaki empat. Apa makanan itu terbuat dari daging binatang itu?” Tanya Roraz polos. “Oiya, kotak satunya bertuliskan ‘KOMPOS’ bentuknya mirip. Tapi rasanya tidak terlalu enak.” Kata Roraz. Tapi dia bingung melihat wajah Afif yang terlihat aneh.

“Dasar bodoh!” maki Afif. Setengah mati dia menahan tawanya membayangkan Roraz menyantap pupuk tanaman milik bunda. “Itu memang makanan, tapi untuk tanaman, bukan untuk kita. Gunanya untuk menyuburkan tanaman.”  Kata Afif. Roraz terbengong-bengong. Padahal rasanya lezat sekali menurutnya.

“Sudahlah. Banyak yang harus kau ketahui tentang lingkungan di sekitar kita.” Kata Afif. “Yuk aku tunjukkan.” Afif mengajak Roraz keluar dari kamar. Roraz mengikuti Afif tanpa membantah.

“Euu… Afif. Apa menurutmu aku ini aneh?” Tanya Roraz tiba-tiba. Afif berhenti melangkah. Lalu menatap Roraz lama.

“Tentu saja kau aneh.” Kata Afif sambil tersenyum jail. “Kau ‘kan alien.” Sambung Afif sambil menepuk bahu Roraz. Roraz melotot ke arah Afif yang segera berlari ke halaman meninggalkan Roraz. Di sana dia berhenti lalu berbalik. “Tapi kau juga hebat. Kita akan selalu berteman ‘kan, Alien?” seru Afif sambil tersenyum lebar. Roraz ikut tersenyum. Tentu saja. Katanya dalam hati. Lalu dia berlari mengejar Afif. Sahabat sekaligus saudaranya di planet asing ini. Satu-satunya yang dia punya.

*Belum Selesai*
(Semoga bisa dilanjutkan ke seri Afif --Roraz lainnya ;) )



PUISI RAKYAT (PUISI LAMA): PANTUN

      KOMPETENSI DASAR 3.9 Mengidentifikasi informasi (pesan, rima, dan pilihan kata) dari puisi rakyat (pantun, syair, dan bentuk puis...