Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 November 2019

Kau yang Menghilang



Kau yang Menghilang
--untuk sahabat

Kau. Yang kini entah
Apakah angin telah memusuhimu?
Sehingga ia tak lagi menyampaikan kabarmu padaku
Jejaring yang merentang di antara kita pun merapuh
Tak mampu lagi menebarkan salamku untukmu
Atau menangkap pesan darimu untukku

Aku meraba-raba
Mengintip semua celah
Menduga kau bersembunyi di sana
Dalam sepi yang kau sulam menjadi selimut tebal

Tapi tak ada
Hanya sayup yang kudengar
Entah apa

Mungkin aku kurang berusaha mencarimu
Ke balik rerimbun misteri yang kau punya
Mungkin aku tak begitu pandai menyelam
Ke palung terdalam pada hatimu

Tetapi pada matahari yang setia menyalami bumi
Aku selalu meminta
Agar ia selalu menjagamu
Lalu pada bulan pucat itu
Selalu kuminta ia tak membiarkanmu sendiri
Juga kepada Tuhan
Aku memohonNya membawa kembali senyummu
Padaku

Kamis, 07 November 2019

SESENDOK SUNYI DALAM CANGKIR KOPI*


SESENDOK SUNYI DALAM CANGKIR KOPI*
Puisi Lily N. D. Madjid
 
Gambar diambil dari Google
*Repost
*Pernah dimuat dalam antologi puisi 100 penyair perempuan

Sesendok sunyi masuk dalam cangkir kopiku sore ini
Kuaduk pelan hingga mengental
Rasanya sungguh memuakkan
Pahit yang likat menjalar dari ujung lidah
Sampai pada setiap pori yang ada di kulitku
Tetapi kunikmati saja itu
Mereguknya pelan-pelan
Sambil mencoba menyanyikan lagu rindu
Walau dengan nada yang mengambang

Sebab pahitnya sunyi sering juga menenangkan
Obat mujarab untuk otakku yang sumbat
Hingga untai-untai kata riuh melompat
Berhamburan dari ujung-ujung jari
Yang kutampung sambil tersenyum sendiri

Namun hanya sesendok saja dari sunyi yang boleh kunikmati dalam secangkir kopi
Jika berlebih efeknya sungguh tak baik untuk jantung juga hati
Bisa jadi ia akan membuatku kaku dan membatu
Jika begitu, aku hanya dapat diam sambil menghitung detik waktu
Kematianku sendiri



Rabu, 25 Mei 2016

Perjalanan Kelam




Perjalanan Kelam
Puisi Lily N. D. Madjid


Berjalan gamang
di atas  titian rapuh
Yang membentang jauh
pada rahang lembah curam
terjal

Melangkah tanpa pegangan
sementara bebatu tajam  di bawah sana
memandangku diam-diam
menghitung pada detik ke berapa
tubuh ini akan melayang
jatuh
luruh
terhempas
dan mereka siap meyambutku
dengan reruncing yang  tegak menantang

kakiku gemetar
angin menampar dari arah belakang
goyah
lalu mata kian memburam
namun masih sempat kutangkap
kepak sayap burung-burung nasar
berkelebat
mendekat
sementara jerit mereka
meneriakkan ramalan kematian

mungkinkah itu kematianku?

Pijakan semakin retas
tetapi aku masih saja
memaksa untuk melangkah
menerobos rambu-rambu
yang terpasang
mengabaikan peringatan
yang mengancam

Alangkah bodohnya
Alangkah bodohnya

Entah untuk apa langkah ini kulakukan


(Tembilahan, 25 Mei 2016)

Luka Menganga



Luka Menganga
Puisi Lily N. D. Madjid


Dingin dan sepi mengundang ilusi
Mengalirkan cerita tentang seorang wanita sunyi
Yang mengembara dari kisah ke kisah
Datang dia pada satu dimensi ke dimensi lainnya
Dimensi yang tak pernah mengenal ruang dan waktu
Direguknya anggur pada cawan-cawan indah

--Tak ada dosa di sini!
 Atau mungkin dia meninggalkannya entah di mana?

Ia berpura-pura semuanya nyata
sekaligus menolak bahwa ia ada di sana
ia menyapa sosoksosok pembawa bara
memeluknya erat
sambil mendekap luka yang  tergores dalam di dadanya
meneguk berkali-kali anggur pada cawan-cawan yang kian maya

--sungguh tak ada dosa di sini!
Teriaknya hampa
Sambil mengusap setitik airmata
Yang ditinggalkan oleh luka yang mengaga di hatinya
Jauh di sudut  hatinya


                                                   (Tembilahan, 19 September 2013)

Selasa, 19 April 2016

Kekacauan di Kepala


Gambar diambil dari: http://www.imgrum.net/tag/seniabstrak/998386439144505424


Puisi-Puisi Lily N.D. Madjid
Kekacauan di Kepala

Argh!
Apa ini yang terjadi?
Seperti  ada yang menyusup menyerbu
Semacam virus
Memintal benang-benang halus
kelabu  dan merah jambu
di otakku
akal sehatku pergi
seonggok nafsu seketika meraksasa
menyambar memangsa
buas bagai serigala
mengunyah-ngunyah
sejumput kesadaran yang tersisa

aaarrrgh!
Suarasuara bergema
Mencaci
Mencela
Memaki
Memohon
Menghiba

Aaarrrgh!
Hentikan semuanya!

(Tembilahan, 12 April 2016)




 

Kau


Hei, kau! Apakah kita pernah bertemu?
Sebab sepertinya aku mengenalmu
Apakah kau datang dari masalalu,
dan bermaksud menghantuiku?

Hei, kau!
Sebelum aku runtuh
Sebelum aku luruh
Sebelum kegelapan menyergapku
sebelum kedunguan menghancurkanku
kumohon, menyingkirlah dari alurku

(Tembilahan, 12 April 2016)

Kamis, 04 Juni 2015

Dua Dunia yang Menyatu

Hi, Semua!

Maaf jika lama tak menyapa. Hmm... saya tidak akan mengajukan alasan apa-apa tentang mengapa begitu lama tidak muncul di sini. Euu.. dua hari kemarin sebenarnya sempat posting juga satu cerpen. Tapi lupa untuk menyapa, Anda semua. ^_^

Kali ini, masih dengan niat dobel, yang pertama memang ingin kembali mengisi blog yang lama tak terisi. Lalu yang ke dua, untuk meramaikan #NulisRandom2015 yang sejak satu Juni lalu saya ikuti.

Post ini sebenarnya agak terlambat. harusnya ditampilkan kemarin untuk #NulisRandom2015 Day #3, tetapi karena kemarin listrik padam saat saya akan posting tulisan ini, maka baru sempat sekarang.

Kali ini saya menampilkan satu puisi saja. Karena cuma itu yang muncul kemarin. Hahaha...
Oke, selamat menikmati.



DUA DUNIA

Dua dunia
Diikat dalam satu tali
Dua dunia
Saling membuka hati
Dua dunia
Bertukar air dan udara
Dua dunia
Berbagi tanah yang dipijaknya
Dua dunia
Adalah kita yang berbeda
Namun mengucap ikrar yang sama

Tembilahan,  3 Juni 2015

#NulisRandom2015 Day #3

Kamis, 25 Desember 2014

HUJAN


Hmmm... ini sebenarnya tulisan lama. kutulis dan pernah diunggah di FB tanggal 27 Oktober 2011. tapi rasanya nggak apa-apa kalau ku repost di sini ^_^

HUJAN

Aku suka jika hujan turun.
Begitu teduh.
Aku suka menatap titik-titik air yang jatuh.
Bagai ribuan jarum yang rapuh.
Menyisakan titik-titik embun di dedaunan.
Begitu menyejukkan.
Aku juga suka pada mendung di langit.
Kelabu. Begitu Sendu.
Bahkan aku pun suka mendengar petir menggelegar.
Menatap kilat menyambar..
Begitu menggetarkan.
Aku menyukai keseluruhan episode hujan.
Mengingatkanku pada kenangan.
Mengalirkan memoriku pada ronggarongga waktu yang telah lalu.
Masakecil yang indah.

Jumat, 05 September 2014

SEMUA ORANG SUDAH GILA



SEMUA ORANG SUDAH GILA
Puisi Lily N. D. Madjid

Semua orang sudah gila
Dengan segala citra indah
Hingga apapun harus dipolesnya
Tambal sulam kebobrokan
Rekayasa
Dan segala tipu daya
Hingga pemutarbalikan norma

Tuhan
Aku muak dengan ini semua
Terlebih karena aku belum dapat berbuat apa-apa

(Tembilahan, 19 Maret 2013)

AKU DAN PEKAT



Aku dan Pekat
Puisi Lily N. D. Madjid

Tahukah kau?
Sejak lama aku telah bersahabat dengan pekat
Ia menemaniku dengan setia
Setiap malam datang bagai selimut yang membentang
Ia menjadi jambangan yang kokoh bagi bunga-bunga tidurku
Menjadi saksi saat aku menitikkan air mata diam-diam
Dan menjadi penengah saat dua sisi diriku saling menyerang

Ia juga seringkali menjadi kurir
Yang mengantarkan sejumput kesadaran
Untuk masuk kembali ke dalam diriku
Setelah sempat melayang hilang tergusur kilau gemerlap fana dunia

Kadang ia hanya berbaring di sampingku diam-diam
Mendengarkan segala ceritaku tentang hari-hari yang berganti
Atau mendekapku penuh seluruh
Saat aku tersungkur dalam sesal dan kekecewaan

(Tembilahan, 12 Mei 2013)

PUISI RAKYAT (PUISI LAMA): PANTUN

      KOMPETENSI DASAR 3.9 Mengidentifikasi informasi (pesan, rima, dan pilihan kata) dari puisi rakyat (pantun, syair, dan bentuk puis...