Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juni 2020

INTO THE WILD: MEMAKNAI HIDUP DARI SUDUT PANDANG BERBEDA



INTO THE WILD: MEMAKNAI HIDUP DARI SUDUT PANDANG BERBEDA
#SebuahReviuFilm
#SpoilerAlert




Judul Film: Into the Wild
Tahun rilis: 2007
Sutradara: Sean Penn
Pemain: Emile Hirsch, Marcia Gay Harden, William Hurt, Jena Malone, Catherine Keener, Brian Dierker, Vince Vaughn, Zach Galifianakis, Kristen Stewart, Hal Holbrook.


Pertama kali saya menonton film Into the Wild sekitar tahun 2009 atau 2010 di chanel HBO. Kemudian kembali menontonnya beberapa waktu lalu saat link film ini tanpa sengaja melintas kembali di linimasa media sosial saya. Film yang dibuat berdasarkan kisah nyata Christopher Johnson McCandless (diperankan dengan baik oleh Emile Hirsch) ini bercerita tentang seorang mahasiswa cerdas yang berasal dari keluarga kaya di Washington DC, yang meninggalkan rumah, karena ingin bertualang menuju Alaska.

Ketidakharmonisan hubungan kedua orangtua membuatnya menyimpan kemarahan dan memiliki keinginan untuk memberontak. Ditambah lagi dengan pemikiran idealisnya dalam memandang kehidupan membuat ia cenderung menjauhkan diri dari kehidupan modern. Memiliki impian untuk hidup di alam bebas, tanpa orang lain.

McCandless kemudian diceritakan betul-betul pergi setelah mendonasikan seluruh uang tabungannya, membakar uang tunai yang dimilikinya dan bergantung pada alam sepenuhnya. Sekuat tenaga bertahan di tengah kebekuan dan kesunyian pegunungan, di kawasan dengan cuaca dan kondisi yang berat untuk tinggal. Lalu hidup di sebuah bus, Fairbanks 142 peninggalan International Harvester tahun 1940-an.

Walau pada awalnya perjalanan itu bertujuan untuk menggapai kebebasan dan menghindari orang lain, tapi pada kenyataannya justru membawanya bertemu dengan orang-orang yang pada akhirnya membuat ia menyadari, bahwa kebahagiaan hanya dapat dirasakan saat kita membaginya dengan orang lain.

Adegan pembuka film ini dimulai dengan menampilkan petikan puisi dari Lord Byron yang menggambarkan pemikiran McCandles. Kemudian mata kita dimanjakan dengan suguhan keindahan alam yang luar biasa saat McCandle memulai perjalanannya menuju alam bebas. Ini menjadi salah satu kelebihan dari film Into the Wild. Sejak awal hingga akhir, tak putus-putusnya menampilkan pemandangan indah yang mengesankan.

Tidak hanya itu, selain pemandangan indah, theme song pengiring film ini juga memperkuat penggambaran cerita. Deretan lagu-lagu yang dibawakan oleh Eddie Vedder, begitu memanjakan telinga dan membuat kita ingin ikut bersenandung. Sebut saja Long Night yang menjadi lagu latar pada opening scene, Hard Sun, Society, No Ceiling, Guaranteed, Far Behind, Rise, Tuolumne, dan End of The Road. Semuanya hadir untuk memperkuat jalan cerita yang disuguhkan.

Selain itu, film ini juga begitu banyak menyuguhkan pemikiran-pemikiran  McCandless yang membawa kita untuk turut berpikir, dan merenungi hakikat kehidupan yang sesungguhnya. Misalnya saja, pada adegan-adegan awal saat McCandless menjalani acara wisuda di kampusnya. McCandless mengajak kita merenung dengan pandangannnya yang mengatakan bahwa orang-orang yang dilihatnya itu adalah orang-orang belum dewasa yang bodoh, dan akan segera tamat.

Ada juga pemikirannya yang menyatakan bahwa 'kebebasan yang hakiki adalah ketika kita bebas pergi ke mana saja yang kita inginkan, menjauhkan diri bahkan dari sejarah, tekanan hukum dan kewajiban yang menjengkelkan' dan 'bahwa benda-benda hanyalah benda, yang tidak dapat mengikat kita'.

Pemikiran-pemikiran tersebut pada akhirnya juga membuat kita dapat memahami, mengapa seorang McCandless melakukan perjalanan itu. Ia ingin melepaskan semua yang bersifat materiil dari dirinya, bahkan ia juga melepaskan namanya dan menggantinya menjadi Alexander Supertramp.

Dari segi jalan cerita, Into the Wild memang agak sedikit membuat kita mengerutkan kening karena menggunakan alur flashback berkali-kali yang memaksa kita untuk tetap fokus agar dapat mengikuti jalan cerita. Disuguhkan dalam dua sudut pandang yaitu sudut pandang Carine McCandless (Jane Malone) sang adik, dan sudut pandang Christopher sendiri berdasarkan catatan hariannya. Namun, film ini tetap berhasil meraih sukses besar. Meraih 2 kategori Oscar, 7 penghargaan lainnya, dan masuk dalam 24 nominasi lain.

Ada banyak pesan moral yang dapat kita petik dari film ini. Misalnya saja, tentang peranan penting orang tua dalam kehidupan anak. Bahwa setiap laku orang tua (baik positif atau negatif) secara signifikan akan mempengaruhi langkah anak-anaknya dalam menjalani hidup mereka ke depan.

Juga tentang betapa berartinya keluarga bagi setiap orang. Walaupun seringkali hal itu baru disadari saat orang tersebut sudah tidak ada lagi di dekat kita. Ini digambarkan saat orang tua Christoper McCandless yang selama ini begitu mementingkan karier mereka, menyadari dan merasakan kehilangan yang memdalam setelah Chris memutuskan pergi meninggalkan rumah. Atau, ketika Jan Burres (Catherine Keener) yang ditemui Chris dalam perjalanan, berkisah tentang Reno, anaknya yang menghilang sejak lama. Atau cerita Ron Franz (Hal Holbrook) yang kehilangan anak dan istrinya di masa lalu, dan berniat mengadopsi Christopher McCandless.

Secara keseluruhan, Into the Wild adalah film yang sangat menarik. Walau selalu mengajak kita untuk berpikir dan merenung, namun dapat memberikan kita pencerahan. Film ini juga mengajak kita untuk sesekali memandang hidup dari sudut pandang yang berbeda.

BandungBarat, 14 Juni 2020

MENUMBUHKAN KEBIASAAN MEMBACA PADA ANAK



MENUMBUHKAN KEBIASAAN MEMBACA PADA ANAK




Sering kita menemukan informasi, baik di media cetak maupun elektronik, yang menyatakan bahwa kemampuan membaca dan menulis masyarakat Indonesia jauh tertinggal. Salah satu informasi tersebut dapat ditemukan pada situs resmi Kantor Bahasa Bengkulu (kantorbahasabengkulu.kemdikbud.go[.]id), yang menyatakan bahwa kemampuan membaca dan menulis masyarakat Indonesia berada pada urutan 60 dari 61 negara.

Informasi itu bukanlah sekedar informasi tanpa data, sebab diperoleh berdasarkan penelitian pemeringkatan literasi internasional Most Literate Nations in the World, yang diterbitkan Central Connecticut State University, Maret 2016 dan dilansir oleh jpnn[.]com pada 13 April 2016.

Setelah mengetahui data tersebut tentu kita merasa miris, bukan? Bagaimana tidak, karena berdasarkan hasil penelitian itu, kemampuan membaca dan menulis negara kita dinilai nyaris berada pada posisi juru kunci. Dalam tulisan ini, saya tidak akan menyoroti keduanya melainkan salah satunya saja, yaitu kemampuan membaca.

Kemampuan membaca di sini tentu saja bukan sekedar mengenali simbol-simbol huruf yang terdapat dalam sebuah teks. Melainkan juga sebagai suatu proses mental atau proses kognitif, yang dalam proses tersebut seorang pembaca diharapkan bisa mengikuti dan merespon pesan penulis (Davies, 1997 dalam Nurlaela, 2013).

Bagaimana seorang anak dapat memiliki kemampuan membaca yang baik? Jawabannya tidak lain adalah dengan melakukan pembiasaan-pembiasaan sedari kecil. Repetition is mother of knowledge, demikian ungkapan Barat yang dikutip oleh situs m.hidayatullah[.]com, yang memiliki arti, pengulangan atau pembiasaan adalah induk dari ilmu atau pun pengetahuan dan ketrampilan.

Dari sana, dapat kita jadikan pijakan bahwa jika menginginkan anak-anak kita memiliki kemampuan atau keterampilan membaca yang baik, maka biasakanlah sejak dini. Apakah sulit membiasakan anak-anak untuk membaca? Berdasarkan pengalaman pribadi dan pengamatan-pengamatan, ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk memudahkan pembiasaan membaca pada anak.

1. Pemberian contoh atau teladan

   Segala sesuatu dimulai dari orang tua. Jika menginginkan anak yang biasa membaca, maka berilah teladan. Sangat tidak masuk akal jika kita mengharapkan anak memiliki hobi membaca, sementara mereka tidak pernah melihat kita, orang tuanya, membaca. Jika di lingkup sekolah, tentu bapak dan ibu guru yang berperan sebagai pemberi teladan.

2. Sediakan fasilitas membaca yang memadai

   Sediakanlah buku-buku di rumah, tentu yang sesuai dengan usia anak kita. Setelahnya, letakkan buku di tempat-tempat yang mudah dilihat dan dijangkau oleh mereka. Percayalah, dengan melihat contoh dari orang tua yang gemar membaca, lalu tersedianya buku-buku di dekat mereka, niscaya minat mereka untuk mengetahui isi buku akan muncul.

  Jika kondisi tidak memungkinkan untuk membeli buku, mengajak mereka secara berkala ke perpustakaan atau taman bacaan adalah pilihan pengganti yang baik. Apalagi perpustakaan biasanya memiliki koleksi buku yang lebih beragam, sehingga lebih banyak jenis yang bisa dipilih oleh anak bergantung pada minat mereka.

3. Ceritakan bagian menarik buku yang kita baca

   Trik lain yang bisa dilakukan untuk memancing minat anak untuk membaca adalah dengan menceritakan bagian menarik dari isi buku. Tentu tidak semua kita ceritakan pada mereka. Sebagian saja, sekedar membangkitkan rasa ingin tahu dalam diri mereka.

4. Jauhkan gawai dari anak

   Terakhir, mungkin yang paling signifikan untuk membantu menumbuhkan minat baca pada anak adalah dengan menjauhkan gawai dari mereka. Paling tidak membatasi penggunaannya. Gawai di sini beragam jenisnya, mulai dari televisi, komputer, tablet hingga ponsel. Semakin sedikit mereka beraktivitas dengan gawai, semakin besar kemungkinan mereka untuk beralih pada buku, sebagai alternatif mengisi waktu mereka.

Keempat hal di atas mungkin hanya sebagian kecil cara yang dapat dicoba oleh para orang tua atau guru, yang menginginkan anak-anak atau anak didiknya lebih banyak menghabiskan waktu mereka dengan membaca buku.

Sumber referensi:
https://kantorbahasabengkulu.kemdikbud.go.id/2018/01/23/menyoal-geliat-literasi-di-indonesia/

https://m.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2017/12/05/129681/pembiasaan-bagian-penting-pendidikan-anak.html

https://www.paud.id/2015/11/contoh-penanaman-sikap-anak-paud.html

http://www.luthfiyah.com/2013/04/tentang-kemampuan-membaca.html?m=1

BandungBarat, 13 Juni 2020
.

SISI LAIN PANDEMI

SISI LAIN PANDEMI
~Sebuah Opini Lilynd Madjid~




Hari ini, tema 30HM adalah membuat opini terhadap berita yang sedang aktual. Setelah selesai mengecek tema harian, segera saja saya membuka aplikasi pencari yang ada di ponsel dan mulai meramban di sana.

Tema yang sedang aktual tentu saja tema seputar pandemi covid 19 dan segala permasalahannya. Sebagian besar laman media daring yang saya buka membahas tentang hal tersebut. Dari mulai informasi mengenai naik atau turunnya kasus corona, klaim penemuan vaksin corona, informasi tentang orang yang melakukan hal-hal yang kurang masuk akal karena menghindari rapid tes, dan banyak lagi informasi lain terkait topik pandemi tersebut.

Ketika sedang memindai halaman pencarian itulah mata saya berhenti di salah satu judul yang terdapat di halaman berita sepakbola Republika. Berita tersebut bertajuk 'Rashford Targetkan Tak Ada Lagi Anak Kelaparan di Inggris'.

Wow! Itulah kata yang pertama terlintas dalam benak saya saat membaca judul tersebut. Mulia sekali hati si Rashford ini, pikir saya. Sambil bertanya-tanya, siapakah dia.

Sejujurnya, saya bukan penyuka sepak bola. Hingga tidak pernah mengamati, apalagi mengikuti hingga mendetil, informasi-informasi di sekitar dunia persepakbolaan. Jadi, semoga saja bisa dimaafkan jika saya benar-benar tidak tahu siapa Rashford sebelumnya.

Setelah membaca isi berita, barulah saya tahu jika yang dimaksud adalah striker Manchester United, Marcus Rashford. Dalam berita tersebut dikatakan bahwa selama terjadi lockdown, Rashford telah membantu mengumpulkan dana amal sebesar 358 miliar rupiah, atau setara 20 juta poundsterling

Jumlah yang cukup fantastis bukan? Masih dalam halaman berita sepak bola Republika itu, disebutkan juga jika Rashford bahkan berniat untuk terus melakukan aksi pengumpulan dana tersebut, dan bekerja sama dengan sebuah organisasi pendistribusian bahan makanan FareShare untuk memasok makanan kepada orang-orang yang rentan terkena dampak pandemi.

Pikiran saya segera saja mengingat beberapa pemberitaan tentang pengumpulan dana yang dilakukan oleh sederet selebritas negeri ini. Sebut saja beberapa nama seperti Chicco Jerikho, Dian Sastro, Atta Halilintar, Maia Estianty, Afgan dan beberapa influencer lain. Mereka semua, seperti halnya Marcus Rashford--bekerja sama dengan platform atau situs pengumpulan dana--telah berupaya membantu orang-orang yang terdampak secara langsung adanya pandemi ini.

Di tengah segala macam permasalahan yang muncul akibat covid19, berita-berita penggalangan dana yang dilakukan oleh para pesohor baik dalam negeri maupun manca negara, sedikitnya telah menunjukkan, bahwa ada sisi baik juga yang bisa muncul dan dapat dijadikan contoh, dari keberadaan pandemi, yaitu adanya rasa empati terhadap sesama manusia.

Ya, selain pemberitaan tentang munculnya stigma negatif terhadap orang-orang yang terpapar virus corona--yang menyebabkan mereka mengalami pengucilan dan perlakuan diskriminatif lainnya--ternyata masih ada hal positif yang bisa tumbuh dari keadaan ini.

Seharusnyalah jika sikap-sikap positif seperti ini yang terus dikembangkan sebagai langkah menyikapi berlangsungnya pandemi, dan bukan hal-hal buruk seperti melekatnya stigma negatif, yang harus ditumbuhkan dalam pola pikir masyarakat.

.
Link berita:
https://m.republika.co.id/berita/qbtc6a438/rashford-targetkan-tak-ada-lagi-anak-kelaparan-di-inggris

.
Referensi:
https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/hype/read/2020/04/08/075511766/sederet-artis-yang-galang-dana-untuk-pekerja-informal-terdampak-covid-19?espv=1

https://m.detik.com/wolipop/foto-entertainment/d-4945804/7-artis--selebgram-indonesia-yang-galang-dana-untuk-lawan-virus-corona/2

https://www.google.com/amp/s/m.liputan6.com/amp/4275210/nasib-tenaga-kesehatan-berjuang-lawan-covid-19-malah-dapat-stigma-negatif?espv=1

https://m.liputan6.com/surabaya/read/4246366/awas-stigma-negatif-pada-pasien-corona-covid-19-bisa-bikin-depresi

https://amp.kompas.com/tren/read/2020/04/13/164454765/salah-kaprah-stigmatisasi-dan-diskriminasi-terhadap-pasien-covid-19

BandungBarat, 12 Juni 2020

Kamis, 04 Juni 2020

ALINA

#NAD_30HariMenulis2020
#Hari_ke_3
#NomorAbsen_222
Jumlah kata :  979 kata (hanya isi)

A    L     I     N     A

.

"Andai aku menjadi--"

Gumaman di bibir pucat Alina yang tengah terbaring di atas kasur tipis terputus saat pintu kamarnya terbuka secara kasar. Nyaris saja engsel-engsel pintu itu berlompatan karena dorongan kuat dari arah luar. Di balik daun pintu yang menguak, Emak  berdiri sambil bertolak pinggang. Matanya yang selalu terlihat galak memelototi Alina.

"Lagi-lagi melamun! Cepat buatkan Emak sarapan!"

Alina segera bangkit. Ia mengabaikan rasa sakit di kepalanya yang berdenyut hebat. Emak tak pernah mengenal kata menunggu. Ia pun tak ingin tangan kurus Emak mendarat di tubuh ringkihnya hanya karena ia lalai mengerjakan tugas harian.

Tidak seperti emak-emak lainnya yang penuh kasih sayang, Alina merasa emaknya begitu ringan tangan. Entahlah, mungkin ini merupakan pelampiasan rasa frustrasinya menghadapi kehidupan. Mungkin juga karena Emak sudah terlalu muak menjalani hari-hari mereka yang payah.

Bapak pergi entah ke mana saat Alina belum mampu mengingat wajahnya. Meninggalkan Emak dan dirinya dalam lubang kemiskinan. Emak harus berjibaku, berjuang, demi bertahan hidup juga membesarkan Alina yang sakit-sakitan. Kondisi inilah yang membuat Emak selalu terlihat garang. Ia bahkan membenci Alina dan mungkin menganggap kehadirannya hanya sebaga penambah beban.

Alina meletakkan sepiring nasi goreng yang masih mengepul di atas meja. Emak baru saja selesai menyusun barang dagangan ke dalam keranjang di bagian belakang sepedanya. Dia melangkah masuk, lalu duduk di satu-satunya bangku yang ada di depan meja makan kecil. Mulai menghabiskan sarapan dalam diam yang berkepanjangan.

"Bereskan semua pekerjaan rumah. Siangi sabut kelapa dalam karung di samping sana." Emak berkata datar saat sudah selesai. Alina hanya mengangguk. Dia sudah terbiasa seperti itu. Tak pernah membantah, dan tak pernah bersusah payah membuka mulutnya. Emak tidak suka. Katanya ia muak mendengar suara Alina.

Setelah Emak pergi, Alina menarik napas lega. Lebih baik bagi dirinya jika Emak berada di luar sana. Namun, bukan berarti Alina bisa bersantai. Tidak. Ia tetap harus mengerjakan semua tugas-tugasnya meski sekuat tenaga menahan sakit di kepala.

Alina menyiangi sabut-sabut kelapa di samping rumah setelah selesai dengan semua urusan rumah tangga. Ia menguraikan sabut-sabut dari kulit luarnya yang keras. Sabut-sabut itu nanti akan dianyam oleh Emak. Menjadi tambang atau keset-keset yang kemudian di jualnya di pasar kota. Jari-jari Alina mengeras dan kapalan karena pekerjaan ini, tetapi ia tidak pernah peduli.

"Alina!"

Satu suara membuat Alina sontak mendongak. Wajahnya seketika cerah. Senyum tipis tersungging dari bibir keringnya.

"Sukab!"

Alina berseru menyapa pemuda yang tadi memanggilnya. Si pemuda berjalan mendekat. Sebuah tas punggung tersandang di pundaknya. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Tampan.

Sukab adalah teman sepermainan Alina sejak kecil. Mereka juga pernah belajar bersama di sekolah, sebelum Emak memutuskan agar Alina tinggal di rumah saja setamat sekolah menengah pertama. Sukab lain lagi, ia melanjutkan sekolahnya. Dia bahkan mulai kuliah tahun ini.

"Ini! Kubawakan pesananmu." Pemuda itu mengulurkan sebuah buku ke arah Alina. Mata Alina berbinar. Sakit di kepalanya tiba-tiba seperti terlupakan. Bibir Alina mengeja judul buku yang baru saja ia terima.

"Sepotong Senja untuk Pacarku."* Alina bergumam. Kemudian pandangannya beralih pada Sukab yang masih berdiri di depannya. "Apakah ada ...." Alina menunjuk dirinya sendiri. Sukab mengerti. Pemuda itu mengangguk.

"Seperti dalam buku-bukunya yang lain, ada nama kita di sana." Sukab menjelaskan dengan penuh antusias. Ia meminta Alina membuka satu halaman dan menyuruh Alina membacanya.

"Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Lagipula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa pernah mendengar kata-kata orang lain." ** Alina membaca paragraf itu dengan suara cukup kuat. Di akhir bacaannya dia menatap Sukab dengan penuh rasa takjub. "Pengarang buku ini, dia selalu menuliskan apa yang selalu kupikirkan, Sukab. Bagaimana bisa?"

Sukab hanya mengedikkan bahunya. Namun wajahnya menampilkan satu senyuman lebar.

Ini adalah buku yang ke sekian dari pengarang yang sama, yang dipinjamkan Sukab pada Alina. Ia menyukai semua karya pengarang itu. Alasan pertama, karena pengarang itu sering menggunakan nama Alina juga Sukab sebagai tokoh pada cerita-ceritanya. Tidak selalu, tetapi cukup sering. Alasan ke dua, Alina merasa buku karya pengarang itu menakjubkan, karena  menuliskan apa yang sering muncul dalam pikirannya. Selain itu, Alina memang menganggap cerita-cerita yang ditulis oleh si pengarang memang selalu menarik.

"Sukab! Bolehkah aku bertemu dengan pengarang buku ini?"

"Hah? Untuk apa?"

"Ingin bertemu saja." Mata Alina terlihat berbinar saat mengucapkannya.

"Dia mungkin orang yang sangat sibuk."

"Jadi, aku tidak bisa menemuinya?"

"Mmm ... aku tidak tahu, tapi, akan kucari informasinya," kata Sukab akhirnya. Ia tak ingin mengecewakan sahabatnya.

***     ***     ***

Emak murka saat suatu hari ditemukannya Alina sedang khusyuk dengan bukunya. Direbutnya buku itu, dilemparkan ke luar jendela. Ketika Alina berteriak tertahan menyaksikan buku kesayangannya melayang, Emak malah menjambak rambutnya.

"Kau habiskan waktumu dengan benda itu? Anak tak tahu diuntung, tak berguna! Kau lihat rumah masih berserak, makanan tak ada, pakaian kotor menumpuk dan sabut-sabut itu belum kau sentuh! Kau malah asyik membaca! Siapa yang memberimu benda itu?" Tangan Emak berulang mendarat di tubuh ringkih Alina.

Kini Alina memutuskan untuk diam. Ditahannya rasa sakit yang timbul akibat hantaman tangan Emak ditubuhnya. Ya, dia menyadari, kali ini adalah kesalahannya. Tadi ia lupa waktu saat membaca buku itu.

Alina mengatupkan mulutnya kuat-kuat. Emak semakin geram. Ia teramat kesal. Apalagi melihat Alina yang bungkam. Akhirnya Emak menghentakkan kaki kemudian pergi setelah menyorongkan tubuh Alina.

Esoknya Sukab mendapati banyak memar di tubuh Alina. Ada juga lebam di wajahnya.

"Alina--"

"Sukab, aku betul-betul ingin bertemu dengan si pengarang." Alina menyela kalimat Sukab. "Aku benar-benar ingin menjadi ... tokoh dalam ceritanya." Air mata Alina mengalir deras. Sukab mengernyitkan dahi tak mengerti.

"Alina?"

"Aku benci hidupku, Sukab. Aku benci penyakitku. Aku benci kemiskinan ini. Aku benci kemarahan Emak yang harus kutampung setiap hari." Tubuh Alina berguncang. "Biar kutemui pengarang itu. Biar dia membuatkan cerita baru untuk hidupku. Beri tahu aku, Sukab. Beritahu aku di mana dia." Tangis Alina menghiba. Semakin keras.

Sukab terpana di hadapan Alina yang kini meraung. Belum sempat Sukab menenangkan sahabatnya, raungan Alina telah berganti menjadi tawa yang getir. Alina terbahak-bahak menertawai nasibnya. Sementara Sukab diam-diam menitikkan air mata menyaksikan Alina tertawa.

**Tamat**

*) Judul cerpen dalam buku kumpulan cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku karya Seno Gumira Adjidarma
**) Kutipan dari Sepotong Senja untuk Pacarku, SGA

Cilame, 02 Juni 2020

ZIKIR KUNTUM-KUNTUM BUNGA

#NAD_30HariMenulis2020
#Hari_ke_2
#NomorAbsen_222
Jumlah kata :  477 kata (hanya isi)

.
ZIKIR KUNTUM-KUNTUM BUNGA

.

"Kesunyian adalah karib sejati."

Itu adalah sebuah keyakinan yang kami percayai selama ini. Sebab sebenarnyalah, bagi kuntum-kuntum bunga yang hidup di area pemakaman seperti kami, hanya kesunyian yang selalu menemani keseharian kami di sini. Tak ada hiruk pikuk, tak ada keriuhan, tak ada kegaduhan, tak ada bising yang berkepanjangan. Tak ada. Di sinilah tempat di mana kau bisa menemukan ketenangan hakiki. Sebuah sunyi yang abadi.

Kami kuntum-kuntum bunga sangat menyukai suasana seperti ini. Begitu tenang. Begitu senyap. Begitu sunyi. Terlebih bila malam mulai mengambang. Lalu matahari mengucapkan salam dengan mengecup pipi bumi, hingga rona jingga menyemburat pada batas horizonnya.

Maka semilir angin akan menemani kami menari. Meliuk-liukkan tubuh mungil kami yang sedang berzikir sepuas hati. Lalu sunyi akan mulai berirama, ditingkah  kukuk burung hantu juga binatang malam lainnya. Kami pun akan semakin khusyuk dalam puja-puji kami pada Sang Pencipta Semesta.

Di beberapa kesempatan, kami akan menerima kunjungan-kunjungan kalian. Manusia-manusia yang mengiringi karibnya berpulang. Maka pada saat itu, kami rumpun-rumpun bunga akan merasakan sunyi dengan nada yang berbeda. Sunyi yang menyayat hingga ke relung terdalam pada rongga dada.

Kami akan menyaksikan isak tangis tertahan kalian. Lalu dengung gumaman, saat baris-baris doa dipanjatkan.  Kemudian kami juga akan tertunduk, turut memberikan penghormatan terakhir bagi mereka yang telah berpulang.

Biasanya, setelah itu kesunyian akan semakin memekat. Saat petakziah terakhir mengayunkan langkah ke empat puluhnya. Saat itu dalam keheningan, akan kami dengar suara-suara yang akan membuat siapapun gemetar.

Pernahkah kalian, para manusia, mendengarnya juga?

Ah, kami rasa kalian tak pernah tahu, bukan? Percakapan yang terjadi antara mereka yang sebelumnya kalian usung dalam keranda, dengan sang utusan pembawa pertanyaan? Saat itu biasanya kami akan semakin larut dalam lantunan kalam-Nya yang bersama-sama kami dengungkan. Kami pun akan terus berzikir sambil menyimak tanya jawab yang berlangsung dalam sunyi yang mengalir.

***     ***     ***

Pada beberapa putaran purnama terakhir, kesunyian sepertinya semakin menjadi-jadi di sini, walaupun tak ada lagi usungan keranda dan iring-iringan para petakziah seperti biasa. Tubuh-tubuh tak bernyawa kini hanya diantar oleh tatap-tatap mata segelintir manusia yang memandang dari kejauhan. Juga tangisan-tangisan kini teredam oleh lapisan-lapisan kain penghalang. Kain yang menutupi sebagian wajah-wajah letih bersepuh duka mendalam.

Kotak-kotak beroda telah menggantikan iring-iringan pembawa keranda. Orang-orang berpakaian tak biasa akan memasukkan kotak terkunci berisi jasad si mati ke dalam liang lahat secepat yang mereka mampu.

"Lalu ke mana perginya kalian?" Kami kuntum-kuntum bunga kini bertanya-tanya. Lama pertanyaan kami menggantung di udara. Tak mendapatkan jawaban.

Akhirnya kesiur angin membawa kabar pada kami. Konon semua terjadi karena wabah yang tengah melanda. Ia menyebar di mana-mana. Mengintai diam-diam. Mencuri kesempatan untuk merenggut dengan paksa lagu suka cita, dan menggantinya dengan kidung duka yang membahana. Wabah jugalah yang telah membuat hari-hari menjadi lebih sunyi dari biasanya.

Apakah kami, kuntum-kuntum bunga di area pemakaman yang menyukai kesunyian menjadi berbahagia karenanya?

Ah, ternyata tidak juga. Malahan kini kami merindukan kalian. Namun bukan sebagai si mati yang terbaring kaku dalam peti  terkunci.

*Tamat*

SUATU HARI DI BAWAH TIANG LAMPU JALAN

#NAD_30HariMenulis2020
#Hari_ke_1
#NomorAbsen_222
Jumlah kata : 828 kata (hanya isi)

SUATU HARI DI BAWAH TIANG LAMPU JALAN

.

"TIN TIIIN!"

Suara klakson kendaraan bersahutan. Jalan raya di depanku tampak begitu padat, seperti biasanya. Kendaraan roda empat besar dan kecil berjejal-jejal memadati ruas-ruasnya. Macet. Belum lagi roda dua yang menyelip mengisi setiap celah yang tersisa, menambah keruwetan yang sudah tercipta.

Aku selalu saja menjumpai pemandangan seperti ini. Setiap hari. Tidak pagi, siang, sore, bahkan di malam hari. Menyaksikan kesemrawutan dan kekacauan yang biasanya lama sekali baru akan terurai. Ah, mengapa mereka tidak diam saja? Tak tahukah mereka, suara memekakkan dari klakson-klakson itu bisa saja membuat seseorang menjadi gila.

Orang-orang yang berlalu-lalang di trotoar pun sama padatnya dengan kendaraan yang merayap di jalan. Sebagian terlihat cukup santai. Mungkin mereka memang sedang menikmati waktu luang dengan berjalan-jalan. Terkadang ada juga yang kulihat melangkah perlahan sambil bergandengan dengan pasangan. Sebagian yang lain bergegas. Seperti dikejar atau mengejar waktu, atau entah apa yang mengejar atau mereka kejar itu. Aku tak pernah bisa mengerti. Seringkali aku bertanya-tanya sendiri, apa nikmatnya menjalani hidup yang penuh ketergesaan seperti itu?

Sebagian kecil lainnya lagi akan kulihat duduk-duduk di bangku-bangku yang berjajar di sisi jalur pedestrian ini. Seperti yang saat ini kulihat, di salah satu bangku yang berada tak jauh dari tempatku berdiri, seorang lelaki dan perempuan makan es krim stroberi berdua. Mereka duduk menatap jalanan yang sibuk.

“Aku tak bisa begini, terus,” ujar si lelaki, mengeluh.

Ia menoleh pada perempuan di sampingnya yang juga mengalihkan perhatiannya dari arah jalan. Sesaat mereka bertatapan, lalu si perempuan menunduk. Aku tak dapat menangkap suaranya. Hanya saja kulihat, tak lama kemudian bahunya bergetar.

Awalnya kupikir yang ini cukup romantis. Lihat saja, di sela kesemrawutan seperti ini, mereka masih bisa menikmati setitik kelezatan yang manis. Namun, setelah dilihat lebih cermat, malah terasa agak aneh menyaksikan mereka berdua-duaan sambil menikmati es krim di tengah segala keriuhan dan hiruk-pikuk jalan. Mengapa mereka tidak mencari tempat yang lebih tenang? Di taman kota, misalnya. Pun saat melihat raut keduanya yang terlihat sangat muram, orang-orang yang melihat pasti akan mengerutkan kening semakin dalam karena heran.

Ooo ... ternyata ini hanya salah satu fragmen sedih lain yang berurai air mata.

Biarkan aku menduga. Mmm ... bisa jadi mereka sepasang kekasih yang sedang menghadapi ujian cinta yang cukup besar. Mungkin, keduanya sama-sama tidak mendapatkan restu dari orang tua. Mungkin juga, mereka berdua pasangan yang sedang menjalin hubungan terlarang. Atau bahkan mungkin, mereka itu sebenarnya hanya dua bersaudara yang sedang memikirkan masalah dalam keluarga mereka bersama-sama.

Semua kemungkinan itu mungkin saja 'kan? Toh, apa sih yang tidak mungkin terjadi di sisi jalan yang padat dan ramai seperti ini?

Tidak percaya?

Dengar, aku pernah menyaksikan sebuah mobil yang tiba-tiba saja menyeruduk orang-orang yang sedang berjalan di jalur pedestrian. Sopirnya mabuk. Orang-orang tewas seketika. Mayat-mayat mereka bergelimpangan.

Aku juga pernah melihat jambret yang dihajar massa, setelah ia tertangkap karena mengambil dompet ibu-ibu paruh baya yang baru saja keluar dari bank di seberang jalan sana. Satu orang berteriak menyuruh yang lain membakar si jambret. Provokasi yang segera saja disambut teriakan-teriakan bar-bar dari orang-orang lainnya. Seperti api yang menyambar bahan bakar, semua orang larut tersulut amarah. Untung saja petugas segera datang. Nyawa si jambret pun tak jadi melayang.

Suatu waktu, pernah juga kulihat sebuah sedan mewah yang tiba-tiba saja berhenti. Penumpangnya, seorang perempuan muda, ke luar membanting pintu, sambil mulutnya mengeluarkan makian-makian. Seorang lelaki menyusul keluar dari pintu yang bersebrangan. Juga dengan amarah yang sama yang terpancar dari matanya yang menatap nyalang (aduh, mengapa banyak sekali kuucapkan kata 'yang'?). Ah, penampilan yang mewah dan elegan ternyata tak cukup menjamin seseorang dapat bersikap elegan juga rupanya.

Peristiwa-peristiwa lain yang bahkan tak bisa lagi kusebutkan saking banyaknya, juga selalu kusaksikan di sisi jalan padat ini. Sebab memang selalu saja ada peristiwa-peristiwa yang begitu asik untuk kuamati. Peristiwa-peritiwa yang selalu saja melintas di hadapanku. Peristiwa-peristiwa yang terlalu sayang untuk dilewatkan.

Tidak semuanya semenyeramkan yang tadi telah kuceritakan. Tidak. Ada juga peristiwa-peristiwa yang mengharukan, menyedihkan, menyebalkan, menggelikan, menjijikan, menakjubkan, juga peristiwa yang membuatku ingin tertawa sekeras-kerasnya, walau aku tak bisa melakukan itu. Bahkan, ada juga peristiwa yang biasa-biasa saja, sampai-sampai aku bingung harus bagaimana meresponnya.

Kuduga kau pasti akan bertanya-tanya, mengapa aku seperti tak ada pekerjaan saja mengamati semua hiruk pikuk yang terjadi di jalan ini. Iya 'kan?

Yah, bukannya tidak ada pekerjaan atau apa, tetapi semuanya memang selalu terjadi di hadapanku, di sini. Aku pun selalu menyaksikannya dari sini, di sisi jalan padat ini. Semua melintas cepat seperti fragmen-fragmen yang diambil dari sebuah maha karya besar bernama kehidupan. Bagiku jalan ini memang ibarat miniatur kehidupan dunia dengan segala kerumitannya, dengan segala kesibukannya, dengan segala keberagamannya, dengan segala tetek bengek dan ingar bingar di dalamnya.

Aku sendiri, tentu senang diberi kesempatan untuk menyaksikan semua itu. Kuanggap semua semata-mata sebagai hiburan bagiku, yang selamanya harus selalu tegak di sini, di sisi jalan ini. Menjalani kehidupanku sendiri, sekaligus menjalankan tugas mulia yang kuemban.

Hei! Sudah sepanjang ini aku bercerita, tetapi kita belum juga berkenalan, bukan? Kalau begitu perkenalkan, orang-orang yang berlalu lalang itu selalu menyebutku, tiang lampu jalan. Ya, benar. Tiang lampu jalan. Akulah saksi hiruk pikuknya kehidupan.

*Timit*

Selasa, 05 November 2019

RENCANA KE DUA




Hidup selalu dipenuhi kejutan-kejutan. Hal-hal yang tidak terduga seringkali menghampiri. Jika sudah begini, kadang apa yang sudah kita rencanakan bisa saja buyar. Gagal total. Tak sesuai kenyataan.

Kita mungkin saja sudah menyusun rencana-rencana hidup ke depan dengan penuh kecermatan. Membuat daftar ‘hal yang akan kita lakukan’ dari A hingga Z, dengan tekad akan menuntaskannya. Kita juga mungkin sering membuat ‘daftar mimpi’ yang ingin kita capai. Lalu dengan semangat, juga tekad yang tak terpatahkan, kita berusaha keras untuk mewujudkan semua ‘mimpi’ yang telah kita tuliskan.

Tetapi, seperti yang tadi telah kukemukakan, hidup seringkali penuh dengan kejutan. Tidak semua yang sudah kita rencanakan akan berjalan seperti yang kita harapkan. Jika itu yang terjadi, apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan terpuruk menyesali keadaan? Atau kau akan memaki dirimu sendiri? Atau yang lebih serius lagi, menyalahkan Tuhan?

Seorang kawan dalam sebuah obrolan ringan berkata bahwa kita perlu memiliki rencana cadangan. Rencana ke dua dalam menjalani kehidupan. Kau boleh saja menyebutnya plan B, plan C atau apapun.

Setelah kupikir-pikir, sepertinya aku setuju. Rencana ke dua akan sedikit membantumu keluar dari kebuntuan. Mengobati  sedikit kekecewaan atas suatu kegagalan. Atau yang lebih penting, rencana ke dua akan menahanmu untuk tetap bertahan mencapai tujuan, walau dengan jalan yang berbeda.

Katanya, dia, temanku itu, selalu memiliki rencana ke dua dalam setiap langkah hidupnya. Misalnya, saat ini dia sedang menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yang katanya itu dilakukannya sebagai ancang-ancang jika kelak dia merasa jenuh dengan pekerjaannya yang sekarang. Pendidikan yang dia jalani saat ini, akan memungkinkannya beralih ke jenis profesi lain, jika suatu saat diperlukan.

“Mungkin kita merasa nyaman dengan profesi kita saat ini,” Katanya padaku saat itu, “Tetapi apakah itu akan berlangsung selamanya? Bisa saja kan, suatu saat kita merasa bosan. Atau bahkan, keadaan memaksa kita meninggalkan pekerjaan ini.”

Aku termenung sejenak saat itu. Bahwa masa depan tak sepenuhnya bisa kita pastikan, itu sudah kupahami sebelumnya. Juga, bahwa kehidupan kadang tak selalu seperti yang kita inginkan, juga sudah kuyakini bahwa itu benar. Tetapi memikirkan bahwa suatu saat, aku akan meninggalkan profesiku yang sekarang, dan beralih pada profesi lain, sepertinya hanya samar-samar pernah melintas dalam pikiran. Tak pernah kupikirkan dengan serius. Malah, hal yang sering kubayangkan adalah aku yang akan terus menjalani profesiku ini hingga kelak masa baktiku selesai.

Tetapi melihat kesungguhannya saat mengatakan hal itu, mau tak mau aku pun jadi ikut memikirkan rencana ke duaku jika tidak lagi menjalani profesi ini. Coba tebak, apa yang kemudian aku pikir akan kulakukan? Percaya atau tidak, kalau aku berpikir untuk memilih jalan pedang dengan menulis? Errr... Jalan pedang atau jalan pena, ini ya?

Tolong jangan tertawa seperti itu. Aku tahu kemampuan menulisku masih receh sekali. Tetapi itu bukan halangan, bukan? Aku akan mulai mempersiapkan rencana ini dengan lebih serius. Jika kawanku itu sampai menempuh pendidikan yang lebih tinggi sebagai bentuk persiapan untuk rencana ke duanya. Maka aku akan serius mengasah kemampuan menulisku sebagai persiapan rencana ke duaku itu.

Hei! Sudah kubilang jangan mentertawaiku seperti itu. Hmmm… daripada kau tertawa saja, bagaimana kalau kau katakan padaku, apa rencana ke dua yang pernah terpikir di kepalamu?
Ngamprah, 5 November 2019

PUISI RAKYAT (PUISI LAMA): PANTUN

      KOMPETENSI DASAR 3.9 Mengidentifikasi informasi (pesan, rima, dan pilihan kata) dari puisi rakyat (pantun, syair, dan bentuk puis...