EKSEKUSI MATI
Oleh Lily N. D. Madjid
Kejam. Sungguh kejam mereka. Dikurungnya kami berhari-hari, dengan hanya diberi makan seadanya. Itupun hanya sehari sekali. Padahal apa salah kami hingga mereka memperlakukan kami seperti ini?
Lihatlah mereka. Setelah memperlakukan kami seperti ini, mereka masih dapat bernyanyi-nyanyi dengan riangnya.
Potong bebek angsa
Masak dikuali
Nona minta dansa
Dansa empat kali...
Aaaargh! Aku benci lagu itu. Aku benci mereka yang berwajah tanpa dosa setelah berbuat seenaknya pada kami. Di mana hati nurani mereka? Sungguh aku ingin menjerit, memaki, mencaci mereka tanpa henti.
"Sabar, sayang. Mungkin ini semua ujian bagi kita." Suamiku memberikan penghiburan. Ah, lelakiku yang tabah dan penyabar. Untunglah aku masih memilikinya. Setelah satu persatu keluargaku mereka renggut. Jika ia tidak ada di sisiku untuk menenangkan, entah apa jadinya aku. Mungkin aku sudah lama kehilangan kewarasan.
"Aku tak kuat lagi, Bang."
"Sabar, Sayang, sabar... "
"Bagaimana kalau kita mencoba lari dari sini?"
"Sayang. Aku ... Aku tidak yakin. Tidak semudah itu bisa lari dari mereka. Lihatlah, kita berdua berada dalam penjara, lagi pula... "
"Jika kita tetap di sini, itu berarti kita menyerahkan diri pada kematian, Bang! Kau ingat bagaimana mereka membantai ayah, ibuku, ibumu, bahkan anak kita... Anak kita, huhuhuhuhu... Aku tak kuat lagi, Bang. Aku ingin pergiii.... "
"Sayang,"
"Tidak. Aku tak ingin bertahan, jika itu yang akan Abang katakan!" teriakku putus asa. Kudorong sekuat tenaga pintu penjara yang mengurung kami berdua.
"Sayang, penjara ini tak mungkin kita tembus."
"Aku tak peduli jika Abang sudah menyerah. Tapi aku tidak. Aku akan terus berusaha." ketusku.
Suamiku terlihat termenung. Lalu kemudian, dia ikut membantu mendorong pintu jeruji ini sekuat tenaga. Terlihat bodoh memang. Tetapi bukankah kita harus terus berusaha?
"Hei! Kalian berdua! Mau mencoba kabur ya?" Satu suara mengejutkanku. Celaka, kami ketahuan. Dan, oh tidak! Dia memanggil teman-temannya.
"Lihat mereka berdua. Mereka mencoba keluar dari sini. Hahaha... Lucu sekali."
Gerombolan itu mengelilingi kami, menertawai kami seolah kami mahluk bodoh. Padahal kami hanya ingin mempertahankan diri, ingin mencoba bertahan hidup.
"Ambil satu. Kita eksekusi sekarang juga!" kata seseorang. Oh, tidak.
"Kau menjauh sayang, biar aku yang menghadapi mereka." kata suamiku. Airmataku bercucuran.
Kulihat suamiku menghadang mereka. Tapi apalah daya, dia hanya sendiri. Mereka memegangnya bersama-sama. Mengunci tubuhnya dalam sekali renggut.
"Abaaang!" Jeritku histeris. Melihat mereka membuat suamiku tak berdaya.
"Ambil senjataku!" teriak seseorang.
Ya Tuhan. Aku tak kuat lagi. Lihat mereka... Aaargh! Tidaaaak... Mereka, mereka menggorok lehernya. Di depan mataku. Dasar manusia-manusia laknat! Sekarang mereka bahkan menyiramnya dengan air panas. Keji. Aku tak ingin melihat lagi. Aku tak sanggup melihat lagi.
Kututup mataku yang bercucuran air mata. Ah, Abang. Sepertinya sebentar lagi aku kehilangan kewarasanku.
TRAK!
TRAK!
Aku mengintip ke arah datangnya suara. Di sana mereka sedang mencincang tubuh telanjang suamiku. Gila! Mereka membelah perut dan mengeluarkan isinya. Mencincangnya menjadi potongan-potongan kecil dan memercikinya dengan perasan lemon.
Dapatkah kau bayangkan pedihnya? Aku tidak. Sebab aku sudah kehilangan kesadaranku saat seseorang berteriak keras.
"Bebeknya sudah siap, mana bumbu rica-ricanya?" Orang itu membawa potongan-potongan tubuh suamiku sambil bersenandung riang.
Potong bebek angsa
Masak dikuali
Nona minta dansa
Dansa empat kali...
Tampilkan postingan dengan label twist. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label twist. Tampilkan semua postingan
Minggu, 22 Desember 2019
Jumat, 20 Desember 2019
BINTANG KECIL
BINTANG KECIL
Oleh Lily N. D. Madjid
Malam ini cerah sekali, walau bulan hanya sebentuk sabit. Langit bersih. Bintang-bintang bertaburan di langit. Aku suka suasana seperti ini. Aku suka memandang taburan bintang di langit sana, seperti taburan permata di tiara milik mama. Aku suka membayangkan diriku duduk di lengkungan bulan sabit itu.
Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada
Kusenandungkan lagu kesukaanku. Dulu, mama yang mengajariku lagu itu. Kugumamkan berulang-ulang. Kuayunkan dua kaki seiring larik-larik lagu yang keluar dari bibirku. Ayunan yang kududuki melambung semakin tinggi dan ssemakin tinggi. Biasanya, jika kunyanyikan lagu itu, mama akan ikut bernyanyi bersamaku. Ia bernyanyi sambil memelukku dan kami memandang ke arah langit berdua.
Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada
Tetapi kini tak ada lagi mama. Dia telah tiada. Kutemukan ia dengan belati menancap di dada, suatu hari, sepulangku dari sekolah. Darah membasahi seluruh tubuhnya. Aku menjerit-jerit mamanggilnya. Tetapi dia diam saja. Hanya matanya saja yang terbuka, menatap ke langit sana. Mungkinkah mama menatap bintang kesayangan kami? Tetapi di siang hari tak ada bintang yang bertaburan, bukan?
Lalu nenek dan kakek membawaku ke sini. Ke desa tempat mereka tinggal. Kata mereka aku tak mungkin tinggal sendiri setelah mama pergi, dan papa mendekam di balik jeruji. Aku pun berpikir begitu. Terlalu menyedihkan kenangan yang tertinggal di rumah itu. Sampai sekarang aku bahkan tak tahu, apa yang membuat papa tega menyarangkan belatinya di dada mama. Bukankah selama ini mereka saling mencinta?
Di desa ini aku lebih tenang. Tak ada lagi mimpi buruk tentang kematian mama dalam tidurku. Apalagi di desa kecil ini, langitnya selalu lebih indah di malam hari. Seperti malam ini. Kau lihat? Bintang bertaburan di atas sana. Gemerlap tak terkira. Apakah mama ada di sana? Duduk di antara lengkung bulan sabit, menikmati kilauannya?
Kupejamkan mata. Membayangkan mama dengan senyumnya. Dengan suara merdunya. Kuhapus bayanganku tentang mama di saat terakhir aku melihatnya. Ya. Akan kuhapus saja. Hanya yang terindah saja tentang mama yang boleh tersisa dalam kenangan di kepala. Juga dalam dada.
Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada
Udara terasa dingin menggigit. Kuusap tengkukku yang meremang. Sejenak aku terdiam. Ada yang ikut bersenandung di sana. Entah di mana. Lirih suaranya mengalun lembut. Kutajakan pendengaran, juga mencari dari mana suara itu berasal.
Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada
Ah, di sana. Di bawah rerimbun pohon angsana, kulihat sebuah siluet berdiri tegak menghadap ke arahku. Mataku terpicing. Bayangan itu seperti sosok tak asing. Dan senandungnya yang mengiringi gumam laguku, bukankah suara yang begitu kukenal?
Bukankah itu … Mama?
Oleh Lily N. D. Madjid
Malam ini cerah sekali, walau bulan hanya sebentuk sabit. Langit bersih. Bintang-bintang bertaburan di langit. Aku suka suasana seperti ini. Aku suka memandang taburan bintang di langit sana, seperti taburan permata di tiara milik mama. Aku suka membayangkan diriku duduk di lengkungan bulan sabit itu.
Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada
Kusenandungkan lagu kesukaanku. Dulu, mama yang mengajariku lagu itu. Kugumamkan berulang-ulang. Kuayunkan dua kaki seiring larik-larik lagu yang keluar dari bibirku. Ayunan yang kududuki melambung semakin tinggi dan ssemakin tinggi. Biasanya, jika kunyanyikan lagu itu, mama akan ikut bernyanyi bersamaku. Ia bernyanyi sambil memelukku dan kami memandang ke arah langit berdua.
Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada
Tetapi kini tak ada lagi mama. Dia telah tiada. Kutemukan ia dengan belati menancap di dada, suatu hari, sepulangku dari sekolah. Darah membasahi seluruh tubuhnya. Aku menjerit-jerit mamanggilnya. Tetapi dia diam saja. Hanya matanya saja yang terbuka, menatap ke langit sana. Mungkinkah mama menatap bintang kesayangan kami? Tetapi di siang hari tak ada bintang yang bertaburan, bukan?
Lalu nenek dan kakek membawaku ke sini. Ke desa tempat mereka tinggal. Kata mereka aku tak mungkin tinggal sendiri setelah mama pergi, dan papa mendekam di balik jeruji. Aku pun berpikir begitu. Terlalu menyedihkan kenangan yang tertinggal di rumah itu. Sampai sekarang aku bahkan tak tahu, apa yang membuat papa tega menyarangkan belatinya di dada mama. Bukankah selama ini mereka saling mencinta?
Di desa ini aku lebih tenang. Tak ada lagi mimpi buruk tentang kematian mama dalam tidurku. Apalagi di desa kecil ini, langitnya selalu lebih indah di malam hari. Seperti malam ini. Kau lihat? Bintang bertaburan di atas sana. Gemerlap tak terkira. Apakah mama ada di sana? Duduk di antara lengkung bulan sabit, menikmati kilauannya?
Kupejamkan mata. Membayangkan mama dengan senyumnya. Dengan suara merdunya. Kuhapus bayanganku tentang mama di saat terakhir aku melihatnya. Ya. Akan kuhapus saja. Hanya yang terindah saja tentang mama yang boleh tersisa dalam kenangan di kepala. Juga dalam dada.
Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada
Udara terasa dingin menggigit. Kuusap tengkukku yang meremang. Sejenak aku terdiam. Ada yang ikut bersenandung di sana. Entah di mana. Lirih suaranya mengalun lembut. Kutajakan pendengaran, juga mencari dari mana suara itu berasal.
Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada
Ah, di sana. Di bawah rerimbun pohon angsana, kulihat sebuah siluet berdiri tegak menghadap ke arahku. Mataku terpicing. Bayangan itu seperti sosok tak asing. Dan senandungnya yang mengiringi gumam laguku, bukankah suara yang begitu kukenal?
Bukankah itu … Mama?
Jumat, 29 November 2019
TERROR DI HOOGE BURGERE SCHOOL
TERROR DI HOOGE BURGERE SCHOOL
Cerpen Lily N. D. Madjid
#urban_legend
"Bim, pssstt ... Bim!"
Adri berbisik. Tetapi sosok yang berjalan di depannya terus saja melangkah.
"Bima! Woi! Tungguin gue!"
Sosok di depan berbalik sambil menaruh jari telunjuknya di depan bibir.
"Ck! Ngapain sih Lu berisik gitu?" Desis Bima kesal.
"Lu cepet banget jalannya. Tungguin gue ngapa?"
"Ya, elaaah, Bro. Makin cepat makin baik kali."
Tak urung Bima menghentikan langkahnya menunggu Adri yang nyengir lebar melihat tampang Bima.
"Lu takut ya? Ngaku aja deh, Bim. Jadi kita tinggal balik, trus lu traktir gue di Jiganasuki sesuai kesepakatan."
"Ish! Takut apaan? Lu kali yang takut." Bima menyangkal. Walau wajahnya menunjukkan hal sebaliknya.
Ya. Saat ini mereka berdua sedang melakukan uji nyali di sebuah sekolah pavorit di kota Bandung yang dulunya bernama Hooge Burgere School.
Konon, kalau kita berjalan memutari sekolah itu sebanyak tiga kali di malam hari, hantu wanita Belanda bernama Nancy akan muncul.
"Buruan, Dri."
"Ahaha ... Tuh kan, Lu sebenarnya mau cepat pergi dari sini kan? Udahlah nyerah aja," ejek Adri sambil tertawa kecil.
"Sialan, Lu! Gue nggak takut, cuma kebelet pipis doang. Hayu ah, buru!"
"Sabar, Bim, sabar. Hahaha ... Eh, omong-omong, kita ini putaran ke dua atau ke tiga sih?" Adri berhenti lagi. Mengingat-ingat.
"Lha, kan tugas Lu buat ngitung." Bima kesal. Matanya memandang sekeliling.
Di sekitarnya sunyi senyap. Sangat mencekam. Bahkan angin pun seperti berhenti berhembus. Bulu kuduk Bima meremang. Dia bergidig ngeri.
"Ya ampun. Gue kok merinding, Dri. Jangan-jangan kita emang udah tiga putaran. Trus, Mevrouw Nancy sebentar lagi muncul." Suara Bima bergetar.
"Seingat gue sih belum deh, masih satu putaran lagi, terus baru ...."
Adri tak menyelesaikan kalimatnya, sebab sesuatu terasa menyentuh bahunya. Begitu juga dengan Bima. Keduanya menahan nafas beberapa waktu.
Bima melirik ke arah bahunya. Satu tangan hitam besar berbulu lebat bertengger di sana. O, tidak. Ini jelas bukan tangan Mevrouw Nancy. Ini mungkin Genderu ....
"Aaaaaa ...." Teriak Bima histeris sebelum menggelosor lemas dan membuat Adri panik.
"Jang, kunaon eta babaturanna?" (1) Satu suara bertanya. Adri menoleh. Rupanya si pemilik tangan tadi.
"Eh, Pak Satpam? Euuu ... Teu terang, Pak. Ngadadak weh sapertos kieu." (2)
"Euleuh? Hayu atuh urang bawa ka Pos," (3)ajak Pak Satpam sambil mencoba membopong Bima. Adri segera membantu.
"Naaa ... Atuh si ujang mah, nanaonan atuh tengah peuting kieu ngadon ngurilingan sakola? Siga teu aya gawe wae ...."(4) Gerutu pak satpam sambil bersusah payah memapah Bima yang belum juga sadar.
Tamat.
Terjemahan:
1) Nak, kenapa itu temannya?
2) Eh, Pak Satpam. Nggak tahu, Pak. Tiba-tiba aja begini.
3) wah? Kalau begitu ayo kita bawa ke pos.
4) lagian si ujang mah, ngapain juga keluyuran di sekolah tengah malam begini. Kaya yang nggak ada kerjaan aja.
Cerpen Lily N. D. Madjid
#urban_legend
"Bim, pssstt ... Bim!"
Adri berbisik. Tetapi sosok yang berjalan di depannya terus saja melangkah.
"Bima! Woi! Tungguin gue!"
Sosok di depan berbalik sambil menaruh jari telunjuknya di depan bibir.
"Ck! Ngapain sih Lu berisik gitu?" Desis Bima kesal.
"Lu cepet banget jalannya. Tungguin gue ngapa?"
"Ya, elaaah, Bro. Makin cepat makin baik kali."
Tak urung Bima menghentikan langkahnya menunggu Adri yang nyengir lebar melihat tampang Bima.
"Lu takut ya? Ngaku aja deh, Bim. Jadi kita tinggal balik, trus lu traktir gue di Jiganasuki sesuai kesepakatan."
"Ish! Takut apaan? Lu kali yang takut." Bima menyangkal. Walau wajahnya menunjukkan hal sebaliknya.
Ya. Saat ini mereka berdua sedang melakukan uji nyali di sebuah sekolah pavorit di kota Bandung yang dulunya bernama Hooge Burgere School.
Konon, kalau kita berjalan memutari sekolah itu sebanyak tiga kali di malam hari, hantu wanita Belanda bernama Nancy akan muncul.
"Buruan, Dri."
"Ahaha ... Tuh kan, Lu sebenarnya mau cepat pergi dari sini kan? Udahlah nyerah aja," ejek Adri sambil tertawa kecil.
"Sialan, Lu! Gue nggak takut, cuma kebelet pipis doang. Hayu ah, buru!"
"Sabar, Bim, sabar. Hahaha ... Eh, omong-omong, kita ini putaran ke dua atau ke tiga sih?" Adri berhenti lagi. Mengingat-ingat.
"Lha, kan tugas Lu buat ngitung." Bima kesal. Matanya memandang sekeliling.
Di sekitarnya sunyi senyap. Sangat mencekam. Bahkan angin pun seperti berhenti berhembus. Bulu kuduk Bima meremang. Dia bergidig ngeri.
"Ya ampun. Gue kok merinding, Dri. Jangan-jangan kita emang udah tiga putaran. Trus, Mevrouw Nancy sebentar lagi muncul." Suara Bima bergetar.
"Seingat gue sih belum deh, masih satu putaran lagi, terus baru ...."
Adri tak menyelesaikan kalimatnya, sebab sesuatu terasa menyentuh bahunya. Begitu juga dengan Bima. Keduanya menahan nafas beberapa waktu.
Bima melirik ke arah bahunya. Satu tangan hitam besar berbulu lebat bertengger di sana. O, tidak. Ini jelas bukan tangan Mevrouw Nancy. Ini mungkin Genderu ....
"Aaaaaa ...." Teriak Bima histeris sebelum menggelosor lemas dan membuat Adri panik.
"Jang, kunaon eta babaturanna?" (1) Satu suara bertanya. Adri menoleh. Rupanya si pemilik tangan tadi.
"Eh, Pak Satpam? Euuu ... Teu terang, Pak. Ngadadak weh sapertos kieu." (2)
"Euleuh? Hayu atuh urang bawa ka Pos," (3)ajak Pak Satpam sambil mencoba membopong Bima. Adri segera membantu.
"Naaa ... Atuh si ujang mah, nanaonan atuh tengah peuting kieu ngadon ngurilingan sakola? Siga teu aya gawe wae ...."(4) Gerutu pak satpam sambil bersusah payah memapah Bima yang belum juga sadar.
Tamat.
Terjemahan:
1) Nak, kenapa itu temannya?
2) Eh, Pak Satpam. Nggak tahu, Pak. Tiba-tiba aja begini.
3) wah? Kalau begitu ayo kita bawa ke pos.
4) lagian si ujang mah, ngapain juga keluyuran di sekolah tengah malam begini. Kaya yang nggak ada kerjaan aja.
Sabtu, 23 November 2019
T A R G E T
TARGET
Cerpen Lily N. D. Madjid
"Aha! Kelar...." Bima berseru gembira. Tidak itu saja, dia melonjak-lonjak kegirangan seperti kanak-kanak yang baru menang lotere.
"Eh? Kenapa Lu, Bro?" Adri teman sekamar sekaligus sobat karibnya sejak SMA--satu kelas, bahkan kuliah pun di kampus dan jurusan yang sama--mengernyit heran.
"Hehehe... Gue senang karena target gue untuk ikut sidang bulan Desember nanti bakal tercapai. Bab lima gue bentar lagi kelar. Nih...." Bima mendekatkan laptopnya ke arah Adri yang sedang mematut diri di depan cermin.
"Tinggal rapikan dikit lagi, verifikasi, beresin syarat-syarat lainnya, ikut sidang dan, yeaaay... Gue pun berhak menyandang gelar sarjana. Waaawww!"
"Ya nggak usah jejingkrakan kayak gitu juga kali, Bro." Adri terbahak keras.
"Loh, Elu gak usah mengekang kebebasan berekspresi orang gitu dong, Bro. Ini, ekspresi kebahagiaan gue karena berhasil memenuhi target ikut sidang bulan Desember. Target kita bersama loh itu, Bro. Dan sekarang target itu berhasil gue penuhi. Seneng dong gue...."
"Ya deh, iya... gue ikut seneng. Dobel, dobel seneng malah. Pertama, karena akhirnya target lu sidang bulan Desember akhirnya terpenuhi. Ke dua, gue seneng karena lu nggak akan terpuruk lagi kayak Desember tahun kemarin." Adri menepuk bahu Bima sambil tersenyum.
"Aaah, perusak suasana, Lu, Bro. Kenapa lu ingetin lagi soal Desember tahun kemarin itu. Tragedi itu, Bro, tragedi. Gara-gara gue kena typhus." Bima menonjok pelan bahu Adri yang terbahak keras.
"Udah, ah. Gue ngantor dulu," Adri menyambar tas kerjanya sambil menghindar dari serangan Bima. Dia melangkah ke luar sambil menghabiskan sisa-sisa tawanya.
"Oiya, Bim," Adri berbalik, "kalau Lu nanti ketemu Pak Omar, salam dari gue ya. Bilang gue kangen bimbingan sama beliau kayak dulu. Hahaha..."
"Ah sial, Lu, Bro. Bilang aja Lu nyindir gue."
"Hahahaha... Jangan baperan gitu, Bro. Eh, gue pergi dulu ya, jangan lupa, salam buat Pak Omar."
"Minggat sana buruan!"
"Hahaha...!"
*** ***** ***
Bumi, 21 November 2019
Cerpen Lily N. D. Madjid
"Aha! Kelar...." Bima berseru gembira. Tidak itu saja, dia melonjak-lonjak kegirangan seperti kanak-kanak yang baru menang lotere.
"Eh? Kenapa Lu, Bro?" Adri teman sekamar sekaligus sobat karibnya sejak SMA--satu kelas, bahkan kuliah pun di kampus dan jurusan yang sama--mengernyit heran.
"Hehehe... Gue senang karena target gue untuk ikut sidang bulan Desember nanti bakal tercapai. Bab lima gue bentar lagi kelar. Nih...." Bima mendekatkan laptopnya ke arah Adri yang sedang mematut diri di depan cermin.
"Tinggal rapikan dikit lagi, verifikasi, beresin syarat-syarat lainnya, ikut sidang dan, yeaaay... Gue pun berhak menyandang gelar sarjana. Waaawww!"
"Ya nggak usah jejingkrakan kayak gitu juga kali, Bro." Adri terbahak keras.
"Loh, Elu gak usah mengekang kebebasan berekspresi orang gitu dong, Bro. Ini, ekspresi kebahagiaan gue karena berhasil memenuhi target ikut sidang bulan Desember. Target kita bersama loh itu, Bro. Dan sekarang target itu berhasil gue penuhi. Seneng dong gue...."
"Ya deh, iya... gue ikut seneng. Dobel, dobel seneng malah. Pertama, karena akhirnya target lu sidang bulan Desember akhirnya terpenuhi. Ke dua, gue seneng karena lu nggak akan terpuruk lagi kayak Desember tahun kemarin." Adri menepuk bahu Bima sambil tersenyum.
"Aaah, perusak suasana, Lu, Bro. Kenapa lu ingetin lagi soal Desember tahun kemarin itu. Tragedi itu, Bro, tragedi. Gara-gara gue kena typhus." Bima menonjok pelan bahu Adri yang terbahak keras.
"Udah, ah. Gue ngantor dulu," Adri menyambar tas kerjanya sambil menghindar dari serangan Bima. Dia melangkah ke luar sambil menghabiskan sisa-sisa tawanya.
"Oiya, Bim," Adri berbalik, "kalau Lu nanti ketemu Pak Omar, salam dari gue ya. Bilang gue kangen bimbingan sama beliau kayak dulu. Hahaha..."
"Ah sial, Lu, Bro. Bilang aja Lu nyindir gue."
"Hahahaha... Jangan baperan gitu, Bro. Eh, gue pergi dulu ya, jangan lupa, salam buat Pak Omar."
"Minggat sana buruan!"
"Hahaha...!"
*** ***** ***
Bumi, 21 November 2019
Selasa, 19 November 2019
M A A F K A N
MAAFKAN
Cerpen Lily N. D. Madjid
Aku segera berlalu setelah meletakkannya di ujung jalan itu. Dalam sebuah kotak yang hanya kulapisi selimut tipis kesayanganku. Airmata jatuh bercucuran tanpa dapat kutahan.
Mengerahkan segala daya, kulangkahkan kakiku yang terasa berat. Sebelum pergi, kusempatkan untuk memandangnya sekali lagi. Mata itu, ah, mata tanpa dosa yang menatapku seakan penuh tanya, 'mengapa kau tega?'.
Sungguh aku terpaksa melakukan semua itu. Apalah dayaku. Orangtuaku tak sudi menerimanya bersama kami.
"Apa-apaan, kamu, Rani?" Gelegar amarah mama saat itu terngiang kembali.
Hari itu, hari pertama aku menginjakkan kembali kakiku di rumah, setelah sekian lama bersembunyi.
Ya. Aku pergi beberapa lama demi dia. Si kecil yang kusayangi. Aku menyembunyikannya agar mama dan papa tak tahu. Aku tahu akan semarah apa mereka berdua jika mereka mengetahui aku memiliki dia saat ini.
Tapi aku juga tak bisa bersembunyi terlalu lama. Bagaimanapun aku hanya seorang anak yang masih saja bergantung pada orangtua. Bisa apa aku tanpa mereka? Dan.... Kembalilah aku ke rumah, hanya untuk menerima amarah dari mereka. Reaksi yang sudah kuduga sebelumnya.
"Berani-beraninya kamu membawanya...." suara mama terbata. Aku tahu dia sedang berusaha keras mengendalikan emosinya.
Aku menangis saat itu. Berusaha membujuk keduanya. Kudekati papa. Biasanya papa lebih mudah luluh dibanding mama.
"Papa, kumohon...." kataku seraya mendekat. Ingin kutunjukan pada Papa, ia yang berada dalam pelukanku saat itu.
"Jangan mendekat, Rani." Suara dingin papa menghentikan sejenak langkahku. Tapi hanya sejenak. Setelahnya kembali kudekati papa. Ingin kubuktikan bahwa ia yang kudekap ini tak bersalah sedikitpun. Mungkin aku yang telah melakukan kekhilafan.
"Papa, tolonglah...." Kupeluk kedua tangan papa.
"Rani, menjauh!"
"Lihat dulu dia, Papa. Lihatlah matanya..."
Sejenak kulihat wajah Papa melembut. Tangan papa mencoba menyentuhnya perlahan. Di belakang papa, kulihat mama berusaha mencegah.
"Ah...." senyum papa perlahan mengembang. Diambilnya si kecil itu dari pelukanku. Aku menghembuskan nafas lega.
Tapi kelegaanku hanya bertahan sekejap. Sesaat kemudian kulihat papa mengejang, kemudian memegang dadanya. Si kecil dalam dekapannya terlempar. Teriak kepanikan keluar dari mulutku dan mama, nyaris bersamaan.
***** ***** *****
Kupandangi sekali lagi si kecil yang masih memandangku dari dalam kotak. Sungguh aku tak tega harus meninggalkannya di ujung jalan itu. Tapi di situlah tempat paling aman baginya.
Jalan itu jalan buntu, tak banyak kendaraan yang berlalu lalang di sana. Dan, semoga saja akan ada yang bersedia mengadopsi si kecil setelah ini.
Kumatnya asma Papa setelah berdekatan dengan si kecil membuatku tak tega untuk memaksanya menerima si kecil.
"Miaaauuuww"
Ah, maafkan. Aku harus segera pergi dari sini, atau airmataku tak akan terbendung lagi. Mendengar suaranya saja aku sudah tak tahan. Biar nanti kutelepon Rusy sahabatku untuk mengambilnya di sini. Kudengar, orangtuanya tidak keberatan memelihara kucing di rumah.
🐱🐱🐱
*** berlatih nulis cerita yang twist ending, tapi kok seperti nggak dapet twistnya, ya?
Bagi tipsnya donk, Kaka... 😍
Ditunggu krisannya juga.
Langganan:
Postingan (Atom)
PUISI RAKYAT (PUISI LAMA): PANTUN
KOMPETENSI DASAR 3.9 Mengidentifikasi informasi (pesan, rima, dan pilihan kata) dari puisi rakyat (pantun, syair, dan bentuk puis...
-
KOMPETENSI DASAR 3.9 Mengidentifikasi informasi (pesan, rima, dan pilihan kata) dari puisi rakyat (pantun, syair, dan bentuk puis...
-
Ujian. Gambar ilustrasi diambil dari google Hening. Wajah-wajah tertunduk. Menatap helai demi helai kertas dengan puluhan pertany...




