Tampilkan postingan dengan label Kenangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kenangan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 November 2019

R I N D U

RINDU
Cerpen Lily N. D. Madjid



Perempuan berusia senja itu duduk di sana, di teras rumahnya. Ada resah terbaca dalam bahasa tubuhnya. Tangannya yang lincah menari-nari di antara benang dan hakken kayu berwarna madu.

Sesekali wajahnya terangkat. Pandang matanya bergerilya, mencari-cari entah apa, di jalan lengang depan rumahnya.

Walau demikian jari-jarinya masih juga menari. Seperti memiliki mata sendiri, mengaitkan rantai demi rantai benang rajut sehalus beledu. Merendanya, menjadi helai-helai kain lembut.

"Ah, kemana dia?"

Terdengar desahnya. Matanya masih saja menatap, penuh harap. Sesekali pandangannya berpindah ke atas sana. Ke arah langit yang mulai gelap. Awan memekat. Udara mulai memberat.

"Hmmm... Lelaki tua itu. Selalu saja tak kenal waktu. Tak dilihatnyakah, hujan akan turun," Gerutunya.

Sejenak matanya teralih pada gumpal benang di tangannya. Lalu ia mengambil benang lain. Kali ini berwarna merah bunga angsoka.

Mulai dirajutnya benang itu. Berselang-seling dengan warna sebelumnya.

"Mama!"

Sebuah suara memanggilnya dari dalam rumah. Memintanya masuk, karena hujan mulai tercurah.

Tetapi dia masih enggan beranjak dari sana. Matanya kembali menatap ke arah jalan yang mulai dibasahi air hujan.

"Ah, ke mana dia?"

Matanya kini memandang resah. Dadanya mulai buncah. Ia tersaput oleh gelisah. Pikirannya mengembara pada satu sosok saja.

"Mama ...."

Satu sentuhan menyentakkan lamunannya. Ia menoleh. Wajah dengan gurat khawatir menatapnya.

"Hujannya deras. Mama masuk ya. Di sini dingin sekali." Anak gadisnya mencoba memapahnya.

"Sebentar saja. Biar mama di sini sebentar saja."

"Mama mau apa? Lihat, tempias air hujan membasahi rambut Mama."

"Sebentar lagi. Lihat ini, sweater yang kurajut untuk papamu sudah hampir jadi. Kalau dia datang, akan kuberikan. Dia mungkin kehujanan sekarang," katanya.

Putrinya tertegun menatapnya. Ada riak di matanya yang perlahan menggenang.

"Mama...." Bisiknya sambil berusaha melukis segurat senyuman. "Papa sudah tenang sekarang. Dia tidak mungkin kehujanan. Mama masuk ya."

Dipapahnya sang bunda yang masih ingin bertahan.

*****     *****     *****

Jumat, 11 Oktober 2019

TAK LEKANG OLEH WAKTU

TAK LEKANG OLEH WAKTU
Cerpen Lily N. D. Madjid




Mata tua itu berbinar. Senyum simpul tak lepas dari bibirnya yang sedang mengalirkan kisah dari masa lalu. Bersamaan dengan itu, tangannya tetap lincah menyiangi sayuran di atas tampah.

Aku yang saat itu mendengarkan ceritanya ikut tersenyum. Memandang lekat wajahnya yang jelas sekali memancarkan rona bahagia.

Sebenarnya aku tidak terlalu memperhatikan lagi alur kisah yang sedang ia ceritakan. Karena ini bukan kali pertama aku mendengarnya. Aku lebih tertarik untuk mengamati raut wajahnya saat bercerita.

Dia induk semangku. Pemilik rumah kost tempat aku tinggal. Kami biasa memanggilnya Uti, karena begitulah ia ingin kami memanggilnya. Panggilan singkat dari eyang uti atau eyang putri.

Usia Uti tidak muda lagi, tentu saja. Pertengahan enam puluh, kukira. Bisa jadi lebih. Ia berpostur sedang, cenderung gemuk. Rambut beruban di kepalanya mulai menipis. Selalu digelungkan di puncak kepala.

Ia juga selalu rapi. Selalu mengenakan mantel harian berwarna merah bata yang mulai kusam melengkapi daster batiknya.

Uti sangat senang bercerita. Terutama tentang kisah hidupnya. Setiap kali ada kesempatan ia selalu bersemangat menceritakan kembali kisah-kisahnya. Tak peduli kami--anak-anak kostnya--sudah bosan mendengar cerita yang sama, ia tetap semangat berkisah. Mengingat faktor usia, bisa saja sih, ia sudah lupa kalau ia pernah menceritakan hal itu pada kami.

Kisah yang cukup sering kudengar adalah kisahnya dengan Mbah Parto, suaminya saat ini, alias bapak kost kami.

Konon menurut Uti, ia dan Mbah Parto telah menjalin kisah kasih sejak mereka masih sangat belia.

"Dulu kalau kami pacaran tidak seperti kalian sekarang." katanya sambil tertawa. Dulu sekali, saat pertama kali menceritakan kisah ini pada kami.

"Memangnya gimana, Ti?"

"Jaman Uti dulu, kalau mau ketemu itu, diam-diam. Ndak terang-terangan macam kalian. Sembunyi-sembunyi. Malu kalau dilihat orang."

"Wah, nggak asyik dong, Ti, kalau begitu."

"Ya, begitu itu." Uti terkekeh. "Pernah aku sama bapak itu janji mau ke pantai. Kami ketemu di suatu tempat. Aku datang duluan, sudah cantik. Pakai baju putih, rambutku kujalin. Kepang dua. Ndak lama trus bapak datang, pakai sepeda. Aku diboncengnya." kata Uti.

Kuamati wajah Uti yang menunduk, ia tersipu-sipu malu. Teman-temanku riuh menggoda.

"Senang dong, Ti?"

"Yo seneng. Ada takutnya juga, takut dilihat orang. Aku kan malu kalau ketahuan berdua-duaan begitu."

"Aciee, cieeee... Uti. Trus, trus, Ti?"

"Terus ya kami ke pantai. Jalan-jalan, duduk-duduk, sudah itu pulang."

Kisah selanjutnya berdasarkan cerita Uti, tidak selalu menyenangkan. Konon orang tua Mbah Parto malah menjodohkan si Mbah dengan wanita lain. Mereka pun putus hubungan.

Mbah Parto menikah dengan wanita pilihan orangtuanya. Tidak lama Uti pun menikah dengan laki-laki lain. Aku kurang jelas juga, apakah Uti menikah karena dijodohkan atau bagaimana.

Satu hal yang jelas, mereka, Uti dan Mbah Parto berpisah, membangun keluarga masing-masing. Jarak pun ikut memisahkan mereka, sebab setelah menikah, Uti dan suaminya merantau ke pulau seberang.

Berat sepertinya. Itu dapat kulihat dari gurat wajah Uti saat kisahnya sampai di bagian tersebut. Tetapi walaupun berat, keduanya tetap mampu bertahan. Bahkan melangkah ke depan menapaki garis takdir perjalanan hidup masing-masing, meski tak sesuai keinginan.

Hidup toh harus terus berjalan, bukan? Tak bisa mereka terus berdiam, menyalahkan takdir, apalagi menyalahkan Tuhan.

Berpuluh tahun mereka berpisah. Tak pernah saling berkabar. Menjalani kehidupan mereka sendiri-sendiri. Beranak pinak. Bahkan hingga mereka masing-masing memiliki cucu.

"Sewaktu istri bapak meninggal, dia lalu mulai cari tahu keberadaanku. Dapat nomor teleponku, dan menghubungi." mata Uti kulihat menerawang.

"Lalu, Ti?"

"Waktu itu, suamiku sudah lebih dulu meninggal dibanding istri bapak. Begitu tahu aku sudah single, bapak nyusul aku ke pulau seberang."

"Ce el be ka dong, Ti." riuh teman-temanku menimpali.

"Heheheh... Apa itu celebeka?" Uti terkekeh.

"Ya elaaah, Uti. Ce el be ka, Ti, bukan celebeka."

"Trus, trus, Ti?"

"Terus opo?" Uti masih terkekeh. "Terus ya aku nikah sama bapak. Terus aku di bawa bapak ke sini. Terus ketemu kalian-kalian ini." Uti terkekeh-kekeh lalu melanjutkan aktivitasnya memasak.

Walaupun sudah sepuh, untuk urusan dapur Uti masih sangat gesit. Bahkan di rumah ini ia menawarkan diri mengurus makan harian kami para penghuni kost. Pembayarannya boleh dilakukan saat transferan tiba. Tak jarang Uti juga memberi diskon saat akhir bulan.

"Nggak usah terlalu dipikirkan." katanya suatu waktu, saat aku bertanya apa dengan begitu dia tidak rugi jadinya.

"Aku biasa mengurus cucu-cucuku di pulau seberang. Bertemu kalian mengobati rinduku pada mereka."

Aku terdiam. Segurat sendu sekejap kutemukan di matanya yang biasa bersinar.

"Sebenarnya anak-anakku ndak suka aku ke sini. Mereka bilang, untuk apa aku menikahi bapak yang sudah tua dan sakit-sakitan. Hanya menambah beban. Kata mereka, seharusnya aku di seberang saja bersama mereka. Menghabiskan masa tuaku di tengah anak dan cucu-cucuku sendiri. Bukannya mengurus orang lain di sini..."

Sejenak Uti terdiam. Kemudian ia menoleh ke arahku, menatapku dalam.

"Tapi kalau kau benar-benar mencintai seseorang, apapun akan kau lakukan, bukan?"

~Tamat~

Jumlah kata: Tidak dihitung 🤭🤭🤭

Rabu, 21 Agustus 2019

Gapura Makam Taman Pahlawan


GAPURA TAMAN MAKAM PAHLAWAN
Lily N. D. Madjid


            “Papa, itu tempat apa?” tanyaku sambil menunjuk sebuah gapura yang nyaris tersembunyi oleh kelebatan rumpun-rumpun bambu di sekitarnya. Papa menoleh ke arah yang kutunjuk. Tak lama ia menghentikan kayuhan pedal sepedanya.
“Itu Taman Makam Pahlawan, De.” Katanya.
“Ooo…” bibirku membulat. Tanpa sadar aku bergidig.
“Kenapa?”
“Seram. Tempatnya gelap. Itu pohon bambunya juga banyak.” Kataku. Lagi-lagi aku bergidig.
“Dede takut?” Papa bertanya sambil tersenyum padaku. Aku mengangguk. Sejujurnya sejak melintas di depan gapura itu aku sudah merinding. Tempatnya sepi sekali. Juga gerumbul pohon bambu yang merimbun di sekitarnya, menambah kesan menakutkan tempat itu.
“ Lho? Itu, mereka sedang apa?” tiba-tiba kulihat serombongan ibu keluar dari dalam gapura.
“Mungkin mereka baru selesai berziarah.” Jawab Papa.
Aku diam sambil masih menatap para ibu  berpakaian putih-putih yang  satu persatu muncul dan berjalan ke arah aku dan Papa berada. Papa kembali mengayuh. Dua roda sepedanya kembali melaju seiring ayunan kaki Papa. Aku yang duduk di boncengan belakang mempererat peganganku. Sementara pandanganku masih saja tertuju ke arah para ibu di dekat gapura makam tadi.
***      ***      ***
            Kenangan akan perjalanan melewati gapura makam pahlawan itu masih sering muncul di kepalaku. Bahkan hingga kini. Apalagi sampai saat ini, aku masih sering melewati gapura itu.  Meskipun tidak lagi dengan Papa. Karena papaku telah pergi.
            Ya. Selang beberapa tahun sejak aku duduk dibonceng oleh Papa melewati gapura makam pahlawan itu, papaku berpulang setelah hampir satu bulan terbaring di rumah sakit. Aku masih dapat mengingat dengan jelas saat-saat itu.
Suatu pagi di awal Bulan Ramadhan saat usiaku belum genap 13 tahun, Papa yang selama ini kulihat selalu bugar tiba-tiba jatuh di teras rumah. Ia sudah berpakaian dinas lengkap karena akan pergi bekerja. Sementara, aku hanya bisa termangu melihat kepanikan yang terjadi setelahnya. Mama menangis. Begitu juga nenekku—ibu dari Papa—yang saat itu sedang dalam masa pemulihan dari stroke. Tetangga kiri dan kanan berdatangan, mencoba menyadarkan Papa dengan berbagai cara. Akhirnya Papa di bawa ke rumah sakit tempatnya bekerja.
Bukan, papaku bukan dokter. Beliau tentara. Hanya saja, kemudian mendapat tugas belajar di bidang medis, hingga akhirnya beliau ditugaskan di sebuah rumah sakit tentara di bilangan Jakarta Pusat. Ke sanalah ia dibawa saat itu.
Aku tidak ikut mengantar Papa. Hanya Mama dan beberapa tetangga dekat kami saja yang menemani. Sementara aku dan satu-satunya kakakku tetap tinggal di rumah menemani nenek yang terus menerus bersedih.
Aku masih ingat bagaimana nenek selalu saja menanyakan keadaan Papa dari hari ke hari. Bisa kulihat betapa sedihnya ia karena tidak dapat menemani, atau bahkan sekedar menjenguk putra sulungnya di rumah sakit. Keadaan beliau memang tidak memungkinkan saat itu. Untuk berjalan saja nenekku masih tertatih-tatih dan harus berpegangan pada dinding.
Hari demi hari berlalu. Awalnya aku sangat optimis, Papa akan segera pulang dari rumah sakit. Sebab seingatku, Papa memang tidak pernah sakit parah. Pernah memang beberapa kali beliau dirawat di rumah sakit karena penyakit malarianya kambuh—yang beliau dapat saat bertugas di wilayah yang berhutan-hutan. Tetapi biasanya tidak lama sudah bisa kembali pulang. Maka saat itu, aku pun berharap demikian. Berharap Papa segera pulang dan kembali bersama kami lagi.
Di antara dua orang anaknya, sepertinya aku yang lebih dekat dengan Papa. Biasanya sepulang bekerja, Papa akan ada di rumah. Dan aku—si Bungsu—akan menempel ke mana pun beliau melangkah. Kakakku, mungkin karena dia lelaki, lebih banyak menghabiskan wakktu bermain dengan teman-temannya di luar. Dengan kedekatanku dengan Papa yang seperti itu, terasa sekali kehilanganku akan Papa saat beliau di rumah sakit.
Sesekali aku dan kakak mendapat kesempatan menjenguk Papa. Saat itu dapat kulihat, Papa begitu pucat. Tubuhnya yang tegap berisi juga menyusut. Aku seperti tidak mengenali Papa. Apalagi, Papa juga terlihat tidak seceria sebelumnya. Sebelum Papa sakit, aku tidak pernah melihat beliau berwajah sedih.  Bahkan beliau pun nyaris tidak pernah kulihat marah. Pada kami anak-anaknya, hanya wajah jenaka dan penuh senyumlah yang ia berikan. Tapi saat di rumah sakit itu, aku melihat bayang-bayang muram tergambar di wajah Papa.
Dari mama kami akhirnya tahu, seberapa parah penyakit Papa.
“De, biar Papa istirahat dulu.” Bisik Mama suatu hari saat aku menjenguk Papa. Saat itu aku membawa buku tugas bahasa Inggrisku, berniat ingin diajari oleh Papa.
“Papa baru diambil lagi sumsum tulangnya.”Kata Mama lagi. Wajah kuyunya tak bisa disembunyikan dari kami.
“Sumsum tulang?”
“Iya. Ini sudah yang ke sekian kali. Tempo hari dari tulang dada. Tadi dari tulang panggulnya.”
“Untuk apa, Ma?”
“Untuk dites.”
“Memang Papa sakit apa?”
“Kelainan sel darah. Dokter curiga kanker darah. Leukemia.” Kata mama. Wajahnya seperti akan menangis.
Entah apa yang kupikirkan saat itu. Namun yang masih kuingat, saat itu aku tetap memiliki harapan besar bahwa Papa akan dapat pulang ke rumah kami dalam keadaan kembali sehat. Papaku yang baik, yang selalu sayang padaku. Papaku yang penyabar, tentu Allah akan memberikan kesembuhan pada beliau, bukan?
***      ***      ***
Hari itu Mama pulang. Aku menguping pembicaraan beliau dengan seorang kerabatku. Kondisi Papa semakin menurun. Papa dipindahkan ke ruang steril. Kawan-kawan beliau dan kerabat kami yang menjenguk pun tidak bisa lagi masuk ruangan. Hanya melihat dari kaca jendela saja. Papa semakin sering menjalani tranfusi, namun agak kesulitan mendapatkan donor. Di bank darah jarang sekali dapat persediaan yang cocok.
“Kenapa bisa?” aku menyela pembicaraan mama dan kerabatku.
“Rhesus darah Papa negatif, De. Sulit mencarinya.”
Saat itu aku belum terlalu mengerti. Tetapi, dari informasi yang kemudian kugali, baru aku ketahui bahwa rhesus negatif memang paling banyak ditemukan pada ras Kaukasia. Diperkirakan sekitar 15% orang dari ras tersebut memiliki rhesus negatif. Rhesus negatif paling jarang ditemukan pada ras Asia yaitu hanya sekitar 1% dari populasi ras Asia.
“Apa Paman Abby tidak bisa mendonor?” tanyaku. Paman Abby adalah satu-satunya saudara kandung Papa yang masih ada. Mereka sesungguhnya tiga bersaudara. Papa si Sulung, Paman Abby si Tengah dan satu adik perempuan mereka yang meninggal saat masih bayi.
“Paman Abby sudah mencoba. Sudah dicek, golongan darahnya AB, tetapi Rhesusnya positif. Tidak cocok untuk papamu. Tapi tadi kawan-kawan Papa sedang berusaha mencari.”
“Apa aku bisa membantu Papa, Ma? Dengan darahku?” kataku. Mama menatapku lalu menggeleng.
“Tidak bisa. Kamu masih terlalu kecil.” Kata Mama. “Kamu doakan saja Papa.” Kata mama akhirnya.
***      ***      ***
Hampir genap satu bulan sejak Papa jatuh di teras rumah dulu. Tidak terasa malam takbir tiba. Suara bedug bertalu-talu. Gemanya terdengar di seluruh penjuru tempat tinggal kami. Malam menjelang hari kemenangan, mestinya menjadi malam yang membahagiakan, bukan? Tetapi bagi kami masih ada yang menganjal; Papa yang masih terbaring di rumah sakit.
Mama menitip pesan pada kerabatku yang baru saja pulang membezuk, agar esok aku dan kakak berhari raya di rumah sakit bersama Papa. Nenekku—yang tidak memungkinkan untuk ikut—sudah dipindahkan ke rumah paman papaku yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumah kami.
Pagi harinya, sesudah shalat Eid dan bersilaturrahmi dengan tetangga-tetangga kami, aku sudah siap menuju rumah sakit diantar oleh tetangga dekat kami. Kakakku bahkan sudah pergi lebih dulu beberapa jam yang lalu bersama kerabat kami yang lain. Aku menuju terminal untuk mencari bus ke arah rumah sakit.
Tetapi apa mau dikata. Suasana terminal yang biasanya selalu ramai, pagi itu begitu lengang. Bus-bus yang berlalu lalang dapat dihitung dengan jari. Beberapa jam menunggu, bus yang akan membawaku ke jurusan yang kutuju tidak juga muncul. Di masa itu  daerahku belum seperti saat ini, yang dengan mudahnya bisa mendapatkan transportasi umum dengan menggunakan aplikasi.  Apalagi hari itu hari pertama Iedul Fitri. Akhirnya dengan berat hati, tetangga dekatku itu mengajakku kembali ke rumah. Dan akan kembali lagi esok hari.
Esoknya, hari raya ke dua. Pagi-pagi sekali kami sudah siap di dekat terminal. Dan syukurlah, bus yang kami tunggu segera muncul dan masih kosong. Aku memilih duduk di bagian depan di dekat jendela, tepat di belakang pak sopir.
Jalan lengang. Sangat berbeda dengan kondisi sekarang yang  selalu macet walaupun masih dalam suasana hari raya. Bus melaju dengan lancar. Saat itu hanya membutuhkan waktu kurang lebih tiga puluh menit dari terminal bus di daerahku menuju daerah tujuan.
Tiba di rumah sakit, aku bergegas menuju gedung bagian belakang tempat Papa di rawat. Di ruangan Papa di lantai tiga, kulihat Mama sedang menyuapi Papa. Kakakku sedang berbaring di kursi tunggu di luar ruangan. Aku ikut duduk di sana. Tak lama Mama ke luar.
“Kenapa baru datang, De?” tanyanya. Belum sempat kujawab, tetangga dekat yang mengantarku buru-buru menjelaskan kenapa kami baru datang sekarang. Mama mengangguk. “Papa terus menanyakan kamu tadi malam.” Kata Mama sambil menatapku.
“Boleh aku masuk sekarang, Ma?” tanyaku. Mama menggeleng.
“Papa baru tidur. Biar Papa istirahat dulu.” Aku menganggk lalu memandangi Papa dari balik jernihnya kaca jendela.
Cukup lama aku menunggu. Beberapa tetangga lain datang membezuk. Beberapa saudara dan kerabat kami pun berdatangan. Tetapi seperti aku, mereka juga hanya bisa menatap Papa yang tertidur di dalam ruangannya yang steril. Akhirnya setelah zuhur aku dibolehkan masuk. Papa terjaga. Tetapi beliau seperti tidak mengenali aku.
Aku menyapa Papa. Mencoba mengajaknya berbicara. Tapi Papa hanya menatapku. Aku bingung sekali saat itu. Tiba-tiba saja nafas Papa mulai telihat terengah-engah. Mama dan kakakku mendekat. Dua orang saudara kami juga masuk. Mereka mengajak kami berdoa. Mama kulihat mulai menangis. kakakku menunduk. Sepertinya ia juga berdoa. Aku menatap Papa. Antara bingung dan sedih. Tapi aku tidak bisa menangis. Di sudut hatiku saat itu masih meyakini bahwa Papa akan kembali pulih. Papa akan pulang bersama kami.
“Laa ilaaha Illallah…” Saudaraku, Paman jauh Papa membisikkan talqin di telinga Papa. Mama ikut membisikkan kalimat suci tersebut di sisi yang lain. Suaranya bergetar dan matanya  basah. Aku tertunduk, memandangi Papa yang terpatah-patah bersuara.
“Allah… allah…” bisik Papa. Nafasnya semakin terlihat satu-satu. Aku terpaku di sisi dekat lutut Papa. Mencoba meraih tangannya. Tak berani bersuara. Hanya saja dalam hati, aku masih meneriakkan kata-kata, bahwa Papa akan sembuh. Papa tidak akan apa-apa.
“Ikhlaskan, ikhlaskan…” kudengar saudara kami berkata. Mama menangis. membisikkan kata-kata di telinga Papa. Setelah itu, tarikan nafas Papa semakin melemah. Bibirnya masih menggumamkan kata-kata itu dengan lirih.
“Allah… Allah…”
***      ***      ***
            Hingga jenazah Papa di baringkan di ruang tamu kami, aku masih belum percaya kalau Papaku telah pergi. Saat beliau dimandikan baru air mataku mengalir deras.  Ketika   beliau akan dishalatkan, kulihat shaf demi shaf rapat diisi oleh mereka yang akan ikut shalat jenazah.
Begitu juga saat akan mengantar Papa ke peristirahatan terakhir. Begitu ramai orang yang ikut mengantarnya. Truk-truk militer dan bus-bus milik kesatuan Papa berbaris di sepanjang jalan di dekat masjid. Truk-truk dan bus itu melaju beriring-iringan di belakang mobil jenazah yang membawa Papa. Dan aku masih bisa mengingat ratusan orang yang memenuhi kendaraan-kendaraan tersebut, kemudian berkumpul di area pemakaman. Wajah-wajah yang kukenal, wajah-wajah yang tak kukenal, semua khusyuk mengikuti prosesi pemakaman Papa.
Tembakan salvo terakhir mengantarkan Papa ke tempat peristirahatannya. Aku, kakak, Mama, saudara dan kerabat jauh juga dekat kami berdiri mengelilingi liang lahat yang akan segera ditutup. Gerimis kecil turun. Tetesan halusnya menyentuh wajahku. Sesak rasanya di dadaku, tetapi tangis tak bisa tertumpah. Aku hanya bisa memandangi saat sedikit demi sedikit tanah merah ditimbun kembali. Menutupi jasad Papaku.
Dan yang masih kuingat, saat iring-iringan kami kembali pulang, aku menatap lekat gapura makam dan rerimbun rumpun-rumpun bambu di dekatnya. Gapura yang sama dengan yang kulihat beberapa tahun lalu saat bersepeda bersama Papa. Juga rumpun-rumpun bambu yang sama, yang daunnya dulu melambai menyapa aku dan Papa.
Hingga kini, gapura itu masih ada. Semakin terlihat bersih dan kokoh. Mungkin karena rerimbun rumpun-rumpun bambu itu kini tak ada lagi. Di sekeliling makam pun sudah tidak lagi sunyi dan gelap seperti dulu. Deretan ruko berjajar sebelum gapura. Beberapa sekolah internasional berdiri tidak jauh dari areal makam. Perumahan elite pun melingkupi area sekitarnya.  Tetapi walau daerah itu terus berubah digempur kemajuan zaman, kenangan tentang gapura itu masih sering melintas dalam kepalaku. Seiring abadinya kenanganku akan sosok Papa.
***      ***      ***

PUISI RAKYAT (PUISI LAMA): PANTUN

      KOMPETENSI DASAR 3.9 Mengidentifikasi informasi (pesan, rima, dan pilihan kata) dari puisi rakyat (pantun, syair, dan bentuk puis...