Tampilkan postingan dengan label Cerita Anak.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Anak.. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juni 2020

SECRET PROJECT

SECRET PROJECT
#cerpen Lily N. D. Madjid



BRAKKK!

Pintu ruang penghubung itu terbanting dengan keras. Dengan penuh rasa marah aku bergegas. Apa-apaan itu tadi? Jared bodoh! S*alan! Bisa-bisanya dia berbuat seperti itu? Mengabaikanku seolah-olah aku manusia tak kasat mata. Alih-alih menyapa dia malah asyik bercengkrama dengan yang lainnya. Dasar bodoh! Aku benci Jared.

Oke, oke! Itu memang hak dia untuk bergaul dengan siapa saja dalam pesta itu. Itu memang hak dia untuk melakukan apa pun yang dia suka. Terserah! Aku toh bukan siapa-siapanya. Dan aku memang tidak pernah berarti apa-apa bagi dirinya, 'kan?

Ya Tuhan, kenapa kenyataan itu bisa terasa begitu pahit?

Kuhempaskan tubuhku di bangku taman. Menarik napas dalam-dalam mencoba mengusir sesak yang menyeruak di dada. Ingar bingar suara musik dan canda tawa dari ruangan yang kutinggalkan menembus masuk hingga ambang pendengaranku. Samar, tetapi tetap terdengar.

Demi apa aku ada di sini?

Teringat percakapanku dengan Jared lewat telpon beberapa hari lalu.

"Kamu hadir ke acara launching lusa?" tanyanya waktu itu.

"Well, Bos Besar mengharapkan kita semua hadir bukan?" Aku menjawab sambil sibuk meredakan gemuruh di dada.

Begitulah bodohnya aku. Selalu seperti itu setiap kali berbicara dengan Jared. Padahal hanya bicara lewat telepon. Jangankan telepon, saat kami mengobrol lewat teks melalui aplikasi perpesanan pun hatiku seringkali bergetar dan seolah berdenyar. Ya, aku rasa aku memang gila, untuk semua yang berhubungan dengan Jared.

"Jadi, kau datang?"

"Ya. Kau?"

"Seperti yang tadi kau katakan, Bos Besar mengharapkan kita semua hadir di sana. Ini acara besar Laiyla. Dengan pesta yang juga besar. Kudengar media-media akan meliputnya."

"Ya. Project ini sudah lama digembar-gemborkan pada khalayak. Siapa yang tak ingin menyaksikan peluncurannya? Mereka pasti tak sabar ingin melihat bagaimana sebuah mobil terbang berbahan bakar air bekerja."

"Aku pun tak sabar."

"Tentu saja. Kau tim perancangnya, Jared. Tentu ingin menyaksikan bagaimana karyamu mendapat sambutan semua orang."

"No, Laiyl. Bukan itu."

"Lalu apa?"

"Aku tak sabar ... melihatmu berdiri anggun di pesta itu nanti."

Ya Tuhan! Bagaimana mungkin dia bisa berkata seperti itu tempo hari. Membuatku tak bisa tidur, dan gelisah menunggu datangnya malam ini, hanya untuk membuktikan ucapannya. Lalu menyaksikan kenyataan yang ada berbeda 180° dari bayanganku.

 Jared pembohong!

Jangankan melihatku. Melirik saja tidak. Padahal beberapa kali aku berdiri di dekatnya. Beberapa kali ia berjalan melewatiku dengan senyum cerahnya. Namun, matanya terus menghindariku dengan menatap entah ke mana. Senyum yang yang nyaris terkembang di bibirku otomatis menguap, dan kubatalkan niat untuk menyapanya.

Aku benci Jared!

*** *** ***

"Laiyla?"

Satu suara mengejutkanku yang sedang berjalan melintasi koridor panjang menuju ruanganku. Aku berhenti. Di depan laboratorium workshop M031 terlihat siluet seseorang berdiri di bawah bayangan tiang penyangga bangunan.

Aku mendekat, siluet itu semakin jelas.

"Dr. Raymond?" tanyaku.

"Ck! Sudah kubilang panggil aku Zach." sosok itu berdecak sebal. Aku tersenyum.

"Sorry, Dr. Ray, eum ... Zach. Sedang apa di sini? Kenapa tidak bergabung di aula?"

"Kamu sendiri sedang apa di sini? Mengendap-endap sendiri dalam gelap?"

"No, Sir! Saya tidak mengendap-endap. Saya sedang menuju ruangan saya ta--"

"Ah, menghindari seseorang, kurasa. No, jangan menyangkal. Dengar, tak ada seorang gadis muda yang akan menyelinap keluar dari meriahnya pesta jika tidak sedang menghindar dari seseorang yang membuatnya patah hati. Hahaha ....!"

S*al! Kenapa Dr. zach Raymond bisa menebak dengan jitu?

"Anda sendiri sedang apa di sini? Mengapa tidak bergabung dalam pesta itu? Dan, hei--" aku terbelalak ketika menyadari kami ada di mana. "Laboratorium Workshop M031 tempat terlarang, bukan?" kataku sambil memelankan suara.

"Memang, tetapi tidak untukku. Aku sedang menyelesaikan sebuah projek. Mmm ... kebetulan sekali kita bertemu. Aku ... ah, masuklah dulu. Kita bicara di dalam." katanya.

Ia menggesekkan kartu pass di tangannya. Seketika pintu lab membuka. Dr. Raymond berbalik dan mengangguk padaku yang masih berdiri ragu.

"Jangan takut. Aku tak akan mencelakakanmu," katanya lalu melangkah masuk. Dengan antusias aku mengikutinya. Padahal tadinya aku hanya ingin menuju ruanganku dan menenangkan diri dari rasa marahku pada Jared. Tapi, ah, masa bodoh dengan Jared Witheart itu. LW M031 lebih menarik untukku. Sudah sejak lama aku penasaran, projek-projek besar apa lagi yang sedang disiapkan di dalamnya.

Jangan bayangkan LW M031 seperti Laboratorium workshop di kampus-kampus teknik atau apa. Tidak, ini jauh lebih hebat. Di dalamnya terdapat beberapa blok dan setiap blok berisi projek-projek berbeda. Projek-projek rahasia.

Zach membawaku ke salah satu blok. Di sana kami melewati satu pintu berpengaman ganda. Zach mendekati alat pemindai mata sebelum kembali menempelkan kartu passnya.

"Akses diterima."

Suara komputer bergema tepat sebelum pintu berdengung membuka. Aku memasuki ruangan luas di depanku dengan penuh rasa takjub. Berbagai perkakas modern dan mutakhir kulihat tersedia dalam ruangan ini. Aku menyentuhnya satu persatu. Norak sekali. Itu kusadari setelah melihat tatapan Zach yang setengah tersenyum melihat tingkahku.

"Hei, Zach! Ini hebat!"

"Memang. Tidak ada yang tidak hebat di LW M031, Laiyla. Ini laboratorium workshop tercanggih yang pernah ada di negeri ini. Tepatnya sih, tidak ada yang tidak hebat di SkyTech Enterprise." Zach berkata dengan bangga.

Ada. Jared Whitheart. Dia tidak hebat.

"Wah! Benarkah? Lalu ... mengapa kau membawaku ke sini?"

"Ah, ya. Itu hal penting yang akan kubicarakan denganmu."

Zach membuka sebuah kotak besi yang juga berpengaman ganda. Mengeluarkan sebuah berkas dari sana dan meletakannya di atas meja di hadapanku. Lagi-lagi aku terbelalak saat mengenali berkas itu.

"Zach! Ini cetak biru mesin teleportasi yang kubuat beberapa tahun lalu!" seruku heran.

Ya, jadi begini, aku merancang sebuah mesin teleportasi beberapa tahun lalu. Saat itu setiap pegawai baru di Skytech Enterprise diminta mengajukan sebuah rancangan inovatif. Aku sudah meneliti tentang kemungkinan-kemungkinan pembuatan mesin teleportasi sejak masih menjadi mahasiswa di kampusku dulu.

Rancanganku dinilai baik oleh Bos Besar. Aku ingat, ia memujiku sebagai seorang yang cerdas. Tetapi itu saja tidak cukup. Katanya masih jauh hingga kita dapat mewujudkan sebuah mesin teleportasi menjadi nyata.

Ah, aku benci dengan segala basa-basi itu. Dengan kata lain ia menganggap karyaku sebagai khayalan semata 'kan? Padahal aku sudah menjelaskannya dengan rinci, menyertakan perhitungan-perhitungan fisikanya dengan lengkap dan gamblang. Tidak mustahil untuk merealisasikannya.

Ia tetap tidak menerima saat kukemukakan semua pemaparan tentang projek itu. Alih-alih menerima, ia malah menyanggahnya dan mematahkan semua argumenku.

"Kita hidup dalam realita, Miss Soeninta. Bukan sains fiksi semata. Dan realita bagi kita adalah bisnis. Nah, cobalah rancang sesuatu yang inovatif dan layak jual."

Layak jual katanya? Apa dia tidak tahu jika mesin teleportasi bisa menjadi tambang emas jika kami merealisasikannya. Dan INI bukan hanya sekedar sains fiksi semata seperti yang ia katakan.

"Sedang mengenang masa lalu, Laiyl?" Suara Zach Raymond membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum pahit.

"Semacam itulah," kataku. Apakah lelaki paruh baya di depanku ini seorang pembaca pikiran atau apa? Sudah dua kali dia menebak isi kepalaku dengan jitu.

"Fokuslah. Karena aku membawa kabar gembira untukmu." Zach tersenyum lebar.

Lelaki bertubuh tinggi tegap itu menarik sebuah kursi di seberangku. Ia duduk, lalu mulai membentangkan berkas-berkas itu di hadapanku. Aku rasa dia akan memberi kabar yang benar-benar hebat. Jadi, aku berdiam diri, siap-siap menerima kabar besar itu.

"Dengar," katanya dengan suara yang sengaja dibuat sedramatis mungkin. Aku sudah mempelajari cetak biru yang kau buat. Bahkan sudah melakukan riset ulang sebenarnya. Kupikir ...." Zach sengaja memenggal kalimatnya. Menatapku sambil tersenyum.

"Apa? Cepat katakan!" kataku. Zach masih tersenyum. "Dr. Raymond, please, jangan membuatku penasaran."

"Hahaha! Tidak sabaran.” Ia terkekeh. Tawanya bahkan semakin keras saat melihatku memutar mata. “Sabar, Nak. Jadi,  kupikir tidak mustahil untuk merealisasikan projek ini,” katanya. Aku nyaris melompat kegiranagan. Untung saja aku bisa menahan diri. Namun, tak urung Zach terbahak menertawakanku.

“Zach? Benarkah? Jadi kau akan membuat sebuah mesin teleportasi?”

“Aku? Tentu tidak.”

“Ah! Tapi kau bilang—“

“Kau, Miss. Kau yang akan membuatnya. Aku sudah membicarakan ini dengan Salvatore.”

“Apa? Benarkah?”

"Kenapa? Kau tidak mau? Kalau begitu biar kuserahkan projek ini pada Jared Witheart. Dia ppemuda yang sangat berbakat.”

“Tidak.” Aku menggeram. “Aku mau, tentu saja, tapi, benarkah kau sudah membicarakannya dengan Bos Besar? Maksudku, Mr. Borsellino?”

“Tentu saja.”

“Apa katanya? Bukankah dulu dia menolak gagasan ini mentah-memntah?”

"Tentu saja Salvatore setuju. Aku sudah membujuknya. Aku tahu Laiyla, projek ini projek besar. Pasti akan sukses besar. Dan kamu, Laiyl, kamu yang akan membawakan kesuksesan itu untuk SkyTech Enterprise.”

(bersambung hingga part 2 saja)

BandungBarat, 16 Juni 2020


Selasa, 09 Juni 2020

RETAK

R  E  T  A  K
~cerpen Lilynd Madjid~




TRIIING!

Suara notifikasi pada telepon selularku berdenting nyaring. Kuhentikan tekanan kaki pada pedal dinamo. Kusisihkan potongan-potongan kain yang sedang kujahit. Sambil sedikit membungkukkan badan, kuraih ponsel yang tergeletak di atas nakas.

[Assalamualaikum, Ayah dan Bunda. Kami ingin mengingatkan lagi tentang kegiatan 'Ayahku Pahlawanku' di kelas, dua hari mendatang. Besar harapan kami, orang tua turut mendukung kegiatan ini. Kami tunggu kesediaan dan partisipasi Ayahanda semua.]

Itu pesan yang masuk dari wali kelas putra semata wayangku di grup TKnya. Kulihat beberapa orang tua membalas pesan itu dengan penuh antusias. Berbagai tanggapan, pernyataan setuju, hingga pertanyaan-pertanyaan ramai memenuhi ruang obrolan.

Beberapa hari yang lalu Bima, putraku, sempat juga bercerita. Katanya, untuk menyambut hari pahlawan yang akan datang, kelasnya akan mengadakan acara 'Ayahku Pahlawanku'. Pada hari itu, para ayah akan hadir di kelas. Bersama-sama dengan putra-putrinya, mereka akan menceritakan kesan dan pengalaman terbaik yang pernah mereka lalui bersama, juga melakukan berbagai aktivitas bersama.

Sesungguhnya ini berat bagiku. Seperti dihadapkan pada buah simalakama rasanya. Di satu sisi, aku tahu kerinduan Bima pada ayahnya. Namun, di sisi lain ... ah, entah bagaimana caranya agar aku bisa menghadapi Mahendra tanpa membuka lagi luka lama.

Aku dan Mahendra, ayah Bima, telah dua tahun berpisah, setelah kami mengarungi samudera rumah tangga sekian tahun lamanya. Keputusan itu kami ambil setelah beragam prahara melanda biduk kecil kami. Membuatnya terguncang. Oleng. Lalu tak terelakkan lagi, karam saat badai terakhir datang dengan dahsyatnya. Memporakporandakan semua mimpi juga harapan yang pernah kumiliki..

Aku kesakitan. Tak mampu lagi bertahan. Pengkhianatan seringkali menjadi pukulan telak yang melumpuhkan seorang perempuan. Termasuk aku. Hingga perceraianlah yang kupilih sebagai jalan keluar. Banyak orang--orang tua, keluargaku, keluarga Mahendra--yang memintaku untuk bertahan. Memaafkan. Memberi Mahendra satu kali lagi kesempatan.  Namun, sekuat apa pun kucoba, ternyata aku memang tak bisa. Luka-lukaku tak pernah bisa terpulihkan.

Mungkin bisa, tetapi jelas membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Lagi pula nyata sudah, kami berdua merasa tak lagi sejalan. Aku tepatnya, yang merasa tak lagi bisa kembali padanya. Tak bisa lagi mengiringi langkah-langkahnya. Juga banyak hal yang sifatnya prinsip, yang tak lagi bisa kami sepakati. Banyak pemikiran-pemikiran kami yang semakin hari, semakin bertolak belakang. Kami lebih sering bersilangan jalan, ketimbang bergandeng tangan beriringan.

***

"Mama!" Mata Bima mengerjap saat aku tersentak dari lamunanku.

"Ya, Bim?"

"Tadi, Bu Guru ingatkan lagi sebelum pulang. Soal acara besok."

Aku menelan ludah. Bagaimana cara menjelaskan pada bocah sekecil Bima?

"Bim," kataku mencoba menjelaskan. Namun, seperti ada yang menyumbat tenggorokanku. Tak mau hilang walau berkali-kali kucoba menelan ludah.

"Papa sudah diberi tahu 'kan? Papa bisa datang 'kan, Mama?" tanyanya. Ada sebongkah besar harap tersirat dalam sinar mata Bima. Ah, bocah kecilku yang malang. Anakku tersayang. Buah hati. Sebesar itukah kerinduanmu pada sosok ayah?

"Nanti Mama telepon Papa lagi ya, Nak," kataku serak. Kepala Bima mengangguk kuat. Senyumnya terkuak lebar. Ah, Sayang. Demi binar di matamu yang cemerlang itu, akan kutahan pedih luka yang kini, lagi-lagi menganga. Akan kutahankan. Demi kamu, Sayang.

***

Tuuut! Tuuut! Tuuut!

Aku masih menempelkan layar ponselku ke telinga. Sudah berkali-kali kutekan nomor Mahendra, tetapi tak pernah terhubung. Kadang nada tunggu akan berbunyi lama, tetapi lebih sering panggilanku ditolak. Berpuluh pesan pun sudah kukirimkan. Hanya menyisakan centang biru tanpa balasan.

Aku geram. Haruskah kudatangi rumah mereka? Memohon dan mengiba agar Mahendra mau datang untuk Bima? Haruskah?

Ada yang berdenyut ngilu di sini. Di dadaku ini. Aku tak sudi meminta-minta pada Mahendra. Apalagi harus mendatangi rumahnya. Berhadapan dengan Angela, sekretaris yang kini berubah status menjadi istrinya. Sungguh aku tak sudi!

Namun, aku tahu, akan lebih sakit hati jika melihat sendu itu bergelayut di wajah murung Bima. Jika mata lelaki kecilku itu tak lagi bercahaya. Ya Tuhan, sungguh aku tak rela. Biarlah, biar. Akan kulakukan apa pun untuk Bima. Apa pun. Walau harus merendahkan diri di hadapan Mahendra dan Angela.

***

"Bima! Bima!"

Kuketuk pintu kamar Bima. Tak ada sahutan. Kuputar gagang pintu. Daun pintu terdorong ke dalam. Kulongokkan kepala mencari sosok putraku. Dia ada di sana. Meringkuk di atas tempat tidurnya seperti bayi. Bahunya bergetar.

Aku bergegas mendekat. Berjongkok di tepi ranjang kecilnya. Samar kudengar suara isak yang teredam.

"Bima? Bima kenapa?"

Isak tertahan Bima menjelma sedu sedan. Hatiku bergetar. Seperti rontok berjatuhan. Kusentuh bahu Bima perlahan.

"Hei? Kenapa, Sayang? Soal Papa?" bisikku di telinganya. Bima menyingkirkan bantal dari wajahnya. Ia duduk lalu memelukku.

"Mama ...." Tangis Bima pecah. Segera kupeluk ia erat-erat.

"Bima jangan nangis. Tenang saja. Papa pasti datang ke sekolah besok," bujukku. Tangis Bima semakin menjadi. "Eh, Bima nggak percaya? Kalau begitu, yuk siap-siap. Kita ke rumah Papa sekarang."

"Bima nggak mau!" Bima melepaskan pelukannya. Ia menatapku. Ada amarah di sana.

"Nggak mau?"

"Bima nggak mau ke rumah Papa!"

"Loh? Kenapa?" tanyaku. Sungguh aku tak mengerti.

"Ta-tadi.... " Kalimat Bima terputus sedu sedannya.

"Ya?"

"Ta-tadi, Bima telepon Papa. Tan-tante Angela yang angkat. Katanya, katanya aku nggak boleh lagi telepon-telepon Papa. Ka-katanya Papa sudah gak sayang lagi sama aku. Papa sudah punya pengganti aku."

"Bi-Bima?"

"Aku benci Tante Angela. Aku benci Papa!"

"Bim? Jangan begitu... " kataku mencoba menenangkan Bima. Walau dalam hati amarahku berkobar.

"Pokoknya aku benci Papa. Aku benci!"

"Bim, jangan dengarkan omongan Tante Angela. Papa sayang sama Bima, kok."

"Kalau sayang kenapa Papa nggak pernah pulang? Memang Papa nggak kangen Bima? Nggak ingin main sama Bima seperti Bayu dan papanya? Seperti Aldo dan papanya? Seperti Dean dan papanya?"

Aku tergugu mendengar ucapan Bima. Anak sekecil itu. Ah, maafkan Mama, Bima. Maafkan Mama. Kupeluk Bima erat. Ia menumpahkan tangis dan kekesalannya dalam dekapanku.

"Mama ...."

"Ya, Sayang."

"Besok Mama saja yang datang ke sekolah, ya?" kata Bima di sela isaknya yang mulai mereda.

"Mama?"

"Iya. Besok, aku bilang sama Bu Guru. Pahlawanku adalah Mama, yang setiap hari peluk aku, menemani aku, menjaga aku ...."

"Bim?"

"Mama ...."

"Ya, Nak?"

"Jangan pernah tinggalin aku."

*Tamat*

Bandung Barat, 9 Juni 2020

Senin, 08 Juni 2020

SHURA DAN DIMA

SHURA dan DIMA
~cerpen Lilynd Madjid~




"Shura!"

Suara seruan di kejauhan menyentakkanku dari keasyikan mengintai ikan di tepian anak Sungai Kolyma yang nyaris membeku. Aku melompati batu-batu besar yang menyembul dari permukaan sungai. Mendaki batu terbesar dengan hati-hati.

Dari puncak batu aku berteriak membalas seruan Oтец yang tadi ditujukan kepadaku.

"Sebentar, Oтец! Aku akan segera kembali!" teriakku sekuat tenaga.

Kemudian dengan kehati-hatian yang sama seperti saat memanjatnya, kuturuni batu besar itu. Kurapikan peralatan berburuku, harpun kecil dan sebuah beliung pemberian kakek, juga ikan-ikan hasil tangkapan yang sudah kuikat. Aku bergegas menuju gua kami.

Di mulut gua kulihat Oтец dan beberapa laki-laki--ada sekitar 25 hingga 30 orang--tengah menyiapkan perlengkapan seperti obor, batu api, tombak, beliung, dan harpun besar. Oтецmemberi isyarat agar aku bergegas.

"Sebentar Oтец, aku akan memberikan dulu ikan-ikan ini pada Мать."

"Segera! Kau tahu hari ini kita mulai berburu." Oтец berkata galak. Ya, ayahku itu memang orang yang sangat tegas. Tidak heran jika kelompok kami mengangkatnya menjadi pemimpin.

Aku mengangguk, lalu setengah berlari memasuki mulut gua. Udara hangat menyambutku saat berada di dalam gua. Gua kami berada di kaki sebuah gunung berapi. Jika ditelusuri, akan ada lorong yang mengarah ke perut bumi. Dari lorong-lorong semacam itulah, mengalir uap-uap hangat ke lorong-lorong gua lainnya. Membuat kami terhindar dari udara dingin Siberia yang membekukan. Perlu beberapa lama menyusuri lorong-lorong gua yang berliku sebelum tiba di lorong tempat keluargaku tinggal.

"Shura! Tadi ayahmu mencari." Мать, ibuku menyambut saat aku tiba.

"Ya, Мать. Ia menungguku berburu." Kuserahkan ikan-ikan itu ke tangannya lalu bersiap-siap pergi.

"Shura!" Мать menahan tanganku. "Berhati-hatilah. Perhatikan saja dari jauh bagaimana orang-orang dewasa menangkap mammoth itu." Aku mengangguk kemudian bergegas keluar.

Di luar gua, persiapan sudah selesai dilakukan. Rombongan kami mulai berangkat. Aku berjalan di samping Oтец. Ada pemuda-pemuda lain seusiaku yang juga ikut dalam perburuan kali ini. Seperti aku, mereka juga sedang disiapkan untuk bisa berburu. Perburuan kali adalah cara kami belajar, dengan melihat secara langsung bagaimana orang dewasa berburu.

Kami tiba di sebuah padang luas di tepi sebuah danau pada siang hari. Udaranya cukup hangat. Oтец bilang itu karena adanya semburan uap dan air panas secara periodik di suatu tempat di sekitar sini. Kami memilih satu area yang cukup tersembunyi sebagai tempat berkemah. Di kejauhan, di tepi danau yang berseberangan dengan tepian tempat kami berada, samar kulihat kawanan mammoth bergerombol.

Setelah menyiapkan perlengkapan, rombongan kami mulai bekerja. Membuat lubang perangkap beberapa ratus meter dari tepi danau. Kamu semua, termasuk aku dan kawan-kawanku menggali lubang besar dengan beliung. Menjelang malam, lubang galian siap.

Setelah itu orang dewasa mengendap-endap dalam gelap menuju kawanan mammoth di seberang danau. Mereka memilih satu mammoth sebagai sasaran dan mulai bergerak mendekat. Obor-obor dinyalakan dengan batu api. Para mammoth mulai menyadari kehadiran kami, mereka kalang kabut menghindar.

Oтец dan teman-temannya menggiring mammoth sasaran menggunakan obor. Mengarahkan binatang besar itu ke lubang perangkap yang sudah kami siapkan. Tidak mudah. Binatang itu selalu mencoba melarikan diri dan mengamuk brutal. Akan tetapi Oтец dan teman-temannya adalah para pemburu andal.  Beberapa waktu kemudian mammoth itu sudah dapat dilumpuhkan di dalam lubang perangkap. Aku bergidig ngeri saat satu harpun besar dihantamkan menembus tengkorak kepalanya.

Setelah si Mammoth roboh, kami mulai menguliti mahluk raksasa malang itu. Perutku mendadak mual mencium amis darah yang menguar. Diam-diam aku menyingkir, berjalan menjauhi lubang. Aku butuh udara segar.

Satu suara dengusan mengagetkanku saat sedang berdiri menatap tepian danau di kejauhan. Aku mengendap-endap mencari sumber suara. Di balik sebatang pohon tidak jauh dari lubang perangkap, sebuah bayangan gelap terlihat. Saat aku mendekat, bayangan itu mendengus.

Aku segera menyadari mahluk apa itu. Masih mengendap-endap, kudekati Oтец. Aku memberitahukan keberadaan tamu kami. Oтец dan beberapa orang perlahan mengepung, lalu menyergap bayangan itu dengan tali serat kayu yang kami punya. Mahluk itu meronta. Mendengus-dengus dan sesekali mengeluarkan suara menguik yang menurutku sangat menyedihkan. Seseorang kulihat mengacungkan harpun ke arah kepalanya.

"Jangan!" Tanpa sadar aku berteriak. Semua menoleh ke arahku. "Ja-jangan bunuh dia, kumohon. Oтец, tolong biarkan bayi mammoth itu hidup," kataku mengiba.

***

Aku memberi nama bayi mammoth itu Dima.

Jadi, malam itu Oтец mengabulkan permohonanku. Kami membawa pulang Dima dan berton-ton daging mammoth yang menurutku adalah induk Dima. Agak menyedihkan memang.

Awalnya Oтец melarangku memelihara Dima. Namun, aku berkeras. Kasihan dia, ibunya sudah mati, sementara kawanannya telah meninggalkan tepian danau entah kemana. Jika ditinggalkan, bisa saja dia menjadi mangsa empuk binatang buas.

Maka di sinilah Dima sekarang. Tinggal di dalam satu lorong gua yang tak dihuni. Kupelihara dan kurawat dia dengan kasih sayang. Ternyata mammoth kecil ini binatang yang cerdas. Dia bisa mengenali aku, yang setiap hari datang memberinya makan. Kini dia tidak takut lagi padaku. Ia juga membiarkan, saat aku membelai bulu lebatnya, atau mengusap puncak kepalanya.

Kadang-kadang aku mengajaknya berjalan-jalan ke luar dari dalam gua. Jika sudah begitu ia akan berjalan di sampingku atau mengikutiku di belakang. Akhir-akhir ini Dima bahkan mengikutiku saat aku pergi menombak ikan.

***

Aku sedang menuju anak Sungai Kolyma pagi ini. Sebenarnya, Oтец dan Мать melarangku untuk menombak ikan. Cuaca agak tidak bagus. Kemungkinan badai salju akan datang. Namun, persediaan ikan kami sudah habis. Adik bungsuku, Makari, tak bisa makan jika tak ada ikan. Maka aku memaksa Oтец untuk mengizinkanku menangkap satu dua ekor ikan. Oтец akhirnya mengijinkan, dengan syarat, aku pulang sebelum tengah hari.

Ternyata cuaca memburuk begitu cepat. Badai datang menggulung saat aku masih mengemasi ikan yang kuperoleh. Segera kucari perlindungan di balik bebatuan. Namun, badai begitu dahsyat. Salju berhamburan menyerbu tubuhku.

Badai belum juga mereda saat aku mulai menggigil hebat. Mantel kulit mammoth yang kukenakan tak mampu menahan dingin yang menggigit. Gigiku gemeletuk. Tanganku tremor dan sudah mati rasa. Sedikit penyesalan menyusup dalam hati. Mengapa tak kuhiraukan larangan Oтец dan Мать tadi?

Kurasa kesadaranku mulai menghilang, saat kudengar suara dengusan. Lapisan salju yang kupijak terasa bergetar. Lalu seonggok bulu tebal menyentuhku. Bukan, bukan menyentuh, tetapi melilit dan menarikku. Menyurukkanku pada gumpalan bulu yang lebih tebal. Hangat mengalir melingkupiku. Sempat kubuka mata sejenak sebelum kembali menutupnya. Aku mengenali sosok besar itu.

"Dima ... kamu datang?"

*Tamat*

Catatan:
отец = ayah
Мать = ibu

Jumat, 05 Juni 2020

CERITA PENGANTAR TIDUR AYLA

#NAD_30HariMenulis2020
#Hari_ke_5
#NomorAbsen_222
Jumlah kata : 953 kata (hanya isi)

CERITA PENGANTAR TIDUR AYLA




"Pada zaman dahulu kala--"

"Mama, Ayla bosan!" Tiba-tiba saja Ayla menyela kalimatku.

"Eh?" Aku mengernyit heran.

"Pasti mama mau cerita kancil lagi, 'kan?"

"Bagaimana kamu tahu?" Aku mengubah posisiku menghadap ke arah Ayla.

"Itu tadi." Bibir mungi Ayla mengerucut.

"Itu apa?"

"Mama mengawali ceritanya dengan 'pada jaman dahulu kala,' itu pasti cerita kancil. Seperti cerita Mama kemarin-kemarin," protes gadis kecil itu. Aku terbahak.

"Jadi, kamu tidak mau kalau mama cerita kancil?" Kucubit ujung hidungnya dengan gemas.

"Tidak. Ayla bosan!" Ayla mengelak dari cubitanku yang berikutnya.

"Lalu kamu mau Mama cerita apa?"

"Mmm ... sebentar, Ayla pikir dulu." Mata Ayla mengerjap. Ia tampak berpikir keras.

"Apa?" Aku tak sabar.

"Mmm ... Ayla nggak tahu, Mama. Pokoknya Ayla mau Mama cerita yang seru. Jangan kancil melulu.

Lagi-lagi aku tergelak sambil mengacak rambut ikalnya. Bocah enam tahun itu ikut tertawa.

"Oke. Dengar ya, pada suatu hari--"

"Aaah, Mama jangan cerita itu." Lagi-lagi Ayla menyela kalimatku.

"Kenapa? Ini bukan cerita kancil," kataku.

"Iya, tahu, itu cerita kelinci lomba lari dengan kura-kura. Cerita itu juga sudah bosan Mama. Ayo cerita yang lain lagi." Ayla mulai merengek.

Aku menarik napas dalam-dalam sebelum mulai lagi mencoba menceritakan sebuah dongeng pada Ayla.

"Pada suatu hari di sebuah hutan ... "

"Itu cerita keluarga beruang! Ayla nggak mau!" Rengekan Ayla semakin menjadi. Fyuh, baiklah, aku menyerah.

"Mas! Mas Arshaka! Sini! Ini Ayla minta didongengi!"

Itu jurus terakhirku jika kewalahan menghadapi permintaan Ayla. Panggil saja papanya. Hahaha.

Mas Arsaka melongok dari ambang pintu. Ayla melonjak-lonjak senang menyambut kedatangannya. Aku segera saja menyingkir. Jika sudah begini, biarkan saja mereka menghabiskan waktu berdua. Aku? Ooo, aku bisa memanfaatkan waktu yang ada untuk merawat wajah atau apa di kamar sebelah. Me time. Haha.

***     ***     ***

Aku baru saja akan membersihkan sisa-sisa masker di wajah saat Mas Arshaka masuk.

"Ayla sudah tidur?" tanyaku. Mas Arshaka mengangguk. "Kok lama?" Aku melirik jam yang menempel di dinding kamar. "Memang tadi cerita apa?"

"Kisah-kisah sahabat nabi."

"Waaah, untung ada kamu, Mas. Ayla sekarang nggak mau lagi diceritai dongeng-dongeng anak."

"Iya. Dia sudah mulai kritis. Tadi waktu aku sedang cerita pun banyak disela oleh Ayla. Bertanya itu ini, ini itu. Cerewetnya persis kamu." Aku tergelak mendengar ucapan Mas Arshaka.

"Makanya aku kewalahan akhir-akhir ini menghadapi Ayla menjelang waktu tidurnya," keluhku.

"Kenapa?" Mas Arshaka membaringkan tubuhnya di atas kasur. "Tinggal baca saja banyak buku--yang sesuai dengan usia Ayla tentu--lalu nanti kamu ceritakan ulang."

"Itu yang agak sulit, Mas. Aku nggak punya waktu untuk bisa membaca banyak buku."

"Nggak punya waktu atau nggak mau menyisihkan waktu?" Ejek Mas Arshaka sambil tersenyum lebar.  Kulempar bantal ke arahnya. Dia mengelak sambil tertawa-tawa.

***     ***     ***

"Yakin, nih, Ayla mau nginap di rumah Bimby seminggu?" Aku kembali bertanya pada Ayla saat mengantarnya ke teras rumah. Ayla mengangguk kuat.

Di halaman, adikku Kenanga dan anaknya Bimby menyambut Ayla.

"Udah, sih, Kak. Kayak mau melepas Ayla kemana aja. Dia kan cuma ke rumahku. Lagi pula hanya seminggu." katanya.

"Iya, iya, tapi nanti kalau dia rewel atau apa, telpon aku."

"Aman. Tapi kayaknya nggak deh. Lihat itu, malah sepertinya Ayla sudah nggak sabar."

"Yah, pokoknya, aku titip Ayla. Kalau ada apa-apa, kamu telepon aku."

"Siap! Aku pergi dulu, Kak. Eh, Ayla, salam dulu sama Mama ya." Kenanga mengingatkan Alya.

"Mama, Alya pergi ke rumah Bimby dulu ya. Daah, Mama!"

"Daah, Ayla. Baik-baik ya, di rumah Bimby. Nurut sama Tante!" seruku.

Aku masih melambaikan tangan saat mobil yang dikemudikan Kenanga menghilang di tikungan jalan. Setelahnya aku berbalik. Baru saja Ayla pergi, tapi rasa rindu sudah menyergap. Apalagi saat melihat rumah yang lengang, dengan mainan-mainan Ayla yang bertebaran di mana-mana.

Fyuh!

Ini pertama kali aku melepas Ayla jauh dariku. Untung ada Mas Arshaka yang selalu menenangkan.

"Sudahlah, biar. Sesekali Ayla jauh dari kita tidak apa-apa," katanya, "lagi pula, dia hanya di tempat adikmu. Bukan ke mana-mana. Lihat sisi positifnya saja."

"Apa?"

"Kamu  jadi tidak perlu bingung-bingung lagi 'kan, mau bercerita apa pada Ayla sebagai pengantar tidurnya. Satu minggu bebas tugas loh." Mas Arshaka terbahak. Aku diam, tetapi dalam hati bersorak senang. Betul juga yang Mas Arshaka katakan.

Ternyata memang benar, aku tidak perlu merisaukan Ayla yang menginap di rumah adikku. Setiap hari Kenanga menelpon, melaporkan bahwa Ayla baik-baik saja. Saat kami melakukan video call, kulihat Ayla juga sangat ceria. Jadi ya, kuakui, kekhawatiranku memang berlebihan.

Satu minggu berlalu tanpa terasa. Mas Arshaka menjemput kembali Ayla. Bocah itu berlari sambil berteriak memanggilku saat ia tiba di rumah. Kami berpelukan erat seperti sudah seabad tak berjumpa.

Selama satu minggu ini, aku sudah membaca banyak kisah. Persediaan jika nanti Ayla memintaku bercerita menjelang dia tidur.

Waktunya tiba. Ayla sudah siap di pembaringannya. Selimut bergambar little pony sudah menyelubungi tubuh mungilnya.

"Mama, cerita dulu!"

Aha! Ini dia. Aku tersenyum lebar penuh percaya diri.

"Oke!" kataku. "Mama punya kisah yang bagus untuk Ayla."

"Oh ya?"

"Iya dong!"

"Mana?"

"Dengarkan ya. Alkisah, di suatu negeri di timur tengah sana--"

"Mama mau cerita tentang Aladin dan lampu wasiat?"

"Hah? Kok Ayla tahu?"

"Papa sudah pernah cerita itu," celetuk Ayla.

"Kalau kisah sahabat nabi?" tanyaku.

"Sahabat yang mana? Bilal sudah, Abbas ibnu firnas, Zaid bin Haritsah, Ham--"

"Semua sudah Ayla dengar?"

"Iya. Papa yang cerita. Mama cerita yang lain aja. Atau cerita-cerita kayak yang diceritakan Tante kemarin. Iya, Ma yang itu aja."

"Cerita apa?"

"Cerita seru, Ma. Ayla suka."

"Memangnya kemarin Tante Kenanga cerita apa?" Aku semakin penasaran.

"Ada banyak, Ma. Perebut Tanah Wakaf Mati Tersengat Listrik, Jenazahnya Hanyut; Penyiksa Anak Yatim Mati dengan Perut Membengkak Disengat Ribuan Tawon, Kerandanya Terkena Badai--"

"Stop, stop Ayla!" kataku. Ayla berhenti bicara. Aku memberi isyarat agar dia tetap di tempat. Kusambar ponsel lalu bergegas ke luar sambil menekan nomor Kenanga.

"Assalamualaikum! Halo, Ka--"

"Kenapa anakku kamu cekokin cerita-cerita azab ala sinetron ikan terbang?"

Tuuut, tuut, tuuut

Apa dimatikan?

"Awas kamu, Kenangaaaa!"

*Tumit*

Jumat, 20 Desember 2019

BINTANG KECIL

BINTANG KECIL
Oleh Lily N. D. Madjid


Malam ini cerah sekali, walau bulan hanya sebentuk sabit. Langit bersih. Bintang-bintang bertaburan di langit. Aku suka suasana seperti ini. Aku suka memandang taburan bintang di langit sana, seperti taburan permata di tiara milik mama. Aku suka membayangkan diriku duduk di lengkungan bulan sabit itu.

Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada

Kusenandungkan lagu kesukaanku.  Dulu, mama yang mengajariku lagu itu. Kugumamkan berulang-ulang. Kuayunkan dua kaki seiring larik-larik lagu yang keluar dari bibirku. Ayunan yang kududuki melambung semakin tinggi dan ssemakin tinggi. Biasanya, jika kunyanyikan lagu itu, mama akan ikut bernyanyi bersamaku. Ia bernyanyi sambil memelukku dan kami memandang ke arah langit berdua.

Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada

Tetapi kini tak ada  lagi mama. Dia telah tiada. Kutemukan ia dengan belati menancap di dada, suatu hari, sepulangku dari sekolah. Darah membasahi seluruh tubuhnya. Aku menjerit-jerit mamanggilnya. Tetapi dia diam saja. Hanya matanya saja yang terbuka, menatap ke langit sana. Mungkinkah mama menatap bintang kesayangan kami? Tetapi di siang hari tak ada bintang yang bertaburan, bukan?

Lalu nenek dan kakek membawaku ke sini. Ke desa tempat mereka tinggal. Kata mereka aku tak mungkin tinggal sendiri setelah mama pergi, dan papa mendekam di balik jeruji. Aku pun berpikir begitu. Terlalu menyedihkan kenangan yang tertinggal di rumah itu. Sampai sekarang aku bahkan tak tahu, apa yang membuat papa tega menyarangkan belatinya di dada mama. Bukankah selama ini mereka saling mencinta?

Di desa ini aku lebih tenang. Tak ada lagi mimpi buruk tentang kematian mama dalam tidurku. Apalagi di desa kecil ini, langitnya selalu lebih indah di malam hari. Seperti malam ini. Kau lihat? Bintang bertaburan di atas sana. Gemerlap tak terkira. Apakah mama ada di sana? Duduk di antara lengkung bulan sabit, menikmati kilauannya?

Kupejamkan mata. Membayangkan mama dengan senyumnya. Dengan suara merdunya. Kuhapus bayanganku tentang mama di saat terakhir aku melihatnya. Ya. Akan kuhapus saja. Hanya yang terindah saja tentang mama yang boleh tersisa dalam kenangan di kepala. Juga dalam dada.

Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada

Udara terasa dingin menggigit. Kuusap tengkukku yang meremang. Sejenak aku terdiam. Ada yang ikut bersenandung di sana. Entah di mana. Lirih suaranya mengalun lembut. Kutajakan pendengaran, juga mencari dari mana suara itu berasal.

Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada

Ah, di sana. Di bawah rerimbun pohon angsana, kulihat sebuah siluet berdiri tegak menghadap ke arahku. Mataku terpicing. Bayangan itu seperti sosok tak asing. Dan senandungnya yang mengiringi gumam laguku, bukankah suara yang begitu kukenal?

Bukankah itu … Mama?

P E N U N G G U

PENUNGGU
Oleh Lily N. D. Madjid


Hari ini adalah hari pertamaku tinggal di rumah baru, di kota yang juga baru. Aku baru saja dimutasi ke kota  ini. Saat pindah, kuboyong serta keluarga kecilku. Amarylis, istriku, tidak mengeluh. Dia dengan lapang dada menerima kepindahan kami ke kota kecil ini. Begitu juga Sakti, putra semata wayang kami yang masih berusia balita. Dia malah terlihat antusias sekali.

“Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku….”

Aku menggeliat. Suara nyanyian kecil Sakti menyusup ke gendang telingaku. Ah, sudah bangun rupanya bocah itu. Kucoba memicingkan mataku yang masih terasa berat. Bocah kecil itu masih meringkuk di sudut kasur kami. Tetapi matanya sudah terbuka lebar. Mulut kecilnya bersenandung tanpa henti.

“Papa,” sapanya setelah menyadari aku memandangnya. “Papa, aku mau mandi.” Sakti bangkit dan mendekat. Aku kembali menggeliat.

“Sama mama, ya?”

“Mamanya mana?”

“Coba Sakti cari mama di dapur,” kataku sambil kembali memejamkan mata. Sungguh aku masih mengantuk. Kegiatan pindahan kemarin sangat menguras tenaga. Sakti turun dari tempat tidur, lalu menghilang di balik pintu kamar.

“Mamaaa … Mama, aku mau mandi!” teriak bocah kecil itu. Tidak lama kudengar suara siraman air di kamar mandi, ditingkahi senandung Sakti bernyanyi.

Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku….”

*****

Aku baru saja akan kembali terlelap saat kusadari satu sosok berdiri di ambang pintu kamar. Amarylis. Ia memandangiku sambil tersenyum.

“Sakti mandi sendiri?” Tanyaku. Ia mengangguk lalu melangkah mendekat. Anggun sekali caranya berjalan. Di sisi pembaringan dia berdiri memandangiku lekat. Masih dengan senyum yang mengembang.

“Kenapa?” tanyaku. Tidak biasanya dia bersikap malu-malu seperti itu. Amaryllis hanya menggeleng. “Sini, temani aku di sini.” Istriku mendekat. Memelukku erat sambil mengecup dua pipiku. Matanya yang berbinar menatapku lekat. Aku balas mendekap dan menciumi wajahnya. Tubuhnya.

“Mmm … Kamu pakai parfum baru, ya?” gumamku. Rasanya sebelumnya Amarylis tak pernah memakai parfum beraroma lembut melati seperti ini.” Dia tak menjawab. Hanya tersenyum. Semakin gemas aku dibuatnya. Tapi aktivitasku terganggu oleh suara berkelontang keras dari arah kamar mandi. Aku terlonjak kaget.

“Sakti …” Aku dan istriku saling pandang.

Bergegas aku berlari ke arah kamar mandi. Jangan-jangan anak itu terpeleset. Kamar mandinya memang belum sempat kubersihkan sejak kami datang kemarin. Lantainya masih licin berlumut.

“Mas! Mas Arshaka! Tolong, ini Sakti jatuh…” Aku tertegun. Itu suara teriakan Amarylis. Tapi kenapa suaranya berasal dari dapur?

Diambang pintu kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur, kulihat amarylis sedang memangku Sakti yang menggigil pucat.

“Amy,” desisku. “Bukannya kamu tadi … kita …” aku tergagap.

“Apa sih, Mas? Ini bantu anaknya!”

Walau jantungku berdebar keras, kuabaikan dulu untuk segera menolong Sakti.

“Papa, papa … “

“Sakti kenapa?”

“Sakti takut, Papa …” bisik sakti sambil melirik ke arah kamar mandi. Dia masih gemetar.

“Takut apa?” tanyaku dan istriku bersamaan.

“Nenek itu marah. Dia nggak suka dengar Sakti nyanyi lagu Bangun Tidur …”

“Nenek? Nenek Siapa?” aku dan istriku saling pandang.

“Nenek muka seram yang ada di kamar mandi. Dia galak, nggak seperti tante baik hati di kamar kita.” Katanya.

Kurasa kepalaku pening tiba-tiba.

Kamis, 19 Desember 2019

GIRI DAN JATI

Giri dan Jati
Cerpen Lily N. D. Madjid



Giri melangkah gontai, menyusuri lorong-lorong  pasar yang sepi. Toko-toko sudah tutup. Ternyata tidak mudah menjadi pemulung. Setiap pemulung sudah memiliki daerah operasi sendiri. Giri yang baru kali ini turun ke pasar berkali-kali ditegur. Mulai dari teguran pelan hingga bentakan kasar.

Begitupun dengan tempat bermalam. Tidak semua emper toko bisa dijadikan tempat melepas lelah. Empat kali Giri diusir saat merebahkan diri melepaskan penatnya. Ternyata hidup di jalan tidak semudah yang Giri bayangkan.

*****

“Kamu anak baru?”

Giri terlonjak. Dia baru saja merebahkan diri di sudut  terdalam pasar. Tempatnya sepi. Giri tidak melihat sesiapa di sana tadi.

“Ya.” Gumam Giri setelah reda dari keterkejutannya. Seorang anak duduk di bagian tergelap.

“Dari mana?”

“Aku lari dari rumah.”

“Lari?”

“Ayah tiriku pengangguran kejam. Aku tak tahan disiksa.”

“Hmmm …”

Giri memicingkan matanya. Tetapi malam mengaburkan pandangan Giri. Hanya siluet anak itu yang terlihat.

“Kamu sudah lama di sini?”

Tak ada jawaban. Samar-samar Giri melihat anggukannya.

“Namamu siapa?”

“Jati.”

“Aku Giri.” Giri mengenalkan diri. “Mudah-mudahan kamu tidak mengusirku. Aku tak kuat lagi jika harus mencari tempat lain untuk bermalam.”

“Kamu mau tidur di sini?”

“Kamu keberatan?”

“Tidak. Aku senang. Tapi tempat ini sepi sekali. Siang hari pun orang tak kemari.”

“Kenapa?”

“Kamu tidak tahu?”

“Apa?”

“Ah, ya. Kamu pendatang baru.”

“Memangnya kenapa?” Giri penasaran. Jati tak langsung menjawab. “Jati? Ayo ceritakan.”

“Nanti kamu takut mendengarnya.”

“Aku pemberani. Makanya kuputuskan meninggalkan rumah.”

“Tidak. Kamu takut pada ayah tirimu, makanya kamu lari dari rumah.” Jati terkekeh. Giri mendengus.

“Ceritakan saja. Kenapa orang-orang tak pernah lagi datang kemari.”

“Orang-orang tak berani datang kemari. Sejak … ditemukan mayat korban mutilasi di lorong ini. Hanya potongan-potongan tubuhnya saja. Kepalanya tak pernah ditemukan.”

“Ka … kapan kejadiannya?” Suara Giri bergetar.

“Sudah lama. Tapi orang-orang tak mau lagi menginjak tempat ini. Toko-tokonya saja sudah lama tutup.” Kata Jati pelan. “Hei, kamu ketakutan, ‘kan?” katanya lagi. Lalu dia terkekeh pelan.

“Tidak. Aku Cuma lelah. Aku mau tidur.” Giri berkelit. Dia rebah di lantai yang dingin. Meringkuk seperti bayi agar tak kedinginan. “Kamu belum mengantuk?” tanyanya. Jati tidak menjawab. Giri malah mendengarnya bersenandung pelan.

Topi saya bundar,
Bundar topi saya
Kalau tidak bundar
Bukan topi saya

“Kenapa kamu tidak bergeser ke sini? Di situ gelap sekali.” Giri menguap. Dilihatnya Jati mendekat. Kini Giri bisa melihat lebih jelas lagi sosok Jati. Anak itu tinggi sekali. Rambutnya ikal. Kulitnya putih pucat. Atau karena penerangan yang tak memadai, maka ia terlihat pucat? Di kepalanya terlihat bertengger sebuah topi fedora berwarna putih.

“Topimu  bagus,” gumam Giri.

“Oya? aku malah tidak menyukainya. Kamu boleh ambil kalau kamu mau.” Jati memutar-mutar topi di kepalanya. “Topi ini milik lelaki itu. Aku ambil.”

“Lelaki itu?”

“Iya. Lelaki penculik yang membunuhku. Aku sempat menariknya sebelum dia menggorok leherku.” Kata Jati pelan. Giri ternganga mendengarnya. Apalagi saat dilihatnya Jati melepas topinya dan mengulurkannya pada Giri. “Ini untukmu saja.” Kepala Jati masih menempel pada topi yang kini menggeletak di lantai dekat Giri berbaring. Mulut di kepala itu bersenandung pelan.

Topi saya bundar,
Bundar topi saya
Kalau tidak bundar
Bukan topi saya

Minggu, 08 Desember 2019

J A N I

J A N I
Cerpen Lily N. D. Madjid
Jumlah kata: 1521


 “Jani mau pergi aja!”

 BRAKKK!

Jani meninggalkan rumahnya setelah dia membanting pintu. Wajahnya ditekuk. Ya, Jani sedang sangat kesal. Ia kesal pada mama.

“Mama menyebalkan! Pilih kasih!” Gerutunya. Dihentakkan kakinya ke lantai sambil terus berjalan. Dia biarkan saja kaki itu membawanya tanpa tahu akan ke mana.

Akhirnya Jani tiba di tanah lapang. Sepi. Biasanya di sana ramai dengan anak-anak yang bermain. Tapi siang ini sepertinya mereka lebih memilih berada di rumah masing-masing.  Wajar saja, cuaca sangat panas. Matahari pun bersinar sangat terik.

Tapi Jani sedang tidak ingin di rumah. Di sana Mama selalu menyuruhnya ini dan itu. Menyuruh mengambilkan  popok Juna, mengambilkan botol susu Juna, menyuruhnya agar jangan mengganggu Juna, jangan berisik, Juna sedang tidur, jangan mengganggu mama, dan lain-lain. Pokoknya di rumah menyebalkan.

Sekarang, Jani duduk sambil menggoyang-goyangkan kakinya di bangku taman di tepi tanah lapang. Sebenarnya Jani bingung akan ke mana setelah ini. Teman-teman tak satu pun yang terlihat. Kembali ke rumah? Ih! Jani kan tadi sudah bilang mau pergi saja. Mau minggat, biar saja Mama tahu rasa. Coba, apa Mama bakal sedih kalau kehilangan Jani?

“Jani!”

Satu suara yang sangat Jani kenal memanggil. Jani menoleh. Di tepi jalan, seseorang duduk di atas jok motor sambil melambai. Jani tersenyum lebar. Kekesalannya pada mama sejenak terlupakan.

“Paman!” Serunya sambil berlari ke arah orang itu. Rupanya itu Paman Aril, adik bungsu mama. Paman Aril tersenyum, membantangkan tangannya lebar-lebar menyambut Jani.

“Wah, kesayangan paman kok di sini sendirian? Sedang apa? Pulang yuk.”

“Gak mau! Jani lagi sebal sama mama. Jani gak mau pulang!”

“Lho, kok bisa sebal sama mama?”

Jani pun menceritakan penyebab kekesalannya. Paman Aril tertawa kecil. Ia mengacak-acak rambut Jani dengan gemas.

“Kalau begitu, kita jalan-jalan, yuk,” ajak Paman. Ia membantu Jani naik ke motor. “Pegangan kuat-kuat. Peluk paman.”

Motor yang dikemudikan Paman Aril melaju. Mula-mula menyusuri jalan di tepi tanah lapang, kemudian ke luar gerbang perumahan, menyusuri jalan raya. Jani senang sekali, sudah lama Paman tidak mengajaknya jalan-jalan seperti ini.

Paman Aril adalah paman kesayangan Jani. Dia tinggal dengan nenek, di desa sebelah. Kata Mama, saat ini Paman Aril sedang kuliah. Sebentar lagi akan jadi sarjana. Jani juga ingin jadi sarjana seperti Paman Aril. Pasti keren sekali, 'kan? Lihat saja, Paman Aril juga sangat keren. Dia tidak pernah marah-marah seperti Mama. Paman Aril malah sering membelikan Jani es krim, cokelat, dan kue-kue kesukaan Jani. Paman Aril juga sering mengajak Jani jalan-jalan. Seperti sekarang ini. Ah, pokoknya Jani sayang Paman Aril.

“Kita mau ke mana, Paman?” Seru Jani, mengatasi bisingnya deru kendaraan di jalan. Diketatkannya pelukan di pinggang Paman Aril.

“Putar-putar saja.”

Cukup lama mereka menyusuri jalan raya. Jani senang melihat-lihat segala keramaian di jalan itu. Di dekat sebuah jalan layang, Paman Aril melambatkan laju motornya. Ia menuju ke kolong jembatan layang itu. Ternyata di kolong jalan layang ada sebuah taman. Di dekatnya ada satu area penjual makanan. Paman Aril mengajak Jani ke sana.

Walau berlokasi di kolong jalan layang,  tetapi tempat ini nyaman sekali. Sejuk dan bersih. Banyak orang duduk-duduk di sana sambil menikmati makanan yang mereka beli. Paman Aril dan Jani juga memesan makanan. Semangkuk mie ayam ceker pedas untuk Paman Aril, dan bakso telur jumbo tanpa mie kesukaan Jani. Tidak lupa dua gelas air jeruk peras panas untuk mereka berdua.

Saat sedang asyik menghabiskan makanannya, seorang anak lelaki seusia Jani mendekat. Dia memanggul karung besar di punggungnya. Pedagang makanan menunjuk seonggok sampah plastik di sebuah tong besar. Anak lelaki itu mengumpulkan dan memasukkannya ke dalam karung yang ia bawa.

Jani terus makan sambil matanya memperhatikan aktivitas anak lelaki itu. Setelah makanannya habis, Jani mendekatinya. Paman Aril hanya mengawasi saja sambil menyesap air jeruknya pelan-pelan.

“Kamu sedang apa?” Tanya Jani. Bocah lelaki itu tersentak kaget. Menoleh lalu nyengir lebar pada Jani.

“Seperti yang kamu lihat. Mengumpulkan ini.” Anak itu menunjuk ke gundukan sampah plastik yang sebagian besar terdiri dari wadah-wadah bekas air kemasan.

“Memangnya itu untuk apa?”

“Aku jual. Nanti dapat uang.”

“Untuk apa uangnya?”

“Ya untuk apa saja. Bisa untuk beli beras, untuk beli makan. Kadang bapakku juga minta uang dari aku untuk beli rokok.”

“Hah?” Mata Jani terbelalak.

“Iya. Kenapa?”

“Kenapa bapakmu minta uang dari kamu? Kalau aku, papaku yang beri aku dan mama uang.”

“Bapakku 'kan nggak kerja.”

“Kan dia bisa minta sama ibumu. Kenapa minta sama kamu?”

“Emakku sudah meninggal. Kata bapak, emak meninggal gara-gara aku. Dia meninggal sesudah melahirkan aku.” Suara bocah itu terdengar serak. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya yang tiba-tiba saja basah.

Jani termangu. Hatinya jadi ikut sedih melihat air yang menggenang di mata bocah lelaki itu. Dalam hati dia heran dan bertanya-tanya. Apakah benar anak lelaki itu yang menyebabkan kematian emaknya sendiri? Tapi tampang anak itu tidak seperti anak yang jahat.

“Kata mamaku, merokok bisa bikin sakit paru-paru, lho. Kamu jangan mau kalau bapakmu minta uang untuk beli rokok.” Jani berusaha mengalihkan pembicaraan, berharap teman barunya itu tak lagi bersedih.

“Bapakku galak. Kalau aku nggak kasih uang, dia bisa pukul aku.” Bisik anak itu takut-takut.

“Oh?” Mata Jani membelalak. Di rumah, mama memang cukup galak. Tapi mama tidak pernah memukul. Apalagi papa. Malah semua yang Jani inginkan selalu saja dituruti oleh papa, yeah, walau kadang-kadang itu membuat mama marah juga.

“Kadang-kadang aku berpikir ingin ikut emak saja ke surga. Katanya di surga itu enak, nggak ada kesusahan, nggak ada kesedihan, nggak akan ada yang marahin kita. Tapi, setiap aku bangun tidur, masih juga aku ada di sini, di sebelah bapakku yang galak seperti macan.” Kata anak itu. Wajah kumalnya terlihat sayu. Jani memandangnya dengan iba.

Tiba-tiba, seorang lelaki, yang mungkin seusia Paman Aril, datang menghampiri. Badan tegapnya yang berkulit hitam nyaris tertutup tatto. Dia memandang galak ke arah bocah lelaki itu. Jani ketakutan. Bocah lelaki itu juga. Dia gemetaran.

"Bagus!" Sentak lelaki bertatto itu. Suaranya menggelegar. Orang-orang yang sedang makan di sana serentak menoleh. Paman Aril berdiri sambil memandang ke arah Jani. Dia terlihat siaga. "Jadi begini kerjaan Lu? Hah? Ngobrol santai saat Lu seharusnya kerja?"

Lelaki itu menarik tangan si bocah lelaki dengan kasar. Bocah itu tersungkur. Hampir saja dia menabrak gerobak mie ayam. Orang-orang menjerit tertahan. Sebagian hanya dapat memandang dengan tatapan kasihan. Paman Aril mendekat perlahan.

"Elu? Kenapa ganggu dia kerja?" Kali ini dia menuding Jani. Jani gemetar dibentak seperti itu. Dia menoleh ke arah Paman Aril yang sudah mendekat. Mengharap pertolongan.

"Pamaaan ..." rengek Jani. Paman Aril meraih tangan Jani dan berdiri di antara Jani dan lelaki bertatto itu.

"Ada apa ya, Bang?"

"Ooo...  Jadi lu bapaknya bocah itu, hah? Tolong lu ajar anak lu ya, gak usah ganggu anak gua. Dia lagi kerja! Ngarti lu?" Maki lelaki itu sambil menunjuk-nunjuk wajah Paman Aril. Jani khawatir setengah mati, takut orang itu memukul Paman.

"Dia cuma mau berteman dengan anak, Abang. Bukan mau ganggu."

"Kagak perlu! Anak gua kagak pernah gua bolehin main. Dia kudu kerja. Ngarti lu? Sekali lagi gua lihat anak lu deketin anak gua, tahu sendiri akibatnya!"

Paman Aril terlihat akan menimpali ucapan laki-laki itu lagi, tapi dilihatnya Jani begitu ketakutan. Akhirnya paman memilih mengajak Jani menyingkir dari hadapan laki-laki menakutkan itu. Si lelaki menyeringai mengejek, lalu menatap galak ke sekeliling. Kemudian dia mendekati anaknya yang masih ketakutan di dekat gerobak mie ayam.

"Heh! Elu, awas kalo nanti-nanti gua liat lu asyik ngobrol lagi. Bukannya kerja yang bener. Pantes aja makin hari duit yang lu bawa makin sedikit. Rupanya gini kerjaan lu, hah?" Ditempelengnya kepala si bocah. Beberapa perempuan yang ada di sana setengah menjerit.

Air mata Jani sudah bercucuran sejak tadi. Dia sedih dan takut melihat  semuanya.  Dipeluknya lengan Paman Aril kuat-kuat.

"Paman ... Ayo pergi dari sini." Jani merengek pada pamannya.

Paman Aril menarik nafas dalam. Sebenarnya dia masih berjaga-jaga, ingin menolong bocah lelaki itu jika bapaknya berbuat lebih jauh lagi. Begitu dilihatnya si bocah lelaki kecil pergi mengikuti langkah bapaknya, sambil menyeret-nyeret karung yang sarat berisi, Paman Aril menggandeng lengan Jani meninggalkan tempat itu setelah membayar makanan mereka.

Motor Paman Aril kembali melaju di tengah keramaian jalan. Memasuki gerbang komplek, dan kembali ke bangku taman di tepi tanah lapang. Jani dan Paman Aril turun. Mereka duduk di bangku itu. Jani menyeka sisa basah di matanya.

"Paman," katanya.

"Ya?"

"Menurut Paman, apa yang akan terjadi pada anak lelaki tadi?"

"Paman tidak tahu, Jani. Tapi semoga Allah selalu melindunginya. Semoga bapaknya dilembutkan hatinya," kata Paman Aril, lalu menarik nafas dalam-dalam. Mata Jani basah lagi.

"Aamiin." Jani memejamkan matanya. Benar-benar berharap anak laki-laki tadi tidak diapa-apakan oleh bapaknya yang galak. Berharap bapak anak itu benar-benar bisa berubah menjadi lembut seperti harapan Paman Aril tadi.

Setelah itu, Jani jadi memikirkan mamanya. Tiba-tiba saja Jani menyesal sudah marah-marah pada mama., sudah kesal, sudah merajuk dan berpikiran buruk tentang mama. Padahal, yang Mama minta untuk Jani lakukan tidak seberat yang harus dilakukan anak lelaki tadi, yang entah siapa namanya. Mama hanya meminta Jani menolong mama melakukan hal-hal kecil saja. Ah, Jani sungguh-sungguh menyesal telah bersikap seperti buruk pada Mama. Jani berjanji di dalam hatinya, nanti dia akan meminta maaf pada Mama. Ya, Jani berjanji.

“Paman, kita pulang, yuk.”

“Eh? Katanya lagi sebal sama mama?”

“Sudah, Paman. Jani sudah nggak marah lagi sama mama.” Sahut Jani.

Paman Aril tersenyum. Tidak lama kemudian, Jani sudah duduk di atas motor Paman Aril yang melaju santai menuju arah pulang.

***Tamat***

*cerpen 'Jani' pernah diikutkan dalam sebuah event, tapi tidak lolos karena kelebihan jumlah kata.
** untuk event NAD anak, 'Jani'telah mengalami revisi, dari 713 kata menjadi 1521 kata.
*** Direvisi dan diselesaikan pada dini hari, 8 Desember 2019

PUISI RAKYAT (PUISI LAMA): PANTUN

      KOMPETENSI DASAR 3.9 Mengidentifikasi informasi (pesan, rima, dan pilihan kata) dari puisi rakyat (pantun, syair, dan bentuk puis...