Tampilkan postingan dengan label romance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label romance. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juni 2020

SECRET PROJECT 2: TELETRANS


TELETRANS




"Zach! Lihatlah!"

Aku membentangkan tangan sedramatis mungkin saat Doktor Zacharry Raymond memasuki blok kerja kami di Laboratorium Workshop M031. LW M031 ini merupakan salah satu laboratorium workshop yang ada di SkyTech Enterprise, perusahaan tempatku bekerja. Kusebut salah satu, karena memang ada ratusan laboratorium workshop yang dimiliki SkyTech Enterprise sebagai raksasa bisnis yang usahanya mencakup seluruh dunia.

Aku dan Zach bekerja di unit pusat perusahaan yang berada di London. Kami sedang mengembangkan sebuah projek bersama. Pembuatan mesin teleportasi, yang kurancang sejak bertahun-tahun lalu. Mesin ini kami beri nama Teletrans. Progressnya sudah 90% saat ini.

"Apa?" Zach melangkah santai ke arahku yang berdiri di depan Teletrans.

"Kita harus melakukan uji coba lagi. Uji coba terakhir. Kapan kau ada waktu?"

"Kapan saja kau siap, Laiyla."

"Yah." Aku menggosok-gosok telapak tangan dengan penuh semangat. "Aku sudah tidak sabar."

"Jadwalkan saja waktunya. Nanti aku bersiap-siap, Nak."

"Baik. Aku segera berkoordinasi dengan tim. Kau akan kukabari."

***     ***   ***

Aku baru saja membubarkan briefing timku dan sedang menyusuri koridor LW M031 saat kulihat satu sosok berdiri di ujung lorong.

Arrgh! Jared Witheart. Mau apa dia?

Sambil berjalan aku memindai setiap blok yang berada di kiri dan kanan koridor. Mencari celah untuk menghindari Jared. Sial! Tak ada kesempatan.

"Laiyla!"

Pintu blok di sebelah kananku terbuka tiba-tiba. Zach berdiri di sana dengan senyum lebarnya.

"Hai, Zach!" Aku segera mendekat ke arahnya. Melangkah cepat sambil melirik ke ujung lorong. Sosok Jared sudah tak ada lagi di sana. Ke mana dia?

"Sudah kau putuskan kapan uji cobanya?" Zach bertanya sambil memberi isyarat agar aku mengikutinya.

"Lusa. Kami sudah sepakat. Besok kita lakukan penyempurnaan-penyempurnaan sambil mengecek ulang segala sesuatu."

***     ***    ***

"Semua bersiap dalam posisi masing-masing." Zach memberi komando. Ia berdiri di depan layar monitor sambil memasukkan kode akses.

Dari balik panel kontrol ruang kemudi Teletrans, sekuat tenaga kuredam debaran jantungku. Berusaha keras menampakkan wajah tenang sambil mengecek semua persiapan satu demi satu. Tenang, Laiyl, tenang.

"Laiyl, kau siap?" tanya Zach. Aku mengacungkan ibu jari. "Baiklah. Hitungan ke tiga kau tekan tombol power Teletrans. Mesin akan menghitung mundur sebelum mengantarmu ke LW A001, SkyTech unit Jakarta. Sudah ada tim yang menunggumu di sana. Jika perhitungan kita tepat, kau akan tiba di sana dalam tiga puluh detik. Enam puluh paling lambat."

"Diterima, Zach!" sahutku melalui alat komunikasi. Kulihat Zach tersenyum. Tidak jauh dari sana kulihat Mr. Salvatore Borsellino duduk diiringi pengawalnya. Beberapa penanggung jawab projek dari blok lain LW M031 juga ada di sana. Termasuk Jared Witheart.

Ck! Kenapa dia harus ada di sini?

"Oke. Aku akan mulai menghitung. Kau tahu apa yang harus dilakukan. Pada hitungan mundur ke lima, kubah kaca Teletrans akan menutup dan mengunci rapat."

"Diterima, Zach!"

Zach mulai menghitung. Tepat di hitungan ke tiga, kutekan power Teletrans. Mesinnya berdengung halus. Teletrans mulai bergetar.

"Sepuluh!" Suara komputer terdengar di seluruh ruangan.

"Sembilan!"

"Delapan!"

"Tujuh!"

"Enam!"

"Lima!"

Aku menunggu kubah kaca menutup, tetapi tak ada yang terjadi.

"Empat!"

"Zach, ada kesulitan.  Kubah tak mau menutup."

"Tekan tombol pembatalan." kata Zach.

"Pembatalan ditolak!"

"Tidak bisa, Zach!" Seruku. Suaraku bergetar. Ada apa ini? Percobaan-percobaan sebelumnya selalu lancar. Teletrans bekerja dengan semestinya. Memindahkanku dari ruangan blok ini ke blok lain yang sudah disiapkan.

Getaran Teletrans semakin menggila. Sebentar lagi benda ini akan melesat memangkas jarak. Apa jadinya jika kubah pelindungnya tidak ditutup.

"Tiga!"

"Keluar dari sana, Laiyl." Suara Zach terdengar panik. Aku masih mencoba menekan tombol di papan kontrol.

"Dua!"

Kulihat orang-orang semakin panik. Lalu  sosok Jared berlari. Ia melesat cepat ke arahku.

"Cepat keluar Laiyla!" teriaknya. Ia menarik tanganku.

""Satu!"

Kurasakan dorongan kuat pada Teletrans disertai suara memekakkan. Teletrans seperti memasuki sebuah lorong spiral. Begitu cepat. Aku berteriak ngeri. Seseorang juga berteriak di dekatku. Baru kusadari, Jared masih memegangi tanganku. Dia terbanting-banting di luar Teletrans.

***      ***     ***

Enam puluh detik yang terasa begitu lama. Kemudian, guncangan berhenti. Dengungnya pun menghilang. Kami berada di sebuah ruangan gelap sekarang. Dalam hatiku bertanya-tanya, apakah kami tiba malam hari di Jakarta?

Suara keras batuk membuatku terlonjak. Aku segera melompat keluar. Menabrak sesuatu. Sesuatu yang bisa menjerit keras.

"Argh! What the--"

"Jared?"

"Laiyla?" Ya, itu suara Jared. Aku menarik napas dalam. Kekesalanku pada Jared belum tuntas sebenarnya, tetapi di situasi semacam ini tidak mungkin aku menunjukkannya pada Jared bukan? "Di mana kita?"

"Mungkin ini LW A001 unit Jakarta. Tapi entahlah. Aku tidak yakin."

Kemudian satu garis cahaya menyorot. Memberi sedikit penerangan di sekitar kami. Kulihat siluet Jared yang memegang senter di tangan.

"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Jared sambil menyorotkan senter ke penjuru ruang.

Ruangan ini tidak terlalu luas dengan atap yang melengkung hingga ke lantai. Aku mengernyitkan kening. Ini jelas bukan ruang LW. Ini ... astaga!

"Jared? Apakah menurutmu ini--"

"Sebuah gua? Ya ini memang gua, Laiyla. Kenapa mesinmu membawa kita ke gua?"

"Aku, aku tidak tahu." sahutku menahan dongkol. "Ini kekeliruan."

Jared menoleh. Dalam keremangan cahaya senter, kulihat Jared mengangguk.

"Sebaiknya kita cari tahu saja dulu di mana posisi kita sekarang." Jared memberi isyarat agar aku mengikutinya.

"Jangan cepat-cepat. Di sini gelap!"

Jared berhenti dan membalik. Ia mengulurkan tangannya.

"Ayo."

"Kau hanya perlu memperlambat langkahmu." Aku menjawab dengan ketus.

"Laiyla. Seperti katamu, di sini gelap. Aku tidak mau punya resiko kehilanganmu sementara kita tidak tahu ada di mana saat ini."

Betul juga.

Maka kusambut uluran tangan Jared. Ia menggenggam tanganku. Hangat. Mendadak debaran di dadaku kembali lagi seperti biasa saat aku berada di dekatnya. Tuhan, padahal aku sudah bertekad untuk membencinya setelah dia mengabaikan aku di pesta tempo hari.

"Laiyla, lihat!" Jared berbisik. Ia menarikku bersembunyi di balik tonjolan batu di tepi gua. Ia menunjuk ke depan. Di mana kulihat sekelomppk orang berpakaian kulit binatang--atau kulit kayu?--mengelilingi api unggun yang berkobar. Mereka membawa tombak-tombak kayu dengan mata tombak terbuat dari serpihan batu tajam. Kulit mereka kecoklatan dengan mata berkilat kebiruan.

"Ya Tuhan," desisku, "siapa mereka?"

"Dilihat dari ciri-cirinya, kurasa, mereka ini Cheddar Man." Jared ikut berbisik. "Laiyla?"

"Huh?"

"Selamat! Mesinmu tidak membawa kita berteleportasi ke tempat lain."

"Maksudmu? Kita tetap di London?"

"Ya. Hanya saja, ini London puluhan ribu tahun yang lalu. Dan mereka itu nenek moyang kita."

BandungBarat, 16 Juni 2020

SECRET PROJECT

SECRET PROJECT
#cerpen Lily N. D. Madjid



BRAKKK!

Pintu ruang penghubung itu terbanting dengan keras. Dengan penuh rasa marah aku bergegas. Apa-apaan itu tadi? Jared bodoh! S*alan! Bisa-bisanya dia berbuat seperti itu? Mengabaikanku seolah-olah aku manusia tak kasat mata. Alih-alih menyapa dia malah asyik bercengkrama dengan yang lainnya. Dasar bodoh! Aku benci Jared.

Oke, oke! Itu memang hak dia untuk bergaul dengan siapa saja dalam pesta itu. Itu memang hak dia untuk melakukan apa pun yang dia suka. Terserah! Aku toh bukan siapa-siapanya. Dan aku memang tidak pernah berarti apa-apa bagi dirinya, 'kan?

Ya Tuhan, kenapa kenyataan itu bisa terasa begitu pahit?

Kuhempaskan tubuhku di bangku taman. Menarik napas dalam-dalam mencoba mengusir sesak yang menyeruak di dada. Ingar bingar suara musik dan canda tawa dari ruangan yang kutinggalkan menembus masuk hingga ambang pendengaranku. Samar, tetapi tetap terdengar.

Demi apa aku ada di sini?

Teringat percakapanku dengan Jared lewat telpon beberapa hari lalu.

"Kamu hadir ke acara launching lusa?" tanyanya waktu itu.

"Well, Bos Besar mengharapkan kita semua hadir bukan?" Aku menjawab sambil sibuk meredakan gemuruh di dada.

Begitulah bodohnya aku. Selalu seperti itu setiap kali berbicara dengan Jared. Padahal hanya bicara lewat telepon. Jangankan telepon, saat kami mengobrol lewat teks melalui aplikasi perpesanan pun hatiku seringkali bergetar dan seolah berdenyar. Ya, aku rasa aku memang gila, untuk semua yang berhubungan dengan Jared.

"Jadi, kau datang?"

"Ya. Kau?"

"Seperti yang tadi kau katakan, Bos Besar mengharapkan kita semua hadir di sana. Ini acara besar Laiyla. Dengan pesta yang juga besar. Kudengar media-media akan meliputnya."

"Ya. Project ini sudah lama digembar-gemborkan pada khalayak. Siapa yang tak ingin menyaksikan peluncurannya? Mereka pasti tak sabar ingin melihat bagaimana sebuah mobil terbang berbahan bakar air bekerja."

"Aku pun tak sabar."

"Tentu saja. Kau tim perancangnya, Jared. Tentu ingin menyaksikan bagaimana karyamu mendapat sambutan semua orang."

"No, Laiyl. Bukan itu."

"Lalu apa?"

"Aku tak sabar ... melihatmu berdiri anggun di pesta itu nanti."

Ya Tuhan! Bagaimana mungkin dia bisa berkata seperti itu tempo hari. Membuatku tak bisa tidur, dan gelisah menunggu datangnya malam ini, hanya untuk membuktikan ucapannya. Lalu menyaksikan kenyataan yang ada berbeda 180° dari bayanganku.

 Jared pembohong!

Jangankan melihatku. Melirik saja tidak. Padahal beberapa kali aku berdiri di dekatnya. Beberapa kali ia berjalan melewatiku dengan senyum cerahnya. Namun, matanya terus menghindariku dengan menatap entah ke mana. Senyum yang yang nyaris terkembang di bibirku otomatis menguap, dan kubatalkan niat untuk menyapanya.

Aku benci Jared!

*** *** ***

"Laiyla?"

Satu suara mengejutkanku yang sedang berjalan melintasi koridor panjang menuju ruanganku. Aku berhenti. Di depan laboratorium workshop M031 terlihat siluet seseorang berdiri di bawah bayangan tiang penyangga bangunan.

Aku mendekat, siluet itu semakin jelas.

"Dr. Raymond?" tanyaku.

"Ck! Sudah kubilang panggil aku Zach." sosok itu berdecak sebal. Aku tersenyum.

"Sorry, Dr. Ray, eum ... Zach. Sedang apa di sini? Kenapa tidak bergabung di aula?"

"Kamu sendiri sedang apa di sini? Mengendap-endap sendiri dalam gelap?"

"No, Sir! Saya tidak mengendap-endap. Saya sedang menuju ruangan saya ta--"

"Ah, menghindari seseorang, kurasa. No, jangan menyangkal. Dengar, tak ada seorang gadis muda yang akan menyelinap keluar dari meriahnya pesta jika tidak sedang menghindar dari seseorang yang membuatnya patah hati. Hahaha ....!"

S*al! Kenapa Dr. zach Raymond bisa menebak dengan jitu?

"Anda sendiri sedang apa di sini? Mengapa tidak bergabung dalam pesta itu? Dan, hei--" aku terbelalak ketika menyadari kami ada di mana. "Laboratorium Workshop M031 tempat terlarang, bukan?" kataku sambil memelankan suara.

"Memang, tetapi tidak untukku. Aku sedang menyelesaikan sebuah projek. Mmm ... kebetulan sekali kita bertemu. Aku ... ah, masuklah dulu. Kita bicara di dalam." katanya.

Ia menggesekkan kartu pass di tangannya. Seketika pintu lab membuka. Dr. Raymond berbalik dan mengangguk padaku yang masih berdiri ragu.

"Jangan takut. Aku tak akan mencelakakanmu," katanya lalu melangkah masuk. Dengan antusias aku mengikutinya. Padahal tadinya aku hanya ingin menuju ruanganku dan menenangkan diri dari rasa marahku pada Jared. Tapi, ah, masa bodoh dengan Jared Witheart itu. LW M031 lebih menarik untukku. Sudah sejak lama aku penasaran, projek-projek besar apa lagi yang sedang disiapkan di dalamnya.

Jangan bayangkan LW M031 seperti Laboratorium workshop di kampus-kampus teknik atau apa. Tidak, ini jauh lebih hebat. Di dalamnya terdapat beberapa blok dan setiap blok berisi projek-projek berbeda. Projek-projek rahasia.

Zach membawaku ke salah satu blok. Di sana kami melewati satu pintu berpengaman ganda. Zach mendekati alat pemindai mata sebelum kembali menempelkan kartu passnya.

"Akses diterima."

Suara komputer bergema tepat sebelum pintu berdengung membuka. Aku memasuki ruangan luas di depanku dengan penuh rasa takjub. Berbagai perkakas modern dan mutakhir kulihat tersedia dalam ruangan ini. Aku menyentuhnya satu persatu. Norak sekali. Itu kusadari setelah melihat tatapan Zach yang setengah tersenyum melihat tingkahku.

"Hei, Zach! Ini hebat!"

"Memang. Tidak ada yang tidak hebat di LW M031, Laiyla. Ini laboratorium workshop tercanggih yang pernah ada di negeri ini. Tepatnya sih, tidak ada yang tidak hebat di SkyTech Enterprise." Zach berkata dengan bangga.

Ada. Jared Whitheart. Dia tidak hebat.

"Wah! Benarkah? Lalu ... mengapa kau membawaku ke sini?"

"Ah, ya. Itu hal penting yang akan kubicarakan denganmu."

Zach membuka sebuah kotak besi yang juga berpengaman ganda. Mengeluarkan sebuah berkas dari sana dan meletakannya di atas meja di hadapanku. Lagi-lagi aku terbelalak saat mengenali berkas itu.

"Zach! Ini cetak biru mesin teleportasi yang kubuat beberapa tahun lalu!" seruku heran.

Ya, jadi begini, aku merancang sebuah mesin teleportasi beberapa tahun lalu. Saat itu setiap pegawai baru di Skytech Enterprise diminta mengajukan sebuah rancangan inovatif. Aku sudah meneliti tentang kemungkinan-kemungkinan pembuatan mesin teleportasi sejak masih menjadi mahasiswa di kampusku dulu.

Rancanganku dinilai baik oleh Bos Besar. Aku ingat, ia memujiku sebagai seorang yang cerdas. Tetapi itu saja tidak cukup. Katanya masih jauh hingga kita dapat mewujudkan sebuah mesin teleportasi menjadi nyata.

Ah, aku benci dengan segala basa-basi itu. Dengan kata lain ia menganggap karyaku sebagai khayalan semata 'kan? Padahal aku sudah menjelaskannya dengan rinci, menyertakan perhitungan-perhitungan fisikanya dengan lengkap dan gamblang. Tidak mustahil untuk merealisasikannya.

Ia tetap tidak menerima saat kukemukakan semua pemaparan tentang projek itu. Alih-alih menerima, ia malah menyanggahnya dan mematahkan semua argumenku.

"Kita hidup dalam realita, Miss Soeninta. Bukan sains fiksi semata. Dan realita bagi kita adalah bisnis. Nah, cobalah rancang sesuatu yang inovatif dan layak jual."

Layak jual katanya? Apa dia tidak tahu jika mesin teleportasi bisa menjadi tambang emas jika kami merealisasikannya. Dan INI bukan hanya sekedar sains fiksi semata seperti yang ia katakan.

"Sedang mengenang masa lalu, Laiyl?" Suara Zach Raymond membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum pahit.

"Semacam itulah," kataku. Apakah lelaki paruh baya di depanku ini seorang pembaca pikiran atau apa? Sudah dua kali dia menebak isi kepalaku dengan jitu.

"Fokuslah. Karena aku membawa kabar gembira untukmu." Zach tersenyum lebar.

Lelaki bertubuh tinggi tegap itu menarik sebuah kursi di seberangku. Ia duduk, lalu mulai membentangkan berkas-berkas itu di hadapanku. Aku rasa dia akan memberi kabar yang benar-benar hebat. Jadi, aku berdiam diri, siap-siap menerima kabar besar itu.

"Dengar," katanya dengan suara yang sengaja dibuat sedramatis mungkin. Aku sudah mempelajari cetak biru yang kau buat. Bahkan sudah melakukan riset ulang sebenarnya. Kupikir ...." Zach sengaja memenggal kalimatnya. Menatapku sambil tersenyum.

"Apa? Cepat katakan!" kataku. Zach masih tersenyum. "Dr. Raymond, please, jangan membuatku penasaran."

"Hahaha! Tidak sabaran.” Ia terkekeh. Tawanya bahkan semakin keras saat melihatku memutar mata. “Sabar, Nak. Jadi,  kupikir tidak mustahil untuk merealisasikan projek ini,” katanya. Aku nyaris melompat kegiranagan. Untung saja aku bisa menahan diri. Namun, tak urung Zach terbahak menertawakanku.

“Zach? Benarkah? Jadi kau akan membuat sebuah mesin teleportasi?”

“Aku? Tentu tidak.”

“Ah! Tapi kau bilang—“

“Kau, Miss. Kau yang akan membuatnya. Aku sudah membicarakan ini dengan Salvatore.”

“Apa? Benarkah?”

"Kenapa? Kau tidak mau? Kalau begitu biar kuserahkan projek ini pada Jared Witheart. Dia ppemuda yang sangat berbakat.”

“Tidak.” Aku menggeram. “Aku mau, tentu saja, tapi, benarkah kau sudah membicarakannya dengan Bos Besar? Maksudku, Mr. Borsellino?”

“Tentu saja.”

“Apa katanya? Bukankah dulu dia menolak gagasan ini mentah-memntah?”

"Tentu saja Salvatore setuju. Aku sudah membujuknya. Aku tahu Laiyla, projek ini projek besar. Pasti akan sukses besar. Dan kamu, Laiyl, kamu yang akan membawakan kesuksesan itu untuk SkyTech Enterprise.”

(bersambung hingga part 2 saja)

BandungBarat, 16 Juni 2020


Senin, 08 Juni 2020

SHURA DAN DIMA

SHURA dan DIMA
~cerpen Lilynd Madjid~




"Shura!"

Suara seruan di kejauhan menyentakkanku dari keasyikan mengintai ikan di tepian anak Sungai Kolyma yang nyaris membeku. Aku melompati batu-batu besar yang menyembul dari permukaan sungai. Mendaki batu terbesar dengan hati-hati.

Dari puncak batu aku berteriak membalas seruan Oтец yang tadi ditujukan kepadaku.

"Sebentar, Oтец! Aku akan segera kembali!" teriakku sekuat tenaga.

Kemudian dengan kehati-hatian yang sama seperti saat memanjatnya, kuturuni batu besar itu. Kurapikan peralatan berburuku, harpun kecil dan sebuah beliung pemberian kakek, juga ikan-ikan hasil tangkapan yang sudah kuikat. Aku bergegas menuju gua kami.

Di mulut gua kulihat Oтец dan beberapa laki-laki--ada sekitar 25 hingga 30 orang--tengah menyiapkan perlengkapan seperti obor, batu api, tombak, beliung, dan harpun besar. Oтецmemberi isyarat agar aku bergegas.

"Sebentar Oтец, aku akan memberikan dulu ikan-ikan ini pada Мать."

"Segera! Kau tahu hari ini kita mulai berburu." Oтец berkata galak. Ya, ayahku itu memang orang yang sangat tegas. Tidak heran jika kelompok kami mengangkatnya menjadi pemimpin.

Aku mengangguk, lalu setengah berlari memasuki mulut gua. Udara hangat menyambutku saat berada di dalam gua. Gua kami berada di kaki sebuah gunung berapi. Jika ditelusuri, akan ada lorong yang mengarah ke perut bumi. Dari lorong-lorong semacam itulah, mengalir uap-uap hangat ke lorong-lorong gua lainnya. Membuat kami terhindar dari udara dingin Siberia yang membekukan. Perlu beberapa lama menyusuri lorong-lorong gua yang berliku sebelum tiba di lorong tempat keluargaku tinggal.

"Shura! Tadi ayahmu mencari." Мать, ibuku menyambut saat aku tiba.

"Ya, Мать. Ia menungguku berburu." Kuserahkan ikan-ikan itu ke tangannya lalu bersiap-siap pergi.

"Shura!" Мать menahan tanganku. "Berhati-hatilah. Perhatikan saja dari jauh bagaimana orang-orang dewasa menangkap mammoth itu." Aku mengangguk kemudian bergegas keluar.

Di luar gua, persiapan sudah selesai dilakukan. Rombongan kami mulai berangkat. Aku berjalan di samping Oтец. Ada pemuda-pemuda lain seusiaku yang juga ikut dalam perburuan kali ini. Seperti aku, mereka juga sedang disiapkan untuk bisa berburu. Perburuan kali adalah cara kami belajar, dengan melihat secara langsung bagaimana orang dewasa berburu.

Kami tiba di sebuah padang luas di tepi sebuah danau pada siang hari. Udaranya cukup hangat. Oтец bilang itu karena adanya semburan uap dan air panas secara periodik di suatu tempat di sekitar sini. Kami memilih satu area yang cukup tersembunyi sebagai tempat berkemah. Di kejauhan, di tepi danau yang berseberangan dengan tepian tempat kami berada, samar kulihat kawanan mammoth bergerombol.

Setelah menyiapkan perlengkapan, rombongan kami mulai bekerja. Membuat lubang perangkap beberapa ratus meter dari tepi danau. Kamu semua, termasuk aku dan kawan-kawanku menggali lubang besar dengan beliung. Menjelang malam, lubang galian siap.

Setelah itu orang dewasa mengendap-endap dalam gelap menuju kawanan mammoth di seberang danau. Mereka memilih satu mammoth sebagai sasaran dan mulai bergerak mendekat. Obor-obor dinyalakan dengan batu api. Para mammoth mulai menyadari kehadiran kami, mereka kalang kabut menghindar.

Oтец dan teman-temannya menggiring mammoth sasaran menggunakan obor. Mengarahkan binatang besar itu ke lubang perangkap yang sudah kami siapkan. Tidak mudah. Binatang itu selalu mencoba melarikan diri dan mengamuk brutal. Akan tetapi Oтец dan teman-temannya adalah para pemburu andal.  Beberapa waktu kemudian mammoth itu sudah dapat dilumpuhkan di dalam lubang perangkap. Aku bergidig ngeri saat satu harpun besar dihantamkan menembus tengkorak kepalanya.

Setelah si Mammoth roboh, kami mulai menguliti mahluk raksasa malang itu. Perutku mendadak mual mencium amis darah yang menguar. Diam-diam aku menyingkir, berjalan menjauhi lubang. Aku butuh udara segar.

Satu suara dengusan mengagetkanku saat sedang berdiri menatap tepian danau di kejauhan. Aku mengendap-endap mencari sumber suara. Di balik sebatang pohon tidak jauh dari lubang perangkap, sebuah bayangan gelap terlihat. Saat aku mendekat, bayangan itu mendengus.

Aku segera menyadari mahluk apa itu. Masih mengendap-endap, kudekati Oтец. Aku memberitahukan keberadaan tamu kami. Oтец dan beberapa orang perlahan mengepung, lalu menyergap bayangan itu dengan tali serat kayu yang kami punya. Mahluk itu meronta. Mendengus-dengus dan sesekali mengeluarkan suara menguik yang menurutku sangat menyedihkan. Seseorang kulihat mengacungkan harpun ke arah kepalanya.

"Jangan!" Tanpa sadar aku berteriak. Semua menoleh ke arahku. "Ja-jangan bunuh dia, kumohon. Oтец, tolong biarkan bayi mammoth itu hidup," kataku mengiba.

***

Aku memberi nama bayi mammoth itu Dima.

Jadi, malam itu Oтец mengabulkan permohonanku. Kami membawa pulang Dima dan berton-ton daging mammoth yang menurutku adalah induk Dima. Agak menyedihkan memang.

Awalnya Oтец melarangku memelihara Dima. Namun, aku berkeras. Kasihan dia, ibunya sudah mati, sementara kawanannya telah meninggalkan tepian danau entah kemana. Jika ditinggalkan, bisa saja dia menjadi mangsa empuk binatang buas.

Maka di sinilah Dima sekarang. Tinggal di dalam satu lorong gua yang tak dihuni. Kupelihara dan kurawat dia dengan kasih sayang. Ternyata mammoth kecil ini binatang yang cerdas. Dia bisa mengenali aku, yang setiap hari datang memberinya makan. Kini dia tidak takut lagi padaku. Ia juga membiarkan, saat aku membelai bulu lebatnya, atau mengusap puncak kepalanya.

Kadang-kadang aku mengajaknya berjalan-jalan ke luar dari dalam gua. Jika sudah begitu ia akan berjalan di sampingku atau mengikutiku di belakang. Akhir-akhir ini Dima bahkan mengikutiku saat aku pergi menombak ikan.

***

Aku sedang menuju anak Sungai Kolyma pagi ini. Sebenarnya, Oтец dan Мать melarangku untuk menombak ikan. Cuaca agak tidak bagus. Kemungkinan badai salju akan datang. Namun, persediaan ikan kami sudah habis. Adik bungsuku, Makari, tak bisa makan jika tak ada ikan. Maka aku memaksa Oтец untuk mengizinkanku menangkap satu dua ekor ikan. Oтец akhirnya mengijinkan, dengan syarat, aku pulang sebelum tengah hari.

Ternyata cuaca memburuk begitu cepat. Badai datang menggulung saat aku masih mengemasi ikan yang kuperoleh. Segera kucari perlindungan di balik bebatuan. Namun, badai begitu dahsyat. Salju berhamburan menyerbu tubuhku.

Badai belum juga mereda saat aku mulai menggigil hebat. Mantel kulit mammoth yang kukenakan tak mampu menahan dingin yang menggigit. Gigiku gemeletuk. Tanganku tremor dan sudah mati rasa. Sedikit penyesalan menyusup dalam hati. Mengapa tak kuhiraukan larangan Oтец dan Мать tadi?

Kurasa kesadaranku mulai menghilang, saat kudengar suara dengusan. Lapisan salju yang kupijak terasa bergetar. Lalu seonggok bulu tebal menyentuhku. Bukan, bukan menyentuh, tetapi melilit dan menarikku. Menyurukkanku pada gumpalan bulu yang lebih tebal. Hangat mengalir melingkupiku. Sempat kubuka mata sejenak sebelum kembali menutupnya. Aku mengenali sosok besar itu.

"Dima ... kamu datang?"

*Tamat*

Catatan:
отец = ayah
Мать = ibu

Kamis, 07 Mei 2020

AKU INGIN PULANG

AKU INGIN PULANG
#Cerpen_LilyNDMadjid



BRAKKK!

 Gayatri tergugu saat Pramudya, suaminya, membanting pintu di depan wajahnya. Perempuan dua puluh tiga tahun itu tersedu sambil memegangi  kedua pipinya yang memerah. Sakit terasa. Tetapi lebih sakit lagi di sini, di dalam dadanya. Ini bukan pertama kalinya Pramudya mengamuk mencaci-maki dirinya, atau meninggalkan bekas pukulan di tubuh perempuan itu.

 Pramudya memang lelaki yang temperamental. Hal-hal kecil saja mampu menyulut amarahnya. Masakan yang kurang asin, mainan anak yang berserak, dan hal-hal remeh lainnya sanggup membuatnya melontarkan kata-kata kasar. Apalah lagi saat dilihat ada chat dari lelaki lain di ponsel Gayatri.

 Ya. Itulah sumber kemurkaan Pramudya hari ini. Ia mendapati pesan dari seorang lelaki di aplikasi perpesanan ponsel Gayatri. Padahal Gayatri sendiri tak tahu menahu soal itu. Ia belum sempat menyentuh benda pipih itu hari ini. Pekerjaan rumah tangga dan anak sudah cukup menyita waktunya.

 “Siapa lelaki itu?” Begitu tadi Pramudya membentak dengan mata berkilat-kilat saat Gayatri sedang menyapu lantai kamar.

 “Lelaki apa, Mas?”

 “Jangan berpura-pura bodoh! Di belakangku kau asyik chat dengan lelaki lain rupanya!” Amarah Pramudya semakin menjadi. Kali ini jari-jarinya meraih wajah Gayatri dan menekannya kuat-kuat. Gayatri meringis menahan nyeri yang seketika menjalar di wajah. Air matanya mengalir tanpa ia inginkan.

 “Aku, aku tidak--”

 “Cih! Jangan menyangkal! Ini buktinya!” teriak Pramudya sambil menyodorkan ponsel Gayatri ke depan wajah pemiliknya, kemudian membantingnya ke lantai. Benda itu mendarat dengan mengeluarkan suara keras. Air mata Gayatri mengalir semakin deras.

*** *** ***

 Aksana memandangi layar ponselnya lekat-lekat. Mambaca lagi pesan yang dikirimnya pada Gayatri beberapa hari yang lalu. Tanda centang dua berwarna biru sudah terlihat di sana. Tetapi, kenapa Gayatri tidak juga membalasnya? Aksana menatap lagi  pesan itu.

 Delapan pesan. Semuanya ia kirim dengan selang waktu beberapa jam setiap pesannya. Menunggu jawaban. Tetapi pesan-pesan itu tak berbalas. Lupakah Gayatri pada dirinya? Atau marah? Ah, sebenarnya wajar saja jika Gayatri marah atau malah membencinya. Semua ini salahnya.

Aksana mengacak rambut sebahunya. Perasaan lelaki bertubuh tegap itu campur aduk. Kesal, marah, sedih, juga rindu. Rindu pada Gayatri. Pikirannya mendadak melayang ke tahun-tahun yang telah berlalu. Berapa tahunkah? Empat? Atau lima tahun pertemuan terakhirnya dengan perempuan berwajah manis itu?

*** *** ***

 Matahari mulai condong ke arah barat. Panasnya tak lagi membakar seperti saat siang tadi. Angin bertiup semilir memberikan kesejukan. Tetapi di suatu tempat, dua anak muda justru terjerat gundah. Gayatri duduk di lantai bambu sebuah dangau. Terisak-isak. Di hadapannya Aksana menunduk lesu.

 “Tak ada jalan lain, aku harus pergi, Atri,” gumam Aksana serupa keluhan. Gayatri tak menyahut. Tangisnya semakin larut.

Aksana meraih tangan Gayatri. Tetapi gadis belia itu menepisnya. Aksana menarik nafas panjang.

 “Benarkah tak ada jalan lain?” Terbata-bata Gayatri berkata.

 “Apalagi? Aku sudah berusaha. Tapi tetap saja hasilnya tak sesuai dengan keinginan orangtuamu, kan?” gumam Aksana. Ada gurat nyeri di sudut hatinya, juga sekilat rasa terhina mengingat penolakan orangtua Gayatri saat mereka mengetahui hubungan antara dia dan Gayatri.

 Aksana tahu apa yang membuat orangtua Gayatri tak menerimanya. Apalagi? Semua orang di desa itu tahu statusnya, yang hanya seorang pemuda miskin dengan orangtua yang juga miskin, hanya buruh  pekerja tuan-tuan tanah di desa itu. Turun temurun hidup dalam kemiskinan belaka. Bukan pemuda seperti itu yang diharapkan orangtua Gayatri untuk dijadikan calon menantu.

Aksana otomatis tersingkir. Tak peduli sekuat apapun ia dan Gayatri saling mencinta. Kedua orang tua Gayatri benar-benar menutup semua pintu kesempatan untuk Aksana. Tapi Aksana tak mau begitu saja menyerah. Ia bertekad akan memenuhi apa yang diinginkan orang tua Gayatri.

Jika desa ini tak memungkinkan dia untuk mewujudkan semua cita-citanya itu, ibukota ia yakini bisa menjadi jalan untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Terutama mimpi terbesar Aksana. Menyunting Gayatri.

 Tetapi realita tak selalu sejalan dengan harapan, bukan? Itulah keadaan yang kerap terjadi. Dan begitulah yang Aksana alami. Ungkapan ibukota lebih kejam dari ibu tiri bukan sekedar ungkapan semata. Tetapi memang begitulah adanya. Ibukota yang keras dan garang telah menghempaskan mimpi-mimpi Aksana ke jurang terdalam.

 Ibukota memaksanya terbungkuk dan merangkak, menahan beban demi bertahan hidup. Bertahun-tahun ia bertahan, hingga keputusasaan menyergapnya kemudian. Mencabik-cabik dan mengoyak-moyakkan keyakinan juga tekadnya yang semula baja. Keputus-asaan itu jugalah yang akhirnya mengubah Aksana, menjadi bajingan di belantara kota.

*** *** ***

  Gayatri menatap lekat telepon genggam di tangannya. Terpampang pesan dari Aksana beberapa waktu lalu. Pesan yang membuat suaminya murka. Tak pernah ia balas. Untuk apa? Toh semua sudah berakhir. Walau tak dapat dipungkiri, masih ada gelenyar dalam dadanya, bercampur rasa nyeri yang samar.

 “Aksana …” bibirnya mengeja tanpa suara.

 Tangannya bergerak pada keypad  telepon pintarnya. Gayatri ingin menghapus saja pesan itu. Toh tak ada gunanya tetap di sana. Ia tak akan pernah membalasnya. Membalas pesan Aksana sama saja mendatangkan murka Pramudya. Gayatri tak ingin itu terjadi. Ditambah lagi, Gayatri menganggap sudah tak ada lagi cerita antara ia dan Aksana.

 “Semua sudah berakhir, Mas,” Bisiknya. Airmatanya menetes. Air mata yang ia benci karena membuatnya terlihat begitu lemah. Walaupun sebenarnya airmatalah yang selalu hadir menemaninya. Menemani hari-hari kelam dalam hidupnya.

 Dulu, setelah mengucap janji akan segera kembali, Aksana pergi. Membiarkan Gayatri menunggunya dari hari ke hari. Hingga tahun-tahun berganti, Aksana bagai ditelan Bumi. Tak ada kabar, apalah lagi menepati janji. Gayatri hanya bisa pasrah saat orangtuanya menerima pinangan Pramudya, seorang pemuda berada yang orangtuanya keturunan priyayi. Walau kemudian ternyata, pernikahan itu tak pernah berjalan seperti yang diharapkan Gayatri.

*** *** ***

♫♪ Ramadhan tiba, ramadhan tiba, ramadhan tiba
Marhaban yaa Ramadhan, Marhaban yaa Ramadhan ♪♫

Aksana tertegun mendengar alunan lagu yang lamat-lamat sampai di telinganya. Ia ingat, Antasena adik semata wayangnya dulu sering sekali menyanyikan lagu ini setiap kali Ramadhan datang menjelang. Sudah dekatkah Ramadhan ini?

Aksana mendekati kalender yang terpaku di  dinding dekat jendela kamar kontrakannya. Ah, rupanya Ramadhan memang akan segera tiba. Pantas saja. Aksana termenung, sebuah pemikiran tiba-tiba melintas di kepalanya. Apakah kali ini akan ia lewati seperti Ramadhan-Ramadhan sebelumnya? Sendiri tanpa sesiapa?

Entah kenapa tiba-tiba Aksana dilanda rindu. Ia merindukan suasana Ramadhan di kampungnya yang begitu meriah. Semua orang selalu bersuka cita menyambut Ramadhan. Anak-anak hingga orang dewasa selalu antusias pergi ke masjid malam hari. Salat tarawih, tadarus, memakmurkan masjid. Dan yang paling seru, untuk anak-anak dan para pemuda adalah saat  berkeliling desa untuk membangunkan orang sahur. Ah, menyenangkan, dan ia adalah bagian dari semua itu dulu.

Ada yang membuncah di relung hati Aksana. Lima ramadhan telah berlalu. Terbayang dalam benak Aksana wajah emak dan bapaknya. Lima tahun tak berjumpa. Lima tahun tanpa berita. Seperti apa mereka kini? Sehatkah? Lalu Antasena? Tentu dia sudah besar sekarang. Tak pernah berkabar bukan karena tak ingin. Tetapi ia malu. Sebab mimpinya belum lagi tergapai. Bahkan ia malah seperti ini kini. Malu pada keluarganya juga pada … Gayatri. Ah, Gayatri. Seperti apa dia kini? Marni bilang dia sudah menikah. Biarlah. Itu lebih baik untuknya.

 TOK, TOK, TOK!

 Pintu terbuka saat Aksana baru saja akan membuka mulut untuk bertanya siapa di luar.

 “Bro! Ngapain lu?” satu sosok tinggi kurus masuk tanpa melepas sepatunya. Langsung membaringkan diri di atas kasur yang terbentang di sisi ruangan.

 “Nggak ngapa-ngapain. Lagi suntuk aja gue.” Balas Aksana tanpa semangat.

 “Suntuk kenapa?”

 “Aah, nggak sih. Tiba-tiba aja gue keingetan sama ortu. Udah bertahun-tahun kan, gue gak balik kampung.”

 “Ahahahah … ngapa jadi melow banget sih lu? Kayak bukan laki aja.”

 “Auk ah! Emang lu gak pernah apa, ngerasa kangen sama keluarga lu? Pengen pulang. Pengen ngerasain lebaran di rumah lagi,”

 “Hah? Enggak tuh! Hahahah …”

 “Ah, dasar lu, anak durhaka.”

 “Ahahahah …Bodo amat! Eh, Bro! Kita operasi yuk.”

 “Lagi males gue.”

 “Ah, elu. Males lu piara. Ayolah, gua udah bokek berat ini. Kantong kosong kering kerontang. Katanya lu kangen ortu lu juga. Satu dua orang mangsa aja dah kalo lu males. Lumayan bisa buat ongkos lu mudik.

 Aksana termenung. Suasana lebaran di kampungnya terbayang lagi. Senyuman emak. Tawa ceria bapak dan adiknya melintas di pelupuk mata. Akhirnya Aksana mengangguk.

 “Iyalah, yuk!” Katanya kemudian. “Buat ongkos mudik,” katanya lagi dalam gumaman.

*** *** ***

. “Atri! Atri!”

 “Ya, Mas.” Tergopoh-gopoh Gayatri meninggalkan dapur.

 “Hih! Lama betul kalau dipanggil.” Pramudya menggerutu sambil menatap Gayatri masam. “Atri, dengar! Orangtuaku mau datang, mereka mau menginap agak lama. Mungkin berlebaran di sini.”

 “Oh? Tapi Mas bilang kemarin, kita yang akan pulang.”

 “Memangnya kenapa kalau orangtuaku yang datang berkunjung dan ikut berlebaran di sini? Hah? Kau nggak suka?”

 “Bukan, bukan begitu, Mas. Tapi …”

 “Sudah jangan banyak omong! Pergi ke pasar sana, beli semua persiapan untuk menyambut ibu bapakku. Masak makanan kesukaan mereka!”

*** *** ***

 Gayatri melajukan sepeda motornya perlahan. Di balik kaca helmnya, matanya berkaca-kaca. Bukan dia tak suka mertuanya datang berkunjung. Tetapi, beberapa hari lalu Pramudya sudah sepakat bahwa tahun ini mereka yang akan pulang kampung.

 Sudah empat tahun mereka tak pulang. Gayatri rindu orangtuanya di kampung sana. Beberapa waktu lalu ibunya menelpon agar Gayatri pulang menjelang Ramadhan, dan munggahan bersama mereka. Tapi kini, sepertinya niatan itu harus dikuburnya dalam-dalam.

 Tiba-tiba Gayatri dikejutkan dengan munculnya satu sepeda motor yang menjajari laju motor maticnya. Lama kelamaan motor yang ditumpangi dua lelaki berpakaian hitam dengan helm fullface itu memepetnya. Jantung Gayatri berdegup kencang. Begal?

 Konsentrasi Gayatri buyar. Motornya oleng lalu ia terjatuh. Satu lelaki berbadan kurus kerempeng turun menghampiri Gayatri yang masih terhimpit sepeda motornya sendiri. lelaki itu menarik tas yang masih terselempang di bahu Gayatri. Refleks Gayatri mempertahankan harta miliknya itu. Ia bahkan nekat berteriak-teriak minta tolong.

 Sejenak lelaki itu panik, ia mengayunkan tinjunya ke arah wajah Gayatri. Kaca depan helm lepas dan terpental. Bibir Gayatri pecah terkena bogem mentah. Gayatri masih juga menjerit-jerit. Lelaki ceking itu semakin panik dan emosi, ia mencabut sesuatu yang berkilat dari pinggangnya, mengayunkannya ke arah Gayatri. Belati. Benda itu menancap tepat di dada perempuan yang masih sempat menjerit sebelum rebah ke bumi.

 Darah bersimbah. Secepat kilat si ceking menarik lepas tas dari tangan Gayatri. Ia bergegas ke arah temannya yang pucat menyaksikan.

“Cabut, Bro!” kata si ceking, membuang tas Gayatri setelah mengambil isinya. Sebuah dompet dan ponsel.

“Dia, dia … mati?” tanya temannya. Suara lelaki itu bergetar.

“Gak tau. Cepetan cabut sebelum ada yang datang,”

  “Kenapa sampai lu abisin cewek itu?”

 “Cerewet lu, Bro! Buruan kabur!”

 Gemetar pria di atas motor itu melajukan kendaraannya meninggalkan Gayatri yang tergeletak entah hidup ataukah mati. Entah kenapa, perasaan lelaki itu jadi kacau. Sebelumnya, ia tak pernah benar-benar melukai korban-korbannya selama ini. Namun kini, melihat belati itu menancap di dada perempuan itu, hatinya  menjadi ngeri, juga cemas. Lalu wajah itu, dia seperti … pernah mengenalnya.

*** *** ***

 Suara adzan berkumandang, terdengar sayup-sayup di kejauhan. Mata Aksana terpejam. setetes air jatuh di sela-selanya. Bahunya bergetar. Ia tak pulang lagi Ramadhan ini. Namun bukan itu yang membuatnya menangis. Bayangan wajah seorang perempuan dengan ekspresi kesakitan itulah yang membuatnya terguncang. Ya, ia mengenali wajah itu sekarang. Wajah Gayatri.

 “Cepat menuju masjid! Tarawih berjamaah dan ada bimbingan rohani malam ini!” Suara teriakan sipir bergema di lorong-lorong bangsal tahanan. Sementara Aksana tenggelam dalam penyesalan.

****TAMAT****

Minggu, 22 Desember 2019

EKSEKUSI MATI

EKSEKUSI MATI
Oleh Lily N. D. Madjid



Kejam. Sungguh kejam mereka. Dikurungnya kami berhari-hari, dengan hanya diberi makan seadanya. Itupun hanya sehari sekali. Padahal apa salah kami hingga mereka memperlakukan kami seperti ini?

Lihatlah mereka. Setelah memperlakukan kami seperti ini, mereka masih dapat bernyanyi-nyanyi dengan riangnya.

Potong bebek angsa
Masak dikuali
Nona minta dansa
Dansa empat kali... 

Aaaargh! Aku benci lagu itu. Aku benci mereka yang berwajah tanpa dosa setelah berbuat seenaknya pada kami. Di mana hati nurani mereka? Sungguh aku ingin menjerit, memaki, mencaci mereka tanpa henti.

"Sabar, sayang. Mungkin ini semua ujian bagi kita." Suamiku memberikan penghiburan. Ah, lelakiku yang tabah dan penyabar. Untunglah aku masih memilikinya. Setelah satu persatu keluargaku mereka renggut. Jika ia tidak ada di sisiku untuk menenangkan, entah apa jadinya aku. Mungkin aku sudah lama kehilangan kewarasan.

"Aku tak kuat lagi, Bang."

"Sabar, Sayang, sabar... "

"Bagaimana kalau kita mencoba lari dari sini?"

"Sayang. Aku ... Aku tidak yakin. Tidak semudah itu bisa lari dari mereka. Lihatlah, kita berdua berada dalam penjara, lagi pula... "

"Jika kita tetap di sini, itu berarti kita menyerahkan diri pada kematian, Bang! Kau ingat bagaimana mereka membantai ayah, ibuku, ibumu, bahkan anak kita...  Anak kita, huhuhuhuhu...  Aku tak kuat lagi, Bang. Aku ingin pergiii.... "

"Sayang,"

"Tidak. Aku tak ingin bertahan, jika itu yang akan Abang katakan!" teriakku putus asa. Kudorong sekuat tenaga pintu penjara yang mengurung kami berdua.

"Sayang, penjara ini tak mungkin kita tembus."

"Aku tak peduli jika Abang sudah menyerah. Tapi aku tidak. Aku akan terus berusaha." ketusku.

Suamiku terlihat termenung. Lalu kemudian, dia ikut membantu mendorong pintu jeruji ini sekuat tenaga. Terlihat bodoh memang. Tetapi bukankah kita harus terus berusaha?

"Hei! Kalian berdua! Mau mencoba kabur ya?" Satu suara mengejutkanku. Celaka, kami ketahuan. Dan, oh tidak! Dia memanggil teman-temannya.

"Lihat mereka berdua. Mereka mencoba keluar dari sini. Hahaha...  Lucu sekali."

Gerombolan itu mengelilingi kami, menertawai kami seolah kami mahluk bodoh. Padahal kami hanya ingin mempertahankan diri, ingin mencoba bertahan hidup.

"Ambil satu. Kita eksekusi sekarang juga!" kata seseorang. Oh, tidak.

"Kau menjauh sayang, biar aku yang menghadapi mereka." kata suamiku. Airmataku bercucuran.

Kulihat suamiku menghadang mereka. Tapi apalah daya, dia hanya sendiri. Mereka memegangnya bersama-sama. Mengunci tubuhnya dalam sekali renggut.

"Abaaang!" Jeritku histeris. Melihat mereka membuat suamiku tak berdaya.

"Ambil senjataku!" teriak seseorang.

Ya Tuhan. Aku tak kuat lagi. Lihat mereka...  Aaargh! Tidaaaak...  Mereka, mereka menggorok lehernya. Di depan mataku. Dasar manusia-manusia laknat! Sekarang mereka bahkan menyiramnya dengan air panas. Keji. Aku tak ingin melihat lagi. Aku tak sanggup melihat lagi.

Kututup mataku yang bercucuran air mata. Ah, Abang. Sepertinya sebentar lagi aku kehilangan kewarasanku.

TRAK!
TRAK!

Aku mengintip ke arah datangnya suara. Di sana mereka sedang mencincang tubuh telanjang suamiku. Gila! Mereka membelah perut dan mengeluarkan isinya. Mencincangnya menjadi potongan-potongan kecil dan memercikinya dengan perasan lemon.

Dapatkah kau bayangkan pedihnya? Aku tidak. Sebab aku sudah kehilangan kesadaranku saat seseorang berteriak keras.

"Bebeknya sudah siap, mana bumbu rica-ricanya?" Orang itu membawa potongan-potongan tubuh suamiku sambil bersenandung riang.

Potong bebek angsa
Masak dikuali
Nona minta dansa
Dansa empat kali...

Jumat, 20 Desember 2019

P E N U N G G U

PENUNGGU
Oleh Lily N. D. Madjid


Hari ini adalah hari pertamaku tinggal di rumah baru, di kota yang juga baru. Aku baru saja dimutasi ke kota  ini. Saat pindah, kuboyong serta keluarga kecilku. Amarylis, istriku, tidak mengeluh. Dia dengan lapang dada menerima kepindahan kami ke kota kecil ini. Begitu juga Sakti, putra semata wayang kami yang masih berusia balita. Dia malah terlihat antusias sekali.

“Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku….”

Aku menggeliat. Suara nyanyian kecil Sakti menyusup ke gendang telingaku. Ah, sudah bangun rupanya bocah itu. Kucoba memicingkan mataku yang masih terasa berat. Bocah kecil itu masih meringkuk di sudut kasur kami. Tetapi matanya sudah terbuka lebar. Mulut kecilnya bersenandung tanpa henti.

“Papa,” sapanya setelah menyadari aku memandangnya. “Papa, aku mau mandi.” Sakti bangkit dan mendekat. Aku kembali menggeliat.

“Sama mama, ya?”

“Mamanya mana?”

“Coba Sakti cari mama di dapur,” kataku sambil kembali memejamkan mata. Sungguh aku masih mengantuk. Kegiatan pindahan kemarin sangat menguras tenaga. Sakti turun dari tempat tidur, lalu menghilang di balik pintu kamar.

“Mamaaa … Mama, aku mau mandi!” teriak bocah kecil itu. Tidak lama kudengar suara siraman air di kamar mandi, ditingkahi senandung Sakti bernyanyi.

Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku….”

*****

Aku baru saja akan kembali terlelap saat kusadari satu sosok berdiri di ambang pintu kamar. Amarylis. Ia memandangiku sambil tersenyum.

“Sakti mandi sendiri?” Tanyaku. Ia mengangguk lalu melangkah mendekat. Anggun sekali caranya berjalan. Di sisi pembaringan dia berdiri memandangiku lekat. Masih dengan senyum yang mengembang.

“Kenapa?” tanyaku. Tidak biasanya dia bersikap malu-malu seperti itu. Amaryllis hanya menggeleng. “Sini, temani aku di sini.” Istriku mendekat. Memelukku erat sambil mengecup dua pipiku. Matanya yang berbinar menatapku lekat. Aku balas mendekap dan menciumi wajahnya. Tubuhnya.

“Mmm … Kamu pakai parfum baru, ya?” gumamku. Rasanya sebelumnya Amarylis tak pernah memakai parfum beraroma lembut melati seperti ini.” Dia tak menjawab. Hanya tersenyum. Semakin gemas aku dibuatnya. Tapi aktivitasku terganggu oleh suara berkelontang keras dari arah kamar mandi. Aku terlonjak kaget.

“Sakti …” Aku dan istriku saling pandang.

Bergegas aku berlari ke arah kamar mandi. Jangan-jangan anak itu terpeleset. Kamar mandinya memang belum sempat kubersihkan sejak kami datang kemarin. Lantainya masih licin berlumut.

“Mas! Mas Arshaka! Tolong, ini Sakti jatuh…” Aku tertegun. Itu suara teriakan Amarylis. Tapi kenapa suaranya berasal dari dapur?

Diambang pintu kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur, kulihat amarylis sedang memangku Sakti yang menggigil pucat.

“Amy,” desisku. “Bukannya kamu tadi … kita …” aku tergagap.

“Apa sih, Mas? Ini bantu anaknya!”

Walau jantungku berdebar keras, kuabaikan dulu untuk segera menolong Sakti.

“Papa, papa … “

“Sakti kenapa?”

“Sakti takut, Papa …” bisik sakti sambil melirik ke arah kamar mandi. Dia masih gemetar.

“Takut apa?” tanyaku dan istriku bersamaan.

“Nenek itu marah. Dia nggak suka dengar Sakti nyanyi lagu Bangun Tidur …”

“Nenek? Nenek Siapa?” aku dan istriku saling pandang.

“Nenek muka seram yang ada di kamar mandi. Dia galak, nggak seperti tante baik hati di kamar kita.” Katanya.

Kurasa kepalaku pening tiba-tiba.

Jumat, 29 November 2019

A M A R Y L I S

AMARYLIS
Cerpen Lily N. D. Madjid





"Aku harus membunuhnya!" Desis Amarylis. Dipejamkannya matanya rapa-rapat, sambil terus berkomat kamit mengulang kata-kata itu.

"Kau gila," bisikku. Tak percaya dengan apa yang diucapkannya.

"Sungguh, Jasmine. Aku akan membunuhnya. Aku harus membunuhnya!"

Kata-kata itu diucapkannya penuh penekanan. Matanya sudah tak lagi terpejam. Dapat kulihat sorot kesungguhan di sana. Aku sampai bergidig ngeri melihatnya. Tak pernah Amarylis terlihat seserius ini sebelumnya.

"Pikirkan lagi. Apa perlu kau bertindak sejauh itu?"

"Jasmine! Ini sudah kuputuskan. Aku tidak bisa terus seperti ini."

"Katamu kau bahagia dengan hadirnya dia dalam hidupmu."

"Memang. Ah, kau tau, getar sayap kupu-kupu kembali kurasakan dalam dadaku sejak kehadirannya. Semangatku, gairah hidupku... Semua. Semua yang selama ini tak pernah kurasakan lagi, muncul sejak dia hadir...."

Amarylis memejamkan matanya lagi. Seolah sedang merasakan semua yang bergejolak dalam jiwanya.

"Ah, aku memujanya, Jasmine. Aku memujanya." Segaris senyum tipis terukir dibibir.

Amarylis lalu membuka matanya. Pandangannya sendu. Dia benar-benar berada dalam dilema.

"Kau berhak bahagia, Amy," kataku. Ia malah menggeleng kuat.

"Tapi Jasmine, bagaimanapun aku perempuan bersuami. Aku tahu ini salah...."

"Tapi suamimu itu memang bajingan. Dia yang pantas kau bunuh, bukan  Arshaka!" Geramku. Kebencianku pada Mahendra suami Amarylis memang sudah sampai ke ubun-ubun. Dia memperlakukan istrinya seenaknya saja. Tangis dan tangis saja yang sehari-hari kudapati dari sahabatku karena perlakuannya.

"A ... Ap ... Apa yang kau katakan, Jas? Mem... Membunuh Mahendra?" Keterkejutan yang luar biasa tergambar di wajah pucat Amarylis.

"Ya. Dia yang lebih pantas mati daripada Arshaka," kataku. Wajah Amarylis semakin memucat.

"Kenapa harus ada yang mati?"

"Hah? Bukankah tadi kau sendiri yang mengatakan akan membunuh Arshaka?"

"Jasmine," Amarylis termangu, "bukan itu maksudku. Bukan Arshaka yang ingin kubunuh. Tapi ini," Amarylis menunjuk dadanya sendiri. "Rasa cintaku pada Arshaka yang ingin kubunuh. Aku tak ingin semua berlanjut terlalu jauh," bisiknya.

 Aku pun mematung di tempatku berdiri.
"Oh...."

TERROR DI HOOGE BURGERE SCHOOL

TERROR DI HOOGE BURGERE SCHOOL
Cerpen Lily N. D. Madjid
#urban_legend



"Bim, pssstt ... Bim!"
Adri berbisik. Tetapi sosok yang berjalan di depannya terus saja melangkah.

"Bima! Woi! Tungguin gue!"

Sosok di depan berbalik sambil menaruh jari telunjuknya di depan bibir.

"Ck! Ngapain sih Lu berisik gitu?" Desis Bima kesal.

"Lu cepet banget jalannya. Tungguin gue ngapa?"

"Ya, elaaah, Bro. Makin cepat makin baik kali."

Tak urung Bima menghentikan langkahnya menunggu Adri yang nyengir lebar melihat tampang Bima.

"Lu takut ya? Ngaku aja deh, Bim. Jadi kita tinggal balik, trus lu traktir gue di Jiganasuki sesuai kesepakatan."

"Ish! Takut apaan? Lu kali yang takut." Bima menyangkal. Walau wajahnya menunjukkan hal sebaliknya.

Ya. Saat ini mereka berdua sedang melakukan uji nyali di sebuah sekolah pavorit di kota Bandung yang dulunya bernama Hooge Burgere School.

Konon, kalau kita berjalan memutari sekolah itu sebanyak tiga kali di malam hari, hantu wanita Belanda bernama Nancy akan muncul.

"Buruan, Dri."

"Ahaha ... Tuh kan, Lu sebenarnya mau cepat pergi dari sini kan? Udahlah nyerah aja," ejek Adri sambil tertawa kecil.

"Sialan, Lu! Gue nggak takut, cuma kebelet pipis doang. Hayu ah, buru!"

"Sabar, Bim, sabar. Hahaha ... Eh, omong-omong, kita ini putaran ke dua atau ke tiga sih?" Adri berhenti lagi. Mengingat-ingat.

"Lha, kan tugas Lu buat ngitung." Bima kesal. Matanya memandang sekeliling.

Di sekitarnya sunyi senyap. Sangat mencekam. Bahkan angin pun seperti berhenti berhembus. Bulu kuduk Bima meremang. Dia bergidig ngeri.

"Ya ampun. Gue kok merinding, Dri. Jangan-jangan kita emang udah tiga putaran. Trus, Mevrouw Nancy sebentar lagi muncul." Suara Bima bergetar.

"Seingat gue sih belum deh, masih satu putaran lagi,  terus baru ...."

Adri tak menyelesaikan kalimatnya, sebab sesuatu terasa menyentuh bahunya. Begitu juga dengan Bima. Keduanya menahan nafas beberapa waktu.

Bima melirik ke arah bahunya. Satu tangan hitam besar berbulu lebat bertengger di sana. O, tidak. Ini jelas bukan tangan Mevrouw Nancy. Ini mungkin Genderu ....

"Aaaaaa ...." Teriak Bima histeris sebelum menggelosor lemas dan membuat Adri panik.

"Jang, kunaon eta babaturanna?" (1) Satu suara bertanya. Adri menoleh. Rupanya si pemilik tangan tadi.

"Eh, Pak Satpam? Euuu ... Teu terang, Pak. Ngadadak weh sapertos kieu." (2)

"Euleuh? Hayu atuh urang bawa ka Pos," (3)ajak Pak Satpam sambil mencoba membopong Bima. Adri segera membantu.

"Naaa ... Atuh si ujang mah, nanaonan atuh tengah peuting kieu ngadon ngurilingan sakola? Siga teu aya gawe wae ...."(4) Gerutu pak satpam sambil bersusah payah memapah Bima yang belum juga sadar.

Tamat.

Terjemahan:

1) Nak, kenapa itu temannya?
2) Eh, Pak Satpam. Nggak tahu, Pak. Tiba-tiba aja begini.
3) wah? Kalau begitu ayo kita bawa ke pos.
4) lagian si ujang mah, ngapain juga keluyuran di sekolah tengah malam begini. Kaya yang nggak ada kerjaan aja.

Sabtu, 23 November 2019

R I N D U

RINDU
Cerpen Lily N. D. Madjid



Perempuan berusia senja itu duduk di sana, di teras rumahnya. Ada resah terbaca dalam bahasa tubuhnya. Tangannya yang lincah menari-nari di antara benang dan hakken kayu berwarna madu.

Sesekali wajahnya terangkat. Pandang matanya bergerilya, mencari-cari entah apa, di jalan lengang depan rumahnya.

Walau demikian jari-jarinya masih juga menari. Seperti memiliki mata sendiri, mengaitkan rantai demi rantai benang rajut sehalus beledu. Merendanya, menjadi helai-helai kain lembut.

"Ah, kemana dia?"

Terdengar desahnya. Matanya masih saja menatap, penuh harap. Sesekali pandangannya berpindah ke atas sana. Ke arah langit yang mulai gelap. Awan memekat. Udara mulai memberat.

"Hmmm... Lelaki tua itu. Selalu saja tak kenal waktu. Tak dilihatnyakah, hujan akan turun," Gerutunya.

Sejenak matanya teralih pada gumpal benang di tangannya. Lalu ia mengambil benang lain. Kali ini berwarna merah bunga angsoka.

Mulai dirajutnya benang itu. Berselang-seling dengan warna sebelumnya.

"Mama!"

Sebuah suara memanggilnya dari dalam rumah. Memintanya masuk, karena hujan mulai tercurah.

Tetapi dia masih enggan beranjak dari sana. Matanya kembali menatap ke arah jalan yang mulai dibasahi air hujan.

"Ah, ke mana dia?"

Matanya kini memandang resah. Dadanya mulai buncah. Ia tersaput oleh gelisah. Pikirannya mengembara pada satu sosok saja.

"Mama ...."

Satu sentuhan menyentakkan lamunannya. Ia menoleh. Wajah dengan gurat khawatir menatapnya.

"Hujannya deras. Mama masuk ya. Di sini dingin sekali." Anak gadisnya mencoba memapahnya.

"Sebentar saja. Biar mama di sini sebentar saja."

"Mama mau apa? Lihat, tempias air hujan membasahi rambut Mama."

"Sebentar lagi. Lihat ini, sweater yang kurajut untuk papamu sudah hampir jadi. Kalau dia datang, akan kuberikan. Dia mungkin kehujanan sekarang," katanya.

Putrinya tertegun menatapnya. Ada riak di matanya yang perlahan menggenang.

"Mama...." Bisiknya sambil berusaha melukis segurat senyuman. "Papa sudah tenang sekarang. Dia tidak mungkin kehujanan. Mama masuk ya."

Dipapahnya sang bunda yang masih ingin bertahan.

*****     *****     *****

Jumat, 11 Oktober 2019

TAK LEKANG OLEH WAKTU

TAK LEKANG OLEH WAKTU
Cerpen Lily N. D. Madjid




Mata tua itu berbinar. Senyum simpul tak lepas dari bibirnya yang sedang mengalirkan kisah dari masa lalu. Bersamaan dengan itu, tangannya tetap lincah menyiangi sayuran di atas tampah.

Aku yang saat itu mendengarkan ceritanya ikut tersenyum. Memandang lekat wajahnya yang jelas sekali memancarkan rona bahagia.

Sebenarnya aku tidak terlalu memperhatikan lagi alur kisah yang sedang ia ceritakan. Karena ini bukan kali pertama aku mendengarnya. Aku lebih tertarik untuk mengamati raut wajahnya saat bercerita.

Dia induk semangku. Pemilik rumah kost tempat aku tinggal. Kami biasa memanggilnya Uti, karena begitulah ia ingin kami memanggilnya. Panggilan singkat dari eyang uti atau eyang putri.

Usia Uti tidak muda lagi, tentu saja. Pertengahan enam puluh, kukira. Bisa jadi lebih. Ia berpostur sedang, cenderung gemuk. Rambut beruban di kepalanya mulai menipis. Selalu digelungkan di puncak kepala.

Ia juga selalu rapi. Selalu mengenakan mantel harian berwarna merah bata yang mulai kusam melengkapi daster batiknya.

Uti sangat senang bercerita. Terutama tentang kisah hidupnya. Setiap kali ada kesempatan ia selalu bersemangat menceritakan kembali kisah-kisahnya. Tak peduli kami--anak-anak kostnya--sudah bosan mendengar cerita yang sama, ia tetap semangat berkisah. Mengingat faktor usia, bisa saja sih, ia sudah lupa kalau ia pernah menceritakan hal itu pada kami.

Kisah yang cukup sering kudengar adalah kisahnya dengan Mbah Parto, suaminya saat ini, alias bapak kost kami.

Konon menurut Uti, ia dan Mbah Parto telah menjalin kisah kasih sejak mereka masih sangat belia.

"Dulu kalau kami pacaran tidak seperti kalian sekarang." katanya sambil tertawa. Dulu sekali, saat pertama kali menceritakan kisah ini pada kami.

"Memangnya gimana, Ti?"

"Jaman Uti dulu, kalau mau ketemu itu, diam-diam. Ndak terang-terangan macam kalian. Sembunyi-sembunyi. Malu kalau dilihat orang."

"Wah, nggak asyik dong, Ti, kalau begitu."

"Ya, begitu itu." Uti terkekeh. "Pernah aku sama bapak itu janji mau ke pantai. Kami ketemu di suatu tempat. Aku datang duluan, sudah cantik. Pakai baju putih, rambutku kujalin. Kepang dua. Ndak lama trus bapak datang, pakai sepeda. Aku diboncengnya." kata Uti.

Kuamati wajah Uti yang menunduk, ia tersipu-sipu malu. Teman-temanku riuh menggoda.

"Senang dong, Ti?"

"Yo seneng. Ada takutnya juga, takut dilihat orang. Aku kan malu kalau ketahuan berdua-duaan begitu."

"Aciee, cieeee... Uti. Trus, trus, Ti?"

"Terus ya kami ke pantai. Jalan-jalan, duduk-duduk, sudah itu pulang."

Kisah selanjutnya berdasarkan cerita Uti, tidak selalu menyenangkan. Konon orang tua Mbah Parto malah menjodohkan si Mbah dengan wanita lain. Mereka pun putus hubungan.

Mbah Parto menikah dengan wanita pilihan orangtuanya. Tidak lama Uti pun menikah dengan laki-laki lain. Aku kurang jelas juga, apakah Uti menikah karena dijodohkan atau bagaimana.

Satu hal yang jelas, mereka, Uti dan Mbah Parto berpisah, membangun keluarga masing-masing. Jarak pun ikut memisahkan mereka, sebab setelah menikah, Uti dan suaminya merantau ke pulau seberang.

Berat sepertinya. Itu dapat kulihat dari gurat wajah Uti saat kisahnya sampai di bagian tersebut. Tetapi walaupun berat, keduanya tetap mampu bertahan. Bahkan melangkah ke depan menapaki garis takdir perjalanan hidup masing-masing, meski tak sesuai keinginan.

Hidup toh harus terus berjalan, bukan? Tak bisa mereka terus berdiam, menyalahkan takdir, apalagi menyalahkan Tuhan.

Berpuluh tahun mereka berpisah. Tak pernah saling berkabar. Menjalani kehidupan mereka sendiri-sendiri. Beranak pinak. Bahkan hingga mereka masing-masing memiliki cucu.

"Sewaktu istri bapak meninggal, dia lalu mulai cari tahu keberadaanku. Dapat nomor teleponku, dan menghubungi." mata Uti kulihat menerawang.

"Lalu, Ti?"

"Waktu itu, suamiku sudah lebih dulu meninggal dibanding istri bapak. Begitu tahu aku sudah single, bapak nyusul aku ke pulau seberang."

"Ce el be ka dong, Ti." riuh teman-temanku menimpali.

"Heheheh... Apa itu celebeka?" Uti terkekeh.

"Ya elaaah, Uti. Ce el be ka, Ti, bukan celebeka."

"Trus, trus, Ti?"

"Terus opo?" Uti masih terkekeh. "Terus ya aku nikah sama bapak. Terus aku di bawa bapak ke sini. Terus ketemu kalian-kalian ini." Uti terkekeh-kekeh lalu melanjutkan aktivitasnya memasak.

Walaupun sudah sepuh, untuk urusan dapur Uti masih sangat gesit. Bahkan di rumah ini ia menawarkan diri mengurus makan harian kami para penghuni kost. Pembayarannya boleh dilakukan saat transferan tiba. Tak jarang Uti juga memberi diskon saat akhir bulan.

"Nggak usah terlalu dipikirkan." katanya suatu waktu, saat aku bertanya apa dengan begitu dia tidak rugi jadinya.

"Aku biasa mengurus cucu-cucuku di pulau seberang. Bertemu kalian mengobati rinduku pada mereka."

Aku terdiam. Segurat sendu sekejap kutemukan di matanya yang biasa bersinar.

"Sebenarnya anak-anakku ndak suka aku ke sini. Mereka bilang, untuk apa aku menikahi bapak yang sudah tua dan sakit-sakitan. Hanya menambah beban. Kata mereka, seharusnya aku di seberang saja bersama mereka. Menghabiskan masa tuaku di tengah anak dan cucu-cucuku sendiri. Bukannya mengurus orang lain di sini..."

Sejenak Uti terdiam. Kemudian ia menoleh ke arahku, menatapku dalam.

"Tapi kalau kau benar-benar mencintai seseorang, apapun akan kau lakukan, bukan?"

~Tamat~

Jumlah kata: Tidak dihitung 🤭🤭🤭

PUISI RAKYAT (PUISI LAMA): PANTUN

      KOMPETENSI DASAR 3.9 Mengidentifikasi informasi (pesan, rima, dan pilihan kata) dari puisi rakyat (pantun, syair, dan bentuk puis...