#NAD_30HariMenulis2020
#Hari_ke_5
#NomorAbsen_222
Jumlah kata : 953 kata (hanya isi)
CERITA PENGANTAR TIDUR AYLA
"Pada zaman dahulu kala--"
"Mama, Ayla bosan!" Tiba-tiba saja Ayla menyela kalimatku.
"Eh?" Aku mengernyit heran.
"Pasti mama mau cerita kancil lagi, 'kan?"
"Bagaimana kamu tahu?" Aku mengubah posisiku menghadap ke arah Ayla.
"Itu tadi." Bibir mungi Ayla mengerucut.
"Itu apa?"
"Mama mengawali ceritanya dengan 'pada jaman dahulu kala,' itu pasti cerita kancil. Seperti cerita Mama kemarin-kemarin," protes gadis kecil itu. Aku terbahak.
"Jadi, kamu tidak mau kalau mama cerita kancil?" Kucubit ujung hidungnya dengan gemas.
"Tidak. Ayla bosan!" Ayla mengelak dari cubitanku yang berikutnya.
"Lalu kamu mau Mama cerita apa?"
"Mmm ... sebentar, Ayla pikir dulu." Mata Ayla mengerjap. Ia tampak berpikir keras.
"Apa?" Aku tak sabar.
"Mmm ... Ayla nggak tahu, Mama. Pokoknya Ayla mau Mama cerita yang seru. Jangan kancil melulu.
Lagi-lagi aku tergelak sambil mengacak rambut ikalnya. Bocah enam tahun itu ikut tertawa.
"Oke. Dengar ya, pada suatu hari--"
"Aaah, Mama jangan cerita itu." Lagi-lagi Ayla menyela kalimatku.
"Kenapa? Ini bukan cerita kancil," kataku.
"Iya, tahu, itu cerita kelinci lomba lari dengan kura-kura. Cerita itu juga sudah bosan Mama. Ayo cerita yang lain lagi." Ayla mulai merengek.
Aku menarik napas dalam-dalam sebelum mulai lagi mencoba menceritakan sebuah dongeng pada Ayla.
"Pada suatu hari di sebuah hutan ... "
"Itu cerita keluarga beruang! Ayla nggak mau!" Rengekan Ayla semakin menjadi. Fyuh, baiklah, aku menyerah.
"Mas! Mas Arshaka! Sini! Ini Ayla minta didongengi!"
Itu jurus terakhirku jika kewalahan menghadapi permintaan Ayla. Panggil saja papanya. Hahaha.
Mas Arsaka melongok dari ambang pintu. Ayla melonjak-lonjak senang menyambut kedatangannya. Aku segera saja menyingkir. Jika sudah begini, biarkan saja mereka menghabiskan waktu berdua. Aku? Ooo, aku bisa memanfaatkan waktu yang ada untuk merawat wajah atau apa di kamar sebelah. Me time. Haha.
*** *** ***
Aku baru saja akan membersihkan sisa-sisa masker di wajah saat Mas Arshaka masuk.
"Ayla sudah tidur?" tanyaku. Mas Arshaka mengangguk. "Kok lama?" Aku melirik jam yang menempel di dinding kamar. "Memang tadi cerita apa?"
"Kisah-kisah sahabat nabi."
"Waaah, untung ada kamu, Mas. Ayla sekarang nggak mau lagi diceritai dongeng-dongeng anak."
"Iya. Dia sudah mulai kritis. Tadi waktu aku sedang cerita pun banyak disela oleh Ayla. Bertanya itu ini, ini itu. Cerewetnya persis kamu." Aku tergelak mendengar ucapan Mas Arshaka.
"Makanya aku kewalahan akhir-akhir ini menghadapi Ayla menjelang waktu tidurnya," keluhku.
"Kenapa?" Mas Arshaka membaringkan tubuhnya di atas kasur. "Tinggal baca saja banyak buku--yang sesuai dengan usia Ayla tentu--lalu nanti kamu ceritakan ulang."
"Itu yang agak sulit, Mas. Aku nggak punya waktu untuk bisa membaca banyak buku."
"Nggak punya waktu atau nggak mau menyisihkan waktu?" Ejek Mas Arshaka sambil tersenyum lebar. Kulempar bantal ke arahnya. Dia mengelak sambil tertawa-tawa.
*** *** ***
"Yakin, nih, Ayla mau nginap di rumah Bimby seminggu?" Aku kembali bertanya pada Ayla saat mengantarnya ke teras rumah. Ayla mengangguk kuat.
Di halaman, adikku Kenanga dan anaknya Bimby menyambut Ayla.
"Udah, sih, Kak. Kayak mau melepas Ayla kemana aja. Dia kan cuma ke rumahku. Lagi pula hanya seminggu." katanya.
"Iya, iya, tapi nanti kalau dia rewel atau apa, telpon aku."
"Aman. Tapi kayaknya nggak deh. Lihat itu, malah sepertinya Ayla sudah nggak sabar."
"Yah, pokoknya, aku titip Ayla. Kalau ada apa-apa, kamu telepon aku."
"Siap! Aku pergi dulu, Kak. Eh, Ayla, salam dulu sama Mama ya." Kenanga mengingatkan Alya.
"Mama, Alya pergi ke rumah Bimby dulu ya. Daah, Mama!"
"Daah, Ayla. Baik-baik ya, di rumah Bimby. Nurut sama Tante!" seruku.
Aku masih melambaikan tangan saat mobil yang dikemudikan Kenanga menghilang di tikungan jalan. Setelahnya aku berbalik. Baru saja Ayla pergi, tapi rasa rindu sudah menyergap. Apalagi saat melihat rumah yang lengang, dengan mainan-mainan Ayla yang bertebaran di mana-mana.
Fyuh!
Ini pertama kali aku melepas Ayla jauh dariku. Untung ada Mas Arshaka yang selalu menenangkan.
"Sudahlah, biar. Sesekali Ayla jauh dari kita tidak apa-apa," katanya, "lagi pula, dia hanya di tempat adikmu. Bukan ke mana-mana. Lihat sisi positifnya saja."
"Apa?"
"Kamu jadi tidak perlu bingung-bingung lagi 'kan, mau bercerita apa pada Ayla sebagai pengantar tidurnya. Satu minggu bebas tugas loh." Mas Arshaka terbahak. Aku diam, tetapi dalam hati bersorak senang. Betul juga yang Mas Arshaka katakan.
Ternyata memang benar, aku tidak perlu merisaukan Ayla yang menginap di rumah adikku. Setiap hari Kenanga menelpon, melaporkan bahwa Ayla baik-baik saja. Saat kami melakukan video call, kulihat Ayla juga sangat ceria. Jadi ya, kuakui, kekhawatiranku memang berlebihan.
Satu minggu berlalu tanpa terasa. Mas Arshaka menjemput kembali Ayla. Bocah itu berlari sambil berteriak memanggilku saat ia tiba di rumah. Kami berpelukan erat seperti sudah seabad tak berjumpa.
Selama satu minggu ini, aku sudah membaca banyak kisah. Persediaan jika nanti Ayla memintaku bercerita menjelang dia tidur.
Waktunya tiba. Ayla sudah siap di pembaringannya. Selimut bergambar little pony sudah menyelubungi tubuh mungilnya.
"Mama, cerita dulu!"
Aha! Ini dia. Aku tersenyum lebar penuh percaya diri.
"Oke!" kataku. "Mama punya kisah yang bagus untuk Ayla."
"Oh ya?"
"Iya dong!"
"Mana?"
"Dengarkan ya. Alkisah, di suatu negeri di timur tengah sana--"
"Mama mau cerita tentang Aladin dan lampu wasiat?"
"Hah? Kok Ayla tahu?"
"Papa sudah pernah cerita itu," celetuk Ayla.
"Kalau kisah sahabat nabi?" tanyaku.
"Sahabat yang mana? Bilal sudah, Abbas ibnu firnas, Zaid bin Haritsah, Ham--"
"Semua sudah Ayla dengar?"
"Iya. Papa yang cerita. Mama cerita yang lain aja. Atau cerita-cerita kayak yang diceritakan Tante kemarin. Iya, Ma yang itu aja."
"Cerita apa?"
"Cerita seru, Ma. Ayla suka."
"Memangnya kemarin Tante Kenanga cerita apa?" Aku semakin penasaran.
"Ada banyak, Ma. Perebut Tanah Wakaf Mati Tersengat Listrik, Jenazahnya Hanyut; Penyiksa Anak Yatim Mati dengan Perut Membengkak Disengat Ribuan Tawon, Kerandanya Terkena Badai--"
"Stop, stop Ayla!" kataku. Ayla berhenti bicara. Aku memberi isyarat agar dia tetap di tempat. Kusambar ponsel lalu bergegas ke luar sambil menekan nomor Kenanga.
"Assalamualaikum! Halo, Ka--"
"Kenapa anakku kamu cekokin cerita-cerita azab ala sinetron ikan terbang?"
Tuuut, tuut, tuuut
Apa dimatikan?
"Awas kamu, Kenangaaaa!"
*Tumit*
Tampilkan postingan dengan label obrolan kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label obrolan kecil. Tampilkan semua postingan
Jumat, 05 Juni 2020
Kamis, 19 Desember 2019
GIRI DAN JATI
Giri dan Jati
Cerpen Lily N. D. Madjid
Giri melangkah gontai, menyusuri lorong-lorong pasar yang sepi. Toko-toko sudah tutup. Ternyata tidak mudah menjadi pemulung. Setiap pemulung sudah memiliki daerah operasi sendiri. Giri yang baru kali ini turun ke pasar berkali-kali ditegur. Mulai dari teguran pelan hingga bentakan kasar.
Begitupun dengan tempat bermalam. Tidak semua emper toko bisa dijadikan tempat melepas lelah. Empat kali Giri diusir saat merebahkan diri melepaskan penatnya. Ternyata hidup di jalan tidak semudah yang Giri bayangkan.
*****
“Kamu anak baru?”
Giri terlonjak. Dia baru saja merebahkan diri di sudut terdalam pasar. Tempatnya sepi. Giri tidak melihat sesiapa di sana tadi.
“Ya.” Gumam Giri setelah reda dari keterkejutannya. Seorang anak duduk di bagian tergelap.
“Dari mana?”
“Aku lari dari rumah.”
“Lari?”
“Ayah tiriku pengangguran kejam. Aku tak tahan disiksa.”
“Hmmm …”
Giri memicingkan matanya. Tetapi malam mengaburkan pandangan Giri. Hanya siluet anak itu yang terlihat.
“Kamu sudah lama di sini?”
Tak ada jawaban. Samar-samar Giri melihat anggukannya.
“Namamu siapa?”
“Jati.”
“Aku Giri.” Giri mengenalkan diri. “Mudah-mudahan kamu tidak mengusirku. Aku tak kuat lagi jika harus mencari tempat lain untuk bermalam.”
“Kamu mau tidur di sini?”
“Kamu keberatan?”
“Tidak. Aku senang. Tapi tempat ini sepi sekali. Siang hari pun orang tak kemari.”
“Kenapa?”
“Kamu tidak tahu?”
“Apa?”
“Ah, ya. Kamu pendatang baru.”
“Memangnya kenapa?” Giri penasaran. Jati tak langsung menjawab. “Jati? Ayo ceritakan.”
“Nanti kamu takut mendengarnya.”
“Aku pemberani. Makanya kuputuskan meninggalkan rumah.”
“Tidak. Kamu takut pada ayah tirimu, makanya kamu lari dari rumah.” Jati terkekeh. Giri mendengus.
“Ceritakan saja. Kenapa orang-orang tak pernah lagi datang kemari.”
“Orang-orang tak berani datang kemari. Sejak … ditemukan mayat korban mutilasi di lorong ini. Hanya potongan-potongan tubuhnya saja. Kepalanya tak pernah ditemukan.”
“Ka … kapan kejadiannya?” Suara Giri bergetar.
“Sudah lama. Tapi orang-orang tak mau lagi menginjak tempat ini. Toko-tokonya saja sudah lama tutup.” Kata Jati pelan. “Hei, kamu ketakutan, ‘kan?” katanya lagi. Lalu dia terkekeh pelan.
“Tidak. Aku Cuma lelah. Aku mau tidur.” Giri berkelit. Dia rebah di lantai yang dingin. Meringkuk seperti bayi agar tak kedinginan. “Kamu belum mengantuk?” tanyanya. Jati tidak menjawab. Giri malah mendengarnya bersenandung pelan.
Topi saya bundar,
Bundar topi saya
Kalau tidak bundar
Bukan topi saya …
“Kenapa kamu tidak bergeser ke sini? Di situ gelap sekali.” Giri menguap. Dilihatnya Jati mendekat. Kini Giri bisa melihat lebih jelas lagi sosok Jati. Anak itu tinggi sekali. Rambutnya ikal. Kulitnya putih pucat. Atau karena penerangan yang tak memadai, maka ia terlihat pucat? Di kepalanya terlihat bertengger sebuah topi fedora berwarna putih.
“Topimu bagus,” gumam Giri.
“Oya? aku malah tidak menyukainya. Kamu boleh ambil kalau kamu mau.” Jati memutar-mutar topi di kepalanya. “Topi ini milik lelaki itu. Aku ambil.”
“Lelaki itu?”
“Iya. Lelaki penculik yang membunuhku. Aku sempat menariknya sebelum dia menggorok leherku.” Kata Jati pelan. Giri ternganga mendengarnya. Apalagi saat dilihatnya Jati melepas topinya dan mengulurkannya pada Giri. “Ini untukmu saja.” Kepala Jati masih menempel pada topi yang kini menggeletak di lantai dekat Giri berbaring. Mulut di kepala itu bersenandung pelan.
Topi saya bundar,
Bundar topi saya
Kalau tidak bundar
Bukan topi saya …
Cerpen Lily N. D. Madjid
Giri melangkah gontai, menyusuri lorong-lorong pasar yang sepi. Toko-toko sudah tutup. Ternyata tidak mudah menjadi pemulung. Setiap pemulung sudah memiliki daerah operasi sendiri. Giri yang baru kali ini turun ke pasar berkali-kali ditegur. Mulai dari teguran pelan hingga bentakan kasar.
Begitupun dengan tempat bermalam. Tidak semua emper toko bisa dijadikan tempat melepas lelah. Empat kali Giri diusir saat merebahkan diri melepaskan penatnya. Ternyata hidup di jalan tidak semudah yang Giri bayangkan.
*****
“Kamu anak baru?”
Giri terlonjak. Dia baru saja merebahkan diri di sudut terdalam pasar. Tempatnya sepi. Giri tidak melihat sesiapa di sana tadi.
“Ya.” Gumam Giri setelah reda dari keterkejutannya. Seorang anak duduk di bagian tergelap.
“Dari mana?”
“Aku lari dari rumah.”
“Lari?”
“Ayah tiriku pengangguran kejam. Aku tak tahan disiksa.”
“Hmmm …”
Giri memicingkan matanya. Tetapi malam mengaburkan pandangan Giri. Hanya siluet anak itu yang terlihat.
“Kamu sudah lama di sini?”
Tak ada jawaban. Samar-samar Giri melihat anggukannya.
“Namamu siapa?”
“Jati.”
“Aku Giri.” Giri mengenalkan diri. “Mudah-mudahan kamu tidak mengusirku. Aku tak kuat lagi jika harus mencari tempat lain untuk bermalam.”
“Kamu mau tidur di sini?”
“Kamu keberatan?”
“Tidak. Aku senang. Tapi tempat ini sepi sekali. Siang hari pun orang tak kemari.”
“Kenapa?”
“Kamu tidak tahu?”
“Apa?”
“Ah, ya. Kamu pendatang baru.”
“Memangnya kenapa?” Giri penasaran. Jati tak langsung menjawab. “Jati? Ayo ceritakan.”
“Nanti kamu takut mendengarnya.”
“Aku pemberani. Makanya kuputuskan meninggalkan rumah.”
“Tidak. Kamu takut pada ayah tirimu, makanya kamu lari dari rumah.” Jati terkekeh. Giri mendengus.
“Ceritakan saja. Kenapa orang-orang tak pernah lagi datang kemari.”
“Orang-orang tak berani datang kemari. Sejak … ditemukan mayat korban mutilasi di lorong ini. Hanya potongan-potongan tubuhnya saja. Kepalanya tak pernah ditemukan.”
“Ka … kapan kejadiannya?” Suara Giri bergetar.
“Sudah lama. Tapi orang-orang tak mau lagi menginjak tempat ini. Toko-tokonya saja sudah lama tutup.” Kata Jati pelan. “Hei, kamu ketakutan, ‘kan?” katanya lagi. Lalu dia terkekeh pelan.
“Tidak. Aku Cuma lelah. Aku mau tidur.” Giri berkelit. Dia rebah di lantai yang dingin. Meringkuk seperti bayi agar tak kedinginan. “Kamu belum mengantuk?” tanyanya. Jati tidak menjawab. Giri malah mendengarnya bersenandung pelan.
Topi saya bundar,
Bundar topi saya
Kalau tidak bundar
Bukan topi saya …
“Kenapa kamu tidak bergeser ke sini? Di situ gelap sekali.” Giri menguap. Dilihatnya Jati mendekat. Kini Giri bisa melihat lebih jelas lagi sosok Jati. Anak itu tinggi sekali. Rambutnya ikal. Kulitnya putih pucat. Atau karena penerangan yang tak memadai, maka ia terlihat pucat? Di kepalanya terlihat bertengger sebuah topi fedora berwarna putih.
“Topimu bagus,” gumam Giri.
“Oya? aku malah tidak menyukainya. Kamu boleh ambil kalau kamu mau.” Jati memutar-mutar topi di kepalanya. “Topi ini milik lelaki itu. Aku ambil.”
“Lelaki itu?”
“Iya. Lelaki penculik yang membunuhku. Aku sempat menariknya sebelum dia menggorok leherku.” Kata Jati pelan. Giri ternganga mendengarnya. Apalagi saat dilihatnya Jati melepas topinya dan mengulurkannya pada Giri. “Ini untukmu saja.” Kepala Jati masih menempel pada topi yang kini menggeletak di lantai dekat Giri berbaring. Mulut di kepala itu bersenandung pelan.
Topi saya bundar,
Bundar topi saya
Kalau tidak bundar
Bukan topi saya …
Sabtu, 23 November 2019
T A R G E T
TARGET
Cerpen Lily N. D. Madjid
"Aha! Kelar...." Bima berseru gembira. Tidak itu saja, dia melonjak-lonjak kegirangan seperti kanak-kanak yang baru menang lotere.
"Eh? Kenapa Lu, Bro?" Adri teman sekamar sekaligus sobat karibnya sejak SMA--satu kelas, bahkan kuliah pun di kampus dan jurusan yang sama--mengernyit heran.
"Hehehe... Gue senang karena target gue untuk ikut sidang bulan Desember nanti bakal tercapai. Bab lima gue bentar lagi kelar. Nih...." Bima mendekatkan laptopnya ke arah Adri yang sedang mematut diri di depan cermin.
"Tinggal rapikan dikit lagi, verifikasi, beresin syarat-syarat lainnya, ikut sidang dan, yeaaay... Gue pun berhak menyandang gelar sarjana. Waaawww!"
"Ya nggak usah jejingkrakan kayak gitu juga kali, Bro." Adri terbahak keras.
"Loh, Elu gak usah mengekang kebebasan berekspresi orang gitu dong, Bro. Ini, ekspresi kebahagiaan gue karena berhasil memenuhi target ikut sidang bulan Desember. Target kita bersama loh itu, Bro. Dan sekarang target itu berhasil gue penuhi. Seneng dong gue...."
"Ya deh, iya... gue ikut seneng. Dobel, dobel seneng malah. Pertama, karena akhirnya target lu sidang bulan Desember akhirnya terpenuhi. Ke dua, gue seneng karena lu nggak akan terpuruk lagi kayak Desember tahun kemarin." Adri menepuk bahu Bima sambil tersenyum.
"Aaah, perusak suasana, Lu, Bro. Kenapa lu ingetin lagi soal Desember tahun kemarin itu. Tragedi itu, Bro, tragedi. Gara-gara gue kena typhus." Bima menonjok pelan bahu Adri yang terbahak keras.
"Udah, ah. Gue ngantor dulu," Adri menyambar tas kerjanya sambil menghindar dari serangan Bima. Dia melangkah ke luar sambil menghabiskan sisa-sisa tawanya.
"Oiya, Bim," Adri berbalik, "kalau Lu nanti ketemu Pak Omar, salam dari gue ya. Bilang gue kangen bimbingan sama beliau kayak dulu. Hahaha..."
"Ah sial, Lu, Bro. Bilang aja Lu nyindir gue."
"Hahahaha... Jangan baperan gitu, Bro. Eh, gue pergi dulu ya, jangan lupa, salam buat Pak Omar."
"Minggat sana buruan!"
"Hahaha...!"
*** ***** ***
Bumi, 21 November 2019
Cerpen Lily N. D. Madjid
"Aha! Kelar...." Bima berseru gembira. Tidak itu saja, dia melonjak-lonjak kegirangan seperti kanak-kanak yang baru menang lotere.
"Eh? Kenapa Lu, Bro?" Adri teman sekamar sekaligus sobat karibnya sejak SMA--satu kelas, bahkan kuliah pun di kampus dan jurusan yang sama--mengernyit heran.
"Hehehe... Gue senang karena target gue untuk ikut sidang bulan Desember nanti bakal tercapai. Bab lima gue bentar lagi kelar. Nih...." Bima mendekatkan laptopnya ke arah Adri yang sedang mematut diri di depan cermin.
"Tinggal rapikan dikit lagi, verifikasi, beresin syarat-syarat lainnya, ikut sidang dan, yeaaay... Gue pun berhak menyandang gelar sarjana. Waaawww!"
"Ya nggak usah jejingkrakan kayak gitu juga kali, Bro." Adri terbahak keras.
"Loh, Elu gak usah mengekang kebebasan berekspresi orang gitu dong, Bro. Ini, ekspresi kebahagiaan gue karena berhasil memenuhi target ikut sidang bulan Desember. Target kita bersama loh itu, Bro. Dan sekarang target itu berhasil gue penuhi. Seneng dong gue...."
"Ya deh, iya... gue ikut seneng. Dobel, dobel seneng malah. Pertama, karena akhirnya target lu sidang bulan Desember akhirnya terpenuhi. Ke dua, gue seneng karena lu nggak akan terpuruk lagi kayak Desember tahun kemarin." Adri menepuk bahu Bima sambil tersenyum.
"Aaah, perusak suasana, Lu, Bro. Kenapa lu ingetin lagi soal Desember tahun kemarin itu. Tragedi itu, Bro, tragedi. Gara-gara gue kena typhus." Bima menonjok pelan bahu Adri yang terbahak keras.
"Udah, ah. Gue ngantor dulu," Adri menyambar tas kerjanya sambil menghindar dari serangan Bima. Dia melangkah ke luar sambil menghabiskan sisa-sisa tawanya.
"Oiya, Bim," Adri berbalik, "kalau Lu nanti ketemu Pak Omar, salam dari gue ya. Bilang gue kangen bimbingan sama beliau kayak dulu. Hahaha..."
"Ah sial, Lu, Bro. Bilang aja Lu nyindir gue."
"Hahahaha... Jangan baperan gitu, Bro. Eh, gue pergi dulu ya, jangan lupa, salam buat Pak Omar."
"Minggat sana buruan!"
"Hahaha...!"
*** ***** ***
Bumi, 21 November 2019
Selasa, 05 November 2019
RENCANA KE DUA
Hidup
selalu dipenuhi kejutan-kejutan. Hal-hal yang tidak terduga seringkali
menghampiri. Jika sudah begini, kadang apa yang sudah kita rencanakan bisa saja
buyar. Gagal total. Tak sesuai kenyataan.
Kita mungkin saja sudah menyusun
rencana-rencana hidup ke depan dengan penuh kecermatan. Membuat daftar ‘hal
yang akan kita lakukan’ dari A hingga Z, dengan tekad akan menuntaskannya. Kita
juga mungkin sering membuat ‘daftar mimpi’ yang ingin kita capai. Lalu dengan
semangat, juga tekad yang tak terpatahkan, kita berusaha keras untuk mewujudkan
semua ‘mimpi’ yang telah kita tuliskan.
Tetapi, seperti yang tadi telah kukemukakan,
hidup seringkali penuh dengan kejutan. Tidak semua yang sudah kita rencanakan
akan berjalan seperti yang kita harapkan. Jika itu yang terjadi, apa yang akan
kau lakukan? Apakah kau akan terpuruk menyesali keadaan? Atau kau akan memaki
dirimu sendiri? Atau yang lebih serius lagi, menyalahkan Tuhan?
Seorang kawan dalam sebuah obrolan
ringan berkata bahwa kita perlu memiliki rencana cadangan. Rencana ke dua dalam
menjalani kehidupan. Kau boleh saja menyebutnya plan B, plan C atau apapun.
Setelah
kupikir-pikir, sepertinya aku setuju. Rencana ke dua akan sedikit membantumu keluar
dari kebuntuan. Mengobati sedikit kekecewaan
atas suatu kegagalan. Atau yang lebih penting, rencana ke dua akan menahanmu
untuk tetap bertahan mencapai tujuan, walau dengan jalan yang berbeda.
Katanya,
dia, temanku itu, selalu memiliki rencana ke dua dalam setiap langkah hidupnya.
Misalnya, saat ini dia sedang menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi,
yang katanya itu dilakukannya sebagai ancang-ancang jika kelak dia merasa jenuh
dengan pekerjaannya yang sekarang. Pendidikan yang dia jalani saat ini, akan
memungkinkannya beralih ke jenis profesi lain, jika suatu saat diperlukan.
“Mungkin
kita merasa nyaman dengan profesi kita saat ini,” Katanya padaku saat itu, “Tetapi
apakah itu akan berlangsung selamanya? Bisa saja kan, suatu saat kita merasa
bosan. Atau bahkan, keadaan memaksa kita meninggalkan pekerjaan ini.”
Aku
termenung sejenak saat itu. Bahwa masa depan tak sepenuhnya bisa kita pastikan,
itu sudah kupahami sebelumnya. Juga, bahwa kehidupan kadang tak selalu seperti
yang kita inginkan, juga sudah kuyakini bahwa itu benar. Tetapi memikirkan bahwa
suatu saat, aku akan meninggalkan profesiku yang sekarang, dan beralih pada
profesi lain, sepertinya hanya samar-samar pernah melintas dalam pikiran. Tak pernah
kupikirkan dengan serius. Malah, hal yang sering kubayangkan adalah aku yang
akan terus menjalani profesiku ini hingga kelak masa baktiku selesai.
Tetapi
melihat kesungguhannya saat mengatakan hal itu, mau tak mau aku pun jadi ikut
memikirkan rencana ke duaku jika tidak lagi menjalani profesi ini. Coba tebak,
apa yang kemudian aku pikir akan kulakukan? Percaya atau tidak, kalau aku
berpikir untuk memilih jalan pedang dengan menulis? Errr... Jalan pedang atau jalan pena, ini ya?
Tolong
jangan tertawa seperti itu. Aku tahu kemampuan menulisku masih receh sekali. Tetapi
itu bukan halangan, bukan? Aku akan mulai mempersiapkan rencana ini dengan
lebih serius. Jika kawanku itu sampai menempuh pendidikan yang lebih tinggi
sebagai bentuk persiapan untuk rencana ke duanya. Maka aku akan serius mengasah
kemampuan menulisku sebagai persiapan rencana ke duaku itu.
Hei!
Sudah kubilang jangan mentertawaiku seperti itu. Hmmm… daripada kau tertawa
saja, bagaimana kalau kau katakan padaku, apa rencana ke dua yang pernah terpikir
di kepalamu?
Ngamprah,
5 November 2019
Langganan:
Postingan (Atom)
PUISI RAKYAT (PUISI LAMA): PANTUN
KOMPETENSI DASAR 3.9 Mengidentifikasi informasi (pesan, rima, dan pilihan kata) dari puisi rakyat (pantun, syair, dan bentuk puis...
-
KOMPETENSI DASAR 3.9 Mengidentifikasi informasi (pesan, rima, dan pilihan kata) dari puisi rakyat (pantun, syair, dan bentuk puis...
-
Ujian. Gambar ilustrasi diambil dari google Hening. Wajah-wajah tertunduk. Menatap helai demi helai kertas dengan puluhan pertany...



