Kamis, 04 Juni 2020

ALINA

#NAD_30HariMenulis2020
#Hari_ke_3
#NomorAbsen_222
Jumlah kata :  979 kata (hanya isi)

A    L     I     N     A

.

"Andai aku menjadi--"

Gumaman di bibir pucat Alina yang tengah terbaring di atas kasur tipis terputus saat pintu kamarnya terbuka secara kasar. Nyaris saja engsel-engsel pintu itu berlompatan karena dorongan kuat dari arah luar. Di balik daun pintu yang menguak, Emak  berdiri sambil bertolak pinggang. Matanya yang selalu terlihat galak memelototi Alina.

"Lagi-lagi melamun! Cepat buatkan Emak sarapan!"

Alina segera bangkit. Ia mengabaikan rasa sakit di kepalanya yang berdenyut hebat. Emak tak pernah mengenal kata menunggu. Ia pun tak ingin tangan kurus Emak mendarat di tubuh ringkihnya hanya karena ia lalai mengerjakan tugas harian.

Tidak seperti emak-emak lainnya yang penuh kasih sayang, Alina merasa emaknya begitu ringan tangan. Entahlah, mungkin ini merupakan pelampiasan rasa frustrasinya menghadapi kehidupan. Mungkin juga karena Emak sudah terlalu muak menjalani hari-hari mereka yang payah.

Bapak pergi entah ke mana saat Alina belum mampu mengingat wajahnya. Meninggalkan Emak dan dirinya dalam lubang kemiskinan. Emak harus berjibaku, berjuang, demi bertahan hidup juga membesarkan Alina yang sakit-sakitan. Kondisi inilah yang membuat Emak selalu terlihat garang. Ia bahkan membenci Alina dan mungkin menganggap kehadirannya hanya sebaga penambah beban.

Alina meletakkan sepiring nasi goreng yang masih mengepul di atas meja. Emak baru saja selesai menyusun barang dagangan ke dalam keranjang di bagian belakang sepedanya. Dia melangkah masuk, lalu duduk di satu-satunya bangku yang ada di depan meja makan kecil. Mulai menghabiskan sarapan dalam diam yang berkepanjangan.

"Bereskan semua pekerjaan rumah. Siangi sabut kelapa dalam karung di samping sana." Emak berkata datar saat sudah selesai. Alina hanya mengangguk. Dia sudah terbiasa seperti itu. Tak pernah membantah, dan tak pernah bersusah payah membuka mulutnya. Emak tidak suka. Katanya ia muak mendengar suara Alina.

Setelah Emak pergi, Alina menarik napas lega. Lebih baik bagi dirinya jika Emak berada di luar sana. Namun, bukan berarti Alina bisa bersantai. Tidak. Ia tetap harus mengerjakan semua tugas-tugasnya meski sekuat tenaga menahan sakit di kepala.

Alina menyiangi sabut-sabut kelapa di samping rumah setelah selesai dengan semua urusan rumah tangga. Ia menguraikan sabut-sabut dari kulit luarnya yang keras. Sabut-sabut itu nanti akan dianyam oleh Emak. Menjadi tambang atau keset-keset yang kemudian di jualnya di pasar kota. Jari-jari Alina mengeras dan kapalan karena pekerjaan ini, tetapi ia tidak pernah peduli.

"Alina!"

Satu suara membuat Alina sontak mendongak. Wajahnya seketika cerah. Senyum tipis tersungging dari bibir keringnya.

"Sukab!"

Alina berseru menyapa pemuda yang tadi memanggilnya. Si pemuda berjalan mendekat. Sebuah tas punggung tersandang di pundaknya. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Tampan.

Sukab adalah teman sepermainan Alina sejak kecil. Mereka juga pernah belajar bersama di sekolah, sebelum Emak memutuskan agar Alina tinggal di rumah saja setamat sekolah menengah pertama. Sukab lain lagi, ia melanjutkan sekolahnya. Dia bahkan mulai kuliah tahun ini.

"Ini! Kubawakan pesananmu." Pemuda itu mengulurkan sebuah buku ke arah Alina. Mata Alina berbinar. Sakit di kepalanya tiba-tiba seperti terlupakan. Bibir Alina mengeja judul buku yang baru saja ia terima.

"Sepotong Senja untuk Pacarku."* Alina bergumam. Kemudian pandangannya beralih pada Sukab yang masih berdiri di depannya. "Apakah ada ...." Alina menunjuk dirinya sendiri. Sukab mengerti. Pemuda itu mengangguk.

"Seperti dalam buku-bukunya yang lain, ada nama kita di sana." Sukab menjelaskan dengan penuh antusias. Ia meminta Alina membuka satu halaman dan menyuruh Alina membacanya.

"Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Lagipula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa pernah mendengar kata-kata orang lain." ** Alina membaca paragraf itu dengan suara cukup kuat. Di akhir bacaannya dia menatap Sukab dengan penuh rasa takjub. "Pengarang buku ini, dia selalu menuliskan apa yang selalu kupikirkan, Sukab. Bagaimana bisa?"

Sukab hanya mengedikkan bahunya. Namun wajahnya menampilkan satu senyuman lebar.

Ini adalah buku yang ke sekian dari pengarang yang sama, yang dipinjamkan Sukab pada Alina. Ia menyukai semua karya pengarang itu. Alasan pertama, karena pengarang itu sering menggunakan nama Alina juga Sukab sebagai tokoh pada cerita-ceritanya. Tidak selalu, tetapi cukup sering. Alasan ke dua, Alina merasa buku karya pengarang itu menakjubkan, karena  menuliskan apa yang sering muncul dalam pikirannya. Selain itu, Alina memang menganggap cerita-cerita yang ditulis oleh si pengarang memang selalu menarik.

"Sukab! Bolehkah aku bertemu dengan pengarang buku ini?"

"Hah? Untuk apa?"

"Ingin bertemu saja." Mata Alina terlihat berbinar saat mengucapkannya.

"Dia mungkin orang yang sangat sibuk."

"Jadi, aku tidak bisa menemuinya?"

"Mmm ... aku tidak tahu, tapi, akan kucari informasinya," kata Sukab akhirnya. Ia tak ingin mengecewakan sahabatnya.

***     ***     ***

Emak murka saat suatu hari ditemukannya Alina sedang khusyuk dengan bukunya. Direbutnya buku itu, dilemparkan ke luar jendela. Ketika Alina berteriak tertahan menyaksikan buku kesayangannya melayang, Emak malah menjambak rambutnya.

"Kau habiskan waktumu dengan benda itu? Anak tak tahu diuntung, tak berguna! Kau lihat rumah masih berserak, makanan tak ada, pakaian kotor menumpuk dan sabut-sabut itu belum kau sentuh! Kau malah asyik membaca! Siapa yang memberimu benda itu?" Tangan Emak berulang mendarat di tubuh ringkih Alina.

Kini Alina memutuskan untuk diam. Ditahannya rasa sakit yang timbul akibat hantaman tangan Emak ditubuhnya. Ya, dia menyadari, kali ini adalah kesalahannya. Tadi ia lupa waktu saat membaca buku itu.

Alina mengatupkan mulutnya kuat-kuat. Emak semakin geram. Ia teramat kesal. Apalagi melihat Alina yang bungkam. Akhirnya Emak menghentakkan kaki kemudian pergi setelah menyorongkan tubuh Alina.

Esoknya Sukab mendapati banyak memar di tubuh Alina. Ada juga lebam di wajahnya.

"Alina--"

"Sukab, aku betul-betul ingin bertemu dengan si pengarang." Alina menyela kalimat Sukab. "Aku benar-benar ingin menjadi ... tokoh dalam ceritanya." Air mata Alina mengalir deras. Sukab mengernyitkan dahi tak mengerti.

"Alina?"

"Aku benci hidupku, Sukab. Aku benci penyakitku. Aku benci kemiskinan ini. Aku benci kemarahan Emak yang harus kutampung setiap hari." Tubuh Alina berguncang. "Biar kutemui pengarang itu. Biar dia membuatkan cerita baru untuk hidupku. Beri tahu aku, Sukab. Beritahu aku di mana dia." Tangis Alina menghiba. Semakin keras.

Sukab terpana di hadapan Alina yang kini meraung. Belum sempat Sukab menenangkan sahabatnya, raungan Alina telah berganti menjadi tawa yang getir. Alina terbahak-bahak menertawai nasibnya. Sementara Sukab diam-diam menitikkan air mata menyaksikan Alina tertawa.

**Tamat**

*) Judul cerpen dalam buku kumpulan cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku karya Seno Gumira Adjidarma
**) Kutipan dari Sepotong Senja untuk Pacarku, SGA

Cilame, 02 Juni 2020

ZIKIR KUNTUM-KUNTUM BUNGA

#NAD_30HariMenulis2020
#Hari_ke_2
#NomorAbsen_222
Jumlah kata :  477 kata (hanya isi)

.
ZIKIR KUNTUM-KUNTUM BUNGA

.

"Kesunyian adalah karib sejati."

Itu adalah sebuah keyakinan yang kami percayai selama ini. Sebab sebenarnyalah, bagi kuntum-kuntum bunga yang hidup di area pemakaman seperti kami, hanya kesunyian yang selalu menemani keseharian kami di sini. Tak ada hiruk pikuk, tak ada keriuhan, tak ada kegaduhan, tak ada bising yang berkepanjangan. Tak ada. Di sinilah tempat di mana kau bisa menemukan ketenangan hakiki. Sebuah sunyi yang abadi.

Kami kuntum-kuntum bunga sangat menyukai suasana seperti ini. Begitu tenang. Begitu senyap. Begitu sunyi. Terlebih bila malam mulai mengambang. Lalu matahari mengucapkan salam dengan mengecup pipi bumi, hingga rona jingga menyemburat pada batas horizonnya.

Maka semilir angin akan menemani kami menari. Meliuk-liukkan tubuh mungil kami yang sedang berzikir sepuas hati. Lalu sunyi akan mulai berirama, ditingkah  kukuk burung hantu juga binatang malam lainnya. Kami pun akan semakin khusyuk dalam puja-puji kami pada Sang Pencipta Semesta.

Di beberapa kesempatan, kami akan menerima kunjungan-kunjungan kalian. Manusia-manusia yang mengiringi karibnya berpulang. Maka pada saat itu, kami rumpun-rumpun bunga akan merasakan sunyi dengan nada yang berbeda. Sunyi yang menyayat hingga ke relung terdalam pada rongga dada.

Kami akan menyaksikan isak tangis tertahan kalian. Lalu dengung gumaman, saat baris-baris doa dipanjatkan.  Kemudian kami juga akan tertunduk, turut memberikan penghormatan terakhir bagi mereka yang telah berpulang.

Biasanya, setelah itu kesunyian akan semakin memekat. Saat petakziah terakhir mengayunkan langkah ke empat puluhnya. Saat itu dalam keheningan, akan kami dengar suara-suara yang akan membuat siapapun gemetar.

Pernahkah kalian, para manusia, mendengarnya juga?

Ah, kami rasa kalian tak pernah tahu, bukan? Percakapan yang terjadi antara mereka yang sebelumnya kalian usung dalam keranda, dengan sang utusan pembawa pertanyaan? Saat itu biasanya kami akan semakin larut dalam lantunan kalam-Nya yang bersama-sama kami dengungkan. Kami pun akan terus berzikir sambil menyimak tanya jawab yang berlangsung dalam sunyi yang mengalir.

***     ***     ***

Pada beberapa putaran purnama terakhir, kesunyian sepertinya semakin menjadi-jadi di sini, walaupun tak ada lagi usungan keranda dan iring-iringan para petakziah seperti biasa. Tubuh-tubuh tak bernyawa kini hanya diantar oleh tatap-tatap mata segelintir manusia yang memandang dari kejauhan. Juga tangisan-tangisan kini teredam oleh lapisan-lapisan kain penghalang. Kain yang menutupi sebagian wajah-wajah letih bersepuh duka mendalam.

Kotak-kotak beroda telah menggantikan iring-iringan pembawa keranda. Orang-orang berpakaian tak biasa akan memasukkan kotak terkunci berisi jasad si mati ke dalam liang lahat secepat yang mereka mampu.

"Lalu ke mana perginya kalian?" Kami kuntum-kuntum bunga kini bertanya-tanya. Lama pertanyaan kami menggantung di udara. Tak mendapatkan jawaban.

Akhirnya kesiur angin membawa kabar pada kami. Konon semua terjadi karena wabah yang tengah melanda. Ia menyebar di mana-mana. Mengintai diam-diam. Mencuri kesempatan untuk merenggut dengan paksa lagu suka cita, dan menggantinya dengan kidung duka yang membahana. Wabah jugalah yang telah membuat hari-hari menjadi lebih sunyi dari biasanya.

Apakah kami, kuntum-kuntum bunga di area pemakaman yang menyukai kesunyian menjadi berbahagia karenanya?

Ah, ternyata tidak juga. Malahan kini kami merindukan kalian. Namun bukan sebagai si mati yang terbaring kaku dalam peti  terkunci.

*Tamat*

SUATU HARI DI BAWAH TIANG LAMPU JALAN

#NAD_30HariMenulis2020
#Hari_ke_1
#NomorAbsen_222
Jumlah kata : 828 kata (hanya isi)

SUATU HARI DI BAWAH TIANG LAMPU JALAN

.

"TIN TIIIN!"

Suara klakson kendaraan bersahutan. Jalan raya di depanku tampak begitu padat, seperti biasanya. Kendaraan roda empat besar dan kecil berjejal-jejal memadati ruas-ruasnya. Macet. Belum lagi roda dua yang menyelip mengisi setiap celah yang tersisa, menambah keruwetan yang sudah tercipta.

Aku selalu saja menjumpai pemandangan seperti ini. Setiap hari. Tidak pagi, siang, sore, bahkan di malam hari. Menyaksikan kesemrawutan dan kekacauan yang biasanya lama sekali baru akan terurai. Ah, mengapa mereka tidak diam saja? Tak tahukah mereka, suara memekakkan dari klakson-klakson itu bisa saja membuat seseorang menjadi gila.

Orang-orang yang berlalu-lalang di trotoar pun sama padatnya dengan kendaraan yang merayap di jalan. Sebagian terlihat cukup santai. Mungkin mereka memang sedang menikmati waktu luang dengan berjalan-jalan. Terkadang ada juga yang kulihat melangkah perlahan sambil bergandengan dengan pasangan. Sebagian yang lain bergegas. Seperti dikejar atau mengejar waktu, atau entah apa yang mengejar atau mereka kejar itu. Aku tak pernah bisa mengerti. Seringkali aku bertanya-tanya sendiri, apa nikmatnya menjalani hidup yang penuh ketergesaan seperti itu?

Sebagian kecil lainnya lagi akan kulihat duduk-duduk di bangku-bangku yang berjajar di sisi jalur pedestrian ini. Seperti yang saat ini kulihat, di salah satu bangku yang berada tak jauh dari tempatku berdiri, seorang lelaki dan perempuan makan es krim stroberi berdua. Mereka duduk menatap jalanan yang sibuk.

“Aku tak bisa begini, terus,” ujar si lelaki, mengeluh.

Ia menoleh pada perempuan di sampingnya yang juga mengalihkan perhatiannya dari arah jalan. Sesaat mereka bertatapan, lalu si perempuan menunduk. Aku tak dapat menangkap suaranya. Hanya saja kulihat, tak lama kemudian bahunya bergetar.

Awalnya kupikir yang ini cukup romantis. Lihat saja, di sela kesemrawutan seperti ini, mereka masih bisa menikmati setitik kelezatan yang manis. Namun, setelah dilihat lebih cermat, malah terasa agak aneh menyaksikan mereka berdua-duaan sambil menikmati es krim di tengah segala keriuhan dan hiruk-pikuk jalan. Mengapa mereka tidak mencari tempat yang lebih tenang? Di taman kota, misalnya. Pun saat melihat raut keduanya yang terlihat sangat muram, orang-orang yang melihat pasti akan mengerutkan kening semakin dalam karena heran.

Ooo ... ternyata ini hanya salah satu fragmen sedih lain yang berurai air mata.

Biarkan aku menduga. Mmm ... bisa jadi mereka sepasang kekasih yang sedang menghadapi ujian cinta yang cukup besar. Mungkin, keduanya sama-sama tidak mendapatkan restu dari orang tua. Mungkin juga, mereka berdua pasangan yang sedang menjalin hubungan terlarang. Atau bahkan mungkin, mereka itu sebenarnya hanya dua bersaudara yang sedang memikirkan masalah dalam keluarga mereka bersama-sama.

Semua kemungkinan itu mungkin saja 'kan? Toh, apa sih yang tidak mungkin terjadi di sisi jalan yang padat dan ramai seperti ini?

Tidak percaya?

Dengar, aku pernah menyaksikan sebuah mobil yang tiba-tiba saja menyeruduk orang-orang yang sedang berjalan di jalur pedestrian. Sopirnya mabuk. Orang-orang tewas seketika. Mayat-mayat mereka bergelimpangan.

Aku juga pernah melihat jambret yang dihajar massa, setelah ia tertangkap karena mengambil dompet ibu-ibu paruh baya yang baru saja keluar dari bank di seberang jalan sana. Satu orang berteriak menyuruh yang lain membakar si jambret. Provokasi yang segera saja disambut teriakan-teriakan bar-bar dari orang-orang lainnya. Seperti api yang menyambar bahan bakar, semua orang larut tersulut amarah. Untung saja petugas segera datang. Nyawa si jambret pun tak jadi melayang.

Suatu waktu, pernah juga kulihat sebuah sedan mewah yang tiba-tiba saja berhenti. Penumpangnya, seorang perempuan muda, ke luar membanting pintu, sambil mulutnya mengeluarkan makian-makian. Seorang lelaki menyusul keluar dari pintu yang bersebrangan. Juga dengan amarah yang sama yang terpancar dari matanya yang menatap nyalang (aduh, mengapa banyak sekali kuucapkan kata 'yang'?). Ah, penampilan yang mewah dan elegan ternyata tak cukup menjamin seseorang dapat bersikap elegan juga rupanya.

Peristiwa-peristiwa lain yang bahkan tak bisa lagi kusebutkan saking banyaknya, juga selalu kusaksikan di sisi jalan padat ini. Sebab memang selalu saja ada peristiwa-peristiwa yang begitu asik untuk kuamati. Peristiwa-peritiwa yang selalu saja melintas di hadapanku. Peristiwa-peristiwa yang terlalu sayang untuk dilewatkan.

Tidak semuanya semenyeramkan yang tadi telah kuceritakan. Tidak. Ada juga peristiwa-peristiwa yang mengharukan, menyedihkan, menyebalkan, menggelikan, menjijikan, menakjubkan, juga peristiwa yang membuatku ingin tertawa sekeras-kerasnya, walau aku tak bisa melakukan itu. Bahkan, ada juga peristiwa yang biasa-biasa saja, sampai-sampai aku bingung harus bagaimana meresponnya.

Kuduga kau pasti akan bertanya-tanya, mengapa aku seperti tak ada pekerjaan saja mengamati semua hiruk pikuk yang terjadi di jalan ini. Iya 'kan?

Yah, bukannya tidak ada pekerjaan atau apa, tetapi semuanya memang selalu terjadi di hadapanku, di sini. Aku pun selalu menyaksikannya dari sini, di sisi jalan padat ini. Semua melintas cepat seperti fragmen-fragmen yang diambil dari sebuah maha karya besar bernama kehidupan. Bagiku jalan ini memang ibarat miniatur kehidupan dunia dengan segala kerumitannya, dengan segala kesibukannya, dengan segala keberagamannya, dengan segala tetek bengek dan ingar bingar di dalamnya.

Aku sendiri, tentu senang diberi kesempatan untuk menyaksikan semua itu. Kuanggap semua semata-mata sebagai hiburan bagiku, yang selamanya harus selalu tegak di sini, di sisi jalan ini. Menjalani kehidupanku sendiri, sekaligus menjalankan tugas mulia yang kuemban.

Hei! Sudah sepanjang ini aku bercerita, tetapi kita belum juga berkenalan, bukan? Kalau begitu perkenalkan, orang-orang yang berlalu lalang itu selalu menyebutku, tiang lampu jalan. Ya, benar. Tiang lampu jalan. Akulah saksi hiruk pikuknya kehidupan.

*Timit*

Kamis, 07 Mei 2020

AKU INGIN PULANG

AKU INGIN PULANG
#Cerpen_LilyNDMadjid



BRAKKK!

 Gayatri tergugu saat Pramudya, suaminya, membanting pintu di depan wajahnya. Perempuan dua puluh tiga tahun itu tersedu sambil memegangi  kedua pipinya yang memerah. Sakit terasa. Tetapi lebih sakit lagi di sini, di dalam dadanya. Ini bukan pertama kalinya Pramudya mengamuk mencaci-maki dirinya, atau meninggalkan bekas pukulan di tubuh perempuan itu.

 Pramudya memang lelaki yang temperamental. Hal-hal kecil saja mampu menyulut amarahnya. Masakan yang kurang asin, mainan anak yang berserak, dan hal-hal remeh lainnya sanggup membuatnya melontarkan kata-kata kasar. Apalah lagi saat dilihat ada chat dari lelaki lain di ponsel Gayatri.

 Ya. Itulah sumber kemurkaan Pramudya hari ini. Ia mendapati pesan dari seorang lelaki di aplikasi perpesanan ponsel Gayatri. Padahal Gayatri sendiri tak tahu menahu soal itu. Ia belum sempat menyentuh benda pipih itu hari ini. Pekerjaan rumah tangga dan anak sudah cukup menyita waktunya.

 “Siapa lelaki itu?” Begitu tadi Pramudya membentak dengan mata berkilat-kilat saat Gayatri sedang menyapu lantai kamar.

 “Lelaki apa, Mas?”

 “Jangan berpura-pura bodoh! Di belakangku kau asyik chat dengan lelaki lain rupanya!” Amarah Pramudya semakin menjadi. Kali ini jari-jarinya meraih wajah Gayatri dan menekannya kuat-kuat. Gayatri meringis menahan nyeri yang seketika menjalar di wajah. Air matanya mengalir tanpa ia inginkan.

 “Aku, aku tidak--”

 “Cih! Jangan menyangkal! Ini buktinya!” teriak Pramudya sambil menyodorkan ponsel Gayatri ke depan wajah pemiliknya, kemudian membantingnya ke lantai. Benda itu mendarat dengan mengeluarkan suara keras. Air mata Gayatri mengalir semakin deras.

*** *** ***

 Aksana memandangi layar ponselnya lekat-lekat. Mambaca lagi pesan yang dikirimnya pada Gayatri beberapa hari yang lalu. Tanda centang dua berwarna biru sudah terlihat di sana. Tetapi, kenapa Gayatri tidak juga membalasnya? Aksana menatap lagi  pesan itu.

 Delapan pesan. Semuanya ia kirim dengan selang waktu beberapa jam setiap pesannya. Menunggu jawaban. Tetapi pesan-pesan itu tak berbalas. Lupakah Gayatri pada dirinya? Atau marah? Ah, sebenarnya wajar saja jika Gayatri marah atau malah membencinya. Semua ini salahnya.

Aksana mengacak rambut sebahunya. Perasaan lelaki bertubuh tegap itu campur aduk. Kesal, marah, sedih, juga rindu. Rindu pada Gayatri. Pikirannya mendadak melayang ke tahun-tahun yang telah berlalu. Berapa tahunkah? Empat? Atau lima tahun pertemuan terakhirnya dengan perempuan berwajah manis itu?

*** *** ***

 Matahari mulai condong ke arah barat. Panasnya tak lagi membakar seperti saat siang tadi. Angin bertiup semilir memberikan kesejukan. Tetapi di suatu tempat, dua anak muda justru terjerat gundah. Gayatri duduk di lantai bambu sebuah dangau. Terisak-isak. Di hadapannya Aksana menunduk lesu.

 “Tak ada jalan lain, aku harus pergi, Atri,” gumam Aksana serupa keluhan. Gayatri tak menyahut. Tangisnya semakin larut.

Aksana meraih tangan Gayatri. Tetapi gadis belia itu menepisnya. Aksana menarik nafas panjang.

 “Benarkah tak ada jalan lain?” Terbata-bata Gayatri berkata.

 “Apalagi? Aku sudah berusaha. Tapi tetap saja hasilnya tak sesuai dengan keinginan orangtuamu, kan?” gumam Aksana. Ada gurat nyeri di sudut hatinya, juga sekilat rasa terhina mengingat penolakan orangtua Gayatri saat mereka mengetahui hubungan antara dia dan Gayatri.

 Aksana tahu apa yang membuat orangtua Gayatri tak menerimanya. Apalagi? Semua orang di desa itu tahu statusnya, yang hanya seorang pemuda miskin dengan orangtua yang juga miskin, hanya buruh  pekerja tuan-tuan tanah di desa itu. Turun temurun hidup dalam kemiskinan belaka. Bukan pemuda seperti itu yang diharapkan orangtua Gayatri untuk dijadikan calon menantu.

Aksana otomatis tersingkir. Tak peduli sekuat apapun ia dan Gayatri saling mencinta. Kedua orang tua Gayatri benar-benar menutup semua pintu kesempatan untuk Aksana. Tapi Aksana tak mau begitu saja menyerah. Ia bertekad akan memenuhi apa yang diinginkan orang tua Gayatri.

Jika desa ini tak memungkinkan dia untuk mewujudkan semua cita-citanya itu, ibukota ia yakini bisa menjadi jalan untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Terutama mimpi terbesar Aksana. Menyunting Gayatri.

 Tetapi realita tak selalu sejalan dengan harapan, bukan? Itulah keadaan yang kerap terjadi. Dan begitulah yang Aksana alami. Ungkapan ibukota lebih kejam dari ibu tiri bukan sekedar ungkapan semata. Tetapi memang begitulah adanya. Ibukota yang keras dan garang telah menghempaskan mimpi-mimpi Aksana ke jurang terdalam.

 Ibukota memaksanya terbungkuk dan merangkak, menahan beban demi bertahan hidup. Bertahun-tahun ia bertahan, hingga keputusasaan menyergapnya kemudian. Mencabik-cabik dan mengoyak-moyakkan keyakinan juga tekadnya yang semula baja. Keputus-asaan itu jugalah yang akhirnya mengubah Aksana, menjadi bajingan di belantara kota.

*** *** ***

  Gayatri menatap lekat telepon genggam di tangannya. Terpampang pesan dari Aksana beberapa waktu lalu. Pesan yang membuat suaminya murka. Tak pernah ia balas. Untuk apa? Toh semua sudah berakhir. Walau tak dapat dipungkiri, masih ada gelenyar dalam dadanya, bercampur rasa nyeri yang samar.

 “Aksana …” bibirnya mengeja tanpa suara.

 Tangannya bergerak pada keypad  telepon pintarnya. Gayatri ingin menghapus saja pesan itu. Toh tak ada gunanya tetap di sana. Ia tak akan pernah membalasnya. Membalas pesan Aksana sama saja mendatangkan murka Pramudya. Gayatri tak ingin itu terjadi. Ditambah lagi, Gayatri menganggap sudah tak ada lagi cerita antara ia dan Aksana.

 “Semua sudah berakhir, Mas,” Bisiknya. Airmatanya menetes. Air mata yang ia benci karena membuatnya terlihat begitu lemah. Walaupun sebenarnya airmatalah yang selalu hadir menemaninya. Menemani hari-hari kelam dalam hidupnya.

 Dulu, setelah mengucap janji akan segera kembali, Aksana pergi. Membiarkan Gayatri menunggunya dari hari ke hari. Hingga tahun-tahun berganti, Aksana bagai ditelan Bumi. Tak ada kabar, apalah lagi menepati janji. Gayatri hanya bisa pasrah saat orangtuanya menerima pinangan Pramudya, seorang pemuda berada yang orangtuanya keturunan priyayi. Walau kemudian ternyata, pernikahan itu tak pernah berjalan seperti yang diharapkan Gayatri.

*** *** ***

♫♪ Ramadhan tiba, ramadhan tiba, ramadhan tiba
Marhaban yaa Ramadhan, Marhaban yaa Ramadhan ♪♫

Aksana tertegun mendengar alunan lagu yang lamat-lamat sampai di telinganya. Ia ingat, Antasena adik semata wayangnya dulu sering sekali menyanyikan lagu ini setiap kali Ramadhan datang menjelang. Sudah dekatkah Ramadhan ini?

Aksana mendekati kalender yang terpaku di  dinding dekat jendela kamar kontrakannya. Ah, rupanya Ramadhan memang akan segera tiba. Pantas saja. Aksana termenung, sebuah pemikiran tiba-tiba melintas di kepalanya. Apakah kali ini akan ia lewati seperti Ramadhan-Ramadhan sebelumnya? Sendiri tanpa sesiapa?

Entah kenapa tiba-tiba Aksana dilanda rindu. Ia merindukan suasana Ramadhan di kampungnya yang begitu meriah. Semua orang selalu bersuka cita menyambut Ramadhan. Anak-anak hingga orang dewasa selalu antusias pergi ke masjid malam hari. Salat tarawih, tadarus, memakmurkan masjid. Dan yang paling seru, untuk anak-anak dan para pemuda adalah saat  berkeliling desa untuk membangunkan orang sahur. Ah, menyenangkan, dan ia adalah bagian dari semua itu dulu.

Ada yang membuncah di relung hati Aksana. Lima ramadhan telah berlalu. Terbayang dalam benak Aksana wajah emak dan bapaknya. Lima tahun tak berjumpa. Lima tahun tanpa berita. Seperti apa mereka kini? Sehatkah? Lalu Antasena? Tentu dia sudah besar sekarang. Tak pernah berkabar bukan karena tak ingin. Tetapi ia malu. Sebab mimpinya belum lagi tergapai. Bahkan ia malah seperti ini kini. Malu pada keluarganya juga pada … Gayatri. Ah, Gayatri. Seperti apa dia kini? Marni bilang dia sudah menikah. Biarlah. Itu lebih baik untuknya.

 TOK, TOK, TOK!

 Pintu terbuka saat Aksana baru saja akan membuka mulut untuk bertanya siapa di luar.

 “Bro! Ngapain lu?” satu sosok tinggi kurus masuk tanpa melepas sepatunya. Langsung membaringkan diri di atas kasur yang terbentang di sisi ruangan.

 “Nggak ngapa-ngapain. Lagi suntuk aja gue.” Balas Aksana tanpa semangat.

 “Suntuk kenapa?”

 “Aah, nggak sih. Tiba-tiba aja gue keingetan sama ortu. Udah bertahun-tahun kan, gue gak balik kampung.”

 “Ahahahah … ngapa jadi melow banget sih lu? Kayak bukan laki aja.”

 “Auk ah! Emang lu gak pernah apa, ngerasa kangen sama keluarga lu? Pengen pulang. Pengen ngerasain lebaran di rumah lagi,”

 “Hah? Enggak tuh! Hahahah …”

 “Ah, dasar lu, anak durhaka.”

 “Ahahahah …Bodo amat! Eh, Bro! Kita operasi yuk.”

 “Lagi males gue.”

 “Ah, elu. Males lu piara. Ayolah, gua udah bokek berat ini. Kantong kosong kering kerontang. Katanya lu kangen ortu lu juga. Satu dua orang mangsa aja dah kalo lu males. Lumayan bisa buat ongkos lu mudik.

 Aksana termenung. Suasana lebaran di kampungnya terbayang lagi. Senyuman emak. Tawa ceria bapak dan adiknya melintas di pelupuk mata. Akhirnya Aksana mengangguk.

 “Iyalah, yuk!” Katanya kemudian. “Buat ongkos mudik,” katanya lagi dalam gumaman.

*** *** ***

. “Atri! Atri!”

 “Ya, Mas.” Tergopoh-gopoh Gayatri meninggalkan dapur.

 “Hih! Lama betul kalau dipanggil.” Pramudya menggerutu sambil menatap Gayatri masam. “Atri, dengar! Orangtuaku mau datang, mereka mau menginap agak lama. Mungkin berlebaran di sini.”

 “Oh? Tapi Mas bilang kemarin, kita yang akan pulang.”

 “Memangnya kenapa kalau orangtuaku yang datang berkunjung dan ikut berlebaran di sini? Hah? Kau nggak suka?”

 “Bukan, bukan begitu, Mas. Tapi …”

 “Sudah jangan banyak omong! Pergi ke pasar sana, beli semua persiapan untuk menyambut ibu bapakku. Masak makanan kesukaan mereka!”

*** *** ***

 Gayatri melajukan sepeda motornya perlahan. Di balik kaca helmnya, matanya berkaca-kaca. Bukan dia tak suka mertuanya datang berkunjung. Tetapi, beberapa hari lalu Pramudya sudah sepakat bahwa tahun ini mereka yang akan pulang kampung.

 Sudah empat tahun mereka tak pulang. Gayatri rindu orangtuanya di kampung sana. Beberapa waktu lalu ibunya menelpon agar Gayatri pulang menjelang Ramadhan, dan munggahan bersama mereka. Tapi kini, sepertinya niatan itu harus dikuburnya dalam-dalam.

 Tiba-tiba Gayatri dikejutkan dengan munculnya satu sepeda motor yang menjajari laju motor maticnya. Lama kelamaan motor yang ditumpangi dua lelaki berpakaian hitam dengan helm fullface itu memepetnya. Jantung Gayatri berdegup kencang. Begal?

 Konsentrasi Gayatri buyar. Motornya oleng lalu ia terjatuh. Satu lelaki berbadan kurus kerempeng turun menghampiri Gayatri yang masih terhimpit sepeda motornya sendiri. lelaki itu menarik tas yang masih terselempang di bahu Gayatri. Refleks Gayatri mempertahankan harta miliknya itu. Ia bahkan nekat berteriak-teriak minta tolong.

 Sejenak lelaki itu panik, ia mengayunkan tinjunya ke arah wajah Gayatri. Kaca depan helm lepas dan terpental. Bibir Gayatri pecah terkena bogem mentah. Gayatri masih juga menjerit-jerit. Lelaki ceking itu semakin panik dan emosi, ia mencabut sesuatu yang berkilat dari pinggangnya, mengayunkannya ke arah Gayatri. Belati. Benda itu menancap tepat di dada perempuan yang masih sempat menjerit sebelum rebah ke bumi.

 Darah bersimbah. Secepat kilat si ceking menarik lepas tas dari tangan Gayatri. Ia bergegas ke arah temannya yang pucat menyaksikan.

“Cabut, Bro!” kata si ceking, membuang tas Gayatri setelah mengambil isinya. Sebuah dompet dan ponsel.

“Dia, dia … mati?” tanya temannya. Suara lelaki itu bergetar.

“Gak tau. Cepetan cabut sebelum ada yang datang,”

  “Kenapa sampai lu abisin cewek itu?”

 “Cerewet lu, Bro! Buruan kabur!”

 Gemetar pria di atas motor itu melajukan kendaraannya meninggalkan Gayatri yang tergeletak entah hidup ataukah mati. Entah kenapa, perasaan lelaki itu jadi kacau. Sebelumnya, ia tak pernah benar-benar melukai korban-korbannya selama ini. Namun kini, melihat belati itu menancap di dada perempuan itu, hatinya  menjadi ngeri, juga cemas. Lalu wajah itu, dia seperti … pernah mengenalnya.

*** *** ***

 Suara adzan berkumandang, terdengar sayup-sayup di kejauhan. Mata Aksana terpejam. setetes air jatuh di sela-selanya. Bahunya bergetar. Ia tak pulang lagi Ramadhan ini. Namun bukan itu yang membuatnya menangis. Bayangan wajah seorang perempuan dengan ekspresi kesakitan itulah yang membuatnya terguncang. Ya, ia mengenali wajah itu sekarang. Wajah Gayatri.

 “Cepat menuju masjid! Tarawih berjamaah dan ada bimbingan rohani malam ini!” Suara teriakan sipir bergema di lorong-lorong bangsal tahanan. Sementara Aksana tenggelam dalam penyesalan.

****TAMAT****

Senin, 20 April 2020

S E S A L

S E S A L
Cerpen Lily N. D. Madjid


"Lepaskan aku! Biar kuhajar anak itu! Biar kuhajar dia!"
Bapak merangsek maju ke arahku. Wajahnya merah padam. Giginya gemeletuk menahan amarah. Jika tak dipegangi oleh Lek Marwoto dan Pakde Dibyo mungkin sudah habis aku dihajar Bapak.
"Sabar, Dik, sabar... mari kita selesaikan dengan kepala dingin," Pakde Dibyo melerai.
Aku sendiri bergeming. Tetap ditempatku tanpa gentar. Sudah biasa aku menerima amarah Bapak, juga sikap tak acuhnya. Yah, walau pun untuk saat ini bisa dipahami jika ia murka padaku. Sebab kuakui, aku memang telah melakukan kesalahan.
"Lepaskan aku! Biar kuberi pelajaran anak itu!"
*** *** ***
Namaku Ari. Aku anak ke dua dari tiga bersaudara. Kakakku perempuan, sedang adikku laki-laki, dengan selisih umurnya cukup jauh dariku.
Bapakku seorang pedagang. Pemilik toko yang cukup ramai di pasar kota yang tak begitu jauh dari desa tempat kami tinggal. Kira-kira bisa ditempuh dalam satu atau dua jam perjalanan dari kampung kami. Bapak mencurahkan segala perhatiannya untuk kemajuan tokonya. Seringkali ia bahkan jarang pulang.
Dulu sekali, saat aku masih kecil, masih bisa bertemu Bapak setiap hari. Lalu seiring berkembangnya usaha Bapak, intensitasnya menjadi seminggu sekali, kemudian dua minggu sekali.
Di kota, Bapak menyewa rumah tak jauh dari lokasi toko. Sementara kami; Ibu, aku serta kakak dan adikku tinggal di rumah kami di luar kota. Kadang Ibu menemani Bapak, tetapi seringnya dilarang, karena kami anak-anaknya masih terlalu kecil untuk ditinggal.
Bapak pun tidak menginginkan kami pindah ke kota, dengan alasan tak boleh meninggalkan rumah kami di desa. Itu rumah pusaka orang tua Bapak. Jika ditinggal, Bapak khawatir rumah tersebut tak terawat dan mudah rusak.
Ibu selalu memaklumi ketidakhadiran Bapak di rumah. Kata Ibu, semua yang Bapak lakukan itu demi kebaikan kami semua. Demi masa depan keluarga kami. Demi kesejahteraan kami sekeluarga. Semua itu bisa dibuktikan dengan keadaan perekonomian keluarga kami yang bisa dibilang melebihi rata-rata tetangga-tetangga kami.
Tetapi kebahagiaan hidup tak melulu persoalan materi, bukan? Itu kusadari sejak aku menginjak masa akhir sekolah dasar. Jika sebelumnya aku merasa cukup dengan adanya ibu, kemudian aku mulai merasa ada yang kurang. Bapak. Ya, absennya Bapak dalam sebagian besar kehidupanku, membuatku merasa timpang.
*** *** ***
Saat aku memasuki masa sekolah menengah atas, aku memutuskan untuk tinggal bersama Bapak. Ibu tidak melarang. Beliau malah senang.
"Baguslah, jadi ada yang menemani bapakmu di sana, Le," katanya saat aku pertama kali mengutarakan keinginanku. "Lagipula, kamu juga bisa mulai belajar mengurus toko jika kamu tinggal di sana," imbuh ibu lagi.
Lalu ibu menyampaikan hal itu pada Bapak, saat ia pulang. Awalnya Bapak terlihat agak kurang setuju.
"Siapa yang akan membantu ibumu mengurus rumah, dan kebun nanti," katanya waktu itu. Tetapi Ibu berhasil meyakinkan Bapak.
"Damai bisa membantuku untuk urusan rumah," katanya, "untuk urusan ladang dan kebun 'kan sejak dulu selalu diurus oleh Marwoto," lanjut ibu menyebut nama kakak dan pamanku.
Akhirnya, Bapak pun setuju setelah diyakinkan oleh Ibu. Malam itu aku langsung mengemasi pakaianku dengan hati senang. Aku akan tinggal di kota bersama Bapak. Hal yang diam-diam sangat kuinginkan selama ini.
Jujur saja, seringkali aku iri bila melihat Ardhi sepupuku membantu Lek Marwoto, bapaknya, saat bekerja di ladang kami. Mereka akan bekerja dengan gembira, diselingi gurau berdua. Lalu di sore hari mereka akan pulang, bersepeda bersama sambil bercerita di sepanjang jalannya.
Aku juga seringkali memandangi ustadz Ali yang datang ke masjid kampung kami bersama anak-anaknya. Senang sekali rasanya jika bisa seperti itu. Sementara aku, kenangan apa yang pernah ada antara aku dengan Bapak selama ini? Tak ada. Jika di rumah, Bapak hanya akan menghabiskan waktu untuk tidur, atau berada di kamar bersama ibu. Selebihnya? Tak ada. Sepertinya Aku lebih banyak menghabiskan kenangan masa kecilku tanpa bayangan Bapak.
*** *** ***
Tetapi harapan seringnya tak seindah kenyataan. Hidup dengan Bapak tak semanis yang aku bayangkan. Nyatanya, di desa atau di kota ini sikap Bapak sama saja. Bapak adalah Bapak, lelaki yang kaku dan tak banyak bicara. Percakapan kecil saja jarang bisa tercipta di antara kami. Bukan, bukan karena aku tak mau. Tetapi Bapak yang sepertinya tak punya waktu.
Angan-angan dapat melakukan aktifitas bersama Bapak buyar sudah. Bapak tetap lebih mengutamakan urusan toko daripada aku. Apalagi toko saat itu tak hanya satu, sudah berdiri satu toko lagi di pasar yang sama, dan sedang dirintis satu lagi di pasar lainnya.
Ia juga belum mau melibatkan aku dalam urusan toko. Aku masih bocah dalam pandangannya. Menurutnya, belum waktunya ikut mengurusi toko.
"Kamu anak bau kencur tahu apa? Urus saja urusanmu." Begitu katanya saat itu, waktu aku memintanya untuk membiarkanku belajar mengurus toko.
Agak kecewa sebenarnya. Seolah-olah Bapak menganggapku tak mampu. Padahal aku hanya ingin belajar. Ingin ikut dilibatkan dalam aktifitas bersamanya. Tapi mau bilang apa jika ia menolaknya?
Waktu berlalu. Hari, minggu, bulan, tahun semua berganti. Tapi hubunganku dengan Bapak seperti masih saja berjarak. Akhirnya aku menyerah. Mungkin memang begitulah dia. Maka kualihkan perhatianku pada hal-hal lain. Kesepian di rumah membuatku meluaskan pergaulan.
Teman-temanku semakin banyak. Aku bergaul dengan siapa saja tanpa batasan. Sepulang sekolah kini lebih sering kuhabiskan waktu dengan teman-teman. Untuk apa pulang ke rumah yang tak ada sesiapa di dalamnya selain Mbak Asih, asisten rumah tangga yang sejak lama bekerja di rumah Bapak.
Banyak hal-hal baru yang kemudian aku tahu melalui teman-teman. Termasuk hal-hal yang dulu tak terpikirkan akan kulakukan. Hal-hal yang disebut teman-teman 'keren dan kekinian'. Hal-hal yang menurut mereka 'jantan'. Ya, aku mengenal semua itu pada akhirnya. Melakukan hal-hal yang jika ibuku tahu, tentu ia akan sangat kecewa.
Tapi ibu tak tahu, bukan? Dan aku tahu, jika aku membatasi diri di rumah saja aku bisa lumutan. Maka kunikmati waktuku bersama teman-teman. Sampai tak terasa, aku terjerumus terlalu dalam. Kini aku pecandu obat-obatan. Padahal dulu hanya ikut-ikutan. Aku juga menjelma setan jalanan. Setiap malam kebut-kebutan. Balapan liar tentu saja.
Uang bukan masalah bagiku. Tak pernah jadi masalah sebab Bapak selalu memberiku uang berapa saja kuminta. Asal aku tak merecoki urusannya. Keleluasaan keuangan semakin membuatku menggila. Sekolah bukan lagi menjadi hal utama.
Sesekali aku pulang ke rumah ibu. Menginap di sana saat liburan. Bertemu teman-teman lama. Beberapa kukenalkan dengan gaya pergaulanku yamg sekarang. Dan yang paling menantang, mendekati anak gadis Wak Umar untuk kujadikan pacar.
*** *** ***
Malam itu aku pulang cukup larut dengan pikiran yang kusut. Aku kalah taruhan. Gila! Padahal aku yakin sekali timku bakalan menang. Biasanya timku memang selalu menang dalam setiap kesempatan adu balap di jalanan.
Kami bertaruh dengan tim Renold, rivalku di arena balapan liar selama ini. Dia yang menantang kami. Siapa yang memenangi balapan malam ini, berhak memperoleh seluruh uang taruhan. Tak tanggung-tanggung, nominal taruhannya sepuluh kali lipat uang saku bulananku dari Bapak. Di luar dugaan, kami ternyata kalah. Ck!
Kumasukkan sepeda motorku ke dalam garasi. Mencoba meminimalkan suara yang ditimbulkan. Aku takut Bapak bangun dan memergoki aku yang baru pulang. Aku masuk ke rumah menggunakan kunci cadangan yang selalu kubawa. Di depan kamar Bapak aku mengendap-endap.
Niatku ingin langsung menuju ke kamar, tetapi rasa haus memaksaku melangkah ke arah lemari pendingin di ruang makan. Aku baru saja meneguk air dingin yang segar saat suara-suara mencurigakan terdengar. Suara apa itu?
Kuedarkan pandangan. Tak ada tanda apa-apa. Suara itu seperti berasal dari... Tiba-tiba saja saja kepalaku dipenuhi kecurigaan. Aku menatap pintu kamar Mbak Asih yang hanya beberapa langkah dari tempatku berdiri. Kutajamkan pendengaran. Emosiku tiba-tiba memuncak. Kuterobos pintu kamar yang ternyata tak terkunci itu. Bapak dan asisten rumah tangganya itu tersentak oleh kehadiranku yang sepertinya tak mereka duga.
*** *** ***
Aku masih terpekur di depan pusara yang masih memerah basah. Pada nisan kayunya tertulis nama ibuku. Ya. Ibu baru saja pergi. Ia terkena serangan jantung saat menyaksikan pertengkaranku dengan Bapak.
Sejak kupergoki Bapak berselingkuh dengan Mbak Asih, Bapak selalu berbaik-baik padaku. Aku tahu, ia pasti berharap aku tutup mulut dan tak mengadukan kelakuan bejadnya pada ibu.
Cuih!
Aku memang tak mengadukan semuanya. Tetapi bukan berarti aku menyetujui perbuatannya. Tidak. Apa yang dia lakukan itu menjijikan. Pengkhianatannya pada Ibu itu tak layak dimaafkan.
Yeah, tetapi aku malah memanfaatkan kesempatan itu untuk mendapatkan uang lebih banyak dari Bapak. Benar, aku memeras Bapak. Uangnya kugunakan untuk bersenang-senang dan lagi-lagi bertaruh di jalanan.
Aku bahkan nekad mencuri isi brankas Bapak saat aku kembali kalah taruhan dalam jumlah nominal yang besar. Tak kuduga, Bapak murka. Ia bahkan tak peduli saat kuancam akan melaporkan pengkhianatannya pada ibu.
Aku kabur ke rumah di desa. Ternyata Bapak menyusulku. Kami bertengkar hebat di sana. Egois memang. Kami berdua sama-sama saling menyudutkan satu sama lain. Tak memikirkan bagaimana perasaan ibu yang begitu syok mengetahui semuanya. Hingga akhirnya ibu sakit lalu meninggalkan kami.
Tetapi nasi telah menjadi bubur, bukan? Semua tak bisa lagi kembali. Itulah yang terjadi. Kini aku hanya bisa menyesali diri sendiri.
Bandung Barat, 19 April 2020
Bionarasi:
Lily N. D. Madjid,
seorang yang mencoba merangkai kata demi kata, merajutnya menjadi sebuah kisah yang (semoga saja) bermakna.

Kamis, 02 Januari 2020

S E B U A H R E N C A N A

SEBUAH RENCANA
oleh Lily N. D. Madjid

Ayo kawan kita bersama
menanam jagung di kebun kita
Ambil cangkulmu, ambil pangkurmu,
kita bekerja tak jemu-jemu...

Arya masih mengayunkan cangkulnya. Tanah basah sesudah hujan memudahkan usahanya. Banyak benih jagung yang harus disemai, tetapi sebagian besar lahan belum selesai ia garap. Sejenak Arya menghentikan ayunan cangkulnya, mengusap peluh yang menetes.

Juragan Karta sudah berpesan agar Arya menyelesaikan garapan ladang jagung di sebelah utara.

“Itu untuk melunasi utang ayahmu!” Ketus Juragan Karta saat itu.

Ya. Untuk lahan garapan seluas ini, Arya tidak akan menerima upah, karena upahnya sudah diambil ayahnya di muka sebagai utang. Beruntung, istri Juragan Karta mau memberinya jatah maka siang. Jika tidak, entah apa jadinya Arya, bekerja dengan perut kosong sepanjang hari.

Tetapi tentu Arya tak hanya mengucapkan terimakasih saja pada kebaikan Bu Karta. Ia akan merelakan waktu istirahatnya untuk mengerjakan apa saja yang diminta oleh wanita kaya itu. Menyiangi kebun belakang, menangkap ikan dari kolam, menyikat lantai kamar mandi, dan sebagainya. Apa pun, asalkan Arya bisa membayar sepiring makan siang yang diterimanya.

*****

“Arya! Ayah butuh uang. Kau pinjamkan seratus dua ratus pada Juragan Karta!” Kata Dipa, ayah Arya, di suatu sore saat lelaki itu bersiap-siap akan ke luar dari rumah kayu mereka.

“Aa..Arya tidak berani, Yah. Lahan di sebelah utara, pembayar utang ayah yang terakhir belum lagi selesai Arya garap.”

“Masa bodoh dengan lahan itu. Kubilang aku butuh uang. Tak peduli bagaimana caramu mendapatkannya!”

“Tapi, Ayah!”

“Mau kutinju, kau? Terus saja membantah! Mana baktimu pada orang tua?”

Arya menunduk. Dia memilih diam daripada merasakan kepalan tangan ayah di tubuhnya. Entah bagaimana caranya nanti agar ia bisa mendapatkan uang itu.

Istri Juragan Karta memang baik. Tetapi Juragan Karta, dia sama kejam dengan ayahnya. Entah berapa kali caci maki dan hinaan yang Arya terima dari Juragan Karta. Ditambah hinaan tuan tanah itu pada ayahnya, membuat Arya seringkali merasa bagai sampah. Tetapi ia toh tak bisa berbuat apa-apa. Arya harus tetap bekerja di sana, melunasi semua utang-utang ayahnya.

*****

Sore ini Arya bekerja sambil menahan sesak di dada. Tadi dia memberanikan diri, dengan menahan rasa malu, meminjam uang pada Bu Karta, tetapi sial, rupanya suaminya ada tak jauh dari sana. Muntahlah segala serapah dari mulut lelaki tua itu pada Arya. Mengalirlah segala hina dan cela pada Arya hingga ia pamit meninggalkan rumah itu membawa luka.

Diayunkannya cangkulnya sekuat tenaga. Melampiaskan segala marah dan kecewa dalam setiap geraknya. Ia sudah tak tahan lagi. Kesewenangan ayah membuatnya harus menelan hinaan Juragan Karta. Ia harus mengakhirinya. Ia tak mau lagi terinjak-injak.

Sudah tersusun rapi sebuah rencana dalam kepalanya. Ya, rencana ini akan membebaskannya dari segala beban dan tekanan.

Matahari sudah tenggelam di ufuk barat. Arya mengemasi peralatannya dengan rapi. Serapi rencana di kepalanya untuk membereskan ayah malam nanti.

Ambil cangkulmu
Ambil pangkurmu
Kita bekerja tak jemu-jemu

HUJAN DAN KENANGAN

HUJAN DAN KENANGAN
oleh Lily N. D. Madjid

Gerimis merinai. Rintiknya turun bagai jutaan jarum dingin yang menyerbu bumi.

Aku masih duduk di sini. Berteman secangkir teh lemon kesukaanku. Kuhirup aromanya yang menguar. Sambil kugenggam erat cangkir yang masih setengah terisi. Hangat menjalar.

Hujan dan secangkir teh selalu saja cepat menyeret untaian kenangan di kepala. Tentang apa lagi jika bukan kenangan indah tentangmu.

Kenangan terakhir kita, terjadi saat hujan turun seperti ini. Kuucapkan salam perpisahan, lalu matamu menatap nanar penuh pertanyaan.

Kau tak pernah tahu, mengapa dingin belatiku merobek kulitmu. Lalu aku dengan penuh kasih menggenggam hangat hatimu. Ya, aku merebutnya kembali setelah ia dicuri perempuan itu.

SELENDANG IBU

SELENDANG IBU
Oleh Lily N. D. Madjid

Suhu 40°C membuatku tak berdaya. Badanku panas, tapi aku merasa kedinginan. Ingin rasanya berselubung selimut tebal. Tapi perawat melarang. Selendang batik peninggalan ibu jadi solusi.
Padahal, dulu kukesal, saat ibu hanya memberiku selendang-selendang batik. Sementara kakak-kakakku mendapatkan koleksi peralatan makan keramik, lemari-lemari jati, meja kursi antik dan benda-benda lain yang menurutku lebih berharga.
Tapi, saat panas tubuh seperti menghilangkan setengah kesadaranku, betapa selendang batik lembut ini memberikan kenyamanan. Seolah ibu sendiri yang ada di sini, mendekapku, memberikan belaian.
"Ibu ...."
***
"Mama? Dokter, tolong!"
Nak, mengapa panik? Sekarang, aku senang. Rasa sakit telah hilang. Dan itu, ibuku menjemputku pulang.

LUKA

L U K A
oleh Lily N. D. Madjid

"Maukah kau mengiringi perjalanan hidupku?"
Pemuda berwajah tampan itu bertanya ragu.
Sungguh tak kuduga. Selama ini kedekatan kami kuanggap hanya pertemanan biasa.
"Baiklah," katanya, saat dengan halus kutolak dia dan kujelaskan isi hatiku yang sebenarnya. Juga tentang sosok yang diam-diam kucinta.
Kutangkap getar dalam suaranya saat melangkah pergi setelah mendoakan agar aku bahagia.
***
Kutatap raut bercahayanya, dengan keluarga kecil yang ia punya, melalui gawai di tangan. Segurat luka kurasa di dada.
Sementara aku? Perjalanan waktu mengantarku pada nestapa semata. Orang yang kucinta tak pernah membalas rasa. Dan hingga kini kutetap dengan predikat jomblo merana.

E L E K T R A

E L E K T R A

(Short Version)
Oleh Lily N. D. Madjid

Entah apa yang kurasakan kini. Penyesalan? Mungkin. Nyaris tanganku melukai Elektra, anakku. Aku sendiri tidak mengerti. Satu sisi, aku tidak ingin hal buruk menimpa anak itu. Di sisi lain aku ingin ia lenyap. Aku benci Elektra. Dia mengingatkanku pada sosok lelaki itu. Lihat matanya, hidungnya, bibir dan dagunya, semua milik almarhum ayahnya.

Dulu, lelaki tua itu menikahiku sebagai penebus hutang orangtuaku. Itu membuatku membencinya. Dia memanfaatkan keadaan kami. Ia merenggutku dari masa mudaku, dari pergaulan remajaku, dari teman-temanku, juga dari seorang kekasih yang kucinta. Ia merenggutku untuk menjadi miliknya.

Elektra hadir begitu saja tak lama setelah aku dipaksa menjadi istri lelaki itu. Mewarisi nyaris seluruh raut wajahnya. Membuatku muak. Apalagi lelaki itu begitu bahagia menyambut kelahiran Elektra. Tidak. Aku tidak rela lelaki yang telah merenggut kebahagiaanku menikmati kebahagiaannya.

Kebencianku padanya kutumpahkan pada anak itu. Itu membuat lelaki tua itu terluka. Biar saja. Itu tidak seberapa dibanding lukaku karena ulahnya. Inilah pembalasanku pada lelaki tua itu. Walau, dadaku seringkali sesak setiap kali wajah kecil itu menampilkan berjuta pertanyaan.
***
“Mama….”
Sejak kapan Elektra berdiri di sana? Matanya sembab, pipinya bengkak bekas tamparanku. Dia berjalan mendekat. Senyumnya merekah. Nafasku sesak. Lihatlah apa yang telah kulakukan pada gadis kecil itu.

“Mama sedang istirahat?”

“Untuk apa kau kemari?” ketusku.

“Mama jangan marah, aku tidak akan mengganggu. Aku tahu mama lelah—ayah yang bilang begitu….”

“Jangan kau sebut-sebut ayahmu di depanku! Dan omong kosong apa pula itu? Ayahmu sudah mati!” Hardikku. Sekilas kutangkap raut ketakutan di wajah manisnya.

“Mama, aku bilang jangan marah. Aku tidak akan mengganggu istirahat mama.”

“Kalau begitu tunggu apalagi? Cepat pergi sana sebelum aku muak.”

“Aku hanya ingin mengantarkan….” Elektra tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia berlari ke luar kamar. Tak lama muncul lagi membawakan segelas kopi hangat yang masih mengepul. “Ini kopi pahit kesukaan mama. Aku juga mau minta maaf karena tadi sudah membuat mama marah.”

Tiba-tiba saja tenggorokkanku sakit sekali. Seperti ada isak yang mendesak ingin meledak di sana. Mataku juga mulai memanas. Aku nyaris menangis mendengar kata-kata yang diucapkan Elektra.

Tapi sebelum itu terjadi, segera kusambar gelas dari tangannya. Kuteguk langsung hingga nyaris tak bersisa. Elektra menatap dengan penuh suka cita. Senyum di bibirnya yang pecah semakin lebar.



“Ah, selain lelah, ternyata mama juga sangat haus. Tapi tenang saja, Mama. Setelah ini mama pasti tidak akan merasakan kelelahan lagi. Mama akan segera tidur dengan tenang. Tidur nyenyak. Itu membantu menghilangkan rasa lelah, Mama.”

“Apa maksudmu?” tanyaku.

Elektra tak menjawab. Senyumnya semakin lebar. Apalagi saat dia melihatku meringis karena deraan rasa nyeri yang tiba-tiba saja menyerang dada kiriku. Pandanganku pun mulai berputar-putar.

“Kasih ibu, kepada beta …” Senandung Elektra pelan.

“Elektra, apa yang kau lakukan padaku?” Erangku panik sambil menahan sakit yang semakin menghebat. Pandanganku mulai gelap. Tapi masih bisa kudengar suara Elektra walau semakin lama semakin sayup.
“Ayah bilang mama lelah, makanya selalu marah padaku. Aku ingin mama istirahat dengan tenang. Makanya kumasukkan semua persediaan obat tidur ke dalam kopi mama tadi.” Katanya. Satu hal yang masih kulihat sebelum aku kehilangan kesadaran adalah senyuman Elektra yang semakin lebar.

PUISI RAKYAT (PUISI LAMA): PANTUN

      KOMPETENSI DASAR 3.9 Mengidentifikasi informasi (pesan, rima, dan pilihan kata) dari puisi rakyat (pantun, syair, dan bentuk puis...