Jumat, 29 November 2019

A M A R Y L I S

AMARYLIS
Cerpen Lily N. D. Madjid





"Aku harus membunuhnya!" Desis Amarylis. Dipejamkannya matanya rapa-rapat, sambil terus berkomat kamit mengulang kata-kata itu.

"Kau gila," bisikku. Tak percaya dengan apa yang diucapkannya.

"Sungguh, Jasmine. Aku akan membunuhnya. Aku harus membunuhnya!"

Kata-kata itu diucapkannya penuh penekanan. Matanya sudah tak lagi terpejam. Dapat kulihat sorot kesungguhan di sana. Aku sampai bergidig ngeri melihatnya. Tak pernah Amarylis terlihat seserius ini sebelumnya.

"Pikirkan lagi. Apa perlu kau bertindak sejauh itu?"

"Jasmine! Ini sudah kuputuskan. Aku tidak bisa terus seperti ini."

"Katamu kau bahagia dengan hadirnya dia dalam hidupmu."

"Memang. Ah, kau tau, getar sayap kupu-kupu kembali kurasakan dalam dadaku sejak kehadirannya. Semangatku, gairah hidupku... Semua. Semua yang selama ini tak pernah kurasakan lagi, muncul sejak dia hadir...."

Amarylis memejamkan matanya lagi. Seolah sedang merasakan semua yang bergejolak dalam jiwanya.

"Ah, aku memujanya, Jasmine. Aku memujanya." Segaris senyum tipis terukir dibibir.

Amarylis lalu membuka matanya. Pandangannya sendu. Dia benar-benar berada dalam dilema.

"Kau berhak bahagia, Amy," kataku. Ia malah menggeleng kuat.

"Tapi Jasmine, bagaimanapun aku perempuan bersuami. Aku tahu ini salah...."

"Tapi suamimu itu memang bajingan. Dia yang pantas kau bunuh, bukan  Arshaka!" Geramku. Kebencianku pada Mahendra suami Amarylis memang sudah sampai ke ubun-ubun. Dia memperlakukan istrinya seenaknya saja. Tangis dan tangis saja yang sehari-hari kudapati dari sahabatku karena perlakuannya.

"A ... Ap ... Apa yang kau katakan, Jas? Mem... Membunuh Mahendra?" Keterkejutan yang luar biasa tergambar di wajah pucat Amarylis.

"Ya. Dia yang lebih pantas mati daripada Arshaka," kataku. Wajah Amarylis semakin memucat.

"Kenapa harus ada yang mati?"

"Hah? Bukankah tadi kau sendiri yang mengatakan akan membunuh Arshaka?"

"Jasmine," Amarylis termangu, "bukan itu maksudku. Bukan Arshaka yang ingin kubunuh. Tapi ini," Amarylis menunjuk dadanya sendiri. "Rasa cintaku pada Arshaka yang ingin kubunuh. Aku tak ingin semua berlanjut terlalu jauh," bisiknya.

 Aku pun mematung di tempatku berdiri.
"Oh...."

TERROR DI HOOGE BURGERE SCHOOL

TERROR DI HOOGE BURGERE SCHOOL
Cerpen Lily N. D. Madjid
#urban_legend



"Bim, pssstt ... Bim!"
Adri berbisik. Tetapi sosok yang berjalan di depannya terus saja melangkah.

"Bima! Woi! Tungguin gue!"

Sosok di depan berbalik sambil menaruh jari telunjuknya di depan bibir.

"Ck! Ngapain sih Lu berisik gitu?" Desis Bima kesal.

"Lu cepet banget jalannya. Tungguin gue ngapa?"

"Ya, elaaah, Bro. Makin cepat makin baik kali."

Tak urung Bima menghentikan langkahnya menunggu Adri yang nyengir lebar melihat tampang Bima.

"Lu takut ya? Ngaku aja deh, Bim. Jadi kita tinggal balik, trus lu traktir gue di Jiganasuki sesuai kesepakatan."

"Ish! Takut apaan? Lu kali yang takut." Bima menyangkal. Walau wajahnya menunjukkan hal sebaliknya.

Ya. Saat ini mereka berdua sedang melakukan uji nyali di sebuah sekolah pavorit di kota Bandung yang dulunya bernama Hooge Burgere School.

Konon, kalau kita berjalan memutari sekolah itu sebanyak tiga kali di malam hari, hantu wanita Belanda bernama Nancy akan muncul.

"Buruan, Dri."

"Ahaha ... Tuh kan, Lu sebenarnya mau cepat pergi dari sini kan? Udahlah nyerah aja," ejek Adri sambil tertawa kecil.

"Sialan, Lu! Gue nggak takut, cuma kebelet pipis doang. Hayu ah, buru!"

"Sabar, Bim, sabar. Hahaha ... Eh, omong-omong, kita ini putaran ke dua atau ke tiga sih?" Adri berhenti lagi. Mengingat-ingat.

"Lha, kan tugas Lu buat ngitung." Bima kesal. Matanya memandang sekeliling.

Di sekitarnya sunyi senyap. Sangat mencekam. Bahkan angin pun seperti berhenti berhembus. Bulu kuduk Bima meremang. Dia bergidig ngeri.

"Ya ampun. Gue kok merinding, Dri. Jangan-jangan kita emang udah tiga putaran. Trus, Mevrouw Nancy sebentar lagi muncul." Suara Bima bergetar.

"Seingat gue sih belum deh, masih satu putaran lagi,  terus baru ...."

Adri tak menyelesaikan kalimatnya, sebab sesuatu terasa menyentuh bahunya. Begitu juga dengan Bima. Keduanya menahan nafas beberapa waktu.

Bima melirik ke arah bahunya. Satu tangan hitam besar berbulu lebat bertengger di sana. O, tidak. Ini jelas bukan tangan Mevrouw Nancy. Ini mungkin Genderu ....

"Aaaaaa ...." Teriak Bima histeris sebelum menggelosor lemas dan membuat Adri panik.

"Jang, kunaon eta babaturanna?" (1) Satu suara bertanya. Adri menoleh. Rupanya si pemilik tangan tadi.

"Eh, Pak Satpam? Euuu ... Teu terang, Pak. Ngadadak weh sapertos kieu." (2)

"Euleuh? Hayu atuh urang bawa ka Pos," (3)ajak Pak Satpam sambil mencoba membopong Bima. Adri segera membantu.

"Naaa ... Atuh si ujang mah, nanaonan atuh tengah peuting kieu ngadon ngurilingan sakola? Siga teu aya gawe wae ...."(4) Gerutu pak satpam sambil bersusah payah memapah Bima yang belum juga sadar.

Tamat.

Terjemahan:

1) Nak, kenapa itu temannya?
2) Eh, Pak Satpam. Nggak tahu, Pak. Tiba-tiba aja begini.
3) wah? Kalau begitu ayo kita bawa ke pos.
4) lagian si ujang mah, ngapain juga keluyuran di sekolah tengah malam begini. Kaya yang nggak ada kerjaan aja.

Sabtu, 23 November 2019

R I N D U

RINDU
Cerpen Lily N. D. Madjid



Perempuan berusia senja itu duduk di sana, di teras rumahnya. Ada resah terbaca dalam bahasa tubuhnya. Tangannya yang lincah menari-nari di antara benang dan hakken kayu berwarna madu.

Sesekali wajahnya terangkat. Pandang matanya bergerilya, mencari-cari entah apa, di jalan lengang depan rumahnya.

Walau demikian jari-jarinya masih juga menari. Seperti memiliki mata sendiri, mengaitkan rantai demi rantai benang rajut sehalus beledu. Merendanya, menjadi helai-helai kain lembut.

"Ah, kemana dia?"

Terdengar desahnya. Matanya masih saja menatap, penuh harap. Sesekali pandangannya berpindah ke atas sana. Ke arah langit yang mulai gelap. Awan memekat. Udara mulai memberat.

"Hmmm... Lelaki tua itu. Selalu saja tak kenal waktu. Tak dilihatnyakah, hujan akan turun," Gerutunya.

Sejenak matanya teralih pada gumpal benang di tangannya. Lalu ia mengambil benang lain. Kali ini berwarna merah bunga angsoka.

Mulai dirajutnya benang itu. Berselang-seling dengan warna sebelumnya.

"Mama!"

Sebuah suara memanggilnya dari dalam rumah. Memintanya masuk, karena hujan mulai tercurah.

Tetapi dia masih enggan beranjak dari sana. Matanya kembali menatap ke arah jalan yang mulai dibasahi air hujan.

"Ah, ke mana dia?"

Matanya kini memandang resah. Dadanya mulai buncah. Ia tersaput oleh gelisah. Pikirannya mengembara pada satu sosok saja.

"Mama ...."

Satu sentuhan menyentakkan lamunannya. Ia menoleh. Wajah dengan gurat khawatir menatapnya.

"Hujannya deras. Mama masuk ya. Di sini dingin sekali." Anak gadisnya mencoba memapahnya.

"Sebentar saja. Biar mama di sini sebentar saja."

"Mama mau apa? Lihat, tempias air hujan membasahi rambut Mama."

"Sebentar lagi. Lihat ini, sweater yang kurajut untuk papamu sudah hampir jadi. Kalau dia datang, akan kuberikan. Dia mungkin kehujanan sekarang," katanya.

Putrinya tertegun menatapnya. Ada riak di matanya yang perlahan menggenang.

"Mama...." Bisiknya sambil berusaha melukis segurat senyuman. "Papa sudah tenang sekarang. Dia tidak mungkin kehujanan. Mama masuk ya."

Dipapahnya sang bunda yang masih ingin bertahan.

*****     *****     *****

T A R G E T

TARGET
Cerpen Lily N. D. Madjid





"Aha! Kelar...." Bima berseru gembira. Tidak itu saja, dia melonjak-lonjak kegirangan seperti kanak-kanak yang baru menang lotere.

"Eh? Kenapa Lu, Bro?" Adri teman sekamar sekaligus sobat karibnya sejak SMA--satu kelas, bahkan kuliah pun di kampus dan jurusan yang sama--mengernyit heran.

"Hehehe... Gue senang karena target gue untuk ikut sidang bulan Desember nanti bakal tercapai. Bab lima gue bentar lagi kelar. Nih...." Bima mendekatkan laptopnya ke arah Adri yang sedang mematut diri di depan cermin.

"Tinggal rapikan dikit lagi, verifikasi,  beresin syarat-syarat lainnya, ikut sidang dan, yeaaay... Gue pun berhak menyandang gelar sarjana. Waaawww!"

"Ya nggak usah jejingkrakan kayak gitu juga kali, Bro." Adri terbahak keras.

"Loh, Elu gak usah mengekang kebebasan berekspresi orang gitu dong, Bro. Ini, ekspresi kebahagiaan gue karena berhasil memenuhi target ikut sidang bulan Desember. Target kita bersama loh itu, Bro. Dan sekarang target itu berhasil gue penuhi. Seneng dong gue...."

"Ya deh, iya... gue ikut seneng. Dobel, dobel seneng malah. Pertama, karena akhirnya target lu sidang bulan Desember akhirnya terpenuhi. Ke dua, gue seneng karena lu nggak akan terpuruk lagi kayak Desember tahun kemarin." Adri menepuk bahu Bima sambil tersenyum.

"Aaah, perusak suasana, Lu, Bro. Kenapa lu ingetin lagi soal Desember tahun kemarin itu. Tragedi itu, Bro, tragedi. Gara-gara gue kena typhus." Bima menonjok pelan bahu Adri yang terbahak keras.

"Udah, ah. Gue ngantor dulu," Adri menyambar tas kerjanya sambil menghindar dari serangan Bima. Dia melangkah ke luar sambil menghabiskan sisa-sisa tawanya.

"Oiya, Bim," Adri berbalik, "kalau Lu nanti ketemu Pak Omar, salam dari gue ya. Bilang gue kangen bimbingan sama beliau kayak dulu. Hahaha..."

"Ah sial, Lu, Bro. Bilang aja Lu nyindir gue."

"Hahahaha... Jangan baperan gitu, Bro. Eh, gue pergi dulu ya, jangan lupa, salam buat Pak Omar."

"Minggat sana buruan!"

"Hahaha...!"

***     *****     ***
Bumi, 21 November 2019

Selasa, 19 November 2019

M A A F K A N



MAAFKAN
Cerpen Lily N. D. Madjid

Aku segera berlalu setelah meletakkannya di ujung jalan itu. Dalam sebuah kotak yang hanya kulapisi selimut tipis kesayanganku. Airmata jatuh bercucuran tanpa dapat kutahan.

Mengerahkan segala daya, kulangkahkan kakiku yang terasa berat. Sebelum pergi, kusempatkan untuk memandangnya sekali lagi. Mata itu, ah, mata tanpa dosa yang menatapku seakan penuh tanya, 'mengapa kau tega?'.

Sungguh aku terpaksa melakukan semua itu. Apalah dayaku. Orangtuaku tak sudi menerimanya bersama kami.

"Apa-apaan, kamu, Rani?" Gelegar amarah mama saat itu terngiang kembali.

Hari itu, hari pertama aku menginjakkan kembali kakiku di rumah, setelah sekian lama bersembunyi.

Ya. Aku pergi beberapa lama demi dia. Si kecil yang kusayangi. Aku menyembunyikannya agar mama dan papa tak tahu. Aku tahu akan semarah apa mereka berdua jika mereka mengetahui aku memiliki dia saat ini.

Tapi aku juga tak bisa bersembunyi terlalu lama. Bagaimanapun aku hanya seorang anak yang masih saja bergantung pada orangtua. Bisa apa aku tanpa mereka? Dan.... Kembalilah aku ke rumah, hanya untuk menerima amarah dari mereka. Reaksi yang sudah kuduga sebelumnya.

"Berani-beraninya kamu membawanya...." suara mama terbata. Aku tahu dia sedang berusaha keras mengendalikan emosinya.

Aku menangis saat itu. Berusaha membujuk keduanya. Kudekati papa. Biasanya papa lebih mudah luluh dibanding mama.

"Papa, kumohon...." kataku seraya mendekat. Ingin kutunjukan pada Papa, ia yang berada dalam pelukanku saat itu.

"Jangan mendekat, Rani." Suara dingin papa menghentikan sejenak langkahku. Tapi hanya sejenak. Setelahnya kembali kudekati papa. Ingin kubuktikan bahwa ia yang kudekap ini tak bersalah sedikitpun. Mungkin aku yang telah melakukan kekhilafan.

"Papa, tolonglah...." Kupeluk kedua tangan papa.

"Rani, menjauh!"

"Lihat dulu dia, Papa. Lihatlah matanya..."

Sejenak kulihat wajah Papa melembut. Tangan papa mencoba menyentuhnya perlahan. Di belakang papa, kulihat mama berusaha mencegah.

"Ah...." senyum papa perlahan mengembang. Diambilnya si kecil itu dari pelukanku. Aku menghembuskan nafas lega.

Tapi kelegaanku hanya bertahan sekejap. Sesaat kemudian kulihat papa mengejang, kemudian memegang dadanya. Si kecil dalam dekapannya terlempar. Teriak kepanikan keluar dari mulutku dan mama, nyaris bersamaan.

*****     *****     *****

Kupandangi sekali lagi si kecil yang masih memandangku dari dalam kotak. Sungguh aku tak tega harus meninggalkannya di ujung jalan itu. Tapi di situlah tempat paling aman baginya.

Jalan itu jalan buntu, tak banyak kendaraan yang berlalu lalang di sana. Dan, semoga saja akan ada yang bersedia mengadopsi si kecil setelah ini.

Kumatnya asma Papa setelah berdekatan dengan si kecil membuatku tak tega untuk memaksanya menerima si kecil.

"Miaaauuuww"

Ah, maafkan. Aku harus segera pergi dari sini, atau airmataku tak akan terbendung lagi. Mendengar suaranya saja aku sudah tak tahan. Biar nanti kutelepon Rusy sahabatku untuk mengambilnya di sini. Kudengar, orangtuanya tidak keberatan memelihara kucing di rumah.

🐱🐱🐱

*** berlatih nulis cerita yang twist ending, tapi kok seperti nggak dapet twistnya, ya?

Bagi tipsnya donk, Kaka... 😍
Ditunggu krisannya juga.

Selasa, 12 November 2019

Kau yang Menghilang



Kau yang Menghilang
--untuk sahabat

Kau. Yang kini entah
Apakah angin telah memusuhimu?
Sehingga ia tak lagi menyampaikan kabarmu padaku
Jejaring yang merentang di antara kita pun merapuh
Tak mampu lagi menebarkan salamku untukmu
Atau menangkap pesan darimu untukku

Aku meraba-raba
Mengintip semua celah
Menduga kau bersembunyi di sana
Dalam sepi yang kau sulam menjadi selimut tebal

Tapi tak ada
Hanya sayup yang kudengar
Entah apa

Mungkin aku kurang berusaha mencarimu
Ke balik rerimbun misteri yang kau punya
Mungkin aku tak begitu pandai menyelam
Ke palung terdalam pada hatimu

Tetapi pada matahari yang setia menyalami bumi
Aku selalu meminta
Agar ia selalu menjagamu
Lalu pada bulan pucat itu
Selalu kuminta ia tak membiarkanmu sendiri
Juga kepada Tuhan
Aku memohonNya membawa kembali senyummu
Padaku

Kamis, 07 November 2019

SESENDOK SUNYI DALAM CANGKIR KOPI*


SESENDOK SUNYI DALAM CANGKIR KOPI*
Puisi Lily N. D. Madjid
 
Gambar diambil dari Google
*Repost
*Pernah dimuat dalam antologi puisi 100 penyair perempuan

Sesendok sunyi masuk dalam cangkir kopiku sore ini
Kuaduk pelan hingga mengental
Rasanya sungguh memuakkan
Pahit yang likat menjalar dari ujung lidah
Sampai pada setiap pori yang ada di kulitku
Tetapi kunikmati saja itu
Mereguknya pelan-pelan
Sambil mencoba menyanyikan lagu rindu
Walau dengan nada yang mengambang

Sebab pahitnya sunyi sering juga menenangkan
Obat mujarab untuk otakku yang sumbat
Hingga untai-untai kata riuh melompat
Berhamburan dari ujung-ujung jari
Yang kutampung sambil tersenyum sendiri

Namun hanya sesendok saja dari sunyi yang boleh kunikmati dalam secangkir kopi
Jika berlebih efeknya sungguh tak baik untuk jantung juga hati
Bisa jadi ia akan membuatku kaku dan membatu
Jika begitu, aku hanya dapat diam sambil menghitung detik waktu
Kematianku sendiri



Selasa, 05 November 2019

RENCANA KE DUA




Hidup selalu dipenuhi kejutan-kejutan. Hal-hal yang tidak terduga seringkali menghampiri. Jika sudah begini, kadang apa yang sudah kita rencanakan bisa saja buyar. Gagal total. Tak sesuai kenyataan.

Kita mungkin saja sudah menyusun rencana-rencana hidup ke depan dengan penuh kecermatan. Membuat daftar ‘hal yang akan kita lakukan’ dari A hingga Z, dengan tekad akan menuntaskannya. Kita juga mungkin sering membuat ‘daftar mimpi’ yang ingin kita capai. Lalu dengan semangat, juga tekad yang tak terpatahkan, kita berusaha keras untuk mewujudkan semua ‘mimpi’ yang telah kita tuliskan.

Tetapi, seperti yang tadi telah kukemukakan, hidup seringkali penuh dengan kejutan. Tidak semua yang sudah kita rencanakan akan berjalan seperti yang kita harapkan. Jika itu yang terjadi, apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan terpuruk menyesali keadaan? Atau kau akan memaki dirimu sendiri? Atau yang lebih serius lagi, menyalahkan Tuhan?

Seorang kawan dalam sebuah obrolan ringan berkata bahwa kita perlu memiliki rencana cadangan. Rencana ke dua dalam menjalani kehidupan. Kau boleh saja menyebutnya plan B, plan C atau apapun.

Setelah kupikir-pikir, sepertinya aku setuju. Rencana ke dua akan sedikit membantumu keluar dari kebuntuan. Mengobati  sedikit kekecewaan atas suatu kegagalan. Atau yang lebih penting, rencana ke dua akan menahanmu untuk tetap bertahan mencapai tujuan, walau dengan jalan yang berbeda.

Katanya, dia, temanku itu, selalu memiliki rencana ke dua dalam setiap langkah hidupnya. Misalnya, saat ini dia sedang menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yang katanya itu dilakukannya sebagai ancang-ancang jika kelak dia merasa jenuh dengan pekerjaannya yang sekarang. Pendidikan yang dia jalani saat ini, akan memungkinkannya beralih ke jenis profesi lain, jika suatu saat diperlukan.

“Mungkin kita merasa nyaman dengan profesi kita saat ini,” Katanya padaku saat itu, “Tetapi apakah itu akan berlangsung selamanya? Bisa saja kan, suatu saat kita merasa bosan. Atau bahkan, keadaan memaksa kita meninggalkan pekerjaan ini.”

Aku termenung sejenak saat itu. Bahwa masa depan tak sepenuhnya bisa kita pastikan, itu sudah kupahami sebelumnya. Juga, bahwa kehidupan kadang tak selalu seperti yang kita inginkan, juga sudah kuyakini bahwa itu benar. Tetapi memikirkan bahwa suatu saat, aku akan meninggalkan profesiku yang sekarang, dan beralih pada profesi lain, sepertinya hanya samar-samar pernah melintas dalam pikiran. Tak pernah kupikirkan dengan serius. Malah, hal yang sering kubayangkan adalah aku yang akan terus menjalani profesiku ini hingga kelak masa baktiku selesai.

Tetapi melihat kesungguhannya saat mengatakan hal itu, mau tak mau aku pun jadi ikut memikirkan rencana ke duaku jika tidak lagi menjalani profesi ini. Coba tebak, apa yang kemudian aku pikir akan kulakukan? Percaya atau tidak, kalau aku berpikir untuk memilih jalan pedang dengan menulis? Errr... Jalan pedang atau jalan pena, ini ya?

Tolong jangan tertawa seperti itu. Aku tahu kemampuan menulisku masih receh sekali. Tetapi itu bukan halangan, bukan? Aku akan mulai mempersiapkan rencana ini dengan lebih serius. Jika kawanku itu sampai menempuh pendidikan yang lebih tinggi sebagai bentuk persiapan untuk rencana ke duanya. Maka aku akan serius mengasah kemampuan menulisku sebagai persiapan rencana ke duaku itu.

Hei! Sudah kubilang jangan mentertawaiku seperti itu. Hmmm… daripada kau tertawa saja, bagaimana kalau kau katakan padaku, apa rencana ke dua yang pernah terpikir di kepalamu?
Ngamprah, 5 November 2019

Jumat, 11 Oktober 2019

TAK LEKANG OLEH WAKTU

TAK LEKANG OLEH WAKTU
Cerpen Lily N. D. Madjid




Mata tua itu berbinar. Senyum simpul tak lepas dari bibirnya yang sedang mengalirkan kisah dari masa lalu. Bersamaan dengan itu, tangannya tetap lincah menyiangi sayuran di atas tampah.

Aku yang saat itu mendengarkan ceritanya ikut tersenyum. Memandang lekat wajahnya yang jelas sekali memancarkan rona bahagia.

Sebenarnya aku tidak terlalu memperhatikan lagi alur kisah yang sedang ia ceritakan. Karena ini bukan kali pertama aku mendengarnya. Aku lebih tertarik untuk mengamati raut wajahnya saat bercerita.

Dia induk semangku. Pemilik rumah kost tempat aku tinggal. Kami biasa memanggilnya Uti, karena begitulah ia ingin kami memanggilnya. Panggilan singkat dari eyang uti atau eyang putri.

Usia Uti tidak muda lagi, tentu saja. Pertengahan enam puluh, kukira. Bisa jadi lebih. Ia berpostur sedang, cenderung gemuk. Rambut beruban di kepalanya mulai menipis. Selalu digelungkan di puncak kepala.

Ia juga selalu rapi. Selalu mengenakan mantel harian berwarna merah bata yang mulai kusam melengkapi daster batiknya.

Uti sangat senang bercerita. Terutama tentang kisah hidupnya. Setiap kali ada kesempatan ia selalu bersemangat menceritakan kembali kisah-kisahnya. Tak peduli kami--anak-anak kostnya--sudah bosan mendengar cerita yang sama, ia tetap semangat berkisah. Mengingat faktor usia, bisa saja sih, ia sudah lupa kalau ia pernah menceritakan hal itu pada kami.

Kisah yang cukup sering kudengar adalah kisahnya dengan Mbah Parto, suaminya saat ini, alias bapak kost kami.

Konon menurut Uti, ia dan Mbah Parto telah menjalin kisah kasih sejak mereka masih sangat belia.

"Dulu kalau kami pacaran tidak seperti kalian sekarang." katanya sambil tertawa. Dulu sekali, saat pertama kali menceritakan kisah ini pada kami.

"Memangnya gimana, Ti?"

"Jaman Uti dulu, kalau mau ketemu itu, diam-diam. Ndak terang-terangan macam kalian. Sembunyi-sembunyi. Malu kalau dilihat orang."

"Wah, nggak asyik dong, Ti, kalau begitu."

"Ya, begitu itu." Uti terkekeh. "Pernah aku sama bapak itu janji mau ke pantai. Kami ketemu di suatu tempat. Aku datang duluan, sudah cantik. Pakai baju putih, rambutku kujalin. Kepang dua. Ndak lama trus bapak datang, pakai sepeda. Aku diboncengnya." kata Uti.

Kuamati wajah Uti yang menunduk, ia tersipu-sipu malu. Teman-temanku riuh menggoda.

"Senang dong, Ti?"

"Yo seneng. Ada takutnya juga, takut dilihat orang. Aku kan malu kalau ketahuan berdua-duaan begitu."

"Aciee, cieeee... Uti. Trus, trus, Ti?"

"Terus ya kami ke pantai. Jalan-jalan, duduk-duduk, sudah itu pulang."

Kisah selanjutnya berdasarkan cerita Uti, tidak selalu menyenangkan. Konon orang tua Mbah Parto malah menjodohkan si Mbah dengan wanita lain. Mereka pun putus hubungan.

Mbah Parto menikah dengan wanita pilihan orangtuanya. Tidak lama Uti pun menikah dengan laki-laki lain. Aku kurang jelas juga, apakah Uti menikah karena dijodohkan atau bagaimana.

Satu hal yang jelas, mereka, Uti dan Mbah Parto berpisah, membangun keluarga masing-masing. Jarak pun ikut memisahkan mereka, sebab setelah menikah, Uti dan suaminya merantau ke pulau seberang.

Berat sepertinya. Itu dapat kulihat dari gurat wajah Uti saat kisahnya sampai di bagian tersebut. Tetapi walaupun berat, keduanya tetap mampu bertahan. Bahkan melangkah ke depan menapaki garis takdir perjalanan hidup masing-masing, meski tak sesuai keinginan.

Hidup toh harus terus berjalan, bukan? Tak bisa mereka terus berdiam, menyalahkan takdir, apalagi menyalahkan Tuhan.

Berpuluh tahun mereka berpisah. Tak pernah saling berkabar. Menjalani kehidupan mereka sendiri-sendiri. Beranak pinak. Bahkan hingga mereka masing-masing memiliki cucu.

"Sewaktu istri bapak meninggal, dia lalu mulai cari tahu keberadaanku. Dapat nomor teleponku, dan menghubungi." mata Uti kulihat menerawang.

"Lalu, Ti?"

"Waktu itu, suamiku sudah lebih dulu meninggal dibanding istri bapak. Begitu tahu aku sudah single, bapak nyusul aku ke pulau seberang."

"Ce el be ka dong, Ti." riuh teman-temanku menimpali.

"Heheheh... Apa itu celebeka?" Uti terkekeh.

"Ya elaaah, Uti. Ce el be ka, Ti, bukan celebeka."

"Trus, trus, Ti?"

"Terus opo?" Uti masih terkekeh. "Terus ya aku nikah sama bapak. Terus aku di bawa bapak ke sini. Terus ketemu kalian-kalian ini." Uti terkekeh-kekeh lalu melanjutkan aktivitasnya memasak.

Walaupun sudah sepuh, untuk urusan dapur Uti masih sangat gesit. Bahkan di rumah ini ia menawarkan diri mengurus makan harian kami para penghuni kost. Pembayarannya boleh dilakukan saat transferan tiba. Tak jarang Uti juga memberi diskon saat akhir bulan.

"Nggak usah terlalu dipikirkan." katanya suatu waktu, saat aku bertanya apa dengan begitu dia tidak rugi jadinya.

"Aku biasa mengurus cucu-cucuku di pulau seberang. Bertemu kalian mengobati rinduku pada mereka."

Aku terdiam. Segurat sendu sekejap kutemukan di matanya yang biasa bersinar.

"Sebenarnya anak-anakku ndak suka aku ke sini. Mereka bilang, untuk apa aku menikahi bapak yang sudah tua dan sakit-sakitan. Hanya menambah beban. Kata mereka, seharusnya aku di seberang saja bersama mereka. Menghabiskan masa tuaku di tengah anak dan cucu-cucuku sendiri. Bukannya mengurus orang lain di sini..."

Sejenak Uti terdiam. Kemudian ia menoleh ke arahku, menatapku dalam.

"Tapi kalau kau benar-benar mencintai seseorang, apapun akan kau lakukan, bukan?"

~Tamat~

Jumlah kata: Tidak dihitung 🤭🤭🤭

Kamis, 26 September 2019

MISTERI HILANGNYA SEBUNGKUS ROKOK


#Detektif
#FIKSI
Misteri Hilangnya Sebungkus Rokok
Cerpen Lily N. D. 


Malam itu Parmin uring-uringan. Sebungkus rokoknya yang masih utuh hilang. Ya, hilang. Lenyap tanpa jejak. Kejadiannya begini, tadi dia sedang mengobrol dengan beberapa orang tetangganya di teras rumah. Biasalah, bersosialisasi dengan sesama penghuni gang. Biasanya mereka memang sering kumpul, mengobrol, ngopi bareng, ya … pokoknya kongkow-kongkowlah. Meski hanya di teras rumah.

Seingat Parmin, saat ngumpul tadi rokok itu masih ada di meja, bersama dengan sebungkus rokok lain yang sudah hampir habis isinya, beberapa buah korek api, bercangkir-cangkir kopi dan beberapa bungkus makanan kecil. Bahkan saat para tetangganya satu persatu mulai pulang ke rumah masing-masing, rokok itu masih ada di sana.

Parmin hanya meninggalkannya sebentar saja, saat ia beranjak ke aquarium untuk menunjukkan anakan ikan hias yang baru dibelinya pada Tejo. Setelahnya ia juga sempat mengobrol sebentar dengan Tejo sebelum lelaki itu juga pulang ke rumahnya.

Begitu ia kembali ke teras rumah, dan akan mengangkut cangkir-cangkir itu ke dapur, ia menyadari kalau sebungkus rokok itu sudah tidak ada lagi di sana.

“Yem, Iyem… kamu lihat rokokku? Satu bungkus. Masih utuh.” Tanyanya pada istrinya yang masih sibuk menyiapkan bahan masakan untuk dijual besok. Iyem yang ditanya diam tak menjawab. Wajahnya mendadak ditekuk.

“Ditanya kok malah begitu ekspresimu, Yem…” gerutu Parmin.

Lha memangnya ditaruh di mana rokoknya?”

“Tadi di meja te…”

“Di meja teras kok tanya sama aku, Kang… kan kamu tahu aku dari tadi sibuk masak di sini. Ndak sedetik pun aku injakkan kakiku ke teras depan. Lagi pula untuk apa aku ngambil rokokmu? Ndak bisa kumakan, Kang.” Iyem terus bicara. Parmin menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Ya tinggal dijawab saja, Yem. Nggak usah merepet macam itu.”

Habisnya, kamu kok pakai tanya aku, Kang. Aku sedang sibuk harus ngurus ini ngurus itu repot sendiri ndak ada yang bantu. Kok ditanya soal rokok. Kamu sedari tadi itu duduk-duduk santai sambil ngemil, ngopi, ngroko sama teman-temanmu. Ya sana tanya  sama rombonganmu tadi, bukan tanya aku…”

Alaaa… sudah, sudah… malah ngomel kamu, Yem. Pusing aku dengarnya.” Parmin mengacak rambutnya sendiri sambil bergegas meninggalkan istrinya. Masih didengarnya suara istrinya mengomel. Tetapi tak lagi dia acuhkan.

***** ***** *****

Parmin masih uring-uringan. Rokoknya belum juga ditemukan. Ditambah lagi sekarang Iyem mengomel tak karuan. Bising sekali. Segalanya diungkit-ungkit. Sampai masalah uang belanja yang sering absen dia setorkan, hingga kebiasaannya nongkrong hingga larut malam. Arrgh! Pusing.

Dan rokok itu, kemana pula perginya? Hmm… Parmin kembali ke teras depan. Mencari lagi dengan teliti. Di meja tidak ada. Di kolongnya nihil. Di dekat deretan akuarium, hanya ada pakan ikan. Hhhh! Ke mana perginya sebungkus rokok itu? Masa iya bisa menghilang begitu saja? Atau jangan-jangan… ada yang mengambilnya?

Parmin berhenti mencari. Dia duduk di bangku kayu sambil mengingat-ingat. Jika ada yang mengambil, siapa kira-kira pelakunya?

“Hmmm… kalau tidak salah, sebelum aku dan Tejo tadi ngecek ikan, ada Taryo dan Karso yang masih duduk di sini sebelum mereka juga pulang.” Gumamnya pelan.

Parmin terlihat berpikir keras. Memang ke dua tetangganya itu yang terakhir beranjak dari teras rumahnya, sebelum Tejo tentu saja. Tapi Tejo kan bersamanya. Lagi pula, setelah melihat anakan ikan, Tejo langsung pamit. Parmin sendiri yang mengantarnya hingga ke jalan sambil mengobrol. Jelas, Tejo harus segera dicoret dari daftar tersangka.

            Siapa yang tersisa? Taryo. Atau Karso? Parmin semakin keras berpikir. Tapi Karso bukan perokok. Untuk apa dia mengambil rokok jika tidak pernah merokok?

            “Tidak mungkin ‘kan dia ambil untuk dijual? Itu bukan rokok mahal.” Gumam Parmin, “kalau dijual pun mau dijual ke siapa?” Parmin tertawa masam. Sesekali tangannya kembali mengacak-acak rambutnya yang mulai menipis.

            “Tersangka terakhir, Taryo…” katanya pelan. Matanya menerawang. Mengingat sikap Taryo tadi saat sedang ngobrol bareng.

Taryo memang perokok kelas berat. Saat tadi mereka berkumpul, dia yang paling banyak merokok. Mulutnya tak berhenti mengepulkan asap. Satu batang habis dihisap, selalu disambung dengan batang rokok berikutnya.

“Tapi…”

Parmin terlihat ragu. Taryo memang perokok berat. Tetapi dia bukan orang tak mampu. Bisa dibilang, dari semua teman nongkrong Parmin, Taryolah yang paling tebal dompetnya. Jadi masalah rokok satu bungkus, itu receh sekali untuk dia. Tidak seperti Parmin, yang bisnis ikan hiasnya kembang kempis, lebih sering kempis dari berkembangnya.

            Arrrgh! Mumet kepalaku!” Maki Parmin sambil beranjak dari teras. Matanya mulai mengantuk. Diliriknya jam tua di dinding ruang depan. Pukul satu lewat. Pantas saja. Masuk ke ruang tengah dia hampir saja menabrak Surya, anak sulungnya.

            Haduh, kamu bikin kaget bapak saja, Sur.” Kata Parmin. Surya menguap lalu meregangkan tubuhnya. “Kenapa belum tidur?” Tanya Parmin.

            Lha Bapak sendiri kok belum tidur?”

            Isyh!  Kamu itu kok kayak emakmu, ditanya bukannya jawab malah balik tanya.” Rutuk Parmin. Surya malah nyengir.

            “Aku baru selesai belajar, Pak. Besok ulangan.”

            “Oooo… ya sudah, tidur sana. Besok kesiangan.”

            “Ya, Sur. Jangan sampai kesiangan seperti bapakmu itu. Setiap hari selalu saja kalah sama ayam tetangga. Mustahil ada cerita bisnis ikannya tambah maju, sudah habis rejekinya dipatuk ayam.” Sebuah suara tiba-tiba menimpali. Parmin melotot ke arah istrinya yang baru saja mucul.

            Ngomong apa kamu, Yem? Jangan seenaknya mulutmu itu bicara.”

            Lha kenyataannya memang begitu, kan Kang?”

            “Kenyataan apa?”

            “Ya kenyataanmu itu. Aku tiap pagi repot ngurusi anakmu yang lima orang itu. Nyiapkan mereka pergi sekolah. Belum lagi nyiapkan daganganku. Sementara kamu baru bangun setelah matahari tinggi. Untung ada Surya dan Cikal, kalau tidak…”

            “Stop! Bapak, Emak…” tukas Surya. Tangannya menutup dua telinganya. “Ini sudah larut malam.” Dipandanginya Parmin dan Iyem satu persatu. Lalu tersenyum lebar, “Emak dan Bapak tidur saja sekarang, ya? Ya? Ya? Biar besok bisa bangun lebih pagi. Nggak usah bertengkar, kasihan nanti adik-adik terganggu. Ya?”

            Parmin dan Iyem mendengkus berbarengan. Sesaat keduanya saling pandang, seperti akan melanjutkan perang mulut mereka. Tetapi kemudian Iyem membuang muka dan berlalu ke dapur. Parmin mengacak-acak rambutnya lalu melangkah ke kamar. Sementara Surya menghembuskan nafas keras-keras. Lega. Tidak perlu lagi mendengar pertengkaran emak dan bapaknya lagi.

            “Mas Uya?” satu suara mengagetkan Surya.

            “Awan? Ngapain kamu? Nggak tidur?”

            “Tadi sudah. Tapi sudah lama juga terbangun. Tadi bapak dan teman-temannya berisik sekali ngobrol di teras. Awan jadi susah tidur lagi.”

            “Ooo… ya sudah, sekarang kan sudah sepi. Cepat kamu tidur. Nanti terlambat bangun kan susah.”

            “Mas juga, ya.”

            “Ya. Sebentar Mas Uya ke kamar mandi dulu.”

*****  *****  *****

            Matahari sudah tinggi. Parmin menggeliat lalu bangun dari tidurnya. Sesaat pikirannya terasa kosong. Tetapi kemudian dia segera bangkit. Berjalan keluar dari kamar, Parmin melangkah mendekati meja makan. Ada yang menguarkan aroma sedap di sana. Parmin membuka tudung saji, mencomot sekerat tempe goreng, mencocolkannya ke dalam sambal  lalu memasukkannya sekaligus ke dalam mulut.

            Setelah itu dia berbalik menuju kamar mandi. Beberapa saat terdengar suara guyuran air. Suara Parmin terbatuk, diakhiri dengan suara muntah, kemudian pintu kamar mandi terbuka. Parmin ke luar dari sana. Tampangnya masih kusut. Hanya sedikit memerah dan terlihat ada jejak air di wajahnya.

            Anak bungsunya yang berusia dua tahunan tiba-tiba saja muncul dari ruang depan. Memandang ke arah Parmin lalu tersenyum.

            “Mana emakmu, Pung?” tanyanya. Si Kecil Pungkas menunjuk ke arah luar.

            “Sudah bangun kamu, Kang? Ada apa cari aku?” Iyem tiba-tiba muncul membawa wadah-wadah kosong bekas masakan yang pagi tadi di jualnya di depan rumah.

            “Cuma tanya.” Jawab Parmin acuh. “Eh, apa itu yang kamu makan, Pung?” Parmin mendekati Pungkas. “Ya ampuuun. Rokokku, Yem! Anakmu makan rokokku!”

            “Apa? Mana?” Iyem bergegas meraih Pungkas. Mengambil sesuatu yang dikunyah anak itu.

            Halaaah!  Lihat ini sisanya, hancur semua rokokku setengah bungkus diremas anakmu, Yeeem, Yem.” Geram Parmin. Iyem melotot galak memandang Parmin.

            “Anakku itu anakmu juga, kan, Kang? Siapa juga yang suruh kamu simpan rokok sembarangan. Biar saja, biar kubuang sekalian rokok sialan itu.”
            “Jangan-jangan Pungkas juga yang mengambil rokokku dua malam yang lalu itu.”
            “Haduh, Kang! Jangan sembarang menuduh anak sendiri. Malam itu kan si Pungkas sudah nyenyak tidur. Mana mungkin dia mengambil rokokmu! Itu pasti ulah teman-temanmu.
            “Ah… sudah, sudah! Kamu juga seenaknya menuduh orang, Yem.” Parmin berlalu meninggalkan istrinya.
****    *****  ****
Pukul dua belas lewat tiga puluh menit. Parmin masih membersihkan beberapa akuariumnya. Memberi makan ikan-ikannya. Sesekali berhenti untuk menyesap rokoknya. Belum ada pembeli hari ini. Padahal dia sudah mengunggah foto-foto cantik akuarium yang berisi  ikan-ikannya.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikum salam. Wan, sudah pulang kamu?”

Awan melangkah lesu mendekati Parmin. Mencium tangan bapaknya itu, kemudian membuka tasnya dan menyerahkan selembar kertas yang terlipat.

“Apa ini?”

“Surat panggilan dari bu guru. Bapak atau emak diminta datang besok pagi.”

“Ke sekolah? Ada apa? Kenapa? Kamu bikin masalah di sekolah, Wan?” berondonng Parmin. Awan hanya menunduk. Kemudian menggeleng.

“Maksudmu apa, Wan? Bapak ndak ngerti.”

“Pokoknya bapak datang saja besok. Ditunggu bu guru.” Jawab Awan lalu melangkah masuk ke rumah. Tinggal Parmin yang mulai mengacak-acak rambutnya gemas.

“Hhhh… bikin susah saja. Ada apa toh? Jangan-jangan harus bayar ssuatu? Haduuuh, mana ikanku belum ada yang laku. Hhhh…”

****    *****  ****

            “Jadi begini, Pak…” Kata wali kelas Awan memulai pembicaraan. Parmin menyimak dengan serius. Sesungguhnya dia masih khawatir kalau-kalau harus mengeluarkan uang. Awan yang juga hadir di ruangan itu duduk di sebelah Parmin dengan wajah tertunduk.

            “Ya, Bu guru.” Kata Parmin.

            “Langsung saja ke intinya ya, Pak. Jadi maksud kami mengundang Bapak ke sini, ingin menginformasikan, bahwa ananda Awan kedapatan membawa rokok ke sekolah.” Kata bu guru dengan tenang. Parmin melotot. Lalu menoleh pada anaknya.

            “Kamu merokok, Wan?” Tanya Parmin geram.

            “Tidak. Bapak jangan menuduh!” Awan mengelak.

            “Tapi tadi bu gurumu bilang….”

            “Sabar dulu, Pak Parmin.”

            “Tapi, Bu Guru…”

            “Ya, Pak. Tadi saya memang mengatakan bahwa Awan kedaptan membawa rokok dalam tasnya. Tetapi saat kami Tanya, Awan tidak mengakui kalau ia merokok. Katanya rokok itu juga bukan miliknya.”

            Lha, kalau begitu itu rokok sia…”Parmin tidak menyelesaikan kalimatnya saat melihat ibu guru mengeluarkan sebungkus rokok dari laci meja kerjanya. “Lho, itu kan…”

            “Kenapa, Pak Parmin?” bu guru mengernyit heran.

          “Ah, tidak, tidak… tidak apa-apa.” Parmin mengusap wajahnya yang tiba-tiba saja berkeringat. Berkali-kali dia melirik anaknya yang masih menunduk.

           "Ya. Jadi, saat terus kami tanya, Awan tidak juga mau menjelaskan. Dia memilih menutup mulut. Oleh karena itu, kami meminta orangtua untuk hadir. Barangkali jika didampingi orang tua, Awan akan lebih leluasa untuk bicara.”

            “Eh, eu.. anu itu…” Parmin terbata. Tangannya mulai mengacak rambut di kepalanya.

            “Itu rokok bapak, Bu.” Tiba-tiba saja awan mengangkat wajahnya.

            “Eh?” Parmin dan bu guru sama-sama menoleh ke arah Awan.

            “Itu rokok bapak. Malam itu Awan ambil rokok bapak biar bapak berhenti merokok. Awan tidak suka bapak merokok. Bapak sering batuk-batuk. Emak juga sering marah-marah kalau bapak merokok. Katanya bapak ndak pernah punya uang kalau emak minta buat belanja, tapi selalu ada uang untuk beli rokok dan kopi. Makanya, rokoknya Awan sembunyikan. Sengaja Awan simpan dalam tas supaya tidak ditemukan bapak…” Awan masih terus berbicara. Menjelaskan ini dan itu pada gurunya panjang lebar. Tiba-tiba saja Parmin merasa Awan mirip sekali dengan ibunya. 

Sementara di depan Parmin bu guru mendengarkan cerita awan sambil sesekali terlihat sungkan menatap ke arah Parmin.

TAMAT 

PUISI RAKYAT (PUISI LAMA): PANTUN

      KOMPETENSI DASAR 3.9 Mengidentifikasi informasi (pesan, rima, dan pilihan kata) dari puisi rakyat (pantun, syair, dan bentuk puis...