Kamis, 02 Januari 2020

S E B U A H R E N C A N A

SEBUAH RENCANA
oleh Lily N. D. Madjid

Ayo kawan kita bersama
menanam jagung di kebun kita
Ambil cangkulmu, ambil pangkurmu,
kita bekerja tak jemu-jemu...

Arya masih mengayunkan cangkulnya. Tanah basah sesudah hujan memudahkan usahanya. Banyak benih jagung yang harus disemai, tetapi sebagian besar lahan belum selesai ia garap. Sejenak Arya menghentikan ayunan cangkulnya, mengusap peluh yang menetes.

Juragan Karta sudah berpesan agar Arya menyelesaikan garapan ladang jagung di sebelah utara.

“Itu untuk melunasi utang ayahmu!” Ketus Juragan Karta saat itu.

Ya. Untuk lahan garapan seluas ini, Arya tidak akan menerima upah, karena upahnya sudah diambil ayahnya di muka sebagai utang. Beruntung, istri Juragan Karta mau memberinya jatah maka siang. Jika tidak, entah apa jadinya Arya, bekerja dengan perut kosong sepanjang hari.

Tetapi tentu Arya tak hanya mengucapkan terimakasih saja pada kebaikan Bu Karta. Ia akan merelakan waktu istirahatnya untuk mengerjakan apa saja yang diminta oleh wanita kaya itu. Menyiangi kebun belakang, menangkap ikan dari kolam, menyikat lantai kamar mandi, dan sebagainya. Apa pun, asalkan Arya bisa membayar sepiring makan siang yang diterimanya.

*****

“Arya! Ayah butuh uang. Kau pinjamkan seratus dua ratus pada Juragan Karta!” Kata Dipa, ayah Arya, di suatu sore saat lelaki itu bersiap-siap akan ke luar dari rumah kayu mereka.

“Aa..Arya tidak berani, Yah. Lahan di sebelah utara, pembayar utang ayah yang terakhir belum lagi selesai Arya garap.”

“Masa bodoh dengan lahan itu. Kubilang aku butuh uang. Tak peduli bagaimana caramu mendapatkannya!”

“Tapi, Ayah!”

“Mau kutinju, kau? Terus saja membantah! Mana baktimu pada orang tua?”

Arya menunduk. Dia memilih diam daripada merasakan kepalan tangan ayah di tubuhnya. Entah bagaimana caranya nanti agar ia bisa mendapatkan uang itu.

Istri Juragan Karta memang baik. Tetapi Juragan Karta, dia sama kejam dengan ayahnya. Entah berapa kali caci maki dan hinaan yang Arya terima dari Juragan Karta. Ditambah hinaan tuan tanah itu pada ayahnya, membuat Arya seringkali merasa bagai sampah. Tetapi ia toh tak bisa berbuat apa-apa. Arya harus tetap bekerja di sana, melunasi semua utang-utang ayahnya.

*****

Sore ini Arya bekerja sambil menahan sesak di dada. Tadi dia memberanikan diri, dengan menahan rasa malu, meminjam uang pada Bu Karta, tetapi sial, rupanya suaminya ada tak jauh dari sana. Muntahlah segala serapah dari mulut lelaki tua itu pada Arya. Mengalirlah segala hina dan cela pada Arya hingga ia pamit meninggalkan rumah itu membawa luka.

Diayunkannya cangkulnya sekuat tenaga. Melampiaskan segala marah dan kecewa dalam setiap geraknya. Ia sudah tak tahan lagi. Kesewenangan ayah membuatnya harus menelan hinaan Juragan Karta. Ia harus mengakhirinya. Ia tak mau lagi terinjak-injak.

Sudah tersusun rapi sebuah rencana dalam kepalanya. Ya, rencana ini akan membebaskannya dari segala beban dan tekanan.

Matahari sudah tenggelam di ufuk barat. Arya mengemasi peralatannya dengan rapi. Serapi rencana di kepalanya untuk membereskan ayah malam nanti.

Ambil cangkulmu
Ambil pangkurmu
Kita bekerja tak jemu-jemu

HUJAN DAN KENANGAN

HUJAN DAN KENANGAN
oleh Lily N. D. Madjid

Gerimis merinai. Rintiknya turun bagai jutaan jarum dingin yang menyerbu bumi.

Aku masih duduk di sini. Berteman secangkir teh lemon kesukaanku. Kuhirup aromanya yang menguar. Sambil kugenggam erat cangkir yang masih setengah terisi. Hangat menjalar.

Hujan dan secangkir teh selalu saja cepat menyeret untaian kenangan di kepala. Tentang apa lagi jika bukan kenangan indah tentangmu.

Kenangan terakhir kita, terjadi saat hujan turun seperti ini. Kuucapkan salam perpisahan, lalu matamu menatap nanar penuh pertanyaan.

Kau tak pernah tahu, mengapa dingin belatiku merobek kulitmu. Lalu aku dengan penuh kasih menggenggam hangat hatimu. Ya, aku merebutnya kembali setelah ia dicuri perempuan itu.

SELENDANG IBU

SELENDANG IBU
Oleh Lily N. D. Madjid

Suhu 40°C membuatku tak berdaya. Badanku panas, tapi aku merasa kedinginan. Ingin rasanya berselubung selimut tebal. Tapi perawat melarang. Selendang batik peninggalan ibu jadi solusi.
Padahal, dulu kukesal, saat ibu hanya memberiku selendang-selendang batik. Sementara kakak-kakakku mendapatkan koleksi peralatan makan keramik, lemari-lemari jati, meja kursi antik dan benda-benda lain yang menurutku lebih berharga.
Tapi, saat panas tubuh seperti menghilangkan setengah kesadaranku, betapa selendang batik lembut ini memberikan kenyamanan. Seolah ibu sendiri yang ada di sini, mendekapku, memberikan belaian.
"Ibu ...."
***
"Mama? Dokter, tolong!"
Nak, mengapa panik? Sekarang, aku senang. Rasa sakit telah hilang. Dan itu, ibuku menjemputku pulang.

LUKA

L U K A
oleh Lily N. D. Madjid

"Maukah kau mengiringi perjalanan hidupku?"
Pemuda berwajah tampan itu bertanya ragu.
Sungguh tak kuduga. Selama ini kedekatan kami kuanggap hanya pertemanan biasa.
"Baiklah," katanya, saat dengan halus kutolak dia dan kujelaskan isi hatiku yang sebenarnya. Juga tentang sosok yang diam-diam kucinta.
Kutangkap getar dalam suaranya saat melangkah pergi setelah mendoakan agar aku bahagia.
***
Kutatap raut bercahayanya, dengan keluarga kecil yang ia punya, melalui gawai di tangan. Segurat luka kurasa di dada.
Sementara aku? Perjalanan waktu mengantarku pada nestapa semata. Orang yang kucinta tak pernah membalas rasa. Dan hingga kini kutetap dengan predikat jomblo merana.

E L E K T R A

E L E K T R A

(Short Version)
Oleh Lily N. D. Madjid

Entah apa yang kurasakan kini. Penyesalan? Mungkin. Nyaris tanganku melukai Elektra, anakku. Aku sendiri tidak mengerti. Satu sisi, aku tidak ingin hal buruk menimpa anak itu. Di sisi lain aku ingin ia lenyap. Aku benci Elektra. Dia mengingatkanku pada sosok lelaki itu. Lihat matanya, hidungnya, bibir dan dagunya, semua milik almarhum ayahnya.

Dulu, lelaki tua itu menikahiku sebagai penebus hutang orangtuaku. Itu membuatku membencinya. Dia memanfaatkan keadaan kami. Ia merenggutku dari masa mudaku, dari pergaulan remajaku, dari teman-temanku, juga dari seorang kekasih yang kucinta. Ia merenggutku untuk menjadi miliknya.

Elektra hadir begitu saja tak lama setelah aku dipaksa menjadi istri lelaki itu. Mewarisi nyaris seluruh raut wajahnya. Membuatku muak. Apalagi lelaki itu begitu bahagia menyambut kelahiran Elektra. Tidak. Aku tidak rela lelaki yang telah merenggut kebahagiaanku menikmati kebahagiaannya.

Kebencianku padanya kutumpahkan pada anak itu. Itu membuat lelaki tua itu terluka. Biar saja. Itu tidak seberapa dibanding lukaku karena ulahnya. Inilah pembalasanku pada lelaki tua itu. Walau, dadaku seringkali sesak setiap kali wajah kecil itu menampilkan berjuta pertanyaan.
***
“Mama….”
Sejak kapan Elektra berdiri di sana? Matanya sembab, pipinya bengkak bekas tamparanku. Dia berjalan mendekat. Senyumnya merekah. Nafasku sesak. Lihatlah apa yang telah kulakukan pada gadis kecil itu.

“Mama sedang istirahat?”

“Untuk apa kau kemari?” ketusku.

“Mama jangan marah, aku tidak akan mengganggu. Aku tahu mama lelah—ayah yang bilang begitu….”

“Jangan kau sebut-sebut ayahmu di depanku! Dan omong kosong apa pula itu? Ayahmu sudah mati!” Hardikku. Sekilas kutangkap raut ketakutan di wajah manisnya.

“Mama, aku bilang jangan marah. Aku tidak akan mengganggu istirahat mama.”

“Kalau begitu tunggu apalagi? Cepat pergi sana sebelum aku muak.”

“Aku hanya ingin mengantarkan….” Elektra tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia berlari ke luar kamar. Tak lama muncul lagi membawakan segelas kopi hangat yang masih mengepul. “Ini kopi pahit kesukaan mama. Aku juga mau minta maaf karena tadi sudah membuat mama marah.”

Tiba-tiba saja tenggorokkanku sakit sekali. Seperti ada isak yang mendesak ingin meledak di sana. Mataku juga mulai memanas. Aku nyaris menangis mendengar kata-kata yang diucapkan Elektra.

Tapi sebelum itu terjadi, segera kusambar gelas dari tangannya. Kuteguk langsung hingga nyaris tak bersisa. Elektra menatap dengan penuh suka cita. Senyum di bibirnya yang pecah semakin lebar.



“Ah, selain lelah, ternyata mama juga sangat haus. Tapi tenang saja, Mama. Setelah ini mama pasti tidak akan merasakan kelelahan lagi. Mama akan segera tidur dengan tenang. Tidur nyenyak. Itu membantu menghilangkan rasa lelah, Mama.”

“Apa maksudmu?” tanyaku.

Elektra tak menjawab. Senyumnya semakin lebar. Apalagi saat dia melihatku meringis karena deraan rasa nyeri yang tiba-tiba saja menyerang dada kiriku. Pandanganku pun mulai berputar-putar.

“Kasih ibu, kepada beta …” Senandung Elektra pelan.

“Elektra, apa yang kau lakukan padaku?” Erangku panik sambil menahan sakit yang semakin menghebat. Pandanganku mulai gelap. Tapi masih bisa kudengar suara Elektra walau semakin lama semakin sayup.
“Ayah bilang mama lelah, makanya selalu marah padaku. Aku ingin mama istirahat dengan tenang. Makanya kumasukkan semua persediaan obat tidur ke dalam kopi mama tadi.” Katanya. Satu hal yang masih kulihat sebelum aku kehilangan kesadaran adalah senyuman Elektra yang semakin lebar.

Minggu, 22 Desember 2019

EKSEKUSI MATI

EKSEKUSI MATI
Oleh Lily N. D. Madjid



Kejam. Sungguh kejam mereka. Dikurungnya kami berhari-hari, dengan hanya diberi makan seadanya. Itupun hanya sehari sekali. Padahal apa salah kami hingga mereka memperlakukan kami seperti ini?

Lihatlah mereka. Setelah memperlakukan kami seperti ini, mereka masih dapat bernyanyi-nyanyi dengan riangnya.

Potong bebek angsa
Masak dikuali
Nona minta dansa
Dansa empat kali... 

Aaaargh! Aku benci lagu itu. Aku benci mereka yang berwajah tanpa dosa setelah berbuat seenaknya pada kami. Di mana hati nurani mereka? Sungguh aku ingin menjerit, memaki, mencaci mereka tanpa henti.

"Sabar, sayang. Mungkin ini semua ujian bagi kita." Suamiku memberikan penghiburan. Ah, lelakiku yang tabah dan penyabar. Untunglah aku masih memilikinya. Setelah satu persatu keluargaku mereka renggut. Jika ia tidak ada di sisiku untuk menenangkan, entah apa jadinya aku. Mungkin aku sudah lama kehilangan kewarasan.

"Aku tak kuat lagi, Bang."

"Sabar, Sayang, sabar... "

"Bagaimana kalau kita mencoba lari dari sini?"

"Sayang. Aku ... Aku tidak yakin. Tidak semudah itu bisa lari dari mereka. Lihatlah, kita berdua berada dalam penjara, lagi pula... "

"Jika kita tetap di sini, itu berarti kita menyerahkan diri pada kematian, Bang! Kau ingat bagaimana mereka membantai ayah, ibuku, ibumu, bahkan anak kita...  Anak kita, huhuhuhuhu...  Aku tak kuat lagi, Bang. Aku ingin pergiii.... "

"Sayang,"

"Tidak. Aku tak ingin bertahan, jika itu yang akan Abang katakan!" teriakku putus asa. Kudorong sekuat tenaga pintu penjara yang mengurung kami berdua.

"Sayang, penjara ini tak mungkin kita tembus."

"Aku tak peduli jika Abang sudah menyerah. Tapi aku tidak. Aku akan terus berusaha." ketusku.

Suamiku terlihat termenung. Lalu kemudian, dia ikut membantu mendorong pintu jeruji ini sekuat tenaga. Terlihat bodoh memang. Tetapi bukankah kita harus terus berusaha?

"Hei! Kalian berdua! Mau mencoba kabur ya?" Satu suara mengejutkanku. Celaka, kami ketahuan. Dan, oh tidak! Dia memanggil teman-temannya.

"Lihat mereka berdua. Mereka mencoba keluar dari sini. Hahaha...  Lucu sekali."

Gerombolan itu mengelilingi kami, menertawai kami seolah kami mahluk bodoh. Padahal kami hanya ingin mempertahankan diri, ingin mencoba bertahan hidup.

"Ambil satu. Kita eksekusi sekarang juga!" kata seseorang. Oh, tidak.

"Kau menjauh sayang, biar aku yang menghadapi mereka." kata suamiku. Airmataku bercucuran.

Kulihat suamiku menghadang mereka. Tapi apalah daya, dia hanya sendiri. Mereka memegangnya bersama-sama. Mengunci tubuhnya dalam sekali renggut.

"Abaaang!" Jeritku histeris. Melihat mereka membuat suamiku tak berdaya.

"Ambil senjataku!" teriak seseorang.

Ya Tuhan. Aku tak kuat lagi. Lihat mereka...  Aaargh! Tidaaaak...  Mereka, mereka menggorok lehernya. Di depan mataku. Dasar manusia-manusia laknat! Sekarang mereka bahkan menyiramnya dengan air panas. Keji. Aku tak ingin melihat lagi. Aku tak sanggup melihat lagi.

Kututup mataku yang bercucuran air mata. Ah, Abang. Sepertinya sebentar lagi aku kehilangan kewarasanku.

TRAK!
TRAK!

Aku mengintip ke arah datangnya suara. Di sana mereka sedang mencincang tubuh telanjang suamiku. Gila! Mereka membelah perut dan mengeluarkan isinya. Mencincangnya menjadi potongan-potongan kecil dan memercikinya dengan perasan lemon.

Dapatkah kau bayangkan pedihnya? Aku tidak. Sebab aku sudah kehilangan kesadaranku saat seseorang berteriak keras.

"Bebeknya sudah siap, mana bumbu rica-ricanya?" Orang itu membawa potongan-potongan tubuh suamiku sambil bersenandung riang.

Potong bebek angsa
Masak dikuali
Nona minta dansa
Dansa empat kali...

Jumat, 20 Desember 2019

BINTANG KECIL

BINTANG KECIL
Oleh Lily N. D. Madjid


Malam ini cerah sekali, walau bulan hanya sebentuk sabit. Langit bersih. Bintang-bintang bertaburan di langit. Aku suka suasana seperti ini. Aku suka memandang taburan bintang di langit sana, seperti taburan permata di tiara milik mama. Aku suka membayangkan diriku duduk di lengkungan bulan sabit itu.

Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada

Kusenandungkan lagu kesukaanku.  Dulu, mama yang mengajariku lagu itu. Kugumamkan berulang-ulang. Kuayunkan dua kaki seiring larik-larik lagu yang keluar dari bibirku. Ayunan yang kududuki melambung semakin tinggi dan ssemakin tinggi. Biasanya, jika kunyanyikan lagu itu, mama akan ikut bernyanyi bersamaku. Ia bernyanyi sambil memelukku dan kami memandang ke arah langit berdua.

Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada

Tetapi kini tak ada  lagi mama. Dia telah tiada. Kutemukan ia dengan belati menancap di dada, suatu hari, sepulangku dari sekolah. Darah membasahi seluruh tubuhnya. Aku menjerit-jerit mamanggilnya. Tetapi dia diam saja. Hanya matanya saja yang terbuka, menatap ke langit sana. Mungkinkah mama menatap bintang kesayangan kami? Tetapi di siang hari tak ada bintang yang bertaburan, bukan?

Lalu nenek dan kakek membawaku ke sini. Ke desa tempat mereka tinggal. Kata mereka aku tak mungkin tinggal sendiri setelah mama pergi, dan papa mendekam di balik jeruji. Aku pun berpikir begitu. Terlalu menyedihkan kenangan yang tertinggal di rumah itu. Sampai sekarang aku bahkan tak tahu, apa yang membuat papa tega menyarangkan belatinya di dada mama. Bukankah selama ini mereka saling mencinta?

Di desa ini aku lebih tenang. Tak ada lagi mimpi buruk tentang kematian mama dalam tidurku. Apalagi di desa kecil ini, langitnya selalu lebih indah di malam hari. Seperti malam ini. Kau lihat? Bintang bertaburan di atas sana. Gemerlap tak terkira. Apakah mama ada di sana? Duduk di antara lengkung bulan sabit, menikmati kilauannya?

Kupejamkan mata. Membayangkan mama dengan senyumnya. Dengan suara merdunya. Kuhapus bayanganku tentang mama di saat terakhir aku melihatnya. Ya. Akan kuhapus saja. Hanya yang terindah saja tentang mama yang boleh tersisa dalam kenangan di kepala. Juga dalam dada.

Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada

Udara terasa dingin menggigit. Kuusap tengkukku yang meremang. Sejenak aku terdiam. Ada yang ikut bersenandung di sana. Entah di mana. Lirih suaranya mengalun lembut. Kutajakan pendengaran, juga mencari dari mana suara itu berasal.

Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada

Ah, di sana. Di bawah rerimbun pohon angsana, kulihat sebuah siluet berdiri tegak menghadap ke arahku. Mataku terpicing. Bayangan itu seperti sosok tak asing. Dan senandungnya yang mengiringi gumam laguku, bukankah suara yang begitu kukenal?

Bukankah itu … Mama?

D I A N D R A

D i a n d r a
Oleh Lily N. D. Madjid


Diandra berlari secepat kaki kecilnya mampu membawanya menjauh. Tetapi luka dikaki menghambatnya untuk bergerak cepat. Sementara paman mata satu yang mengejarnya semakin mendekat.

Diandra menyesal, tadi kakek dan nenek sudah melarangnya bermain jauh dari rumah. Tetapi suasana desa ini terlalu menarik untuk dilewatkan. Jiwa petualang dalam diri Diandra memberontak tak ingin dikekang.

Di mata Diandra,desa ini begitu menarik. Bukan hanya keindahan yang memukau. Menemukan kenyataan bahwa tak dilihatnya anak seusia dirinya di sana membuatnya bertanya-tanya. Gadis kecil sembilan tahun itu penasaran. Ke mana mereka? Dalam keasyikannya, ia lupa pada larangan kakek dan neneknya.

*****

Saat ini Diandra masih berusaha berlari walau kakinya sudah sangat letih. Nafasnya tersengal. Ia tak kuat lagi, tetapi paman berwajah menakutkan itu masih mengejar di belakangnya. Dia tertawa-tawa gembira. Berteriak-teriak pada Diandra.

"Jangan lari cicak kecilku. Kemarilah... Hahahahaha... "

Diandra mempercepat ayunan langkahnya sambil menggigit bibirnya kuat-kuat menahan nyeri di kakinya.

"Kakeeek... Neneeek... Tolong Andra. Tuhaaan, jauhkan orang itu dari Andra." Mulut Diandra komat-kamit di antara deru nafas paniknya.

****

Awalnya, saat sedang berjalan menyusuri jalan desa yang mengarah ke hutan kecil tadi, Diandra melihat sebuah rumah kecil. Dari dalamnya terdengar suara seseorang bernyanyi riang.

Cicak-cicak di dinding
Diam diam merayap
Datang seekor nyamuk
Hap ... lalu ditangkap

Diandra mendekat karena penasaran. Pintu rumah kayu itu tertutup rapat. Jendela-jendelanya berteralis kayu. Ia semakin mendekat, melongokkan kepalanya di ambang jendela. Mata Diandra terbelalak melihat pemandangan di depannya. Di sana berjajar tubuh anak-anak seusia dirinya, telah menjelma mummi  tanpa kain membalut. Wajah mereka yang sudah mengkerut seperti menampakkan ketakutan yang teramat sangat. Bertolak belakang dengan wajah paman bermata satu di dekatnya yang terus saja bernyanyi dengan keriangan yang berlebihan.

Saking terkejutnya, Diandra lupa. Ia berteriak ngeri, membuat paman itu mengethui keberadaan Diandra. Ia marah. Mengejar Diandra yang berlari menghindar. Kepanikan dikejar oleh lelaki bertampang mengerikan  membuat Diandra tak memperhatikan langkahnya. Kakinya luka entah terkena apa. Diandra tak menghiraukan. Ia hanya ingin menyelamatkan diri. Tetapi langkahnya malah membawanya masuk ke dalam hutan.

****

Diandra diam menahan nafasnya, juga menahan sakit di kakinya. Ia menyurukkan diri ke sebuah lubang di tengah pohon besar. Hanya itu persembunyian yang dapat ia temukan. Suara paman bermata satu masih terdengar. Bersenandung dengan riang.

Cicak-cicak di dinding
Diam diam merayap
Datang seekor nyamuk
….

Lalu sunyi.

Diandra menajamkan telinganya. Tak ada lagi suara. Apakah Paman mata satu itu telah pergi? Diandra ingin memeriksa, tetapi ketakutan masih menyekapnya.

Entah berapa lama dia meringkuk di sana. Hingga kesunyian melingkupinya. Diandra mengangkat wajah. Ia mencoba melangkah dari dalam lubang persembunyiannya.

“Hap! Kamu kutangkap, Cicak Kecil!” Suara serak menyeramkan terdengar di sisi telinga Diandra. Ia masih sempat berteriak, sebelum sebuah pukulan membuat dunianya gelap.

**** **** ****

Di rumah, kakek dan nenek panik kehilangan Diandra. Hingga beberapa  waktu kemudian, seorang lelaki  melintas di depan rumah mereka.

“Ada apa, Pak Ramdan?”

“Cucuku menghilang, Pak lurah.”

Pak lurah memberikan simpatinya. Menenangkan kakek dan berjanji akan mengerahkan warga untuk mencari Diandra. Setelah itu ia melangkah pergi. Sebuah senyum simpul terukir di bibirnya. Matanya yang hanya sebelah memancarkan gairah.

P E N U N G G U

PENUNGGU
Oleh Lily N. D. Madjid


Hari ini adalah hari pertamaku tinggal di rumah baru, di kota yang juga baru. Aku baru saja dimutasi ke kota  ini. Saat pindah, kuboyong serta keluarga kecilku. Amarylis, istriku, tidak mengeluh. Dia dengan lapang dada menerima kepindahan kami ke kota kecil ini. Begitu juga Sakti, putra semata wayang kami yang masih berusia balita. Dia malah terlihat antusias sekali.

“Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku….”

Aku menggeliat. Suara nyanyian kecil Sakti menyusup ke gendang telingaku. Ah, sudah bangun rupanya bocah itu. Kucoba memicingkan mataku yang masih terasa berat. Bocah kecil itu masih meringkuk di sudut kasur kami. Tetapi matanya sudah terbuka lebar. Mulut kecilnya bersenandung tanpa henti.

“Papa,” sapanya setelah menyadari aku memandangnya. “Papa, aku mau mandi.” Sakti bangkit dan mendekat. Aku kembali menggeliat.

“Sama mama, ya?”

“Mamanya mana?”

“Coba Sakti cari mama di dapur,” kataku sambil kembali memejamkan mata. Sungguh aku masih mengantuk. Kegiatan pindahan kemarin sangat menguras tenaga. Sakti turun dari tempat tidur, lalu menghilang di balik pintu kamar.

“Mamaaa … Mama, aku mau mandi!” teriak bocah kecil itu. Tidak lama kudengar suara siraman air di kamar mandi, ditingkahi senandung Sakti bernyanyi.

Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku….”

*****

Aku baru saja akan kembali terlelap saat kusadari satu sosok berdiri di ambang pintu kamar. Amarylis. Ia memandangiku sambil tersenyum.

“Sakti mandi sendiri?” Tanyaku. Ia mengangguk lalu melangkah mendekat. Anggun sekali caranya berjalan. Di sisi pembaringan dia berdiri memandangiku lekat. Masih dengan senyum yang mengembang.

“Kenapa?” tanyaku. Tidak biasanya dia bersikap malu-malu seperti itu. Amaryllis hanya menggeleng. “Sini, temani aku di sini.” Istriku mendekat. Memelukku erat sambil mengecup dua pipiku. Matanya yang berbinar menatapku lekat. Aku balas mendekap dan menciumi wajahnya. Tubuhnya.

“Mmm … Kamu pakai parfum baru, ya?” gumamku. Rasanya sebelumnya Amarylis tak pernah memakai parfum beraroma lembut melati seperti ini.” Dia tak menjawab. Hanya tersenyum. Semakin gemas aku dibuatnya. Tapi aktivitasku terganggu oleh suara berkelontang keras dari arah kamar mandi. Aku terlonjak kaget.

“Sakti …” Aku dan istriku saling pandang.

Bergegas aku berlari ke arah kamar mandi. Jangan-jangan anak itu terpeleset. Kamar mandinya memang belum sempat kubersihkan sejak kami datang kemarin. Lantainya masih licin berlumut.

“Mas! Mas Arshaka! Tolong, ini Sakti jatuh…” Aku tertegun. Itu suara teriakan Amarylis. Tapi kenapa suaranya berasal dari dapur?

Diambang pintu kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur, kulihat amarylis sedang memangku Sakti yang menggigil pucat.

“Amy,” desisku. “Bukannya kamu tadi … kita …” aku tergagap.

“Apa sih, Mas? Ini bantu anaknya!”

Walau jantungku berdebar keras, kuabaikan dulu untuk segera menolong Sakti.

“Papa, papa … “

“Sakti kenapa?”

“Sakti takut, Papa …” bisik sakti sambil melirik ke arah kamar mandi. Dia masih gemetar.

“Takut apa?” tanyaku dan istriku bersamaan.

“Nenek itu marah. Dia nggak suka dengar Sakti nyanyi lagu Bangun Tidur …”

“Nenek? Nenek Siapa?” aku dan istriku saling pandang.

“Nenek muka seram yang ada di kamar mandi. Dia galak, nggak seperti tante baik hati di kamar kita.” Katanya.

Kurasa kepalaku pening tiba-tiba.

Kamis, 19 Desember 2019

GIRI DAN JATI

Giri dan Jati
Cerpen Lily N. D. Madjid



Giri melangkah gontai, menyusuri lorong-lorong  pasar yang sepi. Toko-toko sudah tutup. Ternyata tidak mudah menjadi pemulung. Setiap pemulung sudah memiliki daerah operasi sendiri. Giri yang baru kali ini turun ke pasar berkali-kali ditegur. Mulai dari teguran pelan hingga bentakan kasar.

Begitupun dengan tempat bermalam. Tidak semua emper toko bisa dijadikan tempat melepas lelah. Empat kali Giri diusir saat merebahkan diri melepaskan penatnya. Ternyata hidup di jalan tidak semudah yang Giri bayangkan.

*****

“Kamu anak baru?”

Giri terlonjak. Dia baru saja merebahkan diri di sudut  terdalam pasar. Tempatnya sepi. Giri tidak melihat sesiapa di sana tadi.

“Ya.” Gumam Giri setelah reda dari keterkejutannya. Seorang anak duduk di bagian tergelap.

“Dari mana?”

“Aku lari dari rumah.”

“Lari?”

“Ayah tiriku pengangguran kejam. Aku tak tahan disiksa.”

“Hmmm …”

Giri memicingkan matanya. Tetapi malam mengaburkan pandangan Giri. Hanya siluet anak itu yang terlihat.

“Kamu sudah lama di sini?”

Tak ada jawaban. Samar-samar Giri melihat anggukannya.

“Namamu siapa?”

“Jati.”

“Aku Giri.” Giri mengenalkan diri. “Mudah-mudahan kamu tidak mengusirku. Aku tak kuat lagi jika harus mencari tempat lain untuk bermalam.”

“Kamu mau tidur di sini?”

“Kamu keberatan?”

“Tidak. Aku senang. Tapi tempat ini sepi sekali. Siang hari pun orang tak kemari.”

“Kenapa?”

“Kamu tidak tahu?”

“Apa?”

“Ah, ya. Kamu pendatang baru.”

“Memangnya kenapa?” Giri penasaran. Jati tak langsung menjawab. “Jati? Ayo ceritakan.”

“Nanti kamu takut mendengarnya.”

“Aku pemberani. Makanya kuputuskan meninggalkan rumah.”

“Tidak. Kamu takut pada ayah tirimu, makanya kamu lari dari rumah.” Jati terkekeh. Giri mendengus.

“Ceritakan saja. Kenapa orang-orang tak pernah lagi datang kemari.”

“Orang-orang tak berani datang kemari. Sejak … ditemukan mayat korban mutilasi di lorong ini. Hanya potongan-potongan tubuhnya saja. Kepalanya tak pernah ditemukan.”

“Ka … kapan kejadiannya?” Suara Giri bergetar.

“Sudah lama. Tapi orang-orang tak mau lagi menginjak tempat ini. Toko-tokonya saja sudah lama tutup.” Kata Jati pelan. “Hei, kamu ketakutan, ‘kan?” katanya lagi. Lalu dia terkekeh pelan.

“Tidak. Aku Cuma lelah. Aku mau tidur.” Giri berkelit. Dia rebah di lantai yang dingin. Meringkuk seperti bayi agar tak kedinginan. “Kamu belum mengantuk?” tanyanya. Jati tidak menjawab. Giri malah mendengarnya bersenandung pelan.

Topi saya bundar,
Bundar topi saya
Kalau tidak bundar
Bukan topi saya

“Kenapa kamu tidak bergeser ke sini? Di situ gelap sekali.” Giri menguap. Dilihatnya Jati mendekat. Kini Giri bisa melihat lebih jelas lagi sosok Jati. Anak itu tinggi sekali. Rambutnya ikal. Kulitnya putih pucat. Atau karena penerangan yang tak memadai, maka ia terlihat pucat? Di kepalanya terlihat bertengger sebuah topi fedora berwarna putih.

“Topimu  bagus,” gumam Giri.

“Oya? aku malah tidak menyukainya. Kamu boleh ambil kalau kamu mau.” Jati memutar-mutar topi di kepalanya. “Topi ini milik lelaki itu. Aku ambil.”

“Lelaki itu?”

“Iya. Lelaki penculik yang membunuhku. Aku sempat menariknya sebelum dia menggorok leherku.” Kata Jati pelan. Giri ternganga mendengarnya. Apalagi saat dilihatnya Jati melepas topinya dan mengulurkannya pada Giri. “Ini untukmu saja.” Kepala Jati masih menempel pada topi yang kini menggeletak di lantai dekat Giri berbaring. Mulut di kepala itu bersenandung pelan.

Topi saya bundar,
Bundar topi saya
Kalau tidak bundar
Bukan topi saya

PUISI RAKYAT (PUISI LAMA): PANTUN

      KOMPETENSI DASAR 3.9 Mengidentifikasi informasi (pesan, rima, dan pilihan kata) dari puisi rakyat (pantun, syair, dan bentuk puis...