Selasa, 05 November 2019

RENCANA KE DUA




Hidup selalu dipenuhi kejutan-kejutan. Hal-hal yang tidak terduga seringkali menghampiri. Jika sudah begini, kadang apa yang sudah kita rencanakan bisa saja buyar. Gagal total. Tak sesuai kenyataan.

Kita mungkin saja sudah menyusun rencana-rencana hidup ke depan dengan penuh kecermatan. Membuat daftar ‘hal yang akan kita lakukan’ dari A hingga Z, dengan tekad akan menuntaskannya. Kita juga mungkin sering membuat ‘daftar mimpi’ yang ingin kita capai. Lalu dengan semangat, juga tekad yang tak terpatahkan, kita berusaha keras untuk mewujudkan semua ‘mimpi’ yang telah kita tuliskan.

Tetapi, seperti yang tadi telah kukemukakan, hidup seringkali penuh dengan kejutan. Tidak semua yang sudah kita rencanakan akan berjalan seperti yang kita harapkan. Jika itu yang terjadi, apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan terpuruk menyesali keadaan? Atau kau akan memaki dirimu sendiri? Atau yang lebih serius lagi, menyalahkan Tuhan?

Seorang kawan dalam sebuah obrolan ringan berkata bahwa kita perlu memiliki rencana cadangan. Rencana ke dua dalam menjalani kehidupan. Kau boleh saja menyebutnya plan B, plan C atau apapun.

Setelah kupikir-pikir, sepertinya aku setuju. Rencana ke dua akan sedikit membantumu keluar dari kebuntuan. Mengobati  sedikit kekecewaan atas suatu kegagalan. Atau yang lebih penting, rencana ke dua akan menahanmu untuk tetap bertahan mencapai tujuan, walau dengan jalan yang berbeda.

Katanya, dia, temanku itu, selalu memiliki rencana ke dua dalam setiap langkah hidupnya. Misalnya, saat ini dia sedang menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yang katanya itu dilakukannya sebagai ancang-ancang jika kelak dia merasa jenuh dengan pekerjaannya yang sekarang. Pendidikan yang dia jalani saat ini, akan memungkinkannya beralih ke jenis profesi lain, jika suatu saat diperlukan.

“Mungkin kita merasa nyaman dengan profesi kita saat ini,” Katanya padaku saat itu, “Tetapi apakah itu akan berlangsung selamanya? Bisa saja kan, suatu saat kita merasa bosan. Atau bahkan, keadaan memaksa kita meninggalkan pekerjaan ini.”

Aku termenung sejenak saat itu. Bahwa masa depan tak sepenuhnya bisa kita pastikan, itu sudah kupahami sebelumnya. Juga, bahwa kehidupan kadang tak selalu seperti yang kita inginkan, juga sudah kuyakini bahwa itu benar. Tetapi memikirkan bahwa suatu saat, aku akan meninggalkan profesiku yang sekarang, dan beralih pada profesi lain, sepertinya hanya samar-samar pernah melintas dalam pikiran. Tak pernah kupikirkan dengan serius. Malah, hal yang sering kubayangkan adalah aku yang akan terus menjalani profesiku ini hingga kelak masa baktiku selesai.

Tetapi melihat kesungguhannya saat mengatakan hal itu, mau tak mau aku pun jadi ikut memikirkan rencana ke duaku jika tidak lagi menjalani profesi ini. Coba tebak, apa yang kemudian aku pikir akan kulakukan? Percaya atau tidak, kalau aku berpikir untuk memilih jalan pedang dengan menulis? Errr... Jalan pedang atau jalan pena, ini ya?

Tolong jangan tertawa seperti itu. Aku tahu kemampuan menulisku masih receh sekali. Tetapi itu bukan halangan, bukan? Aku akan mulai mempersiapkan rencana ini dengan lebih serius. Jika kawanku itu sampai menempuh pendidikan yang lebih tinggi sebagai bentuk persiapan untuk rencana ke duanya. Maka aku akan serius mengasah kemampuan menulisku sebagai persiapan rencana ke duaku itu.

Hei! Sudah kubilang jangan mentertawaiku seperti itu. Hmmm… daripada kau tertawa saja, bagaimana kalau kau katakan padaku, apa rencana ke dua yang pernah terpikir di kepalamu?
Ngamprah, 5 November 2019

Jumat, 11 Oktober 2019

TAK LEKANG OLEH WAKTU

TAK LEKANG OLEH WAKTU
Cerpen Lily N. D. Madjid




Mata tua itu berbinar. Senyum simpul tak lepas dari bibirnya yang sedang mengalirkan kisah dari masa lalu. Bersamaan dengan itu, tangannya tetap lincah menyiangi sayuran di atas tampah.

Aku yang saat itu mendengarkan ceritanya ikut tersenyum. Memandang lekat wajahnya yang jelas sekali memancarkan rona bahagia.

Sebenarnya aku tidak terlalu memperhatikan lagi alur kisah yang sedang ia ceritakan. Karena ini bukan kali pertama aku mendengarnya. Aku lebih tertarik untuk mengamati raut wajahnya saat bercerita.

Dia induk semangku. Pemilik rumah kost tempat aku tinggal. Kami biasa memanggilnya Uti, karena begitulah ia ingin kami memanggilnya. Panggilan singkat dari eyang uti atau eyang putri.

Usia Uti tidak muda lagi, tentu saja. Pertengahan enam puluh, kukira. Bisa jadi lebih. Ia berpostur sedang, cenderung gemuk. Rambut beruban di kepalanya mulai menipis. Selalu digelungkan di puncak kepala.

Ia juga selalu rapi. Selalu mengenakan mantel harian berwarna merah bata yang mulai kusam melengkapi daster batiknya.

Uti sangat senang bercerita. Terutama tentang kisah hidupnya. Setiap kali ada kesempatan ia selalu bersemangat menceritakan kembali kisah-kisahnya. Tak peduli kami--anak-anak kostnya--sudah bosan mendengar cerita yang sama, ia tetap semangat berkisah. Mengingat faktor usia, bisa saja sih, ia sudah lupa kalau ia pernah menceritakan hal itu pada kami.

Kisah yang cukup sering kudengar adalah kisahnya dengan Mbah Parto, suaminya saat ini, alias bapak kost kami.

Konon menurut Uti, ia dan Mbah Parto telah menjalin kisah kasih sejak mereka masih sangat belia.

"Dulu kalau kami pacaran tidak seperti kalian sekarang." katanya sambil tertawa. Dulu sekali, saat pertama kali menceritakan kisah ini pada kami.

"Memangnya gimana, Ti?"

"Jaman Uti dulu, kalau mau ketemu itu, diam-diam. Ndak terang-terangan macam kalian. Sembunyi-sembunyi. Malu kalau dilihat orang."

"Wah, nggak asyik dong, Ti, kalau begitu."

"Ya, begitu itu." Uti terkekeh. "Pernah aku sama bapak itu janji mau ke pantai. Kami ketemu di suatu tempat. Aku datang duluan, sudah cantik. Pakai baju putih, rambutku kujalin. Kepang dua. Ndak lama trus bapak datang, pakai sepeda. Aku diboncengnya." kata Uti.

Kuamati wajah Uti yang menunduk, ia tersipu-sipu malu. Teman-temanku riuh menggoda.

"Senang dong, Ti?"

"Yo seneng. Ada takutnya juga, takut dilihat orang. Aku kan malu kalau ketahuan berdua-duaan begitu."

"Aciee, cieeee... Uti. Trus, trus, Ti?"

"Terus ya kami ke pantai. Jalan-jalan, duduk-duduk, sudah itu pulang."

Kisah selanjutnya berdasarkan cerita Uti, tidak selalu menyenangkan. Konon orang tua Mbah Parto malah menjodohkan si Mbah dengan wanita lain. Mereka pun putus hubungan.

Mbah Parto menikah dengan wanita pilihan orangtuanya. Tidak lama Uti pun menikah dengan laki-laki lain. Aku kurang jelas juga, apakah Uti menikah karena dijodohkan atau bagaimana.

Satu hal yang jelas, mereka, Uti dan Mbah Parto berpisah, membangun keluarga masing-masing. Jarak pun ikut memisahkan mereka, sebab setelah menikah, Uti dan suaminya merantau ke pulau seberang.

Berat sepertinya. Itu dapat kulihat dari gurat wajah Uti saat kisahnya sampai di bagian tersebut. Tetapi walaupun berat, keduanya tetap mampu bertahan. Bahkan melangkah ke depan menapaki garis takdir perjalanan hidup masing-masing, meski tak sesuai keinginan.

Hidup toh harus terus berjalan, bukan? Tak bisa mereka terus berdiam, menyalahkan takdir, apalagi menyalahkan Tuhan.

Berpuluh tahun mereka berpisah. Tak pernah saling berkabar. Menjalani kehidupan mereka sendiri-sendiri. Beranak pinak. Bahkan hingga mereka masing-masing memiliki cucu.

"Sewaktu istri bapak meninggal, dia lalu mulai cari tahu keberadaanku. Dapat nomor teleponku, dan menghubungi." mata Uti kulihat menerawang.

"Lalu, Ti?"

"Waktu itu, suamiku sudah lebih dulu meninggal dibanding istri bapak. Begitu tahu aku sudah single, bapak nyusul aku ke pulau seberang."

"Ce el be ka dong, Ti." riuh teman-temanku menimpali.

"Heheheh... Apa itu celebeka?" Uti terkekeh.

"Ya elaaah, Uti. Ce el be ka, Ti, bukan celebeka."

"Trus, trus, Ti?"

"Terus opo?" Uti masih terkekeh. "Terus ya aku nikah sama bapak. Terus aku di bawa bapak ke sini. Terus ketemu kalian-kalian ini." Uti terkekeh-kekeh lalu melanjutkan aktivitasnya memasak.

Walaupun sudah sepuh, untuk urusan dapur Uti masih sangat gesit. Bahkan di rumah ini ia menawarkan diri mengurus makan harian kami para penghuni kost. Pembayarannya boleh dilakukan saat transferan tiba. Tak jarang Uti juga memberi diskon saat akhir bulan.

"Nggak usah terlalu dipikirkan." katanya suatu waktu, saat aku bertanya apa dengan begitu dia tidak rugi jadinya.

"Aku biasa mengurus cucu-cucuku di pulau seberang. Bertemu kalian mengobati rinduku pada mereka."

Aku terdiam. Segurat sendu sekejap kutemukan di matanya yang biasa bersinar.

"Sebenarnya anak-anakku ndak suka aku ke sini. Mereka bilang, untuk apa aku menikahi bapak yang sudah tua dan sakit-sakitan. Hanya menambah beban. Kata mereka, seharusnya aku di seberang saja bersama mereka. Menghabiskan masa tuaku di tengah anak dan cucu-cucuku sendiri. Bukannya mengurus orang lain di sini..."

Sejenak Uti terdiam. Kemudian ia menoleh ke arahku, menatapku dalam.

"Tapi kalau kau benar-benar mencintai seseorang, apapun akan kau lakukan, bukan?"

~Tamat~

Jumlah kata: Tidak dihitung 🤭🤭🤭

Kamis, 26 September 2019

MISTERI HILANGNYA SEBUNGKUS ROKOK


#Detektif
#FIKSI
Misteri Hilangnya Sebungkus Rokok
Cerpen Lily N. D. 


Malam itu Parmin uring-uringan. Sebungkus rokoknya yang masih utuh hilang. Ya, hilang. Lenyap tanpa jejak. Kejadiannya begini, tadi dia sedang mengobrol dengan beberapa orang tetangganya di teras rumah. Biasalah, bersosialisasi dengan sesama penghuni gang. Biasanya mereka memang sering kumpul, mengobrol, ngopi bareng, ya … pokoknya kongkow-kongkowlah. Meski hanya di teras rumah.

Seingat Parmin, saat ngumpul tadi rokok itu masih ada di meja, bersama dengan sebungkus rokok lain yang sudah hampir habis isinya, beberapa buah korek api, bercangkir-cangkir kopi dan beberapa bungkus makanan kecil. Bahkan saat para tetangganya satu persatu mulai pulang ke rumah masing-masing, rokok itu masih ada di sana.

Parmin hanya meninggalkannya sebentar saja, saat ia beranjak ke aquarium untuk menunjukkan anakan ikan hias yang baru dibelinya pada Tejo. Setelahnya ia juga sempat mengobrol sebentar dengan Tejo sebelum lelaki itu juga pulang ke rumahnya.

Begitu ia kembali ke teras rumah, dan akan mengangkut cangkir-cangkir itu ke dapur, ia menyadari kalau sebungkus rokok itu sudah tidak ada lagi di sana.

“Yem, Iyem… kamu lihat rokokku? Satu bungkus. Masih utuh.” Tanyanya pada istrinya yang masih sibuk menyiapkan bahan masakan untuk dijual besok. Iyem yang ditanya diam tak menjawab. Wajahnya mendadak ditekuk.

“Ditanya kok malah begitu ekspresimu, Yem…” gerutu Parmin.

Lha memangnya ditaruh di mana rokoknya?”

“Tadi di meja te…”

“Di meja teras kok tanya sama aku, Kang… kan kamu tahu aku dari tadi sibuk masak di sini. Ndak sedetik pun aku injakkan kakiku ke teras depan. Lagi pula untuk apa aku ngambil rokokmu? Ndak bisa kumakan, Kang.” Iyem terus bicara. Parmin menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Ya tinggal dijawab saja, Yem. Nggak usah merepet macam itu.”

Habisnya, kamu kok pakai tanya aku, Kang. Aku sedang sibuk harus ngurus ini ngurus itu repot sendiri ndak ada yang bantu. Kok ditanya soal rokok. Kamu sedari tadi itu duduk-duduk santai sambil ngemil, ngopi, ngroko sama teman-temanmu. Ya sana tanya  sama rombonganmu tadi, bukan tanya aku…”

Alaaa… sudah, sudah… malah ngomel kamu, Yem. Pusing aku dengarnya.” Parmin mengacak rambutnya sendiri sambil bergegas meninggalkan istrinya. Masih didengarnya suara istrinya mengomel. Tetapi tak lagi dia acuhkan.

***** ***** *****

Parmin masih uring-uringan. Rokoknya belum juga ditemukan. Ditambah lagi sekarang Iyem mengomel tak karuan. Bising sekali. Segalanya diungkit-ungkit. Sampai masalah uang belanja yang sering absen dia setorkan, hingga kebiasaannya nongkrong hingga larut malam. Arrgh! Pusing.

Dan rokok itu, kemana pula perginya? Hmm… Parmin kembali ke teras depan. Mencari lagi dengan teliti. Di meja tidak ada. Di kolongnya nihil. Di dekat deretan akuarium, hanya ada pakan ikan. Hhhh! Ke mana perginya sebungkus rokok itu? Masa iya bisa menghilang begitu saja? Atau jangan-jangan… ada yang mengambilnya?

Parmin berhenti mencari. Dia duduk di bangku kayu sambil mengingat-ingat. Jika ada yang mengambil, siapa kira-kira pelakunya?

“Hmmm… kalau tidak salah, sebelum aku dan Tejo tadi ngecek ikan, ada Taryo dan Karso yang masih duduk di sini sebelum mereka juga pulang.” Gumamnya pelan.

Parmin terlihat berpikir keras. Memang ke dua tetangganya itu yang terakhir beranjak dari teras rumahnya, sebelum Tejo tentu saja. Tapi Tejo kan bersamanya. Lagi pula, setelah melihat anakan ikan, Tejo langsung pamit. Parmin sendiri yang mengantarnya hingga ke jalan sambil mengobrol. Jelas, Tejo harus segera dicoret dari daftar tersangka.

            Siapa yang tersisa? Taryo. Atau Karso? Parmin semakin keras berpikir. Tapi Karso bukan perokok. Untuk apa dia mengambil rokok jika tidak pernah merokok?

            “Tidak mungkin ‘kan dia ambil untuk dijual? Itu bukan rokok mahal.” Gumam Parmin, “kalau dijual pun mau dijual ke siapa?” Parmin tertawa masam. Sesekali tangannya kembali mengacak-acak rambutnya yang mulai menipis.

            “Tersangka terakhir, Taryo…” katanya pelan. Matanya menerawang. Mengingat sikap Taryo tadi saat sedang ngobrol bareng.

Taryo memang perokok kelas berat. Saat tadi mereka berkumpul, dia yang paling banyak merokok. Mulutnya tak berhenti mengepulkan asap. Satu batang habis dihisap, selalu disambung dengan batang rokok berikutnya.

“Tapi…”

Parmin terlihat ragu. Taryo memang perokok berat. Tetapi dia bukan orang tak mampu. Bisa dibilang, dari semua teman nongkrong Parmin, Taryolah yang paling tebal dompetnya. Jadi masalah rokok satu bungkus, itu receh sekali untuk dia. Tidak seperti Parmin, yang bisnis ikan hiasnya kembang kempis, lebih sering kempis dari berkembangnya.

            Arrrgh! Mumet kepalaku!” Maki Parmin sambil beranjak dari teras. Matanya mulai mengantuk. Diliriknya jam tua di dinding ruang depan. Pukul satu lewat. Pantas saja. Masuk ke ruang tengah dia hampir saja menabrak Surya, anak sulungnya.

            Haduh, kamu bikin kaget bapak saja, Sur.” Kata Parmin. Surya menguap lalu meregangkan tubuhnya. “Kenapa belum tidur?” Tanya Parmin.

            Lha Bapak sendiri kok belum tidur?”

            Isyh!  Kamu itu kok kayak emakmu, ditanya bukannya jawab malah balik tanya.” Rutuk Parmin. Surya malah nyengir.

            “Aku baru selesai belajar, Pak. Besok ulangan.”

            “Oooo… ya sudah, tidur sana. Besok kesiangan.”

            “Ya, Sur. Jangan sampai kesiangan seperti bapakmu itu. Setiap hari selalu saja kalah sama ayam tetangga. Mustahil ada cerita bisnis ikannya tambah maju, sudah habis rejekinya dipatuk ayam.” Sebuah suara tiba-tiba menimpali. Parmin melotot ke arah istrinya yang baru saja mucul.

            Ngomong apa kamu, Yem? Jangan seenaknya mulutmu itu bicara.”

            Lha kenyataannya memang begitu, kan Kang?”

            “Kenyataan apa?”

            “Ya kenyataanmu itu. Aku tiap pagi repot ngurusi anakmu yang lima orang itu. Nyiapkan mereka pergi sekolah. Belum lagi nyiapkan daganganku. Sementara kamu baru bangun setelah matahari tinggi. Untung ada Surya dan Cikal, kalau tidak…”

            “Stop! Bapak, Emak…” tukas Surya. Tangannya menutup dua telinganya. “Ini sudah larut malam.” Dipandanginya Parmin dan Iyem satu persatu. Lalu tersenyum lebar, “Emak dan Bapak tidur saja sekarang, ya? Ya? Ya? Biar besok bisa bangun lebih pagi. Nggak usah bertengkar, kasihan nanti adik-adik terganggu. Ya?”

            Parmin dan Iyem mendengkus berbarengan. Sesaat keduanya saling pandang, seperti akan melanjutkan perang mulut mereka. Tetapi kemudian Iyem membuang muka dan berlalu ke dapur. Parmin mengacak-acak rambutnya lalu melangkah ke kamar. Sementara Surya menghembuskan nafas keras-keras. Lega. Tidak perlu lagi mendengar pertengkaran emak dan bapaknya lagi.

            “Mas Uya?” satu suara mengagetkan Surya.

            “Awan? Ngapain kamu? Nggak tidur?”

            “Tadi sudah. Tapi sudah lama juga terbangun. Tadi bapak dan teman-temannya berisik sekali ngobrol di teras. Awan jadi susah tidur lagi.”

            “Ooo… ya sudah, sekarang kan sudah sepi. Cepat kamu tidur. Nanti terlambat bangun kan susah.”

            “Mas juga, ya.”

            “Ya. Sebentar Mas Uya ke kamar mandi dulu.”

*****  *****  *****

            Matahari sudah tinggi. Parmin menggeliat lalu bangun dari tidurnya. Sesaat pikirannya terasa kosong. Tetapi kemudian dia segera bangkit. Berjalan keluar dari kamar, Parmin melangkah mendekati meja makan. Ada yang menguarkan aroma sedap di sana. Parmin membuka tudung saji, mencomot sekerat tempe goreng, mencocolkannya ke dalam sambal  lalu memasukkannya sekaligus ke dalam mulut.

            Setelah itu dia berbalik menuju kamar mandi. Beberapa saat terdengar suara guyuran air. Suara Parmin terbatuk, diakhiri dengan suara muntah, kemudian pintu kamar mandi terbuka. Parmin ke luar dari sana. Tampangnya masih kusut. Hanya sedikit memerah dan terlihat ada jejak air di wajahnya.

            Anak bungsunya yang berusia dua tahunan tiba-tiba saja muncul dari ruang depan. Memandang ke arah Parmin lalu tersenyum.

            “Mana emakmu, Pung?” tanyanya. Si Kecil Pungkas menunjuk ke arah luar.

            “Sudah bangun kamu, Kang? Ada apa cari aku?” Iyem tiba-tiba muncul membawa wadah-wadah kosong bekas masakan yang pagi tadi di jualnya di depan rumah.

            “Cuma tanya.” Jawab Parmin acuh. “Eh, apa itu yang kamu makan, Pung?” Parmin mendekati Pungkas. “Ya ampuuun. Rokokku, Yem! Anakmu makan rokokku!”

            “Apa? Mana?” Iyem bergegas meraih Pungkas. Mengambil sesuatu yang dikunyah anak itu.

            Halaaah!  Lihat ini sisanya, hancur semua rokokku setengah bungkus diremas anakmu, Yeeem, Yem.” Geram Parmin. Iyem melotot galak memandang Parmin.

            “Anakku itu anakmu juga, kan, Kang? Siapa juga yang suruh kamu simpan rokok sembarangan. Biar saja, biar kubuang sekalian rokok sialan itu.”
            “Jangan-jangan Pungkas juga yang mengambil rokokku dua malam yang lalu itu.”
            “Haduh, Kang! Jangan sembarang menuduh anak sendiri. Malam itu kan si Pungkas sudah nyenyak tidur. Mana mungkin dia mengambil rokokmu! Itu pasti ulah teman-temanmu.
            “Ah… sudah, sudah! Kamu juga seenaknya menuduh orang, Yem.” Parmin berlalu meninggalkan istrinya.
****    *****  ****
Pukul dua belas lewat tiga puluh menit. Parmin masih membersihkan beberapa akuariumnya. Memberi makan ikan-ikannya. Sesekali berhenti untuk menyesap rokoknya. Belum ada pembeli hari ini. Padahal dia sudah mengunggah foto-foto cantik akuarium yang berisi  ikan-ikannya.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikum salam. Wan, sudah pulang kamu?”

Awan melangkah lesu mendekati Parmin. Mencium tangan bapaknya itu, kemudian membuka tasnya dan menyerahkan selembar kertas yang terlipat.

“Apa ini?”

“Surat panggilan dari bu guru. Bapak atau emak diminta datang besok pagi.”

“Ke sekolah? Ada apa? Kenapa? Kamu bikin masalah di sekolah, Wan?” berondonng Parmin. Awan hanya menunduk. Kemudian menggeleng.

“Maksudmu apa, Wan? Bapak ndak ngerti.”

“Pokoknya bapak datang saja besok. Ditunggu bu guru.” Jawab Awan lalu melangkah masuk ke rumah. Tinggal Parmin yang mulai mengacak-acak rambutnya gemas.

“Hhhh… bikin susah saja. Ada apa toh? Jangan-jangan harus bayar ssuatu? Haduuuh, mana ikanku belum ada yang laku. Hhhh…”

****    *****  ****

            “Jadi begini, Pak…” Kata wali kelas Awan memulai pembicaraan. Parmin menyimak dengan serius. Sesungguhnya dia masih khawatir kalau-kalau harus mengeluarkan uang. Awan yang juga hadir di ruangan itu duduk di sebelah Parmin dengan wajah tertunduk.

            “Ya, Bu guru.” Kata Parmin.

            “Langsung saja ke intinya ya, Pak. Jadi maksud kami mengundang Bapak ke sini, ingin menginformasikan, bahwa ananda Awan kedapatan membawa rokok ke sekolah.” Kata bu guru dengan tenang. Parmin melotot. Lalu menoleh pada anaknya.

            “Kamu merokok, Wan?” Tanya Parmin geram.

            “Tidak. Bapak jangan menuduh!” Awan mengelak.

            “Tapi tadi bu gurumu bilang….”

            “Sabar dulu, Pak Parmin.”

            “Tapi, Bu Guru…”

            “Ya, Pak. Tadi saya memang mengatakan bahwa Awan kedaptan membawa rokok dalam tasnya. Tetapi saat kami Tanya, Awan tidak mengakui kalau ia merokok. Katanya rokok itu juga bukan miliknya.”

            Lha, kalau begitu itu rokok sia…”Parmin tidak menyelesaikan kalimatnya saat melihat ibu guru mengeluarkan sebungkus rokok dari laci meja kerjanya. “Lho, itu kan…”

            “Kenapa, Pak Parmin?” bu guru mengernyit heran.

          “Ah, tidak, tidak… tidak apa-apa.” Parmin mengusap wajahnya yang tiba-tiba saja berkeringat. Berkali-kali dia melirik anaknya yang masih menunduk.

           "Ya. Jadi, saat terus kami tanya, Awan tidak juga mau menjelaskan. Dia memilih menutup mulut. Oleh karena itu, kami meminta orangtua untuk hadir. Barangkali jika didampingi orang tua, Awan akan lebih leluasa untuk bicara.”

            “Eh, eu.. anu itu…” Parmin terbata. Tangannya mulai mengacak rambut di kepalanya.

            “Itu rokok bapak, Bu.” Tiba-tiba saja awan mengangkat wajahnya.

            “Eh?” Parmin dan bu guru sama-sama menoleh ke arah Awan.

            “Itu rokok bapak. Malam itu Awan ambil rokok bapak biar bapak berhenti merokok. Awan tidak suka bapak merokok. Bapak sering batuk-batuk. Emak juga sering marah-marah kalau bapak merokok. Katanya bapak ndak pernah punya uang kalau emak minta buat belanja, tapi selalu ada uang untuk beli rokok dan kopi. Makanya, rokoknya Awan sembunyikan. Sengaja Awan simpan dalam tas supaya tidak ditemukan bapak…” Awan masih terus berbicara. Menjelaskan ini dan itu pada gurunya panjang lebar. Tiba-tiba saja Parmin merasa Awan mirip sekali dengan ibunya. 

Sementara di depan Parmin bu guru mendengarkan cerita awan sambil sesekali terlihat sungkan menatap ke arah Parmin.

TAMAT 

Rabu, 21 Agustus 2019

Gapura Makam Taman Pahlawan


GAPURA TAMAN MAKAM PAHLAWAN
Lily N. D. Madjid


            “Papa, itu tempat apa?” tanyaku sambil menunjuk sebuah gapura yang nyaris tersembunyi oleh kelebatan rumpun-rumpun bambu di sekitarnya. Papa menoleh ke arah yang kutunjuk. Tak lama ia menghentikan kayuhan pedal sepedanya.
“Itu Taman Makam Pahlawan, De.” Katanya.
“Ooo…” bibirku membulat. Tanpa sadar aku bergidig.
“Kenapa?”
“Seram. Tempatnya gelap. Itu pohon bambunya juga banyak.” Kataku. Lagi-lagi aku bergidig.
“Dede takut?” Papa bertanya sambil tersenyum padaku. Aku mengangguk. Sejujurnya sejak melintas di depan gapura itu aku sudah merinding. Tempatnya sepi sekali. Juga gerumbul pohon bambu yang merimbun di sekitarnya, menambah kesan menakutkan tempat itu.
“ Lho? Itu, mereka sedang apa?” tiba-tiba kulihat serombongan ibu keluar dari dalam gapura.
“Mungkin mereka baru selesai berziarah.” Jawab Papa.
Aku diam sambil masih menatap para ibu  berpakaian putih-putih yang  satu persatu muncul dan berjalan ke arah aku dan Papa berada. Papa kembali mengayuh. Dua roda sepedanya kembali melaju seiring ayunan kaki Papa. Aku yang duduk di boncengan belakang mempererat peganganku. Sementara pandanganku masih saja tertuju ke arah para ibu di dekat gapura makam tadi.
***      ***      ***
            Kenangan akan perjalanan melewati gapura makam pahlawan itu masih sering muncul di kepalaku. Bahkan hingga kini. Apalagi sampai saat ini, aku masih sering melewati gapura itu.  Meskipun tidak lagi dengan Papa. Karena papaku telah pergi.
            Ya. Selang beberapa tahun sejak aku duduk dibonceng oleh Papa melewati gapura makam pahlawan itu, papaku berpulang setelah hampir satu bulan terbaring di rumah sakit. Aku masih dapat mengingat dengan jelas saat-saat itu.
Suatu pagi di awal Bulan Ramadhan saat usiaku belum genap 13 tahun, Papa yang selama ini kulihat selalu bugar tiba-tiba jatuh di teras rumah. Ia sudah berpakaian dinas lengkap karena akan pergi bekerja. Sementara, aku hanya bisa termangu melihat kepanikan yang terjadi setelahnya. Mama menangis. Begitu juga nenekku—ibu dari Papa—yang saat itu sedang dalam masa pemulihan dari stroke. Tetangga kiri dan kanan berdatangan, mencoba menyadarkan Papa dengan berbagai cara. Akhirnya Papa di bawa ke rumah sakit tempatnya bekerja.
Bukan, papaku bukan dokter. Beliau tentara. Hanya saja, kemudian mendapat tugas belajar di bidang medis, hingga akhirnya beliau ditugaskan di sebuah rumah sakit tentara di bilangan Jakarta Pusat. Ke sanalah ia dibawa saat itu.
Aku tidak ikut mengantar Papa. Hanya Mama dan beberapa tetangga dekat kami saja yang menemani. Sementara aku dan satu-satunya kakakku tetap tinggal di rumah menemani nenek yang terus menerus bersedih.
Aku masih ingat bagaimana nenek selalu saja menanyakan keadaan Papa dari hari ke hari. Bisa kulihat betapa sedihnya ia karena tidak dapat menemani, atau bahkan sekedar menjenguk putra sulungnya di rumah sakit. Keadaan beliau memang tidak memungkinkan saat itu. Untuk berjalan saja nenekku masih tertatih-tatih dan harus berpegangan pada dinding.
Hari demi hari berlalu. Awalnya aku sangat optimis, Papa akan segera pulang dari rumah sakit. Sebab seingatku, Papa memang tidak pernah sakit parah. Pernah memang beberapa kali beliau dirawat di rumah sakit karena penyakit malarianya kambuh—yang beliau dapat saat bertugas di wilayah yang berhutan-hutan. Tetapi biasanya tidak lama sudah bisa kembali pulang. Maka saat itu, aku pun berharap demikian. Berharap Papa segera pulang dan kembali bersama kami lagi.
Di antara dua orang anaknya, sepertinya aku yang lebih dekat dengan Papa. Biasanya sepulang bekerja, Papa akan ada di rumah. Dan aku—si Bungsu—akan menempel ke mana pun beliau melangkah. Kakakku, mungkin karena dia lelaki, lebih banyak menghabiskan wakktu bermain dengan teman-temannya di luar. Dengan kedekatanku dengan Papa yang seperti itu, terasa sekali kehilanganku akan Papa saat beliau di rumah sakit.
Sesekali aku dan kakak mendapat kesempatan menjenguk Papa. Saat itu dapat kulihat, Papa begitu pucat. Tubuhnya yang tegap berisi juga menyusut. Aku seperti tidak mengenali Papa. Apalagi, Papa juga terlihat tidak seceria sebelumnya. Sebelum Papa sakit, aku tidak pernah melihat beliau berwajah sedih.  Bahkan beliau pun nyaris tidak pernah kulihat marah. Pada kami anak-anaknya, hanya wajah jenaka dan penuh senyumlah yang ia berikan. Tapi saat di rumah sakit itu, aku melihat bayang-bayang muram tergambar di wajah Papa.
Dari mama kami akhirnya tahu, seberapa parah penyakit Papa.
“De, biar Papa istirahat dulu.” Bisik Mama suatu hari saat aku menjenguk Papa. Saat itu aku membawa buku tugas bahasa Inggrisku, berniat ingin diajari oleh Papa.
“Papa baru diambil lagi sumsum tulangnya.”Kata Mama lagi. Wajah kuyunya tak bisa disembunyikan dari kami.
“Sumsum tulang?”
“Iya. Ini sudah yang ke sekian kali. Tempo hari dari tulang dada. Tadi dari tulang panggulnya.”
“Untuk apa, Ma?”
“Untuk dites.”
“Memang Papa sakit apa?”
“Kelainan sel darah. Dokter curiga kanker darah. Leukemia.” Kata mama. Wajahnya seperti akan menangis.
Entah apa yang kupikirkan saat itu. Namun yang masih kuingat, saat itu aku tetap memiliki harapan besar bahwa Papa akan dapat pulang ke rumah kami dalam keadaan kembali sehat. Papaku yang baik, yang selalu sayang padaku. Papaku yang penyabar, tentu Allah akan memberikan kesembuhan pada beliau, bukan?
***      ***      ***
Hari itu Mama pulang. Aku menguping pembicaraan beliau dengan seorang kerabatku. Kondisi Papa semakin menurun. Papa dipindahkan ke ruang steril. Kawan-kawan beliau dan kerabat kami yang menjenguk pun tidak bisa lagi masuk ruangan. Hanya melihat dari kaca jendela saja. Papa semakin sering menjalani tranfusi, namun agak kesulitan mendapatkan donor. Di bank darah jarang sekali dapat persediaan yang cocok.
“Kenapa bisa?” aku menyela pembicaraan mama dan kerabatku.
“Rhesus darah Papa negatif, De. Sulit mencarinya.”
Saat itu aku belum terlalu mengerti. Tetapi, dari informasi yang kemudian kugali, baru aku ketahui bahwa rhesus negatif memang paling banyak ditemukan pada ras Kaukasia. Diperkirakan sekitar 15% orang dari ras tersebut memiliki rhesus negatif. Rhesus negatif paling jarang ditemukan pada ras Asia yaitu hanya sekitar 1% dari populasi ras Asia.
“Apa Paman Abby tidak bisa mendonor?” tanyaku. Paman Abby adalah satu-satunya saudara kandung Papa yang masih ada. Mereka sesungguhnya tiga bersaudara. Papa si Sulung, Paman Abby si Tengah dan satu adik perempuan mereka yang meninggal saat masih bayi.
“Paman Abby sudah mencoba. Sudah dicek, golongan darahnya AB, tetapi Rhesusnya positif. Tidak cocok untuk papamu. Tapi tadi kawan-kawan Papa sedang berusaha mencari.”
“Apa aku bisa membantu Papa, Ma? Dengan darahku?” kataku. Mama menatapku lalu menggeleng.
“Tidak bisa. Kamu masih terlalu kecil.” Kata Mama. “Kamu doakan saja Papa.” Kata mama akhirnya.
***      ***      ***
Hampir genap satu bulan sejak Papa jatuh di teras rumah dulu. Tidak terasa malam takbir tiba. Suara bedug bertalu-talu. Gemanya terdengar di seluruh penjuru tempat tinggal kami. Malam menjelang hari kemenangan, mestinya menjadi malam yang membahagiakan, bukan? Tetapi bagi kami masih ada yang menganjal; Papa yang masih terbaring di rumah sakit.
Mama menitip pesan pada kerabatku yang baru saja pulang membezuk, agar esok aku dan kakak berhari raya di rumah sakit bersama Papa. Nenekku—yang tidak memungkinkan untuk ikut—sudah dipindahkan ke rumah paman papaku yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumah kami.
Pagi harinya, sesudah shalat Eid dan bersilaturrahmi dengan tetangga-tetangga kami, aku sudah siap menuju rumah sakit diantar oleh tetangga dekat kami. Kakakku bahkan sudah pergi lebih dulu beberapa jam yang lalu bersama kerabat kami yang lain. Aku menuju terminal untuk mencari bus ke arah rumah sakit.
Tetapi apa mau dikata. Suasana terminal yang biasanya selalu ramai, pagi itu begitu lengang. Bus-bus yang berlalu lalang dapat dihitung dengan jari. Beberapa jam menunggu, bus yang akan membawaku ke jurusan yang kutuju tidak juga muncul. Di masa itu  daerahku belum seperti saat ini, yang dengan mudahnya bisa mendapatkan transportasi umum dengan menggunakan aplikasi.  Apalagi hari itu hari pertama Iedul Fitri. Akhirnya dengan berat hati, tetangga dekatku itu mengajakku kembali ke rumah. Dan akan kembali lagi esok hari.
Esoknya, hari raya ke dua. Pagi-pagi sekali kami sudah siap di dekat terminal. Dan syukurlah, bus yang kami tunggu segera muncul dan masih kosong. Aku memilih duduk di bagian depan di dekat jendela, tepat di belakang pak sopir.
Jalan lengang. Sangat berbeda dengan kondisi sekarang yang  selalu macet walaupun masih dalam suasana hari raya. Bus melaju dengan lancar. Saat itu hanya membutuhkan waktu kurang lebih tiga puluh menit dari terminal bus di daerahku menuju daerah tujuan.
Tiba di rumah sakit, aku bergegas menuju gedung bagian belakang tempat Papa di rawat. Di ruangan Papa di lantai tiga, kulihat Mama sedang menyuapi Papa. Kakakku sedang berbaring di kursi tunggu di luar ruangan. Aku ikut duduk di sana. Tak lama Mama ke luar.
“Kenapa baru datang, De?” tanyanya. Belum sempat kujawab, tetangga dekat yang mengantarku buru-buru menjelaskan kenapa kami baru datang sekarang. Mama mengangguk. “Papa terus menanyakan kamu tadi malam.” Kata Mama sambil menatapku.
“Boleh aku masuk sekarang, Ma?” tanyaku. Mama menggeleng.
“Papa baru tidur. Biar Papa istirahat dulu.” Aku menganggk lalu memandangi Papa dari balik jernihnya kaca jendela.
Cukup lama aku menunggu. Beberapa tetangga lain datang membezuk. Beberapa saudara dan kerabat kami pun berdatangan. Tetapi seperti aku, mereka juga hanya bisa menatap Papa yang tertidur di dalam ruangannya yang steril. Akhirnya setelah zuhur aku dibolehkan masuk. Papa terjaga. Tetapi beliau seperti tidak mengenali aku.
Aku menyapa Papa. Mencoba mengajaknya berbicara. Tapi Papa hanya menatapku. Aku bingung sekali saat itu. Tiba-tiba saja nafas Papa mulai telihat terengah-engah. Mama dan kakakku mendekat. Dua orang saudara kami juga masuk. Mereka mengajak kami berdoa. Mama kulihat mulai menangis. kakakku menunduk. Sepertinya ia juga berdoa. Aku menatap Papa. Antara bingung dan sedih. Tapi aku tidak bisa menangis. Di sudut hatiku saat itu masih meyakini bahwa Papa akan kembali pulih. Papa akan pulang bersama kami.
“Laa ilaaha Illallah…” Saudaraku, Paman jauh Papa membisikkan talqin di telinga Papa. Mama ikut membisikkan kalimat suci tersebut di sisi yang lain. Suaranya bergetar dan matanya  basah. Aku tertunduk, memandangi Papa yang terpatah-patah bersuara.
“Allah… allah…” bisik Papa. Nafasnya semakin terlihat satu-satu. Aku terpaku di sisi dekat lutut Papa. Mencoba meraih tangannya. Tak berani bersuara. Hanya saja dalam hati, aku masih meneriakkan kata-kata, bahwa Papa akan sembuh. Papa tidak akan apa-apa.
“Ikhlaskan, ikhlaskan…” kudengar saudara kami berkata. Mama menangis. membisikkan kata-kata di telinga Papa. Setelah itu, tarikan nafas Papa semakin melemah. Bibirnya masih menggumamkan kata-kata itu dengan lirih.
“Allah… Allah…”
***      ***      ***
            Hingga jenazah Papa di baringkan di ruang tamu kami, aku masih belum percaya kalau Papaku telah pergi. Saat beliau dimandikan baru air mataku mengalir deras.  Ketika   beliau akan dishalatkan, kulihat shaf demi shaf rapat diisi oleh mereka yang akan ikut shalat jenazah.
Begitu juga saat akan mengantar Papa ke peristirahatan terakhir. Begitu ramai orang yang ikut mengantarnya. Truk-truk militer dan bus-bus milik kesatuan Papa berbaris di sepanjang jalan di dekat masjid. Truk-truk dan bus itu melaju beriring-iringan di belakang mobil jenazah yang membawa Papa. Dan aku masih bisa mengingat ratusan orang yang memenuhi kendaraan-kendaraan tersebut, kemudian berkumpul di area pemakaman. Wajah-wajah yang kukenal, wajah-wajah yang tak kukenal, semua khusyuk mengikuti prosesi pemakaman Papa.
Tembakan salvo terakhir mengantarkan Papa ke tempat peristirahatannya. Aku, kakak, Mama, saudara dan kerabat jauh juga dekat kami berdiri mengelilingi liang lahat yang akan segera ditutup. Gerimis kecil turun. Tetesan halusnya menyentuh wajahku. Sesak rasanya di dadaku, tetapi tangis tak bisa tertumpah. Aku hanya bisa memandangi saat sedikit demi sedikit tanah merah ditimbun kembali. Menutupi jasad Papaku.
Dan yang masih kuingat, saat iring-iringan kami kembali pulang, aku menatap lekat gapura makam dan rerimbun rumpun-rumpun bambu di dekatnya. Gapura yang sama dengan yang kulihat beberapa tahun lalu saat bersepeda bersama Papa. Juga rumpun-rumpun bambu yang sama, yang daunnya dulu melambai menyapa aku dan Papa.
Hingga kini, gapura itu masih ada. Semakin terlihat bersih dan kokoh. Mungkin karena rerimbun rumpun-rumpun bambu itu kini tak ada lagi. Di sekeliling makam pun sudah tidak lagi sunyi dan gelap seperti dulu. Deretan ruko berjajar sebelum gapura. Beberapa sekolah internasional berdiri tidak jauh dari areal makam. Perumahan elite pun melingkupi area sekitarnya.  Tetapi walau daerah itu terus berubah digempur kemajuan zaman, kenangan tentang gapura itu masih sering melintas dalam kepalaku. Seiring abadinya kenanganku akan sosok Papa.
***      ***      ***

PUISI RAKYAT (PUISI LAMA): PANTUN

      KOMPETENSI DASAR 3.9 Mengidentifikasi informasi (pesan, rima, dan pilihan kata) dari puisi rakyat (pantun, syair, dan bentuk puis...